"If I Were In Love With Him"
.
.
.
.
.
.
.
.
.
"Yoboseyo?"
"Dia datang."
"Jinjjayo?! Heechul hyung! Dia datang lagi malam ini?"
"Em. Datanglah bersama Changmin."
"Changmin? Dia bilang tidak ingin kemana-mana. Mungkin dia sedang patah hati."
"Kau percaya bocah konyol macam dia patah hati? Kau tetap datang?"
"Tentu. Aku ingin melihatnya lagi!"
"Pastikan kau mendapatkannya malam ini Donghae-ya."
"Serahkan padaku."
"Ok. Kutunggu ditempat biasa." Senyum sumringah menambah kesan childish yang menggandrungi wajah tampan Donghae. Memikirkan probabilitas bahwa dirinya akan memiliki pacar malam ini. Lalu sebagai perayaannya mereka akan beradu kehangatan di ranjang yang sama. Dia sedang tertarik pada seseorang. Seseorang yang di tangkap mata lalu turun ke hati.
Donghae dan Changmin akhir-akhir ini sangat akrab dengan Heechul. Terlibat afeksi pertemanan yang hangat. Heechul adalah sosok penghancur mood sekaligus baik. Kepribadian yang di harapkan oleh orang yang bergolongan darah AB. Mereka berdua dikenalkan tentang kehidupan menyenangkan masa muda versi Heechul. Bukan masuk ke dalam bar, minum hingga mabuk, bukan juga mencandu zat adiktif. Hanya bergabung dalam balapan liar. Sedikit nakal tetapi Heechul jamin kedua bocah awam itu tetap aman. Kenyataan menggelikannya mereka hanyalah sebagai penonton, periuh suasana. Jadi tak ada yang perlu di khawatirkan. Semua orang boleh melakukannya. Terlibat membayar taruhan juga tak masalah. Asal tak meninggalkan sesal.
Donghae sampai di tempat tujuan dengan nyaman. Kendaraannya adalah sebuah taksi. Bocah polos seusianya tidaklah harus menggunakan motor atau mobil pribadi. Karena kepemilikan kendaraan di negaranya sangat dibatasi. Heechul tidaklah sudi memanja teman-temannya dengan sebuah tumpangan. Lantaran mereka masing-masing memiliki kaki dan cara sendiri menemukan solusi. Kenyataan laki-laki harus lebih mandiri itu terdengar keras.
"Yo!" Heechul menyambut Donghae dengan high five. Kemudian Heechul terlibat dalam guyon akrab bersama temannya yang lain. Mengabaikan Donghae. Hey, disini bukan tempat orang-orang sedang berbisnis. Heechul juga bukan ibu Donghae yang menjaga kemana anaknya melangkah pergi. Malam bebas yang sesak dengan orang-orang baru saling berbaur, yang melibatkan diri menghadiri pertemuan untuk satu tujuan.
"Kuperkenalkan. Ini Henry." Heechul menepuk bahu Donghae yang tengah sibuk mencari sosok yang ia taksir baru-baru ini.
"Ah, Lee Donghae." Balas Donghae dengan ramah. Tanpa salam formal. Gaya salam Korea sekarang bukanlah pada masa silam kerajaan. Mereka terlalu condong gaya barat.
"Hoo... kau suka sahabatku, Amber?" Memandangi intens penampilan Donghae dari ujung rambut sampai kaki lalu diulangi. Nada bicaranya meremehkan. Menganggap dirinyalah paling baik di atas yang terbaik. Donghae mengangguk antusias tak acuh siapapun yang memandangi dirinya karena ia memiliki kepercayaan diri yang meluber. Ia tampan dan menarik. Ia pikir ia bisa mendapatkan Amber lebih mudah melalui sahabatnya, ini sebuah kesempatan. Sebuah pemikiran naif dan tipe bocah sekali.
"Kau kira ini sebuah drama? Berpikir mendekati sahabatnya lalu mendapatkan door prize. Itu yang kau pikirkan tentangku melihat keantusiasmemu. Aku hanya tertarik pada niat orang yang akan mendekati Amber. Selain itu aku tak peduli." Bahu Donghae merosot. Heechul terbahak memasang lamat-lamat telinganya, respon Henry di luar prediksi dan Donghae yang kecewa. Tidak salah langkah ia mengenalkan keduanya demi sebuah tontonan semacam ini.
"Kuceritakan sebuah kisah menarik. Aku sudah ditolak mentah berkali-kali olehnya. Kau yakin tak akan mundur?" Donghae dan Heechul terbahak. Berapa kalipun Heechul mendengar kisah Amber-Henry tetap saja sangat lucu.
"Kau mempermalukan diri sendiri di depan orang lain. Terimakasih atas ceritamu. Aku pasti akan mendapatkannya." Donghae berlalu dari hadapan Henry. Keyakinannya setara kepercayaan dirinya malam ini. Sedang full sampai tak muat wadahnya. Balapan motornya akan segera dimulai. Ia harus berdiri di deretan paling depan untuk menyaksikan jagoannya unjuk gigi. Siapa lagi alasan Donghae untuk datang kemari kalau bukan untuk melihat Amber yang sudah siap di garis start.
"Ya! Hyung. Kau tidak bilang padanya kalau Amber suka wanita?" Heechul lagi-lagi tertawa. Ia terlalu banyak menggunakan urat tawanya malam ini.
"Aku lupa."
.
Donghae menaiki motor yang Amber tunggangi. Tentu saja ia sedang melakukan pendekatan. Melakukan sedikit trik murah yang terbesit di kepalanya. Balapan sudah berakhir. Dewi fortuna berpihak pada Amber malam ini, dia menang dan memiliki seluruh uang taruhan. Keberuntungan juga saingan terberatnya sedang absen balapan.
"Fuck you Son of the bitch! Jerk off!" Amber melepas helmnya dan melirik tajam orang di belakangnya yang seenaknya bergabung dengannya. Menambah bobot motor besarnya yang sudah berat.
"I won't." Donghae tetap bergeming meski Amber menggoyangkan motornya.
"Jerk off!" Donghae tersenyum puas di belakang. Ia akan membuat wanita tomboy itu mengingat namanya tentang bagaimana ia memposisikan dirinya sendiri sebagai orang yang di anggap menyebalkan.
"Aku akan minggir kalau kau setuju menjadi kekasihku."
"Jerk off of me you Motherfucker! I will fucking suck your man-ass. I'm counting now. One...two...-"
"Okay. I get it. Stop make me startled." Donghae turun dari motor begitu mengerti bahwa wanita tomboy ini akan susah di dekati. Sedikit kecewa, namun kepercayaan dirinya tak luntur.
"Lee Donghae. Handsome guy. So fucking fabulous on the bed." Donghae memperkenalkan diri. Kata-kata ini ia belajar dari Heechul. Bagaimana cara memperkenalkan diri kepada orang yang membuat kita tertarik. Menggigit bibir bawahnya. Memberikan tatapan tajam menginginkan ke arah lawan bicaranya dengan obsidiannya yang kecil.
Tetapi sia-sia. Amber kembali memakai helmnya lalu tanpa berkata-kata pergi meninggalkannya bersamaan jari tengah tangannya yang dilihat Donghae menjauh. Ia sukses jatuh dalam kegagalan. Mengacak rambutnya kemudian tersenyum.
"Dia tampan sekali dilihat dari dekat. Aku pasti akan mendapatkannya."
"Cepat pergi! Polisi akan datang!" Lamunan Donghae buyar. Ia sedang berandai-andai jika ia bisa menaklukan wanita liar itu di atas ranjangnya. Lalu terlibat adu jotos yang keren. Membuahkan lebam yang ia cap sebagai pengalaman lelaki dewasa di tahun remajanya. Ia harus segera menyelamatkan nyawanya sendiri baru berkhayal lagi nanti.
Malam Donghae tidak seindah malam Kibum bersama Kyuhyun yang saat ini sedang menghabiskan waktu di penginapan. Tetapi tidak seburuk malam Changmin yang tengah sedikit menggalau.
.
.
.
"Kau mau bernegosiasi denganku? Kau pikir mencari uang itu semudah menjual diri? Ah! Geurae! Jual saja dirimu dengan begitu uangku kembali."
"Jebal! Hyungnim.. beri aku waktu dua bulan! Aku akan mencari uang dengan giat. Jebalyo..."
"Ya! Pergi dari kakiku! Kau pikir aku pohon uangmu! Aku ingin uangku sekarang! Suruh Ayahmu yang sekarat mencari uang!"
"Je-jebalyo... jebal...Hyungnim... aku akan mengembalikan uangnya dalam dua bulan. Aku janji."
"Janji? Kau pikir aku anak seusiamu?! Janji! Janji! Aku butuh jaminan. Kau punya apa dirumah, eoh? Satu bulan. Jika kau tidak bisa melunasi semua hutang-hutang keluargamu, akan ku jual rumah gubukmu!" Kegaduhan yang berlangsung alot tadi lenyap sudah. Suara desiran angin laut menjadi fokus Kim Ryeowook.
"Appa... eoteohkke? Bagaimana aku bisa melunasinya?" Keluhan hanyalah tanda kelemahan seseorang. Kim Ryeowook, tengah mengeluarkan unek-uneknya setelah tadi bertemu kembali dengan rentenir yang selalu menjadi kewaspadaannya sepanjang hidup, pada Ayahnya yang berbaring lemah di atas ranjangnya, di dalam sebuah rumah gubuk di tengah-tengah rumah lain di pinggir pantai Mokpo.
"Ryeowook-ah, Maafkan Appa yang menyusahkanmu. Seharusnya kau bisa meneruskan kuliah kalau Appa tak sakit. Appa seharusnya bisa membeli kapal sendiri. Appa seharusnya bisa menghidupi Eommamu sehingga kita tak kehilangannya. Appa seharusnya bisa membuat keluarga kita kaya. Appa seharusnya-" Mantan nelayan yang kini sakit-sakitan itu hanyalah mengadu betapa menyedihkannya seorang Ayah seperti dirinya di mata anaknya. Bukan malah menjaga wibawanya sebagai orang tua.
"Jebal Appa.. berhentilah menyalahkan kenyataan. Aku adalah seorang namja. Aku kuat Appa. Aku akan mencari uang bagaimanapun juga."
"Dengar. Appa akan menceritakan aib besar ini padamu. Appa punya seorang dongsaeng. Tetapi Appa terlalu malu bertemu dengannya. Appa pernah melakukan kesalahan besar. Appa membunuh orang yang dia cintai yang dulu mencintai Appa karena Appa ingin kami berdua tak saling berseteru. Appa benar-benar khilaf. Namun, kesalahan itu sungguh tak termaafkan berapa kalipun Appa meminta maaf tetap tak mengembalikan wanita itu. Hingga kakek nenekmu meninggal, lalu dia memutuskan persaudaraan diantara kami berdua. Namanya Kim Tae il. Dia adalah satu-satunya saudara kandung Appa. Temukan dia. Dan mintalah pertolongan padanya. Appa yakin ia tak akan mengabaikanmu sebagai keponakannya."
"Appa..."
.
.
.
"Kau belum tidur?" Kyuhyun membawa bantalnya keluar menyusul Kibum yang tiduran di luar kamar penginapan. Ia melempar bantalnya di samping Kibum yang tengah serius memandangi langit malam. Setelah berendam yang nyaman, melemaskan segala beban pikiran yang membuat penuh otak, Kyuhyun tampaknya belum menginginkan pelemasan otot lain, tidur.
"Aku seperti baru menemukan langit seindah ini." Kibum menerawang. Langit hitam penuh bintang dan bulan menarik segala atensinya. Hawa kehadiran Kyuhyun di dekatnya belum cukup bisa mengalihkannya. Ia sedang tenggelam dalam euforianya.
"Jinjja? Apa kau tak pernah tidur di luar seperti ini sebelumnya?" Menggeleng. Kibum menggeser tubuhnya mendekati Kyuhyun tanpa menolehkan pandangannya dari langit.
"Rumahku tidak di desain tradisional seperti rumah korea kebanyakan."
"Kau bisa tidur di balkon rumahmu."
"Ide bagus. Tapi nanti kalau kau sudah menjadi teman hidupku."
"Ya! Shi...pal."
"Kyu?"
"Hm."
"Kyu?"
"Mwoya?"
"Kau pilih mana, aku memanggilmu 'Kyu' atau kau memanggilku 'Hyung'?" Memandang bintang, Kibum sematkan harapan bahwa suatu saat nanti dirinya akan mendengar Kyuhyun memangilnya 'Hyung' sekali saja.
"Nonsense."
"Kyu?"
"Hm?"
"Cho Kyuhyun?"
"Mworago?"
"Kau pilih awan atau langit?"
"No comment." Kyuhyun merapatkan yukata panjangnya hingga menghilangkan kedua ujung kakinya yang dirayapi udara malam. Dingin.
"Jawab saja."
"Shiro. Bagaimana denganmu?"
"Aku memilih langit kalau kau pilih awan. Aku akan pilih awan kalau kau suka langit."
"Waeyo? Aku tak punya pilihan kalau begitu."
"Apa kau penasaran?"
"Kau duluan yang memulai Kim."
"Aku memilih langit kalau kau pilih awan. Karena aku akan tetap menjadi pribadi yang sama meski kau berubah dan pergi dariku. Aku akan pilih awan kalau kau suka langit. Karena aku ingin kau seperti dirimu yang sama meski aku akan terhapus dari dunia ini."
"Aku tak mengerti."
"Kau akan mengerti kalau kau menjadi kekasihku sekarang."
"Ya! Sekiya! Berhentilah mempermainkanku Kim Kibum."
"Dan berhentilah berpura-pura mengabaikan perasaanku jika kau sudah tahu bagaimana perasaanku padamu." Kyuhyun tertegun. Ia tak sanggup menoleh bahkan melirik Kibum dengan ujung matanya. Mulutnya refleks mengatup rapat. Kata-kata Kibum terdengar putus asa. Dan rapuh. Seperti orang lain yang sedang berbicara.
"Kibum..." Kyuhyun terperanjat. Kibum memeluknya erat dari samping.
"Maafkan aku yang terbawa emosi. Biarkanlah kita tetap seperti ini. Jebal." Kyuhyun berbalik memeluk Kibum. Mengendurkan kekeras kepalaannya. Biarlah untuk saat ini Kyuhyun menganggap Kibum hanya sebatas teman. Karena waktu masih tetap berjalan, semakin panjang lalu semakin sempit bagi Kibum. Asal dirinya masih bisa mengawasi Kyuhyun. Asal tak menyapa seperti orang asing, itu pun cukup. Ya, waktu masih berjalan. Siapa yang tahu jika benang merah sudah mengikat mereka.
.
.
.
Kuku jarinya terlihat baik-baik saja. Bersih dan rapi. Changmin tidak pernah suka kuku panjang yang menyimpan banyak kuman di tangannya untuk memakan cemilan. Hari ini terasa sangat panjang. Di mulai dari menerima pesan singkat dari wanita di masa lalunya yang masih ia cintai. Lalu tak makan malam masakan ibunya yang pulang terlambat.
Kuku-kuku jarinya masih menjadi fokusnya. Suasana hatinya sedang tak menentu. Keheningan malam mendukung suasana. Semua orang memiliki masa lalu. Entah itu menyenangkan atau menyakitkan. Yang jelas kita tak bisa menghapusnya, yang hanya kita bisa adalah memilih mana yang baik untuk di simpan dan di kenang. Lalu menjadikan evaluasi dari segala hal yang telah terjadi. Masa lalu kelam yang terjadi pada ibunya juga dirinya. Hingga berdampak pada dirinya di masa depan.
Namanya Victoria Song. Selisih umurnya tiga tahun lebih tua daripada dirinya. Empat bulan yang lalu mereka adalah sepasang kekasih. Namun, kini telah berakhir. Changmin sangat mencintainya. Begitu juga sampai sekarang. Rasa itu masih tertinggal. Hubungan mereka kandas karena Changmin terlalu takut. Kejadian Ayahnya yang meninggalkan Ibunya akan terulang suatu hari nanti.
Changmin tidak takut untuk jatuh cinta. Dia bukanlah penderita phobia mengerikan semacam itu. Dia hanya takut bahwa dia akan meninggalkan seseorang yang ia cintai suatu hari nanti. Saat dirinya terlibat dalam suatu komitmen pernikahan di masa depan. Seperti yang terjadi pada kedua orangtuanya. Peristiwa besar yang menjadi momok mengerikan bagi Changmin. Yang membayangi pilihan-pilihannya di masa depan. Beban hidupnya yang berat di balik topeng ceria dan konyolnya yang ia pasang sebagai tameng. Agar orang-orang juga tak tertular nasib buruknya.
.
.
.
Satu malam yang penuh peristiwa. Penuh asa. Malam yang bertabur bintang.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Banting setir dari rencana awal! Fi akan buat banyak perubahan buat ganjelan. Biar ga monoton. Krna chapter2 sebelumnya sangaaat membosankan. Fokus di moment jadinya jelek banged! bukan berarti wordnya akan banyak hahaha ini karya Fi aseli. Fi sangat menghargai meski gaya menulisnya jelek.
So keep your review then please^^
