SOMEDAY
.
Super Junior Fanfiction
.
.
WARNING!
See the previous story to recall your memory related to this fan fiction.
This chapter consists of swearing words without sensor;
Please don't undertaken all things in raw!
.
Fan fiction is only fan fiction
NO FLAME NO BASH NO PLAGIARISM
if you don't like what I wrote, just find out where the close button is
.
.
.
.
.
'ah, jadi kau ada di rumah sakit sekarang?' tanya suara di seberang.
Heechul memutar bola matanya malas. Dalam hati ia mengumpat pada orang di line seberang. "ye, Appa. Aku ada di rumah sakit, sekarang. Sendirian menjaga Kyuhyun. Mommy Yoona dan Umma aku suruh istirahat saja dirumah."
'baiklah kalau begitu. Jaga Kyuhyunnie baik-baik. Usai meeting di Busan ini selesai, Appa akan menyusul kesana.'
"eung... hati-hati disana Appa. Tak usah terburu-buru."
pip
Sambungan telepon dimatikan. Heechul menatap bengis layar ponselnya. Meruntuk banyak-banyak dalam hati. Telepon tak penting dari sang Appa baru saja mengganggu niatannya.
"mengganggu saja." Heechul terdengar menggeram tertahan. Dilemparnya ponsel pintar itu ke dalam saku bajunya. Langkahnya gontai menuju kamar rawat Kyuhyun. Sepertinya, telepon itu sukses melenyapkan moodnya bermain-main dengan Kyuhyun. Ah... beruntung sekali kau Park Kyu!
Heechul berniat membuka pintu kamar rawat Kyuhyun. Namun langkahnya sejenak terhenti saat ia melihat pemandangan lucu dari kaca kecil yang terletak di pintu kamar rawat. Ia melihat seseorang yang menggunakan hoodie berwarna hitam tengah bermain-main dengan kantung infus Kyuhyun. Menarik –pikir Heechul. Ia jadi ingin tau, apa lagi yang akan orang ber-hoodie itu lakukan pada adik kecilnya itu.
Putra tertua di keluarga Park itu mengamati dengan seksama. Bagaimana tubuh adik bungsunya menggelinjang di atas ranjang rawatnya di ruangan itu. Tampak kesakitan –dan itu membuat Heechul tertawa. Oh, pemuda itu sudah kehilangan hatinya ternyata.
Heechul menimbang dalam hati. Haruskah ia bekerja sama dengan si hoodie hitam itu untuk melenyapkan Kyuhyun? Ataukah ia harus mengadukan hal ini pada dokter Choi dan ayahnya?
Jika Heechul bekerja sama, maka Heechul akan kena akibatnya. Ia bertanggung jawab atas Kyuhyun hari ini –karena hanya Heechul yang menjaga Kyuhyun saat ini. Terlebih, ayahnya juga tau tentang hal ini. Jadi jika terjadi sesuatu terhadap Kyuhyun sekarang, ia pasti habis dibunuh ayahnya nanti karena dinilai tak becus menjaga adik kecilnya. Sial-sial, bisa lenyap kepercayaan sang ayah terhadapnya nanti. Oleh karenanya Heechul meneguhkan hati untuk menangkap basah penjahat itu. Siapa tau dengan begitu sang Appa akan menyayanginya juga seperti menyayangi Kyuhyun.
Heechul membuka pintu dengan keras. Namun ia terkejut bukan main siapa orang yang menggunakan hoodie hitam tersebut. "Kau..."
Heechul tercekat saat menyadari bahwa orang yang baru saja berbuat jahat itu adalah orang yang sangat dikenalnya. Sangat dekat dengannya. "Park Kibum –apa yang kau lakukan?" tanyanya sambil menunjuk tangan Kibum yang erat menggenggam alat injeksi.
"Kau meracuni Kyuhyun?" tuduh Heechul pura-pura tak tahu sambil mengarahkan pandangannya ke arah adik kecilnya masih menggelinjang di atas ranjang. "Kau gila? Apa yang kau lakukan pada Kyuhyun, eoh?"
Heechul kaget, sebenarnya. Namun tak urung hatinya juga tertawa. Ia menemukan sasaran empuk!
"Heechul hyung... A-aku..."
.
.
.
Donghae benar-benar dibuat kewalahan dengan bocah tinggi yang merupakan siswa baru –juga anggota baru di klub sepak bola. Bocah itu terus menempeli Donghae seperti lintah penghisap darah. Ia tak mau lepas, sekalipun Donghae sudah mendorong bocah itu jauh-jauh. Tapi bocah tiang itu sungguh memaksa agar Donghae mau memberikan alamat Kyuhyun padanya.
"ayolah, sunbae-nim. Apa kau tidak kasihan padaku karena telah mengikutimu selama tiga jam ini?" rengek Changmin.
"aku tak pernah menyuruhmu mengikutiku!" ketus Donghae sambil menata berkas-berkas pendaftaran anggota baru di klub sepak bola.
Changmin berusaha membantu Donghae, sambil terus menempeli sunbaenya itu kemanapun ia melangkah. "tapi aku sungguh butuh informasi tentang Kyuhyun, sunbae… ayolah! Kenapa sunbae keras kepala sekali, sih?"
Donghae menghentikan kegiatannya dan mendelik ke arah Changmin, "Heh, bocah tiang tak tau diri! Dengar ya! Pertama, adakah orang yang membutuhkan bantuan tapi dengan kurang ajarnya mengatai sumber informasimu?"
Changmin menggaruk tengkuknya dengan salah tingkah, ia memang melakukan kesalahan karena mengatai Donghae keras kepala. Tapi Changmin merasa bahwa itu bukan salahnya! Sunbae di hadapannya ini memang benar-benar menguji kesabarannya.
"kedua, kelakuanmu seperti penguntit! Dan itu mengerikan! Aku tak mungkin memberi tau dimana keberadaan adikku, pada orang sepertimu. Siapa yang berani menjamin bahwa kau bukan pembunuh berdarah dingin?"
"sunbae tidakkah kekhawatiranmu itu keterlaluan? Aku sungguh temannya Kyuhyun. Aku bukan pembunuh berdarah dingin seperti yang kau pikirkan." Changmin mencoba untuk menjelaskan. "dan apa itu tadi? Kyuhyun adalah adikmu? Yak, sunbae, kau bersungguh-sungguh?" Changmin memandang Donghae dengan penuh antusias. Bola mata hitamnya bahkan seolah bisa menelan Donghae bulat-bulat.
"YAK! Hentikan!" protes Donghae frustasi. Pemuda tampan yang merupakan icon dari klub sepak bola itu mengacak rambutnya kasar. Ia merasa terintimidasi karena direcoki Changmin seharian ini. Terlebih, tak ada satupun rekan klubnya yang mampu membebaskan Donghae dari Changmin. Dan lagi, dimana Kibum? Seharian ini ia tak melihat Kibum dimanapun. Padahal ia harus menyerahkan berkas keanggotaan klub sepak bola, agar semua siswanya bisa terdata di dokumen milik OSIS.
Donghae mencoba mendial nomor ponsel Kibum, namun lagi-lagi panggilan itu teralih ke mailbox. Membuat Donghae geram saja!
"sunbae, apakah sunbae benar-benar kakaknya Kyuhyun?"
Donghae menghela nafas panjang sebelum menghembuskannya keras-keras. Ia sengaja melakukannya agar Changmin tau, betapa ia frustasi menghadapi bocah tiang itu. "ya. Lalu?" tanya Donghae, namun tangannya masih sibuk mendial nomor ponsel Kibum.
"kau bilang Kyuhyun ada urusan keluarga. Kenapa hanya Kyuhyun tak masuk sekolah, tapi kau masuk? Bukankah kalian keluarga? Kenapa hanya Kyuhyun yang dilibatkan hingga ia tak masuk sekolah?"
"apa kau bagian dari keluargaku?" tanya Donghae sambil menempelkan ponselnya di telinga –kembali mencoba untuk menghubungi Kibum. Namun hasilnya tetap sama, hanya noona operator yang menjawab panggilannya.
Dari sudut matanya, ia bisa melihat Changmin menggeleng lemah sebagai jawaban atas pertanyaannya. "jadi, kenapa kau begitu ingin tau?" Donghae terdengar ketus.
"kau tau kan, sikap terlalu ingin tau urusan orang lain itu adalah bentuk ketidaksopanan?" tanya Donghae dengan nada sama, "jadi pergilah! Berhenti menempeliku seperti-"
Belum usai kalimatnya, ponsel Donghae berdering nyaring. Donghae pikir, itu panggilan dari Kibum. Pasalnya, sudah nyaris ratusan kali Donghae memanggil nomor Kibum –dan tak ada jawaban. Maka, tanpa memastikan siapa pemanggilnya, Donghae langsung saja menggeser icon bergambar hijau dan berbicara seenaknya.
"Park Kibum? Kau dimana, eoh? Ini ber- eh… Umma?" Donghae meringis kecil saat menyadari suara ibunya yang terdengar di line seberang. Ia kembali menatap display ponselnya untuk memastikan bahwa memang nomor sang ibu lah yang tertera di layar.
Tubuhnya menegang mendengar penjelasan sang ibu. "aku akan segera kesana, Umma." Kata Donghae tanpa mematikan sambungan telepon. Tangannya terasa lemas tak bertenaga.
"sunbae. Kau…"
"antarkan aku ke Samsung Hospital." Lirih Donghae. Pemuda itu nyaris menangis.
.
.
.
.
"kau melakukan ini? KAU MELAKUKAN INI PADA ADIKMU SENDIRI?"
Ruangan di depan emergency room itu penuh isak tangis. Kang Sora memeluk putranya erat-erat. Pipi perempuan pesolek itu sudah banjir air mata. Tangannya terlihat gemetar, tapi tetap kukuh melindungi putra satu-satunya itu. Sedangkan Kibum nyaris mati usai ditampar habis-habisan dari sang ayah. Ah, bukan hanya ditampar. Park Kibum juga ditendang dan dipukuli oleh sang ayah. Sudut bibir putra ketiga di keluarga Park itu terdapat bercak darah. Bekas lima jari itu memerah di pipi Kibum. Itu baru luka yang terlihat. Jangan abaikan beberapa memar di balik hoodie yang ia kenakan.
"BERAPA KALI KAU MELAKUKAN INI? BERAPA KALI KAU MENCOBA UNTUK MEMBUNUH ADIKMU SENDIRI?"
"PARK JUNGSOO, CUKUP!" Kang Sora balas berteriak. Hatinya terluka saat mendengar putranya dimaki-maki suaminya sendiri. Bagaimanapun, Kang Sora adalah ibu dari seorang Park Kibum. Ia takkan rela anaknya dilukai orang lain, termasuk suaminya sendiri.
Suara dengan nada-nada tak bersahabat itu terdengar menggema di sepanjang lorong. Saling berteriak tanpa etika. Memaki. Menyumpah serapah dengan seluruh tenaga. Menyeret perhatian dari beberapa orang yang berlalu lalang. Park Jungsoo nampak menjadi orang yang paling kalap diantara semuanya. Pria baya itu langsung tancap gas dari Busan menuju Seoul saat Heechul mengabarkan bahwa Kyuhyun kembali kritis. Ia mengabaikan kontrak jutaan dollar untuk ditangani asistennya saja. Dan ia semakin marah saat Kibum disebut-sebut sebagai pelaku yang menyebabkan Kyuhyun nyaris mati. Yoona yang sudah lemas sejak diberi kabar bahwa putranya kembali kritis –usai diracuni saudaranya sendiri, akhirnya jatuh pingsan. Tak sanggup mendengarkan kenyataan lebih banyak lagi. Sedangkan Taeyeon memilih untuk menemani Yoona yang sedang drop.
"INI BUKAN YANG PERTAMA KAN, KIBUM-AH? BICARA DAN JAWAB AKU!"
Heechul sendiri duduk agak jauh dari kerumunan. Ia sudah ditampar ayahnya sekali, tadi. Karena tak becus menjaga Kyuhyun hingga akhirnya bocah itu kembali harus berjuang dibalik ruang emergency. Oleh karenanya, ia sengaja menyingkirkan diri karena takut kena amuk sang ayah lagi. Putra tertua keluarga Park itu memilih untuk mengamati Kibum yang babak belur dari jauh. Ia merasa bersalah karena mengadukan Kibum –tapi juga merasa beruntung. Sepertinya ayahnya sudah tahu bahwa ada orang yang berniat membunuh putra kesayangannya itu. Dan Kibum sedang sial karena ketahuan. Ingatkan Heechul untuk meminta maaf dan berterimakasih pada Kibum nanti –jika bocah itu tidak keburu mati di tangan sang ayah, tentu saja. Meminta maaf karena mengadukan adiknya itu pada sang ayah, dan berterimakasih –karena telah menggantikan tempatnya sebagai pembunuh Kyuhyun.
"BICARA, ANAK SIAL!" Jungsoo mengumpat keras. Nyaris menendang rusuk Kibum kalau saja Sora tak langsung memeluk putranya itu.
"JUNGSOO HENTIKAN!" Sora balas berteriak dengan suara yang tak kalah tinggi. "KAU BISA MEMBUNUH ANAKKU!"
"LALU APA YANG IBLIS ITU LAKUKAN PADA KYUHYUNKU, HAH?" Jungsoo menunjuk-nunjuk Kibum. Yang tanpa ia sadari, itu sungguh membuat Kibum semakin sakit hati. "DIA JUGA MENCOBA MEMBUNUH ANAKKU!"
Jungsoo menyalurkan emosinya dengan menendang kursi berbahan metal yang ada di depan emergency room itu. Kakinya terasa sakit –tapi itu tak seberapa dengan hatinya yang hancur berkeping. Pria paruh baya itu tak punya banyak waktu untuk meringis dan memikirkan rasa sakit di kakinya akibat menendang kursi berbahan metal itu barusan.
Jungsoo mengusap wajahnya kasar. Bersandar di dinding sebelum akhirnya merosot jatuh. "Apa salahku padamu, Kibumie?" pria tua itu berujar dengan nada perih. "kenapa kau lakukan ini pada Appa, huh?"
"Kyuhyun adalah adikmu… kenapa kau begini?"
"apa salahku, Kibumie?" Jungsoo terus menerus menepuk dadanya. Berusaha menghilangkan sesak –meski semua tepukan itu tak membantu sedikitpun.
"aku yang menimangmu saat kau bayi. Aku yang menjagamu saat kau sakit. Aku yang membiayai seluruh kebutuhanmu selama ini… aku… aku…" Jungsoo mulai mengihitung seluruh kebaikan yang telah ia lakukan untuk putra Kang Sora itu. Ia mencoba mengingat, berpikir bahwa barangkali ada yang tak ia lakukan untuk Kibum, hingga Kibum nekad mencoba membunuh adiknya sendiri. Tapi tidak. Jungsoo tidak menemukan satupun kesalahannya dalam mendidik Kibum. Ia mencintai semua putranya sama rata. Seluruh cinta yang ia miliki ia bagi sama rata untuk keempat putra dan ketiga istrinya. Jadi apa yang salah? Apa yang membuat Kibum salah jalan seperti ini?
"aku bahkan memberikan marga Park untukmu, Kibumie…" tambah Jungsoo dalam lirih.
Kibum menyeret langkahnya. Ia mencoba merengkuh kaki sang ayah yang sedang menangis pilu dengan tubuh bersandar seutuhnya pada dinding.
"ampuni Bummie, Appa." Bocah itu memohon dengan nada yang tak kalah pilu dari tangis sang ayah. Ia menyesal. Sungguh sangat menyesal karena membuat ayahnya kecewa. Mulutnya masih sedikit mengeluarkan liquid kental berwarna merah pekat. "ampuni Bummie…"
"Bummie hanya ingin memiliki Appa untuk Bummie sendiri." Pengakuan Kibum dihadiahi tatapan kosong dari Jungsoo. Pria baya yang selalu di panggil Appa oleh keempat putra keluarga Park itu nampak memandang Kibum dengan tatapan yang sulit diartikan.
"apa yang akan Heechul hyung, Hae hyung, dan Kyuhyun lakukan jika mereka tau Bummie bukan putra Appa?"
Kini tatapan Jungsoo membulat. Begitu juga Kang Sora dan Heechul.
Dalam duduknya, Heechul nampak menaikkan alis mendengar pernyataan Kibum. Bukan putra Appa?
"bagaimana jika mereka tak ingin berbagi bersama Bummie?" Kibum terdengar mencicit, seperti bocah yang baru saja direbut mainannya. "Bummie ingin Appa hanya untuk Bummie saja… Appa tak butuh Heechul hyung dan Hae hyung yang bodoh. Appa juga tak membutuhkan Kyuhyunie yang penyakitan. Bummie bisa jadi anak yang sempurna untuk Appa… Appa hanya cukup memiliki Bummie saja. Bummie akan selalu menyayangi Appa."
"brengsek! Apa maksudmu, huh?" Heechul menggunakan nada dingin sesaat setelah mendengar pengakuan Kibum. Putra tertua di keluarga Park itu nampak geram dengan pengakuan putra Kang Sora itu. "setelah Kyuhyun, kau akan mencoba membunuh kami semua? Kau berniat menyingkirkanku dan juga Donghae? Bajingan sialan! Saudara macam apa kau hingga berniat membunuh saudaramu sendiri? "
Kibum tak menjawab. Ia hanya fokus menatap bola mata ayahnya yang kini berkaca.
Sora juga hanya diam tak bersuara. Banyak tanya yang bersarang dalam kepalanya. Banyak! Banyak sekali, sampai-sampai ia bingung, tanya yang mana yang harus ia ungkapkan terlebih dahulu.
Heechul merangsek maju saat tak mendapati respon dari siapapun. Pemuda yang tempramennya sungguh mudah mendidih itu nyaris menambah luka-luka Kibum, kalau saja sang ayah tak mengangkat tangan kanannya sebagai kode agar Heechul berhenti melangkah.
"apa maksudmu, Kibummie?" Jungsoo bertanya. Nada suaranya lebih lembut dari yang sebelumnya.
"aku mendengarnya…" aku Kibum saat sang ayah meminta penjelasan dari maksud kalimat sebelumnya melalui tatapan matanya. "hari itu… di ruang kerja Appa… saat Umma dan Appa tengah berbicara soal membuatku pergi ke luar negeri…"
Jungsoo ingat hari itu. Hari dimana Sora bercerita bahwa Kangin –ayah biologis Kibum- kembali.
"kau…?"
"bolehkah Bummie jadi putra Appa, saja? Bummie tak ingin jadi anak orang lain." Suara Kibum terdengar mengecil. "bisakah Appa hanya untuk Bummie saja? Jangan jadi Appa Heechul hyung, Hae hyung ataupun Kyuhyunnie. Appa jadi Appa Kibum saja…"
"YAK! Bangsat! Apa maksudmu?" Heechul berteriak dan kembali maju untuk –setidaknya- menjambak Kibum dan membenturkan kepala jenius itu ke tembok. Sial, lagi-lagi sang ayah menghalangi niatannya.
"obati lukamu." Park Jungsoo berujar dengan nada dingin. Dan itu sungguh membuat Kibum kecewa. Hanya itu respon dari ayahnya?
"Appa…."
"pergilah, dan obati lukamu. Kita akan bicara, nanti." Putus sang kepala keluarga Park.
Kibum dan Sora melangkah untuk mencari dokter jaga. Putra ketiga di keluarga Park itu butuh di obati, kan? Namun Heechul yang masih mematung di tempatnya memandang tak suka pada pasangan ibu dan anak itu.
Berbicara lagi nanti? Yang benar saja! Kenapa Appa tak langsung saja balas membunuh Kibum? Atau menendangnya jauh-jauh ke Alaska. Si brengsek itu tak bisa dibiarkan untuk menginjakkan kaki di mansion Park, lagi! Tidak –setelah kita semua tau bahwa dia bahkan bukan bagian dari keluarga Park! –batin Heechul bengis.
Heechul menatap sang ayah dan berniat melayangkan sederet protes. "Appa?" baru saja ia memanggil sang ayah, ayahnya sudah memotong segala hasratnya untuk menyatakan gugatan.
"diamlah, Park Heechul. Biarkan ini jadi urusan Appa. Kau –jangan ikut campur." Kepala keluarga Park itu bangkit berdiri. Ia berniat kabur sejenak dari depan emergency room itu. Namun saat melihat Donghae berdiri dengan jarak hanya sepuluh sampai lima belas meter darinya –dengan bocah tinggi yang berdiri di belakangnya, langkah Jungsoo jadi kaku. Putra keduanya yang biasa nampak kekanakkan itu kini memasang wajah berkaca.
.
.
TBC
