Disclaimer :
Detektif Conan milik Gosho Aoyama.
Catatan Penulis :
Terima kasih untuk Lionel Sanchez Kazumi, Airin Aizawa, Raya Castellan, poppysjahbandi, conanlovers, Hikari Hattori, shinichi kudo-san, ShinYi, Poyo-chan, Fumiya Ninna 19, L-ThE-MyStEriOuS, Maymay-kun, Divinne Oxalyth, shirayuki nao, Sheila Kudo, rachel moore dan angel and cool guy atas komennya!
Lionel Sanchez Kazumi : Tahan dulu. Kalau pelukan aja udah kayak gitu, gimana kalau adegan M-nya nanti. He he he.
Airin Aizawa : Coba bayangin kalau Ran ketemu Shiho. Pasti wajahnya bakalan priceless.
Raya Castellan : Chapter depan kayaknya.
poppysjahbandi : Chapter depan tapi aku mungkin nggak mendeskripsikannya jadi dibayangkan sendiri saja gimana ekspresinya. Terima kasih juga untuk ucapan selamatnya dan doanya.
conanlovers : Lho, baru sadar? Padahal udah dari chap 2. He he he. Heiji nggak akan galak2 kok, dia kan cinta sama Shinichi. Kalau Heiji nggak macem2, ratingnya nggak jadi naik dong. XD
Hikari Hattori : Soalnya aku lebih suka Akai yang licik daripada Akai yang angsty. Maaf kalau ke-OOC-annya tidak berkenan. Kalau bertiga kayaknya susah tuh. Kazuha orangnya posesif sedangkan Akai atau Shinichi bakalan ngambil Shiho kalau Heiji ngeduain Shiho.
shinichi kudo-san : Aku memang ada rencana ke situ. Dan kejadian itu akan menjadi pemicu kenaikan rating fic ini. *wah, spoiler nih*
ShinYi : Aku nggak bisa janji kalau setiap orang bakal punya pasangan di akhir cerita ini. Salam kenal juga dan terima kasih untuk ucapan selamatnya.
Poyo-chan : Sabar ya. Tunggu fic ini selesai dulu. Nggak apa kok, aku sangat menghargai komen apapun.
Fumiya Ninna 19 : Aku juga ketawa gaje kok pas nulis adegan Shuichi dan Heiji. Mungkin suatu saat nanti dengan pairing yang berbeda.
L-ThE-MyStEriOuS : Sama-sama. Ketenangan sebelum badai datang. Fic ini ratingnya bakal naik nanti.
Maymay-kun : Pengin aja. Kayaknya lucu. Tapi pas nulis fic ini, aku jadi mupeng pengin nulis ShinShi lagi.
Divinne Oxalyth : Selera Shiho emang aneh kok. Yah, namanya juga boneka pertama dari pacar. He he he.
shirayuki nao : Ya, dia cemburu. Kasihan Heiji dong kalau dia dikerjain terus. He he he.
Sheila Kudo : Mungkin karena kamu tidak mengenalnya dengan baik. He he he. Maaf kalau ke-OOC-annya tidak berkenan. Namanya juga bukan penulis aslinya DC jadi OOC sangat mungkin terjadi.
rachel moore : Soalnya aku nggak ada rencana bikin Shiho hamil sebelum menikah. Jarang banget ada orang yg langsung hamil sekali tidur. Itu biasanya terjadi di film atau sinetron.
angel and cool guy : Wah, aku juga lupa tuh. Udah lama soalnya. Maaf, nggak bisa mbantu. Coba tanya mbah Google.
Baiklah, ini dia chapter 8. Isinya tentang sahabat yang berbaikan kembali setelah persahabatannya terguncang oleh badai bernama cinta. Memang kalau persahabatan tidak teruji, kita tidak akan pernah tahu apakah persabatan kita cukup kuat atau tidak.
Selamat membaca dan berkomentar!
Semalam Bersamamu
By Enji86
Teman Selamanya
Ketika Heiji sampai di depan pintu rumah Shinichi, dia bertemu dengan Ran yang akan pulang setelah mengantarkan makan malam untuk Shinichi.
"Hattori-kun, apa yang kau lakukan di sini malam-malam begini?" tanya Ran dengan heran.
"Apa Kudo ada?" tanya Heiji tanpa menjawab pertanyaan Ran.
"Ya, dia baru saja makan malam...," ucapan Ran terhenti karena Heiji sudah melesat masuk ke dalam rumah. Dia pun mengikuti Heiji masuk kembali ke dalam rumah karena dia merasa tingkah laku Heiji sangat aneh. Dia melihat Heiji memegang kerah baju Shinichi dengan satu tangan dan tangan lainnya sedang bersiap untuk meninju Shinichi sehingga dia buru-buru menghampiri mereka berdua. Namun sebelum dia sampai di sana, Heiji sudah melepaskan Shinichi. Dia langsung menghampiri Shinichi dengan wajah khawatir.
"Hattori-kun, apa yang kau lakukan?" seru Ran dengan marah.
Heiji membalikkan badannya sehingga Shinichi dan Ran hanya bisa menatap punggungnya.
"Kudo, kau adalah sahabatku. Walaupun aku ingin sekali memukulmu, aku tidak bisa karena kau sudah babak belur. Kalau kau pernah menghargai persahabatan kita, aku ingin minta satu hal padamu. Jangan membuatnya sedih lagi. Kau bisa menyalahkanku dan membenciku asal kau tidak membencinya dan bersikap dingin padanya. Aku harap kau mau mengabulkan permintaanku itu," ucap Heiji kemudian dia mulai melangkah pergi.
"Hattori," panggil Shinichi sehingga langkah Heiji terhenti. "Aku minta maaf."
Heiji langsung berbalik dan menatap Shinichi dengan tidak percaya.
"Tidak seharusnya aku bersikap begitu pada kalian berdua. Kalian berdua adalah sahabatku dan aku benar-benar kesepian dan kehilangan setelah aku memusuhi kalian berdua. Karena itu, maafkan aku, Hattori. Apa kita masih berteman?" ucap Shinichi.
"Apa kau serius?" tanya Heiji masih dengan tatapan tidak percaya.
"Aku serius," jawab Shinichi.
"Jadi kau tidak marah lagi?" tanya Heiji.
"Tidak," jawab Shinichi.
Heiji langsung menghampiri Shinichi dan memeluk Shinichi dengan erat karena dia sangat gembira sementara Shinichi merasa kesakitan dan sesak nafas dalam pelukan Heiji yang erat. Shinichi mencoba mendorong Heiji menjauh tapi Heiji tidak ambil pusing. Percaya atau tidak, jika Shinichi adalah seorang wanita, Heiji pasti akan pacaran dengannya.
"Tentu saja kita masih berteman. Kita akan berteman selamanya," ucap Heiji dengan gembira sambil terus memeluk Shinichi. Beberapa saat kemudian, Heiji akhirnya melepaskan Shinichi yang sibuk mengernyit karena Heiji baru saja meremukkan tubuhnya lagi.
"Lalu bagaimana dengannya?" tanya Heiji.
"Aku akan menyelesaikannya besok karena aku harus menenangkan diri dulu," jawab Shinichi.
Heiji merasa heran dengan ucapan Shinichi. Kenapa Shinichi harus menenangkan diri dulu sebelum bicara lagi dengan Shiho? Tapi kemudian dia memilih untuk tidak menghiraukannya. Yang penting baginya, Shinichi sudah kembali menjadi temannya dan teman Shiho sehingga Shiho tidak akan sedih lagi.
Sementara itu, Ran hanya memandang mereka berdua dengan bingung karena dia tidak mengerti apa yang mereka bicarakan. Dia bertanya-tanya dalam hati siapa orang yang dibicarakan Shinichi dan Heiji. Dia hanya berdiam diri karena dia merasa dia akan mengganggu kalau dia buka mulut. Dia merasa Shinichi dan Heiji sedang bicara dengan serius dan tanpa sadar mereka berdua tidak menghiraukannya.
"Baiklah, aku harus pulang sekarang. Aku tidak ingin kemalaman sampai di Osaka," ucap Heiji.
"Eh? Kau baru datang dan sudah akan pergi?" tanya Ran bingung.
Heiji dan Shinichi langsung mengalihkan pandangan mereka ke Ran. Mereka benar-benar tidak sadar kalau Ran dari tadi ada di ruang tamu bersama mereka.
"Oh, eh, sebenarnya aku sudah ada di sini sejak tadi pagi untuk sebuah urusan," jawab Heiji.
"Apa Kazuha-chan tidak ikut denganmu?" tanya Ran lagi.
"Ah, tidak. Aku tidak mengajaknya," jawab Heiji dengan gugup lalu dia menarik Shinichi mendekat. "Kudo, tolong rahasiakan hubunganku dengan Shiho. Aku tidak mau Kazuha tahu karena dia pasti akan melapor pada orang tuaku. Aku tidak bisa memberitahu orang tuaku sebelum Shiho bersedia menikah denganku," bisik Heiji di telinga Shinichi sedangkan Ran memandang mereka berdua dengan bingung.
Shinichi pun mengangguk sehingga Heiji menatapnya dengan rasa terima kasih.
"Baiklah, aku pulang dulu. Sampai jumpa," ucap Heiji kemudian dia bergegas melangkah menuju pintu sebelum Ran sempat membuka mulutnya lagi.
"Hattori-kun aneh sekali, sebenarnya ada apa sih? Apa kalian bertengkar akhir-akhir ini makanya kalian saling memaafkan? Kenapa kalian bertengkar? Lalu siapa yang kalian bicarakan tadi?" tanya Ran bertubi-tubi.
"Kau benar-benar banyak bertanya ya?" ucap Shinichi.
"Mau bagaimana lagi. Aku sama sekali tidak mengerti pembicaraan kalian tadi dan aku tidak suka itu. Kau bahkan tidak menceritakan pengalamanmu selama mengejar Organisasi Hitam. Kau hanya menceritakan penggerebekannya saja yang berlangsung selama sebulan padahal kau sudah pergi berbulan-bulan," ucap Ran.
"Baik, baik. Yah, kami memang sempat bermasalah tapi semua sudah selesai jadi aku tidak ingin mengungkitnya kembali. Aku juga tidak bisa menceritakan orang yang kami bicarakan tadi karena kasusnya masih rahasia," ucap Shinichi.
"Jadi orang itu berkaitan dengan kasus yang sedang kau tangani bersama Hattori-kun begitu?" tanya Ran.
"Ya, begitulah," jawab Shinichi. Pengalamannya sebagai Conan membuatnya sangat ahli dalam membohongi Ran.
"Baiklah, aku mengerti," ucap Ran kemudian dia menghela nafas. Dia merasa janggal dengan jawaban Shinichi tapi dia tidak berani menanyakannya. Shinichi yang sekarang memang sudah berubah. Tapi Shinichi tetaplah Shinichi, begitulah yang ada di pikirannya.
"Ran, lebih baik kau pulang sekarang. Ini sudah malam dan besok kita masuk sekolah," ucap Shinichi.
"Kau benar. Kalau begitu aku pulang dulu. Aku akan membawakan sarapan untukmu besok," ucap Ran.
"Eh, tidak perlu. Aku tidak ingin merepotkanmu," ucap Shinichi.
"Tidak merepotkan kok. Aku kan pacarmu," ucap Ran dengan wajah bersemu merah.
"Terima kasih tapi tidak usah. Profesor menawariku untuk sarapan di rumahnya jadi aku akan sarapan di rumah Profesor besok," ucap Shinichi dengan wajah memerah juga walaupun dia sedang berbohong lagi kepada Ran.
"Oh, begitu. Baiklah. Sampai jumpa besok," ucap Ran sambil bangkit dari tempat duduknya.
"Ya, sampai jumpa," ucap Shinichi.
Ran melangkah keluar dari rumah keluarga Kudo dan pulang ke rumahnya.
XXX
"Sherry, aku pergi sekarang," ucap Shuichi setelah mereka selesai makan malam.
"Baiklah," ucap Shiho.
Lalu Shuichi mengalihkan pandangannya ke Profesor Agasa.
"Profesor, terima kasih untuk semuanya dan sampai jumpa lagi," ucap Shuichi sambil menjabat tangan Profesor Agasa.
"Tidak perlu berterima kasih. Aku senang kau datang ke sini. Kapan kau akan kembali ke Jepang?" ucap Profesor Agasa.
"Aku tidak tahu. Aku harap secepatnya. Aku tidak bisa jauh dari sini untuk waktu yang lama," ucap Shuichi sambil tersenyum penuh arti pada Profesor Agasa kemudian dia melepaskan jabatan tangannya. Lalu dia berbalik dan melangkah menuju pintu. Shiho pun mengikuti di belakangnya.
"Apa kau akan merindukanku?" tanya Shuichi ketika mereka sudah berdiri di luar pintu.
"Kau sangat menyebalkan. Mana mungkin aku merindukanmu," jawab Shiho sehingga membuat Shuichi tersenyum.
"Baiklah, kalau begitu aku akan segera kembali," ucap Shuichi kemudian dia mencium kening Shiho. "Sampai jumpa," ucap Shuichi lalu dia berbalik dan melangkah pergi tanpa menunggu jawaban Shiho.
Shiho menatap kepergian Shuichi lalu dia menghela nafas setelah Shuichi menghilang dari pandangannya. Kemudian dia masuk kembali ke dalam rumah. Yang namanya perasaan memang bisa menjadi sangat rumit kadang-kadang.
XXX
Keesokan paginya, Shiho sudah akan duduk di meja makan untuk sarapan ketika ada orang yang menekan bel pintu. Shiho pun mengurungkan niatnya untuk duduk.
"Biar aku saja," ucap Shiho pada Profesor Agasa yang hendak berdiri dari kursinya lalu dia bergegas ke pintu depan. Begitu dia membuka pintu, dia langsung berhadapan dengan tetangganya sekaligus teman baiknya yaitu Shinichi. Dia menatap Shinichi sebentar lalu mengalihkan pandangannya dan mulai melangkah kembali ke dalam rumah tanpa menutup pintu karena dia pikir Shinichi datang untuk mencari Profesor Agasa.
Melihat Shiho berbalik dan mulai melangkah pergi, Shinichi segera meraih pergelangan tangan Shiho untuk menghentikannya. Sesuai harapannya, Shiho pun berbalik kembali untuk menatapnya, namun hatinya langsung terasa seperti ditusuk pisau ketika dia menatap mata Shiho. Mata itu penuh dengan kesedihan dan rasa sakit ketika menatap matanya. Dia refleks menarik Shiho ke dalam pelukannya. Dia benar-benar merasa bodoh karena dia baru bisa melihatnya sekarang, setelah dia melukai Shiho begitu dalam dengan sikapnya.
"Maafkan aku. Aku benar-benar minta maaf. Aku memang bodoh. Karena itu tolong maafkan aku," ucap Shinichi bertubi-tubi.
Shiho tidak mengeluarkan reaksi apapun selama beberapa lama sampai akhirnya dia membalas pelukan Shinichi tanpa mengatakan apapun. Tapi dengan begitu saja, Shinichi sudah tahu bahwa Shiho telah menerimanya kembali, bahwa mereka sudah berteman kembali. Bibirnya pun membentuk senyuman. Dia baru tahu bahwa memeluk Shiho ternyata terasa begitu nyaman.
"Sekarang aku tidak peduli lagi meskipun dia menjadi milik orang lain. Selama aku bisa bicara dengannya, selama aku bisa melihat dia tersenyum kepadaku dan selama aku menjadi salah satu orang yang paling dekat dengannya, itu tidak ada artinya," ucap Shinichi dalam hati.
Profesor Agasa yang bingung karena Shiho tidak juga muncul di meja makan padahal Shiho sudah pergi cukup lama ke pintu depan, bangkit dari kursinya dan melangkah menuju pintu depan. Dia terkejut ketika menemukan Shinichi dan Shiho berpelukan di dekat pintu. Namun kemudian dia tersenyum lega. Dia bersyukur sekaligus merasa sangat senang karena akhirnya Shinichi dan Shiho rukun lagi. Bagaimanapun juga, mereka berdua adalah orang-orang yang paling dia sayangi jadi melihat mereka berdua bermusuhan seperti sebelumnya membuatnya sedih.
"Akhirnya badai itu berlalu," ucap Profesor Agasa dalam hati.
XXX
"Kau sungguh tidak tahu malu. Baru minta maaf, sudah makan begitu banyak," ucap Shiho sinis ketika melihat Shinichi sarapan dengan lahap.
"Oi! Oi! Kau tahu kan aku masih dalam masa penyembuhan. Aku butuh banyak makan untuk mengembalikan kondisiku," ucap Shinichi dengan wajah kesal.
"Alasan saja," ucap Shiho.
"Sudah, jangan cerewet," ucap Shinichi kemudian dia meneruskan sarapannya.
Profesor Agasa sweatdrop melihat mereka berdua.
"Padahal mereka berdua baru saja baikan," batin Profesor Agasa.
"Oh ya, ngomong-ngomong, Ran ingin berkenalan denganmu. Apa kau tidak keberatan kalau aku mengajaknya makan malam di sini malam ini?" tanya Shinichi.
"Jadi kau belum menceritakan padanya tentang Conan dan Ai ya?" Shiho balik bertanya.
"Belum. Aku juga belum bisa memutuskan apakah aku akan menceritakannya atau tidak. Sepertinya kalau aku cerita, semuanya akan bertambah rumit," jawab Shinichi.
"Begitu. Yah, semuanya terserah padamu. Aku tidak akan ikut campur tapi aku pikir aku tidak ingin kau menceritakan tentang Ai padanya. Ai tidak ada hubungannya dengannya," ucap Shiho.
"Baiklah kalau itu yang kau inginkan. Walaupun aku menceritakan tentang Conan padanya suatu saat nanti, aku tidak akan buka mulut tentang Ai," ucap Shinichi.
"Terima kasih," ucap Shiho.
"Tidak perlu. Itu hakmu untuk menyembunyikannya. Jadi bagaimana dengan permintaanku nanti malam?" ucap Shinichi.
Shiho diam sejenak untuk berpikir kemudian dia mengangguk.
"Baiklah, hari ini aku hanya sampai jam 4 sore di kantor. Aku rasa aku bisa mengusahakan makan malam yang sesuai," ucap Shiho.
"Benarkah? Itu bagus. Terima kasih," ucap Shinichi dengan wajah gembira.
"Lalu bagaimana hubunganmu dengannya?" tanya Shiho.
"Kami sudah jadian dua minggu yang lalu," jawab Shinichi.
"Eh?" ucap Shiho dengan ekspresi kaget dan bingung.
"Kenapa kau kaget begitu? Kau pikir aku tidak bisa menyatakan cintaku padanya, begitu?" tanya Shinichi kesal karena dia pikir Shiho sedang mengejeknya.
"Ya, kau memang benar-benar mengagetkanku. Bukankah kau sudah berkali-kali gagal menyatakan cinta padanya? Makanya aku jadi kaget," jawab Shiho dengan nada mengejek.
"Tutup mulutmu," seru Shinichi kesal sementara Shiho hanya menyeringai kepadanya.
Shiho kemudian melanjutkan sarapannya dengan setengah melamun.
"Ada apa dengan perasaanku? Kenapa tiba-tiba begini? Apakah aku sudah... Tapi bagaimana bisa?" pikir Shiho.
Sementara itu, Profesor Agasa menatap Shiho dengan khawatir tanpa disadari oleh Shiho dan Shinichi.
"Ai-kun, apa kau masih saja..." batin Profesor Agasa.
"Lalu bagaimana denganmu dan Hattori?" tanya Shinichi.
"Baik," jawab Shiho singkat sambil tersenyum.
Shinichi langsung menyesal karena menanyakan itu karena dia merasa hatinya seperti teriris. Dia bisa melihat dari senyum dan tatapan mata Shiho bahwa Shiho sangat menikmati hubungannya dengan Heiji.
"Baiklah, aku harus berangkat sekarang. Aku harus segera menjemput Ran agar kami tidak terlambat ke sekolah," ucap Shinichi.
"Baiklah. Sampai jumpa nanti malam," ucap Shiho.
"Hati-hati di jalan, Shinichi-kun," ucap Profesor Agasa.
Shinichi hanya mengangguk kemudian bergegas keluar dari rumah Profesor Agasa. Sesampainya di depan pagar rumah Profesor Agasa, Shinichi menghela nafas.
"Semua ini begitu berat. Tapi aku akan baik-baik saja. Aku pasti akan baik-baik saja," ucap Shinichi dalam hati.
XXX
"Heiji, kenapa hari minggu kemarin kau menghilang lagi?" tanya Kazuha dengan suaranya yang keras. Mereka berdua sedang berada di dalam kelas sambil menunggu bel masuk.
"Aku ada kasus," jawab Heiji singkat.
"Lalu kenapa kau tidak mengajakku? Biasanya kan kau selalu mengajakku?" tanya Kazuha lagi.
"Dengar ya. Aku tidak pernah mengajakmu. Kau sendiri yang selalu ingin ikut," jawab Heiji.
"Kalau kau sudah tahu itu, kenapa kau tidak mengajakku, aho?" seru Kazuha.
"Aku tidak mengajakmu karena kasus yang kemarin itu berbahaya. Puas?" ucap Heiji dengan kesal karena dari tadi Kazuha memaksanya untuk berbohong.
"Begitu ya?" ucap Kazuha yang sepertinya percaya pada kebohongan Heiji sehingga Heiji jadi merasa bersalah.
"Ya, sudah. Kalau kau mau, kau bisa ikut aku sepulang sekolah. Aku baru saja menerima kasus baru," ucap Heiji untuk mengurangi rasa bersalahnya.
"Eeh, kasus lagi? Aku jadi heran. Kenapa akhir-akhir ini kau banyak menerima permintaan kasus? Setiap hari sepulang sekolah, kau langsung bertemu klien," ucap Kazuha bingung.
"Aku juga tidak tahu. Mungkin sekarang aku memang sudah terkenal. Lagipula aku sangat menikmatinya," ucap Heiji sambil tersenyum sombong.
"Cih, detektif aho sepertimu mana mungkin bisa terkenal," ejek Kazuha.
"Apa katamu?" seru Heiji kesal tapi kemudian bel masuk berdering sehingga Heiji hanya bisa menggerutu di tempat duduknya.
"Kata-kata Kazuha memang ada benarnya. Akhir-akhir ini aku memang menerima banyak kasus. Tepatnya setelah aku pacaran dengan Shiho. Apa mungkin Shiho membawa keberuntungan dalam karir detektifku? Pasti begitu. Aku memang beruntung," pikir Heiji sambil tersenyum.
Bersambung...
