"Belum waktumu."

Cklak. Sebuah bidak shogi dipindah. Pemuda berambut merah itu memandang datar rivalnya, meski diam-diam memaki dengan sejumlah kosa kata laknat—dan oh, juga berwarna-warni. "Selain itu, mau sampai kapan kita bermain shogi, Seijuurou? Membosankan."

Sepasang mata dwiwarna memicing pertanda kesal. "Berisik kau," Seijuurou memajukan sebuah bidak miliknya dengan mulusnya—semuanya harus sempurna, bahkan caranya berjalan. "Sudah jelas permainan ini tidak akan berakhir, Akashi. Karena aku—"

"Selalu menang?" Akashi terkekeh pelan. Dengan nada mengejek, "Omong kosong. Jangan pura-pura lupa apa yang terjadi dua tahun lalu."

"Itu kekalahanmu. Salahmu yang mengambil alih di titik puncak pertandingannya." Seijuurou menggebrak meja yang mereka tempati. Nampaknya, perkataan pemuda satunya telah menyinggungnya. "Berterima kasihlah aku membolehkanmu."

"Tidak, kau yang harusnya berterima kasih. Jika kau terus bermain waktu itu, kekalahan 'kita' akan lebih memalukan lagi."

Cklak. "Sudah kuduga. 'Kita' tidak akan pernah akur, 'aku'."

Cklak. "Apakah ini karena Kuroko?"

Cklak. "Heh, sudah jelas bukan? Karena Tetsuya—" sebuah seringaian khas iblis merekah. Sang lawan tanding menyerah—namun dalam hati bersumpah untuk membalaskan dendamnya pada lawan seumur hidupnya. "—Milikku, pastinya."

Skak mat.

.

.

Ini Apartemen, Bukan Balai Reuni! by Pink Crystalline Roses

Kuroko no Basket belongs to Fujimaki Tadatoshi-sensei

Warning: Humor gagal, garing, bahasa, potensi timbulnya OOC, geje, multipair AkaKuro sama KagaKuro. Mungkin ada sho-ai nyempil disini. Author tidak bertanggung jawab atas penyakit mata apapun atau serangan jantung setelah membaca fic ini.

EXTRA 2: Aku, Aku Atau Dia?

(Happy reading!)

.

.

"Jangan bercanda. Kuroko milikku." Akashi memprotes—sesukanya dia memonopoli si bayangan unyu, rival cintanya adalah dirinya sendiri, Seijuurou, yang saat ini tengah menyeringai penuh kemenangan. 'Sombong amat,' pikirnya.

"Tidak, Tetsuya milikku. Dia lebih menyukaiku." Seijuurou mengelak, sudah jelas tak mau kalah dari dirinya sendiri. "Kau mesum, selalu ingin melakukan yang tidak-tidak padanya."

"Cermin mana cermin," Akashi membuat gestur seakan hendak mencari-cari barang. Sentuhan sarkasme selalu berefek baik, namun sayangnya Seijuurou sama sekali tidak mengindahkannya. "Kau itu yang mesum, pikiranmu isinya hanya ingin menistakan Kuroko. Setan gunting sialan,"

"Memang ada benarnya sih." Ujar pemuda satunya dengan cuek. "Tapi kau sudah berhasrat lebih lama dariku. Dan kau selalu batal beraksi hanya karena Tetsuya ada alasan. Apa-apaan itu? Seorang laki-laki sejati tidak akan mengundurkan diri dari keputusannya. Pecundang,"

"Meski begitu, aku tidak akan pernah memaksa Kuroko. Justru aku lebih gentle darimu—mati kau, iblis mesum."

"Salah, kau itu yang mesum. Karena kau kepribadian kedua dari badan ini—dan aku selalu benar."

"Kurang ajar. Jika tidak karena tekanan batin yang kulalui kau tak akan pernah lahir, 'aku'."

Keduanya saling memelototi satu sama lain dengan pandangan yang sama ganasnya—bak singa kelaparan yang baru saja menemukan mangsanya setelah sekian lama. "Hmph, 'kita' memang tidak akan pernah akur. Aku yang akan mengambil alih hari ini, Akashi." Seijuurou mengotot.

"Tidak akan kubiarkan, meski Kuroko ada janji denganmu. Serahkan padaku, toh hasilnya nanti sama saja. Tidak ada perubahan." Akashi balas mengotot.

Nak, sudah cukup. Mau sampai kiamat pun masalah antara kalian berdua tidak akan pernah selesai.

.

.

"Uwaah, ini rekor barunya Akashicchi."

Kise yang dari sananya tidak sabaran mulai mencubit-cubit pipi Akashi yang tengah memandang kosong—hanya duduk terdiam disana tanpa berbicara satu patah kata pun. Dan nampaknya, menghirup oksigen saja tidak. "Udah berapa lama, Midorimacchi?"

Akibat yang dilakukan sang emperor saat ini—bengong seakan mendadak jadi orang bego—Kisedai menjadi tontonan para mahasiswa yang lewat saat jam istirahat. Oleh karena itu, harga diri mereka semua (bahkan yang rendahan semacam Aomine) rusak total. Malu-maluin.

"Dua belas menit tiga puluh empat koma dua detik." Jawab Midorima sembari mengecek stopwatch. "Kise, segera sadarkan Akashi. Nanti dia mati kehabisan napas—bukannya aku suka dia tetap hidup, nanodayo."

'Waduh, tsun jadi yan.' –pikiran sehati Kisedai.

.

.

"Kubunuh semua yang menentangku, meski diriku sendiri."

Sebuah gunting lepas landas dengan anggunnya ke arah Akashi. Pertumpahan darah benar-benar tidak bisa dihindarkan. Hukum alam ditetapkan—hanya yang kuat yang akan bertahan.

"Itu namanya bunuh diri, bego!" Akashi membalas (baca: berteriak). Hilang sudah image ke-kalem-annya yang sudah dilatih dan disempurnakan bertahun-tahun. "Kau juga akan kena imbasnya! Jangan sok keren, mau bicara dipikir dulu!"

Serangan balasan. Kali ini giliran linggis yang mengudara.

Saat ini, kondisi ruang hampa dengan perabotan imajiner yang ditempati kedua pemuda tersebut bisa dibilang hancur berantakan. Mirip kapal pecah, saking niatnya Seijuurou untuk mengusir rival satu badannya.

"Aku akan melakukan apapun selama kau tidak kembali!" sebuah piring melayang dari tangan Seijuurou dan ditangkap Akashi, lantas dilayangkan kembali pada si pelempar. Rasanya seperti mereka sedang main lempar-tangkap frisbee.

(Bedanya, yang ini lebih ganas, menggunakan barang pecah belah dan beresiko gegar otak jika terkena headshot.)

.

.

Kembali ke para makhluk pelangi yang tengah putus asa. Berbagai macam upaya telah digunakan, namun hasilnya sama saja. Akashi tidak bergeming. Masih saja diam disitu, padahal paru-parunya tengah miskin oksigen dan butuh donor secepatnya.

"Aka-chin, nanti kulempar ke ring basket lho~" ancam Murasakibara yang terkesan tidak mengancam sama sekali. Ditariknya pipi sang emperor ke arah berlawanan. Wajah Akashi telah menjadi korban penyiksaan berkali-kali hari ini.

Sumpah deh. Murasakibara gemas, rasanya ingin memperkosa mulut Akashi dengan sekotak Pochy miliknya. Tapi jangan ah, eman. Begitulah pemikiran titan yang satu ini.

"Keluarin senjata andalannya." Ujar Aomine, melaksanakan ritual penggalian emas sakral karena kedua tangannya tengah nganggur. "Kelamaan-ssu! Keburu Akashicchi mati!" Kise mengacungkan jempol kepada Midorima—yang dengan penuh pengertian berlutut tanda hormat di hadapan Kuroko.

"Untuk menghormati para panglima yang telah gugur, sisanya kuserahkan padamu, Kuroko-hime—nanodayo."

"Cukup, Midorima-kun." Aura gelap menguar di sekeliling Kuroko. Kedua alisnya bertaut jengkel—semuanya langsung mengambil langkah seribu, menjauh dari zona kematian yang bahkan lebih membahayakan dari amukan Akashi yang tengah PMS. Disangka hantu, tidak dianggap dan sekarang dipaksa berubah gender? Lengkap sudah penderitaannya.

"Ada apa? Jangan kabur, kalian. Diam di tempat." Perintah si bayangan dengan nada keabsolutan. Entah kena angin apa, keempat makhluk pelangi lainnya melihat jiwa seorang Akashi Seijuurou dalam perwujudan Kuroko Tetsuya.

Semuanya kontan berdiri tegap dengan posisi 'siap gerak' bak jejeran narapidana yang dipaksa berdiri oleh sipir penjara. Insting Aomine mengatakan sebaiknya tidak memanas-manasi suasana.

"Ku-Kurokocchi jadi iblis-ssu..." Kise memucat, mendadak banjir keringat dingin. Sejurus kemudian sebuah novel setebal lima ratus halaman melayang dan menghantamnya tepat di wajah. "Maaf, Kise-kun. Bukunya melayang sendiri, bukan salahku." Ujar Kuroko tanpa rasa bersalah—meski tangan sudah jelas posisi Ignite Pass.

Saat ini, pemuda baby blue itu tengah mengaduk-ngaduk ingatan demi menemukan benda paling rapuh di dunia ini sebagai perumpamaan kondisi kokoronya. Sudah cukup. Stop. Berhenti. Kuroko tidak kuat disejajarkan dengan makhluk astral.

Sebelum adegan hajar-menghajar (tanpa perasaan mutual) ini semakin lama, mari kita skip ke adegan utamanya.

Setelah puas menyiksa Kise dan kawan-kawan, Kuroko akhirnya duduk di depan Akashi yang masih bengong. Pemikiran pertama adalah segera memberi napas buatan, namun batal karena rasa tidak tega melakukannya dengan frontal di hadapan para jones. Selain itu, bisa menguras stok darah para fujoshi yang berkeliaran.

"Akashi-kun," diguncangnya pelan kedua bahu Akashi. "Jangan terlalu lama melamun. Nanti kesurupan lho."

Dalam hati, Kisedai menjodohkan telapak tangan dengan jidat masing-masing—alias facepalm. Elah Kuroko, sejak kapan iblis bisa kesurupan? Harusnya iblis disana yang sekali-sekali latihan merasuki orang, guna menghindari perasaan nganggur yang memicu pembantaian lokal.

PLAK!

Penonton baik dari golongan makhluk pelangi dan manusia lewat terhenyak. Kuroko masih belum menurunkan sebelah tangan yang baru saja melintasi sisi kanan wajah rupawan sang emperor (untungnya tidak terjadi kerusakan serius).

"Kuroko!" Akashi akhirnya tersadar dari mati surinya. Kedua tangannya didaratkan pada bahu Kuroko—penonton menahan napas. Para fujoshi dan Kise menahan hasrat untuk menjerit fangirling. Saat ini, Kuroko dapat dengan jelas mengamati seluruh detail Akashi—berhubung wajahnya terlalu dekat dengannya.

Saat ini, tersisa jarak lima senti yang memisahkan bibir keduanya.

"A-Ada apa, Akashi-kun?"

Sial. Kuroko mulai gugup. Mendadak doki-doki. "Akashi-kun, jangan disini." didorongnya pelan Akashi. Jujur saja, sebenarnya dia tidak tega menolak—tapi demi keadilan, kemakmuran dan dorongan untuk tetap hidup, Kuroko dengan kekuatan bulan harus menahan diri.

.

.

Sementara itu di sebuah ruangan imajiner, Akashi terbaring kesakitan di lantai. Hasil dari kegiatan berantem hari ini adalah kemenangan Seijuurou.

"Mau sampai kapan kau diam? Tanggung lho, kurang sedikit." Seijuurou memasang senyuman angkuh—sialan, ekspresi yang paling dibencinya. Melihat dirinya sendiri membuat ekspresi semacam itu sudah cukup untuk membuat darahnya mendidih.

"Diam kau. Setidaknya jika aku mati kali ini, biarkan aku mati dengan tenang." Balas Akashi dengan nada kesal. Saat ini membutuhkan seluruh kekuatan mentalnya dan sebungkus es batu untuk mendinginkan kepalanya dan mencegah mulutnya asal nyolot.

"Sudah kubilang, kan?" Seijuurou facepalm. "Bertukarlah denganku. Kau akan bersyukur nantinya."

"Cih, mana mungkin aku mau mengalah pada makhluk rendahan semacam dirimu."

"Rendahan? Ha, lihat siapa yang bicara."

Sebuah wajan melayang—genderang perang telah dibunyikan. Babak dua dimulai.

.

.

"HUWAAAA KENAPA GAK JADIIIII-SSU?!"

"Kise, aku baru tahu kau penggemar yaoi-nanodayo..."

"Perasaan Kise-chin gak dukung AkaKuro tuh~"

Perempatan siku-siku muncul di kepala Kuroko. Urat kesabarannya sudah putus atas komentar Kise. Mungkin setelah ini dia butuh wajan keramat Akashi untuk mengembalikan otak si kuning pada tempat seharusnya.

Dia tidak berharap Akashi benar-benar melakukannya di tempat umum seperti ini. Bukannya jadi melaksanakan adegan yang paling diharapkan para fujoshi dan penggemar romance tersebut, si kepala stroberi lantas memeluknya bak boneka.

(Dan, mengherankan sekali bel masuk tanda dimulainya materi belum berbunyi. Sudah telat sepuluh menit.)

"Kuroko... larilah."

Kuroko memasang ekspresi penuh tanda tanya. Jarang sekali Akashi berbicara dengan nada memelas—selain saat si bayangan tengah badmood. Selalu nada penuh keabsolutan, tegas, dingin, namun ada sedikit kepedulian yang sulit diperhatikan orang biasa.

"... Iblis sialan itu, dia akan mengincarmu. Akan kutangani... kau lari saja."

Mood semuanya berubah seketika. Penonton langsung menyiapkan tisu darurat. Banyak wibu yang terkena banjir feels dadakan. Sementara itu, para makhluk pelangi menangis pelangi. Kitakore.

"Aku sudah memutuskan untuk tidak lari, Akashi-kun." Jawab Kuroko mantap, sambil balas memeluk sang emperor. Di background, para fujoshi batal jejeritan dan digantikan dengan tangisan terhura—Aomine mati di tempat karena kokoro yang tidak kuat mendapat tekanan sebesar ini.

"Heh. Apa itu artinya kau tidak suka aku mati?" Akashi terkekeh pelan. Jujur saja, pemuda favoritnya ini orang paling menarik yang pernah ditemuinya. "Tentunya. Aku akan sedih sekali jika Akashi-kun pergi." Si baby blue menjawab datar—namun disertai dengan ketulusan.

(Mungkin jika Kagami disini, dia sudah mencak-mencak karena gebetan yang ternyata lebih menyukai keturunan raja iblis daripada manusia tulen.)

Kilauan imajiner muncul di sekitar pasangan merah-biru yang memancarkan aura fuwa-fuwa. Sejak kapan ada sakura gugur dan munculnya bentuk-bentuk hati yang mengudara dengan bebas dari mereka berdua, Kisedai pasrah.

.

.

"... Karena jika Akashi-kun pergi, tagihan penalti vanilla shake-nya tidak akan selesai."

Sesosok roh unyu melayang dari badan sang emperor dengan komikalnya—para makhluk pelangi mati ngakak melihat adegan tersebut.

.

.

"Kenapa kita tidak berhenti berantem sehari saja?"

"Ditolak."

Jawaban datar tersebut membatalkan proses pendinginan isi kepala Akashi. Sambil melipat tangan di dada, Seijuurou mencibir, "Tidak mungkin aku mau mengalah, setidaknya sampai aku berhasil menyingkirkanmu."

"Secara alamiah, tidak perlu ada dua orang dalam satu tubuh." Akashi mengelus dadanya—iyalah, masa punya Momoi—untungnya masih ada sedikit kesabaran yang tersisa. Jika tidak, mungkin setan gunting disana sudah dibantai habis-habisan.

"Bagaimana jika kita buat ini sebuah permainan?"

Mata dwiwarna Seijuurou berkilat antusias. Akashi dalam hati menyeringai penuh kemenangan. Permainan adalah sogokan termudah untuk merayu sang emperor.

"Hari ini, salah satu dari kita akan mengambil alih satu jam lalu kita akan bertukar tempat. Satu jam setelahnya, kita akan bertukar lagi—bergiliran, begitulah." Akashi menjelaskan. "Nah, selama jangka waktu satu jam itu kita boleh berinteraksi dengan Kuroko sesuka kita—"

"Sesukaku?" ulang Seijuurou.

"... Kau pasti berpikir yang aneh-aneh." Akashi memasang wajah 'you don't say'. "Selain itu. Nanti di akhir hari Kuroko akan memilih siapa favoritnya."

"Setuju. Jika kau kalah?"

"Terserah kau. Jika kau kalah?"

"Terserah kau juga."

"Deal." Keduanya berjabat tangan tanda dibentuknya perjanjan baru. "Ngomong-ngomong, aku punya ketentuan khusus untuk Tetsuya—mau dengar?" tawar Seijuurou. Sebelah alis Akashi sedikit naik penuh tanda tanya.

"Begini..."

.

.

Kembali ke dunia nyata. Saat ini Kisedai tengah bertanding janken untuk menentukan siapa yang akan menggeret mayat Akashi ke kelasnya.

"Enggak!" Kise menyilangkan lengan di depan wajah Midorima. "Midorimacchi nggak boleh ikut-ssu!"

"Iya tuh, soalnya Mido-chin bakal menang~" Murasakibara manggut-manggut setuju, sambil secara mental mencatat berapa kotak Pochy yang sudah dilahapnya sejak jam enam lebih dua menit pagi. "Oi Midorima, gak adil tau kalo elu menang terus." komentar Aomine. Kini kelingkingnya tengah berselingkuh dengan telinga.

"Ayo mulai." Kuroko memasang posisi siap perang. Sebuah lingkaran kecil yang terdiri dari Aomine, Kise, Murasakibara dan dirinya dibentuk.

"JAN-KEN-PON!"

.

"Saya menentang keras rasisme,"
—Midorima Shintarou, 18 tahun. Resmi menjadi kandidat kedua diskriminasi lokal.

.

Keputusan telah ditetapkan. Kuroko yang malang diserahi tanggung jawab untuk—dengan menggunakan segala cara—membawa Akashi yang tengah mati suri ke kelasnya, lalu kembali ke kelasnya sendiri.

Jika taman utama terletak di pusat kampus, jarak dari posisinya sekarang ke gedung fakultas bisnis maupun sastra tepat 400 meter, berapa jarak dari satu fakultas ke fakultas lainnya—

Sebentar. Ini bukan waktunya matematika. Intinya, jaraknya sumpah jauh. Kuroko merasa kakinya akan keriting duluan sebelum sampai tujuan. Tidak hanya itu, permasalahannya sekarang adalah bagaimana caranya membawa si kepala stroberi kesana.

"Kuro-chin nggak apa-apa~?" Murasakibara bertanya khawatir melihat mantan pemain bernomor punggung sebelas itu kesusahan mengangkat seonggok mayat berambut merah. "Kalau nggak kuat, nanti kubantu~ Aka-chin nggak se-ringan Kuro-chin, tapi nggak apa-apa~"

"Semangat, Kurokocchi!" Kise menyemangati dengan ceria—dalam hati berharap Kuroko tidak kuat di tengah jalan dan menjatuhkan Akashi dengan menyakitkannya.

Kuroko tengah labil. Mau digendong punggung, resiko patah tulang belakang—tuhan, Kuroko masih ingin hidup untuk melihat hari esok. Masih banyak tujuan hidup yang belum terlaksana, misalnya menikah. Mau digendong bridal style, nanti kedua lengan akan kena imbasnya. Meski ada kesempatan untuk terkesan seme yang diharapkannya sejak dulu. Jiwa ini sudah lelah dianggap uke sejuta umat.

Hari ini, mereka semua mendapat pelajaran berharga—bahwa penampilan tidak menentukan segalanya. Sekecil-kecilnya Akashi jika dibanding dengan Midorima, Murasakibara dan colossal titan, enam puluh empat kilogram bukanlah beban enteng.

.

.

(15 menit penuh siksaan kemudian.)

BRUAK.

"KUROKOCCHI BERTAHANLAH! JANGAN MATI DULU!"

Akashi dilupakan, Kise langsung menyambar Kuroko yang ambruk. Midorima segera mengambil kotak P3K terdekat dan melesat mengejar si kuning yang lari keliling-keliling akibat panik.

"TOLONG! TOLONG-SSU! ADA YANG MAU MELAHIRKAN—EH KELIRU! ADA YANG SEKARAT-SSU!"

"KISE, DIAM DI TEMPAT-NANODAYO!"

Sebenarnya ini kesempatan emas bagi Aomine untuk mempraktekkan bagaimana perbuatan seorang (calon) polisi yang teladan, namun memilih untuk duduk manis dan menonton. Murasakibara diserahi tugas mulia untuk pindah pekerjaan sebagai bodyguard sementara untuk Akashi.

.

.

Di dunia lain, dua orang tengah mengadakan pertandingan janken privat. Siapa lagi kalau bukan kedua kepribadian seorang Akashi Seijuurou—yang tadinya sudah bersumpah untuk akur, mendadak ribut lagi karena alasan sepele.

"AAAAHH KAPAN SELESAINYA?!" Akashi berteriak frustasi, tangan kanannya bergonta-ganti bentuk yang sudah ditetapkan oleh permainan sederhana namun legendaris tersebut.

"SAMPAI KIAMAT! YA GAK LAH BEGO, SAMPAI ADA YANG MENANG!" Seijuurou yang terbawa suasana ikut berteriak frustasi—tidak ada yang mau mengalah.

(Yak, kembali lagi ke Pertandingan Janken Lokal Tingkat Nasional! Saat ini, sudah mencapai seratus kali seri! Waduh, seri lagi! Benar-benar permainan yang sengit—)

Dan begitu seterusnya. Saking stresnya mereka berdua, seorang komentator jejadian numpang melamar kerja. Mungkin yang akan segera mampir adalah ambulans dalam rangka menyelamatkan tubuhnya yang butuh sumbangan oksigen secepatnya.

"Akashicchi! Kurokocchi tewas-ssu! TEWAS!"

Keduanya tersentak, saling pandang dengan penuh pengertian akan situasi darurat lainnya. Entah kenapa sinyal 'Kuroko' selalu bisa tersampaikan kepada mereka, dan saat ini bahkan ITB dan IPB tidak tahu apa rahasianya.

.

.

"Tetsu! Jangan mati woi! TETSUUUU!"

"Aomine-kun, aku masih hidup." Kuroko cemberut. Badmoodnya semakin menjadi-jadi. Sementara itu Aomine menangis pelangi karena kenyataan atas 'kematian' sahabat semasa SMP-nya.

"AMPUN TETSU, MAAFKAN DAKU YANG HOBI BACA MAJALAH MAI-CHAN—JANGAN HANTUI DAKU LAGI!"

"Sudah kubilang Aomine-kun, aku masih—"

"KUROKO—TETSUYAAA!"

Sekelebat warna merah melintasi pandangan Kuroko sebelum tubuh mungilnya diterjang ke tanah karena tidak siap. "Kau masih hidup, Kuroko—Tetsuya? Mana yang sakit? Siapa yang salah?" bertubi-tubi pertanyaan dikeluarkan Akashi. Yamg membuat suasana aneh adalah iris mata kirinya yang berubah-rubah warna. Merah-kuning-merah-kuning hijau di langit yang biru—stop, salah fokus.

Kuroko langsung meletakkan telapak tangannya di jidat Akashi. "Akashi-kun nggak demam tuh. Lagi gesrek ya?"

"KALIAN SEDANG APA HAH?!"

Keenam makhluk pelangi langsung kaget melihat Natsuki-sensei—dosen sastra yang terkenal dengan kegalakannya—yang tiba-tiba muncul. "CEPAT KEMBALI KE KELAS MASING-MASING!"

"Waduh ketahuan-ssu..." Kise sweatdrop.

"Kalo kita balik pasti dihukum~" Murasakibara memeluk erat kotak bento dan kresek snacknya.

"Tidak ada cara lain untuk menghindari hukuman-nanodayo..." Midorima mundur selangkah.

"KABUUUUURR!" Aomine mengomando pasukan. Semuanya langsung menyelamatkan diri masing-masing dengan dipimpin makhluk kegelapan—Akashi langsung menyambar Kuroko, dilempar ke bahunya bak karung beras sebelum berlari dengan kecepatan cahaya.

"AKASHI-KUN, AKU BISA LARI SENDIRI! TURUNKAN AKU!" Kuroko memprotes, namun tidak dihiraukan.

Tanpa sepengetahuan mereka semua, banyak sekali mahasiswa-mahasiswi yang tengah merekam adegan tersebut. Calon trending topik lokal.

.

Sebenarnya, ada niatan untuk mengembalikan reputasi dengan kembali ke fakultas masing-masing setelah adegan kabur dari penjahat bak film action. Namun setelah melihat para 'polisi' yang tengah berpatroli, mereka berenam memutuskan untuk putar haluan dan memanjat pagar belakang.

(Anak-anak yang baik, dimohon untuk tidak meniru adegan tersebut.)

Rencananya, berhubung tas dan barang bawaan masih tertinggal di kelas masing-masing mereka berenam akan menerobos dan mengambil semuanya kembali. Saat ini Kuroko (yang digendong punggung Akashi, sekalian katanya) tengah menerapkan Misdirection Overflow agar tidak dilihat orang lewat. Juga untuk menghindari fitnah karena fitnah lebih kejam dari pembunuhan.

"Akashi-kun, turunkan aku." Kuroko mengerucutkan bibirnya. Ampun, unyu sekali—begitulah pikiran sehati Kisedai minus Midorima (yang terlalu tsundere untuk mengakuinya). "Ditolak." ujar Akashi singkat. "Nanti kakimu bisa patah, Kuroko."

"Ngomong-ngomong, aku akan pergi ke suatu tempat sebentar. Murasakibara, giliranmu yang menggendong Kuroko."

"Roger~" Murasakibara melambai tanda konfirmasi. "Kise-chin sama Mine-chin yang bawain ini ya~ Yoroshiku~" Setumpuk kotak bento dan kresek snack disodorkan dengan paksa ke duo kopi susu, sementara Akashi menurunkan Kuroko.

"Akashicchi jahat-ssu! Aku juga mau gendong Kurokocchi-ssu!" Kise refleks memprotes, dan dihadiahi jitakan dari Aomine. "Nggak, gue yang harusnya gendong Tetsu! Gue kan sahabatnya!"

"Enggak! Aku-ssu!"

"Kagak bakal! Gue!"

"Aku-ssu!"

"Gue ah!"

"Justru itu alasanku menyuruh Murasakibara." Akashi facepalm, sementara Kuroko pindah kendaraan. "Kalian akan ribut—dan sudah jelas Midorima tidak mau. Iya kan, Shintarou?"

Hening.

(Tepat jam satu siang—giliran Seijuurou.)

"Kalau begitu, aku pergi dulu." di perempatan, Akashi belok kanan—sementara yang lainnya mengikuti jalan yang lurus. Terkesan simbolik sekali. Padahal mereka semua melenceng terutama bagi yang mengaku lurus semacam Midorima.

"Aka-chin mau kemana sih~?" tanya Murasakibara setelah sekian meter dari perempatan tersebut—sedangkan Kuroko merasa terhina setelah mengetahui bagaimana rasanya menjadi orang setinggi titan.

"Nggak ada apa-apa tuh di jalan situ—tunggu." Kise berhenti sejenak untuk membiarkan otak karatannya berpikir. "Disitu adanya... ah, gak mungkin-ssu."

"...?"

.

"... Murasakibara-kun, tolong ikuti Akashi-kun."

"Hee~? Kita kan sebentar lagi sampai, Kuro-chin~"

"Tunggu Tetsu, firasat gue gak enak. Jalan terus gih, Murasakibara."

"Emangnya Akashicchi punya hobi gituan ya?"

"Sebaiknya jangan dipikirkan, Kise—nodayo."

.

"Tadaima—"

"Jadi, kalian sudah kembali."

Kise melompat mundur, Aomine langsung salto, Murasakibara tersedak lolipop, kacamata Midorima melorot drastis dan Kuroko memucat. Raja iblis telah kembali dalam kurun waktu kurang dari lima menit.

(Tidak usah ditanya persentase kemungkinannya. Ini Akashi, semuanya mungkin terjadi.)

Akashi langsung menggapai pergelangan Kuroko dan menggeretnya ke kamar mandi—di tangan satunya terdapat sebuah tas kertas yang agak besar. "Tetsuya, ikut aku."

Aomine langsung memblokade pintu kamar mandi. "Oi oi oi, elu mau apa, Akashi?!"

"Minggir. Sebelum kusingkirkan kau dengan Rasengan."

Aomine langsung menyingkir setelah mengingat seberapa dahsyatnya jurus andalan seorang tokoh anime mainstream tersebut. Didorongnya Kuroko ke dalam kamar mandi. "Ngomong-ngomong Ryouta, aku pinjam beberapa barangmu sebentar." ujar Akashi sebelum ikut masuk dan mengunci pintu.

Kise langsung mencari barangnya yang hilang.

Murasakibara mem-puk-puk Aomine yang depresi. Midorima merapal doa, semoga kami-sama masih baik hati dan membiarkan si bayangan unyu keluar dengan nyawa yang masih utuh.

"TIDAK! AKU TIDAK MAU!" Terdengar teriakan tersiksa dari dalam ruang sakral yang dikenal dengan kamar mandi.BRAK BRUK BRAK—"A-A-Akashi-kun, ini keterlaluan!"

"Tetsuya, karena terlalu pendek kau tidak boleh pakai ini."

"JANGAN! AKU BISA MELAKUKANNYA SENDIRI!"

Imajinasi keempat makhluk yang tersiksa mulai liar. Apalagi Kise dan Aomine, yang mulai membayangkan yang 'iya-iya' meski kokoro tidak rela.

"Berhenti memberontak. Jika masih ingin selamat, jadilah anak baik dan duduk manis disana."

"H-HIIIIII—! Ja—AH! JANGAN KASAR-KASAR! WAAA!"

"... Aku butuh sumbat telinga-nanodayo." Midorima segera keluar kamar untuk berpetualang. Tersisa tiga orang di kamar 130 yang tengah berdoa dengan khusyuk demi keselamatan masing-masing—dan jangan lupa untuk Kuroko Tetsuya tercinta.

.

.

(20 menit kemudian.)

"Oi kalian, kita mau... berangkat..."

Mata Kagami membelalak melihat kondisi kamar tetangganya. Midorima yang berdiri di tengah ruangan memegang sehelai selimut putih, dan di depannya ada dua mayat yang tertutup selimut, sementara satunya yang belum ditutup bisa diidentifikasi sebagai Murasakibara Atsushi.

"... Kagami, kau tidak kasihan pada mereka-nodayo?" Midorima membenahi kacamatanya, sudah melepas seragam universitasnya dan digantikan dengan kemeja putih, celana panjang hitam, sweater krem dan dasi hitam.

"M-Mereka kenapa?" Kagami sweatdrop, mendekatkan diri dengan pintu. Jangan-jangan ketiga mayat di lantai akan mendadak bangun.

"Mati-nanodayo." jawab si megane lumutan singkat.

BRAK.

"Baiklah, sudah selesai. Kalian bisa bangun sekarang."

Ketiga mayat serempak duduk—Kagami bingung mau kaget karena apa, entah karena mereka bertiga, atau Akashi yang baru saja keluar kamar mandi dengan kondisi basah kuyup dari ujung kepala hingga ujung kaki.

"Akashi, ini handuk-nanodayo." Midorima menyodorkan handuk. "Ah, iya." Akashi langsung mengambilnya tanpa berterima kasih—ciri khas 'boku-shi'—dan mulai mengeringkan rambutnya. Ada efek kilauan-kilauan kecil mirip glitter yang berjatuhan. Tidak, bukan ketombe dan bukan promosi merk shampoo.

"Kau sedang apa—oh, aku hampir lupa." Akashi menyibakkan poninya. Usaha untuk tetap kelihatan keren (yang menurut mereka semua tidak keren). "Kalian semua, Taiga, aku minta pendapat kalian."

"TIDAK MAU!" terdengar teriakan makhluk halus—kalian tahu siapa, dari kamar mandi.

"Keluar," perintah Akashi. "Aku juga harus ganti baju. Lihat apa yang kau lakukan."

"BIARIN! POKOKNYA AKU TIDAK MAU KELUAR!" balasan dengan nada kesal.

"... OOC itu masalah serius-ssu." Komentar Kise, yang sudah berganti baju. Seragamnya digantikan kemeja kuning dengan dalaman kaos hitam dan celana santai berwarna hijau. Sebenarnya ada rencana memakai topi dan kacamata hitam untuk penyamaran.

"Badmood tuh, badmood." Aomine ikut-ikutan, dalam hati misuh-misuh dengan khidmatnya ke biang kerok semua keributan kali ini. Saat ini, Aomine memakai kaos simpel berwarna putih (yang semakin menegaskan bahwa dia hitam), celana selutut dan jersey semasa bersekolah di Touou—low budget memang.

"Kasihan banget~" Tumben Murasakibara merasa kasihan, berhubung yang biasanya dikhawatirkan adalah keselamatan kresek snacknya. Dia memakai kaos pink muda, jaket ungu dengan motif kotak-kotak, celana panjang ungu yang banyak kantongnya (untuk menyimpan stok darurat). Sebuah topi hitam melengkapi.

"Hoo? Jangan-jangan Tetsuya mau melihatku—" Akashi menghindari botol sabun cair melayang.

"Kuroko?" Kagami mendekati pintu kamar mandi, namun tidak membukanya. Sebuah isakan. Kokoronya langsung trenyuh, rasanya ingin menerobos dan memeluk si bayangan di tempat—tapi, jika Kuroko tidak ingin dilihat, pasti ada alasannya bukan?

"Jangan buka pintunya, Kagami-kun." suaranya terdengar memelas, "... Aku malu dilihat seperti ini."

Aura gelap memancar dari Akashi. 'Ya jelas gitu, elu yang cari gara-gara.'—pikiran sehati Kisedai, lagi.

"Ayo gih, Kuroko." Kagami memutuskan untuk bernegosiasi. Biasanya berhasil. Saya tegaskan lagi, biasanya berhasil. "Sumpah, gue gak bakal ketawa. Kalo gue ketawa, elu boleh tonjok gue ato apalah. Mau tonjok Ahomine juga gaapa kok."

("AOMINECCHI, SABAR-SSU!" Kise berteriak di background sambil menahan Aomine yang mendadak beringas. Memasang wajah sangar dengan niatan balas menjotos Kagami di tempat. "LEPASIN GUE, KISE! GUE MAU HAJAR SI BAKAGAMI!" Midorima dan Murasakibara facepalm berjamaah.)

"... Benarkah?"

"Ciyus."

"Sumpah?"

"Iya deh, iya."

"Kagami-kun janji?"

"Hoi Kuroko, gue udah bilang. Cepetan keluar." Satu urat kesabaran Kagami putus. Namun karena ini Kuroko (baca: gebetan tercinta yang selalu dimonopoli Akashi-sama), masih ada toleransi.

Pintu kamar mandi terbuka satu senti. Kurang lebih tiga puluh senti kemudian, lima orang lainnya membeku di tempat.

.

.

"ANJRIT ITU UNYU SEKALEH!"

Lima orang tewas bersimbah darah—bahkan Midorima, yang sepertinya harus membeli kacamata baru dan Murasakibara yang rugi sekian yen karena kresek snacknya yang diremas sekuat tenaga.

Akashi langsung menutupi sebagian wajahnya dan berpaling guna menghindari mereka yang mencari kesempatan melihat dirinya OOC. "Sialan... tisu mana tisu!" teriaknya, sembari mengobrak-abrik lemari penyimpanan barang.

Kuroko langsung pundung di pojokan.

.

Ingin tahu apa yang membuat mereka semua mati anemia?

Ternyata, Akashi mampir ke anime shop saat pulang bersama tadi—atas kesepakatan kedua kepribadiannya berjam-jam lalu. Bagi standar seorang Akashi Seijuurou, melihat Kuroko yang memakai maid dress sudah menjadi obat cuci mata terbaik, namun si kepala stroberi menemukan kostum yang lebih menarik—

—yang tengah dipakai Kuroko saat ini. Setelan baju dengan nuansa marun-hitam yang terinspirasi dari kostum miko (1) berlengan hingga siku, dengan rok kurang lebih sejengkal diatas lutut. Ukuran standar untuk seragam sekolah remaja putri di Jepang. Bonusnya, dilengkapi dengan stockings hitam panjang dan sepasang bakiak marun-hitam yang melengkapi penampilan bertema summer nights.

Dan, akibat produk perawatan rambut milik Kise, surai baby blue-nya sukses dijinakkan. Tidak terlihat berantakan, bagian atas kepalanya malah rapi. Ditambah perawakannya yang terlihat lebih feminin dari laki-laki pada umumnya—kulit pucat, matanya yang lebar dan nampak polos serta minimnya otot yang terlihat—bayangan unyu yang satu ini pasti disangka perempuan.

Demi apa, Kuroko serasa menjadi korban pelecehan seksual saat ini.

"Baik, ayo kita mulai misi perebutan barang bawaan kita." Ujar Akashi, yang sudah memakai kemeja merah, dengan rompi, dasi dan celana panjang hitam. Formal sekali. ("Psst, Akashicchi bajunya nggak santai sama sekali-ssu." "Tapi cocok buat Aka-chin~" "Kenapa aku harus peduli-nodayo?")

"SIAP!"

"... Kuroko, apa yang kau lakukan?" Akashi sekali lagi memancarkan aura gelap melihat Kagami yang merinding setengah mati—karena saat ini Kuroko tengah bersembunyi di balik jaket yang dikenakannya.

Pikiran sang macan kacau balau, separuh berisi kepanikan dan separuhnya lagi diam-diam fanboying. 'ANJIR, ada hantu unyu nempel ke gue—duh, gue takut hantu tapi kalo hantunya Kuroko gapapa! ADUH UNYU BANGET NJIR BAJUNYA! APAAN ITU, AKASHI KAYAK MAU BUNUH GUE! WADUH GIMANA NIH—' begitulah kira-kira.

"Kagami-kun, selamatkan aku..." Kuroko memelas, malah bergelayut dengan pewe-nya ke punggung Kagami. Saat ini Akashi tengah mengasah gunting dan memanaskan wajan untuk dihantamkan ke muka macan jejadian yang tengah panik.

"K-K-K-K-Kuroko, jangan nempel-nempel entar gue dihajar seme elu..." Kagami sweatdrop begitu Akashi memasang senyuman 'ramah', giliran linggis yang diasah.

"Kalau Kagami-kun benar-benar suka aku, harusnya Kagami-kun sebagai seme melindungiku." Kuroko dengan santainya beralasan.

Oke fix. Kagami merasa hidupnya akan berakhir empat puluh tahun lebih awal.

.

.

"Akashi-kun jahat."

"Lah, kan Tetsuya yang memintanya."

Kuroko cemberut lagi. Mau dikemanakan harga dirinya, jika sepanjang jalan ke kampus misdirection tidak bisa digunakan? Saat ini, teknik andalannya berubah fungsi. Semakin keras dia mencoba menggunakannya, malah semakin diperhatikan orang. Senjata makan tuan.

"Semua orang pasti berpikir kau manis." Akashi cengar-cengir sendiri—bangga atas 'mahakarya'-nya. Empat makhluk pelangi dan Kagami yang ikut-ikutan bergidik melihatnya.

"Akashi-kun tidak bisa melihat? Sudah jelas aku ini laki-laki." Kuroko melipat tangan di dada. "Mau aku mengambil posisi seme pun bisa."

("Mulai deh." "Iya tuh, mulai lagi-ssu." "Sebaiknya kita menjauh-nanodayo." "Mulai apaan sih?" "Kaga-chin nonton aja~")

Seandainya bukan image yang menjadi masalah, Akashi pasti sudah ngakak gegulingan mendengarnya. Sebuah senyuman miring menjadi penggantinya. "Dibanding kita—Kiseki no Sedai—dan laki-laki pada umumnya, kau lebih mirip perempuan. Menyedihkan memang, tapi setidaknya terimalah kenyataan."

"Mau sampai kiamat pun, tidak akan ada yang percaya kau laki-laki tulen. Kau dibawahku."

"Suatu saat nanti Akashi-kun dibawahku. Aku ini sudah jelas laki-laki—mau cek sekarang?"

"Dengan senang hati. Apakah itu ajakan untuk—"

"Jangan memikirkan yang tidak-tidak—"

"Woi kalian, udah sampe nih." Aomine yang geregetan melihat tingkah keduanya memutuskan untuk menginterupsi tanpa memperhitungkan dampaknya. Kise dan Midorima sedari tadi sudah memanjat masuk—anak-anak, jangan meniru adegan diatas—dan keduanya tengah membantu Murasakibara naik berhubung pagarnya tingginya mencapai langit ketujuh.

"Oh, baiklah." Akashi segera menghampiri Murasakibara, namun tidak sebelum memberi peringatan. "Tetsuya, kau jangan ikut."

Butuh sekitar sepuluh detik sampai otak Kuroko tersambung. Begitu koneksi sudah ada, si bayangan langsung memalingkan muka. Malas mengakui, tapi sebenarnya malu. Mengingat roknya yang pendek, Murasakibara pasti diberi azab yang pedih jika 'melihat' baik sengaja maupun tidak.

"Gak sakit tuh, Kuroko?"

Kagami baru bisa bicara setelah terpesona dengan perbuatan nekat Kisedai. Yang ditanya memasang wajah penuh tanda tanya, sebelum akhirnya connect lagi. "Tidak, Kagami-kun. Tapi kemungkinan aku bisa tersandung."

"Mau gue gendong?"

Hening.

Kagami ingin menampar dirinya sendiri dan terjun dari tebing tertinggi ke laut terdalam. Untungnya tidak ada Akashi, jika tidak mungkin dirinya akan dilempar ke lubang titan untuk makanan pembuka para raksasa bugil.

"... Sebaiknya jangan, Kagami-kun."

Jleb. Kokoro Kagami retak tiga senti. Rasanya seperti didorong sampai jatuh ke dalam Palung Mariana. "Aku masih ingin Kagami-kun hidup, jadi demi perdamaian dunia tolong jangan mencoba yang aneh-aneh." Kuroko memajang watados miliknya.

Setelah jatuh ke titik terdalam Bumi, Kagami serasa melayang ke surga.

.

(15 menit kemudian.)

Kisedai berbaris rapi bak fakir miskin yang hendak menerima sembako dari Akashi-sama. Bukan kok, mereka hanya mengecek kelengkapan barang bawaan masing-masing yang sukses direbut dari cengkraman ruang T.U.

Entah kena keajaiban apa, majalah Mai-chan milik Aomine dan koleksi gunting beserta senjata tajam lainnya milik Akashi tidak disita. Saat ini Aomine tengah sujud syukur.

Kuroko lega—kami-sama, terima kasih karena telah menyelamatkan keberadaan novel barunya. Jika tidak, mungkin sudah rugi sekian yen berhubung barang semacam manga dan novel tidak akan dikembalikan jika disita pihak universitas.

Sambil menyelempangkan tas ke bahu, Kuroko segera balik badan dan kabur ke Apartemen Pelangi sebelum menarik perhatian manusia lewat—namun figur Akashi memblokade cahaya harapannya. "Mau kemana, Kuroko?" tanyanya, dengan sebuah senyuman miring khasnya yang mampu membuat kaum hawa mati klepek-klepek.

"Mau pulang, Akashi-kun." Kuroko memutuskan untuk jujur. Tidak ada gunanya berbohong.

Akashi terkekeh pelan. Kedua alis Kuroko bertaut heran. "Kau pikir kita hanya mau mengambil barang bawaan kita? Lupa ya, setelah ini kita mau kemana?"

"Eh, kemana?"

"Lho, Kurokocchi nggak tau-ssu?" Kise menaikkan satu alis. "Kita kan mau reuni di MajiBa deket sini."

Koneksi jaringan lokal melambat hingga 1 Kbps. Otak si baby blue tengah mencoba mengulas kembali apa arti dari kata 'reuni'. Reuni reuni reuni—tunggu. Jika mereka pergi reuni, dan bajunya saat ini sungguh memalukan—

"WAA, KUROKOCCHI!"

"TETSU, JANGAN KABUR!"

"Tangkap dia-nodayo!"

.

.

"Murasakibara, jenius lu. Gue gak nyangka bakal berhasil."

Murasakibara tersenyum tipis. "Hehe, kebetulan kok~"

Di barisan belakang, Kuroko mengeluarkan aura bling-bling sambil dengan bahagianya menyesap segelas vanilla shake premium. Itu semua karena motto keduanya adalah 'persetan dengan harga diri, yang penting minum vanilla shake'.

Akashi, sekali lagi, digunakan sebagai kuda agar Kuroko tidak tersandung saking bahagianya. Oleh karena itu, statusnya sebagai S perlu dipertanyakan.

"Yee, sudah sampai-ssu!" Kise langsung berlari dengan antusiasnya ke pintu depan MajiBa, diikuti Aomine, Kagami dan Murasakibara yang malas-malasan. Midorima mengecek lucky itemnya—selembar kertas HVS—kemudian mengikuti keempatnya.

"HAI HAI HAAAI SAYA KISE RYOUTA, TELAH KEMBALI DARI ALAM BARZAH—Eh, bukan itu-ssu!" Kise langsung menyapa bak pembawa acara yang memulai kegiatan, dan sukses menarik perhatian semua orang yang ada di MajiBa.

Kasamatsu langsung bangkit dari tempat duduk dan menendang Kise dengan penuh cinta. "SENPAI KOK JAHAT GITU-SSU!" si kuning ngambang menangis pelangi.

"... Artisnya datang, hahaha." Mibuchi tertawa dengan tidak ikhlas. Di sebelahnya, Hayama dan Nebuya bertengkar karena berebutan kentang goreng. Mayuzumi asyik membaca light novel tanpa mempedulikan dunia dan sesamanya. "Ya kan, Junpei-chan?"

"JANGAN PANGGIL GITU—" Hyuuga batal berteriak karena hantaman harisen dari orang yang duduk di sebelahnya. "Hyuuga-kun, jangan teriak-teriak disini. Malu-maluin tahu." Riko menegur—dan langsung dituruti.

"Dai-chan, sini sini!" Momoi memanggil Aomine untuk duduk di sebelahnya dan sesama rekan semasa bersekolah di Touou. Imayoshi langsung nyengir mencurigakan, sementara Sakurai yang merinding melihatnya menggeser tempat duduknya dua senti lebih jauh.

"Anjay, Midorima masih bawa-bawa lucky item tuh." Miyaji rasanya ingin membanting nanas-chan begitu melihat kebiasaan kouhai-nya yang masih awet. Takao langsung ngakak di tempat mendengarnya, dan Kimura segera membawakan obat wasir.

"Itu siapa?" Fukui langsung bertanya begitu sesosok crossplayer moe melangkahkan kaki di teritori MajiBa. Akashi langsung memasang wajah 'yang benar saja', sementara Kuroko langsung merinding. "Kalian tidak kenal?" tanya sang emperor.

Semuanya langsung menggeleng dengan jujur.

Moriyama yang terpesona dengan ke-moe-an si bayangan unyu, seketika itu mendapat hidayah dan melesat dari tempat duduknya. Berlutut di depannya, sambil menggenggam tangan kanan Kuroko, jiwa pujangganya kambuh. "Daku tidak pernah melihat malaikat secantik dirimu. Maukah dinda menerima cinta kakanda un—"

Adegan tersebut di-cut karena makhluk pelangi dan Izuki mendadak ngamuk karena alasan berbeda. Yang satu karena tidak ada yang boleh mengapa-apakan Kuroko (selain mereka), dan yang satunya merasa diselingkuhi.

.

"Bagaimana kalau kubeginikan?" Akashi mengacak-ngacak surai si baby blue—baru saat itulah mereka semua sadar.

Malam itu, terjadi krisis terhebat MajiBa. Bukan karena stok bahan yang mendadak habis di momen penting, namun karena mungkinnya muncul tuduhan pembantaian massal. Banyak ditemukan manusia yang mati kehabisan darah—selain enam kepala pelangi dan satu ekor macan.

.

"T-T-T-Tetsu-kun unyu..." Momoi fangirling ria, dengan ditemani Riko. Sakurai berkali-kali meminta maaf pada pihak staff dan mengaku semua salahnya.

Kuroko karena tengsin setengah mati menolak untuk menyingkirkan kertas koran yang menutupi wajahnya, sambil mengisi sesi curhat bersama Papa Kiyoshi yang sudah pulang dari Amerika.

Orang-orang disana selain Kisedai langsung berdiskusi ria, sambil sesekali menengok ke arah Akashi dan Kuroko yang masih menyensor mukanya. Mereka pun berbaris rapi, dan dengan dikomando 'satu-dua-tiga' oleh Miyaji dengan kompaknya berteriak,

"CIEE CIEE YANG UDAH PUNYA ISTRI!"

Raut muka Akashi sama sekali tidak berubah, sementara jika mungkin Kuroko akan menyusut dan uap imajiner menyembur dari puncak kepalanya. Para calon cheerleader langsung cengo di tempat.

"LHO, KALIAN BENERAN—"

SYUUUT—CTAK.

Sebuah gunting melayang langsung meredakan keramaian. "Iya," Akashi memasang wajah sangar. "Ada masalah dengan itu?"

"NGGAK SAMA SEKALI, KORPORAL!" semuanya serempak hormat-gerak.

.

.

"Naa Kuroko, kau lebih suka siapa?" cengiran mencurigakan Imayoshi semakin melebar.

Jika tidak ada batasnya, mungkin warna wajah Kuroko menjadi lebih merah daripada truk pemadam kebakaran yang notabene nge-'jreng' warnanya. "A-A-A-Apa maksudnya, I-Imayoshi-senpai?"

(Momoi langsung fangirling dan mengambil foto ekspresi langka selain wajah temboknya.)

"Iyaa, 'itu'." Imayoshi tertawa kecil, kemudian menyiku Kobori (karena dia orang paling jujur dan paling baik diantara mereka semua) untuk penjelasan. Di background, duo Miya-Taka menjadi musisi jalanan.

("Aku yang dulu bukanlah yang sekarang~ Dulu ditendang sekarang 'ku disayang~ Dulu-dulu-dulu—" "Maaf mas, nggak ada uang kecil untuk rakyat kecil—ah, kitakore!" "Izuki, matilah.")

"Itu lho, kau lebih suka mana—Akashi yang dulu, yang sekarang atau Kagami?" tanya Kobori.

Kagami langsung memerah. Rasanya ingin headbang ke dinding terdekat namun takutnya jebol dan harus mengganti rugi. Mibuchi dan kawan-kawan yang memperhatikannya merasa ingin ngakak (saat ini itulah yang dilakukan Hayama, sambil menggebrak-gebrak meja).

"A-Aku..." Kuroko kembali labil. Semuanya mendengarkan dengan khidmat.

"Aku... aku..." Kuroko melirik Akashi yang menanti-nanti jawaban, kemudian ke arah Kagami yang tegang seakan berdoa agar dipilih. "Aku... su-suka..."

"Iyaaa?" Miyaji siap melempar nanas jika diperlukan.

"Aku suka... eng..."

.

.

(10 menit kemudian.)

"... aku lebih suka Nigou daripada kalian bertiga."

Mereka semua langsung terjatuh dari kursi masing-masing.

.

"Tetsu jawab yang bener dong." Aomine facepalm.

"... Mau tau aja atau mau tau banget?" Kuroko balas menanya.

"MAU TAU BANGET!"

"Benar?"

"IYAAAAAAAA!"

Sepertinya kebenaran tidak bisa disembunyikan. "Baiklah, jika kalian benar-benar ingin tahu."

Semuanya meningkatkan sensitivitas telinga masing-masing. "Kalau antara Akashi-kun dan Kagami-kun, aku suka kalian berdua." Jawab Kuroko dengan jujur. Akashi dan Kagami saling melempar pandangan maut.

"Kalau soal Akashi-kun yang dulu dan sekarang..."

.

.

"Baiklah, ini adalah momen penentuan." Akashi dan Seijuurou duduk manis di ruangan imajiner yang mereka tempati, sambil saling melempar tatapan 'aku pasti menang'.

"Akashi-kun yang dulu, orangnya baik, tidak pernah jahat ke kita semua—"

Akashi menyeringai bangga—dan dibalas dengan sambitan gunting.

"—Tapi terkadang juga berlebihan. Misalnya, waktu hari Valentine beberapa tahun lalu semasa di Teiko, Akashi-kun mengajakku menginap di rumahnya dan memanjakanku seharian. Aku tidak suka dimanja, Akashi-kun."

"..."

"Dengar tuh."

"Diam kau, iblis."

"Kalau Akashi-kun yang sekarang, hobinya membantai orang, sering merasa hebat dan terlalu percaya diri—"

Akashi menahan diri untuk tidak tertawa mendengarnya, sementara Seijuurou menyiapkan koleksi gunting keramatnya yang sudah disimpan selama bertahun-tahun.

"—tapi Akashi-kun yang sekarang sudah lebih baik... meski terkadang masih hobi mengancam orang."

Keduanya terdiam, saling memandang penuh pengertian ke satu sama lain. Pandangan yang mempertanyakan siapa yang menang—padahal keduanya seri untuk ke-sekian kalinya hari ini. Keduanya otomatis tidak terima dengan hasil akhirnya.

"... Tetsuya milikku." Seijuurou memulai.

"... Tidak, Kuroko milikku." Akashi terpancing.

.

.

"SEI-CHAN! SEI-CHAN MATI!"

"MIDORIMA, BURUAN CARIIN DOKTER!"

"WAAAAA! GIMANA INI?! GIMANA?! WAAAAAAAA!"

"TENANG DULU, SIALAN! PANGGILIN AMBULANS!"

Meski keputusan akhir sudah rilis secara resmi dari lubuk hati terdalam Kuroko, perselisihan antara keduanya benar-benar tidak bisa dihindarkan. Reuni kali ini menjadi reuni paling ramai yang pernah mereka semua adakan.

(Pada akhirnya, pertengkaran mereka berdua berlanjut selamanya.)

.

TBC

.

(1) Miko: Shrine maiden, itu lho yang biasanya ada di kuil-kuil. Maaf saya gak bisa jelasin...

Catatan khusus: Yang di-crossplay oleh Kuroko adalah Blanc dengan kostum 'Summer Nights' dari game Hyperdimension Neptunia. Silahkan tanya mbah Google untuk informasi lebih lanjut.

.

Ini perasaan saya aja atau saya jadi lebih rajin ngetik? (Saya sudah mulai ngetik sejak mem-publish bab sebelumnya)
Mungkin karena ada AkaKuro /dihajar fans KagaKuro dkk/

Akhirnya~ Bab ini mah jadi panjang gegara banyak scene nongol (?)

Balasan Review (secara keseluruhan):

YAA SAYA SIAP MENYIKSA PARA FUJOSHI DILUAR SANA DENGAN PARA OTP— /author dibantai/

Gitu pokoknya. Saya akan membuat korban mati anemia dan mati ngakak saya bertambah NYAHAHAHAOHOKOHOK #keselek

Bagi yang kepingin, saya siap memunculkan KagaKuro, NijiMayu dan MoriIzu! Saya juga mau nganter undangan nikah atas nama OTP AkaKuro dulu. Dan entah kenapa joke yang paling gampang diinget di bab sebelumnya itu Kuroko yang kampanye hemat listrik (?)

Dan. KENAPA FANS AKAKURO TIDAK KUNJUNG PERGI DARI SINI.
NGGAK, AMPUN! SAYA NGGAK NGUSIR KOK! /sujud sungkem/

Satu lagi. Soal hubungan antar karakter—Kuroko netral ke Mayuyu, tapi setan lolicon (?) masih agak dingin ke dia~ Terus, antara Niji sama Mayuyu itu semacem odd friendship. Hobi main hajar, tapi jauh di lubuk hati terdalam peduli (?) Sei itu bahan rebutan mereka berdua. Alhasil Kuroko cemburu (?)

Jawaban bagi yang tanya:

Yamasaki Naomi: Oh, itu setannya Mayuyu yang tiba-tiba nongol :v Jangan tanya saya kenapa dia bisa lihat waktu lagi gelap, nih tanya orangnya /geret Mayuyu/

Guest & gunting berkarat: Itu bukan medsos, tapi om yutup :"v

Bacotan Ekstra:

Shintaro Arisa: SELAMAT SELAMAT ANDA BENAR /tepuk tangan/ Instingnya Arisa-san kuat banget ya /?

MAAFKAN SAYA YANG BACOT. OKE NEXT. /dibantai/

(Terima kasih untuk meeyahjee keeyoshee waifu, macaroon waffle, Yuki Jaeger, Akari Kareina, Indah605, momonpoi, Vee Hyakuya, blackeyes947, Yamasaki Naomi, CYF625, mai-chan, Guest, gunting berkarat, Fujouri, Rhymos-Ethereal, Shintaro Arisa dan Adcprk untuk reviewnya~ Terima kasih juga untuk author yang sudah mem-fav/follow fic ancur ini! :3)

NOTE: Maafkan saya yang mendadak merubah cuplikan bab berikutnya. Ada rencana tersembunyi /?

.

.

(Cuplikan bab berikutnya.)

"Ini serius ngawur, Nijimura-san!"

(Pertama kalinya dalam kehidupan nista seorang Nijimura, virus oyakoro merubah segalanya.)

.

"CUUUUU—OHOK OHOK!"

.

"Maukah kau menikahiku, nano—"

"Tolong hilangkan logat konyolmu itu."

.

"... Ini dialog apaan sih?"

.

"Ternyata banyak variasinya, ya..."

.

(Extra Chapter II END.)