"Kumohon, jadikan aku milikmu seutuhnya."
Kris terbelalak untuk kesekian kali. "Baekㅡ"
"Lakukan. Aku menginginkanmu." pintanya putus asa. "Aku tidak bisa hidup tanpamu."
Kris menatap Baekhyun sedih, ia sendiri yang membuat Baekhyun begitu tergantung padanya. Ketika tangan Baekhyun mulai membuka satu persatu kancing kemeja yang ia kenakan, pikiran Kris menolak keras akan hal itu, namun hatinya berkata lainㅡia juga menginginkan Baekhyun, memiliki Baekhyun seutuhnya.
Baekhyun mendorong tubuh setengah telanjang Kris diatas ranjang, mulai menciumi leher pemuda itu, kulit mereka saling sentuh membuat Kris merasakan sensasi aneh. Kris tak bisa menahan lebih lama lagi, Baekhyun membuatnya gila. Kris tak peduli pada semua orang termasuk Luhan yang mungkin akan membunuhnya setelah ini, ia segera meraih dagu Baekhyun, melumat bibir tipis itu, menjatuhkan tubuh mungil itu kesamping hingga kini posisi Baekhyun berada dibawahnya, batin Kris berperang hebat, satu sisi mengatakan ia berhak melakukan hal ini sementar sisi lain berontak ini tidak seharusnya terjadi.
"Aakh.." erang Baekhyun ketika Kris memberi tanda dilehernya.
Sebenarnya Baekhyun merasa takut, ia tahu ini salah, bodoh memang, hatinya yang menuntun, menginginkan Kris selalu didekatnya, memeluk dan menemaninya, terkadang cinta memang membutakan segalanya.
"Kau yakin?" bisik Kris merasakan tubuh gemetar Baekhyun.
"Lakukan, Kris. A-aku milikmu."
Tangan Kris mulai membuka sisa pakaian yang ia kenakan, mengabaikan sirat ketakutan di wajah Baekhyun. Kris tak ingin memaksa, tapi Baekhyun lebih dulu mengundang, ia bukan lagi remaja usia belasan tahun, merekaㅡKris dan Taoㅡbahkan sering melakukan itu ketika Tao masih duduk dibangku sekolah. Jiwa liarnya terkubur setelah rumah sakit menjadi rumah kedua bagi tunangannya itu, Kris berjanji tak akan menyentuh Tao sampai keadaannya membaik. Tao?ㅡmendadak otak Kris dipenuhi nama itu, ia jelas tidak bisa melakukan ini, Tao pasti akan kecewa, seseorang yang sangat ia cintai seumur hidup. Baekhyun hanya kebetulan hadir ketika ia merasa sepi, namun semakin lama Kris merasakan sesuatu, ini aneh, kenyataan ini tak bisa dihindari, ia juga mencintai Baekhyun.
"Kenapa?" tanya Baekhyun ketika Kris mendadak berhenti.
"Maaf.." guman Kris, memungut kembali pakaian mereka yang terlempar. Baekhyun segera bangkit dengan panik.
"Krisㅡkenapa?ㅡ"
"Tidak." sela Kris. "Kita tidak seharusnya melakukan ini." lanjutnya lebih tegas, mengabaikan tatapan kecewa Baekhyun menganggap Kris tidak menginginkannya.
Setelah mengenakan pakaian dengan asal, Kris menghampiri Baekhyun yang masih terdiam, dengan telaten membantu Baekhyun mengenakan pakaiannya kembali. Isakan Baekhyun terdengar samar, hingga setetes air jatuh di punggung tangan Kris ketika tengah mengancingkan kemeja Baekhyun. Kedua mata Kris terpejam erat, merasa sangat menyesal. Seharusnya ia mampu menahan diri, menjelaskan dengan hati-hati agar kekasih mungilnya dapat mengerti.
Kris mengangkat lembut wajah Baekhyun, mencium kening kekasihnya, Baekhyun masih tak terima, memandang Kris seolah matanya bertanya 'mengapa?'
"Aku tidak ingin menodaimu." Kris mencoba memberi pengertian. "Masa depanmu masih panjang, aku tak akan merusaknya dengan ini. Aku mencintaimu, maafkan perbuatanku." balas Kris, tak ingin bertahan lebih lama. Tepat ketika ia membuka pintu hendak keluar, suara seseorang menginterupsi mereka.
"Apa yang kau lakukan di dalam kamarku?!"
.
.
.
.
Hard to Say 'I Love You'
.
Chapter 8
.
ChanBaek
.
Boy Love, Yaoi, OOC, Typo(s)
.
Don't Like Don't Read
No Bash No Flame
.
.
Happy Reading
.
.
"Chanyeol, hentikan!" teriak Baekhyun.
"Keluar dari sini, bajingan!" Chanyeol menyeret tubuh tinggi Kris keluar setelah berhasil memukulnya beberapa kali. Amarahnya meluap melihat apa yang mereka lakukan di kamarnya.
Kris menyeka sudut bibirnya yang berdarah. "Kami tidak melakukan apa yang kau pikirkan." ia tidak perlu repot-repot menjelaskan jika mau, tapi Baekhyun ada disana, pemuda itu pasti juga terkena imbas jika Kris tak memberi penjelasan.
"Sudah kukatakan, aku tidak sudi milikku di sentuh olehmu." Chanyeol menarik Baekhyun masuk setelah memastikan Kris diluar, hendak menutup pintu ketika Kris meraih tangan Baekhyun, Chanyeol menatapnya tajam. "Lepaskan!"
"Jangan menyakitinya karena akuㅡ"
"Kubilang lepas!"
"Aku bersumpah akan membunuhmu jika kau menyakiti Baekhyun-ku!" teriak Kris sebelum pintu benar-benar tertutup.
Baekhyun menjerit tertahan ketika tangan Chanyeol hampir mendarat di wajahnya. "Dasar jalang!" desisnya, menyeret Baekhyun yang berontak kedalam kamar.
Bibi Kim bergerak gelisah, teriakan Baekhyun di dalam kamar membuat wanita itu hampir mengetuk pintu, memastikan Baekhyun baik-baik saja, sementara di luar Kris seperti ingin merobohkan pintu yang menghalanginya, bibi Kim tahu ia tak bisa berbuat apapun, wanita itu berlalu dengan perasaan tak tenang.
"DIAM!"
Baekhyun menggigit bibirnya, meredam isakan, mengerti Chanyeol yang membenci tangisan.
"Apa yang kalian lakukan di kamarku?" Chanyeol mencoba menahan marahnya, cukup lama tapi Baekhyun tak kunjung menjawab membuat emosi Chanyeol meluap seketika.
Chanyeol menarik kasar tangan Baekhyun, memperhatikan penampilan berantakan dengan tatapan remeh. "Jawab pertanyaanku!" bentaknya.
"Ti-tidakㅡkami tidak melakukan apapun." jawab Baekhyun lirih.
Chanyeol terbelalak melihat suatu bekas kemerahan di leher Baekhyun yang menarik perhatiannya, itu kissmark karya Kris. "Apa ini?" tunjuknya dengan emosi yang sudah mulai mencapai batas maksimal.
Baekhyun yang terkejut segera menutupi lehernya. "Bukan apa-apㅡ"
Plak!
Dada bidang Chanyeol naik turun dengan cepat karena berusaha keras menahan keinginan untuk menghabisi Baekhyun.
"Hiksㅡ" perih itu dengan cepat menjalar, membuat isakan Baekhyun lolos.
Emosinya Chanyeol kembali meluap, mencengkram kemeja Baekhyun yang membuat pemuda itu gelagapan untuk segera berdiri, percuma melawan, tubuh dan tenaga mereka tidak sebanding.
Chanyeol menghentakkan tubuh mungil Baekhyun sedikit kasar di pojok tembok, mengapitnya. "Kenapa kau tidak berkata jujur padaku. Semuanya sudah jelas terlihat dan kau masih saja berbohong!" teriaknya tepat di wajah Baekhyun. "Hentikan tangisanmu! Aku muak!" teriaknya lebih keras.
"Kau sangat lancang." desis Chanyeol menakutkan.
"Hiksㅡmianhae.." ucap Baekhyun lirih, sama sekali tak menjadikan keadaan membaik, sebaliknya Chanyeol semakin murka, kepalan tangan itu siap mendarat tepat di wajah Baekhyun yang memekik dengan kedua mata terpejam.
BUGGH!
Tiga detik berlalu saat Baekhyun memberanikan diri untuk membuka mata, tidak ada yang terasa sakit, padahal sudah jelas Chanyeol melayangkan pukulan itu.
"Chanㅡ" suara Baekhyun tercekat, terkejut mengetahui tangan Chanyeol mendarat sempurna tepat pada tembok, nyaris mengenai wajahnya.
"Aku ingin sekali membunuhmu." desisnya tajam, setelahnya tubuh Baekhyun terpelanting di atas ranjang. Satu hentakan kasar membuat kemeja itu terkoyak sementara Baekhyun terus berontak menghindar.
Chanyeol meraup bibir Baekhyun kasar, tangan pemuda itu membelai dada bidang Baekhyun, memilin puting mungil berwarna pink tanpa peduli Baekhyun yang terus meronta, memukul dada bidang Chanyeol yang sama sekali tak berefek pada pemuda tinggi itu. Suara kecipak khas orang yang tengah berciuman terdengar jelas, saliva mereka menetas membasahi dagu dan leher Baekhyun yang posisinya lebih rendah saat itu. Tangan kiri Chanyeol bergerak turun, menyusup kedalam celana Baekhyun, mengusap penis yang masih tertidur itu. Baekhyun terbelalak, semakin berontak namun ciuman Chanyeol yang semakin sering membuat tubuhnya melemas.
Celana yang Baekhyun kenakan terlepas tanpa ia sadari, hampir tak dapat mengontrol diri ketika merasakan kocokan tangan Chanyeol di bagian selatan tubuhnya.
"Cih! Pemuda murahan!" umpat Chanyeol, sebelum ciuman itu semakin turun.
"Sshh... Oowhh.." Baekhyun mengerang tertahan, Chanyeol memainkan lidah di lubang kecil penisnya, tubuhnya menggelinjing, merancau karena mulai terangsang, terengah dengan nafas tidak teratur.
Tubuh Baekhyun menegang, mengejang sambil meremas sprei merasa tersiksa dalam kenikmatan, miliknya berangsur mengeras, berdenyut diantara bibir Chanyeol yang tengah mengeluarkan dan memasukkan penis itu secara intens kedalam mulut. Kegiatan Chanyeol berhenti setelah lendir bening menyembur deras berasal dari ujung lubang kecil milik Baekhyun, ia menelan sebagian sementara sisanya meluber mengotori tangannya.
Tubuh Baekhyun banjir oleh peluh, memandang sayu Chanyeol yang tengah melucuti satu persatu pakaiannya, dalam sekejap tubuh telanjang Chanyeol mendekati Baekhyun yang masih kelelahan. Baekhyun menggeleng pelan dengan wajah basah, sadar apa yang akan Chanyeol lakukan, mengambil posisi tepat diatas Baekhyun, pemuda itu kembali mengerjai puting kecil tunangannya, bibir mereka kembali menyatu lembut.
"Aakhh.." pekik Baekhyun tiba-tiba, merasakan sesuatu menusuk bagian bawah tubuhnya perlahan, ia meronta dengan tenaga seadanya tapi tetap saja tidak mampu melawan kukungan tubuh besar Chanyeol.
"H-hentikan! Sakit, hiksㅡ" seolah menulikan indra pendengarannya, Chanyeol tetap memaksakan miliknya masuk, mengerang pelan merasakan lubang sempit itu sementara Baekhyun meronta, desakan di bawah memaksa untuk menembus masuk tubuhnya.
"Ouhh.. aakh.. hiksㅡ" jari-jari Baekhyun meremas lengan Chanyeol tapi tetap saja ini tak banyak membantu, terlalu sakit untuk bisa ia tahan, membuat air mata Baekhyun mengalir. "Hiksㅡhentikan.."
"Diam! Milikku juga sakit, brengsek." umpat Chanyeol geram, tanpa peduli tubuh gemetaran itu mulai berkeringat dingin, terlihat semakit memucat.
Lenguhan Chanyeol terdengar setelah tanpa sengaja perut kulitnya menyentuh milik Baekhyun yang berkerut lemas. Jepitan kuat di bawah sana membuatnya mengerang mengekspresikan rasa nikmat, Chanyeol sepenuhnya di kuasai oleh nafsu saat ini.
Baekhyun merasa jijik dan ternoda setelah menyadari sudah sedalam itu Chanyeol memasukinya. "Nngghh.. Chanㅡakh! Sakiitt.. Aakhh.." Chanyeol segera melumat bibir Baekhyun, membiarkan pemuda itu mengambil alih ciuman mereka.
Chanyeol membuat banyak tanda di tubuh telanjang itu, mencoba memberi rangsangan. "Aaaㅡmpphhh..." teriakan Baekhyun hampir terdengar lagi sebelum Chanyeol kembali membungkam bibirnya.
Rintihan samar terdengar ketika perlahan Chanyeol mendorong miliknya yang telah masuk hampir setengah tersisa, tangan Baekhyun meremas lengan Chanyeol semakin erat, mampu mengambarkan bagaimana rasa sakitnya, seakan setengah nyawa telah melayang dari tubuhnya. Tubuh Chanyeol berpeluh dan meringis, mencoba terus mendorong dengan sedikit paksa. Baekhyun ingin Chanyeol segera berhenti namun kemudianㅡ "AAAKHHH..." lengkingan kesakitan Baekhyun menggema, tubuhnya mengejang kuat, kepala pemuda itu reflek mendongak keatas dengan mulut yang terbuka, mata sipitnya membulat sempurna. Cengkraman pada lengan Chanyeol perlahan melemah, nafas tersengal dengan tubuh pucat yang bergetar samar. Mata kecil itu mulai menutup perlahan, rasa sakit luar biasa ini membuat tubuhnya terasa terbelah, hampir pingsan karena tak sanggup merasakan perih di bawah sana.
Baekhyun berharap dapat kehilangan kesadarannya agar tidak perlu merasakan sakit ini sementara waktu, atau mungkin mati? Itu akan jauh lebih baik. Tapi tidak, kesadaran yang sudah hampir meninggalkannya seperti di tarik paksa dan di kembalikan kedalam tubuhnya ketika merasakan benda asing yang baru saja tertanam tersebut bergerak keluar dan masuk secara perlahan. Sementara Chanyeol bergerak diatas tubuhnya, kesadaran Baekhyun benar-benar turun, menjadi setengah sadar dan tak dapat merasakan apapun yang membuat tubuhnya seolah pasrah.
Entah apa yang membuat Chanyeol berpikir untuk mencabut miliknya setelah beberapa saat, seketika ada rasa kosong tepat di bawah sana. Sakit dan juga perih. Baekhyun dapat merasakan cairan berwarna merah berbau anyir mengalir melewati pahanya.
Setetes air mata jatuh menimpa kening Baekhyun. Bukan. Itu bukan air matanya melainkan Chanyeol. Chanyeol menangis?
Baekhyun merasa lelah dan sakit baik secara fisik maupun batin, perlahan mata kecil itu tertutup, ia tertidur.
.
.
.
.
"Apa yang sudah terjadi padamu sebenarnya?" tanya Kyungsoo membalut luka di tangan Chanyeol dengan perban, nampak khawatir, sementara Chanyeol hanya memandang kosong. "Yeolㅡ" ucapanya terhenti ketika Chanyeol menarik tubuh mungilnya, mendekap erat.
"Kau mencintaiku?" tanya Chanyeol.
Dahi Kyungsoo mengerut namun tetap menjawab. "Sangat."
"Berusahalah lebih keras." pintanya.
Kyungsoo melepaskan pelukan mereka lebih dulu. "Aku berjanji."
Chanyeol merasa bimbang, baru menyadari ia sudah jatuh sedalam ini bersama Baekhyun, berharap Kyungsoo mampu menariknya dari perasaan yang tak seharusnya tercipta.
.
.
.
.
.
TBC
.
Gimana chapter yang ini?
Anehkah?
Saya tahu ini aneh juga gak jelas tapi meskipun begitu tolong tinggalkan review kalian buat saya.. kasih kritik dan saran juga sangat ditunggu..
Maaf karena gak bisa bales reviewnya satu-satu. Tapi aku mau jawab pertanyaan yang nanya ini ff ChanBaek atau KrisBaek?
Sebenernya agak bingung juga sih (nah lho? Yang bikin aja bingung apalagi yang baca.) #OkeAbaikan. Ini ff sebenarnya udah aku pikirin sampai akhir ceritanya nanti kayak gimana, kepikiran ada 2 ide yang satu berakhir sama ChanBaek yang satunya KrisBaek.
Sebenarnya sama aja, Kris ama Chanyeol masing-masing punya kesalahan ama Baekhyun jadi mereka impas.
Daripada gajelas mending voting aja yokk!
Pilih ChanBaek atau KrisBaek?
Yang paling banyak dipilih berarti itu yang jadi endingnya nanti.. karena pada dasarnya saya setuju-setuju aja sih Baekhyun dicoupelin sama siapa aja yang penting dianya mah endingnya kudu bahagia #NyengirKuda
Karena masalah yang lebih rumit tentang hubungan mereka mungkin akan datang sebentar lagi -.- #apaini
Oke akhir kata please give me some review..
Makasih :*
.
.
Big Thanks to :
Dobi Hano Beef, ReaderFF BabySoo, Park Shinta, Baekrisyeol, Novey, Riyoung17, wereyeolves, Viviandra Phanthom, baekyeolidiots, chanbaekssi, ChanBaekLuv, song hyemi, 0706, baekhyunniewife, Jung Eunhee, parklili, HanaAhn, ia, Han Jin ji.
.
Gak ada yang ketinggalankan?
Oke jangan lupa voting..
.
.
.
