Chapter 8~
Jawabannya itu Claire yang membunuh!
Mengapa?
Secara mereka itu ditanyai secara alphabetical. Dan Claire sudah ngeframe si David padahal David belom mengatakan apa pun. Manusia cenderung untuk melakukan slef defense ketika merasa bersalah, dan salah satunya adalah dengan ngeframe orang lain~
Disclaimer: Kuroko no Basket (Kurobas) milik Fujimaki Tadatoshi. Saya hanya menjalankan karakter-karakternya dalam fanfic saya. Plot tentu milik saya~
Warning: Shounen-ai. Upcoming gore scene. OOC (I hope not) and some misstype that I missed. Failed Indonesian author writing an Indonesian fanfiction. And characters death. AU.
-xxXXXxx-
"Karena itu, tolong pergi dari kehidupan Kazu-nii, Midorima-san. Kau hanya membahayakan jiwanya kau tahu?" Ujar Azuki serius. "Kau tidak tahu semua tentang Kazu-nii, Midorima-san." Nadanya kali ini sedikit lebih halus. Ia mengepalkan kedua tangannya, geram sambil menundukan kepalanya sedikit.
"…"
Jujur Midorima bingung. Bingung memikirkan ia harus merespon seperti apa. Yang ada di hadapannya tetap merupakan seorang wanita. Cara ia merespon tentu saja berbeda dengan laki-laki. Dan juga kata-kata itu.. barusan menusuk Midorima.
"Kau tidak tahu apa yang telah Kazu-nii alami. Jadi ku mohon jangan ikut campur dalam hidupnya. Kau tidak tahu bagaimana masa lalunya bukan? Kazu-nii tidak pernah menceritakannya kan?"
Pertanyaan itu menancap ke tubuh Midorima lebih dalam lagi. Rasa ingin tahunya muncul kembali, bahkan lebih besar dari sebelumnya. Tidak pernah terpikir oleh Midorima sebelumnya mengapa ia mempunyai keinginan seperti itu. Seakan-akan masa lalu Takao memang mempunyai daya magnet yang membuat Midorima ingin mengetahuinya, dan daya tersebut semakin kuat saja dari waktu ke waktu.
Ia menggeleng pelan. Tidak mengucapkan sepatah kata pun. Lidahnya kelu. Pikirannya macet. Ia kembali terjebak dalam situasi dimana ia tidak tahu harus berbuat apa.
"Sudahku duga Kazu-nii tidak akan menceritakannya."
"… Memangnya, Kazunari orang yang seperti apa?" Tanya Midorima. Si surai hijau terpaksa memakai nama belakang teman flatnya. Tidak mungkin ia menggunakan 'Takao' disaat yang sedang menjadi lawan bicaranya juga mempunyai nama yang sama. Rasanya memang ganjil. Pertama kalinya Midorima menggunakan nama kecil si pria bersurai hitam.
"Nii-san adalah orang yang baik, ia pengertian dan kadang ia memang keras kepala, namun itulah Nii-san." Ujarnya setengah bergumam.
Berhasil memancing Azuki untuk berbicara, Midorima sedikit merasa lega.
"Aku dan Nii-san berasal dari keluarga psikolog. Ibuku seorang konsultan di sebuah perusahaan dan Ayah adalah seorang psikolog terkenal. Saat kami masih kecil Ayah sudah meninggal karena sakit. Semenjak itu, Kazu-nii bercita-cita ingin psikolog seperti ayah."
"Lalu? Bukankah ia memang mengambil jurusan psikolog forensik ketika kuliah? Ia menepati janjinya bukan? Hanya saja gagal di tengah."
"Ya... Memang benar, Kazu-nii mengambilnya dan ya—begitu."
"Dan mengapa ia keluar ketika ia hampir saja lulus?"
Manik hijau dan manik hitam itu bertatapan untuk beberapa saat. Keheningan menyelimuti mereka untuk beberapa detik.
"Soal itu ya…" Azuki menghela nafasnya pelan sebelum melanjutkan kata-katanya. Berat, menandakan ini memang sebuah masalah untuk Midorima dengar. Ya, Masalah. Masalah yang cukup besar.
"Nii-san berurusan dengan seseorang waktu itu. Nii-san tidak bersalah, namun tetap saja. Orang itu… Membeli kebenaran dengan uang. Untung saja Nii-san tidak berhasil dibunuh."
"Dibunuh?" Midorima hampir saja berteriak, kaget mendengar kata itu.
Ok, ini tidaklah rasional. Dibunuh? Orang seperti Takao? Sebehargakah kepala Takao kazunari bagi mereka sampai ingin dibunuh. Seorang penyiar radio dengan kedok pembunuh tidak mungkin segitunya akan diburu bukan? Polisi mungkin, namun subjek yang dimaksud Azuki jelaslah bukan instansi pemerintah tersebut. Midorima yakin pasti orang lain, entah siapa itu.
"Kau tampak terkejut, Midorima-san." Azuki masih terlihat tenang menceritakannya, seakan-akan sudah biasa bagi gadis bersurai hitam. Midorima sempat berpikir mereka sekeluarga merupakan keluarga psikopat. Lihat saja adiknya, hampir melukai jari tangan Midorima. Jangan sangka menancapkan garpu dengan kekutana seperti itu tidak sakit.
"Apa Midorima-san tidak tahu alasan Kazu-nii mengangkatkan kakinya dari rumah? Midorima-san tidak pernah menanyakannya bukan?"
"…"
"Midorima-san… Alasan Kazu-nii pergi dari rumah, kabur adalah—untuk menghindari seseorang." Ujar Azuki dengan suara agak tercekat. Terdengar nada-nada kecemasan dalam diri perempuan muda itu. Intonasinya seolah menyimpan kepahitan tersendiri bagi Azuki.
"Orang itu?"
"Aku tidak tahu siapa nama pria itu, Midorima-san. Namun ketika kau bertemu dengannya, yang bisa ku katakan ia pasti tidak akan membuat mudah enigmanya."
"Enigma?"
"Semacam teka-teki, Midorima-san. Bila kau tidak pernah mendengar kata itu." Ujar Azuki dengan nada menyindir. "Kalau kau tetap bersih keras tidak mau mengankat kaki, hanya itu yang bisa ku katakan sebagai petunjuk agar kau tetap hidup. Kau harus bisa menyelesaikan enigma bila Kazu-nii kenapa-kenapa, Midorima-san. Atau kau bisa memanggilku untuk menyelesaikan enigma."
"O-oi! Kau meremehkan ku?"
"Berjaga-jaga Midorima-san. Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi, bukan? Lagipula aku yakin enigmanya bukanlah level yang mudah." Azuki tersenyum kecil memandang Midorima. Lagi si surai hijau tidak dapat berkata apapun. Misteri ini terlalu dalam. Sekarang ia seperti Alice yang jatuh ke lubang kelinci tanpa dasar, tidak tahu apa yang menantinya di bawah sana. Yang bisa ia lakukan hanyalah mengikuti permainan yang semakin gila ini. Berharap ia bisa bertahan hidup lebih lama lagi.
"Duniamu akan semakin gelap akan perbuatanmu, Midorima-san." Lanjutnya.
-xxXXXxx-
Derap langkah kaki di atas lantai kayu kerap membuat suara yang sedikit menyeramkan. Takao Kazunari baru pulang dari shift malamnya. Penerangan yang minim membuat ia kesusahan untuk mencari kunci flatnya. Ia meraba. Merogoh saku celananya.
Dapat.
Tidak mau mengganggu para tetangga yang sedang tertidur pulas di tengah malam, ia pun mencoba setenang mungkin memasukannya ke lubang kunci. Anehnya sebelum sempat ia melakukan hal itu, pintunya sudah terbuka dengan sendirinya.
"Shin-chan? Apa aku membangunkan mu?" Tanya Takao setengah tertawa melihat pemuda bersurai hijau itu yang membukakan pintu untuknya. Iris onyxnya menangkap wajah Midorima yang sedikit lesu. "Banyak pikiran ya, Shin-chan? Sampai kau tidak bisa tidur." Tanya Takao lagi.
Si surai hijau menangguk pelan menjawabnya.
"Mau menceritakannya kepada ku? Begini-begini aku ini mantan psikolog loh, Shin-chan~" Ujar Takao dengan nada yang masih riang. Meletakan jaketnya dan langsung duduk di sofa, mengistirahatkan kakinya.
Entah apa yang menguasai diri Midorima sampai ia mau duduk di samping Takao. Ia terkenal suka menyendiri, egois, hampir dikatakan antisosial sewaktu ia studi tentang kedokteran di Toudai. Kini sekarang malah ia duduk disamping teman berbagi flatnya, orang yang memiliki gravitasi yang memikat rasa ingin tahu Midorima.
"Oi, Takao…" Lirihnya pelan.
"Ya, Shin-chan?"
"Sebenarnya siapa kau ini?"
Pertanyaan itu bergeming. Mengantung.
"Eh, maksud Shin-chan ini apa?" Tanya Takao tidak mengerti. Dilihatnya pemuda bersurai hijau itu. Walau dengan penerangan yang cukup minim, namun Takao dapat melihat wajah Midorima dengan jelas.
Ekspresi itu—walaupun samar—
—ekspresi terluka.
"Shin-chan sebenarnya apa yang terjadi?" Tak ada jawaban mutlak dari pemuda bersurai hijau tersebut. Di dalam benak Takao langsung muncul sosok penyebab semua ini. Tentu saja, hanya dia yang melakukannya. "Apakah Azuki mengatakan sesuatu pada mu?" kali ini dengan nada yang lebih serius.
Jeda, Midorima menatap Takao lekat-lekat sebelum ia berbicara. "Kita sudah tiga tahun tinggal di atap yang sama bukan, Takao? Hanya saja—Aku benar-benar seorang antisosial yang bahkan tidak mengetahui dengan siapa aku ini tinggal."
Takao terdiam sejenak.
"Shin-chan…" Takao memanggil nama Midorima. Sengaja ia mendekatkan diri kepada si surai hijau.
"Apakah…" Kata-kata itu menggantung sejenak. Takao masih memilih kata-kata yang tepat untuk dirangkai. "Memangnya Azuki menceritakan apa saja kepada Shin-chan?" Takao mengubah pertanyaannya. Mengetahui bahwa adiknya pasti menceritakan sesuatu kepada Midorima, namun tidak semua ia ceritakan.
"Tidak begitu banyak. Aku tahu kalau kau adalah calon psikolog forensik dari. Dan aku tahu kau tidak dikeluarkan tanpa sebab oleh suatu urusan dari Adikmu dan rekan kerja ku."
"…"
"Saat kita pertama kali bertemu tiga tahun lalu. Sebenarnya kita terpaksa untuk berbagi kamar bukan?" Midorima mulai bernostalgia. Kenangan selama 3 tahun, hal yang membuatnya kini terikat rantai kasat mata dengan Takao.
"Ah kejadian itu? Shin-chan masih ingat saja." Takao terkekeh mendengarnya. Tersenyum lembut kepada si surai hijau, bermaksud untuk menurunkan rasa canggung Midorima.
"Saat itu aku tidak bisa membayar uang sewa yang tinggi." Midorima mulai bercerita. "Ku kira aku akan angkat kaki dari flat ini, bahkann Miyaji-san sudah memasang iklan disewakan. Dan tiba-tiba—"
"—Aku datang dan menanyakan tetang flat yang dia sewakan. Sungguh Shin-chan aku juga tidak pernah menyangka kalau kita akan tinggal bersama. Pada awalnya bahkan aku ragu untuk mengusulkan agar kita berbagi flat ini. Namun melihat wajah mu yang sudah frustasi waktu itu rasanya—tidak tega."
"Aku pun menerima ajakan mu juga karena Oha-asa mengatakan aku harus menerima ajakan orang pada hari ini. Dan memang aku beruntung, bukan?"
"tidak keren Shin-chan! Sama sekali tidak keren!" Takao mertawakan Midorima. Ice breaking di antara mereka berjalan dengan mulus. "Saa.. Memangnya Shin-chan mau tanya apa soal diri ku?"
Manik Midorima memandang Takao sejenak. Ia membuka mulutnya. "Kejahatan mu, Takao. Semuanya."
"Semuanya?" Tanya Takao balik. Tidak ada raut ia merasa terancam lagi. Keduanya masing masing memegang rahasia kejahatan mereka satu sama lain. Tidak ada yang perlu mereka tutup-tutupi lagi karena semuanya sudah transparan. "Kau yakin, Shin-chan?"
Midorima mengangguk mantap.
Takao menghela nafasnya. Tahu bahwa ia akan bercerita panjang lebar. Mau ia tolak pun juga tidak enak hati.
"Sejujurnya aku tidak ingin mengingat hal ini, Shin-chan.. Aku masih mempunyai rekor bersih sampai SMA. Ya setidaknya sampai aku bertemu dengan orang brengsek itu. Ia datang dan membuat suatu kasus yang awalnya simpel menjadi rumit."
Midorima tidak terus mendengarkan cerita Takao. Ia cukup yakin bahwa orang yang disinggung Takao itu sama dengan yang diceritakan sedikit oleh Azuki.
"Orang yang lebih licik dari serigala Shin-chan, bahkan menumpahkan kesalahannya kepada ku. Membuat bukti palsu dan membeli kebenaran dengan uang."
Midorima mendadak teringat akan perkataan Azuki tadi.
"Nii-san berurusan dengan seseorang waktu itu. Nii-san tidak bersalah, namun tetap saja. Orang itu… Membeli kebenaran dengan uang. Untung saja Nii-san tidak berhasil dibunuh."
Orang yang membeli kebenaran dengan uang dan hampir membunuhnya. Takao tidak pernah menjelaskan kasus itu dengan jelas. Yang Midorima tangkap hanyalah Takao menjadi sasaran dari orang itu karena ia menjadi saksi mata kejahatannya.
Kriminal tingkat tinggi? Mafia? Midorima memikirkan latar belakang orang tersebut. Seseorang yang mempunyai banyak uang pastinya.
"Omong-omong Shin-chan." Takao tiba-tiba memotong topiknya sengaja atau tidak. "Akhir-akhir ini aku merasa diikuti. Akan lebih baik kalau kau juga berjaga-jaga. Aku juga akan memberitahu Azuki soal ini besok pagi." Takao menguap pelan.
Midorima terdiam. Mengingat kembali kata-kata Takao dan Azuki. Kepingan puzzle mereka semakin jelas. Setidaknya Midorima sudah mendapatkan gambaran yang lebih jelas. Tak sadarkan diri, ia pun juga ikut menguap tanda mengantuk.
Midorima pun melirik arloji jamnya. Jam setengah dua subuh. Dia lupa kalau ia harus berangkat kerja besok. Ia memukul dahinya secara imajinaris, mengungkapkan betapa bodohnya ia. Hari Minggu pun juga ia harus mempunyai tubuh yang harus ia analisis.
"Kalau begitu selamat malam, Takao."
"Selamat malam, Shin-chan." Balas Takao. Begitu si surai hijau menghilang dari pandangannya, Takao langsung membuka ponselnya. Mengecek e-mailnya.
[3120]
Takao menatap 4 angka yang merupakan isi pesan dari orang yang ia tidak kenal. Takao yakin ini sebuah kode. Tapi ntah apa maksudnya. Ia mencoba untuk memecahkan kode itu. Sebenarnya ia sudah mendapatkan kode tersebut beberapa Minggu yang lalu, namun sampai sekarang ia masih belum bisa memecahkan arti dari keempat angka itu.
Bosan dan tidak bisa tidur, Takao mengambil ipodnya. Menyetel lagu yang sengaja ia acak urutannya. Ia pun bersenandung sembari terus melihat empat angka itu. Rasa ingin tahunya lebih penting ketimbang rasa kantuknya.
"… Astaga." Takao berbicara dengan dirinya sendiri. Nada resah terdengar jelas. Ia berhasil memecahkannya. Namun sedikit ragu juga takut akan jawabannya.
Instingnya selama ini ternyata tepat. Berbagai macam pertanyaan langsung membanjiri dirinya. Ia menggertakan giginya pelan. "Darimana dia bisa—"
-xxXXXxx-
Keesokan paginya, Azuki langsung pulang begitu saja kembali ke Osaka. (setidaknya itu yang Midorima dengar dari percakapan mereka) Tidak jarang juga, ia menelepon ke flat mereka. Menanyakan kabar kakaknya beberapa hari sekali.
Hari-hari mereka dilewati dengan begitu saja. Belum ada kejadian yang ganjil lagi selama 5 bulan setelah kedatangan Azuki. Namun kadang, Takao juga makin sering memperingatkan si surai hijau untuk berhati-hati. Bahkan menurut Midorima, Takao menjadi sedikit lebih cerewet soal dirinya.
'Mungkin mereka saja yang terlalu paranoid.' Pikir Midorima sembari membersihkan peralatan bedahnya. Walau sudah larut malam, kantor departemen Midorima tetap sibuk. Bayangkan saja mereka hanya mempunyai 2 orang forensik dan 1 orang part time. Bagaimana tidak kewalahan?
Selesai mencuci peralatannya, Midorima pun langsung berpamitan dengan Sakurai yang masih berkutat dengan rambut korban. Mengidentifikasi yang mana rambut korban dan rambut peliharaannya. Midorima yakin kalau itu akan memakan waktu yang sangat lama.
Setelah berpamitan, ia keluar dari kantor kepolisian yang masih menyala terang di gelapnya malam Tokyo. Tak terasa, udara di Tokyo pun sudah mulai dingin. Si surai pun berdecak pelan. Mengingat bahwa kereta terakhir sudah berangkat 10 menit yang lalu, ia pun terpaksa pulang dengan berjalan kaki.
"Sudah hampir satu tahun…" Gumamnya pelan. Ia mempercepat langkahnya mengingat ini sudah larut malam, juga ia tidak mau mati kedinginan. Midorima merasa bahwa baru kemarin udara di Tokyo sangat panas dan kering, dan sekarang sudah mulai dingin. Apakah mungkin musim kemarau datang lebih cepat tahun ini?
Ia mengankat bahunya pelan. Menyerah—atau lebih tepatnya sudah tidak mau peduli dengan pertanyaan ia lontarkan barusan. Mengganti subjek yang menjadi topik argumentasi dirinya sendiri. Kembali ia teringat lagi akan penelitiannya.
"Sepertinya sudah waktunya untuk melihat hasil obat tersebut." Pikirnya. Ia menyusuri jalanan sepi, tidak seperti jalanan Tokyo umumnya yang terang gemilang selama 24 jam. Wajar karena daerahnya dekat dengan perumahan dan toko-toko kecil.
Tap-tap-tap.
Midorima merasa ada yang mengikutinya. Suara langkah yang ia dengar sedari tadi hanyalah suara langkah Midorima seorang. Namun—entah sejak kapan, mungkin beberapa saat yang lalu suara langkah kakinya pun bertambah. Ada suara asing yang juga mengiringi irama sepatu Midorima.
Midorima pun iseng untuk berpura-pura berhenti sejenak membenarkan sepatu. Sembari melirik ke belakang. Orang itu pun malah membelok ke salah satu gang kecil. Midorima pun langsung berjalan menjauhi tempat itu. Namun, tak seperti ekspetasinya, langkah kaki itu malah kembali terdengar di telinganya.
Tidak mau dikatakan paranoid, Midorima mencoba untuk berpikir optimis. Namun entah mengapa langkah kaki itu malah bertambah cepat. Seolah-olah sedang mengejar Midorima. Secara otomatis, ia pun menambah kecepatannya. Berharap segera meninggalkan orang yang berada di belakang Midorima, siapa pun itu.
Pembunuh serial?
Hatinya berpacu dengan cepat. Rasa takut pun menyelimuti Midorima. Apakah orang yang mengejarnya adalah orang semacam Takao? orang yang memuaskan nafsu membunuhnya dengan menumpahkan nafsu mereka kepada masyarakat tidak berdosa?
Midorima sengaja menyusuri jalan kecil menuju flat mereka. Sembari mencoba menenangkan dirinya, Si surai hijau juga memastikan apakah orang tersebut mengikutinya atau tidak.
"Sepertinya dia sudah tidak mengikuti." Pikirnya melirik ke belakang. Kosong.
Tidak ada siapa-siapa. "Bagus." Ujar Midorima dalam hati sembari bernafas lega. 'Ternyata sudah pergi. Ternyata memang hanya orang lewat. Kau terlalu paranoid, Shintarou. Seharusnya kau belajar untuk lebih santai tidak seperti Takao.'
Ketika si surai hijau bermaksud untuk mengambil langkahnya lagi, Dari belakang mendadak ada orang yang langsung membekapnya dengan kain.
Midorima reflek untuk melawan.
"Klo-klorofom?" Midorima tersentak. Ia mencoba untuk tidak menghirup bau menyengat itu. namun gagal, kekuatan milik Midorima kalah dari orang misterius yang sedang membekapnya. Tubuhnya sedikit lebih tinggi dari Midorima, dan ia sadar kalau orang itu adalah orang bayaran. Tak bisa melawan lebih dari itu, Midorima pun kehilangan kesadarannya, pingsan.
Orang itu langsung menangkap tubuh Midorima. Memberikan tanda isyarat tangan sebelum beberapa orang lainnya keluar dan membantunya untuk mengangkut tubuh si surai hijau. Di ujung jalan lainnya, datang mobil van hitam yang siap mengankut mereka semua.
Sang ketua kelompok mereka pun mengambil ponselnya. Menekan deretan angka dan akhirnya tombol yang berwarna hijau.
"Kami sudah mendapatkan target anda." Ujarnya, tak lama kemudian ia langsung menutup ponselnya. Mengarahkan anak buahnya untuk sesegera mungkin masuk ke dalam van hitam. Ia sendiri melihat sekitar mereka. Memastikan kalau situasi sudah aman, lalu mereka pun pergi ke tempat yang sudah ditentukan.
-xxXXXxx-
Haha! Saya potong di sini~
Dan khusus chapter kali ini, curcol saya bakal sedikit lebih bermutu! *somehow dia bangga*
Pertama-tama karena, author sedang akan menempuh UN, fic ini akan hiatus sampai UN sudah berakhir. Ya, ga lama-lama amat. Kira-kira april akhir saya sudah bisa nulis lagi. *dan semoga gaya penulisan saya ngak jadi kaku*
Curcol kedua. Adakah yang bisa menebak [3120] ? Di chapter berikutnya dan mungkin seterusnya saya bakal make angka-angka sebagai kode dan teka-teki. Semoga kode yang saya bikin ngak jelek2 amat ya. *AMIN*
Curcol ketiga: GOMEN FOR THIS LAME CHAPTER *diseruduk*
Thanks for Reading this chapter, and thank for all the faves and alerts.
Don't forget to review for writer's writing development!
A review a day keeps a writer block away~
