KISAH CINTA

Remake story chanbaek version dari novel Sherls Astrella dengan judul yang sama. Saya hanya mengubah nama dan beberapa hal lain untuk keperluan cerita

Exo_L123

Genderswicth


~Chapter 7~


"Apa-apaan ini!?" pekik Ratu Heechul.

"Ini sudah di luar batas!" Raja Hankyung sependapat.

"Bisa-bisanya anak itu membawa pulang anak haram!" Ratu Heechul langsung berdiri, "Di mana dia? Katakan di mana mereka!? Akan kuusir anak haram itu!"

Ratu Heechul tidak dapat menutupi kemarahannya. Kegembiraannya mendengar kepulangan putranya langsung berubah menjadi amarah ketika mendengar Chanyeol membawa putri haram almarhum Duke of Cookelt bersamanya. Jamuan yang sedianya akan diselenggarakan untuk menyambut kepulangan putranya, langsung dibatalkannya. Sekarang ia sudah benar-benar tidak sabar untuk mengusir gadis hina itu.

Karena itu begitu mendengar prajurit berkata, "Kereta Pangeran Chanyeol sudah memasuki gerbang istana," ia langsung menerjang ke pintu masuk.

Di sana, di depan pintu kayu yang kokoh, Ratu berdiri dengan angkuhnya. Tidak satu goretan di wajahnya yang tidak menunjukkan kemurkaannya.

Raja Hankyung yang menyusul kemudian tidak kalah angkernya.

Seisi istana sudah mendengar apa yang terjadi ketika seorang prajurit datang menghadap Raja pagi ini. Sekarang mereka mengintip dari tempat mereka masing-masing – ingin tahu apa yang akan terjadi.

Kereta yang membawa Pangeran dan Baekhyun akhirnya berhenti di depan Raja dan Ratu.

Ratu sudah hampir menyemprotkan luapan amarahnya ketika Chanyeol turun dari kereta.

Chanyeol mengulurkan tangan untuk membantu Baekhyun.

Ratu siap menyemburkan amarahnya ketika gadis itu akhirnya keluar dari dalam kereta.

Dengan anggunnya, Baekhyun menjejakkan kaki di pelataran istana. Wajah cantiknya langsung menangkap ekspresi marah Ratu Heechul. Mata biru mudanya menatap malu-malu melalui bulu mata lentiknya. Sesaat kemudian senyum manis merekah di bibir mungilnya yang memerah. Sinar matahari yang menyinari rambut kuning pucatnya membuatnya bersinar indah.

Ratu Heechul menatap gadis itu lekat-lekat.

Raja Hankyung terkesima.

"Papa, Mama, aku sudah pulang," Chanyeol memeluk ibunya kemudian ayahnya. Kemudian ia membawa Baekhyun ke hadapan orang tuanya yang membisu. "Ini adalah Baekhyun, putri almarhum Duke of Cookelt. Aku mengundangnya tinggal di sini untuk beberapa waktu."

"Selamat siang, Yang Mulia Paduka Raja, Yang Mulia Paduka Ratu," suara merdu Baekhyun melantunkan salamnya.

Ratu Heechul langsung membuang muka dan melangkah angkuh ke dalam istana.

Baekhyun tidak terlalu kaget oleh reaksi Ratu Heechul. Ia memang tidak mengharapkan sambutan yang ramah.

Teima kasih pada Duchess Belle, seisi dunia percaya ia adalah anak haram Duke Kris.

Sebagai orang terhormat sudah pasti Ratu Heechul tidak senang dengan keberadaan anak haram dalam rumahnya, bersama satu-satunya putranya.

Chanyeol juga tidak mengharapkan lebih. Ia sudah tahu, membawa pulang Baekhyun bukanlah hal yang baik, tapi ia tidak dapat membiarkan Baekhyun pergi seperti yang diinginkan gadis itu setelah mereka tiba di Magport kemarin malam. Chanyeol tidak berani berharap banyak. Ibunya tidak langsung mengusir Baekhyun di depan pintu rumah saja sudah sangat baik.

"Jangan kau hiraukan ibumu," Raja Hankyung mengagetkan Chanyeol dengan kata-katanya yang ramah, "Bawalah Lady Baekhyun ke kamarnya. Ia tentu sudah lelah."

'Lady Baekhyun!?' Chanyeol membelalak. Apakah ia tidak salah dengar?

"Mari, Lady Baekhyun," Raja memberi jalan pada Baekhyun.

Chanyeol tidak percaya ayah yang sangat diyakininya akan menyuruh prajurit mengusir Baekhyun, menunjukkan jalan dengan ramah pada Baekhyun! Mata Chanyeol beralih pada Baekhyun yang dengan sopan mengikuti Raja Hankyung.

'Pesona gadis ini memang tidak bisa diremehkan,' Chanyeol berpendapat ketika Baekhyun membungkuk hormat sebelum mengikuti pelayan yang diperintahkan Raja mengantar Baekhyun ke kamarnya.

"Di mana kau temukan dia, Chanyeol?" Raja Hankyung bertanya tidak percaya.

Chanyeol terkejut mendengar nada takjub ayahnya. Ia tidak dapat mempercayai sepasang mata biru tua itu bersinar kagum.

Beberapa pelayan mulai membongkar muatan kereta.

"Aku perlu bicara," Chanyeol memutuskan.

Walaupun ayahnya menyambut Baekhyun dengan ramah dan ibunya tidak mengusir Baekhyun, bukan berarti Baekhyun aman. Chanyeol harus menjelaskan alasannya membawa pulang Baekhyun.

"Tentu, Chanyeol," Raja merangkul pundak putranya, "Kau harus memberitahuku di mana kau menemukan gadis ini," dan ia membawa Chanyeol ke Ruang Duduk.

Ratu Heechul ada di dalam Ruang Duduk ketika mereka masuk. Mata hijaunya yang dingin menatap kedatangan mereka.

"Mama, aku perlu bicara tentang Baekhyun."

Ratu membuang muka.

"Seperti yang kalian ketahui," Chanyeol membuka pembicaraan, "Duke of Cookelt baru saja meninggal dunia. Sekarang Baekhyun benar-benar sebatang kara. Duke Kris mewariskan semua kekayaannya pada Daehyun dan menunjuk Baekhyun sebagai walinya."

"Gadis itu!?" Raja terkejut.

Ratu tidak bereaksi.

"Duke menunjuknya," Chanyeol mengulangi.

"Ia masih terlalu muda."

"Kurasa itulah yang membuat Duchess Belle tidak dapat menerimanya," Chanyeol melanjutkan, "Ia mengirim orang untuk menyingkirkan Baekhyun. Aku tidak dapat berdiam diri melihatnya dalam bahaya. Keluarga Riddick tidak menyukainya. Duchess Belle tidak pernah menyukai Baekhyun dan Daehyun, adik tiri Baekhyun, berusaha memperkosanya."

"Aku tidak menyangkanya," gumam Raja, "Ia memang sangat mempesona. Tapi, Chanyeol, apakah kau yakin ia adalah putri Duke of Cookelt?"

"Tentu saja. Apa mungkin Duke mencintai anak orang lain melebihi putrinya sendiri?" tanya Chanyeol.

Raja Hankyung terdiam.

"Aku tidak bisa membiarkannya seorang diri dalam bahaya," lanjut Chanyeol, "Karena itu aku mengundangnya ke sini sebagai tamuku. Aku berharap kalian tidak keberatan."

"Tentu saja ia akan diterima di sini dengan tangan terbuka," sahut Raja.

Chanyeol melihat ibunya – mengharapkan sepatah dua patah kata darinya.

Ratu Heechul masih tetap tidak bereaksi.

"Mama, apakah Mama bisa menerima kehadiran Baekhyun?" Chanyeol akhirnya langsung bertanya.

Demi kekagetan Chanyeol, Ratu Heechul berdiri sebagai jawabannya. Tanpa sedikitpun melihat putranya, ia melangkah pergi.

"Tidak ada yang perlu kau khawatirkan," Raja memberi kepastian, "Heechul hanya tidak dapat menerima kenyataan kau membawa pulang Baekhyun."

'Membawa pulang seorang wanita, tepatnya?' Chanyeol berpikir sinis. Tentu saja Ratu tidak senang. Ia tidak pernah menyukai petualangan Chanyeol dan gadis-gadisnya. Ini adalah pertama kalinya ia membawa pulang wanita. Namun Baekhyun bukanlah salah satu wanitanya. Bagaimana ia harus meyakinkan Ratu?

"Kenapa kau tidak beristirahat, Chanyeol," Raja mengusulkan, "Kau pasti lelah setelah perjalanan panjang. Apa kau lapar? Aku akan menyuruh pelayan membawa makanan ke kamarmu."

"Tidak perlu, Papa. Kami sempat berhenti untuk bersantap siang."

Raja Hankyung tidak memberi komentar.

"Aku akan beristirahat di kamarku, Papa. Selamat siang."

-0-

Baekhyun duduk di beranda – memandang pegunungan tinggi yang membentang di kejauhan. Ia teringat lagi ketololannya kemarin malam setelah kapal merapat di Ririvia.

"Malam ini kita akan menginap di dalam kapal," Chanyeol memberitahunya, "Besok pagi-pagi kita akan berangkat ke istana."

Istana adalah satu-satunya tempat yang tidak ingin dikunjungi Baekhyun. Chanyeol bersedia membawanya ke Helsnivia saja sudah membuat Baekhyun sangat berterima kasih.

Duke Kris hanya berjanji pada Joonmyeon untuk memulangkan Baekhyun ke Helsnivia.

"Terima kasih, Yang Mulia," kata Baekhyun, "Saya akan baik-baik saja dari sini. Saya sangat berterima kasih atas tumpangan yang Anda berikan."

"Ke mana kau akan pergi?" Chanyeol bertanya curiga.

"Mungkin saya akan melewatkan beberapa hari di sini," jawab Baekhyun, "Setelah itu saya akan meninggalkan Helsnivia. Entah ke mana."

Chanyeol menatapnya lekat-lekat dengan penuh tanda tanya. "Aku tidak mengerti apa yang kaubicarakan. Sebagai informasimu, kita belum tiba di Helsnivia."

"Oh," Baekhyun terkejut.

"Helsnivia tidak punya laut," Chanyeol mengingatkan.

Rona merah mewarnai wajah Baekhyun. Ia benar-benar lupa Helsnivia adalah kerajaan kecil di antara pegungungan tinggi!

Chanyeol menyadari apa yang dipikirkan Baekhyun dan ia tidak dapat menahan tawanya.

"Maaf, pengetahuan geografi saya buruk," Baekhyun tidak suka perasaan diledek.

Chanyeol tersenyum geli melihat rona merah yang membuat Baekhyun kian manis dan kekanak-kanakan itu. "Satu-satunya alasan orang tuaku mengirim kapal ini adalah jalan laut lebih cepat untuk mencapai Helsnivia daripada jalan darat."

Baekhyun ingat Duke Kris pernah berkata, 'Walau Helsnivia adalah kerajaan kecil yang kaya, tidak mudah menyerangnya. Pegunungan yang mengelilinginya bukanlah jalan yang mudah untuk dilalui.'

"Beristirahatlah," kata Chanyeol, "Kulihat sepanjang hari ini kau berdiri di ujung kapal seperti mau memimpin jalan."

Baekhyun tidak membantahnya namun ia juga tidak meninggalkan dek tempat ia berdiri yang biasa disebut poop oleh para pelaut.

"Atau kau ingin tidur lagi dalam pelukanku?" goda Chanyeol.

Godaan itu langsung membuat Baekhyun bergerak. "Selamat malam, Yang Mulia."

Chanyeol tertawa geli melihat Baekhyun kabur.

Baekhyun tidak suka mendengar tawa itu. Pasti inilah yang biasa dilakukan Chanyeol untuk menjerat wanita-wanitanya. Chanyeol salah besar bila ia mengira Baekhyun tertarik untuk menjadi satu dari sekian mantannya.

Tiba-tiba saja Baekhyun ingin tahu apa yang membuat Chanyeol menolongnya sampai sejauh ini. Chanyeol tidak mungkin serius menjadikannya salah satu wanitanya, bukan? Chanyeol sendiri pernah mengatakan ia tidak tertarik padanya.

Baekhyun benar-benar terkejut ketika pagi ini Chanyeol bersikeras membawanya ke Istana Ririvia tanpa peduli penolakan Baekhyun. Sekarang Baekhyun lebih terkejut oleh tangan terbuka Raja Hankyung.

Baekhyun yakin ia melihat ekspresi kemarahan Raja Hankyung dan Ratu Heechul ketika kereta berhenti di hadapan mereka. Baekhyun mengharapkan usiran mereka tapi yang kemudian diterimanya benar-benar di luar dugaan! Kecuali reaksi Ratu Heechul, mungkin.

Baekhyun tidak mengenali mereka. Namun melihat kemiripan Chanyeol dengan pria yang penuh wibawa itu, Baekhyun yakin dua sosok yang berdiri di pintu itu adalah Raja Hankyung dan Ratu Heechul. Hati Baekhyun sudah siap menerima usiran keduanya. Ia juga sudah menyiapkan kata-kata sopan yang akan dijelaskannya pada mereka. Bahwa ia tidak bersedia dibawa Chanyeol pulang ke istana. Bahwa ia punya rencana sendiri yang mulai dipikirkannya ketika kapal meninggalkan dermaga dan dimantapkannya ketika kapal merapat di Magport.

Baekhyun hanya dapat terdiam ketika Ratu Heechul pergi tanpa kata-kata. Ia benar-benar termangu dalam keterkejutannya ketika Raja Hankyung menyambutnya dengan tangan terbuka bahkan menyebutnya Lady!

Mereka tidak mungkin tidak tahu!

Wyatt, pelayan Chanyeol terus menjatuhkan pandangan tidak suka padanya sejak mereka bertemu. Pagi ini ketika Baekhyun tidak melihatnya di kapal, Baekhyun yakin Wyatt telah pulang ke Helsnivia untuk melapor.

Baekhyun percaya seisi Helsnivia tahu siapa dirinya, sang anak haram almarhum Duke of Cookelt!

Ia dapat merasakan pandangan ingin tahu orang-orang di Hall istana. Ia dapat mendengar bisikan-bisikan miring mereka padanya. Ia adalah anak haram almarhum Duke of Cookelt dan ia juga miskin!

Baekhyun tidak terlalu mempedulikan hal terakhir itu. Ketika meninggalkan Sternberg, ia berencana untuk tinggal di Hauppauge, bukan di istana. Ia tidak butuh gaun-gaun mewahnya yang dapat dipastikan sekarang memenuhi almari baju Yonhee. Ia tidak membutuhkan perhiasan-perhiasan mewahya yang sudah direbut Duchess Belle sejak Duke jatuh sakit. Ia juga tidak membutuhkan benda-benda itu saat ini. Baekhyun tidak berniat tinggal lama di Istana Ririvia!

'Apakah itu mungkin?' Baekhyun bertanya-tanya.

"Kau tidak akan ke mana-mana," Chanyeol menegaskan pagi ini ketika ia menyatakan keinginannya turun di perbatasan Helsnivia. "Kau akan ikut denganku ke Ririvia!"

"Tinggallah di sini selama mungkin," kata Raja Hankyung ketika menyambutnya.

Baekhyun sempat berpikir Raja Hankyung adalah salah satu dari sekian pria yang melihatnya sebagai anak haram yang bisa diajak tidur semalam. Namun dalam senyum yang ditujukan padanya itu, ia merasakan kehangatan dan di dalam mata biru tua itu, ia melihat keramahan. Keramahan yang ditunjukkan hanya padanya seakan-akan ia adalah tamu yang diharap-harapkan kedatangannya sejak lama. Bahkan, belum lama Baekhyun memasuki kamar barunya yang megah ini, pelayan mengantarkan makanan kecil!

Kue-kue yang menggiurkan itu dibiarkan Baekhyun di atas meja rias. Teh yang masih mengelup ketika disajikan, dibiarkannya dingin.

Sesungguhnya beberapa saat lagi adalah waktu makan malam. Baekhyun tidak terbiasa makan sesuatu sesaat sebelum makan malam.

Suasana makan malam itu sendiri tidaklah jauh berbeda dari dugaan Baekhyun.

Baekhyun duduk di depan sepasang mata hijau dingin Ratu Heechul.

Keberadaan Chanyeol di sisinya sama sekali tidak membantu.

Raja Hankyung yang duduk di ujung meja pun tidak banyak merubah suasana makan malam yang menegangkan ini.

Baekhyun dapat merasakan sepasang mata dingin Ratu terus mengawasi tiap gerak-geriknya dan itu sama sekali tidak membuatnya nyaman!

Andai Baekhyun boleh memilih, ia lebih suka makan sendiri di kamarnya. Tapi ia adalah tamu di Ririvia, bukan? Selain itu pelayan menjemputnya ketika waktu makan malam tiba – membuatnya tidak bisa kabur dari saat ini.

Pelayan itu sendiri tidaklah menyenangkan. Sikapnya memang sopan tapi juga dingin dan kaku. Baekhyun tidak menyukai pandangan menyelidiknya. Rasanya, melalui sepasang matanya yang berpengalaman itu, ia ingin mengorek rencana Baekhyun pada sang Putra Mahkota.

"Baekhyun," Raja Hankyung memanggilnya dan ketika itu pula Ratu mengalihkan perhatiannya dengan sepasang mata hijau dingin yang membara – membuat Raja menutup mulut.

Chanyeol pun tidak bisa berbuat banyak. Baru saja ia menoleh pada Baekhyun, Ratu sudah menjatuhkan tatapannya yang tajam. Akhirnya Chanyeol mencoba meredakan ketegangan dengan menanyakan suasana Helsnivia selama ia tidak ada.

Namun itu juga tidak membantu Baekhyun merasa lebih baik.

Dalam keadaan seperti ini, Baekhyun lebih menyukai suasana Ruang Makan di Sternberg. Walau dalam tiap acara makan Duchess Belle tidak pernah melewatkan kesempatan untuk memarahi Baekhyun atau mengutuknya, Baekhyun tidak kehilangan selera makannya seperti ini. Ia sudah terbiasa dengan suasana perang di Ruang Makan Sternberg yang ditujukan untuk memojokannya. Ia sudah biasa menelan kata-kata kemarahan itu bersama makanannya. Tapi ia tidak biasa menelan makanannya di bawah sepasang mata dingin yang ingin membekukannya.

Karena itu betapa gembiranya Baekhyun ketika di akhir makan malam Chanyeol berkata,

"Kulihat Baekhyun sudah lelah," lalu ia melihat Baekhyun, "Mengapa kau tidak kembali ke kamarmu? Kau tahu di mana kamarmu, bukan?"

"Ya," Baekhyun mengangguk.

Segera setelah mengucapkan sepatah kata "selamat malam", Baekhyun kembali ke kamarnya.

Istana Ririvia memang luas namun ingatan Baekhyun tidak terlalu lemah dalam mengingat jalan menuju kamarnya. Baekhyun langsung berganti baju setibanya di kamar tapi ia tidak tidur. Ia duduk di beranda – memandang keindahan taman Ririvia yang tidak sempat diperhatikannya sore ini dan juga rumah-rumah di kejauhan.

Sinar matahari musim panas memberi penerangan pada Ririvia untuk memandang sejauh mungkin. Mulai dari keramaian di taman Ririvia di bawah kakinya hingga pegunungan tinggi di kejauhan.

"Papa, aku sudah pulang ke tempat yang kau inginkan," gumam Baekhyun.

Terima kasih pada Chanyeol, ia tidak sepenuhnya berbohong pada Duke Kris. Terima kasih padanya pula, Baekhyun dapat memenuhi janji Duke Kris pada ayahnya.

"Lihatlah, Kris," kata Baekhyun lagi, "Kau tidak perlu memaksa Pangeran demi memulangkanku ke Helsnivia. Sekarang kau bisa dengan tenang berkata pada Papa kau telah memenuhi janjimu."

Baekhyun membeku. Berkata tentang janji, apakah yang telah diperbuatnya pada janji dengan orang yang begitu mencintainya selama enam tahun belakangan ini?

Duke Kris telah memintanya menjadi wali Daehyun, mendidik, menyiapkan Daehyun menjadi Duke of Cookelt. Namun apakah yang telah dilakukannya!? Ia kabur dari Trottanilla!

Darah di otak Baekhyun langsung membeku.

Mengapa ia begitu egois? Mengapa ia bisa memutuskan untuk pergi tanpa memikirkan permintaan Duke padanya – satu-satunya permintaannya dan yang terakhir?

Hingga detik-detik terakhir hidupnya, Duke Kris berusaha memenuhi janjinya pada Joonmyeon. apakah yang akan dipertanggungjawabkannya pada Duke Kris kelak?

"Aku tidak mengharapkan melihatmu termenung di sini."

Baekhyun terperanjat.

"Kau pucat pasi. Apakah kau sakit?" tanya Chanyeol pula.

"Saya baik-baik saja," jawab Baekhyun melihat pemuda itu berdiri di beranda di sisi kirinya. "Mengapa Anda berada di sini?"

"Ini adalah kamarku," Chanyeol menunjuk ruang di belakangnya.

"Oh, saya tidak tahu."

Chanyeol pun tidak akan tahu jika ia tidak melihat pelayan ibunya mengetuk kamar kosong di sebelahnya dan berkata, "Lady Baekhyun, apakah Anda ada di dalam?"

Untuk sesaat Chanyeol menduga ibunya akan memanggil Baekhyun tapi betapa leganya ia ketika beberapa saat kemudian pelayan itu berkata, "Saya diperintah untuk membawa Anda ke Ruang makan. Yang Mulia Paduka Raja dan Ratu menanti kehadiran Anda."

"Apakah saya mengusik Anda?"

"Tidak. Aku sama sekali tidak terganggu olehmu."

Baekhyun melayangkan senyumannya.

"Apa yang kaulakukan di sini?'

"Saya sedang berpikir."

"Apa yang kaupikirkan?"

"Janji saya pada Kris."

"Jangan khawatir," Chanyeol berusaha menenangkan. "Daehyun tidak akan bisa berbuat apa-apa terhadap rumahmu. Ia tidak bisa memutuskan apa pun tanpa persetujuan kau sebagai walinya."

"Itulah yang mencemaskan saya. Kris meminta saya menjadi wali Daehyun tapi lihatlah apa yang sudah saya lakukan. Saya kabur dari Trottanilla seperti seorang penjahat tanpa sedikit pun memikirkan Kris."

"Aku telah meminta Graham untuk menjadi perantara kalian."

Baekhyun terperangah.

"Maafkan aku. Aku sudah bertindak di luar batas. Kupikir ini adalah satu-satunya cara baik untuk memenuhi tugasmu sebagai wali Duke of Cookelt yang baru tanpa berhubungan langsung dengannya."

"Terima kasih, Yang Mulia Pangeran Chanyeol," Baekhyun tersenyum dengan segenap hatinya, "Anda sudah membantu saya memecahkan masalah saya bahkan sebelum saya menyadarinya."

'Senyum inilah yang bisa menundukkan dunia,' Chanyeol berpikir. Tidak mungkin Baekhyun tidak menyadari betapa cantik dan mempesonanya dirinya saat ini.

Sinar matahari sore panas yang jatuh di atas rambut pucatnya yang tergerai sampai ke pinggangnya, membuatnya seperti diselimuti cahaya. Namun yang lebih menakjubkan adalah sepasang mata biru mudanya yang bersinar gembira juga senyum manisnya yang mempesona. Tidak pernah Chanyeol melihat seorang wanita secantik ini.

"Aku memberitahu Graham aku akan membawamu ke sini. Ia akan mengirim kabar padamu bila terjadi sesuatu di Cookelt. Ia juga berjanji akan mengirim berkas-berkas penting yang perlu kau urus secepat mungkin. Ia juga akan mengawasi Daehyun untukmu."

Nama itu membuat Baekhyun pucat pasi. Kalau Graham tahu di mana dirinya, apakah itu berarti Daehyun juga tahu?

"Daehyun mungkin datang ke sini," Chanyeol membaca pikiran Baekhyun.

Baekhyun langsung menggigil. Matanya memandang nanar Chanyeol – membuat Chanyeol ingin melompati jarak di antara mereka dan memeluknya erat-erat. Namun ia hanya berkata,

"Kulihat ia tidak akan berani menunjukkan muka di sini. Kalaupun ia datang, aku tidak akan membiarkannya bertindak kurang ajar padamu. Kau adalah tamuku. Sebagai tuan rumah, aku berkewajiban menjamin keamananmu."

Sinar ketakutan di sepasang mata itu masih tidak hilang. Chanyeol memarahi dirinya sendiri karenanya.

"P-pangeran, apa yang hendak Anda lakukan!?" Baekhyun berteriak panik melihat Chanyeol berdiri di atas pagar yang mengelilingi berandanya. Chanyeol merambat di dinding menyeberangi jarak sekitar lima meter di antara beranda mereka.

Baekhyun menahan nafasnya seolah-olah takut Chanyeol akan jatuh bebas dari tingkat tiga ini bila ia melepaskannya.

"Apa yang Anda lakukan!?" Baekhyun langsung bertanya ketika Chanyeol menjejakkan kaki di lantai berandanya.

'Mengapa sinar ketakutan di mata itu masih tidak berubah?' Chanyeol meraih Baekhyun dalam pelukannya.

"P-panggeran," Baekhyun terkejut, "Apa yang Anda lakukan?"

"Ssh…," tangan kiri Chanyeol melingkari pinggang Baekhyun dan menariknya merapat. Tangan kanannya mendekap kepala Baekhyun di dadanya.

Baekhyun panik.

Chanyeol tidak bergerak juga tidak bersuara. Ia hanya memeluk Baekhyun seperti yang ingin dilakukannya di detik pertama ia melihat air mata Baekhyun.

Baekhyun menemukan kehangatan di dada Chanyeol. Entah sudah berapa lama ia tidak dipeluk seperti ini. Duke Kris tidak pernah memeluknya. Ia juga tidak memeluknya ketika ia muncul di depan pintu rumahnya di Hauppauge. Duke hanya berkata, "Hallo. Aku yakin kau adalah Baekhyun, si putri cilik itu. Apakah ayahmu ada?" Duke juga tidak memeluknya ketika ia menangisi pembakaran jasad ayahnya.

Sudah lama sekali Baekhyun tidak merasakan kehangatan seperti ini. Sudah lama sekali Baekhyun tidak menyandarkan kepalanya dalam dada hangat seorang pria.

Ayahnya selalu memeluknya seperti ini ketika ia menangis. Ayahnya selalu memeluknya sepanjang malam yang dingin di luar sana. Ayahnya selalu memeluknya dalam setiap kesempatan.

Jari jemari Baekhyun mencengkeram kemeja Chanyeol. Matanya yang mulai membasah menutup rapat. Bibirnya yang tertutup menggumamkan, "Papa…"

Baekhyun merindukan ayahnya.

Tiba-tiba Chanyeol melepaskan Baekhyun.

Baekhyun merasa hampa.

Sedetik lalu Chanyeol bertanya pada dirinya apa yang sedang dilakukannya pada anak haram yang disumpahnya tidak akan pernah disentuhnya ini!? Namun ketika melihat sepasang mata penuh kerinduan itu, Chanyeol sadar tidak mudah mengabaikan gadis ini.

Chanyeol mengangkat Baekhyun.

Baekhyun terkejut. Ia cepat-cepat melingkarkan tangan di leher Chanyeol untuk menopang badannya.

"Aku datang untuk memastikan kau tidur saat ini juga," Chanyeol membawanya masuk melalui pintu yang terbuka lebar itu.

Baekhyun merasa seperti kembali ke saat-saat ia membandel untuk tidur sehingga ayahnya memaksa dengan membopongnya ke tempat tidur seperti ini.

Chanyeol membaringkan Baekhyun di tempat tidur dan beranjak pergi.

"Pangeran!" Baekhyun menarik tangan Chanyeol.

Chanyeol langsung berbalik.

"Kali ini gunakanlah pintu," Baekhyun tersenyum kekanak-kanakan.

"Tentu," kata Chanyeol, "Pertama-tama aku akan menutup pintu serambi."

Baekhyun melepas tangan Chanyeol.

"Selamat malam," ia tidak kuasa menahan keinginannya untuk mencium kening gadis yang memandangnya dengan kekanak-kanakan ini.

'Apakah yang kau pikirkan, Chanyeol!?' Chanyeol memarahi dirinya sendiri sambil berjalan ke pintu serambi kamar Baekhyun, 'Apakah kau ingin Baekhyun menahanmu di ranjangnya!?' ia mengunci pintu serambi.

Chanyeol melihat Baekhyun masih memandangnya dengan mata kekanak-kanakan dan senyum manis ketika ia menuju pintu.

Baekhyun masih tersenyum beberapa saat setelah Chanyeol menghilang di balik pintu. Sekarang ia yakin Chanyeol melakukan semua ini karena simpatinya sebagai seorang gentleman kepada seorang gadis yang sebatang kara. Baekhyun membaringkan diri. Malam ini ia pasti dapat memimpikan saat-saat indah bersama ayahnya.


~To be continued~


Yehet..

Yang nanya kapan Baekhyun ketahuan kalo bukan anak dari Duke Kris jawabannya masih beberapa Chapter lagi. Soalnya itu juga bakal menjawab siapa Baekhyun sebenarnya dan alasan Duke Kris merasa harus memulangkan Baekhyun ke Helsnivia dan harus bareng Chanyeol.. Jadi ditunggu aja^^