Title : I LIKE YOU THE BEST
Pairing : Dongseob (Dongwoon Yoseob B2ST)
Cast : B2ST, SHINEE, TVXQ, MBLAQ
Warning : Yaoi
Rating : PG 13
CHAPTER 8
SPY
Sudah dua minggu Hyunseung berada di CHS. Walaupun hari-hari bersama Hyunseung terasa berat bagi Dongwoon dan Junhyung, tetapi mereka berdua sudah bisa membiasakan diri dengan kehadiran nenek lampir yang selalu membuat mereka kesal. Sekarang, Dongwoon sudah tak ambil pusing dengan kehadiran Hyunseung karena sekarang tiap kali nenek lampir itu mendekat, Dongwoon akan menghindarinya dan memilih pergi bersama Yoseob, entah ke perpustakaan atau kemanapun, yang penting menjauh dari Hyunseung. Sedangkan Junhyung sekarang mulai memberanikan diri untuk mendekati Hyunseung secara terang-terangan.
Siang ini, matahari bersinar dengan sangat terik. Anak-anak yang sedang mengikuti pelajaran terakhir di dalam kelas menjadi malas untuk mendengarkan penjelasan guru karena banyak yang mengantuk dan tidak sedikit yang sibuk dengan urusannya sendiri. Mereka berharap bel pulang akan segera berbunyi. Cuaca yang panas dan pelajaran yang membosankan membuat anak-anak mencari aktivitas lain untuk mengisi waktu mereka.
Dongwoon yang duduk di sudut paling belakang kelas membuka lebar-lebar jendela yang ada di sampingnya dan membuka beberapa kancing bajunya. Sedangkan tangannya sesekali menyeka keringat yang membasahi dahi dan wajahnya. Di sampingnya, pemuda imut yang telah kembali duduk di tempatnya semula tengah serius memperhatikan pelajaran. Entah apa yang menarik dari materi yang tengah dijelaskan, tetapi pandangan mata Yoseob tak pernah lepas dari papan tulis dan buku pelajaran yang berada di hadapannya.
.
.
.
Dongwoon POV
Mrs. Han, guru Fisika tengah menerangkan materi Kalor. Materi yang sebenarnya cocok sekali dengan cuaca hari ini. Panas. Dengan serius, guru yang berparas manis ini menjelaskan satu persatu rumus yang berhubungan dengan kalor. Tapi, pandanganku tak bisa beralih dari Yoseob. Pemuda imut di sampingku ini sedang sibuk mencatat beberapa rumus di buku catatannya dan memberikan beberapa hiasaan kecil agar rumus itu lebih menarik dilihat. Tangannya menggoreskan tinta warna-warni yang disulapnya menjadi aneka bentuk hiasaan indah.
Aku terus menatapnya. Entah sudah berapa lama aku menatapnya seperti ini, tapi aku masih saja belum puas dan masih ingin menatapnya terus menerus. Beberapa hari terakhir ini aku selalu memimpikan Yoseob dan semua yang pernah terjadi antara aku dan semua targetku di masa lalu. Aku merasa bersalah karena telah melakukan hal bodoh seperti itu, tapi aku tak punya pilihan lain saat itu.
Flashback
Ini adalah tahun pertamaku di CHS. Aku berharap banyak hal menarik yang akan terjadi dan aku bisa mempunyai banyak teman. Walaupun aku merasa sangat bahagia bisa berteman dengan Doojoon hyung dan Junhyung. Mereka benar-benar sahabatku yang mengerti aku apa adanya. Tiga tahun bersama mereka adalah waktu-waktu terbaik dalam hidupku. Beruntunglah, mereka berdua juga masuk ke CHS. Dan betapa beruntungnya lagi saat aku tahu bahwa kami bertiga kembali satu kelas.
Tiap istirahat, kami bertiga akan pergi ke kantin dan makan siang bersama. Doojoon hyung akan selalu bercerita tentang pertandingan sepakbolanya dan tim sepakbola sekolah yang sekarang sudah ia masuki. Doojoon hyung memang berbakat dalam bidang olahraga terutama sepakbola. Sejak Junior High School, dia selalu menjadi andalan sekolah dalam berbagai event olahraga antarsekolah. Dan yang pasti dia selalu membanggakan sekolah. Entah sudah berapa banyak piala yang ia sumbangkan untuk sekolah kami waktu itu. Dan aku berharap, di CHS ini dia juga bisa melakukan hal yang sama, atau bahkan lebih.
Kalau Doojoon hyung selalu bercerita tentang sepakbola, maka Junhyung hyung akan bercerita tentang bagaimana ia jatuh cinta pada hip hop. Aliran musik yang satu itu telah membuat Junhyung hyung menjadi seorang rapper yang handal. Bukan hanya keahlian dalam bidang bermusik saja, tetapi dalam style keseharian, Junhyung hyung akan mengikuti tren yang sedang berlangsung. Sebagai contoh, tahun ini saja rambutnya dipotong Mohawk dan setiap berangkat ke sekolah ia selalu memakai topi dan kacamata hiphop kesayangannya.
Lain halnya denganku. Aku begitu tertarik dengan piano. Di rumahku, eomma membelikan grand piano yang sangat kuimpi-impikan di hari ulangtahunku. Setiap hari aku akan memainkan berbagai macam lagu dengan piano kesayanganku itu. Aku berharap bahwa suatu hari nanti aku akan menjadi pianis hebat.
Tapi semua impianku hancur seketika saat seorang anak mengatakan sesuatu yang membuatku marah besar.
Saat itu istirahat sedang berlangsung dan aku sedang berada di kamar mandi sekolah. Kelas kami baru saja selesai pelajaran olahraga, tepatnya basket. Karena badanku basah oleh keringat, maka kuputuskan untuk mandi lebih dulu sebelum kembali ke kelas. Saat aku selesai mandi, kudengar seseorang berkata.
"Kau tahu, anak baru yang bernama Son Dongwoon?" tanya seseorang yang bersuara parau.
"Ne, anak yang katanya jago main basket itu?" temannya menyahuti perkataan si parau.
"Yah, anak itu. Kau tahu kalau dia tak punya ayah?"
"Mwo? Maksudnya?"
"Ayahnya tak mau mengakuinya dan ibunya. Kudengar ibunya adalah pelacur makanya ayahnya meninggalkan mereka berdua dan tidak menganggapnya anak," si parau kembali berkoar.
"Jincha?" temannya masih tidak percaya dengan perkataan si parau.
Aku tahu suara itu. Pemilik suara itu adalah kakak kelasku yang dianggap sebagai kingka sekolah ini. Dia ditakuti oleh hampir semua anak di sekolah. Aku kenal betul siapa dia. Dari Elementary School, Junior High School sampai sekarang kami bersekolah di tempat yang sama. Bahkan rumahnya tidak jauh dari rumahku. Dia tipe anak yang suka menyiksa orang lain dan mengganggu orang lain.
Mendengar perkataannya itu, tangan kananku terkepal dan sangat ingin sekali rasanya aku memukul wajahnya yang menyebalkan itu. Tapi, aku masih menahan amarahku karena aku pikir, kalau aku memukulnya, hal itu tidak akan berakibat baik.
"Benar, pernah sekali ibuku memergoki ibunya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk dan bersama seorang lelaki yang jelas-jelas bukan ayahnya. Dan kau tahu, di depan pintu gerbang rumah mereka, kedua orang itu berciuman," si parau semakin menggebu-gebu saat menceritakan kebohongan ini pada temannya.
"Waw, tak kukira. Jadi Son Dongwoon itu anak haram?"
"Tentu, bagaimana bisa pelacur punya anak hanya dengan satu laki-laki."
Mendengar perkataan yang sudah sangat keterlaluan itupun aku naik pitam. Tak peduli bahwa dia adalah kingka sekolah, aku langsung membuka pintu kamar mandi tempatku berada dan berlari ke arahnya dengan tangan terkepal. Kutinju mukanya yang saat itu akan melanjutkan fitnahnya terhadap eomma. Temannya yang berada di samping si parau pun sangat terkejut mengetahui aku sudah melumpuhkan si kingka. Tanpa mempedulikan sekitarku, aku terus memukul wajahnya dan kutendang ia beberapa kali. Aku benar-benar tak peduli kalau sekarang wajahnya sudah bersimbah darah. Karena kemarahanku sangat besar, tangankupun tak henti-hentinya menghujamkan pukulan-pukulan maut ke wajah, dada dan sesekali kakiku ikut melancarkan tendangan ke sisi tubuhnya.
Saat si parau sudah menggelepar tak karuan di lantai kamar mandi sekolah, aku berdiri dan berteriak,"YOU SON OF A BITCH! FUCK OFF, I HOPE YOU'LL DIE TOGETHER WITH YOUR SINFULL MOUTH!" kuludahi tubuhnya yang tak berdaya itu dan setelah itu aku pergi keluar dari kamar mandi sekolah menuju kelasku.
Saat masuk ke kelas, semua tatapan tertuju padaku. Bagaimana tidak? Baju dan tanganku penuh dengan darah. Guru yang tengah mengajar pun segera mengalihkan perhatiannya padaku dan berteriak padaku,"YAH! APA YANG KAU LAKUKAN?"
Aku tak memedulikan semua pandangan itu, termasuk pandangan Junhyung hyung dan Doojoon hyung dan aku terus berjalan ke tempat dudukku. Kuraih tas dan semua barang bawaanku kemudian aku pergi dari sekolah. Aku tak tahu harus kemana saat itu. Aku tak mungkin pulang ke rumah, tapi harus kemana lagi aku pergi. Apa aku telah membunuh orang? Aku tak tahu, pikiranku sangat kacau waktu itu.
Kulajukan sepeda motorku dengan kecepatan penuh dan kuterobos semua kendaraan yang menghalangi jalanku. Pada saat itu aku tak tahu kenapa aku masih hidup sampai sekarang. Kenapa aku tidak mati saat mengebut di jalan. Dadaku masih terasa sesak dan tubuhku gemetaran. Saat melihat sebuah taman yang agak sepi aku menghentikan sepeda motorku dan aku memilih untuk berjalan ke salah satu bangku taman yang kosong.
Kueratkan jaket yang kukenakan dan kusiram tanganku yang berlumuran darah dengan air minum botol yang kubawa dari rumah hingga darah yang tadinya melekat tak lagi bersisa. Kurebahkan tubuhku dan kutatap langit yang seolah-olah mengolok-olokku dengan mencibirkan bibirnya. Aku telah melakukan hal yang bodoh.
"Apa yang telah kulakukan?"
Aku ingin berteriak sekuat tenaga, tapi tidak ada suara yang berhasil keluar dari tenggorokanku. Aku hanya menatap langit yang masih menertawakan kebodohanku, hingga tiba-tiba kudengar suara seseorang terjatuh.
Kucari asal suara itu dan kutemukan seorang pemuda yang mungkin seumuran denganku terjatuh tak jauh dari tempatku duduk sekarang. Kudekati tubuhnya yang terjerembab ke tanah dan kubalikkan tubuhnya. Wajahnya memar dan kulihat beberapa bekas luka di tangannya.
"Yah, bangun. Apa kau bisa mendengarku?"
Tidak ada jawaban yang keluar dari bibir mungilnya itu.
Kugoncangkan sekali lagi tubuh mungilnya dan tetap tidak ada respon. Pemuda di pelukanku itu pingsan. Tanpa pikir panjang kubawa pemuda itu ke rumah sakit terdekat. Aku tak menunggu sampai dokter selesai memeriksanya karena aku tak mengenal pemuda itu. Aku hanya memasukkan kalung kesayanganku ke dalam tas anak itu sebagai tanda perkenalanku. Entah nantinya aku bisa bertemu lagi dengannya atau tidak aku tidak tahu.
Tapi jujur, aku merasa sangat kasihan padanya. Badannya yang kecil dan lemah terlihat sangat tidak berdaya dalam keadaan seperti itu. Siapa yang telah melakukan hal seperti itu padanya. Aku berharap, siapa pun yang melakukan kejahatan itu akan mendapatkan balasan yang setimpal dengan apa yang dirasakan oleh anak itu. Atau bahkan kalau bisa lebih.
Keesokan harinya kuketahui bahwa satu sekolah tengah ribut membicarakan tentang aku. Tentang aku yang berhasil mengalahkan si kingka sekolah dan menjadi anak berandalan. Guru-guru banyak yang tidak percaya bahwa aku telah melakukan perbuataan seperti itu, tapi saksi dan bukti sudah memperjelas semuanya sehingga aku memperoleh hukuman skorsing dua minggu saat itu. Doojoon hyung dan Junhyung hyung benar-benar tidak percaya bahwa aku telah melakukan perbuatan seperti itu. Mereka tidak menyalahkanku, bahkan mereka selalu berada di sisiku saat aku berada dalam keadaan yang tertekan.
Junhyung hyung mengatakan bahwa si parau yang telah kuhabisi itu sekarang berada di rumah sakit dan kondisinya sangat kritis, tapi dia tidak akan mati hanya dengan luka-luka seperti itu. Dia pasti hanya akan mengalami operasi plastic karena wajahnya benar-benar hancur. Selain itu, mereka mengatakan bahwa si parau melakukan hal seperti itu karena dia ingin membuat reputasiku buruk di mata semua orang. Karena dia takut bahwa aku akan merebut posisinya sebagai kapten tim basket sekolah yang selama ini diincarnya. Doojoon hyung hanya terus menerus menenangkanku dan mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja. Dan satu yang membuatku heran, eomma tidak memarahiku setelah mengetahui apa yang kulakukan. Aku tak tahu, aku telah mengatakan pada eomma semuanya, tentang mengapa aku melakukan hal itu dan bagaimana keadaan anak yang telah kuhajar itu, tapi eomma tidak berkata apa-apa. Sikapnya masih sama seperti hari-hari biasa dan aku sangat bersyukur akan hal itu.
Sejak saat itu, anak-anak satu sekolah menganggapku sebagai kingka baru. Anak-anak mulai menjauhiku dan tidak berani mengata-ngataiku di depan mataku. Mereka takut kalau-kalau aku akan melakukan hal yang sama seperti apa yang telah kulakukan pada si parau. Dan mulai saat itu, sikapku berubah dingin. Aku tak peduli dengan semua anak yang berada di sekitarku kecuali Doojoon hyung, Junhyung hyung, Jonghyun hyung dan Key.
Sejak saat itu pula aku akan menghajar siapapun yang berani mengatakan hal buruk mengenai orangtuaku, terutama eomma. Targetku selama ini adalah anak-anak yang bermulut besar yang dengan berani-beraninya menjelek-jelekkan kedua orangtuaku. Aku tak akan pernah memaafkan siapapun yang berani mengatakan hal seperti itu terhadapku.
End of FLASHBACK
Aku jadi heran sendiri, mengapa saat aku melihat Yoseob untuk pertama kalinya, aku mengatakan bahwa ia akan menjadi tergetku. Dia bahkan murid baru yang benar-benar tidak tahu menahu mengenai diriku dan keluargaku. Untung saja Doojoon hyung mengingatkanku akan hal itu. Bahwa aku hanya akan menghajar orang-orang yang menyakitiku dan bukan anak tak berdosa seperti Yoseob. Itulah sebabnya aku merasa sangat bersalah pada Yoseob.
Tapi beruntunglah, sekarang Yoseob sudah tidak begitu takut padaku. Dia sudah menganggapku sebagai temannya. Maklum saja, Key dan Jonghyun sedang sering meninggalkan Yoseob sendiri karena mereka sedang mengurus acara sekolah yang sebentar lagi akan diadakan. Itulah sebabnya sekarang aku punya banyak waktu luang bersama pemuda imut ini.
Tanpa terasa, aku tersenyum-senyum sendiri seperti orang gila. Kalau bukan karena Yoseob memandangku dengan pandangan aneh, pasti aku masih akan terus tersenyum seperti itu.
End of Dongwoon POV
.
.
.
"Dongwoon-ah, gwaenchana?" tanya Yoseob pada Dongwoon yang sedang tersenyum-senyum sendiri.
Dengan salah tingkah, Dongwoon menjawab,"Ah, ne. Gwaenchana."
"Syukurlah kalau kau baik-baik saja. Sebaiknya kita pulang sekarang. Kita harus menyiapkan barang-barang untuk MT."
"Mwo? MT?" Dongwoon yang sedari tadi memang tidak memperhatikan penjelasan guru menjadi bingung sendiri.
Mengetahui Dongwoon yang ketinggalan informasi mengenai MT yang akan dilaksanakan liburan ini, Yoseob segera memberitahukan segala sesuatu yang didengarnya tadi. Pemuda blasteran di depannya hanya mengangguk-angguk tanda mengerti.
MT? Pasti akan menjadi pengisi liburan yang menyenangkan.
.
.
.
Dongwoon berjalan menuju sepeda motornya yang terparkir rapi di parkiran sekolah. Dengan segera ia menjalankan sepeda motornya dan menghampiri seorang pemuda yang tengah berjalan keluar dari gerbang sekolah.
"Yoseob-ie, butuh tumpangan?" tanya Dongwoon dengan senyuman maut yang menampilkan deretan gigi putihnya pada pemuda imut yang kedua tangannya sedang menggenggam erat gantungan tas punggungnya.
"Aku bisa jalan dari sini ke rumah."
"Aish, ayolah. Daripada berjalan kaki, aku akan mengantarkanmu pulang. Eotte?" si kingka sekolah masih tidak mau menyerah.
"Baiklah," akhirnya senyum Dongwoon kembali mengembang mendengar satu kata yang dinanti-nantikannya.
Yoseob dan Dongwoon kemudian pergi meninggalkan sekolah diiringi dengan tatapan heran murid-murid yang kebetulan lewat di gerbang sekolah. Mereka heran, mengapa kingka sekolah mereka bisa berubah secepat itu.
Tanpa mereka sadari, seorang pemuda dengan jaket hitam dan kacamata juga ikut mengwasi Dongwoon dan Yoseob yang baru saja meninggalkan sekolah. Dia menyeringai licik saat mengetahui apa yang dicarinya telah berhasil ditemukan.
"Dongwoon-ah, tunggu pembalasanku. Kau harus merasakan apa yang kurasakan selama ini," ucap pemuda itu sambil mengusap kumis yang menghiasi wajahnya.
.
.
Seorang pemuda tengah duduk di salah satu tempat duduk di tribun stadion sekolah. Pandangan matanya hampa dan pikirannya melayang kembali ke hari kemarin saat Kikwang mengatakan sesuatu padanya yang membuatnya sangat terkejut hingga sekarang.
FLASHBACK
"Hyung, kembalilah ke tim sekolah."
"Tapi,.. aku…"
"Pelatih telah keluar. Sekarang kita punya pelatih baru. Tidak akan pernah terjadi lagi hal seperti itu. Hyung, kumohon kembalilah ke tim," Kikwang menggenggam erat kedua tangan Doojoon yang gemetaran mendengar kabar itu.
Doojoon sangat terkejut mendengar berita dari Kikwang. Pelatih mereka telah pergi. Itu artinya, orang yang ia benci sudah tidak ada disini lagi. Itu artinya dia sudah tidak perlu membenci pertandingan sekolah lagi. Apa itu juga artinya dia bisa kembali ke tim sekolah.
Kikwang seolah mengetahui apa yang dipikirkan oleh hyungnya itu segera memeluknya. Dia tahu hyungnya telah mengalami masa yang berat setelah keluar dari tim sekolah. Pelatih mereka telah menyebarkan berita yang keterlaluan mengenai Doojoon. Dia mengatakan bahwa Doojoon kabur dari pertandingan karena tidak kuat menerima beban sebagai kapten, padahal secara nyata pelatih tahu bahwa ia pergi karena orangtuanya dalam keadaan kritis.
"Hyung, sekolah membutuhkanmu. Aku tak tahu siapa lagi yang bisa kumintai tolong selain dirimu. Setelah kau keluar dari tim, pemain yang lain merasa kehilangan semangat. Permainan kami jadi tak sebagus dulu. Dan kita belum pernah menang lagi hyung. Aku mohon, pertimbangkan kesempatan ini," Kikwang merasakan sekarang lengan Doojoon melingkar di pinggangnya.
"Kikwang-ah, aku tak tahu apa aku masih bisa bermain di sana lagi."
"Hyung, aku yakin pasti kau bisa melakukannya."
"Tapi, aku telah membuat tim kita kalah saat itu."
"Hyung, semuanya telah berlalu. Kita bisa memulainya dari awal."
"Apa mereka masih mempercayaiku?"
"Tentu hyung. Walaupun orang di luar tim akan mengatakan hal yang tidak-tidak tentangmu hyung, tapi teman-teman satu timmu tidak akan pernah melakukan hal seperti itu. Mereka semua percaya padamu hyung," Kikwang mencoba meyakinkan Doojoon agar kembali merumput bersama tim sekolah.
"Kiki, apa benar pelatih telah pergi?"
"Hyung, percaya padaku. Kepala sekolah sendiri yang telah memecat pelatih Om. Dia tidak akan kembali lagi kemari."
Doojoon memejamkan matanya dan berpikir sesaat. Dia masih memeluk Kikwang. Dia tak ingat lagi, kapan terakhir kalinya Kikwang menenangkannya seperti ini. Kalau tidak salah itu sudah satu tahun yang lalu. Saat sekolah mereka memasuki babak semifinal. Kikwang berusaha menenangkannya dari nervous saat mereka akan menjalani babak terakhir semifinal.
"Hyung, aku akan selalu bersamamu hyung. Kau adalah pemain terbaik yang pernah dimiliki sekolah, dan akan selalu seperti itu."
"Gomawo."
End of Flashback
.
.
.
Seorang perempuan berusia empat puluhan tengah duduk manis di beranda sebuah rumah bernuansa klasik. Tangan kanannya memegang sebuah cangkir berisi teh hijau yang baru saja disajikan. Seorang lelaki tua duduk di seberang meja kecil yang memisahkan mereka berdua. Beberapa saat kemudian datanglah wanita tua yang membawa beberapa makanan kecil dan meletakkannya di samping poci teh hijau di atas meja dan kemudian ia duduk di samping suaminya.
"Dam Bi, apa kau benar-benar sudah memikirkannya?" tanya lelaki tua yang berada di seberang meja.
Perempuan yang diajak bicara itu meletakkan cagnkir yang dipegangnya kemudian menarik napas dalam sebelum akhirnya menjawab dengan pasti,"Ne appa."
"Kau yakin nak, apa kau tidak akan menyesal? Kau masih muda nak. Dam Bi, eomma mohon, pertimbangkanlah sekali lagi keputusanmu," wanita tua yang duduk di samping suaminya kini menunjukkan ekspresi khawatir mendengar putrinya menolak usulan untuk menikah lagi.
"Eomma, aku sungguh-sungguh."
"Kenapa kau memutuskan tidak akan menikah lagi Dam Bi?" ayahnya kembali bicara.
Son Dam Bi mengalihkan pandangannya dari kedua orangtuanya menerawang menembus pagar rumah di depannya menuju seorang laki-laki yang berada nun jauh di sana.
"Dam Bi, eomma tahu kau sangat mencintai Yunho. Tapi dia telah meninggalkanmu nak."
"Eomma. Aku mencintainya, dan akan terus seperti itu."
"Apa kau tak ingin Dongwoon punya seseorang yang bisa dipanggilnya ayah?" ibunya melanjutkan perkataannya.
Pertanyaan itu sontak membuatnya kaget. Dia ingat, selama ini entah sudah berapa ribu bahkan puluhan ribu kali Dongwoon, anaknya, menanyakan siapakah ayahnya, kemana ayahnya pergi, apakah ia akan kembali, apakah ayahnya menyayanginya, apakah ayahnya sama seperti dirinya, apakah ia juga pandai bermain piano, apakah ia akan tumbuh besar seperti ayah, apakah ayahnya akan datang suatu saat nanti dan masih banyak apakah yang pernah Dongwoon tanyakan. Dulu, semuanya dapat dijawabnya dengan senyuman, tapi setelah anaknya beranjak dewasa, ia juga harus menceritakan semuanya.
Dongwoon selama ini tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah. Dalam lubuk hatinya yang terdalam, dia merasa sangat kasihan pada anak semata wayangnya itu. Tapi, apa yang bisa ia perbuat untuk membuat anaknya merasakan kasih sayang ayah? Dia tidak bisa melakukan apa-apa. Dia tidak mungkin menghubungi Yunho dan mengatakan bahwa anaknya merindukannya. Dia masih marah pada Yunho saat itu. Dia berjanji tidak akan menghubungi Yunho lagi, setelah mengetahui bahwa mantan suaminya adalah seorang gay. Dia sangat marah karena ternyata suaminya telah menjadi gay jauh sebelum mereka menikah. Dan lebih parahnya, pasangan gaynya adalah teman akrabnya sendiri, Kim Jaejoong.
Tapi, apa daya. Sekarang ia tak bisa marah lagi pada Yunho maupun Jaejoong. Tanpa Jaejoong, dia pasti sudah mati sekarang. Bagaimana tidak? Satu ginjal yang ada di tubuhnya adalah milik Jaejoong. Lelaki yang memiliki kebaikan luar biasa yang bersedia menyumbangkan salah satu ginjalnya pada mantan istri kekasihnya. Orang yang telah merebut kekasihnya dan menikahinya serta membuat hidupnya hancur.
Kalau saja Dam Bi egois, dia akan menahan Yunho agar tidak pernah pergi dari sisinya. Tapi apa daya, Yunho tak pernah mencintainya. Mereka menikah karena dijodohkan. Ayah Yunho, seorang pebisnis kelas atas yang menginginkan anaknya menikah dengan wanita baik-baik dan memiliki cucu yang dapat meneruskan usahanya. Sebagai anak yang berbakti kepada orang tua, Yunho tak dapat menolak keinginan ayahnya itu. Namun sialnya, dia justru dijodohkan dengan sahabatnya sendiri, Son Dam Bi.
Pada tahun pertama pernikahan mereka, ayah Yunho selalu memaksa Yunho agar segera memiliki momongan, sehingga lahirlah Dongwoon diantara keluarga mereka. Namun naas, di saat Dam Bi mengandung Dongwoon, ayah Yunho meninggal dunia karena serangan jantung mendadak yang diakibatkan karena salah satu karyawannya melarikan sejumlah besar uang perusahaan. Saat itu juga, Yunho memutuskan untuk menceraikan Dam Bi. Beberapa bulan kemudian lahirlah Dongwoon. Dam Bi yang masih kesal dengan ulah Yunho yang menceraikannya, langsung saja mengambil tindakan. Ia tidak ingin Yunho mendekati anaknya, oleh karena itu ia tidak mau menamai anaknya Jung.
Tetapi kemudian ia merasa betapa Jaejoong adalah orang yang baik hati. Saat ia mengalami gagal ginjal, Jaejoong lah satu-satunya orang yang bersedia mendonorkan ginjalnya. Tanpa diminta Jaejoong mengisi formulir persetujuan dan operasi pun dilakukan. Dia bahkan melakukan hal itu tanpa sepengetahuan Yunho.
"Dam Bi, jawab pertanyaan eomma sayang!" lamunan Dam Bi buyar seketika.
"Eomma, aku hanya akan menikah kalau Dongwoon menyetujuinya. Aku tak ingin membuatnya kecewa."
"Son Dam Bi, kau benar-benar keras kepala. Appa sudah tidak tahu lagi apa yang harus appa katakan padamu agar kau mau menuruti perkataan appa. Tapi, appa sangat percaya padamu nak, jadi lakukanlah semua sesuai dengan keinginanmu. Appa hanya akan berdoa yang terbaik untukmu," Mr. Son meminum teh yang ada di hadapannya.
"Kamsahamnida appa," Dam Bi menundukkan kepalanya.
.
.
.
Yoseob POV
Dongwoon begitu baik padaku. Dia bahkan telah menciumku. Apa yang sebenarnya terjadi? Apa jangan-jangan dia menyukaiku. Omo, bagaimana kalo benar dia menyukaiku? Apa yang harus kulakukan? Tiap kali aku berdekatan dengan Dongwoon, detak jantungku bertambah kencang dan kurasakan kegugupan yang luar biasa. Apa aku juga menyukainya?
Aku masih ingat saat pertama kali dia menatapku. Tatapan matanya tajam dan benar-benar tak terlupakan. Kemudian saat kami berdua berada di padang rumput, aku masih ingat betapa malunya aku saat melihatnya tidak memakai baju. Tubuhnya, sangat berbeda dari tubuhku. Badannya sangat atletis, sedangkan aku, beruntung saja aku tidak berbadan gemuk. Dadanya yang bidang dan kekar membuat semua darah di tubuhku seakan berkumpul di wajahku. Aku tak berani menatapnya saat itu karena kurasakan wajahku sudah memerah semerah tomat. Hal serupa juga terjadi tadi siang. Saat aku berbalik menatapnya yang tengah termangu, betapa kagetnya aku ketika melihat beberapa kancing baju Dongwoon tidak terkancingkan dengan benar. Aku tahu, cuaca sangat panas dan pasti dia telah membukanya karena tidak tahan. Hal itu membuat Dongwoon terlihat sangat tampan dan berkharisma. Aku takut, kalau-kalau aku akan terus memperhatikannya seperti itu, jadi kubuka sebuah percakapan singkat mengenai MT.
Dan kejadian saat kami berada di atap sekolah, itu adalah pengalamanku yang paling tidak terlupakan. Dia menciumku. Sebagai seorang laki-laki, seharusnya aku menolaknya dan mungkin seharusnya aku memukulnya karena telah melakukan perbuatan gila seperti itu. Bayangkan, teman laki-lakimu menciummu. Apa yang akan orang-orang pikirkan kalau mereka melihatnya? Tapi, aku tak bisa menolaknya. Tubuhku berkata lain. Aku menyukainya. Seandainya waktu bisa terulang kembali, aku tak akan menolak ciuman Dongwoon lagi. Aku benar-benar menyukainya.
Tapi sayang, Dongwoon menyukaiku atau tidak itu semua belum jelas. Dongwoon tidak pernah mengatakan kalau dia menyukaiku. Hari itu, dia hanya mengatakan bahwa ia ingin menjadi temanku. Tapi, kenapa kalau hanya ingin berteman dia justru menciumku? Apa itu bisa dinalar? Seandainya Dongwoon benar-benar menyukaiku, aku akan sangat bahagia. Bagaimanapun juga, aku telah jatuh cinta pada Dongwoon. Dia adalah seseorang yang selalu kuimpi-impikan dalam hidupku.
Dongwoon, sutu saat aku ingin kepastian darimu. Akan kutanyakan kenapa kau menciumku waktu itu. Aku tak ingin terus berangan-angan dan terbuai imajinasi. Aku harap, saat MT nanti, kau akan menjawab sejujurnya.
TBC
Yah, ini dia chapter 8 yeoreobun….
Ditunggu reviewnya, kamsahamnida..
Buat reader yang pengen full Dongseob moment, mian author belum bisa ngabulinnya di chap ini, karena author lagi nyiapin yang special Dongseob moment buat chap depan. Jadi mohon kesabarannya ya chingu… selain itu, kalo ceritanya cuma berkisar Dongseob, kurang asik chingu (ini menurut author lho, g tau kalo menurut kalian semua), nanti si Junseung sama Dookwangnya mau ditaruh dimana? Kasian khan kalo mereka dianaktirikan?
Oya, mengenai bentuk badan Dongwoon disini, bayangin aja sendiri ya chingu. Dan tebak siapa tuh pemuda yang jadi mata-mata Dongwoon..
Author tetep nunggu ide dari chingu semua buat fic ini ke depannya, terutama buat ide nanti buat di MT'a anak-anak Beast… mohon bantuannya chingu. Oya menurut chingudeul, kira-kira berapa chapter bagusnya ini fic sampai selesai?
