Naruto © Masashi Kishimoto
.
.
.
Chapter 8
Truth and Lie
Fugaku menatap sosok di hadapannya meneliti. Memandangi gadis yang kini tengah tersenyum penuh percaya diri kepadanya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Belum satu jam berada di rumah megah itu, ia sudah berhasil mencuri perhatian seisi rumah dengan sikapnya yang supel. Bahkan istrinya –Mikoto– juga sangat menyukai Sakura.
Gadis itu pandai mengambil topik pembicaraan. Ada saja yang ia komentari. Mulai dari busana sang istri yang katanya sangat cocok dengan postur tubuhnya –menampilkan sosoknya yang anggun dan ramah. Make up yang katanya membuat sang istri terlihat lebih muda, bahkan sepatu baru Mikoto yang katanya sudah diincar Sakura namun tak berhasil ia dapatkan. Ah...dasar wanita.
Mikoto nampak sangat senang berbincang dengan gadis pink itu. Ya, Sakura memang ahlinya bila membicarakan masalah fashion dan segala trend terbaru. Mereka berdua lebih seperti teman yang sedang asyik ngobrol daripada ibu dan anak. "Ah...senangnya. Akhirnya aku punya teman untuk bertukar pikiran," begitulah kata Mikoto di tengah-tengah perbincangan setelah makan.
Sasuke hanya mendengus kesal. Sang ibu menguasai Sakura sepenuhnya, tak memberinya kesempatan untuk dekat-dekat dengan kekasihnya itu. Saat hendak mengintrupsi, ibunya akan berkata, "Kau ini kan sudah bertemu Sakura-chan setiap hari, berilah ibu kesempatan untuk ngobrol dengannya, ibu ingin menanyakan pendapatnya tentang trend fashion musim ini," haaah...membuat Sasuke mendengus kesal dan memilih meninggalkan dua orang wanita yang sama-sama berarti dalam hidupnya itu.
Kini Sasuke berjalan menuju taman belakang, toh nampaknya Sakura juga senang karena mendapat teman baru yang bisa diajak diskusi. Tak seperti dirinya yang hanya akan menanggapi dengan 'Hn'nya yang sampai saat ini tak jelas maknanya.
Sasuke memutuskan menikmati pemandangan taman belakang rumahnya yang lama tak ia kunjungi. Dipandangnya hamparan bunga dengan berbagai warna yang disusun membentuk lambang keluarga Uchiha. Sesekali ia menghela nafas tak nyaman, ia lelah dan ingin segera kembali ke apartemennya. Mungkin bisa juga 'bermain' dengan Sakura sebentar.
"Kau merasa lelah?" ujar suara bariton khas orang dewasa yang tiba-tiba muncul dari belakang Sasuke. "Begitu tak nyamankah rumah bagimu?"
"Aku selalu suka rumah," sahut Sasuke bohong.
"Apa begitu sukanya sampai-sampai harus menghela nafas bosan berulang kali?" sindir Fugaku yang hanya ditanggapi decihan putranya. "Sering-seringlah berkunjung. Atau kalau memang tak sempat, setidaknya hubungi ibumu. Dia merindukanmu setiap waktu."
"Kalian tak perlu aku jika ada Itachi," sahut Sasuke sengit. "Jika bukan karena Itachi pulang, kalian tak mungkin memintaku hadir dalam makan malam."
"Sasuke..."
"Berhentilah bersikap seolah kau peduli padaku Ayah," tungkas Sasuke, masih berusaha menjaga nada bicaranya.
Fugaku baru saja hendak menanggapi ucapan putra bungsunya saat Sakura tiba-tiba muncul dan nampak salah tingkah. Sejujurnya Sakura merasa kehadirannya merusak suasana, lihatlah, ia kini tengah mengrenyit aneh sembari mundur beberapa langkah untuk kembali masuk.
"Kau lelah? Kita akan segera pulang," ucap Sasuke menyadari kehadiran Sakura. Ia sendiri sebenarnya sudah ingin pulang sejak tadi kalau saja Mikoto tidak menahan gadisnya lebih lama.
"Aah...tak perlu begitu. Aku cuma mau menanyakan apa kau butuh sesuatu, tapi tampaknya kalian sedang bicara..."
"Kami sudah selesai," potong Sasuke cepat. "Kami duluan Ayah," lanjut Sasuke sembari memberi salam kepada Ayahnya yang hanya terdiam, sementara Sakura memandang memohon maaf dan hanya pasrah saat Sasuke menariknya pergi.
###
"Harusnya kau bersikap lebih ramah pada Ayah," ujar Sakura sesampainya di rumah.
Yang diajak bicara hanya menghempaskan tubuhnya di sofa sembari membuka kancing kemeja bagian atasnya. Entah mengapa Sasuke merasa gerah dan suasana hatinya memburuk.
Bahkan saking kesalnya, ia menutup telinga dari ocehan Sakura. Gadis itu terus bicara sementara Sasuke menulikan indra pendengarannya.
"Kadang kau ini bisa menjadi sangat menyebalkan," ucap Sasuke datar sebelum akhirnya memasuki kamarnya dan membanting pintu kasar.
Sakura menghela nafas berat, mencoba memahami pikiran sang kekasih. Ia paham betul dengan perasaan Sasuke yang selama ini cenderung kurang perhatian. Sejak kecil Sasuke memang terbiasa hidup sendiri. Orang tuanya selalu memberi curahan kasih yang berlebih kepada Itachi. Bukan karena apa-apa, tapi karena sejak kecil Itachi sakit-sakitan.
Sebenarnya bukan penyakit yang serius, hanya saja sejak kecil kekebalan tubuh Itachi memang rendah. Itulah yang membuatnya mendapat perhatian lebih dan membuat Sasuke salah paham.
Tingkat kecerdasan dan prestasi Sasuke berada jauh di atas Itachi. Tapi sekalipun orang tuanya tak pernah menghargai. Mereka akan menganggap hal itu wajar, mengingat sejak lahir Sasuke diberkahi dengan kecerdasan yang luar biasa.
Hal berbeda justru terjadi pada Itachi. Jika ia mendapatkan prestasi, maka orang tuanya akan membuat pesta kecil untuknya. Bahkan ibunya selalu memasakan makanan kesukaan Itachi demi membuat putra sulungnya itu senang. Bukankah itu tak adil?
Sebenarnya kesimpulan itu tak sepenuhnya benar. Fugaku memang selalu nampak membanggakan putra sulungnya, namun sebenarnya ia sangat menyayangi Sasuke. Di hadapan rekan bisnisnya, Fugaku selalu menceritakan kecerdasan dan prestasi-prestasi anak bungsunya itu. Jika ada alasan masuk akal yang membuatnya lebih menunjukkan kasih sayangnya kepada itachi di depan keluarganya adalah karena tak ingin kehebatan serta segala keberuntungan yang dimiliki Sasuke membuat Itachi kecil menjadi minder, meski seiring berjalannya waktu, Fugaku menyadari caranya membesarkan sang putra salah. Sasuke salah mengerti maksudnya, sikap pilih kasihnya membuat sang putra merasa dianak-tirikan.
Sakura memasuki kamar Sasuke yang nampak remang. Terlihat siluet sosok pemuda yang amat dicintainya tengah berdiri memandang keluar jendela. Perlahan Sakura mendekati tubuh bidang Sasuke. Terlalu banyak bicara ternyata membuat pemuda itu kesal padanya. Dipeluknya punggung kokoh yang masih menyembunyikan ekspresi kesalnya.
"Aku iri padamu," ujar Sasuke memecah keheningan. "Dengan mudah kau sangup merenggut perhatian mereka. Sedangkan aku? Aku membutuhkan seumur hidup untuk membuat mereka memandangku. Menggelikan!" lanjutnya diiringi tawa hambar.
"Bukan begitu... Aku yakin Ayah punya alasan masuk akal mengapa membedakan sikapnya pada kalian berdua."
"Alasan masuk akal? Maksudmu mereka tak pernah menginginkanku?"
"Ayah sangat menyayangimu Sasuke, aku bisa menangkap dari caranya memandangku penuh selidik. Itu tandanya ia peduli dengan siapa kau hidup," terang Sakura berusaha mencari sisi baik pria paruh baya yang baru dikenalnya beberapa jam yang lalu itu.
Sasuke tertawa sinis. "Ia hanya ingin memastikan gadis yang tinggal bersamaku bukanlah seoang gadis yang mengejar harta Uchiha, tak lebih." Entah mengapa ucapan Sasuke melukai hati kecil Sakura. Begitukah dirinya di mata calon keluarga besarnya?
"Kau menganggapku begitu?" tanya Sakura sedih, membuat Sasuke tersadar akan ucapannya.
Ditatapnya sepasang emerald yang kini memandangnya sendu. Paras cantiknya bermandikan sinar rembulan yang membuatnya terlihat semakin bercahaya. Ucapannya sepertinya telah melukai perasaan gadis rapuh yang kini hanya diam memandangnya.
Sasuke menempelkan keningnya dan kening Sakura, mencoba membuat gadis itu merasakan gelisahnya. "Maaf, bukan itu maksudku."
Sakura mengelus pelan raven Sasuke, bisa dirasakannya hembus nafas Sasuke yang lebih cepat dari biasanya. Pemuda itu kini memejamkan matanya, mencoba menyerap sebanyak-banyaknya ketenangan dari diri Sakura.
"Kau selalu memilikiku Sasuke."
Entah mengapa ucapan singkat Sakura begitu meneduhkan hati Sasuke. Ia merasa punya pegangan sekarang. Ada pelabuhan yang menantinya, ada rumah untuknya kembali, ada Sakura, ya..ia punya Sakura.
Perlahan dikecupnya bibir manis yang entah sudah berapa kali menjadi bius baginya, menimbulkan candu yang sulit dijelaskan. Sakura membalasnya, membiarkan Sasuke menyalurkan perasaannya dari sana, mencoba membuat dirinya nyaman dengan menenggelamkan diri dalam pelukan hangat Sasuke. Bahkan ia tak menolak saat Sasuke menuntunnya ke ranjang.
Hatinya begitu berdebar saat dirasanya sentuhan hangat Sasuke mulai menjalari tubuhnya lagi, memanjakannya dengan rasa nyaman dan menenangkan yang ditimbulkan. Selalu begini, pemuda itu selalu membuatnya lupa akan dunia hanya dengan satu sentuhan. Bersama Sasuke, ia sanggup menemukan sisi lainnya sebagai seorang wanita yang ingin dikasihi.
Entah kerasukan apa, Sakura bahkan mulai berani membuka kancing kemeja Sasuke, membuat Sasuke terkejut dan hanya mampu terkekeh ringan tanpa bermaksud menolak. Dibiarkannya gadisnya itu mencari kesenangannya sendiri, bahkan tanpa sadar Sakura diam-diam bersorak senang setelah berhasil menanggalkan kemeja yang kini teronggok tak berdaya.
"Jangan robek gaunku," sela Sakura mengintrupsi kegiatan Sasuke yang nampak mulai putus asa berusaha menanggalkan busana Sakura.
"Akan kubelikan yang baru," sahut Sasuke sembari kembali membungkam bibir gadisnya. Ia telah menunggu terlalu lama untuk malam seperti ini dan tak ingin dihentikan hanya karena gaun sialan yang begitu sulit dilepaskan, seolah mengejeknya yang tak lagi sangup bersabar. Hanya dalam hitungan detik, gaun tak berdosa itu terbagi menjadi dua dan dengan mudah dilemparkan begitu saja.
Sakura nampak tak menyerah untuk mengganggu aktivitas kekasihnya. Beberapa kali ia menampik tangan kekar yang berusaha menyentuhnya lebih dalam.
"Berhentilah berusaha menghentikanku Sakura," ucap Sasuke akhirnya karena merasa kesal Sakura terus berusaha mendorong tubuhnya mundur. Ia kini memandang gadisnya yang terbaring di bawahnya dengan nafas tersengal dan wajah merah padam. Kedua tangannya mengurung tubuh mungil Sakura, seolah takut mangsanya kembali kabur.
Sakura memandang sepasang onyx yang kini menatapnya menuntut. Sebelum ia menyerahkan segalanya, setidaknya ia ingin melihat kesungguhan dari pemuda itu. "Katakan kau mencintaiku!" pinta Sakura yang hanya ditanggapi tawa renyah Sasuke meski singkat.
Menyadari ucapan Sakura tak main-main, Sasuke terdiam dan memandang gadisnya sayang. Didekatkannya bibirnya dengan telinga Sakura dan dikulumnya lembut. "Haruskah kau menanyakan peryanyaan bodoh itu hmm?" bisiknya parau. "Aku bahkan telah menyerahkan hidupku padamu." Lanjutnya sembari sesekali menciumi titik sensitif Sakura.
Sakura terdiam menikmati sentuhan Sasuke. Pemuda itu benar-benar membawanya ke langit tertinggi dengan sentuhan tangan dan bibirnya. Membuat tubuhnya terasa lumpuh tak berdaya. Terbesit keraguan yang kembali muncul dalam benaknya. Ada rasa takut yang entah mengapa mengganggunya.
"Jadi bolehkan aku memilikimu malam ini?" tanya Sasuke jenaka, menyadarkan Sakura atas kegiatan yang tertunda. Tak sanggup berkata, Sakura mengangguk pasrah –membuat Sasuke tersenyum puas. "Aku takkan berhenti meski kau memaksa." Tungkas Sasuke sebelum akhirnya menangalkan segala yang masih melekat di tubuh mereka.
"Aku mencintaimu," bisik Sasuke sembari menatap sepasang emerald milik Sakura lembut sebelum akhirnya benar-benar menyatukan raga mereka. Sakura hanya mampu bertahan memandang sepasang mata elang yang terus menatapnya intens tak lebih dari semenit. Perasaan yang membuncah dalam dirinya membuatnya tak sanggup menahan gejolak dalam dirinya. Ditariknya wajah sang kekasih dan kembali menyatukan bibir mereka. Menimbulkan erangan dan desahan tertahan muncul dari keduanya.
Malam itu, tak ada lagi batas diantara keduanya, segalanya terjadi begitu saja. Segala yang selama ini dijaga Sakura telah diberikannya pada sang kekasih dengan suka rela dan kesadaran penuh. Bahkan ia tak menolak saat sang kekasih menanamkan benih cinta mereka di sana, tanpa memikirkan apa yang akan terjadi selanjutnya. Yang mereka tahu hanya satu, cinta menghapuskan segala batas yang pernah ada.
###
Sasuke sedikit panik saat tak mendapati tubuh gadis –ehm maksudnya wanita– yang dicintainya di sampingnya. Diedarkannya pandangannya ke seluruh penjuru kamar,namun tatapannya melembut saat mencium aroma kopi dan roti bakar dari celah pintu yang terbuka.
Sasuke kembali menghempaskan kepalanya ke bantal empuk yang langsung menyamankan posisinya, matanya terpejam mengingat kejadian semalam. Entah untuk alasan apa, Sakura menyerah padanya dan mempercayakan dirinya seutuhnya pada Sasuke. Bayangan tentang apa yang telah mereka lakukan membuat Sasuke tanpa sadar tersenyum cerah. Wanitanya yang mempesona itu, telah sepenuhnya berhasil merenggut dunianya.
Sasuke memutuskan melangkah keluar setelah sebelumnya mencuci muka dan bergosok gigi sebentar. Ia mengenakan celana tidurnya dan kaos polos tipis yang nampak longgar namun nyaman membalut tubuhnya. Tatapannya berubah teduh mendapati Sakura kini nampak menikmati secangkir kopi hangat di balkon apartemennya sembari menikmati udara pagi. Kemeja Sasuke yang kebesaran nampak membalut tubuhnya yang jauh lebih kecil dibanding Sasuke.
"Kau menikmati tidurmu?" tanya Sakura lembut, menyadarkan Sasuke dari lamunannya.
Sasuke hanya tersenyum sembari mendekati tubuh pujaannya. "Bukankah aku yang seharusnya bertanya demikian?" sindir Sasuke sembari duduk di bangku di hadapan Sakura. Mereka dipisahkan meja kecil dengan kopi dan roti di atasnya. "Maaf kalau aku terlalu memaksa."
Entah mengapa ucapan sasuke memancing guratan merah menjalari wajah Sakura, nampaknya mengingat betapa Sasuke menikmati permainan mereka semalam dan melupakan bahwa Sakura telah diambang batas. "Aku tak ingin membahasnya," sahut sakura kemudian.
Sasuke tergelak dan mengacak rambut kekasihnya. Bahagia rasanya menyadari wanita yang dicintainya telah menjadi miliknya seutuhnya.
"Sore nanti, bagaimana kalau kita berknjung ke rumah Ayah?" pinta Sakura.
"Maksudmu paman Asuma?" pertanyaan Sasuke membuat Sakura mengerenyit heran. Dari caranya bicara, seolah pria itu tahu bahwa ia memiliki 'ayah yang lain'. Sasuke akhirnya menyadari kebodohan dari pertanyaannya. "Ah...maksudku, tumben sekali kau ingin ke rumah Ayah?"
Meski merasa aneh, Sakura mencoba untuk tak curiga. "Entahlah, aku memikirkannya akhir-akhir ini. Apakah merepotkan?"
"Tentu saja tidak. Kita akan pergi bersama nanti," sahut Sasuke cepat sembari menyesap kopi hangat di cangkirnya. Sepintas tertangkap ekspresi muram dari sepasang emerald yang kini menatap lurus ke arah langit, seolah sesuatu yang berat tengah menimpanya.
'Aku harus jujur padanya' gumam Sakura dalam hati.
###
Asuma berjalan melewati lorong diantara pintu-pintu besar rumahnya. Ia pulang lebih cepat karena merasa kurang enak badan. Maklum, akhir-akhir ini bisnisnya sedang menurun sehingga membutuhkan lebih banyak perhatian. Seringnya rapat hingga larut malam membuat waktu tidurnya berkurang. Apalagi sekarang tak ada lagi Sakura yang biasa mengomel kalau sang Ayah terlalu lama bekerja dan melupakan kesehatannya. Hmmm..ngomong-ngomong dimana anak itu?
Tiba-tiba rasa rindu menguasai hatinya. Ia jarang bertemu dengan putri kecilnya itu. Apalagi semenjak Sakura dikuasai si Uchiha bungsu itu. Pada akhirnya Asuma cuma bisa mengalah merelakan, mengingat Sakura sudah cukup dewasa untuk hidup sendiri.
Langkahnya terhenti saat memperhatikan sesosok pria yang tak lagi muda dan kini berdiri memunggunginya menghadap jendela. Pria yang tak pernah ingin dilihatnya hadir dalam kehidupannya.
"Apa lagi yang kau inginkan?" tanya Asuma ketus, berusaha menunjukkan ketidaksukaannya.
"Aku sudah mengingatkanmu untuk menjauhkan putriku dari Uchiha tolol itu. Tapi nampaknya kau lebih menyukai kalau aku yang turun tangan."
"Jangan ganggu putriku Senju," geram Asuma. Rasa khawatir akan putri kecilnya mulai merampas ketenangannya.
Pria yang kini menjadi lawan bicaranya hanya terkekeh ringan. "Putrimu?"
"Jangan libatkan dia dalam masalahmu dengan Uchiha. Ia sama sekali tak mengerti apa-apa."
"Aku hanya menyelamatkan putriku dari cengkraman maut. Apa itu salah?"
Asuma menggeram marah. Pria di hadapannya ini benar-benar keras kepala. Dihampirinya tubuh pria yang kini menatapnya remeh, dicengkeramnya kerah kemeja lawan bicaranya yang sendari tadi membuat amarah dalam hatinya tersulut.
"Kaulah yang membuatnya berada di ambang maut. Pergilah dari hidupnya seolah kau tak pernah hidup!" teriak Asuma fustasi. Senju menatap sepasang mata milik lawan bicaranya yang kini dipenuhi kilatan emosi, kemudian pandangannya teralihkan dengan sepasang remaja yang nampak menatap aksi mereka dari arah pintu. Nampak si pemuda yang kini menatap mereka nanar sementara si gadis terdiam sembari menutup mulutnya dengan kedua tangannya. Melihat kesempatan emas, Senju tak berniat menyia-nyiakannya.
"Kenapa kau berniat memisahkanku dari putri kandungku sendiri? Kau tak mengizinkanku bertemu dengannya, dan menyuruhku menghilang dari hidupnya begitu saja?" ujar Senju dengan nada yang dibuat selemah mungkin. Memberikan efek keputusasaan dalam kalimatnya.
"Ya, enyahlah dari kehidupannya. Atau kau lebih suka kalau aku membunuhmu dengan tanganku?" bentak Asuma yang masih belum menyadari kedatangan Sakura.
"Maaf, tapi aku takkan melakukannya. Sampai kapanpun Sakura adalah putriku, dan dia berhak tahu atas kebenaran ini," sahut Senju memancing. Nampak jelas ekspresi terpukul dalam sepasang emerald yang kini nampak berkaca-kaca.
"Brengsek!" teriak Asuma diiringi pukulan yang dihadiahkannya kepada lawan bicaranya hingga tersungkur.
Asuma tersadar akan kesalahannya saat didengarkannya suara langkah kaki cepat dari arah lorong diiringi suara benda pecah. Nampaknya si pelaku tak sengaja menabrak hiasan kaca yang tersusun rapi di lorong saking terburu-burunya, menyisakan Sasuke yang masih terdiam memandangi dua sosok pria tak lagi muda yang beberapa detik lalu terlibat baku hantam. Sementara Senju nampak sangat puas dengan reaksi Sakura.
"Aku akan mencoba menenangkannya," ujar Sasuke kemudian sembari melangkah pelan menuju mobilnya yang terpakir di halaman.
"Kau mengetahui kalau dia berdiri di sana?"
"Kau harus tahu...sejak awal aku datang hanya untuk mengambil milikku kembali," sahut Senju sembari berdiri seraya mengelap sudut bibirnya yang berdarah.
Asuma terdiam, pikirannya menerawang pada reaksi Sakura saat mengetahui kenyataan bahwa Ayah kandungnya masih hidup dan berada di satu langit dengannya. Gadis itu, akankah memaafkan keegoisan orang dewasa di sekitarnya yang kini seolah mempermainkan hidupnya?
###
Sasuke terdiam memandangi kekasihnya yang kini menyembunyikan paras cantiknya dalam lipatan lututnya di atas ranjang. Isakan halus sesekali terdengar dari bibir manisnya, membuat Sasuke mendengus sebal melihatnya.
Merasa tak tahan, Sasuke menghampiri tubuh ringkih yang diliputi kesedihan itu. Ditariknya kedua lengan yang menyembunyikan wajahnya yang kini memerah. Sudah sekitar lima belas menit Sakura menangis sendirian.
"Aku...aku tak percaya Ayah melakukan ini padaku," ujar Sakura sembari terisak pilu. Hatinya sakit melihat Ayah angkatnya menghajar dan menghina Ayah kandungnya, bahkan seolah ingin melenyapkan pria itu. Setidaknya itulah yang ada dalam pikiran Sakura saat ini.
"Ia hanya menghawatirkan kondisi psikismu sayang," sahut Sasuke mencoba menenangkan sembari merapikan anak rambut Sakura. "Ayah kandungmu begitu menginginkanmu kembali. Wajar saja jika paman Asuma merasa khawatir bila kehilanganmu. Itulah sebabnya ia tak memberi tahumu bahwa ayah kandungmu telah kembali beberapa minggu yang lalu."
Sakura terdiam, pandangannya berubah menjadi tak suka, memandang Sasuke dengan tatapan meneliti.
"Jadi kau sudah mengetahui statusku sejak awal. Kau...sudah tahu Ayahku telah kembali dan tidak mengatakannya padaku?" ucap Sakura dengan nada geram, membuat Sasuke sadar akan kesalahannya dalam berucap. "Teganya kau," Sakura menepis tangan Sasuke yang berusaha meraih bahunya kasar.
"Dengarkan aku Saku,.."
"Kalian berdua sama saja! Berusaha memisahkanku dari ayah kandung yang tak pernah kutemui. Kau harusnya tahu perasaanku Sasuke!" ujar Sakura setengah berteriak. Hatinya terasa teriris, telinganya seolah tuli dari segala menjelasan Sasuke. Ia merasa terluka dan kecewa atas sikap orang-orang yang disayanginya. "Seburuk apapun, dia tetap ayah kandungku."
Sasuke terdiam, mulutnya bungkam menanggapi tatapan penuh kebencian Sakura. Dadanya sesak menyadari ia tak sanggup menjelaskan apapun pada gadis yang amat dicintainya ini. Sasuke bukan tak sadar bahwa Sakura berusaha menutupi status hidupnya selama ini. Ia sama sekali tak bermaksud berpura-pura tak tahu, ia hanya ingin menjaga harga diri kekasihnya dan menunggu hingga gadis itu menceritakan masalah hidupnya sendiri.
Sasuke bahkan tak melakukan apapun saat Sakura beranjak dari hadapannya dan berjalan menuju lemari pakaian dan mulai mengemasi pakaiannya.
"Kau mau kemana?" tanya Sasuke lirih yang hanya dijawab bungkam oleh Sakura.
Sakura meraih tas berisi pakaiannya dan melangkah keluar kamar, diikuti Sasuke yang berusaha menahannya. Diraihnya lengan Sakura sebelum gadis itu berhasil menuju pintu utama.
"Dengarkan aku dulu. Lari takkan menyelesaikan masalahmu!" ucap Sasuke setengah membentak. "Ayahmu berusaha memisahan kita. Aku tak punya pilihan selain menyembunyikannya darimu. Aku takut kau akan memilih pergi dariku, aku takut kau akan percaya begitu saja dengan ucapannya dan meninggalkanku," lanjutnya berusaha membela diri, mencoba menjelaskan dasar keegoisannya.
Sakura mendengus sebal mendengarkan ucapan Sasuke, dilepaskannya kasar tangan hangat yang menggenggam pergelangan tangannya. "Kau egois Sasuke. Kau hanya memikirkan kebahagiaanmu sendiri. Kenapa? Kau malu menghadapi kenyataan bahwa kekasihmu adalah anak dari hubungan gelap orang tuanya hah?"
"Ayahmu itu bukan orang baik-baik Sakura. Dia hanya laki-laki bajingan, dia itu pembohong besar..."
PLAK!
Tamparan keras Sakura menghentikan ucapan Sasuke, membuat pemuda itu terdiam kaku. Selama ini, sebesar apapun pertengkaran mereka, Sakura tak pernah sampai menamparnya.
"Berhenti berucap seolah kau mengenalnya." Sakura marah, hatinya terluka dengan ucapan kasar Sasuke –pria yang amat dicintainya. "Kita berpisah saja. Aku cukup sadar bahwa aku tak pantas untukmu."
Tepat ketika Sakura membuka pintu, seorang pria berpakaian rapi lengkap dengan jas hitamnya berdiri di depan pintu dan memberi hormat.
"Tuan Senju memerintahkan saya untuk menjemput Anda nona muda," ujar pria itu sopan.
Sakura melirik Sasuke sekitas, nampak pemuda itu masih menatapnya memohon. Tanpa banyak berucap, Sakura melangkah keluar bersama pria bertubuh tegap yang menjemputnya. Meninggalkan Sasuke yang hanya tertunduk lesu tanpa mampu menahannya.
###
"Dia meninggalkanmu?" pertanyaan Naruto lebih terdengar sebagai pernyataan di telinga Sasuke. Ia kini tengah duduk di hadapan sahabatnya, memandang sang sahabat yang biasanya dingin terlihat muram.
Sasuke masih menyangga kening dengan telapak tangannya, menutupi wajahnya yang kusut. Hatinya dirundung duka semenjak kepergian Sakura semalam. Ditambah lagi Sasuke tak menemukan gadis pujaannya itu di kelasnya. Membuatnya semakin merana.
"Apa yang harus kulakukan?" suara Sasuke terdengar menyayat perasaan Naruto. Kehilangan Sakura seolah benar-benar menyita hidupnya. "Dia sangat membenciku sekarang."
"Sakura hanya emosi. Biarkan dia berfikir sejenak."
Sasuke tak tahu harus bagaimana. Menjelaskanpun rasanya percuma. Harapannya terkumpul saat ponselnya berbuni nyaring, namun kembali kecewa saat mengetahui kenyataan bahwa yang menelfon adalah Ayahnya. Dengan enggan Sasuke mendengarkan, beberapa kali ia terlihat mendecih tak suka, namun tak menjawab sepatah katapun. Tangannya mengepal kuat saat sosok di seberang sana mengucapkan sesuatu yang tak dapat didengar Naruto, membuat pemuda ceria itu mengangkat sebelah alisnya heran.
"Kita bicara nanti," ucap Sasuke sebelum akhirnya mengakhiri pembicaraan mereka.
"Ada masalah apa teme?"
Pertanyaan Naruto tak dihiraukan Sasuke. Tanpa berkata apapun, Sasuke berlalu setelah sebelumnya mengemasi peralatan sekolahnya –meninggalkan Naruto yang hanya mampu memandangnya bingung.
"Dia itu..kenapa sering sekali seenaknya sih?" gumam Naruto sepeninggal Sasuke.
###
Fugaku memandang datar ke arah langit, matanya seolah menerawang jauh ke putaran memori yang tak ingin diungkitnya lagi. Di belakangnya, putra bungsunya hanya diam membisu. Tak ada sepatah katapun keluar dari dua manusia yang sama-sama dingin itu. Sesekali hembusan nafas berat terdengar dari sang Uchiha tua, sesak rasanya mengungkapkan sesuatu yang tak ingin lagi diingatnya, namun setidaknya Sasuke kini tahu apa yang menjadi penghalang utama hubungannya dengan Sakura.
"Tinggalkan gadis itu," ucap sang Ayah memecah keheningan. Jantung Sasuke terasa teriris mendngar kalimat yang tak pernah diharapkannya itu. "Kalian tak mungkin bersama."
"Aku takkan pernah melakukanya," geram Sasuke.
"Kali ini saja. Dengarkan Ayah Sasuke!" bentak Fugaku tegas. Kenyataan yang didapatnya pagi ini membuat dadanya sesak. Mengetahui gadis manis yang telah mencuri hati seisi rumahnya adalah putra dari musuh besarnya membuat Fugaku geram. Ia kecewa, tapi lebih karena merasa terluka ketimbang dihianati. "Kalian takkan mungkin bersama," lanjut Fugaku mengulangi ucapannya dengan nada lebih rendah.
"Kenapa, kenapa kau selalu menghancurkan hidupku?" Sasuk marah. Nada bicaranya tak terkontrol. Hatinya remuk sepeninggal Sakura, dan lebih kecewa saat menyadari awal dari petaka ini adalah akibat perbuatan orang tuanya.
"Kau putraku, sudah seharusnya kau mendengarkan ucapanku. Kemasi barang-barangmu, tinggalkan apartemenmu dan kembali ke rumah. Berhenti menjadi anak manja yang hanya bisa menuntut perhatian!"
"Aku tak pernah meminta apapun darimu! Aku bahkan menerima saat kau membuangku dan lebih memilih anakmu yang penyakitan itu. Aku tak pernah menuntut apapun darimu. Tapi kenapa kau menghancurkan hidupku dengan mengambil hartaku satu-satunya hah?"
Telak. Fugaku diam memandangi putranya yang kini tersulut emosi. Amarah dan keputusasaan terpancar jelas dari sepasang onyx yang kini menatapnya benci. Putra bungsunya yang tak pernah menunjukkan emosi, kini nampak begitu marah dan tak terkendali.
"Kau pikir aku tak peduli padamu? Dengan uang siapa kau hidup? Siapa yang membiayai sekolahmu? Apa sulitnya menjalani hidup sebagaimana anak normal lainnya? Menurut pada orang tua, berusaha menyenangkan hati orang tua, tak bisakah kau melakukannya?" tuntut Fugaku. "Ambil semua yang kau inginkan, tapi tinggalkan gadis itu!" perintahnya sekali lagi.
"Bahkan meski kau berikan perusahaan ini padaku. Aku takkan sudi menerimanya," sahut Sasuke dengan nada menusuk. "Lebih baik aku mati daripada hidup tanpa Sakura," tungkas Sasuke, bersiap meninggalkan ruang kerja sang Ayah.
"Ayah dari gadis itu, akan melakukan apa saja untuk menyingkirkanmu dari kehidupan putrinya. Aku hanya berusaha melindungimu nak!" ucap Fugaku lemah, sukses menghentikan langkah Sasuke yang kini berada di ambang pintu. "Ayah tak ingin kehilanganmu!"
"Kau telah kehilanganku. Bahkan sebelum kau menyadari bahwa aku masih ada," ucap Sasuke dingin tanpa memandang sang Ayah. Meninggalkan Fugaku yang hanya mampu tertunduk lemah.
"Kenapa kau lakukan ini pada mereka Senju?" gumam Fugaku lirih yang hanya dijawab hening.
###
Jika ada yang bertanya siapakah pihak yang paling terluka di sini, sudah pasti adalah kedua pihak yang dipaksa terpisah oleh keadaan. Terlebih bagi pihak wanita yang kini rapuh tak berdaya. Sakura masih menggelung diri dalam kamar barunya. Tak ada yang salah dengan ruangan ini. Semuanya sempurna.
Wallpaper berwarna pink cerah dengan motif bunga sakura, kasur berukuran queen size dengan kualitas internasional yang sudah pasti sangat nyaman, pengatur suhu ruangan yang secara otomatis akan menyesuaikan suhu kamar dengan kondisi cuaca, semua ini seharusnya mampu membuatnya tertidur pulas. Namun sejak semalam, ia hanya tebaring gelisah sembari sesekali terisak lemah.
Kantung mata nampak menghiasi sepasang mata cantiknya yang biasa terlihat cerah dan ceria, seolah badai baru saja meluluh lantahkan keindahannya. Sekilas tatapannya nampak kosong memandangi cahaya sang surya yang menyusup malu-malu melalui sela-sela tirai yang terbuka.
Biasanya Sasuke akan membuka tirai kamarnya lebar-lebar untuk menyadarkannya bahwa pagi telah menjemput. Biasanya pria itu akan mengecup keningnya lembut sembari mengucapkan kata-kata sayang untuk membangunkan kesadarannya. Ya...biasanya Sasuke selalu menyambut paginya dengan hal-hal manis, dan kini semua telah berakhir.
Separuh hatinya menyesal telah pergi dari apartemen Sasuke, terlebih pertengkaran mereka kemarin –semakin membuat Sakura melebur dalam kesedihan. Wajah sang kekasih yang memohon maaf dan penuh penyesalan, cara bicaranya yang lirih dan tak seperti biasanya, tangan hangat yang berusaha meraihnya, Sakura mengingat semuanya. Betapa pemuda itu berusaha menahannya untuk tetap tinggal dan mendengarkan penjelasannya. Namun Sakura menolak. Dengan kasar ia menepis tangan yang selalu mendekapnya penuh kasih, dengan jahatnya ia menampar pipi halus sang kekasih, dengan kejamnya ia telah mengucap kata pisah secara sepihak.
Tapi tak bisa dipungkiri bahwa setengah hatinya yang lain juga merasa kecewa dengan pemuda itu. Ia merasa dipermainkan sekaligus dibodohi orang-orang yang paling disayanginya. Susah payah ia menembunyikan status keluarganya dari Sasuke dan pemuda itu sudah tau kebenarannya. Tapi kenapa tak menanyakan dan justru berpura-pura tidak tahu? Bisa bayangkan betapa malunya Sakura?
"Kau menyebalkan Sasuke..." gumam Sakura pada dirinya sendiri.
Beberapa saat kemudian terdengar ketukan halus dari luar. Beberapa pelayan masuk sembari memberi hormat, sedikit terkejut mendapati sang nona muda masih terbaring di atas ranjangnya.
"Maaf nona. Tuan menunggu Anda di bawah," ucap sang pelayang santun.
"Hn," sahut Sakura lirih sembari berusaha bangkit. "Kalian boleh keluar. Aku akan turun secepatnya," lanjutnya sembari melangkah gontai menuju kamar mandi.
Tak butuh waktu lama, lima belas menit kemudian Sakura turun untuk menumi Ayah kandungnya. Sepintas ia memperhatikan desain rumah megah ini. Semalam ia tak sempat melihat-lihat karena terlalu lelah, ternyata rumah ini begitu indah meski tak terlalu mewah. Kesan nyaman begitu kental terasa.
Pandangan Sakura tertumpu ada seorang pria seusia Asuma yang kini tersenyum memandangnya. Sekilas nampak tatapan rindu yang tak dibuat-buat dari sorot mata sendu miliknya.
"Kau sangat mirip dengan ibumu," ucap pria itu sembari mendekati tubuh Sakura. "Maaf karena meninggalkanmu begitu lama sayang."
Sakura hanya diam, terlalu bingung untuk mengatakann sesuatu. Bahkan ia tak menolak saat pria yang mengaku sebagai Ayahnya memeluknya erat.
"Ayah..." panggil Sakura untuk pertama kalinya. Entah mengapa air mata serasa hendak mengalir ketika ia merasakan keraguan dari ucapannya sendiri. Entah mengapa hatinya gamang, selama sekian tahun ia memanggil sosok lain yang tak memiliki ikatan darah dengannya dengan sebutan Ayah, dan kini ia justru merasa aneh saat mengucapkan panggilan sakral itu untuk orang lain yang baru saja ditemuinya –meski itu ayah kandungnya sendiri.
"Ya putriku?"
"Bisa ceritakan padaku bagaimana kau dan Ibuku bertemu?"
Senju terdiam. Wajahnya yang semula bersinar mendadak menegang –tak pernah terbayangkan olehnya akan disodori pertanyaan ini begitu cepatnya. Dipandangnya sepasang emerald yang masih memandangnya menuntut. Gadis ini nampak lemah dan rapuh, jika salah sedikit saja dalam berucap, ia yakin putri kecilnya ini akan remuk tak bersisa. Tidak, gadis itu tak boleh menyerah sekarang. Baginya, Sakura adalah harta penting guna melancarkan rencananya untuk membalas dendamnya pada Uchiha.
"Bagaimana kalau kita berbincang sambil sarapan? Para pelayan sudah menyiapkan berbagai menu sarapan yang mungkin kau suka," bujuk Senju sembari berusaha mencairkan suasana.
Setelah acara sarapan bersama antara Ayah dan anak itu, mereka memutuskan untuk berjalan-jalan sembari mengenang masa lalu. "Apa kau membenciku setelah mengetahui cerita lengkapnya?"
Sakura terdiam sejenak, tubuhnya terasa lemas dan kepalanya pening. "Tidak juga. Kau tetap Ayahku apapun yg terjadi," sahutnya pelan sembari berusaha keras menahan pening yang terus menyiksa.
"Kau baik-baik saja? Wajahmu pucat sayang," Senju nampak begitu khawatir, disentuhnya kening putrinya. "Kau demam?"
"Aku baik-baik saja," sahut Sakura cepat. "Aku hanya butuh berbaring sebentar," lanjutnya sembari menepis halus tangan sang Ayah yang mencoba meraihnya.
Sakura berusaha sebisa mungkin berjalan sendiri menuju kamarnya. Tapi langkahnya terhenti sebelum berhasil memasuki rumah. Jika bukan karena salah satu pelayan yang dengan sigap meraih tubuhnya, Sakura pasti telah terjerembab di tanah sekarang.
Senju segera ikut membantu mengangkat tubuh Sakura yang lemah tak berdaya. "Panggil Tsunade," perintahnya tegas kepada beberapa pelayan yang baru muncul sementara dirinya mengangkat tubuh putri kecilnya.
###
"Dia butuh banyak istirahat. Sebaiknya jangan bebani pikirannya dengan hal-hal yang tak perlu," terang Tsunade menjelaskan.
"Kondisinya baik-baik saja?"
"Kita lihat besok. Kalau kondisinya membaik, berarti tidak ada yang perlu dikhawatirkan," sahut Tsunade sembari mencatat sesuatu dalam buku catatannya. "Jangan bebani dia dengan masalah yang tak seharusnya dia pikul," lanjutnya seoah mengerti beban yang disangga peri mungil yang kini terbuai mimpi.
"Aku memang Ayah yang menyedihkan," gumam Senju yang hanya dibalas diam oleh seisi ruangan. Dipandangnya wajah Sakura yang sangat mirip dengan wanita pujaannya. Wanita yang amat dicintainya namun tak pernah sanggup terjangkau. "Mungkin akan lebih baik kalau aku membawanya pergi sejauh mungkin dari Konoha."
"Kau yakin itu takkan membuatnya semakin terguncang?"
Hashirama Senju terdiam. Sosok angker yang dihormati oleh pebisnis dunia tu memandang putrinya sekali lagi. "Aku sudah terlalu lama menghilang dari sisinya. Aku tak ingin kehilangannya seperti saat aku kehilangan Hana.
TBC
Author's note :
Maaf updatenya lama... -.-"
Kemarin-kemarin masih fokus sama fic Eterminator...fic ini jadi agak terabaikan...
Ehm, ngomong-ngomong, maaf bgt yaa...lemonnya ngga bisa kerasa kan? -.-
Author masih baru, masih butuh banyak belajar...
dan sebenernya agak takut bikin adegan lemon...
huhuhu...
Ngga suka yaa? Nanti saya coba membuatnya lebih baik deeh... -.-
I'll do my best wat menyenangkan hati readers sekalian... :)
Maaf..maaf...maaf...bgt *sambil bungkuk2..
Eh...btw mau nanya niih...kalau ganti pen name, ada efeknya ngga?
makasiih...
Beri saran yang membangun yaa... :)
Akhir kata
^^R.E.V.I.E.W pleace^^
