Chapter 8: Sadness

Disclaimer: Masashi Kishimoto

Rate: M

Pairing: SasuNaru slight ItaKyuu

Warning: AU, Shounen-ai, Typo(s), Abal, A little bit OOC maybe and Blood Scene.

Don't Like Don't Read!

The God of the Death

8th Chapter

Sadness

.

.

Deru angin berhembus dengan teratur saat ini. Keheningan suasana menjelang pagi begitu tenang dan damai. Aroma malam yang begitu khas masih tercium jelas di indra penciuman setiap orang. Tampak cahaya matahari mulai menerobos sisa-sisa kegelapan malam yang begitu tenang dan dingin. Mencoba mendominasi dan memberikan cahaya akan kegelapan pagi ini. Tetes embun yang dingin mulai menguap.

Tampak seorang pria dengan surai merah kejinggaan menghela napas berat. Kepulan uap keluar begitu saja dari mulutnya. Menandakan betapa dinginnya suasana pagi ini. Dengan langkah pelan dia meninggalkan ambang jendela tersebut. Matanya terpaku pada sosok yang masih tertidur di ranjang berukuran besar. Sedikit senyuman tipis terukir tulus di wajahnya. Dengan pelan dia mendekati sosok berambut pirang tersebut.

Tangannya bergerak untuk mengelus surai pirang tersebut, "Cepatlah bangun. Tidakkah kau ingin melihat ayah, bocah nakal?" ucap sosok tersebut sembari mendengus kecil. Matanya lalu beralih pada sosok berambut pirang lainnya yang saat ini sedang menatap mereka berdua, "Ayah, kenapa dia tidak mau bangun juga?" ucapnya sembari tetap menatap sosok berambut pirang tersebut dengan sedikit khawatir.

Sang ayah hanya tersenyum dan mendekati mereka berdua, "Dia akan bangun sebentar lagi. Sebaiknya kau kebawah dulu. Gaara sudah menyiapkan makanan." Ucap ayah tersebut dengan lembut. Matanya menatap lekat kedua orang putra kesayangannya. Dengan pelan dia menempelkan dahinya ke dahi Naruto. Tak lama setelah itu, mata biru langit itu perlahan menampilkan keindahannya kembali. "Nah, dia bangun, kan?" ucapnya sembari menarik Kyuubi untuk melihat Naruto.

Mata Kyuubi membulat sempurna saat melihat hal tersebut. Dengan cepat dia menarik Naruto ke dalam pelukannya. Memeluknya dengan erat, seakan-akan tak mengijinkan bocah itu untuk pergi darinya barang sejenak. "Syukurlah, Naru. Ternyata kau sudah bangun." Ucapnya dengan suara yang teredam. Kyuubi membenamkan kepalanya di bahu Naruto. Entah kenapa, dia sangat menyayangi bocah nakal yang terakhir kali hampir membuatnya mati mendadak ini.

"K-kyuu-nii … maafkan kecerobohan, Naru." Lirihnya sembari membalas pelukan kakaknya dengan erat. Perlahan-lahan air matanya mulai mengalir dengan deras. Mencurahkan semua perasaan sedihnya yang selama ini terpendam dalam di hatinya. Tangannya menggenggam erat pakaian milik kakaknya. Entah berapa banyak kata maaf yang digumamkannya. Ayah mereka yang melihat hal tersebut hanya tersenyum.

"Mereka baik-baik saja … Kushina."

.

.

Saat ini mereka tengah berkumpul di meja makan—hendak sarapan pagi. Gaara tampak sibuk mengatur makanan di atas meja. Terkadang dia harus memberikan tatapan tajam pada Kyuubi yang selalu saja menggodanya saat menggunakan celemek masak. Ya, meskipun Gaara seorang pria tulen, dia pintar sekali kalau dalam urusan masak-memasak. Setelah dirasanya sudah semua, dia ikut mendudukkan diri di meja makan tersebut.

Kyuubi menerawang keseluruh penjuru sudut yang ada di ruangan tersebut. Entah kenapa dia merasa ada yang kurang. Dia menghela napas berat sembari menggelengkan kepalanya dengan pelan. Sang ayah yang melihat gelagat anakanya tersebut hanya tersenyum tipis dan menopang dagunya. Sedikit senyuman mengejek terukir manis di bibirnya, "Kau mencari pacarmu, ya?" ucap sang ayah sembari memperhatikan Kyuubi dengan seksama.

Muka Kyuubi memerah sempurna mendengar ucapan ayahnya. Matanya membelalak menatap makanan di hadapannya, "A-ah tidak. Si-siapa bilang. Aku hanya sedang bingung. Itu saja." Ucapnya sedikit gugup sembari memulai memakan makanannya. Gaara yang melihat gelagat Kyuubi hanya mendengus geli dan tertawa kecil. "Ke-kenapa kau ketawa, bocah panda?" ucap Kyuubi sembari menunjuk Gaara dengan sendok dan garpu yang ada di genggamannya. Gaara hanya mengangkat bahunya sembari menunjuk Naruto dengan dagunya. Kyuubi mengerutkan keningnya dan menatap Naruto. "Ada apa, Naru?" ucapanya sembari meyenggol adiknya.

"Aku seperti melupakan sesuatu. Tapi … aku bingung apa. Sepertinya ad-ahh! Iya, dimana si Teme?" ucapnya sembari menatap ketiga orang yang ada bersamanya dengan bingung. Dia mengetuk-ngetukkan jarinya pada meja sembari menunggu jawaban dari ketiga orang tersebut. Kyuubi hanya menunduk, dia sendiri tidak tahu dimana Itachi berada saat ini. Matanya beralih pada sang ayah yang hanya senyam-senyum tidak jelas.

"Kau mencariku, Dobe?" ucap seseorang dari arah belakang Naruto. Naruto membulatkan matanya dan segera berbalik melihat orang tersebut. Disana, seseorang dengan rambut hitam kebiruan yang mencuat ke belakang dan mata yang gelap sedang menyeringai ke arahnya. Entah kenapa, sendi-sendi Naruto terasa lemas dan sama sekali tak bisa menopang tubuhnya.

'BRUK'

Naruto terjatuh dari kursi tempatnya duduk. Tubuhnya bergetar hebat … dia menangis—tangisan bahagia. Sasuke hanya tersenyum tipis dan mendekati Naruto—mendekapnya dengan lembut. "Maaf telah membuatmu khawatir." Ucap Sasuke sembari mencium pucak kepala Naruto dengan lembut. Naruto tak mampu berkata apa-apa. Dia hanya menggeleng di dalam pelukan Sasuke. Sepertinya hendak mengatakan bahwa semua itu bukan karena Sasuke sama sekali. Sasuke mengeratkan pelukannya dan menatap Kyuubi, "Aniki … dia sudah mati." Ucapnya dengan nada datar sembari menatap Kyuubi lekat.

Kyuubi terdiam dan memmbulatkan matanya dengan sempurna.

-Rubrum&Niebieski-

Kyuubi memplototi Sasuke dengan lekat. Mukanya sedikit memerah anatara menahan malu dan marah, "Kau … kau berbohong, ayam!" teriaknya prustasi sembari mengacak surainya dengan kasar. Matanya tak mampu menatap sosok yang sedang berdiri di ambang pintu yang sedang menyeringai ke arahnya. "Haiissh!" teriaknya sembari mendudukkan dirinya di sofa. Dia tidak mau manatap sosok itu sama sekali. Dia malu karena tadi menangis saat mendengar berita palsu Sasuke.

Sosok yang ada di ambang pintu itu hanya menyeringai penuh arti dan mendatangi Kyuubi. Kyuubi membulatkan matanya, "Ja-jangan mendekat! Ck, atau kau mati." Ucap Kyuubi sembari berdiri dari sofa tersebut. Kepalanya tertunduk dengan tangannya menunjuk ke arah sosok tersebut. Pria dengan rambut hitam dan mata hitam kelam itu sedikit tertawa kecil.

Dengan perlahan dia terus mendekati Kyuubi yang masih tertunduk menatap lantai. Tangannya bergerak dan menepuk kepala Kyuubi dengan pelan, "Pantaskah hal itu dikatakan oleh orang yang telah membuatku khawatir sampai ingin mati?" ucapnya sembari mengacak surai Kyuubi dengan kasar. Kyuubi manatap Itachi dengan tatapan tajam. Itachi hanya mendengus dan memperlihatkan sebuah benda yang ada di tangannya, "Sepertinya aku merusaknya." Ucapnya dengan senyuman sedih yang terukir di wajahnya.

Kyuubi menatap benda itu dengan seksama. Ternyata benda itu adalah kalung pemberiannya. "Itu mahal keriput. Tidak ada dijual disini." Ucapnya sembari mengambil kalung itu dari tangan Itachi. Kalung itu sudah terbelah menjadi dua dan batu merah pelindungnya sudah hampir pecah. "Ha—ah, ini barang bisa dijual dan harganya pasti mahal." Ucapnya sembari mengantongi kalung tersebut.

Itachi menatap Kyuubi dengan bingung dan mengambil kembali kalung itu, "Kau … kau mau menjualnya? Tidak! Biar aku saja yang menyimpannya." Ucap Itachi sembari menatap Kyuubi dengan horror. Kyuubi hanya bingung saat Itachi mengambil kalungnya kembali. Matanya lalu beralih pada sosok pirang yang sedang duduk dengan manis di samping Naruto. Dia sedikit membungkuk, "Terima kasih atas bantuannya, paman." Ucap Itachi sembari tersenyum tipis.

"Ah, tidak usah dipikirkan. Itu juga kesalahan dari kami sampai melibatkan manusia dalam masalah kemarin." Ucap Minato sembari tersenyum manis. Tangannya bergerak untuk mengacak surai pirang bocah disebelahnya, "Bukan begitu, Naru?" ucapnya sembari tersenyum misterius ke arah Naruto.

"A-ah iya. Itu kesalahan kami. Maafkan kami." Ucapnya sembari berdiri menghadap Itachi dan sedikit membungkuk. Matanya beralih ke kakaknya yang hanya memasang tampang tidak tahu diri dan tidak mau minta maaf sama sekali. Naruto hanya memanyunkan bibirnya melihat tingkah kakaknya yang notabene selalu tidak mau tahu. "Jadi ayah yang menyelamatkan Teme dan Itachi-san?" tanya Naruto sembari mendudukkan dirinya di sebelah ayahnya.

"Hm, sepertinya begitu. Tetapi yang mengurus Itachi kemaren adalah Deidara dan Sasuke bersama dengan Iruka." Ucap sang ayah sembari mengelus-elus dagunya. Naruto dan Kyuubi hanya mangut-mangut mengerti. "Kadaan kalian kemarin sangat memprihatinkan. Jadi kami harus turun tangan. Beruntung Gaara sudah mengambil racun yang ada di dalam tubuh Sasuke. Jika tidak, ya … sepertinya dia tidak akan ada disini lagi." Ucap Minato sembari menatap Gaara yang sedang sibuk bermain dengan bola angin berwarna hijaunya.

"Terima kasih, Gaara-nii." Ucap Naruto sembari menatap Gaara dengan cengiran khasnya. Gaara hanya mengangguk dan melenyapkan bola angin hijau di tangannya.

"Naru, aku dititipkan Iruka tadi. Ini spertinya tugasmu yang berikutnya." Ucapnya sembari memberikan sebuah foto kepada Naruto. Naruto mengambil foto tersebut dan memperhatikan sosok yang ada di foto tersebut dengan seksama.

"Keluarga … Taka?" ucapnya sembari menatap ketiga orang yang ada di foto tersebut dengan bingung. Minato hanya tersenyum saat melihat ketiga orang tersebut. Matanya lalu beralih kepada Itachi yang sedang sibuk bermain dengan ponselnya—sepertinya tidak bemain, melainkan sedang membaca sesuatu. "Tiga orang … banyak sekali." Ucap Naruto sembari memperlihatkan foto tersebut ke arah Sasuke. Sasuke mangambilnya dan memperhatikannya dengan seksama.

Itachi yang baru saja selesai membaca e-mail di ponselnya menatap Sasuke dengan bingung, "Foto siapa?" tanyanya sembari menepis tangan Kyuubi yang sedari tadi sibuk membuat boneka rubah dari api. "Kyuu, jangan main api terus. Berbahaya." Ucapnya sembari mendekati Sasuke yang sedang menjulurkan foto tersebut ke arahnya. Sepertinya dia lupa jika Kyuubi merupakan pengandali api suci.

Itachi memperhatikan sosok tersebut dengan seksama, "Ini untuk apa?" tanyanya sembari mendudukkan diri di sebelah Gaara. Naruto hanya mengangkat tangannya. Itachi menatap Naruto dan kembali menatap foto tersebut. Tiba-tiba, seringaian penuh arti terukir di wajah tampannya. "Naru … sepertinya kau harus bekerja denganku malam ini." Ucapnya sembari mengembalikan foto tersebut kepada Naruto. Semua orang yang ada disana hanya terdiam dan saling pandang—minus Sasuke yang sudah tahu apa artinya.

-Rubrum&Niebieski-

Malam hari. Kediaman Taka.

Itachi menatap sosok di sampingnya dengan lekat. Sedikit seringaian terukir jelas di wajahnya, "Apa?" ucap orang tersebut dengan ketus. Surai merah kejinggaannya bergerak pelan karena tertiup angin malam yang cukup kencang. Kyuubi menatap sosok berambut pirang yang berdiri di atas menara Tokyo dengan sendu. "Padahal dia belum pulih total. Tapi sudah harus melaksanakan tugasnya. Dengan orang mesum sepertimu. Ha—ah, kau sedang sial Naru." Ucap Kyuubi sembari menopang dagunya tak peduli.

Itachi menatap Kyuubi dengan horror. "Ha—ah, kau selalu ngomong seenaknya, rubah jelek. Tapi … dia berbeda jika sedang melakukan tugasnya seperti ini." Ucap Itachi sembari menatap sosok Naruto yang tampak sedang berdiri memejamkan matanya. Sayap merahnya terbuka lebar. Ya, semenjak permasalahan kemarin, Sayap Naruto sudah tak berwarna hitam gelap seperti milik Kyuubi dan Gaara, tetapi berubah menjadi merah seperti darah.

"Dia anak yang kuat. Tapi … dia lemah jika melihat orang yang disayanganya terluka." Ucap Kyuubi sembari menatap Itachi dengan lekat. "Jadi, tolong jaga dia baik-baik. Aku akan menyerahkan sisanya kepadamu." Ucap Kyuubi sembari menatap Itachi dengan lekat.

Itachi hanya tersenyum dan mencium kening Kyuubi dengan singkat, "Tenang saja." Ucapnya sembari tersenyum tipis. Kyuubi hanya mengangguk dan dalam hitungan detik, tubuhnya berubah menjadi api yang perlahan-lahan menghilang. Itachi sempat memegang api itu. Tak terasa panas, yang terasa hanya kehangatan yang langsung menyebar ke dalam tubuhnya. Dengan cepat Itachi bergegas dan mulai memasuki rumah di hadapannya.

Itachi menatap rumah tersebut dengan seksama. Nuansa Jepang yang masih sangat kuno dan tertata begitu rapi. Dia sedikit menyeringai saat mengingat pesan yang tadi pagi dia baca. "Ternyata rumah koruptor terbesar di perusahaan Uchiha seperti ini, ya? Sebagai seorang pengurus perusahaan cabang Uchiha, sepertinya tidak mungkin mempunyai rumah semewah ini. Pantas saja ayah menginginkan mereka mati." Ucapnya pelan sembari menatap tiga orang yang sedang berbicang-bincang dengan bahagia.

Itachi tersenyum puas melihat hal tersebut. Dengan berkumpulnya orang tersebut, dia tidak perlu repot-repot untuk mencari mereka satu per satu. Itachi sedikit mendengus saat mengingat betapa mudahnya dia menerobos keamanan rumah ini dan menjadikan dapur sebagai tujuan pertamanya. Itachi melangkah dengan sebuah nampan berisi tiga gelas teh hijau. Itachi meletakan nampan tersebut di lantai dan menyembunyikan kedua pedangnya di balik hakama miliknya.

Dia mengetuk pintu geser tersebut dengan pelan. "Maaf tuan, tehnya sudah siap." Ucap Itachi sembari membungkukkan diri. Itachi membuka pintu geser tersebut secara perlahan. Dengan pelan dia melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam ruangan tersebut. "Ini tehnya, tuan." Ucapnya sembari meletakkan teh tersebut di depan masing-masing ketiga orang tersebut.

Seorang wanita dengan rambut merah panjang yang mengenakan kacamata tampak menatap Itachi dengan senyuman genitnya, Karin. "Ah, terima kasih. Tapi … sepertinya aku belum pernah melihatmu sebelumnya. Apa … kau pelayan baru disini?" tanyanya sembari menatap Itachi dengan lekat. Itachi hanya tersenyum manis dan mengangguk pelan. Karin membalasnya dengan senyuman genitnya dan mulai mengambil minuman tersebut.

"Hoek! Apa-apaan ini? Ini bukan teh! Minuman apa ini?" ucap seorang pria dengan rambut putih dan gigi yang tajam-tajam, Suigetsu. Suigetsu menatap Itachi dengan garang. Matanya melihat cairan yang baru saja dimuntahkannya.

"Kau muntah darah?" tanya pria lainnya yang berambut oranye jabrik, Jugo. Matanya menatap khawatir pada Suigetsu. "Kau baik-baik saja, Sui?" tanyanya sembari menepuk-nepuk pundak Suigetsu. "Kau! Apa yang kau masukkan pada minuman ini?" bantaknya pada Itachi sembari masih menepuk-nepuk pundak Suigetsu.

Itachi menyeringai kepada ketiga orang tersebut. Mata hitamnya mengkilat tajam penuh kepuasan. "Hoo, jadi kalian tidak suka, ya? Itu kubuat menggunakan darah pelayanmu yang ada di dapur tadi. Mungkin jika kubuat dengan darah lain kalian akan senang. Contohnya … darah kalian sendiri." Ucap Itachi sembari mengeluarkan dua pedang yang ada di balik hakama-nya. Ketiga orang itu menatap Itachi dengan horror. Masing-masing dari mereka mengeluarkan sebuah pistol kecil yang ada di balik pakaian mewah mereka. Saat mereka hendak menembak …

'SRET'

"Maaf, tapi sepertinya pedangku ini lebih terlatih daripada tangan kalian." Ucap Itachi sembari tersenyum manis dengan sangat tulus.

"AAAKKKHH!" Ketiga orang itu berteriak kesakitan saat Itachi tidak hanya membelah pistol itu, melainkan memotongnya bersamaan dengan tangan kanan mereka. Itachi menatap darah segar yang berlinangan di lantai dengan senyuman puasnya. Matanya menatap darah tersebut dengan lapar.

"KAU SIALAN! BERANINYA KAU MELAKUKAN INI PADA KAMI! PERGI K-AKHHH!" ucapan wanita berambut merah itu terputus saat salah satu pedang Itachi menembus kerongkongannya. Mata wanita itu membulat dengan darah segar yang mengalir dari kerongkongannya. Juugo dan Suigetsu menatap Itachi dengan horror. Itachi yang mengenakan topi pelayan membuatnya sulit untuk dikenali.

"SIAPA KAU SEBENARNYA, HAH?" Ucap Suigetsu sembari memegangi lengannya yang terus-terusan mengeluarkan darah segar. Dengan susah payah dia mencoba berdiri untuk mengambil pedang yang ada di dinding di sebelahnya. Namun, belum sempat dia menyentuh pedang itu, sebilah pedang melayang dihadapannya dan mengenai hidungnya. "AKHH!" dia berteriak kesakitan saat pedang tajam itu memotong hidungnya.

"Wah, wah, bukankah kalian tahu dengan baik jika aku benci keributan." Ucap Itachi sembari membuka topi pelayannya. Seringaian lebar terukir jelas di wajahnya saat menatap kedua orang tersebut yang sedang membulatkan matanya tak percaya.

"U-uchiha!"

-Rubrum&Niebieski-

Seorang bocah dengan surai pirang dan mata hitam gelap sedang menatap kegiatan Itachi dari atas pohon dengan antusias. Sayap merahnya menutup dengan rapat, "Lama sekali aku tak melihat darah." Ucapnya sembari memandang dua buah foto di hadapannya. "Tugas ini saja belum selesai. Iruka sudah memberikanku tugas lagi. Ha—ah, tinggal sebulan lagi tugasku akan selesai. Jika aku menyelesaikan tugas ini … tinggal lima orang lagi. Aku harus menghabisi dua orang ini lagi. Berarti masih ada tiga orang yang belum kuketahui." Ucapnya sembari mengantongi foto tersebut.

Matanya menatap orang yang saat ini sedang menatapnya dengan pandangan flegma miliknya. "Jangan memaksakan diri." Ucapnya pelan sembari mendekati Naruto. Rambut hitam kebiruannya melambai pelan saat tertiup angin malam. Jarak mereka kini hanya beberapa meter saja. "Berhenti memaksakan diri." Ucapnya sembari mendekati Naruto dan saat ini mereka sudah berada dengan jarak yang sangat dekat.

"Maaf, tapi aku harus menyelesaikan tugasku dengan cepat." Ucap Naruto sembari tersenyum manis pada orang itu. Mata hitam kelamnya kini kembali menjadi biru cerah. Sasuke tak mampu untuk tak memeluk sosok yang ada di hadapannya tersebut. Dengan lembut dia mendekap tubuh mungil tersebut. Tangannya bergerak untuk mengelus punggung tersebut dengan lembut. Sasuke meletakkan dagunya pada bahu Naruto.

"Berhenti membuatku khawatir, malaikat kecil." Ucapnya sembari tersenyum tipis. Sasuke mendekap tubuh itu semakin erat. Naruto hanya mengangguk kecil dan menarik Sasuke agar mereka berhadapan. Naruto tersenyum lebar dan mencium Sasuke dengan lembut.

"Tenang saja. Aku akan baik-baik saja." Ucapnya sembari pergi dari tempat itu dan memasuki rumah tradisional jepang yang ada di hadapannya.

"AKHHH!"

Sebuah teriakan pilu memasuki indra pendengarannya. Naruto menyeringai penuh arti sembari menapaki lorong demi lorong yang terdapat banyak mayat. "Sepertinya Itachi-san membunuh seluruh orang yang ditemuinya di rumah ini." Ucapnya sembari menyenderkan tubuhnya pada sebuah dinding ruangan yang tampak berubah warna menjadi lautan darah.

.

.

Itachi menatap dua orang dihadapannya dengan geram, "Bukankah aku tidak suka saat kau berteriak. Berhenti berteriak!" bentaknya sembari mengambil kembali pedangnya yang tertanan di paha Juugo. "Aku sangat membenci orang yang membuatku berteriak." Ucap Itachi kembali menghujam pedang itu di tempat yang sama. Juugo hanya mampu berteriak kesakitan dan menatap muncratan darahnya dengan pasrah.

Suigetsu yang melihat hal tersebut tidak ingin tinggal diam. Dia bangkit diam-diam dan hendak menusuk Itachi dari belakang.

'SRET'

"Ughh!" belum sempat dia bergerak. Itachi melemparkan pedang yang ada di tangan kirinya ke arah Suigetsu. Matanya tetap terpaku pada Juugo. Itachi melemparkan pedang itu tanpa melihat Suigetsu. Pedang itu tepat menusuk telinga Suigetsu hingga tembus kesisi lainnya. Itachi menyeringai menatap juugo.

"Tinggal dirimu saja yang masih bernayawa. Aku sudah bosan mencium bau anyir di dalam ruangan ini." Ucap Itachi sembari menatap pedang yang di paha Juugo dengan datar. Itachi menggerakan pedangnya.

'SRET'

Itachi memutus kepala Juugo dengan sekali gerakan.

'SRET'

Itachi kembali melayangkan pedangnya ke badan Juugo yang saat ini sudah terbelah menjadi dua dengan isi perut yang terburai keluar. Tak ada teriakan dan erangan. Hanya suara cipratan darah yang mengisi ruangan sunyi itu. Itachi meninggalkan mayat-mayat tak berbentuk itu dengan langkah santai. Dibukanya pintu geser tersebut dengan pelan. Matanya menatap sosok yang sedang bersender di dinding sebelah pintu tersebut sembari memejamkan matanya.

"Terima kasih." Ucap orang tersebut masih dengan mata yang terpejam. "Terima kasih telah menjaga Kyuu-nii selama ini." Ucapnya sembari menggerakkan tubuhnya dan memasuki ruangan berbau anyir tersebut. Matanya sempat memperhatikan punggung Itachi dengan lekat.

Itachi hanya tersenyum dan menggumam, "Terima kasih juga." Gumamnya sembari meninggalakan tempat tersebut.

"Aku telah membagi nyawaku untuknya."

Itahi menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya yang penuh dengan darah, "Kyuu … " lirihnya sembari menyender pada dinding di sebelahnya. Itachi menutup matanya menggunakan punggung tangan kanannya. Ingatan akan kata-kaa Kyuubi membuatnya semakin sakit.

'TES'

Itachi menitikkan air mata dalam diam. Tak ada isakan maupun tubuh yang bergetar. Hanya kesedihan mendalam dan air mata yang menemaninya.

-Rubrum&Niebieski-

Naruto memandang tubuh tak bernyawa yang berserakan di hadapannya dengan datar. Sedikit senyuman terukir di wajahnya, "Dia sedang tidak melakukannya dengan sepenuh hati." Ucapnya sembari menatap pintu ruangan tersebut. Tangannya bergerak untuk menyentuh ketiga tubuh tersebut. Dengan tatapan datar dan dingin, Naruto mengambil buku yang melayang di hadapannya.

'SRET'

Tanpa membacanya ataupun menyentuhnya, Naruto membakar buku tersebut dengan cepat. Matanya menatap ke langit hitam yang luas. "Entah kenapa, aku merasa ada sesuatu yang akan membuatku menitikkan air mata lebih dari hari ini." Ucapnya sembari membiarkan air matanya mengalir deras. Hatinya terasa remuk jika mengingat betapa tenang dia mengucapkan terima kasih pada Itachi. Terima kasih … tak akan membuat segalanya berubah. Setidaknya itu lebih baik daripada hanya berdiam diri memandang kesedihan Itachi yang semakin lama semakin mendalam. Naruto dapat melihat kesedihan Itachi saat dia menatap tubuh Itachi dari belakang.

Naruto melangkah dan menghancurkan dinding rumah tersebut. Sayap merah darahnya mengepak lebar dan meninggalkan rumah tersebut dengan jejak-jejak air matanya yang masih membekas dengan jelas. Berharapa tak akan ada hal buruk lagi yang terjadi setelah semua yang dilaluinya.

To Be Continued

Jawab pertanyaan di review ya!

1. Sakon Ukon pasukan iblis ato bukan? Tentu saja Iya! Hehe

2. Naruto iblis apa malaikat? Naruto itu malaikat yang mengendalikan api kegelapan Iblis. Ya, karena apinya itu dia jadi kayak malaikat yang memiliki kekuatan iblis.

3. ItaSasu kemana? Mereka sebelumnya dirawat sama Deidara dan Iruka.

4. Yang nyelamatin Itachi siapa? Deidara

Ha—ah! Akhirnya chapter ini sudah di update. Tinggal sebentar lagi cerita ini bakalan selesai. Ayo tetap semangat untuk menamatkannya! Yosh! Terima kasih untuk Reder-san! Heheh!

Mind to Review?