Eyeshield21's by Riichiro Inagaki & Yuusuke Murata

Bloodiest Love by Ciel L. Chisai

warning: OOC, makin abal, Dont like dont read!


Di kedai makanan...

"Hei, kau makan nasi, bubur atau sejenisnya juga tidak?" tanya Suzuna setelah mereka berdua sampai di salah sebuah kedai makanan.

Sena terlihat sedikit canggung. "Ya, makanan seperti itu 'kan dapat menambah energi." jawab Sena sambil tersenyum.

"Oh... bagus kalau begitu." Suzuna balas tersenyum.

Beberapa saat kemudian seorang pelayan kedai makanan yang ditempati Sena dan Suzuna datang dengan membawa papan menu ditangannya. Suzuna dan Sena dengan segera memilih menu yang terdaftar dan memesannya. Sedangkan si pelayan tadi segera mencatat apa yang dipesan lalu kembali untuk menyiapkan makanan.

"Suzuna, kau yakin akan menghabiskan makanan pesananmu itu?" Sena terlihat ragu akan apa yang dipesan Suzuna kepada pelayan tadi.

Suzuna mengernyitkan dahi. "Aku ini lapar tahu... kau tak yakin aku dapat menghabiskan makanan sebanyak itu? Tenang saja... aku sudah terbiasa." tidak sampai sepuluh menit pesanan yang dipesan oleh Suzuna dan juga Sena telah siap. Bahkan lebih cepat dari restoran cepat saji. Ada dua pelayan yang mengantarkan pesanan mereka.

"Silahkan menikmati..." salah seorang pelayan meletakkan semangkuk sup porsi tiga orang dihadapan Suzuna dan semangkuk sup yang sama dengan Suzuna dihadapan Sena, lengkap dengan nasi putihnya yang harum. Lalu seorang pelayan lagi meletakkan dua gelas berisi teh hangat yang harum dihadapan keduanya.

"Waah... Selamat makan, Sena!" Suzuna pun melahap sup dihadapannya tanpa ragu.

Sena terdiam sejenak melihat Suzuna lalu melahap juga makanan didepannya. "Ya."

...

Siang hari di halaman belakang...

Wanita cantik berambut jingga tua yang murah senyum dan biasa dipanggil Kak Yuna oleh Riku itu kini menatap tajam seorang lelaki tua berpakaian serba hitam dengan sebuah kalu berbandul salib tergantung panjang dari leher hingga dadanya. Tubuhnya terduduk di sebuah kursi dengan tali sulur membelenggu lengan dan kakinya. Ya, lelaki itu adalah seorang pendeta. Pendeta yang seminggu ini dicari diam-diam oleh Akaba dan Yuna dengn alasan dia mengetahui keberadaan Kami bahkan asal-usul Yuna dari salah satu yang tahu. Dan itu menjadikan alasan mereka harus pergi dari tanah timur ini karena kemungkinan besar pendeta satu ini telah menyebarkan segala informasi yang dia tahu kepada sesama Pendeta lain dan masyarakat luas. Karena itulah, seorang Akaba Hayato berniat untuk menghabisinya. Dan tanpa izin Hiruma tentunya.

"Cih, untuk apa kalian berdua menangkapku, hah?" senyuman sinis menghiasi wajahnya yang sedikit keriput sambil melemparkan pertanyaanoya kepada pasangan makhluk penghisap darah dihadapannya, Akaba dan Yuna.

"Aku heran kenapa Hiruma membiarkan pria sok suci ini mengetahui semuanya dan menyebarkannya begitu saja." ucap Yuna tak kalah sinis dengan senyuman pendeta tua dihadapannya sambil memainkan ujung rambutnya dengan salah satu jari tangannya. Dari penampilan dan gaya bicaranya, seorang Yuna menjadi berubah drastis 360 derajat dari sifat aslinya, seolah dia mempunyai kepribadian ganda. Dan juga lelaki disampingnya yang menjadi semakin dingin dari biasanya, semua sangat diluar dugaan.

"Siapa itu? Ketua kalian kah? Pasti dia seorang pecundang karena lebih memilih bawahannya untuk menangkapku seperti ini. Iya 'kan? Hahaha..." Pendeta tua tadi tertawa dengan kalimat yang terdengar mengejek dan dengan sempurna membuat dua orang vampir dihadapannya menahan amarah karena jengkel.

"Kurang ajar kau! Seenaknya saja mengejek Hiruma!" sebuah kepalan tangan hampir mendarah diwajah tua sang Pendeta jika tak dihalangi oleh lelaki berkacamata, tunangan dari Yuna yang begitu dingin keberadaannya.

Akaba dengan perlahan menurunkan kepalan tangan Yuna yang terkepal dua jengkan dari wajah Pendeta tu yang ingin dipukul tunangannya itu. "Biarkan." ucapnya dingin.

Yuna mengeluh pelan. "Huh, awas kau Pendeta tua!" lengos Yuna sambil melipat kedua tangannya didepan dadanya. Sungguh bukan dia yang seperti biasanya selalu berkata santun.

Bola mata hitam milik sang Pendeta mendelik sinis menatap Yuna. "Hei, kau pikir aku tak tahu tentangmu? Wanita tak tahu diri yang rela menjadi seorang vampir hanya karena cinta!" Yuna langsung tersentak mendengarnya. "Meninggalkan sifat kemanusiaan, keluarga, kerabat, dan lebih memilih menjadi seorang makhluk penghisap darah. Membunuh manusia tanpa dosa hanya demi kesetiaan cinta? Kau benar-benar makhluk laknat!" lanjutnya dengan nada mencemoohkan. Membuat wajah Yuna terlihat memerah menahan amarah dan tangis.

Grep! Dengan cepat sebuah tangan kekar melingkar erat dileher sang Pendeta yang hanya tersenyum nista dihadapan makhluk yang mencekiknya itu.

"Jangan bicara sembarangan, Pak tua." Akaba berucap datar dan semakin menguatkan cengkeramannya dileher sang Pendeta yang masih terbelenggu oleh tali-tali dikedua tangan dan kakinya.

"Keh, memang apa yang akan kau lakukan? Menghisap darahku wahai makhluk nista!" Pendeta tua tadi terkekeh dengan nafas tersengal karena Akaba menekan tenggorokkan tempat jalannya pernafasan manusia. Membuat Akaba memperlihatkan kemarahannya dari bola mata merah dibalik kacamatanya dan...

Craash! Cring!

Dalam sekejap darah segar mulai tergenang diatas rerumputan hijau yang mengalir deras dari tubuh tua sang Pendeta yang masih terduduk dan terbelenggu tali. Kalung berbandul salib yang dikenakan sang Pendeta pun terlepas jatuh dan tenggelam diatas rumput dalam genangan darah. Akaba membunuhnya.

"Ha-Hayato... A-apa yang kau lakukan?" tanya Yuna kaku. Wajahnya memucat seketika melihat kejadian yang hanya berdurasi dalam hitungan beberapa detik tersebut. Terlihat lebih menakutkan dari memangsa manusia. "Ki-kita belum sempat menginterogasinya seperti rencana kita 'kan?" lanjutnya sedikit ketakutan.

"Aku membunuhnya." jawab Akaba singkat dan datar.

"Ta-tapi..."

Mendengar sesuatu yang tidak enak dari taman belakan rumah yang luas tersebut, dengan sedikit penasaran Riku mendatangi taman tersebut. Betapa terkejutnya ia melihat pemandangan beberapa meter dari tempatnya berdiri, rerumputan hijau yang tumbuh teratur- dengan entah siapa yang merawatnya itu kini ternodai oleh darah segar. Bahkan beberapa bunga yang tumbuh pun ternodai bercak darah yang sekiranya namun pasti berasal dari tubuh seorang lelakit tua yang bisa dipastikan baru semenit yang lalu nyawanya telah melayang dalam keadaan mengenaskan dengan kaki dan tangan yang masih terikat. Terlihat Akaba dan Yuna sedikit dekat dari mayat tersebut.

Riku langsung menghampiri Akaba dan Yuna yang masih terdiam ditempat, menanyakan apa yang sebenarnya telah terjadi.

"A-ada apa ini Akaba-san? Kak Yuna? Siapa mayat itu?" tanya Riku dengan penasaran dan juga masih dengan keterkejutan.

Akaba menaikkan letak kacamatanya. "Perlu kau tahu, manusia itu adalah salah satu dari lumayan banyak manusia yang kumaksudkan dalam pembicaraan malam itu. Dan sekarang aku ingin minta tolong padamu-" jelasnya lalu menarik lengan Yuna- yang masih sedikit syok untuk segera beranjak dari tempat itu. "Bakar dia dan jangan sisakan apapun." lanjut Akaba dan melemparkan tatapan dingin dan seriusnya kepada Riku.

"Jadi... kau membunuhnya? Apa saja yang-" tak sampai Riku mengucapkan kalimatnya secara utuh, Akaba langsung memotong.

"Cepat laksanakan saja." Akaba dan Yuna mulai beranjak pergi. "Setelah itu jemput Sena, besok aku akan mempercepat keberangkatan." dan Akaba pun meninggalkan Riku sendirian di taman belakang itu dengan seorang mayat sang Pendeta tua yang mengenaskan.

Setelah pergi dari taman belakan tadi, Akaba membisikkan sesuatu kepada Yuna. "Aku membunuh seoua orang yang melakukan penghinaan dihadapanku." bisiknya, yang entah kenapa membuat Yuna sedikit tersipu mendengar ucapannya.

.

Riku memandang mayat dihadapannya dari bawah ke atas dengan tatapan dingin. "Jadi... para petinggi kepercayaan Tuhan seperti dia yang membuat Kami harus pergi," Riku berucap lalu memetik beberapa tangkai bunga didekatnya.

Riku lalu mengambil pemantik api dari sakunya- yang entah sejak kapan dia menyimpannya lalu menyulut api yang keluar diujung pemantik apai yang dipegangnya pada kelopak bunga-bunga yang tadi dipetiknya. Dan dengan cepat api membakar seluruh mahkota bunga dan Riku melemparkan bunga ditangannya kearah sang Pendeta yang memucat dengan bersimbah darah dan kemudian...

Bwooshh! Dengan cepat api berwarna kuning keemasan menjalar diseluruh tubuh tua yang tak bernyawa itu. Sebuah kekuatan seorang vampir yang dialirkan dari Riku membuat apa tadi membakan objek dengan sempurna tanpa bantuan fisika atau kimia yang seperti layaknya terjadi dilakukan manusia. Dengan menggunakan bahan bakar minyak misalnya atau bahan lain yang terkonsentrasi tinggi hingga menimbulkan api. Tapi disini, vampir tak memerlukan hal yang merepotkan.

"Fuh... Kami bukan hanya sekedar makhluk penghisap darah," Riku lalu pergi meninggalkan dan membiarka sang Pendeta yang dihormati dikalangannya terbakar api iblis. Tidak terlalu sadis.

"Meski ku tak mengerti maksud Akaba-san menyuruhku seperti ini, tapi... yah lumayan." Riku pun pergi mencari Sena untuk menjemputnya seperti yang diperintahkan Akaba.

...

Di tempat lain di sebuah ruangan bercorak hitam putih seorang vampir iblis sedang terduduk sambil terkekeh menatap laptop dipangkuannya. Terlihat Akaba mengayunkan tangannya dan dalam sekejap lelaki tua dihadapan Akaba tercipta luka sayatan yang besar dan menyebabkan terkurasnya darah sang Pendeta dan pada akhirnya terdiam. Mati.

"Kekeke... berani juga dia melakukannya." kekehnya lalu mengunyah permen karet bebas gula faforitnya.

...

Siang hari. Awan mendung hari ini membuat para warga ibukota tanah timur Asia ini merasa resah. Perkiraan ramalan cuaca kaki ini sering meleset akibat suhu bumi yang tidak teratur. Dan itu dirasakan juga oleh Suzuna, pergantian musim yang menurutnya benar-benar terganggu. Tapi sepertinya tahun ini ada sedikit perbedaan.

Sambil menunggu sore, Suzuna mengajak Sena untuk sekedar berbincang-bincang di taman kota yang selalu sepi di waktu siang. Lalu kemudian mengajak Sena untuk duduk bersama dibangku yang telah tersedia.

"Em... Sena, boleh aku bertanya satu hal?" seperti biasa, Suzuna selalu memulai percakapan dengan pertanyaan. Tapi kaki ini terlihat lebih serius.

"Tentu saja, untuk apa aku melarang." sebuah senyuman mengiringi perkataan Sena.

"Apa yang akan terjadi setelah kau... menghisapku?" tanya Suzuna tanpa basa-basi, membuat Sena yang mendengarnya tertunduk lesu.

"Maaf... sebenarnya aku tidak bermaksud..." Sena menghela nafas sejenak. "Kau tetap manusia, aku tidak membuatmu menjadi seperti-" perkataan Sena langsung dipotong oleh Suzuna.

"Begitu ya... padahal aku lebih berharap-" ucap Suzuna lesu.

"Tidak. Kau masih punya keluarga yang kau sayangi. Aku tidak ingin membuatmu menderita harus menanggung resiko yang besar." mata cokelat karamel terang yang terdapat dikedua bola mata Sena menatap Suzuna lekat.

"Apanya yang keluarga! Aku pernah bilang 'kan..." Suzuna balas menatap Sena tajam. Kali perkataannya dipotong lagi.

"Tak bisa. Aku tak bisa melakukannya. Kau harus baha-"

Tiba-tiba... "Sena!" terlihat lelaki manis berambut putih keperakkan menghampiri tempat Sena dan Suzuna. Membuat Sena dan Suzuna menoleh kehadapan lelaki yang datang tiba-tiba menghalangi pembicaraan mereka. "Ternyata kau ada disini," ucapnya sambil tersenyum. "Menurut Akaba-san kita harus bersiap-siap." lanjutnya tanpa basa-basi atau sekedar menyapa Suzuna lebih dulu disamping Sena.

"Ri-Riku! Apa maksudnya tiba-tiba begini!" Sena tersentak mendengar ucapan Riku yang terakhir. Terlalu cepat. Sedangkan Suzuna yang masih terduduk disamping Sena hanya menatap kedua makhluk penghisap darah dihadapannya dengan bingung.

T.B.C.


Next: The Last, an Epilogue.

ehehe ketemu lagi, rate-nya pas kan? tadinya saya mikir moga abis nonton Eclipse bisa dapet inspirasi buat berikutnya, eh ternyata malah kepikiran adegan.. *tabok OOT sembarangan*

readers hehehe... sengaja bikin begitu biar pembaca biar mau mikir gituu *ditabok* terjawab pertanyaannya di chap ini 'kan? Ngga kok, tapi yang berikut kayaknya, thanks ini updatenya! XD

kritik & saran?

silahkan reviewnya...