The Princess

Disclaimer : Masashi Kishimoto


Halo, minna-san!

Terimakasih banyak atas review-review-nya!

Maaf telat banget updatenya~

Silahkan menikmati (^w^)

Warning: Miss-typo, OOC, alur kecepetan, dll


Step 8


.

.

Hinata yang bersiap-siap di ruang tunggunya melihat ke arah jam dinding. Sebentar lagi Ia harus menuju ke arah studio untuk melakukan talkshow, tapi hati dan pikirannya masih saja terbayang akan pertemuannya dengan Uchiha Fugaku, sang kepala Kabuki di keluarga Uchiha yang tidak lain adalah Ayah dari kekasihnya sendiri, Sasuke. Entah mengapa Hinata ingin mengulang kembali kejadian beberapa menit yang lalu karena tadi Ia merasa tak sopan dengan Fugaku sendiri. Ia tundukkan kepalanya seakan berpikir keras mereka ulang kejadian sebelumnya, takut kalau-kalau ada hal yang benar-benar tidak senonoh dilakukan terhadap Fugaku sang ketua Kabuki.

"Eh, tunggu dulu─Jika ada acara Kabuki..apa Sasuke-kun juga ada disini?'' bisik Hinata pelan. Dia ingat alasan mengapa Sasuke tak bisa hadir pada peragaan busananya sore tadi. Sasuke bilang bahwa dia ada teater Kabuki malam ini. Merasa tak sanggup menahan rasa penasarannya, buru-buru Hinata mengambil ponselnya selagi Ia masih sendirian di ruang tunggu. "Kumohon, angkatlah─''

PIP

"Halo, Hinata? Ada apa?''

"Sasuke-kun!'' Hinata tersenyum senang mendengar suara Sasuke dibalik telepon. Merasa suaranya terlalu keras, Hinata buru-buru mengecilkan volumenya seakan berbisik. "Ano, apa hari ini kau kerja?''

"Ya, aku sudah bilang aku ada Kabuki, 'kan?'' jawab Sasuke sedikit bingung. "Ada apa? Bukankah kau sedang ada peragaan?''

"Su-sudah selesai. Ano, bo-boleh aku tahu kau dimana?'' tanya Hinata hati-hati, Hinata tahu Sasuke pasti tidak akan memberitahu lokasinya karena Sasuke bukan tipe yang dengan mudah membeberkan lokasinya jika tak ada alasan penting. Meski begitu, dalam hati Hinata berpikir lebih baik mencoba bertanya daripada tidak sama sekali.

"Ada apa? Tumben sekali kau ingin tahu lokasiku.'' jawab Sasuke membuat Hinata mati kutu.

"I-itu..''

"Hinata-san! Kakashi memanggilmu, aku akan menunggumu diluar!'' Naruto yang tiba-tiba masuk ke ruang ganti Hinata, membuat gadis itu langsung melonjak kaget dari duduknya. Ia tutupi speaker ponselnya dengan telapak tangan dan menatap Naruto berusaha tenang seakan tak terjadi apa-apa.

"Ba-baik, arigatou. Aku akan langsung kesana.'' balas Hinata membuat Naruto menganggukkan kepalanya paham dan kembali keluar. Tanpa basa-basi Hinata kembali menempelkan ponselnya ke telinga dengan wajah pucat. "A-ano, Sasuke-kun?''

"Hoo─Tadi itu Naruto?'' suara Sasuke yang berat mengintimidasi telinga Hinata yang hanya bisa terdiam. Hinata rasa-rasanya bisa menduga bagaimana wajah Sasuke kali ini. "Apa karena itu kau bertanya aku ada dimana?''

"Eh? A-apa maksudmu..''

"Kau tidak mau berpapasan denganku karena kau sedang bersama Naruto?''

"E-eh? Apa─.'' Hinata yang menyadari perkataan Sasuke segera melanjutkan ucapannya cepat. "Aku ada kerjaan dan Uzumaki-san juga diundang. Kami harus melakukan promosi Saiken malam ini.''

Mendengar jawaban jujur Hinata, Sasuke yang diam segera menghela nafasnya pelan. "Oh, begitu.''

"Kenapa kau mengambil kesimpulan begitu.'' gumam Hinata membuat Sasuke tak enak hati.

"Aku sedang kerja di stasiun televisi waktu itu. Di studio 4.'' balas Sasuke tiba-tiba.

"Eh?''

"Itu lokasiku, kau tadi bertanya 'kan? Lagipula, ada apa? Kenapa kau penasaran aku dimana?''

"S-Sama! Aku juga sedang disana. Aku berada di studio 2.'' jawab Hinata berbunga-bunga. Memikirkan dirinya sedang berada di tempat yang sama saja sudah membuatnya senang.

"Ah, karena itu kau bertanya? Kau tahu aku ada Kabuki disini?''

"Tidak, aku tidak tahu. Aku kebetulan lewat studio Kabuki itu, mereka menghias panggungnya dan tampak indah sekali.''

"Begitu? Aku sedang di ruang ganti dan belum liat panggungnya. Bagaimana kau tahu itu panggung untuk Kabuki?''

"Ah, saat lewat aku bertemu dengan lelaki bernama Uchi─'

"Hinata-san! Giliran kita akan mulai! Ayo cepat!'' Naruto yang memotong ucapan Hinata segera menarik lengan Hinata cepat tak sabaran.

"Tu-tuggu, Uzumaki-san!'' Hinata yang masih menempelkan ponselnya di telinga dengan terburu-buru berbisik. "Sasuke-kun, aku akan meneleponmu lagi.''

"Ah, ganbatta na.''

Setelah mematikan panggilannya, Hinata dan Naruto segera memasuki studio dan menunggu dibalik panggung. Kakashi yang berada di sana masih sempat mengomeli Hinata dan kembali fokus untuk memberitahu script-nya. Hinata sendiri hanya bisa kesenangan karena Ia bekerja di tempat dimana Sasuke berada. Setidaknya hati Hinata sekarang siap melakukan apapun jika hanya memikirkannya.

.

.


Sasuke yang baru selesai dirias segera mengambil ponselnya dan menaruhnya di dalam tas. Ia tersenyum tipis membuat Anko yang berada di sebelahnya langsung berdiri dan menempel ke arah pundaknya jahil.

"Hee─ ada apa? Tersenyum sendiri begitu.'' Anko tersenyum jahil membuat Sasuke menatapnya tajam.

"Apa maksudmu?'' tanya Sasuke sembari merapihkan kimono yang Ia kenakan. Sasuke yang kini sudah berpakaian wanita dengan wig hitam panjang yang di hias dengan ornamen kepala itu kini terlihat menawan sekarang. Riasan wajahnya menunjukkan lekukan mata Sasuke semakin menawan. Kimono merah yang dilapisi obi hitam juga membalut tubuhnya yang kini berdiri tegap.

"Cerita Kabuki kali ini adalah kau menjadi orang yang sedang jatuh cinta. Aku penasaran bagaimana kau membawakannya.'' Anko tersenyum lebar melihat Sasuke yang masih sibuk dengan kimononya. Ini memang teater perdana kabuki yang akan dimainkan Sasuke, bercerita tentang cerita rakyat Jepang dimana Sasuke akan memainkan peran seorang gadis desa yang jatuh cinta tetapi cintanya harus kandas karena sang pujaan hatinya menikah dengan wanita lain, disitulah sang wanita menari di depan sang lelaki menunjukkan rasa cintanya yang dalam. Di Kabuki, Sasuke harus bisa menyampaikan perasaannya pada penonton lewat ekspresi baik itu wajah , gerakan, maupun tatapan matanya. Karena itulah, Anko yang biasanya menonton gladi bersih sebelum acara kini absen. Dia ingin menontonnya bersama penonton hari ini, Ia memang sengaja melakukannya karena Ia benar-benar menantikkan pertunjukkan ini. "Aku penasaran dengan wajahmu saat jatuh cinta. Ini akan jadi hal menarik. Seorang Uchiha Sasuke harus menujukkan kepada semua orang bahwa dia sedang jatuh cinta.''

"Jangan main-main. Peran seperti ini mudah.'' balas Sasuke santai. Sejujurnya Sasuke tidak memiliki beban berat meski banyak yang memberi ekspetasi tinggi pada pertunjukkannya hari ini. Mengapa? Karena Sasuke adalah sang pangeran Kabuki yang selalu berperan menjadi gadis yang dilema akan cinta dan putus harapan. Hikayat Genji contohnya. Sasuke melakonkan gadis yang patah hati karena kekasihnya mencintai orang lain. Jadi, inilah pertama kalinya Sasuke mendapat peran seperti ini. Sudah pasti, bukan hanya Anko, tapi para penggemar Sasuke dan penonton Kabuki lainnya penasaran akan hal ini. Karena itulah penampilan perdana ini ditampilkan oleh stasiun tv.

"Tinggal 20 menit lagi, ayo bersiap-siap.'' Ujar Sasuke yang sudah siap dengang seluruh pakaiannya. Ia lalu berjalan keluar dari ruang gantinya menuju studio. Dengan segera Sasuke melihat panggung Kabuki yang akan Ia mainkan dan langsung tersenyum tipis. Ia ingat betul perkataan Hinata sebelumnya di telepon. "Kau benar, panggungnya indah.''

"Hm? Kau bilang apa?'' tanya Anko mendengar Sasuke berbisik pelan.

"Bukan apa-apa.''

"Hmm─'' Anko tersenyum senang. Ia ingin sekali menjahili Sasuke lagi, tapi apa daya Anko hanya bisa diam melihat telinga Sasuke yang kini memerah.

"Sasuke-san! Para penonton akan mulai memasuki studio, anda bisa standby di belakang panggung.'' ujar sang staff yang menghampiri Sasuke cepat.

"Baik, apa semua propertinya sudah siap?'' tanya Sasuke seraya berjalan ke belakang panggung.

"Sudah. Lalu, ada banyak media dan beberapa orang penting datang. Tampaknya penampilan anda kali ini sangat dinanti.''

"Hn, begitu?'' Jawab Sasuke seadanya. Ia sesungguhnya tak begitu peduli dengan siapa yang datang. Ia hanya ingin menyalurkan dirinya pada Kabuki. Jika ditanya apa Sasuke menyukai Kabuki, jawabannya sudah pasti. Sasuke tak bisa mengungkiri Ia menyukai seni tradisi yang diturunkan dari generasi ke generasi yang satu ini.

"Kau tahu, Hyuuga Hinata ada di studio 2! Dia sedang melakukan talk show!'' ujar staff yang sedang berkumpul di pojokkan. Sasuke yang melewati mereka langsung menangkap suara tersebut dan menatapnya seraya berjalan lambat menuju belakang panggung.

"Benar, aku ingin sekali melihatnya langsung!''

"Tampaknya acaranya sudah selesai. Kulihat Uzumaki yang bersamanya sudah keluar dari studio tadi.''

"Eeh? Padahal aku mau minta tanda tangannya.''

"Kudengar aslinya juga dia sangat baik, lalu─''

Sasuke yang sudah melewati kerumunan itu hanya bisa tersenyum tipis, entah ada rasa apa di hatinya. Ia merasa senang ada yang memuji Hinata seakan mereka memuji dirinya.

"Kau sudah berjuang,'' bisik Sasuke pelan.

.

.


Hinata yang baru selesai dari acaranya segera terduduk lemas. Ia lihat Kakashi yang membelakanginya masih menahan tawa.

"Ka-kakashi-san! Berhentilah tertawa!'' ujar Hinata dengan wajahnya yang masih memerah.

"Hmph─u-uhm, maaf.. aku─'' Kakashi segera tertawa pelan mengingat kembali kejadian di acara talk show tadi. Kakashi masih ingat betul saat dimana Hinata yang melakukan aksi konyol dan bicara ngawur saat talk show berlangsung. Beruntung Naruto banyak membantunya hingga tawa pemonton masih terbagi tidak hanya untuk Hinata.

"Aku masih baru di acara seperti itu.'' balas Hinata malu mengingat saat Ia gagap berbicara di perkenalannya dan membuat penonton tertawa riang. Apalagi dengan bantuan MC komedi yang menjadi pembawa acaranya, aksi konyol Hinata semakin menjadi-jadi.

"Tenang, tenang.. responnya bagus. Hampir semuanya berkomentar tentang dirimu di acara tadi." Kakashi yang sedang melihat ponselnya masih menahan senyum dan segera duduk di atas sofa yang tersedia.

"A-aku benar-benar malu!'' seru Hinata pelan.

"Tapi acara tadi berlangsung baik karenamu, kau mau apa? Aku akan memberimu bonus malam ini.''

"Eh? Sungguh?''

"Ya, katakan saja.''

"A-anu sesungguhnya, aku Ingin-''

.

.


"Sasuke-san! Stand by! Acaranya dimulai sekarang!'' Staff yang mengkordinir jalannya acara, segera membantu Sasuke untuk berdiri di belakang panggung. Dengan hitungan detik, tirai panggung mulai terbuka.

Sasuke menatap studio didepannya dengan perlahan. Beda dengan di teater, studio ini penuh dengan kamera dan para media yang rata-rata mengisi bangku depan. Hawa nya pun terasa beda dirasakan oleh Sasuke. Saat musik mulai mengalun, Sasuke mulai memainkan perannya. Dimulai saat cerita dimana Ia bertemu dengan lelaki yang Ia temui, dan keduanya saking berkenalan. Sasuke terlihat lihai bergerak kesana-kemari meski kimononya yang berat sedikit mengganggunya. Beda dari yang biasa, Sasuke mengenakan kimono berlapis membuat tubuhnya sulit bergerak. Tapi beruntung Sasuke sudah berpengalaman, ia tak terlihat kesulitan menggerakan tubuhnya dengan kimono tersebut. Para penonton juga terkesima melihatnya.

Sepanjang adegan, semuanya berhasil Sasuke lalui dengan mulus. 1 jam lamanya dilalui oleh Sasuke dan belum ada satu penontonpun yang terlihat bosan. Sesaat sebelum adegan terakhir, Sasuke yang kini standby dibelakang panggung menghela nafasnya dalam-dalam. Ini adegan terakhir dari cerita dan disinilah Sasuke harus mengeluarkan kemampuannya berekspresi─ekspresi bahwa ia sedang jatuh cinta─.

Setelah diberi aba-aba, Sasuke lalu kembali menaiki panggung. Kipas tangan berwarna hitam yang Ia gunakan mulai menari-nari di kedua tangannya diikuti gerakan luwes Sasuke yang bergerak diatas lantai panggung. Seluruh penoton terkesima melihatnya, Sasuke bagaikan sebuah burung merak yang memancarkan warnanya saat diatas panggung. Sasuke sendiri hanya bisa fokus pada aktingnya, ia lalu melihat ke arah penonton dan dengan segera matanya langsung tertuju ke pada satu orang. Dari sekian banyaknya orang, entah apa yang membuat mata Sasuke langsung menuju ke arahnya. Padahal sebelumnya Sasuke yakin Ia tidak ada di bangku depan tersebut.

Ya, seorang lelaki yang terlihat lebih tua darinya dimana kini duduk di kursi terdepan. Melipat kedua tangan di depan dadanya dan melihat Sasuke tajam seakan bisa menembus dirinya kapan saja. Dari pandangannya, Sasuke merasa dirinya kini dinilai dengan sangat dalam oleh mata yang berwarna sama dengannya.

"Ada apa? Kenapa orang itu ada disini?!'' seru Sasuke dalam hati membuat amarahnya meledak-ledak. Hal itu mulai berpengaruh pada gerakan serta emosi Sasuke, Ia mulai menggerakan tubuhnya yang masih menari secara kasar seakan menyalurkan amarah disetiap gerakannya. Tidak seperti gerakan sebelumnya yang seakan mengeluarkan cahaya, gerakannya kali ini terlihat terbakar oleh emosinya.

"Hei, ada apa ini? Kenapa Sasuke-san seakan megeluarkan amarahnya?'' bisik salah satu penonton yang melihat raut wajah Sasuke.

"Bukankah sebentar lagi bagian dimana dia menunjukkan bahwa dia jatuh cinta? Kenapa dia terlihat marah?''

"Tidak seperti Sasuke yang biasa, emosinya benar-benar terlihat.''

"Seperti yang diduga, dia tidak akan bisa berekspresi bahwa dia jatuh cinta.''

"Gerakannya mulai tidak stabil─''

Bisikkan demi bisikkan mulai membanjiri studio tersebut, para media juga terlihat kebingungan. Sasuke sendiri masih menutup telinganya dalam-dalam, Ia masih bergerak dengan amarah yang bergejolak. Dadanya naik turun, seakan tak bisa lagi mengontrol emosinya.

"Kenapa? Kenapa dia ada disini?! Kenapa harus hari ini?'' seru Sasuke dalam hati. "Untuk apa dia kemari?!''

Sasuke yang mulai menghentikkan tarian kipasnya tak sengaja melempar salah satu kipas ditangannya, membuat para penonton langung terdiam. Hening.

"Hah..hah..'' Sasuke mulai mengontrol nafasnya dan kembali menatap penonton di hadapannya dengan keringat yang sudah bercucuran.

Wajah demi wajah yang kebingungan terlihat di mata Sasuke, lantunan lagu yang kini ikut terhenti juga membuat para penonton hanya bisa diam kebingungan. Kameramen yang awalnya menyorot Sasuke kini diam, bingung harus melakukan apa karena ini adalah tayangan langsung. Para media yang datang dengan cepat mengambil buku memo mereka dan tampak menuliskan sesuatu dengan wajah kecewa.

Sasuke yang masih terengah-engah segera menundukkan wajahnya dan menarik nafas dalam-dalam. Ia lalu mulai menatap kembali para penonton, lelaki yang berada di bangku depan itu terlihat masih menatapnya penuh makna, mata Sasuke lalu bergerak ke bagian atas bangku penonton. Baru mau menoleh kembali, matanya tiba-tiba terbuka lebar saat melihat siapa yang kini sedang berdiri dengan wajah polosnya. Wanita dengan surai indigo yang kini menatapnya cemas dengan kedua tangan yang saling menggenggam.

"Hinata..'' bisik Sasuke pelan.

Hinata yang merasa matanya kini berpautan dengan Sasuke segera tersenyum lebar. Ia senang Sasuke menyadari keberadaannya meski Hinata berada di bangku paling belakang. Ia eratkan kedua tangannya dan mengangguk pelan seakan berkata pada Sasuke lewat matanya.

"Berjuanglah''

Dengan segera Sasuke menatap pemain musik dan mengangguk kencang membuat sang pemain mengerti serta langsung memainkan kembali lagunya. Sasuke yang masih memegang satu kipas segera membuka kipasnya dan kembali memasang gerakan yang terhenti tadi. Beda dengan gerakan seelumnya, kini hentakan Sasuke melembut. Gerakannya terlihat sangat berbeda dari sebelumnya, bahkan kini raut wajah Sasuke yang tertutup kipas mulai terlihat membuat para penonton langsung terkesima.

Sembari tetap menari, wajah Sasuke kini melembut. Senyuman yang Sasuke berikan membuat siapapun pasti segera melumer dibuatnya. Beda dengan senyuman yang Ia perlihatkan sebelumnya, senyuman Sasuke sekarang terasa dari dalam lubuk hatinya. Ekspresi Sasuke seakan menahan senyumnya, seakan jika tidak ditahan rasa senangnya akan meluap. Wajah Sasuke kali ini berbicara, seakan memberitahu pada para penonton 'aku jatuh cinta'. Penonton yang awalnya kebingungan kini menahan nafas saat melihat wajah Sasuke. Siapapun yang melihat Sasuke pasti mengerti dia jatuh cinta.

"Apa ini, aku sedikit terguncang..'' ujar salah satu penonton. "Ia seakan menyalurkan betapa cintanya dia pada orang itu.''

Sasuke yang kini mulai melambatkan tariannya menutup matanya dan segera ternyum. Rona merah di telinganya tak bisa ditutupi lagi.

"Terimakasih, Hinata.'' bisik Sasuke dalam hati.

.

.


"Aku benar-benar bersyukur bisa lihat panggung perdananya! Tadi benar-benar menyenangkan!''

"Terutama saat adegan terakhir! Sasuke-san benar-benar berhasil menghayati perannya.''

Setelah Kabuki berakhir, para penonton yang keluar terlihat puas. Mereka tampak bersemnagat berbicara tentang penampilan Sasuke dan betapa mengaggumkannya ekspresi Sasuke di bagian terakhir.

Hinata sendiri hanya bisa tertawa senang dalan hatinya saat mendengar hal tersebut. Ia bersyukur bisa datang ke acara tadi berkat bantuan Kakashi.

"Ano, Kakashi-sensei. Apa kita tidak menunggu Sasuke-kun keluar?'' tanya Hinata yang kini berjalan kembali menuju ruang gantinya.

"Hah? Untuk apa?''

"E-etto, mengucapkan selamat?''

"Tidak. Sudah jam 1 pagi, kau juga harus langsung kembali. Hanya karena kau dapat libur sehari bukan berarti kau bisa membuangnya sia-sia.''

"Eh? Tapi..''

"Lagipula, dia pasti akan keluar jam 2 pagi nanti. Para media pasti juga sedang menunggunya.'' Kakashi yang sudah selesai bersiap-siap pulang menyerahkan mantelnya ke arah Hinata. "Sebentar lagi cuaca akan mulai dingin karena sudah memasuki musim gugur. Jaga kondisimu.''

"A-aku mengerti.'' Hinata mengenakan mantel cokelat selutut itu dan mengenakan ankle boots membuatnya tampil manis. Hinata benar-benar harus memperhatikan penampilannya semenjak Ia menjadi model.

"O,ya─Aku harus langsung ke kantor sekarang. Apa kau mau menginap di hotel? Kereta terakhir sudah lewat beberapa jam lalu, 'kan?''

"Eh? Tapi, apartemennya kan dekat dengan kantor?''

"Kau tidak tahu berita? Artis di apartemen yang sama denganmu sedang terlibat skandal. Jadi, apartemen itu sedang ramai oleh wartawan. Sebaiknya kau berada di hotel dulu sementara waktu.''

"Tapi, yang mereka incar bukan aku..''

"Kau tidak tahu betapa seramnya media. Mereka suka memutar balikkan fakta. Jika kau tertangkap kamera, bisa jadi mereka membuat berita yang baru dengan topik aneh lainnya. Setidaknya sampai beritanya reda, kau bisa tinggal di hotel sementara waktu.'' Jelas Kakashi membuat Hinata paham betapa menyeramkannya media.

"Baiklah, kebetulan aku juga libur besok. Aku bisa istirahat dengan tenang.'' pikir Hinata positif.

"Aku sudah menelepon pihak hotel. Hotelnya berada dekat sini, hanya 15 menit jalan kaki.''

"Eh? Jalan?''

"Tentu saja. Aku sudah harus sampai 20 menit lagi di kantor. Karena harus menemanimu menonton Kabuki aku jadi telat. Jangan manja, jalanlah sedikit. Lagipula sudah jam segini, tak ada yang mengenalimu.''

"Eh? Ba-baiklah..''

"Aku akan mengirimkan pesan tentang alamat hotelnya. Pakaianmu ada di tas itu, dan jangan lupa sarapan. Rapihkan barang-barangnya disini dan langsung pergi. Aku jalan dulu!''

Kakashi yang terburu-buru segera keluar dari ruang tunggu Hinata membuat Hinata kini hanya seorang diri. Hinata yang masih berdiri hanya bernafas lega. Yah, Kakashi melajukan ini demi kebaikannya agar Hhinata bisa istirahat dengan tenang tanpa terganggu oleh media.

"Kakashi-san benar-benar baik..'' bisik Hinata sembari memasukkan barang-barangnya ke dalam ransel. Setelah siap, Hinata mengenakan ranselnya dan keluar dari ruangannya. Ia lihat lorong studio sudah sepi. Hinata memang memakan waktu saat membereskan barangnya tadi. Tak mau menunggu lagi, dengan cepat, Hinata menaiki lift. Dilihatnya dirinya dikaca lift. Tubuhnya yang kurus itu kini hanya berdiri tegap, kulitnya putihnya terpantul dikaca membuat rona merah dipipinya sedikit terlihat.

"Sejak kapan aku sekurus ini..''gumam Hinata pelan. Ia memang menargetkan dirinya untuk runway membuat kini tubuhnya hampir tinggal tulang meski tetap proposional jika dilihat kasat mata.

Ting

Saat pintu lift terbuka, betapa kagetnya Hinata melihat gerombolan pemain Kabuki sedang berdiri di lobby tampak menunggu mobil mereka datang. Para pemain Kabuki yang tadinya mengenakan kimono di panggung itu kini mengenakan pakaian bebas. Tentunya, ada Sasuke juga yang sedang berdiri di antara mereka.

Merasa ragu, Hinata hanya diam. Bingung harus keluar dari lift tersebut atau tidak. Ia sedikit tak percaya diri melihat orang berkilauan seperti mereka kini dibandingkan dirinya yang terlihat kebingungan. Bagaimana tidak, saat pintu lift dibuka kau disambut para pemain Kabuki tampan. Tidak mungkin kau bisa bersikap seakan tak terjadi apa-apa.

"Ah! Kau Hyuuga Hinata, 'kan?'' ujar salah satu pemain Kabuki saat Hinata memberanikan dirinya keluar dari lift.

"Ah, kau benar! Waa, kau benar-benar manis.''

Pemain kabuki satu demi satu mulai mendekat ke arah Hinata yang langsung memundurkan langkah kakinya. Ia benar-benar tidak bisa berhadapan dengan para artis selain yang pernah bekerja dengannya.

"A-ano..''

"Apa kau sedang ada syuting?'' tanya lelaki berambut pendek disana.

"Ah, itu─''

"Aku lihat majalahmu! Aslinya kau lebih manis dari di foto!''

"Terima ka─''

"Kenapa kau sendirian?''

Pertanyaan demi pertanyaan dilayangkan membuat Hinata mati kutu. Ia benar-benar tidak tahu harus bagaimana. Apalagi Sasuke yang berdiri di sana hanya diam sembari memperhatikannya, tidak mungkin juga Hinata merengek minta tolong pada Sasuke yang akan membuat kebingungan para pemain Kabuki nantinya.

"Ah! Hyuuga-san? Kau baru pulang?'' Sasuke yang awalnya diam mulai mendekati Hinata saat melihat semakin banyak pemain Kabuki yang mendekati gadis bermata indigo satu ini membuat para pemain lainnya bergeser.

"E-eh?'' Hinata menatap Sasuke bingung.

"Kau mengenalnya, Sasuke?'' tanya salah satu pemain di sebelah Sasuke.

"Tentu saja, dia salah satu pemain Saiken. Tapi kami hanya bertemu sekali karena beda scene. Iya kan, Hyuuga-san?''

"Be-benar..'' jawab Hinata seadanya. Hinata bahkan hampir lupa bahwa Sasuke juga pemeran di Saiken karena keduanya benar-benar hampir tak ada scene bersama.

"Ah, begitu..''

"Tampaknya filmnya akan seru. Aku pasti menontonnya.''

"Te-terimakasih..'' balas Hinata ragu-ragu. Entah apa yang berbeda tapi saat Sasuke datang, atmosfernya menjadi lebih bersahabat sekarang.

"Hinata-san, beda dari di foto tidakkah kau terlalu kurus?'' ujar salah satu pemain yang dengan spontan memegang pergelangan tangan Hinata. "Woo, benar-benar kecil!''

"Eh? Mana-mana?''

Belum sempat yang lain melihatnya, tangan lelaki yang berada di tangan Hinata segera ditepis kencang oleh Sasuke yang segera tersenyum tanpa berdosa.

"Kalian tidak diajarkan untuk tidak memegang wanita tanpa ijin?'' tanya Sasuke kalem meski garis siku empat di kepalany tampak terlihat.

"Ah! Benar. Maaf, Hinata-san.''

"─Te-tenang saja.."

"Hyuuga-san juga, tidakkah kau akan pulang?" tanya Sasuke menatap Hinata dengan tatapan 'cepat pergi' tersebut.

"Benar juga! Terimakasih dan salam kenal semuanya. Aku akan pamit terlebih dahulu." Hinata membungkukkan tubuhnya dalam. Ia benar-benar ingin cepat keluar dari situasi ini.

"Apa kau bersama manajermu, Hyuuga-san?" tanya Sasuke datar.

"Ah, tidak.. A-aku pulang sendiri─" jawab Hinata tetap sopan. Sasuke sendiri hanya bisa diam mendengar jawaban Hinata. Ia benar-benar ingin mengomel pada Kakashi yang membiarkan Hinata pulang di jam 2 pagi begini sendirian. "Baiklah, aku permisi dulu!"

Hinata dengan segera berlari kecil menuju pintu keluar meninggalkan Sasuke dan para pemain Kabuki lainnya. Mereka tampak senang dapat bertemu dengan Hinata kecuali untuk Sasuke. Kepalanya penuh dengan emosi akan Kakashi yang membiarkan Hinata sendirian, lagi.

"Hei, Sasuke. Mobilnya sudah datang, ayo cepat masuk!" seru salah satu pemain Kabuki yang berada di depan Sasuke yang kini memainkan ponselnya.

"Ah, Anko. Sebentar.." Sasuke mengangkat ponsel ke telinganya dan bersuara kencang. "Ah, Anko? Ada apa? Oh, aku masih disini. Baiklah, sampai jumpa."

"Ada apa, Sasuke?" tanya pemain Kabuki barusan mendengar suara Sasuke yang menerima telepon kencang.

"Anko akan menjemputku. Tampaknya urusannya sudah selesai, kalian bisa pulang duluan."

"Oh, kalau begitu hati-hatilah!" para pemain Kabuki tersebut segera memasuki mobil van putih mereka dan meninggalkan Sasuke yang tinggal seorang diri. Sasuke yang melongok ke arah luar, segera menghela nafasnya panjang saat melihat mobil tersebut sudah pergi. Dengan cekatan Sasuke kembali membuka ponselnya dan menelepon seseorang.

PIP

"Halo?"

"Anko-san, aku hari ini pulang sendiri. Jika para pemain bertanya, katakan kau menjemputku." ujar Sasuke cepat tanpa jeda membuat Anko langsung emosi.

"Lagi-lagi kau pergi sendiri?! Bagaimana kalau aku dimarahi oleh ketua?"

"Tenang saja, besok kan hari liburku. Biarkan aku tenang hari ini. Jaa─"

"Tunggu, Sasu─"

PIP

Tanpa menunggu lanjutan kalimat dari Anko, Sasuke buru-buru mematikan ponselnya. Ya, bukan hanya mematikan panggilannya. Sasukelangsung mematikan ponselnya dan memasukkannya ke kantung celana denim yang Ia kenakan sekarang.

"Sekarang, saatnya mengejar gadis bodoh itu─"

.

.

.


Hinata yang sedang berjalan di pinggir jalanan segera meringkukkan badannya. Ia benar-benar butuh mantel lebih. Bukan karena cuacanya dingin, tapi Hinata ketakutan akan suasana yang mencekamnya. Ingin rasanya Ia menutupi seluruh tubuhnya agar tak bisa melihat apapun di sekitarnya.

"Hotelnya tampaknya masih jauh─" hela Hinata pasrah. Ia baru berjalan 5 menit tapi adrenalinnya seakan diuji selama 1 jam. Suara burung hantu bisa terdengar dari kejauhan, Hinata benar-benar parno akan hal ini. Baru mau mengeluarkan ponselnya, tiba-tiba Hinata mendengar suara langkah kaki dibelakangnya dengan cepat mendekat ke arahnya. Hinata yakin, itu adalah suara orang berjalan, atau lebih tepatnya berlari. "Tenang Hinata, dia berlari jadi dia masih menapakkan kakinya, jadi dia adalah manusia."

Hinata memejamkan matanya erat-erat. Kata-kata positif Ia tuturkan dalam hati agar ketakutannya hilan meski hasilnya nol. Rasa takutnya semakin bertambah hingga tiba-tiba pundaknya dicengkram erat oleh sebuah tangan.

"Waa─!" teriakan Hinata tertahan oleh sebuah tangan yang menutup mulutnya. Dilihatnya seorang lelaki bermata onyx sedang menatapnya tajam, membuat dirinya langsung mengangguk paham dengan maksud lelaki tersebut. "S-Sasuke-kun?"

"Kau ini, kalau kau teriak bisa-bisa aku disangka penguntit." Sasuke menghela nafasnya panjang. Ya, dengan topi hitam dan masker yang terpasang di wajahnya, para warga juga akan menyangka Sasuke adalah penguntit jika Hinata berteriak ke arahnya.

"S-Sasuke-kun, kenapa kau disini?" tanya Hinata bingung. Rasa takutnya tiba-tiba hilang melihat sosok Sasuke kini berjalan di sampingnya.

"Kau masih bertanya?" Sasuke menundukkan kepalanya lemas. "Kau ini, kau bisa bilang padaku sebelum kau pulang kalau Kakashi tak menemanimu."

"T-tapi, Sasuke-kun sedang sibuk setelah Kabuki tadi."

"Tidak juga, aku langsung tidur sebentar di studio dan bersiap pulang setelahnya." balas Sasuke santai.

"Eh? Kau tidak bertemu media?"

"Tidak, aku malas meladeninya." Sasuke tampak teringat sesuatu dan menatap Hinata dengan senyuman tipis. "Tadi, arigatou. Kau benar-benar membantuku."

"He? Tidak, tidak. Aku sendiri baru datang, jadi aku pasti benar-benar menganggu."

"Tidak, kalau kau tidak ada pasti penampilanku tadi kacau." tukas Sasuke membuat Hinata segera mengembangkan senyumnya. Ia lihat semburat merah di pipi Hinata mulai muncul, jika saja mereka tak ada di luar sudah pasti Sasuke akan menarik gadis di depannya ini ke pelukannya.

"Tapi─ Kenapa Sasuke-kun terlihat gusar saat tampil?" tanya Hinata membuat raut wajah Sasuke langsung masam mendengarnya.

"...Karena orang itu datang,"

"Eh? Siapa?" Hinata menautkan kedua alisnya bingung. Tiba-tiba Ia ingat akan kejadian dimana Ia bertemu dengan Fugaku di studio sebelum Ia tampil. "Ah! Ja-jangan-jangan Ayahmu? Fu-fugaku-san?"

"Hah?" tiba-tiba Sasuke menolehkan wajahnya ke arah Hinata kaget. "Siapa kau bilang?"

"Fu-Fugaku..Uchiha Fugaku. Kata Kakashi-san dia Ayahmu." balas Hinata ragu-ragu melihat mata Sasuke yang tampak terkejut.

"Dia datang?" Sasuke segera menundukkan kepalanya dan tersenyum tipis. "Jadi begitu─ Jadi dia datang.."

"S-Sasuke-kun? Jadi dia yang kulihat?" tanya Hinata lagi sembari mengintip ke arah Sasuke.

"Tidak, bukan dia." Sasuke mengangkat kepalanya dan menatap Hinata tajam. "Yang kulihat tadi Kakakku, Itachi. Dia yang mengacaukan konsentrasiku."

"K-kenapa?"

"...Karena aku membenci orang itu." gumam Sasuke seakan berbisik. Hinata yang mendengarnya hanya bisa terdiam. Entah mengapa, baru kali ini Hinata melihatnya. Melihat mata onyx Sasuke yang biasanya seakan menenggelamkannya akan pesonanya, sekarang mencengkramnya erat. Emosi yang Sasuke pancarkan lewat matany bisa Hinata rasakan hingga pedih rasanya.

Baru kali ini. Sasuke menatap Hinata dengan mata yang penuh kebencian seakan Sasuke ingin menjerumuskan Hinata pula dalam kegelapan itu.

.

.

.


TBC

Akhirnya aku update juga ya haha

Ngomong-ngomong, selamat hari raya bagi yang merayakan!

Mohon maaf jika author ada salah-salah kata :D /sujud/

Karena ini tanggal 23 Juli! Jadi, Selamat ulang tahun bby ku Sasuke hehe

Lalu, untuk kesekian kalinya terimakasih banyak buat para readers dan kalian semua yang sempetin review

huhuhuhu review kalian kubaca dengan penuh hati-hati, makasih yang sudah semangatin author untuk update ;;;

Lalu, untuk rating aku belum tahu bakal di M atau tetap T karena dari awal sudah T takutnya kalau diubah ke M ada reader yang ga setuju hehe

Jadi nanti kalau masih ada yang mau M aku buat fic lagi yang baru yang dari awal sudah di M /oi

Banyak yang minta Gaara dimunculin kyaa XD Dia akan lebih banyak muncul di chapter depan hehe jadi tungguin aja ya :D

Maaf kalau chapter ini pendek, kedepannya kubuat lebih panjang lagi T^T)/

Last, thank you for read! Kutunggu review kalian ya ^^

-AgehaShiroi-