.

.

.

Hana Yori Dango 3

The Next Generation

Season II

.

.

.

Disclaimer

Hana Yori Dango selalu menjadi milik Yoko Kamio–sensei,

sementara Naruto dan karakter-karakter lainnya milik Masashi Kishimoto-sensei.

Written by ButaTokki and CamsaHead

Translated by Ravensky Y-chan

.

.

.

Chapter 8

"Ya ampun, Sasuke, CEPAT!" Hinata memarahi Sasuke sambil mengaitkan lengan mereka untuk menjaga Sasuke agar tidak terpisah dari rombongan. Semuanya sedang menuju ke taman hiburan.

"Aku tidak mengerti mengapa kita harus berjalan kaki. Kita bisa saja menggunakan mobil pribadiku," Sasuke bergumam pahit.

"Dan selama satu detik kupikir kau berubah dari babi menjadi kura-kura, tapi sekarang kau kembali menjadi babi lagi. Jangan terlalu malas!" tegur Hinata.

"Sou, sou! Berjalan kaki baik bagi kesehatan kini dan nanti," Shion setuju.

"Tidak, itu tidak baik. Aku suka mobil. Mobil nyaman dan aman. Mereka diciptakan agar orang bisa MENGENDARAI mereka, bukannya berjalan kaki dan naik kereta. Kau mengubahku menjadi rakyat jelata!" Karin menggerutu bersama Sasuke. Para rakyat jelata di kelompok ini mengabaikannya, mereka sudah terbiasa dengan Karin sekarang.

"Ada yang salah dengan kalian, Uchiha," Tayuya berkomentar.

"Mungkin itu faktor keturunan," kata Ayame, tangannya dengan nyaman berada di tangan Shikamaru.

Sai menatap mereka iri. "Aku setuju, ne, Ino~?" katanya dengan gembira, menyelipkan tangannya ke tangan Ino.

"Aku setuju dengan Ayame," Ino menekankan, menarik tangannya dari sentuhan Sai, berpegangan pada tangan Gaara yang bebas di mana yang satunya melingkari pinggang Sakura (yang mengundang kemarahan besar dari Sasori). Hinata melirik Sasuke yang melihat Gaara dan Sakura, tapi setelah beberapa detik Sasuke berpaling ke arahnya seolah dia tidak tahan melihat mereka.

"AH~ YAY~ Taman hiburan~!" Karin menjerit saat mereka berbalik di belokan dan melihat pintu gerbang besar.

"Sikapnya cepat berubah setelah dia melihat sesuatu yang disukainya," kata Shion, memutar matanya.

"Tapi serius... wow... ini adalah salah satu taman hiburan yang BESAR," kata Sakura, sedikit terperangah melihat ukurannya.

"Indah kan?" kata Hinata, menatap taman hiburan itu dengan bangga, yang lain mengangguk. "Yeah... ini milik ayahku," katanya sambil mendekati pintu masuk, yang lain menatapnyanya sedikit syok. Sepanjang tahun lalu mereka dengan malu harus mengakui bahwa mereka tidak pernah benar-benar bertanya pada Hinata mengenai keluarganya, dia hanya selalu ada. "Aku membantu ayahku mendesain ini. Dia seorang arsitek dan aku ingin menjadi seorang arsitek juga," katanya begitu mereka berada di gerbang. Dia dengan cepat diberi akses ke taman bermain itu seolah-olah itu adalah rumahnya, yang lainnya dibiarkan masuk gratis dan diberi gelang khusus yang memungkinkan karyawan taman bermain tahu bahwa segala sesuatu di sana gratis bagi mereka.

"Hinata, tempat ini sangat besar dan menakjubkan," kata Ino kagum.

"Ya, aku tahu~" kata Hinata saat mereka berdiri di dalam taman, melihat sekeliling yang tak ada batasnya. "Oke, pertama-tama kita akan lewat sini." Dia berkata sambil menunjuk rumah besar dari tempat mereka berdiri. "Itu rumah hantu."

"Hantu?" Karin bertanya, mencengkeram lengan Naruto erat-erat.

"Karin.. lenganku... lepaskan. Kau menghalangi sirkulasi darah!" Naruto berusaha melepaskan cengkraman Karin tapi cengkeramannya justru lebih kuat.

"Ya~ Kita di sini berpasang-pasangan. Sebuah rumah hantu benar-benar mendukung suasana." Hinata berkata sambil menyeringai, matanya melirik ke Sasuke yang menatap Sakura dan Gaara yang saling tersenyum dan Sasuke menghela napas dan memalingkan muka. Hinata merasa jantungnya berhenti berdetak saat melihat itu. Sasuke yang malang.

"Ah~ kasian kau. Kau masuk sendirian," Tayuya menggoda Sai yang menatapnya mengancam.

"Dia takut hantu," Naruto memberi informasi.

"AKU TIDAK TAKUT!" Sai tersentak.

Hinata memanfaatkan waktu bercanda yang sejenak ini untuk membawa Sasuke ke samping, menarik-narik bahunya.

"Aduh! Apa yang kau lakukan?" Sasuke bertanya, belum mau terpisah dari Sakura.

"Shhh!" Hinata mendesak. "Aku perlu berbicara denganmu sebentar!"

"Apa?" Sasuke bertanya, sedikit kesal. Itu mungkin hanya akan berakhir pada rencana Hinata untuk mendapatkan Naruto untuk dirinya sendiri.

"Oke, ini adalah kesempatanmu untuk mendapatkan Sakura, kau dengar?" katanya.

Sasuke mundur. "Hah?"

Hinata memutar matanya. "Jangan begitu bodoh SEKARANG! Ini adalah krisis kehidupan cintamu!" Dia memelototi Sasuke dan Sasuke mengangguk singkat, wajahnya serius.

"Taman ini sangat besar, mungkin ada beberapa cara agar kita berdua mendapatkan apa yang kita inginkan, oke? Yang ingin kukatakan adalah, kau lebih baik berjuang untuknya jika kau benar-benar ingin dia kembali!" kata Hinata.

"Oooiii~! Love birds, ayo JALAN! Aku sudah tidak sabar!" Karin berseru, memperhatikan keduanya.

"Kau senang?" Gaara bertanya pada Sakura.

"Tentu saja!" Dia menjawab dan meringkuk ke sisi Gaara.

"Dan di sini adalah antreannya~" kata Hinata. Yang lain menatapnya, dan Karin berbicara.

"Apa tidak bisa langsung saja?"

Hinata menggeleng. "Tidak, aku ingin kalian menikmati pengalaman di taman hiburan ini sepenuhnya. Mengantre, bicara tentang apa saja, berusaha menghibur diri sambil menunggu, berdekatan satu sama lain, tidak mencoba untuk menikung antrean dan menjaga agar kita tetap dalam barisan~"

"Aku memiliki masalah dengan berada di dekatnya," kata Ino, menunjuk ke sisinya di mana Sai saat ini berdiri dengan senyum di wajahnya.

"Ya, well, dia akan membutuhkanmu untuk bersembunyi ketika kita masuk," kata Shion, membuat Sai melotot padanya.

Tanda di depan menginformasikan bahwa mereka harus menunggu 15 menit. Selama 15 menit mereka berdiri dan bergerak perlahan sambil berbicara tentang apa saja. Hinata melihat Sakura melepaskan tangan Gaara dan berbalik untuk melihat sesuatu yang Ino tunjukkan padanya.

Mereka mendekati bagian depan dan enam orang pertama masuk karena hanya enam orang yang diizinkan masuk pada satu waktu. Ino terus berbicara pada Sakura yang tidak terlalu memperhatikan. Menutup matanya, Hinata mengambil napas dalam-dalam. Dia membuka matanya dan memandang dari Sasuke ke Gaara lalu ke Naruto.

Well, sedikit pengorbanan memang diperlukan kan? Saat dia melihat pelayan di depan barisan mulai mempersilakan keenam orang berikutnya masuk, dia bergerak, tidak memberi kesempatan bagi yang lain untuk bereaksi.

"Ayo Sas!" katanya dengan sengaja memegang tangan Gaara dan menyeretnya ke depan. Suara klik lembut membuatnya berhenti dan berbalik untuk melihat Sasuke dan Sakura yang berdiri syok.

"Ah! Tunggu, Hinata! Sakura—" kata Gaara saat mereka masuk lebih dalam. Sakura ditinggalkan dengan Sasuke... Gaara mengertakkan giginya. Please jangan, dia harus keluar.

"KYAAAAA!" Karin berteriak, memotong kalimat Gaara.

"Karin, tenanglah!" Naruto menenangkan, melingkarkan tangannya di sekitar Karin.

"Iyada!" Karin menangis dan berlari ke depan, yang lain mengikutinya.

"Sas, ayolah!" kata Hinata, masih berpura-pura tidak tahu bahwa tangan Gaara-lah yang dipegangnya, menariknya ke depan, lebih jauh dan lebih jauh dari Sakura.

.

.

#The Next Generation#

.

.

Sakura dan Sasuke berdiri melongo menatap mereka hingga menghilang dari pandangan. "Ap—" Sakura tak mampu berkata-kata.

"Hinata...," gumam Sasuke lemah.

Sakura menatap Sasuke yang menyebut nama pacarnya. Sebuah kejutan nyeri yang familiar datang. Ini sering datang sewaktu-waktu dan Gaara-lah satu-satunya yang bisa meringankan nyeri itu.

"Bagus, aku terjebak dengan seorang cowok yang merengek memanggil pacarnya," Sakura berbisik pada dirinya sendiri. Sasuke masih terlalu shock untuk mendengar kata-katanya.

"Chotto matte yo, oji-san! Kami tidak bersama dengan pasangan itu," kata seorang gadis di belakang mereka. "Kami berenam sudah membuat kelompok sendiri."

"Baik," kata pria yang menangani antrean itu. "Kalian berdua masuk sendiri." Dia mendorong keduanya ke dalam rumah.

"Eh..." Sasuke menatap Sakura yang tampak luar biasa kesal dengannya saat dia berjalan di depannya. "Sakura matte!" kata Sasuke sambil memegang tangannya dan menghentikan Sakura agar tidak bergerak lebih jauh ke dalam.

"Dengar, semakin cepat kita bergerak semakin cepat kau akan sampai ke pacarmu."

"STOP!" kata Sasuke, meraih tangan Sakura saat dia terus bergerak. Sakura terhuyung-huyung sedikit kemudian menatap Sasuke tepat di matanya. Sasuke merasa jantungnya berhenti berdetak.

"Apa?" Sakura bertanya. Pada saat itu salah satu hantu melompat keluar dari kegelapan. Wajahnya yang seperti korban kebakaran mengejutkan Sakura dan membuatnya melompat ke dalam pelukan Sasuke saat hantu itu berteriak di wajah mereka dan kemudian menghilang lagi. Sakura gemetar dalam pelukan Sasuke dan Sasuke hanya bisa tersenyum.

"Kau baik-baik saja?" Dia bertanya sambil memeluk Sakura lebih erat. Sakura mengangguk sedikit. "Kita harus terus bergerak." Sakura menggeleng ketakutan. "Aku tidak akan membiarkan sesuatu terjadi padamu, oke?"

Sakura menarik diri dan menatap Sasuke. Jantungnya berhenti saat Sasuke menatapnya. "Ya, oke."

"Yosh," kata Sasuke, memegang tangan Sakura saat dia mulai menariknya ke depan.

Sakura terus diam, hanya memandang Sasuke dan bertanya-tanya... apakah dia benar-benar berusaha keluar dari sini agar bisa bertemu dengan Hinata lagi? Tiba-tiba seorang wanita yang tampak seperti Sadako keluar dan merangkak ke arah mereka.

"Iyaaa!" Sakura menjerit, benar-benar ketakutan saat dia jatuh ke lantai, menutupi kepalanya dengan tangan. Hantu palsu itu kemudian menghilang dan Sasuke berjongkok mensejajari Sakura.

"Sakura, sekarang dia sudah pergi," katanya. Sakura tidak bergerak. Sasuke tidak tahu apa yang harus dilakukan. Apakah Sakura akan marah jika dia memeluknya? Dia sudah punya Gaara... tapi Sasuke benar-benar ingin memeluknya. "Sakura, lihat aku," katanya. Sakura ragu-ragu mengangkat kepalanya. "Lihat tepat di mataku," katanya dan kali ini Sakura menurut, membalas tatapan mantap Sasuke. "Ini hanya seben—," dia berhenti. Nyeri menusuk kepalanya dan dia jatuh ke lantai. Sebuah momen yang sama melintas di kepalanya. Sesuatu yang terjadi, dulu. Sakura ketakutan, tepat di depannya saat dia berusaha keras untuk menenangkannya. Rasa sakit yang akrab berada di bahunya... sepertinya dia ditembak di sana. "Ini hanya sebentar." Rasa sakit segera mereda secepat rasa itu datang. Sasuke duduk tegak dan menemukan Sakura menatapnya cemas.

"Apa kau baik-baik saja?" tanya Sakura, terkejut dengan keadaan Sasuke yang tiba-tiba. Ini pertama kalinya dia melihat Sasuke flash back.

"Aku baik-baik saja," kata Sasuke.

"Kau memanggilku Sakura...," gumam Sakura. Sasuke berkedip.

"Aku sudah sering memanggilmu begitu akhir-akhir ini," jawabnya. Sakura menatapnya. Rasanya begitu akrab mendengar namanya keluar dari bibir Sasuke, dia benar-benar lupa bahwa Sasuke mulai memanggil nama depannya lagi. Sakura memegang tangan Sasuke yang terulur untuk membantunya berdiri. "Ayo kita pergi," kata Sasuke lirih. Dia tiba-tiba merasakan sakit di dadanya seolah-olah dia ditembak lagi. Tangannya terulur ke bagian dada yang terdapat bekas luka samar di mana peluru telah menghantamnya.

Mata Sakura melihat tindakan Sasuke dan dia berbalik untuk menatapnya. "Apa ada yang salah?" dia bertanya dan Sasuke menggeleng.

"Tidak… aku baik-baik saja," katanya, melihat ke arah Sakura.

Mereka terus berjalan dan begitu sering dikejutkan oleh hantu. Sasuke akan tertawa pada setiap reaksi Sakura dan Sakura akan menjerit kemudian memarahinya, tapi Sasuke tidak bisa berbuat apa-apa selain tersenyum padanya. Mereka sampai di persimpangan jalan di dalam rumah hantu itu yang memiliki tiga pintu keluar.

"Lewat mana?" Sakura bertanya ketika mereka melihatnya.

"Setiap pintu mengarah ke suatu tempat yang berbeda," Sasuke membaca tanda.

"Jadi lewat mana?" kata Sakura.

Sasuke mengangkat bahu tidak yakin. Dia mengeluarkan handphone tetapi tidak ada sinyal.

"Um... Aku tidak bisa menelepon," katanya, menunjukkan handphonenya. Sakura mengeluarkan handphonenya dan mendesah saat dia menyadari bahwa handphonenya juga tidak ada sinyal.

"Jadi... nomor tiga?" kata Sasuke. Sakura mengangguk.

Keduanya menuju pintu keluar yang mereka pilih dan akhirnya, dengan napas lega dari Sakura, mereka meninggalkan rumah hantu itu dan harus memincingkan mata untuk menyesuaikan diri dengan cahaya.

"Ah~ kurasa mereka tidak di sini," kata Sasuke. Bagaimana pun dia senang karena dia bisa menghabiskan lebih banyak waktu bersama Sakura, tapi Sakura salah paham. Yang dia tahu adalah bahwa Sasuke ingin kembali pada Hinata. Pada saat yang sama, dia juga ingin kembali pada Gaara. Sakura takut untuk kembali pada apa yang telah dia tinggalkan tahun lalu, perasaannya pada Sasuke. Sasuke memandang Sakura yang tampak tidak yakin. "Oke, aku akan menelepon Karin," katanya, mengetahui bahwa jika dia menelepon Hinata, Hinata tidak akan mengangkatnya. Setelah beberapa saat Karin tidak juga menjawab.

"Ada apa?" Sakura bertanya, menyadari betapa tampak jengkelnya Sasuke.

"Karin tidak menjawab," jawab Sasuke. Hinata mungkin bertanggung jawab atas ini.

"Aku akan menelepon Gaara," kata Sakura dan memutar nomornya.

.

.

#The Next Generation#

.

.

Gaara merasa handphone di sakunya bergetar. Dia segera tahu itu Sakura, dia harap begitu. Dia cepat-cepat mengambil handphonenya dan merasa lega melihat nama Sakura berkedip di layar.

"Ah, tidak!" kata Hinata, menyambar handphone Gaara, menjaganya agar tetap di tangannya atau dengan Karin.

"Apa? Kembalikan," Gaara menuntut. Dia berusaha kembali ke Sakura sejak dia meninggalkannya tetapi tidak bisa, bahkan sekarang saat mereka sudah keluar.

"Uh... ponsel tidak boleh digunakan sekarang!" Hinata menjawab buru-buru.

"Apa? Kenapa?" tanya Gaara.

"Eh... radiasi dan uh, sinyalnya mengganggu sound system acara di teater sana," jawab Hinata.

Gaara menatapnya, berusaha untuk menemukan logika di dalamnya. "Itu tidak mungkin," katanya, bergerak untuk mengambil handphonenya kembali.

"Tidak!" Hinata berseru, bergerak lebih jauh darinya. "Tunggu sampai acara selesai."

.

.

#The Next Generation#

.

.

"Bagaimana bisa taman sialan ini begitu besar?" kata Sakura, benar-benar kesal. Mereka telah berjalan sekitar dua puluh menit dan mereka bahkan belum melalui setengah isi taman. Dia mencoba menelepon Gaara beberapa kali tapi tidak diangkat. Tidak sekali pun diangkat. "Ini salah keluarga Hinata yang membuka taman bermain besar menyebalkan—berhenti tertawa!" Sakura melotot saat tawa Sasuke meledak.

"Kau seperti sedang mencari bayi," Sasuke merenung, menyadari bahwa Sakura benar-benar menggemaskan.

Sakura memutar mata ke arahnya dan mendesah. "Sekarang apa?"

"Kita bisa menikmati taman bermain sambil mencari," kata Sasuke sambil meredakan tawanya. "Kau tahu, menaiki wahana, memainkan game, makan. Ngomong-ngomong sekarang aku lapar."

Sakura menatapnya sedikit kesal. "Bukankah kau terburu-buru untuk bersama pacarmu di hari ulang tahunnya?" Dia melotot, rasa cemburu menggelembung dalam dirinya. Sasuke hanya tersenyum.

"Nah, aku benar-benar lapar sekarang," katanya, berjalan menjauh dari Sakura dan menuju ke salah satu stand makanan. Sakura berdiri di sana selama satu detik. Tidak yakin apa yang harus dilakukan. Dia menghela napas dan berlari ke tempat Sasuke yang berdiri di depan stand Takoyaki.

"Kau seperti babi!" Sakura menggoda, menampar belakang kepala Sasuke, sesaat sebelum perutnya sendiri berbunyi.

"Kata sang gadis yang mungkin adalah babi juga." Sasuke tertawa, menyerahkan uang kepada pelayan.

"Diam. Kau tidak boleh memanggil seorang gadis babi!" bentak Sakura.

"Kau bukan seorang gadis. Apa panggilan Sasori untukmu... tomboy kan?" Sasuke melanjutkan, menertawakan ekspresi marah Sakura. Tapi sebenarnya Sakura merindukan ini.

"Beraninya kau memanggil pac—" Sakura segera berhenti sebelum dia mengucapkan kata "pacarmu". Kalimat itu secara tidak sadar datang padanya. Sasuke menatapnya bingung. "Beraninya kau memanggil temanmu yang berbakat ini seperti itu!"

"Berbakat? Dalam hal apa?" tanya Sasuke menggoda, menyerahkan takoyaki pada Sakura.

"Banyak hal! AH! Panas!" Sakura berteriak saat dia menggigit makanan dengan lahap.

"Aku yang dikatai babi sementara di sini kau yang membakar lidahmu—bisakah kau pelan-pelan!" Sasuke berkata sambil meletakkan tangannya di mulut Sakura saat sepotong Takoyaki yang lain menuju ke sana. Sakura menatapnya kesal. Dia tidak tahu mengapa dia makan begitu cepat... reaksi gugup mungkin?

"Singkirkan tanganmu atau aku akan menggigitmu."

"Itu seksi," kata Sasuke sambil tersenyum dan Sakura merasa rona memenuhi wajahnya. "Maukah kau menggigitku di bagian lain juga?"

"Sasuke!" Sakura berteriak sambil mendorong tangannya. Sasuke tertawa saat dia mulai makan, mencuri makanan dari Sakura. Mereka tetap seperti itu untuk sementara. Pertengkaran kecil di mana Sasuke mencuri makanan dari Sakura begitu sering. Ketika mereka selesai makan dan mengelilingi taman lagi, Sakura menemukan dirinya merasa santai dan nyaman.

"Kapan hari ulang tahunmu?" Sasuke bertanya tiba-tiba dan Sakura menatapnya sedikit bingung. "Tidak pernah ada yang mengatakannya."

"Oh... sebenarnya... hari Jumat," jawabnya.

Sasuke berhenti berjalan dan menatapnya. "Jumat ini? Enam hari dari sekarang?" Dia bertanya dan Sakura mengangguk. "Aneh."

"Kenapa?"

"Ulang tahunku hari Rabu," katanya dan Sakura menatapnya kaget.

"Jangan bercanda."

"Aku serius!" Sasuke mendesak.

"Aneh," kata Sakura.

"Jadi kita berdua berzodiak sama ne~?" kata Sasuke gembira, berbicara pada dirinya sendiri.

"Begitulah," kata Sakura. Dan akhirnya, menyerah pada dorongan hatinya, dengan ragu-ragu dia menyelipkan tangannya dalam genggaman Sasuke. "Jadi, apa lagi yang tidak kuketahui tentangmu?" dia bertanya.

"Kau yang tanya," Sasuke tertawa dan mengencangkan pegangannya pada tangan Sakura. Dia menyadari tangan Sakura pas dalam genggamannya.

"Hmm," Sakura berpikir sejenak. Dia tiba-tiba menyadari bahwa ada banyak hal yang ingin dia tanyakan. Hubungan mereka terlalu cepat berkembang sebelum benar-benar sampai di tahap ini. Dan bahkan meskipun Sasuke tidak ingat satu pun tentangnya, Sakura hampir yakin bahwa mungkin, hanya mungkin, takdir telah melakukan hal yang benar. Ini membuat mereka lebih dekat. "Apa impianmu?" Sakura bertanya.

"Yah... jujur, dulu aku hanya ingin mengambil alih perusahaan dan mendapatkan kekuasaan," jawab Sasuke, dan tertawa atas jawabannya sendiri. Sakura menatapnya. "Aku berbeda saat itu, oke?" kata Sasuke membela diri.

"Ya... aku tahu," jawab Sakura dan memegang tangannya erat.

"Oh kau tahu?" tanya Sasuke sedikit penasaran dan Sakura mengangguk.

"Kau menderita demi membalas dendam. Berhati-hatilah Uchiha Fugaku karena Uchiha Sasuke sepuluh kali lebih buruk dari pada kau."

Sasuke mendongak dan tertawa. "Oh ya, aku ingat kau memukulku tepat di wajah pada suatu waktu." Dia berkata sambil tertawa dan Sakura berhenti berjalan dan menatapnya kaget. Jantungnya berhenti berdetak. Sasuke ingat.

"Apa?"

"Apa?" Sasuke bertanya, mengacu pada suara tertegun Sakura.

"Uh... begitu saja... kau ingat begitu saja?" Sakura bertanya dengan kepala yang sedikit pusing.

"Apa? Yeah... benar kan kau memukulku?" Sasuke bertanya bingung. Tangan Sakura mencengkeramnya erat.

"Tapi... kau amnesia..."

Sasuke mengangkat alis. "Well ya, tapi aku ingat," katanya sambil menatap Sakura. Dia hampir menendang dirinya sendiri. Dia sudah mendapatkan memori itu dua minggu lalu dan tidak pernah mengatakan apa-apa. Dia tidak berencana mengatakan apa pun.

"Bagaimana bisa?"

Sasuke mengangkat bahu dan mulai berjalan lagi. "Itu datang kepadaku begitu saja." Dia berbohong. Well, memori itu secara acak datang kepadanya dua minggu lalu.

Sakura mendapati dirinya tersenyum. Sasuke teringat sepotong kecil masa lalu mereka, sebuah potongan kunci tentang masa lalu mereka dan Sakura merasa gembira.

"Apa itu sakit?" Dia bertanya dan Sasuke menyeringai.

"Kau memiliki pukulan yang dahsyat." Sakura tertawa.

.

.

.

TBC

.

.

.

-ABA-

Author melakukan dua kebodohan. Pertama, salah cast, akibarnya banyak OOC *telatngakuwoii*. Karakter Naruto sama Sasuke ketuker. Tapi serius deh, kalau heronya Naruto, heroinenya tetap aja OOC. Hinata kan pendieeeemm. Dan please, masa pair favorite author jadi peran pembantu? Terus H4 harusnya ada Tenten sama Temari, biar match sama Lee dan Shikamaru, tapi kalau Temari dipake, Gaara kudu disimpen di lemari dong :')

Kedua, modem dan kabel data ketinggalan di Lampung. Owuooo… Ini yang bikin telat update. Mau update lewat lepi, modemnya gak ada. Update lewat Hp, kabel datanya gak ada. Lewat warnet… zzzzz… (et dah, jadi curcol).

Intinya, author minta dimaklumi soal ke-OOC-an para cast ya. Ini sudah melalui pertimbangan yang mateng kok, cuma emang gak bisa memuaskan semua pihak. Terus minta dimaklumi juga soal update yang—dan akan—lama. Tenang, cuma sementara kok sampe author mudik lagi. Wkwkwkwk.

Akhir kata, stay tuned :)