Haloo! Finally we are here! the final chapter...! yeyy! Singkat kata, yuks capcus!
Rika Miyake proudly present
Writer story
Vocaloid belongs to crypton
Story by me
Don't like don't read, simple as that..
Enjoy
.
.
.
8. Mengapa kau melakukan itu, Kaito?!
Normal POV:
Seorang gadis yang tengah tertidur di sekolah dengan baju kusut, berkantung mata besar, dan rambutnya yang sangat kusut. Jelas, ia kelelahan sekali. Bando berpita yang sering ia gunakan, ia taruh di samping mejanya. Sesekali, terdengar dengkuran halus. Gadis itu bernama Rin Kagamine, dan kebetulan ia datang hari itu pagi sekali. Ia datang ke sekolah jam 6 pagi yang padahal kelas hari itu khusus masuk jam 10.
09:15 AM
"Rin?" tanya seseorang seraya mengguncangkan bahu Rin.
"Ng?" tanya Rin,ia menatap wajah orang tersebut dengan sayu.
"Kau sudah datang kesini, dari kapan?" tanya orang tersebut, yang ternyata Miku dan tertawa kecil.
"Uh, sekitar jam 6," kata Rin seraya mengucek matanya.
"Eh? Pagi banget, kenapa?" tanya Miku penasaran.
"Aku nggak tahu kalau hari ini masuk jam 10."
"Lho, aku sudah beri tahu kamu lho, di chat di group chat kelas juga ramai di bicarakan kalau hari ini masuk jam 10."
"Aku tidak mengecheck hp, sibuk."
"Cih, dasar sok sibuk," Miku tertawa seraya mencubit pipi Rin.
"Beneran deh, aku super sibuk.."
"Hahaha, ceritakan dong kenapa.."
Rin pun menceritakan alasan mengapa ia tidak mengecheck hp sebelumnya plus sibuknya kenapa, mari kita flashback soal Rin datang pagi.
Flashback ON
Rin tergesa-gesa datang ke sekolah dengan kereta pagi langganannya.
"Eh, Rin? Kamu terlihat lelah sekali," komentar kondektur kereta, saat Rin menyerahkan kartu langganannya.
"Eh, begitulah, pak.." kata Rin cengegesan.
Hari itu, Senin pagi. Rin terburu-buru dari rumah Kaito—yang baju seragam dan keperluan sekolahnya sudah di bawakan Ring subuh-subuh sebelum Kaito bangun—yang jaraknya lebih jauh dari rumahnya ke sekolahnya. Jadi, dia harus turun ke stasiun dekat rumahnya, lalu naik kereta menuju ke sekolah.
"Untungnya kamu datang tepat ya, biasanya kau datang 4 menit sebelum berangkat dan tadi hampir saja kereta berangkat karena kau datang 1 menit sebelum berangkat," kata kondektur kereta. Rin tersenyum, ia sedang nggak mood bercerita panjang lebar ke kondektur kereta yang sudah seperti pamannya sendiri itu.
Rin pun melihat ke pemandangan sekitar kereta, sepanjang yang ia lewati, ia menjumpai danau yang sangat indah. Rin tersenyum melihatnya.
Namun..
"Mohon maaf, kereta hari ini mengalami keterlambatan karena kami harus mengganti jalur yang biasanya kami lewati, karena ada perbaikan rel kereta," jelas kondektur kereta, satu persatu ke penumpang dan diberikan slip kertas yang berisi keterlambatan kereta. Ini memang biasa di Jepang jika kereta terlambat, namun situasi ini agak Rare.
Mampus lah Rin yang sekarang jam menunjukkan 6:30...
"Rin, kamu ada upacara bukan? Nanti serahkan ini saja, ya. Mohon maaf sekali," ujar kondektur kereta seraya memberikan Rin slip berisi tentang keterlambatan kereta.
"Iya, tidak apa-apa, pak," Rin terpaksa menyunggingkan senyum, padahal ia tahu bahwa nanti upacara akan di pimpin oleh guru BK yang terkenal galak sekali, dan nggak mau ada alasan terlambat, walaupun itu kereta terlambat.
"Yasudahlah, aku pasrah saja," kata Rin di dalam hatinya.
Rin berlari-lari ke kelas, lho..tadi sama sekali nggak ada upacara! Apa hari ini langsung belajar di kelas tanpa upacara ya?!
Setelah sampai, Rin menggeser pintu dengan kencang,yang hampir saja membuat pintu patah.
Kosong.
"What the?!" seru Rin heran.
"Apa jangan-jangan di Laboratorium Ipa?" tanya Rin, ia berlari kembali ke laboratorium ipa yang biasa di gunakan saat pelajaran ipa. Pagi itu, kebetulan jam pertama Rin adalah Ipa.
Kosong.
"EH?! Kemana sih semuanya?!" seru Rin bingung. Ia pun baru sadar, sekolah terlalu sepi buat jam sekolah!
Tep. Pundak Rin ditepuk dari belakang.
"Kyaaa!" seru Rin panik. Dikira hantu yang nepok dia.
"Hei, tenang, nak. Kamu kenapa sudah datang jam segini?" tanya orang tersebut. Ternyata, ia adalah petugas kebersihan sekolah yang terheran-heran menatap Rin.
"Ano, bukannya memang jam sekolah, jam segini? Semuanya kemana?" tanya Rin heran.
"Lho, hari ini kan masuk siang, karena guru ada rapat. Rapat besar guru katanya, entahlah," kata petugas itu.
"Eh? Benarkah?! Aku tidak diberi tahu.." kata Rin lemas seraya kembali ke kelasnya, ia akan berencana tidur sampai jam murid-murid masuk nanti.
"Kasian anak itu, apa jangan-jangan di jauhkan teman-teman sekelas, sampai tidak diberitahu, ya?" tanya petugas sekolah itu seraya menatap perihatin Rin yang berjalan lesu. Nah, si bapak misunderstanding banget. Rin kan lagi populer karena nerbitin komik, ditambah akrab dengan semuat teman di kelas. Jadi, untuk apa murid-murid jauhin dia?
Rin duduk di bangku kelasnya, lalu menghela napas pelan. Kenapa teman-teman tidak memberi tahunya?
"Apa aku saja yang belum check handphone, ya?" tanya Rin. Rin membuka telepon dan menemukan 2 panggilan tak terjawab dari Miku dan 6 pesan dari Miku dan Meiko hari sabtu dan banyak chat di group kelas. Ini dua anak kenapa nyariin dia, deh?
From: MikuMiku
Rin, hari ini kami mau ke rumahmu! Suprise! Kami berencana untuk mengadakan slumber party. Harusnya minggu depandi rumahku, tapi hari itu nggak bisa! Jadi, kamu bisa kan hari inI?
Sent. 8:00 AM, Saturday
From: MikuMiku
Halo! Aku sudah di depan rumahmu, tinggal tunggu Meiko. Dia lama ya, huh!
Sent. 8;15, Saturday
Di grup:
MikuMiku: "Hei, ada yang lihat Meiko kemana? Aku sendirian di depan rumah Rin L si empu rumah, sepertinya masih tidur." Sent: 8:16, Saturday.
Haku: "Kau kenapa ke rumahnya Rin, Miku?" Sent: 8:20, Saturday.
MikuMiku: "Aku dan Meiko mau mengadakan slumber party suprise, di rumah Rin! Kedengaran seru bukan? Mood di pagi hari ku rusak karena Meiko belum kunjung datang." Sent: 9:00, Saturday.
PanAisu: "Rin banget yang masih tidur jam segini, fufufufu.." Sent 9:10, Saturday.
Nakajima Gumo: "Jangan gosip, ah. Dasar cewek -.-." Sent 9:12, Saturday.
Piko: "Bilang saja, kau tidak mau gadis kesukaanmu itu dibicarakan, heh dasar." Sent 9:13 , Saturday.
KuroRei: "Bener tuh kata Piko, Oh ya Miku-chan, Sakine-san belum datang? Kamu masih sendirian gitu?" Sent 9:14, Saturday.
MikuMiku: "Wha?! Gumo suka sama Rin?! Woww.. Hm, iya sih. Tapi, kata Meiko dia akan datang sebentar lagi. Tadi, harus ngurus adiknya. Orang tuanya lagi dinas." Sent: 9:15, Saturday.
Momo: "Uwaah, Meito-san?! Aku rela buat tuker tempat sama Meiko buat ngurus Meito! T-T." Sent 9:15, Saturday.
KuroRei: "Dasar shota-con." Sent 9:16, Saturday.
Meiko: "Jangan bicarain aku, dong -*." Sent 9:20, Saturday.
KuroRei: "Habis, karena kau kan Miku-chan jadi harus menunggu sendirian!" Sent: 9:21, Saturday.
Meiko: "Meh, dasar. Kau suka sama Miku kan, makanya khawatir dia sendirian. Nih, aku sudah bersama dia, puas pangeran khawatir?!" Sent 9:25, Saturday.
Piko: "^2, ketara sekali." Sent 9:25, Saturday.
Nakajima Gumo: "^3." Sent 9: 25, Saturday.
Lily: " ^4." Sent 9:25, Saturday.
Haku: "^5." Sent 9: 26, Saturday.
PanAisu: "^6." Sent 9: 26, Saturday.
SeeUCat: "^7." Sent 9: 26, Saturday.
Yuka_Yuzu: "^8." Sent 9: 26, Saturday.
MikuMiku: " Guys, ap-apaan sih! -^-." Sent 9:27, Saturday.
KuroRei: "Gatau tuh, kan aku sebagai teman yaa..gapapa dong khawatir, cewek sendirian di depan rumah orang? S-siapa juga yang suka sama Miku!" Sent 9:27, Saturday.
PanAisu: "Dih, si kucing item tsundere wkwkwkkw." Sent 9:28, Saturday.
MikuMiku: "Guys, staph. Udah gue mau off. Bye." Sent 9:29, Saturday.
Piko: "Yee, ngambek.." Sent 9:30, Saturday.
Haku: "Wkwkwkwk, Gakkyu iincho kita marah~" sent 9: 31, Saturday
Rin tertawa melihat group chatnya lalu kembali melihat PC Miku.
From: MikuMiku
Sudah check group chat?! Menyebalkan sekali sih mereka! Terus, juga katanya Gumo suka sama kamu!
Sent: 9:45, Saturday.
From: MikuMiku
Kata Lenka-san, kamu sedang tidak dirumah, ya? Yasudah, aku sama Meiko jalan-jalan saja! Katanya, kau menginap di rumah Ring-san?
Sent: 9:46, Saturday.
From: MikuMiku
Ring-san kan tetangga rumahku, jadi aku telepon dia, ternyata kamu tidak menginap dirumahnya! Katanya, kamu menginap di rumah Kaiko-shion! Pasti menyenangkan deh, uuh..
Sent: 9:50, Saturday.
"Menyenangkan apanya, Miku?" decih Rin.
"Eh? Ini juga ada dari pesan Meiko.." kata Rin.
From: Meiko
Eh, si lelaki biru tinggi itu pasti Kaiko shion kan? Aku sih cuma nebak aja..Kalau itu benar, nggak kukasih tau siapa-siapa. Tenang saja.
Sent: 10:00, Saturday.
Rin tertegun, walau Meiko hanya menebak..bagaimana tebakannya benar sekali?!
Lalu, Rin membuka group chat kembali saat yang sedang chat hari Minggu
MikuMiku: "Guys! Hari senin, kita akan masuk jam 10! Dikarenakan ada rapat guru. Oh ya, Lily, Meiko, Momo, nanti jam 9 kita ada rapat osis ya!" Sent 16:00, Sunday.
Haku: "Ha'i!" Sent 16: 01, Sunday.
Lily: "Ha'i, Miku." Sent 16:02, Sunday.
Meiko: "Tahu dari mana? Soal rapat osis.." Sent: 16:20, Sunday.
Momo: "Defoko Kaichou-sama yang kasih tau tadi." Sent: 16:21, Sunday.
Rin mendesah, ternyata ia memang diberi tahu di grup! Harusnya, ia mengecheck handphone sebelum terburu-buru ke sekolah. Rin pun duduk lemas di bangku dan tidur.
Flashback OFF
"Begitulah ceritanya," kata Rin seraya menghela napas.
"Hee, begitu toh. Kamu sudah sarapan, Rin-chan?" tanya Miku.
"Belum," kata Rin saat mendengar perutnya keroncongan. Miku pun tersenyum dan membuka bekalnya.
"Ini," katanya.
"Eh? Apa ini? Kau yang buat sendiri?" tanya Rin.
"Begitulah, aku sepertinya akan berjualan ini, Rin. Nah, anggap saja ini tester," kata Miku.
"Oke," kata Rin seraya mengambil satu. Yaampun, rasanya enak banget!
"Namanya apa? Enak banget, Mik!" seru Rin.
"Emm, yang kepikiran di kepalaku sih, namanya Chocolate fudge and chocolate chip cookie dough s'mores. Agak kepanjangan," kata Miku.
"Bagaimana kalau Chocolate fudge and chocolate chip cookie smore's?" tanya Rin.
"Sepertinya lebih bagus kalau, Chocolate fudge chip cookie smore's," ujar seseorang.
"Whaa!" seru Miku dan Rin.
"Kaget banget? Ini kan cuma aku, Meiko," kata Meiko datar.
"Kau muncul tiba-tiba sih," gerutu Miku, seraya mengusap dadanya, masih kaget.
"Kamu emang jago ya soal masak, Miku-chan. Apalagi, makanan yang kita setujui namanya the Devils delight!" kata Rin.
"Iya, kalau kamu main kerumahku, kamu selalu minta buatkan itu, Rin," kata Miku seraya sweatdrop.
"Yap! Dan, Meiko yang ketagihan Signature buffalo chicken pizza!" kata Rin.
"Kamu cocok jadi chef dan pencicip makanan, Miku,*" komentar Meiko.
"Mungkin!" kata Miku dengan senyum lebar.
09:45 AM, Monday.
"Oh ya! tadi aku membeli Girls minggu ini!" seru Miku.
"Eh, benarkah?" tanya Haku. Waktu itu, kelas sudah lumayan ramai.
"Serius, Miku?! Aku aja bahkan belum melihatnya!" kata Rin seraya bangkit berdiri.
"Kami mau lihat dong!" seru Teto dan Momo.
"Atashi mo!" seru Lily yang baru datang, tadi dia yang kebagian bersihin ruang Osis habis rapat. Jadinya, dia agak telat.
"Boleh! Boleh! Sabar ya!" seru Miku saat mereka sedikit berdesakan.
"Lho apa ini?!" seru Yukari kaget, si sekretaris kelas.
"Eeh, kenapa Kaiko Shion mendadak jadi seperti ini?!" seru SeeU, gadis yang suka kucing dan pindahan dari korea.
"Eh?! Emang dia kenapa?! Coba kulihat!" seru Rin seraya menerobos kerumunan. Takutnya, Kaito membuat kesalahan karena dia tidak konsentrasi. Tapi, bukannya Ring sudah mengecheck ulang? Kaito dan Rin kan nyelesainnya saat Minggu sore! Jadi, masih ada waktu untuk di check!
Saat Rin melihat itu, Rin pun speechless.
"Kenapa..Kaito?" tanya Rin pelan.
"Eh? Siapa Kaito?" tanya Miku.
"Miku! Aku pinjam dulu Girlsnya!" seru Rin.
"Lho! Ei! Aku belum selesai baca!" seru Miku, Meiko, Lily, Yukari, SeeU, Teto, Momo dan beberapa anak perempuan lainnya.
"Maaf! Aku hari ini pulang cepat karena nggak enak badan!" seru Rin.
"Chotto matte! Kau mau kemana Rin?! Rin! Rin!" seru Miku saat melihat Rin malah berlari cepat di koridor sekolah.
"Itu anak kenapa sih," kata Meiko seraya sweatdrop.
"Iya, dia kelihatan sehat-sehat saja, walaupun lelah," komentar Lily.
"Sudahlah, biarkan saja," kata Miku seraya tertawa.
"Kenapa kamu ketawa, Mik?" tanya Yukari.
"Soalnya, kupikir dia akan menemui cowok!" seru Miku seraya tertawa.
"Eh, jangan-jangan yang tadi namanya ia serukan?" tanya SeeU.
"Jangan-jangan—" Ucapan Meiko terpotong saat semuanya serempak berkata, "EEEH?!"
"Iya, benar. Kupikir yang waktu itu, Mei-chan!" seru Miku seraya menyunggingkan senyum ganjil.
"Yah, kurasa begitu!" kata Meiko ikut menyunggingkan senyum.
Rin POV
"Kaito!" pikirku seraya berlari keluar dari sekolah. Benar deh, yang di lakukan Kaito itu benar-benar bukan tipikal kaito!
"Apa alasanmu melakukan ini sih?!" seru Rin dalam hati. Ia sekarang tengah menyebrang jalan, kemudian menuju stasiun kereta.
"Lho, Rin, kenapa lagi?" tanya kondektur kereta.
"Ah, aku hanya ada barang yang ketinggalan!" jelasku berbohong.
"Baiklah, kamu memangnya tidak apa-apa naik kereta jam segini?" tanya kondektur kereta.
"Aku masuk siang!" jelasku terburu-buru. Kondektur tersesebut mengangguk mengerti.
Aku pun duduk disalah satu bangku yang masih kosong. Untungnya, aku sudah berlangganan kereta ini jadi hanya bayar perbulan. Jadi, ini termasuk gratis. Untuk kereta menuju tempat Kaito, sekolah Kaito dekat dengan rumahku jadi kurasa aku tak perlu naik kereta ke apartemen Kaito!
"Kaito! Tunggu aku!" seruku dalam hati.
Kaito POV
(Rika: Disini pakai gue-elo ya!)
"Hoi, Kaikai," panggil cowok berambut golden dan bermata sama.
"Apaan? Obutsu," tanyaku dengan malas. Agak gak sopan sih memang panggilan itu, tapi dia karena teman masa kecilku, jadi kami terbiasa memanggil itu.
"Parah, panggilan gue ga ada yang bagusan dikit?" keluhnya.
"Ga ada," kataku datar.
"Cih, dasar. Nanti padahal gue mau berencana traktir lo sama Ring," katanya.
"food hunting kemana, Nero-sama?" tanyaku.
"Yaelah, bro. Soal traktir aja lo baru panggil gue pake suffix sama. Gabisa tiap hari gitu?" tanyanya.
"Dih, ngapain gue manggil lo pake suffix sama. Nanti gue dikira servant elo!" kataku.
"Wkwkwk, kayak kuroshitsuji* dong? Gue Ciel phantomhivenya* elo Sebastiannya*," kata Nero.
"Wah, gue kan ngeship mereka! Lo berarti humuan dong berdua?" tanya Sonika ikut nimbrung.
"Kagak gitu, kampret! Dasar fujoshi!*" kata Nero seraya menjitak kepala Sonika.
"Bro, lu jitak kayak gitu, si Gumo nanti marah," kata Sonika.
"Oh, adek lo yang sister complex itu kan, Son? Gue dihajar waktu itu, njer. Kapok gue," kata Nero.
"Bisa nggak panggil gue Ika, Nik atau Sonika gitu..Son kan sama aja kayak anak laki-laki. Berarti, gue anak lo gitu?" tanya Sonika.
"Idie, jijay mak," kata Nero.
"Lo kayak gitu makin nambah kebancian lo, obutsu, " kata Kaito.
"Lo manggil gue Obutsu?! Wah, kagak gue traktir nih!" seru Nero.
"Iye, iye. Emang traktir dalam rangka apa sih?" tanya Kaito.
"Anniversary gue sama Neru!" kata Nero dengan wajah merona.
"Woah, yang keberapa lu?" tanya Sonika.
"Satu tahun!" ujarnya mantap.
"Woh, selamat bro," kataku.
"Yoi!" seru Nero seraya tos denganku.
"Ei, gue ikut traktir juga dong!" seru Sonika.
"Kagak ah, ini kan acara buat trio sahabat sableng, ya gak Kai?" tanya Nero.
"Yoi, Sori Nik," kataku.
"Nggak apa-apa, paham gue mah," kata Sonika seraya menggacungkan jempol, walau terlihat kecewa.
"Biarin aja, biar dia main otome game* seharian, Kai," kata Nero.
"Gue ga sejones itu!" seru Sonika seraya menjitak Nero.
"Emang lo punya gebetan?" sindir Nero.
"P-punya lha!" bela Sonika, ia terlihat melihat kearahku sebentar. Kenapa memangnya dia melihatku?
"Siapa coba!" Seru Nero seraya tersenyum jahil.
"Cowok rambut putih, tinggi , dari kelas sebelah," kata Sonika.
"Anjirr, Dell dong berarti!" seru Nero. Sonika mengangguk, namun entah kenapa kurasa ia berbohong soal suka dengan Dell.
"Begitulah, hehehe," kata Sonika dengan tawa awkward.
"Btw, lu lu pada kenapa nih ngumpul di meja gue? Pasti ada alasannya nih," kataku curiga.
"Boleh liat pr terjemahan bahasa inggrismu? Yang disuruh buat translate cerita little red riding hood* sama Pinokio*," kata Nero dan Sonika bersamaan.
"Nah, udah ketahuan banget. Lo berdua kan yang paling sering nyontek gue, kalau Ruko-sensei tahu gimana tuh," kataku.
"Makanya, ini persembahan gue buat elo," kata Sonika seraya menyerahkan soft drink, kesukaanku.
"Kalau persembahan gue nanti pas sama Ring," kata Nero, "Untungnya, hari ini Miki-sensei nggak masuk, jadi kelas bebas dan kita bisa catat pr dari Ruko-sensei yang bejibun ini."
Yap, emang pacar Kiyoteru itu, mengajar di sekolah ini.
"Sekali-kali kerjakan prmu di rumah, dong," kataku kesal.
"Yah, aku ketiduran/aku malas lagipula kami bisa menyontek ke Elo, Kai. Jadi kenapa susah-susah bikin pr? Motto kita mah bikin pr, di sekolah aja!" seru Sonika dan Nero bersamaan. Aku Cuma menghela napas dan menggelengkan kepala.
"Kaito memang hebat!" seru Nero dan Sonika seraya mengacungkan jempol dan kemudian mulai menyalin. Dasar dua anak ini, besok-besok jika ada pr, takkan kuberi contekan lagi!
"APA KAIKO SHION ADA DISINI?!" seru seseorang, bused naujibulah melengking banget suaranya. Aku yang kaget, langsung menyemburkan soft drink ke wajah Nero. Kasian tuh anak..
"Eh? Siapa anak SD itu?" tanya Sonika sambil membuka jendela.
"Dia lebih tepatnya anak SMP, lihat dong bajunya, "kataku.
"Yee, baru kali ini kudengar Kaito marah karena aku salah nyebut soal seseorang," sindir Sonika.
"Apa yang kau lakukan dasar bego!" seru Nero seraya mengelap wajahnya yang ketumpahan soft drink mendadak.
"Eh, ya, Kaiko Shion itu komikus , bukan?" tanya Sonika. Memang, Sonika tidak kuberitahu identitas palsuku sebagai komikus.
"Memangnya dia ada disini?" tanya Sai, cewek berambut pink dari kelasku.
"Nggak tahu, salah sekolah kali. Dia juga kenapa masih pakai seragam gitu? Bolos?" tanya Mikuo, Mikuo ini adalah kakak dari tetangga Ring yaitu Miku.
"Seragamnya kaya punya imouto kita, Kuo," kata Ted.
Sementara mereka sibuk mengomentari Rin, Rin terlihat bertanya kepada Mako, gadis kelas sebelah ketua club anggar.
"Apakah Onee-chan kenal Kaiko?" tanya Rin.
"Kaiko? Apa marganya? Kelas berapa?" tanya Mako bingung.
"Kaiko shion," kata Rin.
"Lho, Kaiko shion si komikus terkenal, bukan? Dia nggak ada di sekolah ini, tapi kalau marga Shion, ada Kaito shion disini," kata Mako.
"Eh, benarkah? Dimana dia?" tanya Rin, ia sepertinya baru sadar kalau dari tadi dia menggunakan 'kaiko' bukan 'kaito'.
"Itu, sedang melihat kemari, di belakangmu," kata Mako. Rin pun membalikkan badannya dan pandangannya bertemu denganku.
"Kaito!" seru Rin. Langsung saja Sonika dan Nero melihatku, gawat.
"Kai, itu temuin dulu. Kenapa dia tahu nama palsu lo, coba?" bisik Nero.
"Itu dia gadis yang gue pernah ceritain," kataku.
"Eh, Si Rin Kagamine? Yang bikin cerita 'The tale of Len and Gumi' itu?" tanya Nero.
"Perasaan gue belum pernah kasih tau judulnya ke elo deh, lo tau dari mana? Lo baca majalah cewek?" tanyaku.
"Kagak lah! Neru yang kasih tau, dia suka banget sama komik itu, bahkan ngidol elo. Coba kalo tahu pacarnya dia ini, sahabatan sama idolanya, gue bisa ditinggalin kali, bro," keluh Nero.
Aku tertawa, "Yaelah, gue tahu kok Neru itu orangnya setia, nggak bakal ninggalin lo, bro," kataku.
"Yaudah, temui dulu dia tuh," kata Nero. Aku mengangguk dan berlari menuju Rin.
"Lo tadi ngobrol apaan sih sama Kaito? Bisik-bisik gitu?" tanya Sonika.
"Mau tau aja lo, wkwkwk!" seru Nero, dan dia alhasil dihadiahi sebuah jitakan di jidatnya.
Rin POV:
"Hoi! Cebol ngapain datang kesini?! Mau bongkar identitas aku, hah?!" seru Kaito kesal.
"Kaito, ini!" seruku, tanpa memedulikan gerutuan Kaito.
"Hah?!" tanya Kaito heran, karena terlalu bersemangat aku menubruknya hingga membuat aku dan dirinya terjatuh.
"Latar gambarnya, ini aku yang buat! Draft yang kutebalkan dengan pulpen! Yang kubersikeras untuk dijadikan latar dengan kreasiku sendiri!" seruku ngos-ngosan.
"..Aku bahkan bersikeras untuk menggunakan latar itu saja tanpa kau menggambar ulang! Dan kau tolak kan, Kaito?" tanyaku.
"Kau bilang 'kalau seperti ini, siapun tidak dapat membacanya bukan?!' lalu kenapa disini, ini tetap gambarku.." Kataku.
"Karena, kau sudah repot-repot datang menyuruhku memperbaiki gambarnya," jelas Kaito.
"Eh?" kataku bingung.
"Waktu aku menelponmu, kubilang bahwa aku bisa mengeluarkan daya tarik dunia ciptaanmu itu lebih dari yang kamu bayangkan, benar bukan?" tanya Kaito.
"Iya," kataku.
"Alasannya aku berkata begitu, sebab aku yakin sekali aku bisa menggambar lebih baik darimu, jujur aku agak iri. Kamu mempunyai kemampuan imajinasi yang luar biasa," kata Kaito.
"Eh, Iri..?" tanyaku tidak yakin.
"Ya! Iri! Tapi kau nggak bisa jadi sepertiku dan aku nggak bisa jadi sepertimu," kata Kaito.
"Jadi sepertiku? Bukankah itu gampang, yang sulit adalah jadi sepertimu, Kaito!" seruku.
"Gampang apanya? Kau harus punya daya imajinasi yang besar dan mempu membuat para pembaca masuk ke dunia ceritamu, namun aku? Aku tidak punya daya imajinasi sebesar kamu Rin, sekeras aku berusaha," kata Kaito seraya megnhela napas dan kemudian melihat kearah langit.
"Sepintar apapun aku menggambar, yang paling memahami komik ini hanya kamu, Rin. Kamu yang tahu kelanjutannya seperti apa.." kata Kaito seraya tersenyum, "Makanya, adegan ini kubiarkan seperti ini. Murni dari tanganmu."
Aku terpaku, tadi Kaito bilang..
"Kaito, kuputuskan untuk tidak membuat side storynya," kataku
"Eh?" Tanya Kaito.
"Aku senang sekali, Kaito tidak membuat ulang gambarku. Jadi, itu murni dariku. Makanya, kali ini aku ingin menggambar dengan kemampuanku sendiri walau hanya sebatas izinmu," seruku.
"Inti yang tadi kamu hendak katakan adalah, yang bisa menggambar komikku adalah diriku sendiri kan? Yang memahaminya hanya aku!" seruku seraya tersenyum. Kaito ikut tersenyum.
"Dan kalau aku sudah lebih pandai menggambar, aku akan pergi menemui Kaiko Shion! Bukan sebagai penulis cerita atau fans, melainkan sebagai komikus! Aku akan membuatmu bangga karena telah menjadi partnerku! Makanya, tolong tunggu waktu itu tiba!" seruku, Kaito terlihat terdiam lalu menyerigai.
"Kau tahu itu akan memakan waktu berapa tahun?" tanya Kaito datar.
"Apa?! Aku yakin itu nggak akan lama! Asalkan aku berusaha!" seruku.
"Kau tak mau aku ajari?" tanya Kaito.
"Tidak-tidak, aku mau dengan kemampuanku sendiri!" seruku seraya tersenyum.
"Yaah, mungkin aku akan menunggumu. Makanya, cepat kejar aku dan lampaui aku suatu hari nanti, Rin!" seru Kaito seraya menepuk kepalaku, aku merasakan wajahku sedikit memerah.
"Kau bisa melampui kemampuan Kaiko shion, kan, Rin Kagamine?!" seru Kaito.
"Apa kau meremehkanku? Tentu saja, iya!" seruku seraya tertawa.
"Jangan terlalu percaya diri juga," kata Kaito.
"Biarin! Lihat saja, pokoknya aku bakal ketemu kamu saat aku sudah debut!" seruku seraya bangkit dari posisi duduk tadi.
"Jadi, kita tidak akan bertemu sementara ini?" tanya Kaito lirih. Aku terdiam sebentar, ia mebalikkan badan, menghirup udara lalu tersenyum menghadap kearah Kaito.
"Kau pasti bakal kangen denganku!" seruku, kemudian berlari meninggalkannya yang terdiam.
"Dia rupanya serius ya, ini kenapa aku jadi sedih?" tanya Kaito seraya tertawa kecil, kemudian kembali ke kelasnya.
"Gumi, aku sudah memikirkannya.." kata Len seraya menunduk.
"Eh, memikirkan apa?" tanya Gumi.
"Aku akan pergi dari pulau ini sendirian," kata Len.
"A-apa maksudmu..." kata Gumi bingung. Saat itu, detik-detik menuju keberangkatan Gumi. Len yang baru datang membawa bunga, tiba-tiba berkata demikian.
"Gumi datang dari sebuah pulau lain, aku senang sekali bisa berteman denganmu dan diberi tahu macam-macam hal. Tapi, aku ingin meraih mimpiku sendiri, Gumi. Bukan bersamamu..Aku tak mau merepotkanmu. Masih ingatkah kamu bahwa aku ingin berpetualang ke dunia luar, nah itulah mimpiku!" seru Len seraya tersenyum.
"Makanya—"
"Sudah, Len. Aku paham dengan keputusanmu. Apa boleh buat bukan?" tanya Gumi.
"G-gumi.." lirih Len, air matanya meleleh bersamaan dengan air mata Gumi.
"Bye-bye, Len," ujar Gumi seraya tersenyum.
Laki-laki itu mengucapkan selamat tinggal pada gadis bernama Gumi tersebut..
Keesokan harinya, Gumi mengatar Len berlayar dengan perahu milik Len yang ternyata sudah Len buat dari dulu namun belum ada keberanian untuk melayarkannya. Mengatar kepergian Len dengan bunga edeleweis yang dipegang Gumi.
Len pun memulai perjalannya.
"Semoga suatu hari, kita dapat bertemu lagi, Len.." lirih Gumi seraya tersenyum, menghapus airmatanya dan bersiap-siap meninggalkan pulau itu dengan perahu yang ia sudah buat. Pulau yang dipenuhi kenangannya dengan Len.
Normal POV
Redaksi girls, Tuesday.
"Sulit dipercaya, Rin bilang ingin berhenti menulis cerita" desah Ring seraya membaca komik Rin yang sudah digambar Kaito.
"Sayang sekali, padahal segalanya berjalan lancar," kata Ring seraya menghela napas.
"Biarkan saja, Ring," kata Kaito.
"Eh?" tanya Ring bingung.
"Yang bisa menggambar komikku bukan, Kaito. Namun diriku sendiri.'
"Dasar, bisa juga ia berkata seperti itu," kata Kaito.
"Berkata seperti apa?" tanya Ring bingung. Kaito pun menjelaskan.
"Dia bijaksana sekali," kata Ring.
"Yakan? Aku saja seumuran dia, masih jauh dari kata bijak," kata Kaito.
"Memangnya sekarang kau sudah bijak, Kaito?" sindir Ring.
"Enak saja! Tentu saja sudah!" seru Kaito seraya menjitak Ring.
"Hei, ada apa ini dengan jitak-jitakan. Dasar kau tidak gentleman, Kaito!" seru Nero yang baru datang.
"Oi, broo! Jadikan hari ini? Kemarin sih elo batalin segala," kata Ring seraya tos dengan Nero.
"Hahaha, sorry, Ring. Gue kemaren males aja kalau kita makan-makan terus juga ngelihat wajah Kaito yang kucel gitu," kata Nero.
"Heh!" kataku seraya menepuk Nero dengan beberapa kertas.
"Apa? Aku ngomong kenyataan kok, Kaito wajahnya muram soalnya ga bisa jadi partner gadis yang ia cintai, hahaha~" ledek Nero.
"A-apa- apansih!" seru Kaito degnan wajah merah padam.
"Tsundere hahaha!" seru Ring dan Nero bersamaan.
"Awas ya kalian!" aeru Kaito.
"Ayo lari, Ring! Yang terakhir sampai ke restoran tujuan yang kita datangi, harus bayar!" seru Nero.
"Lahhh, lu kemarin janjinya traktir kita semua," kata Kaito.
"Biarin!" seru Nero seraya berlari, sementara Ring tertawa. Dari kecil, Kaito dan Nero memang sudah akrab.
Vocaloid Junior High School, Tuesday.
"Apa maksud semua ini, Rin? Kami baru bisa protes hari ini, karena kemarin kau bolos!" protes Miku dan Meiko.
"Padahal aku sudah nggak sabar menantikan kelanjutannya, yang katanya ada side story! Sekarang gaada ditambah endingnya sad!" seru Miku dan Meiko.
"Bagus, kan?" tanya Rin seraya tersenyum.
"Bagus apanyaa?! Ayo gantii, uuuh.." protes Miku.
"Kamu juga sudah nggak menjadi partner Kaiko ya, Rin?" tanya Meiko.
"Hm? Iya benar," kata Rin.
"Kamu gak sedih? Kalau aku sih bakal sedih banget!" seru Miku.
"Begitukah? Aku nggak tuh.." kata Rin.
"Hee? Kenapa?" tanya Miku dan Meiko penasaran.
"Karena aku berjanji akan bertemu dia saat aku benar-benar sudah debut komik, jadi buat apa sedih?" tanya Rin.
"Hee, kamu mau debut komik sendiri?!" seru Meiko dan Miku. Rin hanya tersenyum.
"Doakan ya!"
Info:
*Kuroshitshuji atau black butler adalah sebuah manga karangan Yana Toboso tahun 2006
*Ciel phantomhive adalah kepala rumah dari Phantomhive saat ini dan tokoh utama dari black butler.
*Sebastian adalah kepala pelayan Phantomhive dan pengawal Ciel.
*Fujoshi adalah penggemar wanita terhadap hubungan romantis antara laki-laki yang biasanya ada di novel atau manga.
*Otome game adalah permainan video berbasis cerita yang ditargetkan untuk wanita.
*Little red riding hood atau gadis tudung merah adalah dogeng dari Prancis yang menceritakan tentang seorang gadis dan serigala yang jahat.
*Pinokio adalah cerita karangan Carlo Collodi dan merupakan tokoh utama dari cerita tersebut.
Yak! Akhirnya selesai juga! Hontou ni, gomen nasai! Maaf ini jangkanya terlalu lama! L jujur, fandom Vocaloid bukanlah fandom saya lagi, atau bisa dibilang, udah gak terlalu minat dannn rencananya ada Sequel untuk cerita ini, tapi mungkin masih agak lama sekali baru bisa terbit. Cerita ini aslinya udah selesai dari waktu yang lama, tapi baru sempat edit dan terbitkan hari ini, maaf ya! oh ya oh ya kalau kalian cermati, ada hint cerita saya yang saya sedang kerjakan loh ~~
Bocoran:
Di sequel, akan dijelaskan lebih lanjut hubungan Kaito-Ring (loh memangnya ada hubungan apa, thor?), dilema hati, kepulangan Gakupo, dan lain-lain
Writer Story 2: The debute life
Rin Kagamine, atau yang sekarang terkenal dengan nama KaRin adalah seorang novelis muda kelas 1 SMA, walau impiannya menjadi komikus tidak tercapai, ia menikmati menjadi seorang novelis. Namun, menjadi novelis muda tidaklah mudah! Ada pajak novel yang harus ia bayar, kepulangan Gakupo dari Amerika yang mengegerkan, Dilema hati, dan rival sesama novelis! Wah, kapan sih kehidupan Rin Kagamine akan tentram?!
