KITCHEN IN LOVE

Genre : Romance

Author : Miyazaki Erizawa

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rate : M

Warning! Author baru, masih sangat hijau, many typos, BOY x BOY a.k.a SHOUNEN AI

Inspired by : Korean Drama "Pasta" and my daily life.


Chapter 7 : Musim Semi.

.

.

.

TOK! TOK! TOK!

"Chef? Saya ingin mengembalikan buku anda."

Seorang pria berambut pirang dengan coat tebal – khas musim dingin—nya , tengah berdiri di depan sebuah pintu berwarna putih dengan angka 204 yang tertera disana. Di tangan kirinya ia memegang sebuah buku bersampul beludru biru yang kini ia perhatikan dengan seksama.

"Haaah~…"

Pemuda itu menghela nafas panjang. Seharusnya hari ini adalah hari liburnya dari segala pekerjaan melelahkan di hotel selama 6 hari. Dan waktu bermalas-malasannya ini harus ia tangguhkan demi mengembalikan buku resep yang ia pinjam dari sang Executive Chef.

Cuaca terlalu dingin pagi ini. Naruto sempat berpikir ingin memakai kaos dan jaket tipis saja hanya untuk naik 2 lantai dari kediamannya sekarang ini, namun ia mengurungkan niatnya saat merasakan hawa dingin yang menusuk tulang saat ia keluar dari kamar apartemennya yang hangat. Ya, sang Executive Chef tinggal di gedung apartemen yang sama dengannya. Hanya berbeda 2 lantai diatasnya.

Dan kini ia harus menunggu di depan pintu selama hampir 20 menit, mendekap buku biru itu didadanya dan menggosok-gosokkan kedua tangannya – yang tanpa sarung tangan – untuk mencari sedikit kehangatan.

Apa si Teme sok keren pantat ayam itu ingin membuatnya hipotermia?!

TOK! TOK! TOK!

"CHEF! SAYA DATANG MENGEMBALIKAN BUKU!"

Naruto mengeraskan suaranya dan ketukannya.

.

.

Tidak ada jawaban.

Mau tak mau hal ini membuat badan Naruto hangat seketika. Kekesalannya sudah mencapai ubun-ubun. Ia datang kesini hanya untuk mengembalikan buku, lalu bersegera pulang dan makan jeruk di futon kamarnya yang hangat. Bukan kedinginan selama hampir setengah jam disini!

Ia mengusap-usap sisi lengannya yang terasa dingin. Bahkan coat tebal yang selama ini ia pakai untuk pergi bekerja tidak dapat lagi melindungi kulitnya dari cuaca dingin. Mana lagi ia lupa membawa sarung tangannya. Apa mungkin ini puncak musim dingin?

Naruto berjongkok tepat di depan pintu kamar apartemen Sasuke. Menyembunyikan kedua tangan di lipatan lengannya, memutuskan untuk menunggu beberapa menit lagi hingga pintu itu terbuka. Mungkin 10 atau 15 menit. Lewat dari itu, sepertinya ia harus mengembalikannya besok.

Tiba-tiba saja Naruto tertawa meringis. Ingatannya kembali saat ia pertama kali menginjakkan kaki di Grand Space International Hotel, dua bulan yang lalu. Bertemu dengan seseorang yang sangat menyebalkan saat interview. Saat itu Naruto malah berharap tidak akan menjumpai pria itu lagi, namun entah itu keberuntungan atau nasib naas. Ternyata pria jutek itu adalah atasannya.

Tawa miris pemuda penyuka ramen itu kini berubah menjadi senyuman simpul. Ia mengingat saat pertama kali Sasuke mendekapnya – menyelamatkannya dari serangan brutal Yuuhi Kurenai saat pertama kali melihatnya – bagai serigala yang kelaparan. Ia ingat betul betapa protektif dan possesifnya jenis pelukan yang Sasuke berikan. Lengan-lengan kekar dan berbentuk dengan sempurna yang telah terlatih selama bertahun-tahun di dapur, memeluknya – dengan hangat dan lembut.

Naru menyembunyikan wajahnya di antara lengannya yang saling menumpu. Senyuman itu kini pudar dari wajah tannya yang kini memucat – kedinginan. Naruto tidak begitu bodoh untuk tidak menyadari bahwa beberapa kali Sasuke mengambil kesempatan untuk mengambil kecupan di bibirnya. Namun yang Naruto risaukan sampai saat ini adalah perasaan Sasuke pada dirinya. Entah itu benar, entah itu hanya cara untuk mempermainkan Naruto.

Haahhh~ memalukan sekali. Ia jadi ingat tentang kejadian kemarin, setelah Gaara-nii menariknya secara paksa dari ruangan executive chef. Ia menangis sesengukan dan berakhir dengan menceritakan kegundahan hatinya pada Nii-san tercintanya. Tentang kecemburuannya pada Neji dan tentang perasaannya pada seorang Sasuke saat ini. Mungkin kalau buku itu bisa membunuh, Naru akan bunuh diri sekarang juga dengan menggunakan buku bludru biru milik sang Executive Chef.

Lupakan.

Butuh waktu yang lama bagi Naruto untuk menyadari posisi Sasuke dalam hidupnya. Setelah melalui berbagai gejolak batin yang melingkupi dirinya, mencoba berbagai cara untuk menolak rasa berbeda yang ditawarkan pria raven itu, kini ia harus menerima bahwa getaran yang ia rasakan dalam dada, detak jantung yang tidak beraturan, serta rasa penuh di dalam dadanya ini, disebabkan karena ia mencintai seseorang. Yang bahkan berjenis kelamin sama dengannya. Seorang pria mapan bernama Uchiha Sasuke.

Ya, ia memang pria mapan. Di umurnya yang masih tergolong muda, ia sudah memiliki jabatan yang diinginkan seluruh koki di dunia. Menjadi Executive Chef di salah satu hotel terbesar di Jepang. Wanita tentu akan bertekuk lutut dengan pesona Uchiha satu ini. Ia tampan, ia kaya, ia memiliki segalanya. Dia nyaris sempurna.

Lalu apa yang Naruto harapkan?

Mengharapkan bahwa pria matang dan nyaris sempurna seperti Sasuke membalas perasannya? Mengatakan bahwa ia memilik rasa yang sama seperti apa yang Naruto rasakan?

Papa Minato selalu mengajarkan untuk tidak berharap kepada orang lain jika tidak ingin menemukan kekecewaan. Inilah yang sedang Naruto lakukan sekarang. Ia menekan keinginannya untuk percaya. Sekelebat bayangan tentang apa yang terjadi di bar saat mereka membuat Coffee latte, berputar di kepala Naruto. Masih jelas dalam ingatannya setiap perkataan dan raut wajah pria tampan – yang sejak awal ia menginjakkan kaki di Grand Space – tanpa ia sadari – telah mencuri perhatiannya.

Naruto menutup telinganya, memejamkan matanya erat. Seakan-akan ingin menulikan telinga dan membutakan matanya dari kepingan-kepingan memori yang kini berputar di pikirannya.

Namun bayangan itu semakin jelas.

Setiap kalimat itu terdengar lebih nyata di telinganya saat ini.

Semakin ia mencoba menghilangkannya, semakin keras suara itu menggema di gendang telinganya. Bahkan di hatinya.

"Dobe… cukup katakan kau mencintaiku."

" cukup katakan kau mencintaiku."

" katakan kau mencintaiku…."

"Aku mencintaimu, Teme.",

'AAAAAAAAAARGGGG~!'

Naruto memperkuat tekanan telapak tangannya pada kedua telinganya. Ia berteriak dalam hati, menggeleng-gelengkan kepalanya – berharap suara-suara yang kini menggema di kepalanya beranjak menghilang.

Astaga… Naruto merasa tidak normal karna menyukai seorang Uchiha Sasuke. Dan sekarang ia merasa lebih tidak normal lagi karena sudah menyatakan perasaannya pada seorang laki-laki.

Ini mengerikan!

.

DUKK!

.

.

.

"I-IITAAAAAII~…..!"

.

.

.

.+ Kitchen in Love +.

.

.

.

"Dasar dobe."

Sasuke membuka lemari hitam yang terdapat di sudut kamarnya. Ia mengambil sebuah botol alcohol, obat merah, dan beberapa lembar kapas. Membawanya menuju seorang pria pirang yang kini duduk di sofa triple biru dongker miliknya – memegang dahi kanannya yang bengkak dan berdarah.

"Itu salahmu, Teme! Kau membuka pintu itu dengan ganas sekali! Lihat! Dahiku jadi bengkak seperti ini! Huweee…! Sakit!", Naruto mengusap area disekeliling luka yang ia miliki.

"Salahmu, Dobe. Untuk apa kau berjongkok di depan pintu kamar apartemen orang lain. Kalau tidak begitu, pasti dahimu selamat. Aku khawatir kau akan jadi semakin DO-BE setelah ini.", Sasuke memercik-mercikkan beberapa tetes alcohol pada selembar kapas.

"Gaah~! Aku datang kesini itu karna kau menyuruhku mengembalikan buku resep itu, Teme! AAAAWW~! IITTAAAAAAAII~!", Jerit Naruto saat Sasuke mengusapkan kapas yang tadi telah dibasahi oleh alcohol. Refleks – tangan tan mungil itu menahan pergelangan tangan sang executive chef yang hendak melanjutkan usapan manisnya tersebut.

"Tsk. Sabarlah sedikit, Dobe.", Sasuke berusaha menekan tangannya agar mencapai dahi Naruto.

"TIDAK! Sakit, Teme! Aku tidak mau!", Naruto terus melakukan perlawanan sengit terhadap pemuda disampingnya tersebut.

"Jangan paksa aku untuk melakukan kekerasan padamu, Dobe!"

"Tidak akan ku biarkan!"

Setelah selama beberapa menit mereka terus mempertahankan posisi masing-masing dan beradu deathglare, keringat bercucuran dari pelipis mereka.

Wajah Naruto memerah, butiran bening kini menggenang di kedua sapphire milik Naruto – menahan kekuatan Sasuke serta rasa sakit yang melanda dahinya. Keringat yang jatuh dari pelipis Naruto, mengalir turun sampai ke leher jenjang miliknya.

'Astaga, cantik sekali.', Sasuke meneguk ludahnya. Seketika ternggorokannya terasa sangat kering. Ia menggelengkan kepalanya. 'Sadar, Sas! Sadarlah!'

Setelah menemukan kembali kesadarannya, akhirnya sebuah ide muncul di benak Sasuke.

Kini ia memposisikan lututnya di antara kedua kaki Naruto yang sedikit mengangkang. Dalam posisi seperti ini, ia jadi lebih bisa mengontrol tangan-tangan mungil berkekuatan luar biasa yang sedari tadi mengganggu pekerjaannya.

"T-Teme kau mau apa?!", kepanikan tampak jelas di wajah tan itu. manik sapphirenya memandang penuh tanya ke arah pria yang kini ada tepat di hadapannya.

"Mengobati lukamu, bo-doh.", Sasuke menangkap kedua tangan Naruto dengan tangan kirinya. Memposisikan kedua tangan itu di atas kepala pirang pemiliknya.

Kini ia dengan bebas mengusapkan alcohol pembunuh bakteri itu ke luka Naruto, tentunya dengan mengalami berbagai pemberontakan dan makian dari bibir semerah cherry itu, sampai….

"Eenngghh…", erangan tertahan terdengar dari arah pemuda berkulit tan tersebut.

"Hn?"

"Eemmpph… S-Suke…."

"Dobe?"

"Sshh…. T-Teme… jangan gerakkan kakimu…"

"Ha?", tanda tanya memenuhi pikiran Sasuke. Bukannya yang dari tadi yang meronta itu Naruto sendiri? Kenapa malah Naruto menuduhnya yang menggerakkan kakinya?

"Bukankah yang dari tadi bergerak itu kau, Dobe?", Sasuke memicingkan mata – tajam, mencondongkan tubuhnya mendekati si pirang yang kini wajahnya tengah memerah sempurna.

"Aaaaahh~!", desahan panjang terlepas dari bibir milik Uzumaki Naruto. Membuat Sasuke yang mendengarnya merasakan gejolak aneh pada bagian selatan tubuhnya saat ini.

"S-suara apa itu, Dobe?", entah kemana kepintaran sang Uchiha satu ini. Sebulir keringat menyerupai biji jagung menetes menuruni pelipis Sasuke, memandang intens kepada pemuda di hadapannya yang kini terlihat kehilangan tenaga.

"S-Sudah kubilang, jangan gerakkan kakimu!", entah hanya perasaan Sasuke saja atau memang suara Naruto terdengar lebih berat sekarang ini?

Sasuke menggerakkan maju lututnya yang sedari tadi berada di antara kaki Naruto.

"Eeeeeeeennggghhhh, Temee… jangan…", wajah Naruto semakin memerah. air mata kini hanya tinggal tunggu mengalir dari kedua pelupuk matanya menahan rasa sakit dan nikmat yang melanda bagian bawahnya saat ini.

Darah Sasuke berdesir mendengar suara serak nan berat dari pemuda di hadapannya ini. Berangsur-angsur logika Sasuke menghilang, tergantikan oleh hasrat ingin mendengar suara itu lagi – terus-menerus.

Sasuke pun memajukan lututnya lagi – menekan kejantanan Naruto.

"A-aaaanngghhhh~… T-temee.. c-cepat berdir—iiihhhh~…. K-kau membuatku.. Hmppp…", Sasuke membungkam mulut Naruto dalam sebuh kecupan ringan.

Cup.

'Hm? lembut sekali'

"S-Sukee… "

Cup.

Sekali lagi

'Benar-benar lembut'

"S-Sasuu…."

Lagi, lagi dan lagi. Kecupan demi kecupan ringan mendarat di bibir milik Naruto. Untuk sekedar menolak pun rasanya Naruto sudah tak sanggup lagi. Tenaganya menguap entah kemana. Ia hanya bisa menikmati kelakuan dari atasannya saat ini. Kecupan-kecupan ringan itu kini berubah menjadi lumatan menuntut penuh gairah. Lidah Sasuke mengusap perlahan belahan bibir milik Naruto – meminta izin secara terselubung untuk bertamu ke dalam rongga mulut Naruto dan mengabsen deretan penghuni mulut yang tengah membuatnya mabuk ini..

Lama Sasuke menunggu, namun Naruto tak kunjung membuka mulutnya untuk sekedar membiarkan lidah Sasuke berkunjung. Sasuke yang merasa kesal, menghentikan lumatannya.

"Kau. Buka mulutmu!", ujarnya dengan nada memerintah khas miliknya saat menjadi Executive chef.

"Tidak mau, Teme!", Naruto dengan sisa kekuatannya masih mencoba melawan birahi sang Uchiha.

Naru, Kau membangunkan macan tidur.

"Baiklah, Uzumaki. Aku anggap itu tantangan.", seringai dewa kematian terukir di bibir Sasuke. Seketika bulu kuduk Naruto berdiri, merasakan sesuatu yang lebih buruk akan menimpanya setelah ini.

.

.

.

.+ Kitchen in Love +.

.

.

.

"Gaara!"

"Un. Neji. Sudah lama?", Gaara berlari menghampiri Neji yang sedari tadi bersandar di dinding corridor menuju kantin – menunggunya untuk makan siang bersama.

Neji tersenyum lembut, lalu menggeleng, "Tidak. Ayo ke kantin. Ini sudah lewat dari jam makan siang."

"Gomen, Nagato-san butuh bantuan memesan kebutuhan untuk event 'Fly Me to the Moon'. Kau tau, tinggal beberapa hari lagi."

"Hn. Aku mengerti.", Neji meraih tangan Gaara, menggandengnya dan berjalan menyusuri corridor, menuju kantin. Terlihat sepi. Mungkin para pekerja yang lain sudah kembali ke area kerjanya masing-masing.

"Lalu, apa yang terjadi kemarin?"

"Kemarin?", Gaara menatap heran pada pemuda di hadapannya yang bertanya hal yang tidak begitu jelas, dan lagi tanpa melihat langsung ke arahnya.

"Iya. Kemarin. Saat kau menjemputnya di ruangan Chef, eeng… Naruto—…"

Kalimat Neji terhenti saat ia merasakan Gaara melepaskan genggaman tangannya. Kini Neji merasakan kedua lengan putih milik Gaara menangkup pipinya, membuat Neji – mau tak mau – harus menatap manik emerald milik Gaara.

"Tatap aku saat kau berbicara padaku. Kemana kesopananmu, Hyuuga-san?", Gaara menatap lembut ke arah pria yang sudah beberapa hari ini kembali menjadi kekasihnya. Neji yang mendapat tatapan itu, menundukkan kepalanya. Mengenggam kedua tangan Gaara di pipinya, menurunkannya perlahan. Ia menolehkan pandangannya. Saat ini ia tak sanggup untuk menatap mata hijau yang selalu menghipnotisnya itu.

"Maaf, Gaara. Aku hanya ingin terlihat wajar. Rasanya menyedihkan jika aku menunjukkan kecemburuanku pada Naruto—kau tau—kedekatan kalian kadang membuatku iritasi. Maaf.", Neji tersenyum miris, lavendernya masih tak sanggup menatap mata Gaara, "aku tidak ingin kau terganggu dengan ini, sungguh. Aku sedang berusaha untuk tidak mengedepankan emosiku. Aku benar-benar—…"

"Sshhh~…", telunjuk Gaara di depan bibir Neji menghentikan kalimat pemuda berambut coklat itu. "kau sangat baik, Neji.". Gaara memeluk tubuh yang lebih besar darinya itu, "kau tau betul, aku dan Naruto tidak memiliki hubungan yang seperti itu. Aku senang kau mau belajar menahan emosimu. Aku akan membantumu."

Neji tersenyum simpul. Lalu membalas pelukan pria yang lebih rendah 8 cm darinya itu. "terima kasih."

"Hm.", Gaara mengusap punggung Neji. "Aah. Ya. Sepertinya kau tak perlu takut cemburu pada Naru. Aku rasa ia sudah menemukan orang yang tepat untuknya."

"Orang yang tepat? Maksudmu—kekasih?"

"Hm hm", Gaara mengangguk di pelukan Neji, "Ia menangis sesengukan kemarin."

"Menemukan orang yang tepat? Menangis sesengukan? Aku tidak menemukan sinkronisasi dari kalimatmu, Gaara. Bukankah seharusnya ia tersenyum—layaknya orang yang sedang jatuh cinta?"

"Hahaha", Gaara mengangkat wajahnya, menatap sepasang lavender milik pria berambut coklat dengan lengan yang kini memeluknya dengan possesif.

.

.

.

.+ Kitchen in Love +.

.

.

.

.+ Flashback +.

.

.

.

BRAKK!

.

.

"Lepaskan adikku, Uchiha!", pemuda berambut merah mendobrak pintu ruang executive chef dengan tidak berprikepintuan. Ia lalu berjalan ke arah SasuNaru yang sedang berbagi kehangatan dan menarik Naruto menjauh.

"G-Gaara-nii?", Naruto yang terkejut dengan kehadiran kakaknya, membuat matanya berkaca-kaca dan menjatuhkan butiran beningnya.

"Naru? Kenapa kau menangis? Apa dia berbuat sesuatu yang membuatmu takut? Tenang, tenang, nii-san disini", Gaara menghapus air mata Naruto dan menepuk kepala pirangnya. "Sebelum kau membuat Naruto menderita, langkahi dulu mayatku, Uchiha!", Gaara menarik Naruto keluar dari ruangan Sasuke dan membanting pintu dengan kekuatan penuh.

.

BLAM!

.

"Astaga, kau terlihat kacau, Naru!", Gaara menarik pergelangan tangan Naruto sampai ke tangga darurat setelah menghapus air mata yang jatuh dari kedua sapphire miliknya. Seketika angin menerpa wajah mereka, membuat rambut mereka teracak-acak berantakan.

"Duduklah, sedikit angin mungkin akan membuatmu tenang.", Gaara duduk di salah satu anak tangga, dan menepuk tempat di sampingnya – mempersilahkan Naru mendudukinya.

Naruto menurut, ia duduk di samping Gaara, namun tidak sedikitpun menatap wajah sang kakak.

"Hei, My Adorable Naru-chan… Doushite?", Gaara memegang dagu lancip Naruto, mengarahkan wajah Naruto yang tertekuk untuk menghadap tepat ke arahnya. Gaara terkejut ketika mendapati wajah adiknya basah – berlinang air mata. "H-hei, Naru, kenapa?", Gaara mengusap kedua pipi Naru dengan ibu jarinya, "ini pasti karena Uchiha itu. aku akan membuatnya menyesal.", Gaara beranjak dari tempat duduknya dan berjalan cepat ke arah pintu tangga darurat – hendak kembali ke ruangan executive chef – sebelum sebuah remasan – di bagian belakang baju koki miliknya – menghentikannya.

"G-Gaara-nii… ini bukan karena Chef, Hiks.", ia menghapus air matanya. "Naru hanya senang. Uu-uuhh… Gaara-nii masih sayang Naru.", ujar Naruto sesengukan.

Gaara yang mendengar hal itu langsung memeluk Naruto, membenamkan kepala pirang itu di dadanya – mengusapnya sayang. "Hei, Sejak kapan Nii-san mengatakan tidak meyayangimu, Naru? Dasar Bodoh."

"Gaara-nii. uu—uuhh… selalu sibuk. Uuh... dengan Neji-san.", Gaara merasakan baju bagian depannya bisa diperas sekarang. Bagaimana si bodoh ini mengira Gaara tidak menyayanginya lagi? Ya ampun. Gaara kira sumber air mata Naru adalah si Chef pantat ayam, ternyata malah dirinya sendiri. Astaga…

"Gaara-nii. Uuh... Bahkan tidak sempat memperhatikan Naru lagi. Huu—uuhh!". Tangisan Naruto semakin menjadi, ia meremas bagian punggung baju Gaara sekuat mungkin – melampiaskan kekesalannya selama ini.

"Gomen ne, Naru-chan. Nii-san janji, ini yang terakhir. ", Gaara mengusap helai rambut milik Naruto, dan mengecup puncak kepalanya. Sampai ia merasakan gelengan dari arah seseorang yang dipeluknya.

"Tidak.", Naruto melepaskan pelukan Gaara, menatap Gaara dengan pandangan sendu miliknya, "Gaara-nii akan memiliki kehidupan Gaara-nii sendiri. Teme mengatakan pada Naru bahwa suatu saat seseorang akan menemukan orang yang ingin dilindunginya, dan orang yang akan melindunginya dengan sepenuh hati. Naru juga akan begitu. Suatu saat Naru akan menemukan orang yang ingin Naru lindungi, dan melindungi Naru dengan sepenuh hati. Maka itu, Gaara-nii harus berbahagia dengan Neji-san.", ia menghapus air matanya, dan tersenyum lebar. "Teme benar, Gaara-nii masih menyayangi Naru"

Gaara mengembangkan senyum tulus miliknya, si pantat ayam itu membuat Naru-chan-nya menjadi lebih dewasa. Mungkin kali ini ia harus berfikir kembali untuk merestui hubungan Naru, walaupun kandidatnya termasuk om-om. Haahh~… ia jadi merasa bersalah telah membentak Sasuke tadi, ingatkan Gaara untuk meminta maaf dan berterima kasih pada Sasuke karena telah membelanya – walaupun mungkin akan terasa sangat berat.

"Arigato, Naru. Tidak hanya melindungi Neji, Nii-san juga akan melindungimu. Apapun yang terjadi, kau bisa mengandalkanku.", mereka berdua tersenyum. Semua beban perasaan yang selama ini menghampiri mereka seakan menguap. Kini mereka berdua bisa bernafas dengan lega.

Tapi?

"Hey, Naru.", Gaara memegang erat kedua bahu Naruto, menatap tajam sepasang sapphire yang kini penuh dengan tanda tanya. "Sebenarnya apa hubunganmu dengan monster pantat ayam itu?"

.

BLUUSHH~

.

"E-eto.. Gaara-nii.. Naru.. em… Chef… eeengg…", Naruto menggiti kukunya. Apa yang harus ia jawab? Aduh!

"Hey, jawab Nii-san, ada apa antara kau dan Uchiha Sasuke?", Gaara menatap semakin tajam.

"Hiks", air mata Naru kembali terjun dari bola mata sebiru langitnya, "Huweeee~! Gaara-nii! Teme membuat Naru sakit jantung!"

"Ha?", Gaara cengok. Memangnya bisa seseorang membuat sakit jantung? Bukankah penyakit jantung itu akibat keturunan dan pola makan? Ini kasus langka!

"Dia. Uuh. Saat berada di dekatnya, terasa aneh. Penuh! Jantung Naru ingin melompat keluar. Setiap hari ingin melihat wajahnya yang menyebalkan. Bahkan tidak cukup saat bekerja saja, dalam mimpi pun dia datang untuk mengerjai Naru. Uhuhuhuhu!", Naruto menangis sesengukan – episode kedua.

"Haaah~…", Gaara menghela nafasnya lelah.

Kini ia tahu penyakit jantung seperti apa yang dimaksud oleh Naruto.

.

.

.

.+ Kitchen in Love +.

.

.

.

"Temeee~ Gelii… ", Naruto mendorong bahu Sasuke yang kini tengah membuat kissmark di ceruk lehernya. Namun tak sedikitpun tubuh kekar Executive Chef itu bergeming. Ia terus saja membuat beberapa tanda kepemilikan di leher Naruto – yang mungkin tidak akan hilang dalam beberapa hari.

"Kau sendiri yang tak mau membuka mulutmu. Makanya aku mencari tempat lain untuk di hisap", jawab Sasuke enteng.

"Aku tidak menyuruhmu untuk menghisapku, Teme! Lepaskan. Kau membuatku merasa aneh."

"Merasa aneh? Aneh seperti apa?", Sasuke menghentikan aktivitasnya dan memandang penuh tanya ke arah Naruto yang juga terdiam – seperti sedang berpikir.

"Ngg…. Aneh seperti apa ya… Ehehehe, aku juga bingung.", cengir Naruto.

Sasuke sweatdrop.

Tiba-tiba Naruto merasa tubuhnya terangkat naik ke udara.

"T-teme?"

"Kalau melakukannya di sofa, tubuhmu bisa sakit. Ke kamarku saja.", Sasuke menggendong Naruto ala bridal style.

"Kamar? E—eeppphh! Turunkan aku! Siapa yang mau ikut denganmu ke kamar?! Lepas, Teme, Lepaaass!", Naruto meronta dalam rangkulan Sasuke, dada bidangnya menjadi sasaran pukulan kedua tangan Naruto.

.

BRUKK!

.

"Aww~… pelan sedikit, bodoh!", cerca Naruto saat Sasuke melemparkan tubuhnya ke tempat tidur. "H-hey… mau apa lagi?", Sasuke naik ke atas tubuh Naruto dan memenjarakan pemuda pirang itu diantara kasur dan kedua tangannya.

"Aku mau kau, Dobe", raut wajah Sasuke berubah serius, menatap sapphire Naruto dalam-dalam. Terbius dengan wajah cantik layaknya malaikat yang berada di hadapannya saat ini.

.

BLUUSH~

.

"K-kau gila! Aku ini laki-laki, brengsek!", Naruto menolehkan wajahnya – menghindari beradu tatap dengan Sasuke. Saat ini tak dapat menyembunyikan wajahnya yang semerah tomat.

"Apa kau bercanda?", terlihat lekukan di alis mata Uchiha bungsu, seulas raut kekecewaan terpatri di wajah seputih porcelain miliknya. "Bukankah kau sudah mengatakan kau menyukaiku? Ku kira gender bukanlah masalah bagimu.", Sasuke merunduk, kecewa. Ia bersegera menjauh dari tubuh Naruto dan duduk di sisi tempat tidurnya. "Ku kira pernyataan cintamu itu benar", ia mengusap wajahnya – frustasi, lalu merunduk – memijat pelipisnya, "ternyata aku hanya dipermainkan, hm? oleh bocah….", tawa miris terdengar darinya, membuat Naruto merasa bersalah. Iapun bangkit dan merapatkan jaket dan kemejannya yang setengah terbuka.

"Kau pergilah."

"Eh?", Naruto memandang terkejut kepada pria yang kini membelakanginya.

"Pergilah, Naruto.", tak sedikitpun ia menoleh pada Naruto, membuat segelintir rasa perih singgah di hati Naruto. Bahkan ia sendiri pun tak tau darimana asal rasa sesak ini.

"Teme…", Ia mengulurkan tangannya menyentuh pundak Sasuke sebelum sebuah suara menghentikannya.

"Jangan sentuh aku.", suara baritone itu melemah, kini lebih terdengar seperti bisikan, "Pergilah, kumohon."

Untuk beberapa saat, suasana hening menjadi penengah diantara mereka.

.

"TEME BAKA!"

.

.

PLETAKK!

.

"APA YANG KAU LAKUKAN, BODOH!", Sasuke berteriak nyalang saat merasakan sebuah jitakan keras di kepalanya. Ya, Uzumaki Naruto memukul kepala Sasuke dengan tidak berprikepantatayaman

"Kau yang bodoh….", air mata Naruto menggenang di sudut matanya, "kau yang bermain-main dengan perasaanku. Kenapa jadi kau yang marah, Teme… Hiks."

Melihat air mata jatuh dari mata bulat yang indah itu, amarah Sasuke menguap entah kemana. Ia bersegera bangkit dan berlari ke arah Naruto yang berada di sisi lain tempat tidurnya. Mendekap pemuda pirang itu di pelukannya. "Maaf, Naru."

"Kau yang salah."

"Iya, aku yang salah. Maafkan aku."

"Kau yang mempermainkanku."

"Iya, maaf."

"Kau yang membuatku seperti ini"

"Tsk, Dobe, bisakah kau berhenti menyalahkanku?!"

"Huuweeee~!"

"IYA! Maafkan aku!"

Untuk beberapa saat mereka terdiam – memeluk satu sama lain di atas tempat tidur empuk Sasuke, serta selimut berpenghangat yang melindungi mereka dari dinginnya cuaca kota Jepang pagi ini.

"Asal kau tau, aku serius, Dobe."

"Hu um", Naruto yang menjadikan lengan Sasuke sebagai bantalnya, memejamkan matanya – menyamankan posisinya di pelukan sang Uchiha bungsu.

"Aku benar-benar tergila-gila padamu. Kau juga begitu kan?"

"Hu um", Naruto mengangguk

"Aku mencintaimu."

"…"

"Hei, jawab aku."

"…"

"Uzumaki Naruto!", Sasuke melepaskan pelukannya, ia mengangkat dagu Naruto, mengarahkan wajahnya untuk menatap langsung ke wajah Sasuke.

Sasuke membelalakkan matanya, sungguh raut wajah Naruto kali ini membuatnya tidak dapat menahan hasrat yang sedari tadi bergejolak – minta disalurkan. Wajah yang merah padam dengan debaran jantung yang berdetak luar biasa membuat Naruto kelihatan lebih menggoda sekarang ini.

"Mungkin, aku memiliki keturunan Vampir."

"Apa?"

"Selamat makan."

"Eeh?"

Naruto terkejut saat Sasuke tiba-tiba melompat ke arahnya. Mendorong perlahan kemeja Naruto ke atas tubuhnya dan menggerayangi perut rata tanpa otot milik Naruto.

"T-Teme.. hahha…. Benar-benar geli. Hahhaha..", Naruto tertawa heboh, ia bukanlah tipe orang yang tahan dengan sentuhan. Setiap sentuhan yang mengenai tubuhnya, akan cepat bereaksi dan membuat kotak tertawanya aktif.

"Geli, Dobe?", Sasuke masih saja melanjutkan aktivitasnya, mengecup dan mengusap perut Naruto.

"Sangat! Ahahahahh. T-teme, jangan jilat pinggangku! Hahahahhah!", Naruto menggerak-gerakkan badannya saat Sasuke menjilat sisi perut Naruto sampai ke tulang rusuknya.

"A-ah!", seketika tawa Naruto berubah menjadi desahan kaget. Lidah Sasuke yang menari di sekitar nipplenya membuat bulu kuduk Naruto berdiri. Sasuke yang menyadarinya, tersenyum sadis. Ia mulai membasahi sekeliling nipple Naruto dengan salivanya. "aahh eenngghhh… Sasu Teme… ini aneeh…", lidah Sasuke terus menghisap sekeliling nipple Naruto tanpa langsung menyentuh nipplenya, membuat Naruto merasakan gatal pada kedua titik sensitifnya.

Sasuke menurunkan salah satu tangannya untuk memeriksa bagian di bawah sana. Ia meraba tepat di tengah celana jeans yang dipakai Naruto saat ini. Ternyata milik Naruto sudah setengah menegang, membuat sang pemilik terlihat sesak dan gelisah.

"K-kau menyentuh apa? J-jangan!", Naruto merasakan bahaya saat Sasuke membuka dan membuang celananya ke sembarang arah hingga saat ini tidak ada satu benangpun yang menutupi Naruto Junior.

"Tenanglah. Aku akan membuatmu merasa nyaman, Na-ru-to.", Sasuke menghisap dan mengulum nipple Naruto yang sedari tadi sudah menegang. Yang mendapat sambutan desahan keras dari bibir chery milik pemuda pirang yang berada dibawahnya.

"Hn. Bagian yang paling sensitive.", Sasuke tersenyum mesum. Perlahan kecupan dan hisapannya turun menuju perut Naruto, jemari Sasuke meraba lembut kedua sisi pinggang Naruto, membuat Naruto tertawa kecil – kegelian – dan mencoba mendorong kepala dan tangan Sasuke menjauh dari seluruh tubuhnya yang sensitive.

"A—aahh! Sasuke kau sedang apa?!", Naruto terkejut saat ia merasakan sensasi hangat dan basah yang menyelimuti kejantanannya. Sasuke menjilat ujung kejantanan Naruto yang sudah sepenuhnya menegang, memainkan lupang mungil di ujung benda itu dengan lidahnya, membuat Uzumaki tunggal itu mendesah tidak karuan, meremas rambut Sasuke dan semakin mendorong kepala raven itu menekan kejantanannya karena sensasi gelid an nikmat yang melanda bagian paling privat dari tubuhnya.

"Euuhhmm.. Sssukee…. Ngghaaaahh…. Ssssukkeee….", Naruto terus merapalkan Nama sang executive bagaikan mantra yang akan mengantarkannya ke kenikmatan yang lebih dari ini.

Sasuke meremas sepasang bongkahan kenyal di bagian belakang Naruto. Sasuke melahap keseluruhan benda milik Naruto dan mulai memaju-mundurkan kepalanya – teratur. Sesekali ia memainkan lidahnya di ujung kejantanan Naruto, membuat pemuda yang baru pertama kali mendapatkan perlakuan seperti ini menggelinjang penuh nafsu, semakin menekan wajah Sasuke untuk melahap kejantanannya lebih dalam. Sensasi ini gila! Seluruh tubuhnya terasa seperti tersengat listrik. Ia bahkan tak sanggup lagi untuk mengangkat kepalanya. Seluruh tubuhnya terasa kaku, kenikmatan menjalar di seluruh syaraf sensorik tubuhnya. Sentuhan sentuhan jemari Sasuke yang memanja bagian tubuhnya yang lain membuatnya merasakan sensasi aneh yang tak dapat ia jelaskan dengan kata-kata.

Sasuke semakin mempercepat kulumannya pada kejantanan Naruto saat ia merasakan denyutan dari benda mungil itu, gerakan Sasuke tak lagi berirama, berganti menjadi gerakan-gerakan liar yang membuat sang pemilik merasakan berpuluh-puluh kupu-kupu berterbangan di seluruh tubuhnya dan berkumpul di perutnya. Naruto melengkungkan tubuhnya secara spontan, desakan yang terjadi di kejantanannya membuatnya merasakan sesak ingin mengeluarkan yang tertahan.

"S-Suke…. Ssukee…. A-aku.. ngghhhhaaaaahhhh! Aahh! Aah! Aaaaaarrrgghh!", erangan penuh gairah kini berganti menjadi erangan frustasi setelah Sasuke menekan ujung kemaluan Naruto dengan ibu jarinya, tepat sebelum Naruto berhasil mengeluarkan cairannya.

"Sssukkeeehhhh~ lepaskaann ngghhh! Brengsek!", Naruto menggoyangkan pinggulnya, berharap Sasuke melepaskan kejantanannya. Sasuke menatap Naruto yang sedang frustasi, ia mengembangkan senyum liciknya. Bukannya melepaskan ibu jarinya dari lubang kejantanan Naruto, ia malah membuat beberapa kissmark di batang kejantanan Naruto dan mengocoknya perlahan – tanpa melepas ibu jarinya.

Desahan penderitaan Naruto entah mengapa membuat Sasuke semakin senang. Air mata yang berderai dari bola mata seindah langit itu – menahan sakit yang melanda karena tidak bisa mengeluarkan hasratnya – benar-benar membuat nafsu Sasuke meningkat berkali-kali lipat. Kejantanan Naruto yang kemerahan, kini berubah warna menjadi ungu gelap. Jemari tan milik Naruto terus meremas rambut Sasuke semakin kuat, menahan rasa ngilu yang semakin terasa di sekujur kejantanannya.

"Ngggaaaaaaahh~!", cairan putih kental menyembur dari kejantanan Naruto saat Sasuke melepaskan ibu jarinya. Butuh beberapa saat sampai cairan itu berhenti keluar membasahi perut tan yang dihiasi tattoo melingkar itu. Jumlah yang sangat banyak membuat Sasuke yakin bahwa Naruto benar-benar belum terjamah oleh siapapun – bahkan diri Naruto sendiri.

Naruto terengah-engah, memejamkan matanya menikmati setiap detik kenikmatan yang keluar dari tubuhnya. Ia merasa sekujur tubuhnya lemas, seperti tak bertulang.

Sasuke merangkak naik, Ia melumat bibir Naruto dengan ganas, kali ini Naruto membiarkan lidah Sasuke masuk dan bermain di dalamnya. Hingga ia merasa sesuatu yang aneh masuk ke dalam tubuhnya. Rasa sakit, sesak dan penuh melanda lubang surganya saat ini. Ia mencoba protes dengan rasa aneh yang dirasakannya, namun Sasuke seakan tak berminat melepaskan ciumannya, membuat pasokan udara di paru-paru Naruto semakin menipis.

Setelah merasakan rasa aneh dan sesak, kini Naruto merasakan ada sebuah benda lagi yang ikut masuk ke dalam lubangnya, membuat rasa aneh itu berganti menjadi rasa sakit seakan tubuhnya terbelah menjadi dua. Ia mencoba mendorong tubuh Sasuke, namun Sasuke tak bergeming. Air mata jatuh di kedua sisi mata sapphirenya,

"Naru?", Sasuke yang sudah menghentikan lumatannya, mencium kedua kelopak mata tan tersebut.

"S-sakit, Teme.. ke-keluarkan", Naruto mencengkram erat lengan Sasuke, saat ini wajahnya penuh dengan air mata dan saliva – yang entah milik siapa.

"Bersabarlah sedikit lagi.", Sasuke memaju mundurkan dua jarinya yang kini tengah berada di dalam lubang Naruto. Merasakan betapa kuatnya lubang Naruto menghisap kedua jarinya membuat Sasuke membayangkan fantasi-fantasi liar yang akan dilakukannya pada Naruto. Mau tak mau membuat celana training yang dipakainya saat ini menjadi luar biasa sempit.

Setelah merasakan Naruto cukup terbiasa dengan ketigajarinya, Sasuke melepaskan seluruh pertahanannya sehingga hanya tinggal kaos hitam tanpa lengan yang kini melekat di tubuhnya. "Kau siap, Naru?", ia berbisik sekaligus menghembuskan nafasnya pelan di area telinga Naruto yang sebelumnya telah ia lumat dengan lidahnya.

"U—uuuhh… L-lakukanlah, S-Suke", Naruto melingkarkan tangannya di leher Sasuke, mendekatkan wajah mereka dalam sebuah ciuman lembut namun menuntut. Lidah mereka saling beradu menentukan siapa yang dominan diantara mereka. Sasuke membiarkan Naruto melumat lidahnya sesuka hati, membuat Naruto sebisa mungkin merasa nyaman. Ia memposisikan kejantanannya di pintu masuk Naruto, mendorongnya perlahan, membuat Naruto mengerang dalam lumatannya. Sasuke menyadari rasa sakit yang Naruto rasakan, ia pun mengambil peran mendominasi dalam ciuman panasnya dengan Naruto, mengeksplorasi setiap bagian mulut Naruto dengan rakus – mengalihkan Naruto dari rasa sakitnya.

Kejantanan Sasuke memulai kembali aksinya memasuki lubang virgin yang belum pernah terjamah oleh siapapun itu, Naruto memekik tertahan. Tak ingin membuat Naruto menderita lebih lama, Sasuke menahan pinggang Naruto dan melesatkan kejantanannya yang diatas rata-rata ke dalam lubang Naruto sampai tertanam seluruhnya.

"AAHHKKK!", air mata mengalir dari kedua bola sapphire milik Naruto yang terbelalak kaget, lelehan-lelehan saliva mengalir di sisi bibirnya. Rasa sakit yang teramat sangat membuatnya meremas erat seprai tempat tidur Sasuke.

Sasuke mengecup setiap sisi wajah Naruto, berharap dapat sedikit menenangkan Naruto. Rasa bersalah menghampiri dirinya. Tak seharusnya ia memaksa Naruto untuk melakukan ini sekarang. Pasti ia belum sepenuhnya siap.

"Sudahlah, kita akhiri saja", Sasuke menyerah, ia tak ingin membuat Naruto lebih sakit dari ini. Mungkin suatu saat akan ada kesempatan lain untuknya. Yah~ kalau beruntung.

Naruto melingkarkan kedua kakinya di pinggang Sasuke sesaat sebelum Sasuke menarik keluar miliknya.

"Enakhh… saja! A-akuhh mmmhh… tidak suka pekerjaan setengah jalan.", Naruto memandang Sasuke – kesal – dengan wajahnya yang memerah dan berkilau karena air mata dan keringat.
"Naru…", Sasuke menatap Naruto terkejut.

"Bergeraklah… anusku terasa gatal, kau tau.", Naruto membuang wajahnya yang memerah menjauhi Sasuke.

"Hn", Sasuke tersenyum, kebahagiaan terasa menyelimutinya dengan hangat. Ia mengulurkan tangannya memeluk pemuda pirang kesayangannya itu. "Kau itu, Bo-doh.", ia tersenyum lebar di belakang Naruto, tanpa Naruto ketahui.

"Hei, hei. Jangan membuat Mood-ku buruk, tuan-sok-keren. Sssshh… tidak nyaman sekali. Cepatlah bergerak. Puaskan aku."

"As you wish, your majesty."

Siang itu menjadi siang yang panjang bagi mereka berdua. Suara mereka yang beradu menggema di setiap sudut ruangan. Butir-butir keringat satu per satu jatuh mengiringi aktivitas panas mereka. Ranjang yang sebelumnya tertata rapi, kini berantakan dengan ceceran keringat dan sperma dimana-mana. Setelah puas melakukannya berkali-kali, akhirnya mereka pun tertidur – berpelukan – di atas ranjang yang tak berbentuk lagi, tanpa selimut.

Dingin ini tak lagi menusuk tulang. Yang mereka rasakan hanyalah hangat di sekujur tubuh mereka akibat permainan panas mereka tadi. Musim dingin tak lagi menjadi musim dingin. Di salah satu cabang pohon, di luar jendela apartemen Sasuke, kini tampak selembar daun yang bergoyang ditiup angin sepoi-sepoi. Matahari bersinar dengan ceria melelehkan butiran-butiran salju yang menumpuk di sisi jalan.

Selamat datang, Musim semi….

.

.

.

_Tsuzuku_

.

.

.

.+ Omake +.

"Kau yakin? Aku bisa memberikanmu libur, kalau kau mau."

"Aku tak selemah yang kau kira, Teme. Sudahlah, ayo!", Naruto melayangkan cengiran lima jarinya kepada pria yang resmi menjadi kekasihnya kemarin, mengajak pria raven itu keluar dari mobil. Mereka baru saja sampai di areal parkir Grand Space International Hotel beberapa menit yang lalu.

Meski Naruto harus menahan sakit yang luar biasa di bokongnya, tapi tetap saja ia tidak bisa membiarkan Sasuke menyatukan antara hubungan mereka dan pekerjaan. Naruto belum menyelesaikan masa Training untuk bisa meminta cuti.

Setelah mengunci pintu mobilnya, Sasuke membantu Naruto berjalan menuju lift khusus staff. Mereka tampak serasi, berjalan sambil melempar candaan dan kadang diselingi pertengkaran.

Dan sampailah mereka di depan Lift. Pandangan Sasuke dan Naruto terpaku pada sepasang manusia yang juga sendang menunggu lift yang akan membawa mereka ke atas. Pasangan itu berbalik dan mereka saling menatap satu sama lain.

Kekhawatiran seketika mampir di benak Sasuke. Ia adalah orang yang paling tau seberapa kesalnya Naruto pada orang yang ada di hadapan mereka saat ini. Sasuke pun mencuri-curi pandang kepada pemuda pirang di sampingnya. Ia juga penasaran ekspressi seperti apa yang akan dikeluarkan kekasihnya saat melihat Nii-sannya masih lengket dengan pemuda Hyuuga itu.

Naruto menundukkan kepalanya, ia tidak memandang Neji, bahkan Gaara. Sasuke tak dapat melihat dengan jelas ekspressi macam apa yang dibuat wajah imut itu karna tertutup rambut pirangnya yang kini sudah sedikit memanjang.

"O-Ohayou, Gaara-nii", suaranya terdengar seperti bisikan, namun masih dapat didengar oleh Gaara yang membalasnya dengan senyuman. "Ohayou, Naru-chan."

Naruto lalu menghadap ke arah Neji dengan masih menundukkan wajahnya. Suara yang ia keluarkan kali ini lebih kecil, hampir tidak terdengar.

Sasuke yang geram, mengusap poni Naruto ke atas kepalanya sekaligus menegakkan wajah tan yang sedari tadi menunduk., "Tatap orang yang kau sapa, Dobe."

Kini ekspressi Naruto terlihat dengan jelas. Wajah dengan tiga garis di masing-masing pipinya itu memerah, ia terlihat malu dan canggung, menatap ke arah lain – menghindari bertemu pandang dengan Neji. Ia membuka-tutup mulutnya, seakan kata-kata yang ia rencanakan malah tidak ada yang keluar dari mulutnya sama sekali.

Sasuke melepaskan tangannya dari dahi Naruto, lalu mengusap punggung lelaki yang lebih pendek 17 centi darinya itu.

"O-ohayou, N-Neji-nii…..", Naruto memejamkan matanya – malu, ia langsung menyembunyikan wajahnya di dada bidang kekasihnya.

.

BLUSHHH~!

.

Wajah Neji memerah seketika. Ia memegang hidungnya, sepertinya ia akan mengalami anemia setelah ini.

"Aku rasa, aku mulai menyadari kalau Naru itu lebih imut darimu, Gaara.", Neji menyumpal hidungnya dengan tissu.

"Jangan buat aku cemburu padamu, Neji. Naruto itu milikku", Gaara memangku tangannya, menatap datar ke arah Neji.

Sementara bunga-bunga pink menguar dari tubuh Sasuke saat kekasihnya merapat kepadanya dengan malu-malu.

'Sasuke Junior, bertahanlah.'

.

.

.

.+ End Omake +.

.

.

.

a/n:

Selamat pagi siang malam. Salam sejahtera untuk kita semua. *ketuk2 microphone, setel dasi* #banyak gaya banget :p

Pertama-tama Miya ingin mengucapkan berbelasungkawa atas chapter 7, dikarenakan mengundang kesalahpahaman yang besar untuk para readers yang mengira bahwa lelaki ber-jas rapih yang meminta data Naruto adalah Killer Bee. Sebelumnya miya memohon maaf sebenar-besarnya, dikarenakan deskripsi gagal miya *uhukk* -_-. Tapi untuk memperjelas masalah. Yang meminta data mengenai Naru itu BUKAN KILLER BEE. Dan disini Miya ingin menaikkan harapan para readers yang sempat down, mengira bahwasannya Miya menyandingkan Naru dengan Killer Bee. Tidak tidak. Mereka tidak cocok… :p

Miya juga meminta maaf atas keterlambatan dalam pengupdatean chapter ini. Bener-bener miya gak bisa nyentuh ff sama sekali karena tugas2 yang tidak berprikemahasiswaan. -_-

Udah cukup deh ah, kebanyakan ngeluh nih miya-nya -_- langsung aja masuk ke sesi terimakasihh terimasiiihh.. :D

Ucapan terima kasih sebanyak-banyaknya Miya ucapkan kepada album pertama Utada Hikaru yang nemenin Miya saat pengerjaan chapter 8 ini. Lagu-lagu yang basi namun masih asik buat didenger sama kuping miya. Makasih Hika-nee :*

Dan lalu, terima kasih juga buat seluruh readers yang udah menyempatkan diri me-review fic miya ini yang gak bisa miya ketik satu-per satu karena kali ini reviewernya banyaakk .

Seperti biasa, yang log in miya bels lewat PM aja biar lebih romantic. Hihihi.. untuk yang gak login, ini dia balasan reviewnyaa :D

Hezaniwa zakaa ,, Hezakine rhyuu ,, R.A.F : makasii Zakaa-san,, rhyuu-san ,, R.A.F – san ini di lanjut.. silahkaann….

Zen Ikkika : hehehe.. ini lemonnya.. Cuma lemon nista buatan author hijau ini Zen-san.. -_- heheheh, bukan killer bee :D

Malachan12 : yo, miya buat sasu gak bakal tenang karena udah merebut naru dari miya! Hahahah! *plakk – ditabok Gaara XD ha? Menggungah selera? Memangnya fic miya makanan? -_- oke dehh, makasii banyaaakk :D

Azure'czar : ho? Azure-san nebak apa? O.o apa yang gak bisa ditebak? O.o BUUKAAANNN! . bukan killer bee azure-saaannn Q_Q . oh? Padahal miya berencana mau buat endingnya naru kabur dari sasu dengan naik naga terbang milik kian santang :O gemana dong? Miya gak mau kissu, miya mau fic lemon asem dari azure-san :p

SukeNaru : waahh~ ini anak bisa menebak imaginasi miya nih. Yang pasti miya gak kepikiran mereka lemonan di ruangan sasu. Mungkin di dapur. Tapi gak sekarang. Nanti kalo ada omake :p miya usahain update seminggu sekali kok. :D itu bukan killer be SukeNaru-san :3 okeee, makasii :D

DIYAS : iya kah? Bingung? Padahal istilah ini udah miya jelasin di ada di chapter 1,2,3. Cuma mengulang-mengulah aja kok :D oke, ini dilanjut ;)

Guest : ahahaha… Miya memang suka banget ama chef Juna.. heheheh… itu bukan bayangan kamu aja kok, miya juga ngebayangin chef junaa.. ihikihiikk :3 *muka mesum

Kkhukhukhukhudattebayo : oh.. itu dia dillemannyaaa hohohoho~… iya, di awal memang miya mau buat dobe itu bener2 dobe totall! Tapi dilain sisi, miya mau nunjukkin si dobe emang dobe, namun dibalik kedobeannya itu, dia memiliki bakat dan kemampuan yang tidak bisa diremehkan. :3 haa? Masa gak bisa nebak sihh siapa yang mau milikin Naru? Hihiihi.. pairingnya memang agak susah dicari siihhh. Di Ffn belum ada kayaknya pairing ****xNaru ini :p

Yunaucii : iyaaa.. miya orang medaaann… kuliah di universitas negeri medan. Seru kah? Terimakasiiihh :D sai? Ohohohoho~ clue-nya : pairing ini jarang ditemukan dimanapun yohohohohoho :D

.

Buat Facebook, readers-san bisa search pen-name miya (Miyazaki Erizawa), karena nama FB miya udah miya ganti jadi sama kayak pen-name ffn. Sebelumnya tolong kirim inbox dulu sama Miya, biar langsung miya approve. Ada banyak permintaan pertemanan yang belum miya confirm hehehe -_- daaaannn~ sebisa mungkin jangan ngomongin fic miya di wall, karena miya takut keluarga miya tau 'penulis' macam apa miya ini…. (belum berani bilang ke keluarga tentang hobby aneh miya) -_-

.

Thank you so much for all readers, baik yang review maupun para silent reader yang dengan setia mengikuti perkembangan Kitchen In Love ini.

At least, if there's a greatest word more than 'thank you', I will give it to you all guys.. :D

.

Happy Birthday, sepupuku tercinta :D

.

.

.

Medan, 23 September 2013

.

.

Miyazaki Erizawa BoF.