Disclaimer : Vocaloid isn't mine. But this fanfict is mine. Thank you for your understanding. Enjoy reading!

Warning : OOC, OOT, typo dan sanak sekampung (?); si semi typo, alur kecepetan, cerita gak nyambung dan gak jelas, dsb. Don't like? You must like it! #salah #maksa. Maksudnya, don't like, don't read!

Rated : Teen

Genre : Romance


Author : Yosh! Author kembali! Alonga! (?)

Yuki : Itu bahasa dari mana coba- …

Author : Bahasa-

Oliver : Bahasa orang seteres yang belum belajar buat UTS, tapi malah ngetik fanfict~

Author : *bekep Oliver* Psst! Anak shotah betawih diem aja! ^^"

Yuki : *sweatdrop* Oke minna, selamat membaca ya~


Mizki POV

Aku terbangun dari tidurku karena cahaya matahari yang menembus tirai kamarku. Aku mengerang dan menguap, lalu merentangkan tanganku. Aku melirik jam di dinding. AH? PUKUL 7? UH OH!

Aku segera terlonjak dari tempat tidurku. Saat akan buru-buru keluar dari kamarku, aku melihat Ollie yang masih tidur dengan selimut yang membungkus badannya.

Tunggu … Ini kan … Hari Minggu?

Aku menepuk dahiku. Bagaimana aku bisa lupa dan panik? Benar-benar tidak lucu.

Karena aku tidak bisa tidur lagi, aku memutuskan untuk mandi.

.

.

Aku telah selesai mandi, sekarang aku sedang membaca majalah di ruang tengah. Ollie tampak sangat menikmati tidurnya, jadi aku memutuskan untuk tidak membangunkannya.

"Ah, nee-chan! Ohayou!" sapa Yuki kepadaku. Dia sedang memegang James di tangannya.

"Hmm, ohayou mo, Yuki! Rajin banget pagi-pagi udah rapi! Ollie saja belum bangun."

"Hee? Dia belum bangun? Mattaku, dasar pemalas! Nee-chan, aku boleh kan membangunkannya?"

Aku mengangguk mantap, kemudian Yuki tertawa riang dan segera memasuki kamarku dan Ollie. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepalaku. Kemudian, aku membaca lagi artikel di majalah.

"Wuah, Mizki-chan? Sudah bangun?"

Jantungku berdetak kencang. Aku mengenal suara itu. Aku menoleh. Benar! Yuuma-kun! Ada handuk di bahunya dan rambutnya basah. (Para Yuuma FG : *nosblit*)

"A-Ah, o -ohayou!" ucapku.

Duh, bagaimana ini? Aku tidak bisa bersikap wajar di depannya!

Dia menatapku dengan pandangan heran, kemudian dia berjalan, dan sekarang dia berada di depanku. Dia berlutut, kemudian memegang dahiku dengan tangannya. Uh oh!

"Mizki-chan sakit ya? Kok mukanya merah?" katanya dengan nada heran.

Aku langsung menggeleng-gelengkan kepalaku.

"Aku baik-baik saja kok! Sehat 100%! Daijobu!" kataku sambil mengangkat kedua tanganku.

Yuuma-kun terdiam, kemudian tertawa kecil melihat kelakuanku. Dia menepuk kepalaku, kemudian duduk di sampingku. Aku hanya dapat pura-pura cemberut.

"Ahaha … Baiklah kalau Mizki-chan baik-baik saja! Mau nggak menemaniku?"

"Eh, kemana?"

"Nanti siang aku ada pemotretan, di gedung yang sama seperti gedung yang dulu. Mau ikut?"

"Eh … Tentu saja aku mau menemani Yuuma-kun!"

Dia tersenyum senang mendengar jawabanku.

"Baiklah … Aku mau main game dulu di kamar ya!" ucapnya sambil menepuk pundakku. Aku mengangguk. Dia kemudian bergegas masuk ke kamarnya.

Aku membaca majalah lagi. Kemudian, aku menemukan sebuah artikel tentang memasak kue-kue kering.

'Hmm … Bagaimana jika aku membuatkan sesuatu untuk Yuuma-kun?' pikirku. Aku tersenyum, kemudian bergegas ke dapur.


Aku berjalan ke dapur. Kulihat ada Hana yang sedang mengelap piring.

"Ohayou, Hana!" sapaku ramah kepadanya. Dia menoleh, kemudian melemparkan senyum khas darinya, yaitu ada lesung pipit di pipinya. Manis sekali.

"Ohayou mo, Mizki-sama. Ada keperluan apa ke dapur? Apakah anda lapar? Perlu sarapan?" tanyanya.

"Err, itu boleh juga."

"Tunggu sebentar, Mizki-sama."

Aku mengangguk, kemudian duduk di meja makan. Hana meletakkan piring yang tadi dipegangnya ke rak piring. Kemudian, dia tampak sibuk menyusun bahan-bahan yang ada di kulkas. Beberapa menit kemudian, tercium harum masakan yang enak. Hana membawa baki berisi piring dan gelas, lalu menghidangkannya di hadapanku.

"Silahkan nona, roti bakar dengan selai dan coklat panas." katanya sambil menundukkan kepalanya.

"Uwah, sepertinya enak! Arigato, Hana!"

"Douitashimashite, nona. Jika sudah selesai, letakkan saja piringnya di cucian. Nona tidak perlu mencucinya. Saya membersihkan kamar nyonya dulu ya, nona."

Aku mengangguk. Hana kemudian pergi ke kamar Yoko oba-san. Aku mengambil sepotong roti bakar buatan Hana, kemudian mulai mengigitnya.

Uwah! Oishi! Roti yang hangat, kulitnya dan renyah, dan selai cranberry; yang dibeli Yoko oba-san di luar negeri, terasa enak sekali! Perfect!

Aku menghabiskan roti bakarnya hingga habis. Kemudian, aku memegang mug coklat panas, dan meneguknya. Uwah, nggak kalah enak! Hangat, dan coklatnya terasa!

Aku menghabiskan sarapanku, kemudian menaruh piring bekas roti dan mug di cucian. Aku melihat bahan-bahan yang ada di kulkas, kemudian tersenyum riang. Aku memakai celemek, dan mulai membuat sesuatu untuk Yuuma-kun. 45 menit kemudian, aku tersenyum senang, dan memasukkan masakan yang kubuat untuknya ke dalam kotak makanan. Aku membayangkan wajah senang Yuuma-kun saat menerima ini dariku …

"Mizki-chan? Kau di mana?"

Aku terhenyak mendengar suara Yuuma-kun yang memanggilku. Aku menepuk kedua pipiku.

"Yuuma-kun, aku di dapur! Ada apa?"

"Ah, kau di dapur toh. Ganti baju ya! Sebentar lagi kita berangkat!"

"Ya!"

Aku segera menenteng kotak bekal itu menuju kamarku, kemudian masuk ke kamar dan mengganti bajuku.

.

.

Aku memakai atasan kemeja warna biru muda, dan memakai rok jeans warna biru tua. Aku mengurai rambutku, kemudian memberinya bandana warna biru. Aku memakai jam warna biru, dan sepatu kets warna putih bercorak biru. Aku pun keluar kamar, dan Yuuma-kun sudah menungguku. Ia memakai baju santai; atasan kaus warna putih bertuliskan '01' dan celana ¾ warna hitam.

"Sudah siap?" tanyanya.

Aku mengangguk. Kemudian, kami berjalan dan memasuki mobil yang sudah menunggu kami di depan pagar rumah.


Kami akhirnya sampai di gedung tempat pemotretan Yuuma-kun akan berlangsung. Kami memasuki gedung itu, dan naik ke lantai 8. Saat aku keluar dari lift, uwah … Banyak sekali model! Sepertinya mereka profesional semua!

Aku celingak-celinguk mencari Kageito-san. Yuuma-kun menatapku dengan tatapan heran.

"Mizki-chan cari siapa?" tanyanya.

Aku kaget, kemudian bingung harus menjawab apa. Duh … Aku tidak mungkin bilang kalau aku …

"A-Aku, e-eh, c-cari …"

"Wah, Yuuma-kun, Mizki-chan! Ohayou!"

Kami menoleh. Ternyata Niji-san.

"Mizki-chan masih ingat aku bukan?" tanyanya sambil tertawa renyah.

"Ahaha, tentu saja, Niji-san. Bagaimana kabar anda? Baik?" sapaku.

"Yup, tentu saja! Ah, Yuuma, ada yang perlu kita bicarakan soal pemotretan kali ini. Mari ikut aku ke sini. Mizki-chan juga boleh ikut."

Kami berdua mengangguk, kemudian mengikuti Niji-san. Dia mengajak kami memasuki suatu ruangan. Huft … Ruangannya sejuk dan nyaman! Sepertinya ini ruangan VIP milik Yuuma-kun … (Seorang model profesional biasanya memiliki ruangan VIP di gedung pemotretan (?))

Niji-san duduk di sofa. Yuuma-kun mengambil sebuah kursi, dan aku duduk di sebelah Niji-san.

"Jadi begini, Yuuma-kun … Tema pemotretan hari ini adalah tentang First Date. Jadi …"

Yuuma-kun mendengarkan penjelasan Niji-san dengan serius, dan berkali-kali melontarkan pertanyaan tentang siapa pasangannya di pemotretan kali ini, apa saja gaya yang harus ia lakukan, memakai baju apa saja nantinya, dan lain-lain.

Sementara aku? Aku berusaha tampak biasa-biasa saja, padahal hatiku tidak tenang. First Date? Uh-oh! Aku tidak membayangkan pose apa saja yang akan Yuuma-kun lakukan nanti. Apalagi, hatiku tambah tidak tenang saat Niji-san mengatakan model yang akan berkolaborasi bersamaYuuma-kun adalah Yuzuki Yukari. Dia adalah model cantik nan manis; yang sedang naik daun. Hhh …

"Baiklah. Yuuma-kun, Yukari-chan sudah datang. Kalian tidak mau berbicang-bincang dulu?" ucap Niji-san.

Yuuma-kun mengangguk, kemudian keluar dari ruangan.

"Niji-san, apakah boleh saya keluar? Saya mau … Jalan-jalan, mencari udara segar, yah, begitulah." kataku pelan.

Niji-san mengangguk, kemudian aku segera beranjak dari sofa dan pergi ke luar.


Aku berjalan-jalan. Kulihat Yuuma-kun sibuk berbicara dengan fotografer yang sepertinya akan memfotonya nanti. Aku menghela nafas, kemudian melanjutkan langkahku. Tiba-tiba, langkahku terhenti. Aku memandang ruang di samping kiriku. Ruang Rias.

Dengan ragu, aku mengetuk pintu ruangan itu.

"Silahkan masuk!" kata sebuah suara lembut, tapi tegas. Aku mendorong pelan pintu itu. Kulihat, Yukari-san yang memakai baju santai untuk kencan (yah, maklumlah, dia mau menjalani pemotretan), dan rambutnya sedang ditata dengan rapi oleh seorang penata rambut.

"Uwah … Siapa namamu?" katanya dengan ramah sambil tersenyum kepadaku.

"Ah, namaku Mizki. Hikaruno Mizki."

"Aku Yuzuki Yukari!"

"Aku sudah tau, dari Niji-san."

"Kau mengenal Niji-san? Jadi kau seorang model?" katanya dengan antusias.

"Etto, bukan. Aku temannya Yuuma-kun, dia selalu mengajakku ke sini apabila dia ada pemotretan. Yah, begitulah …"

"Souka … Ah, Mizki-san, duduklah di sampingku, sini!" katanya sambil menunjuk sofa yang kosong di sebelahnya. Aku mengangguk, kemudian duduk di sebelahnya.

"Fuuh … Kukira aku tidak dapat teman bicara … Habisnya, aku tidak pernah ke gedung pemotretan ini sebelumnya. Yang kukenal hanya Niji-san, dan aku tidak mengenal model-model lain di sini. Ah, maaf, aku malah jadi cerita panjang lebar begini … Maafkan sifat cerewetku! Gomenasai, Mizki-san!"

"Daijobu. Aku mau kok mendengarkan. Ahaha, kau tidak cerewet kok, Yukari-san. Justru orang yang banyak berbicara itu menyenangkan."

"Huwaa … Baik sekali kau Mizki-san!" seru Yukari riang sambil memelukku. Huft, untung rambutnya sudah selesai ditata. Kalau tidak, bisa kacau. Si penata rambut hanya bisa geleng-geleng kepala melihat kelakuan Yukari.

Kami berbicara panjang lebar. Yah, Yukari sih yang lebih banyak berbicara, dan aku yang mendengarkan. Ternyata, dia orang yang baik, ramah, dan lucu. Dan aku tidak perlu mengkhawatirkan tentang pemotretan dia dan Yuuma-kun, karena ternyata Yukari sudah punya pacar. Namanya Yuzuto Yuuto, teman satu sekolahnya. Yokatta

"Eh, Mizki-san suka Yuuma-san ya?" tanya Yukari iseng.

Mukaku memerah.

"E-Etto … I-Itu …"

"Kapan kalian jadian? Kalian cocok lho! Ayo cepat jadian … Atau perlu kubantu?"

Mukaku makin memerah, dan aku menggeleng tegas. Yukari tertawa kecil melihatku.

"Hmm, aku masih bimbang, Yukari-san … Habisnya …"

"Habisnya apa? Dia tampan lho, model lagi. Siapa yang tau kalau misalnya dia naksir seorang model juga? Dan mungkin, banyak yang naksir dia."

Ya tentu saja. ucapku dalam hati. Ling? Klub penggemarnya?

"Yah, habis … Aku punya seorang teman masa kecil. Yah, dia cinta pertamaku. Kami pernah berjanji, agar suatu saat bisa bertemu lagi. Itu dulu sih, saat aku masih kelas 4, di Amerika …"

"Uwaaah, so sweet! Lalu? Lalu?"

"Dia kembali lagi ke Jepang. Dan … Dia … Benar-benar mirip dengan Yuuma-kun …"

Mulut Yukari membulat, kemudian dia tersenyum.

"Kenapa kau tidak menanyakannya pada dia langsung? Misalnya … 'Apa kau ingat aku?'… Atau 'Kau ingat apakah kita pernah bertemu sebelumnya?'"

Aku menunduk, kemudian menggeleng pelan.

"Aku … Aku hanya takut … Bagaimana kalau misalnya aku salah? Kalau Yuuma-kun bukan anak itu? Kalau mereka 2 orang yang berbeda? Aku harus apa? Bagaimana? Bagaimana dengan janjiku kepada anak itu?"

Yukari menghela nafas, kemudian menepuk pundakku pelan.

" … Tidak ada salahnya mencoba kan, Mizki-san? Lagipula, apa anak itu tidak memiliki tanda khusus atau tanda spesifik yang membuatmu dapat mengingatnya?"

Aku langsung terdiam, dan teringat kembali perkataan Yuu-kun.

Ingatlah bekas luka di sikuku ini…

"Halo? Mizki-san?"

Aku terhenyak. Huft, sepertinya aku melamun.

"Ng, dia pernah punya sebuah luka. Di siku. Karena dulu pernah menolongku ..."

Yukari mengangguk. Tiba-tiba, ada suara pintu yang diketuk.

"Yukari! Kau sudah siap! Ayo, pemotretannya sudah mau dimulai!"

"Uwaah, itu manager-ku. Kita lanjutkan lagi nanti ya! Mizki-san, doakan aku ya!" ucap Yukari sambil tersenyum lebar. Aku mengangguk.


Aku memandang Yuuma-kun dan Yuzuki-san yang sedang melakukan pemotretan. Mereka tampak profesional sekali! Keren! Aku memandang mereka tanpa berkedip.

"Baiklah, istirahat sebentar!" kata si fotografer. Yuuma-kun dan Yukari-san langsung tersenyum lega, dan menghampiriku yang sedang duduk di sofa.

"Bagaimana penampilan kami, Mizki-san?" tanya Yukari riang.

Aku mengacungkan jempolku.

"Aku punya sesuatu untuk kalian berdua. Ini!" lanjutku sambil menyodorkan botol berisi jus kiwi dan kotak bekal. Yukari langsung menuang jusnya ke 3 gelas plastik. Yuuma-kun membuka kotak bekalnya.

"Eh? Cupcake? Muffin?" tanya Yuuma-kun.

"Waah, sepertinya enak!" seru Yukari.

"Aku membuatnya tadi pagi. Makan saja."

"Uwaah, arigato! Itadakimasu!" ucap Yukari setelah mengambil sebuah cupcake cherry. Matanya berbinar-binar saat menggigit cupcake buatanku.

"Oishi! Uwah, ini enak sekali! Lebih enak daripada buatan toko kue langgananku! Dari mana kau belajar membuatnya, Mizki-san?" tanya Yukari bersemangat.

"Dari kaa-san. Dia suka sekali membuat dan memanggang kue-kue kering."

Yuuma-kun mengambil sebuah blueberry muffin, kemudian mengigitnya.

"E-Enak …"

Aku tersipu, kemudian mengucapkan terima kasih. Beberapa menit kemudian, semua cupcake dan muffin buatanku ludes dihabiskan Yukari dan Yuuma-kun. Syukurlah mereka menyukainya …

Yukari dan Yuuma-kun kemudian kembali ke tempat pemotretan, karena waktu istirahat mereka sudah habis. Namun tiba-tiba …

"Aduh!"

Kami semua kaget. Yukari jatuh terduduk, dan dia mengaduh kesakitannya. Semua berlangsung dengan cepat. Sepertinya, dia tersandung kabel kamera yang banyak berserakan di situ.

"Yukari! Daijobu?!" tanya manager Yukari dengan baik.

"I-Ittai … Aku tidak bisa berdiri …"

Beberapa kru segera memapah Yukari ke ruang VIPnya. Aku kemudian mengikuti mereka, begitu juga dengan Yuuma-kun.

.

.

"Maafkan aku … Ini semua karena kelalaianku …" ucap Yukari sambil mengaduh ketika lukanya diperban oleh manager-nya.

"Bukan sepenuhnya salahmu kok, Yukari-san." sahut Yuuma-kun menenangkannya.

"Bagaimana ini? Apa pemotretannya bisa ditunda?" tanya Yukari lemas kepada manager-nya.

" … Tidak bisa. Karena foto-fotonya sudah harus jadi hari ini."

Yukari menuduk. Ia merasa bersalah; mengapa ia harus terjatuh tadi.

"Kecuali … Kalau ada pengganti."

Aku, Yuuma-kun, dan Yukari langsung menoleh mendengar kelanjutan kata manager Yukari tersebut.

"Ya. Kecuali ada penggantimu, Yukari. Kita sudah tidak punya banyak waktu. Kita harus mencari pengganti, anak yang tinggi, semampai, setidaknya setinggimu, Yukari. Dan harus ada, sekarang juga, kalau ingin pemotretannya berlanjut."

Yukari tampak antusias, kemudian dia melirik kepadaku.

"Mizki-san! Kau mau kan …?"

Yuuma-kun dan manager Yukari juga ikut memandangku. Uh oh?!

"E-Etto, k-kenapa aku? A-Aku belum pernah punya pengalaman menjadi model …"

"Tapi kau setinggi Yukari, badanmu bagus, kau juga cocok bersama Yuuma. Kau boleh juga kok." ucap manager Yukari.

"T-T-Tapi …"

"Baiklah. Habis ini kau akan bersiap-siap. Kau harus ganti baju dan merapikan rambut di ruang rias." lanjut manager Yukari, lalu keluar dari ruangan ini. Oh Kami-sama … Apa dia tidak mendengarkan orang berbicara?!

"Mizki-chan, aku pergi dulu. Kau pasti bisa!" ucap Yuuma-kun sambil menepuk kepalaku. Aku hanya dapat mengangguk pasrah.

"Mizki-san … Sini …" ucap Yukari lemah. Aku mengangguk, lalu duduk di sampingnya.

"Yukari-san, a-aku tidak yakin dapat melakukan hal ini! Aku tidak pernah difoto, dan aku tidak yakin hasil pemotretannya akan jadi sebagus hasilmu, dan aku bukan model profesional, bahkan aku sama sekali tidak punya pengalaman sebagai mo- …"

"Whoa! Pelana-pelan!" kata Yukari memotong perkataanku. Aku langsung diam.

"Huft … Mizki-san, kau tidak sedang ikut lomba pidato kan?" canda Yukari. Aku hanya diam.

"Haah … Ayolah Mizki-san, aku mengandalkanmu. Hanya kau yang bisa kuharapkan …"

"Tapi …"

"Ayolah. Tidak ada salahnya kan? Tidak ada salahnya mencoba. Meskipun kau gagal, tapi setidaknya kau sudah mencoba."

Aku tersenyum mendengar perkataan Yukari. Benar. Aku tidak boleh menyerah sebelum mencoba.

"Arigato, Yukari! Akan kucoba!"

"Ganbatte, Mizki! Kau pasti bisa!"

Aku mengangguk mantap, kemudian menuju ke ruang rias.


Aku berjalan keluar dari ruang rias. Aku menggunakan gaun tanpa lengan pendek selutut warna pink yang lembut. Rambutku yang bagian bawah digulung-gulung. Aku juga memakai sepatu hak warna putih, dan membawa tas warna putih.

"M-Mizki?"

Aku menoleh. Uwah, Yuuma-kun! Dia tampak k-keren, dengan kemeja warna putih, dan rompi warna hitam, serta celana panjang warna abu-abu tua.

"H-Halo Yuuma-kun. B-Bagaimana penampilanku? A-Aneh ya?"

" … T-Tidak. J-Justru m-manis sekali …" katanya sambil memalingkan muka. Mukaku langsung memerah.

"Oke, ayo kita mulai pemotretannya! Mizki-chan, Yuuma-kun, siap-siap!"

.

.

"Mizki-chan … Ayo, tersenyumlah …" kata sang fotografer dengan sabar.

Bagaimana aku bisa tersenyum?! Kalau posisinya kami naik ayunan, kemudian aku dipangku Yuuma-kun?!

Yuuma-kun sepertinya mengerti keadaanku, kemudian dia membisikkanku beberapa kata,

"Mizki-chan, ayo! Kau bisa tersenyum! Ayo. Pikirkan hal-hal yang menyenangkan!"

Aku terdiam, kemudian memikirkan pengalamanku. Di mana kaa-san masih hidup. Aku, kaa-san, tou-san, dan Ollie; yang baru bisa berjalan, pergi bersama. Bermain di taman sekeluarga. Melihat sunset bersama.

Entah kenapa … Itu membuatku tersenyum.

"Yak, bagus! 1 … 2 … 3!"


Aku dan Yuuma-kun pulang jalan kaki. Supir yang biasanya menjemput kami, tidak bisa menjemput karena harus mengantar Yoko oba-san keluar kota. Kami berjalan arah pulang; tentu saja sudah berganti baju.

"Hari yang menyenangkan ya …" ucap Yuuma-kun.

"Hmm, lumayan."

"Sudah memikirkan tawaran dari Niji-san?"

Aku mengangguk pelan. Setelah melihat foto-fotoku bersama Yuuma-kun, Niji-san menawariku menjadi model. Katanya, aku benar-benar cocok jadi model.

"Kau mau mengambil tawarannya?"

"Yah, mungkin. Katanya libur musim panas ini ada project ya?"

"Yup."

"Mungkin aku mau jadi model …"

Yuuma-kun menghentikan langkahnya. Aku memandangnya.

"Doushita, Yuuma-kun?"

"Hmm … Berarti, Mizki-chan harus jadi partner modelku!" ucapnya sambil menggenggam tanganku.

E-Eh?

K-Kami-sama … Bolehkah aku … Tetap tersenyum seperti sekarang?


Author : Yo! Akhirnya selesai nih chapter 8 …

Yuki : Kenapa selalu bagianku sedikit amat-

Oliver : Tenang aja, Yucchan. Aku aja gadapet dialog- *deathglare author*

Author : Err, gomen. Tapi di fict author selanjutnya, pemerannya kalian lho =w=;; #spoiler

Yuki & Oliver : EH? HONTOU? *lonjak2*

Author : Hmm. Udah. Ucapin kata penutup dulu sanah.

Yuki & Oliver : Minna-sama~, review?