Two World

Special Part

HunHan (GS)

"Kita seperti dua orang dari dunia berbeda"—Spin-off Luhan

.

.

.

"Sudahlah susul saja dia"

Aku mengalihkan pandangan dari jalanan yang macet karena suara familiar itu. Itu dia, Kyungsoo, sahabatku.

"Tae Oh sudah datang rupanya!" sapaku pada anak laki-laki yang tengah menutup mulutnya menyembunyikan tawa. Bisa kutebak, ibunya menyuruh anak itu untuk bekerja sama mengejutkanku.

"Imo terkejut?" tanyanya riang segera mengambil tempat disebelahku.

"Eum! Imo hampir saja berdiri karena kaget!" Aku mengelus rambut mangkuknya sambil memberikan ekspresi takut terbaikku.

"Jogiyo (Excuse me), aku juga disini" Kyungsoo yang duduk diseberangku mengetuk meja dua kali, meminta atensiku dan Tae Oh.

"Jadi bagaimana rasanya, kembali melajang hampir satu bulan?" Kyungsoo bertanya dengan gaya sarkastiknya yang khas sambil membalik buku menu.

"Tidak buruk, aku menikmatinya" jawabku sambil membantu Tae Oh mengeluarkan robot-robotannya dari ransel yang ia bawa.

"Kau merindukannya" Kyungsoo menatapku dengan tatapan mengejek sambil bersedekap di dada. Aku hanya menanggapinya dengan mengangkat bahu dan kembali memberikan perhatian pada Tae Oh.

"Sehun masih sering menelepon?"

Aku membiarkan Tae Oh bermain sendiri dan memberikan atensi pada sahabatku yang punya rasa penasaran sangat besar terhadap kehidupanku ini, "Setiap malam. Dia selalu menelepon sambil makan siang, aku rasa dia tidak punya teman disana" jawabku asal sambil menunjuk menu yang kuinginkan.

"Kau sendiri? Astaga Luhan, sekali-sekali kau harusnya yang menelepon! Apa hal seperti ini harus aku beritahu, huh? Kau harus belajar menghargai usaha orang lain. Coba pikirkan jika kau ada di posisi Sehun, apa kau tidak bosan selalu menelepon setiap hari dalam sebulan? Kenapa kau selalu mengundangku untuk menceramahimu" Wanita yang sudah mengenalku lebih dari dua puluh tahun ini selalu seperti ini setiap bertemu, menceramahiku tentang ini dan itu, tapi aku menyukainya.

Aku memilih tidak menjawab Kyungsoo yang sedang berceramah, dan mengalihkan perhatian pada anak laki-laki disampingku, "Sayang, mau menginap di rumah imo beberapa hari? Imo takut sendirian"

"Kau selau bilang tidak apa-apa, kenapa malah mengajak anakku menginap? Dasar tidak konsisten!"

Tae Oh menatapku gamang, "Sepertinya eomma tidak mengijinkan, imo"

"Buat anakmu sendiri, jangan mengambil anak orang lain!" tambah Kyungsoo sebelum menyesap ice americano-nya.

Aku tertawa geli, entah kenapa Kyungsoo yang selalu mengomel ini membuatku nyaman. Dia penuh perhatian dengan caranya yang aku sukai.

"Luhan-ah"

Aku mengangkat alis sebagai tanda aku mendengarkannya.

"Kau masih tidak ingin punya anak?" Kyungsoo menatapku lurus, aku tahu ia sedang serius sekarang.

Aku menghela napas, "Entahlah, aku masih belum siap. Salah apa anak yang mendapatkan aku sebagai ibunya? Aku takut belum bisa memberikan perhatianku sepenuhnya, aku tidak mau anakku nanti merasa kurang kasih sayang dan kesepian" Sepertiku.

"Memangnya kau kenapa? Aku mengatakan yang sebenarnya, kau adalah imo yang baik untuk Tae Oh, dan aku yakin kau akan jadi ibu yang baik nanti"

Aku kembali menatap ke arah jalanan, masih ada suara tidak setuju di kepalaku terhadap pernyataan Kyungsoo barusan.

"Bolehkah aku jujur padamu?"

Aku mengangguk, kembali menatap Kyungsoo sungguh-sungguh.

"Kau terlalu banyak beralasan Lu. Kau takut anakmu merasakan apa yang kau rasakan dulu, tapi sekarang saat seseorang memberikan perhatiannya padamu kau malah menghindar. Bersyukurlah Sehun masih memperlakukanmu dengan baik sampai sekarang. Menurutmu ada berapa banyak pria seperti itu diluar sana? Selain Sehun aku tidak yakin ada yang tahan dengan sikapmu yang terlalu dingin dan keras kepala"

Aku diam. Tidak bisa terlalu setuju dengan Kyungsoo, namun menolak untuk menyalahkannya. Setidaknya aku harus mendengarkan Kyungsoo sampai selesai, tidak banyak orang berani menunjukku terus terang seperti Kyungsoo.

"Jika tidak sekarang memangnya berapa banyak lagi waktu yang kau punya? Dalam beberapa tahun kau akan berusia empat puluh Luhan, kau tidak bisa menolak hukum alam, tubuhmu tidak akan sebaik sekarang. Sudah waktunya kau untuk melepaskan semua ketakutanmu, berbahagialah, hm?"

Aku tersenyum kecut, tidak ada satu katapun yang salah dari kalimat Kyungsoo,

"Apa aku bisa?"

"Belajarlah menerima bantuan dan perhatian dari Sehun, sudah saatnya kau bergantung pada orang lain. Kau sudah terlalu lama menjadi Luhan yang mandiri, aku bangga padamu, tapi aku akan lebih bangga lagi jika kau bahagia"

Tae Oh menatapku dan ibunya bergantian, khawatir dengan raut serius ibunya dan aku yang selalu menunduk.

"Imo.."

Anak ini menggeser duduknya dan memeluk lenganku, memandang ibunya takut-takut. Aku tersenyum dan mengecup puncak kepalanya, "Wae? Eomma memang menyeramkan kalau sedang marah bukan?" bisikku. Tae Oh mengangguk.

"Eomma.. jangan memarahi imo.." ujarnya ragu.

Kyungsoo menghela napas dan melepaskan keseriusan di wajahnya, "Sayang, imo-mu ini terlalu nakal, eomma harus memarahinya, jika tidak ia tidak akan pernah berubah. Sudahlah sekarang eomma tidak marah lagi, habiskan makananmu"

"Setelah ini kau mau kemana?"

"Mertuaku menyuruh menginap. Lagipula aku tidak ada kuliah lagi minggu ini"

"Jangan lupa mengunjungi orang tua mu!"

"Ne.. ne.."

oo000oo

Oh Sehun.

Aku sudah tidak bisa lagi menghitung berapa banyak aku menyebut nama itu satu tahun belakangan, baik menyuarakannya dengan mulutku, maupun dalam pikiranku saat sedang mengutuknya. Si Oh Sehun ini sudah merusak kedamaian dan keteraturan hidupku tiga puluh lima tahun sebelumnya. Dia menarikku keluar dari zona nyamanku dan mengacaukan kebiasaan – kebiasaanku.

Awalnya aku menerima ajakan untuk kencan keduanya karena ternyata he was not bad saat kencan pertama yang penuh dengan cerita SMA itu. Setidaknya mataku tidak terganggu dengan keberadaannya. Kemudian aku menerima ajakan kencan ketiganya karena he has a good attitude as a human. Dan saat kencan keempat, I assume he was and still a good man saat ia tidak memandangku aneh maupun kasihan saat aku membeberkan kekuranganku. Dan setelah mengkalkulasikan semua penilaianku, aku memutuskan untuk mengiyakan tawarannya saat ia berkata, "Being my wife?". Dan kemudian aku menjadi istri Oh Sehun dan Oh Sehun menjadi suamiku.


Aku sangat skeptis dengan hal yang berkaitan dengan hubungan romantis antara pria dan wanita. Sehingga aku selalu memberi batas tak kasat mata pada teman-teman lawan jenisku, sehingga mereka tidak sakit hati jika tiba-tiba aku mendorong mereka untuk menjauh, atau salah paham saat aku menganggap mereka sebagai teman baik. Dan tanpa sadar, aku melakukan hal yang sama pada Sehun yang saat itu sudah berstatus sebagi suamiku. Tanpa aku sadari, aku memperlakukannya sama seperti aku memperlakukan Chanyeol –salah satu teman baikku, kecuali untuk bagian tinggal serumah. Hingga suatu saat, Kyungsoo bertanya, "Kenapa kau hanya membeli kebutuhanmu? Kau tidak belanja bulanan?". Kemudian dimulai lah ceramah dari Kyungsoo mengenai kewajiban dan tanggung jawab istri. Setelahnya aku mulai memperhatikan peralatan mandi apa yang digunakan Sehun, dimana dia menyimpannya, dan kapan aku harus membeli persediaannya. Kemudian menanyakan apa yang ia inginkan untuk sarapan dan makan malam, apakah aku harus menggantung atau melipat pakaiannya, dan selalu memberi kabar jika aku pulang terlambat.


Seperti di dalam game, saat kau menyelesaikan satu level, kau akan naik ke level berikutnya. Aku kembali dibuat tersadar saat Sehun membahas masalah anak. Saat aku dengan tegas menjawab tidak, sesaat kemudian aku bisa melihat garis kekecewaan di mata Sehun dan aku dilanda gugup sesaat, 'Ah, apa dia terluka?', 'Apa aku baru saja menyakiti Sehun?'. Kemudian pertanyaan lain muncul, 'Kenapa kau peduli Xi Luhan?'. Dan aku menarik kesimpulan, 'Ah, tanpa kau sadari kau menaruh perhatian pada Sehun, Xi Luhan'.

Akhirnya setelah berbagai perdebatan dikepalaku, aku kembali menarik kesimpulan, 'Apa salahnya memperhatikan Sehun, toh dia suamiku'. Aku menyembunyikan Luhan yang selalu playing victim untuk membenarkan semua kelakuannya dan mengakui keegoisanku. Sehun juga berhak diperlakukan selayaknya suami, ia berhak merasa disayangi, ia berhak merasa dibutuhkan dan berhak merasa ia adalah bagian penting dari kehidupan Xi Luhan.


Sayangnya semua tidak semudah yang aku bayangkan. Terkadang aku lupa dan lepas kendali, kembali memandang semua hal dari perspektifku saja. Kemudian aku tersadar, kembali merasa bersalah. Seperti keputusan yang baru saja kubuat, membiarkan Sehun pergi sendiri dengan alasan program doktorku. Satu minggu setelah Sehun berangkat, pikiran ini muncul, 'Sebenarnya untuk apa aku mati-matian mempertahankan kuliah doktorku ini? Toh tanpa inipun aku sudah punya karir dan hidup cukup dengan itu'. Lagi-lagi aku membuat keputusan tidak berguna, toh hanya satu tahun, tahun berikutnya aku bisa kembali mencoba jika memungkinkan. Jika tidak aku hanya perlu menjadi istri yang baik. Lagi-lagi, bukannya memperbaiki diri, aku malah mengecewakan Sehun.

Ah, ada satu hal yang tidak terlalu aku mengerti dari Sehun, kenapa dia tidak pernah menuntut sesuatu? Kenapa dia selalu menyerah setelah satu kali penolakan? Ini mungkin menjadi pr ku selanjutnya. Setelah pembicaran terlampau serius dengan Kyungsoo hari ini, aku memutuskan untuk memperbaiki sikap agar aku pantas disebut sebagai istri oleh Sehun.

Terlepas dari semua dosa-dosaku pada Oh Sehun, aku bangga dengan diriku yang sekarang. Entahlah, aku merasa semakin.. manusiawi. Dan jika kalian bertanya padaku saat ini, apakah aku mencintai Sehun? Aku masih akan menjawab tidak tahu. Karena aku sudah pernah mengatakannya, aku butuh standar ukur yang pasti untuk itu. Tapi saat aku menceritakan semua keluh kesahku kepada Kyungsoo, dia menjawab dengan gaya khasnya, matanya menatapku dengan ekspresi yakin sambil menyilangkan tangan di dada, "Itu tandanya kau mencintainya, bodoh!"

Untuk masalah anak, hmm, bagaimana mengatakannya? Aku tidak ingin terlalu gegabah membuat berbagai perubahan dalam semalam, untuk kali ini aku lebih memilih fokus kepada Sehun, setidaknya dia sudah menderita satu tahun ini, bukan begitu?

.

.

.

Special Part (Spin-off Luhan) End.