Believe In Love

Cast : Kai, Sehun, etc

Yang ga suka dengan ff aku yang absurd, mending langsung klik close. Dan tolong berkomentarlah yang sopan, belajarlah menghargai karya orang lain.

Oh ya, di sini semua anggota keluarga Jongin, marganya Kim ya, aku sengaja mengubah marga Chanyeol dan Jungwoo untuk menyesuaikan dengan alur mereka.

No edit, typo bertebaran

KaiHun Lovea

.

.

.

.

.

.

Hal pertama yang di lihat Sehun saat ia terbangun dari tidurnya pagi itu adalah tatapan suaminya yang terlihat tak biasa. Ia langsung terjaga sepenuhnya dari tidurnya, menatap tak mengerti pada suaminya.

"Good morning," Sehun menyapa dengan agak canggung.

"Morning," jawaban Jongin jelas terdengar begitu kaku.

"Ada apa Jongin? apa aku sudah melakukan suatu kesalahan?"

Jongin mengulurkan tangan ke arah meja nakas, mengambil secarik kertas yang tadi malam ia letakkan di situ dan kemudian memperlihatkannya kehadapan Sehun.

Wajah Sehun memucat, kertas itu mengingatkannya pada kertas yang ia terima di kafe saat bersama Jaemin. Tapi bukankah kertas itu Jaemin yang membawanya pergi, kenapa sekarang berada di tangan Jongin? apa Jaemin yang menyerahkannya pada suaminya. Sehun bangkit dari berbaringnya dan duduk berhadapan dengan Jongin, ia tak mempedulikan ketelanjangannya karena Sehun yakin di balik selimut yang menutupi dari bagian pinggul ke bawah milik Jongin juga sama telanjangnya dengan dirinya.

"Apa ini?"

"Bacalah," wajah Jongin masih tanpa ekspresi.

Sehun mengambil kertas itu dengan tangannya yang gemetar. Ia membuka lipatannya dan mulai membaca. Bukan, ini bukan kertas yang sama dengan yang di kafe kemarin, isinya berbeda.

"Apa ada sesuatu yang kau sembunyikan dariku, Shixun? Siapa yang mengirim pesan itu padamu?"

"Aku..." Sehun menelan ludahnya dengan gugup, wajahnya terlihat makin pucat. "Aku benar-benar tidak tahu."

"Sunshine," Jongin menarik tangan Sehun, kemudian ia mengangkat tubuh istrinya untuk duduk di pangkuannya dengan posisi saling berhadapan dan kaki Sehun yang berada di kiri dan kanan tubuh Jongin. "Katakan sejujurnya apa yang kau sembunyikan dariku? Kalau kau tidak jujur padaku bagaimana mungkin aku bisa melindungimu?"

Sehun tampak bimbang, ia berulang kali mengalihkan pandangannya dari wajah Jongin, "Aku..."

"Ya, Sunshine, katakanlah."

"Aku benar-benar tidka tahu siapa yang mengirim pesan itu padaku."

Dahi Jongin berkerut, lalu siapa yang dengan kurang ajarnya telah memasuki kamar mereka?

"Tolong percaya padaku Jongin, aku benar-benar tidak tahu soal itu."

"Apakah ini pertama kalinya kau menerima pesan ini?"

"Kalau yang kau maksud di kamar ini, maka jawabannya adalah ya."

"Jadi maksudmu kau pernah menerima ini sebelumnya di tempat lain?" tanpa disadari rangkulan Jongin di pinggang Sehun menguat, hingga membuat pria manis itu meringis sakit.

"Tadi..." Sehun menatap Jongin dengan raut wajahnya yang pucat. "Tadi saat di kafe juga ada seseorang yang mengirimkan pesan padaku."

"Apa isi pesannya sama dengan yang ini?"

Sehun menggeleng, "Bukan. Isi pesannya berbeda."

"Apa itu?" tanya Jongin.

"Apapun yang kau lakukan, teruslah berharap kalau ingatanmu tidak akan kembali. Maka aku akan mengampuni nyawamu."

"Shit," tanpa sadar Jongin mengumpat. "Siapa yang mengirim pesan itu kepadamu?"

Sehun menggelengkan kepalanya, "Aku benar-benar tidak tahu Jongin, dia menitipkan pesannya pada pelayan."

"Selain di kamar dan kafe itu, apa sebelumnya kau pernah menerima pesan yang serupa?"

Sehun menggelengkan kepalanya.

"Aku akan ke kafe itu hari ini dan meminta rekaman cctv, semoga kita bisa mendapatkan orang yang mengirimkan pesan itu segera. Aku tak mau istriku di ancam seperti ini."

"Lalu yang di kamar ini bagaimana?"

Jongin terdiam sejenak, "Hanya orang yang tinggal di dalam rumah ini yang bebas berkeliaran tanpa patut di curigai. Tapi bisa saja ada orang yang menyusup diam-diam ke dalam rumah. Aku akan memeriksa cctv yang di luar."

"Jongin, orang yang menaruh pesan ini bukan orang rumah kan?"

"Sedikitpun aku tidak meragukan keluargaku, tapi pelayan..." Jongin menggelengkan kepalanya. "Mereka sudah mengabdi di rumah ini selama puluhan tahun, dan aku juga tak meragukan kesetiaan mereka. pasti ada orang lain yang menyusup masuk." Jongin menyipitkan matanya, "Kau tidak mencurigai keluargaku sebagai pelakunya kan?"

"Eh, tidak."

"Kau tahu sendiri saat kita berada di rumah, tak ada satupun anggota keluargaku yang berada di rumah saat itu."

Atau salah satu dari mereka yang meletakkan kertas itu lebih dulu sebelum aku atau Jongin pulang? Sehun ingin mengatakan itu, tapi ia tak ingin membuat suaminya marah kalau ia berkata kalau ia mencurigai keluarganya lah yang melakukan itu.

Sehun menyandarkan kepalanya di pundak Jongin, sementara tangannya memeluk pinggang Jongin dengan erat. Ia mencoba mengingat-ingat tentang keluarga Jongin. Ayahnya kah yang melakukan itu? sepertinya tak masuk akal, karena Chanyeol jelas-jelas terlihat begitu berharap ia bisa memberikannya seorang cucu, tak mungkin bukan kalau seorang Chanyeol yang menginginkan seorang cucu mencoba mencelakai ibu dari calon cucunya? Minseok kah? Tapi kelihatannya, ia bahkan tidak membencinya, ia justru yang paling semangat ingin membongkar penyebab kecelakaannya dulu. Dan Kris, dia memang bukan anggota keluarga Kim, tapi ia adalah orang yang pernah menyelamatkannya dari amukan Baekhyun, dan melihat betapa akrabnya Jongin dengan Kris, rasanya tak mungkin Kris berniat mengkhianati sahabatnya tersebut. Lalu Jungwoo, dia adik ipar yang meski terkesan cuek tapi sebenarnya perhatian, dan dia jelas bukan orang yang patut Sehun curigai mengingat dialah yang paling akrab dengannya di rumah ini. Terakhir Suho, tidak, Sehun tidak memiliki kecurigaan sedikitpun pada ibu mertuanya itu.

"Shixun... sunshine..." Jongin menggoyangkan sedikit tubuh Sehun. ia sedikit khawatir ketika menyadari betapa dinginnya tubuh Sehun. "Sunshine, kau tidak apa-apakan?" Jongin melepaskan dengan paksa pelukan Sehun dan menatap khawatir wajah pucat itu.

"Aku..." Sebelum Sehun dapat melanjutkan ucapannya, ia sudah terkulai pingsan.

"Sunshine..." dengan panik Jongin segera membaringkan tubuh Sehun di atas kasur, tanpa mempedulikan ketelanjangannya ia beranjak menuju walk in closet, mencarikan pakaian untuk istrinya dan juga untuk dirinya sendiri.

"Sunshine, apa yang terjadi padamu?" Setelah selesai mengenakan pakaian untuk Sehun, Jongin segera memakai pakaian juga.

Ia mengamati sejenak wajah pucat Sehun, sebelum mencoba menghubungi dokter pribadi keluarganya.

"Shit, kemana sebenarnya dokter Edgard, kenapa ia tidak mengangkat telpon dariku?"

Jongin bergegas keluar dari kamarnya dan berteriak memanggil orang tuanya.

"Ada apa Jongin, kenapa berteriak seperti itu?" ibunya muncul dari arah dapur.

"Mama, Shixun pingsan."

"Ya Tuhan, apa yang terjadi dengan menantuku," Suho bergegas melangkah menuju kamar Jongin.

"Kau sudah menghubungi Dr. Edgard?" Chanyeol yang sudah siap dengan setelah kerjanya, menatap pada anak sulungnya dengan tatapan bertanya.

"Sudah, namun tak ada jawaban sama sekali."

Dahi Chanyeol berkerut, "Dia masih tak bisa dihubungi? Berapa lama sebenarnya ia berlibur?"

"Berlibur?" tanya Jongin.

"Ya, asistennya mengatakan begitu."

"Ini terlalu lama untuk seorang dokter cuti kerja, papa bisa memeriksa ke tempatnya? Aku akan membawa istriku ke rumah sakit."

Chanyeol mengangguk, "Aku akan melakukannya anakku, kau urus saja istrimu."

"Baik papa."

.

.

.

.

.

Hari itu Chanyeol memilih tidak berangkat kerja dan mewakilkan pekerjaannya pada Minseok, ia lebih memilih untuk ikut bersama dengan Jongin dan istrinya ke rumah sakit, membawa Sehun yang masih pingsan.

"Apa yang sebenarnya terjadi pada Shixun, Jongin?"

"Aku tak tau mama, tadi kami masih berbincang-bincang di kasur ketika ia tiba-tiba saja pingsan."

"Apa ia salah makan sesuatu?"

"Shixun bahkan belum sarapan pagi, mama."

Suho menatap ke arah pintu yang tertutup di depannya, di mana di dalam sana, Shixun sedang di periksa oleh dokter. "Mama harap tak ada sesuatu yang buruk terjadi padanya."

"Menantu kita, pasti baik-baik saja," Chanyeol merangkul pundak Suho. "Sayang, apa kau melihat Jungwoo, aku tidak melihatnya di rumah, dan kita belum memberitahukan kepadanya soal kakak iparnya."

"Jungwoo bilang ia menginap di rumah temannya."

Tanpa perlu bertanyapun Jongin bisa menebak siapa teman yang di maksud, sudah pasti Jungwoo menginap di rumah kekasihnya tadi malam.

"Anak itu," gumam Chanyeol. Sebelum ia meneruskan ucapannya, handponenya berbunyi, pria setengah baya itu melirik sekilas, "Aku akan mengangkat telpon ini dulu."

Tepat setelah Chanyeol menjauh dari keduanya, dokter keluar dari pintu ruangan tempat Sehun berada.

"Dok, bagaimana keadaan menantuku, dia baik-baik saja kan?" Suho mendahului Jongin menanyakan hal itu pada dokter.

Dokter separu baya itu tersenyum, "Menantu ibu baik-baik saja, dia hanya kelelahan."

"Kelelahan?" tanya Jongin, ia berpikir apakah karena percintaan mereka tadi malam penyebab istrinya pingsan?

"Ya, untuk orang yang sedang hamil, apalagi dia seorang pria, memang gampang merasa kelelahan."

"Apa?" Jongin terkejut. "Shixun hamil?"

"Ya, Tuan Kim, selamat istri anda sedang hamil, usia kandungannya baru empat minggu."

Jongin tersenyum cerah, ia kemudian memeluk tubuh ibunya dengan erat. "Mama, aku akan segera menjadi seorang ayah."

"Ya, sayang, selamat ya, akhirnya mama juga akan mempunyai cucu."

Di saat Jongin dan ibunya tengah berbahagia, Chanyeol tampak sedang memasang wajah seriusnya saat ia mendengarkan ucapan dari penelponnya.

"Apa maksudmu dengan Dr. Edgard sudah di lenyapkan?"

"..."

"Begitu ya?" Chanyeol tersenyum tipis, "Bukankah memang begitu cara kerjanya? Singkirkan orang-orang yang menghalangi jalan di depan." Chanyeol menatap pada lantai ubin di bawah kakinya. "Aku akan menelponmu lagi nanti, dan ku harap saat itu orang yang melenyapkan Dr. Edgard sudah kau temukan."

Jelas, tak hanya dia yang bergerak, ada orang lain juga yang telah bergerak mendahului dirinya. Siapa sebenarnya orang itu, teman atau musuh? Ia harus memastikannya secepatnya.

Ketika Chanyeol tiba di ruangan tempat Sehun di rawat, ia langsung di sambut dengan pelukan hangat dari istrinya dan juga senyuman lebar putra sulungnya.

"Ada apa ini, kenapa kalian terlihat bahagia saat menantuku sedang sakit."

"Shixun tidak sakit sayang, ia hanya kelelahan dan apa kau tahu berita gembiranya?"

"Apa itu sayang?" tanya Chanyeol lembut.

"Kita akan segera menjadi kakek dan nenek."

"Ah, benarkah?" Chanyeol tersenyum lebar. "Selamat kalau begitu Kim Jongin."

"Ya, papa."

Chanyeol mendorong tubuh Suho dengan lembut, memintanya untuk melepaskan pelukan. "Papa sangat senang, karena sebentar lagi akan punya cucu," Chanyeol menatap ke arah Sehun dengan tatapan yang sulit di artikan. "Tapi ada hal yang ingin papa sampaikan sekarang padamu Jongin."

"Apa itu papa?"

"Bisa kita keluar sebentar?" tanya Chanyeol. "Sayang, kau jaga menantu kita ya."

"Baiklah."

Setelah Jongin dan Chanyeol keluar dari ruangan itu, Jongin segera menanyakan pada Chanyeol apa yang ingin ia bicarakan.

"Dr. Edgard sudah meninggal," ucap Chanyeol tanpa basa basi.

"Apa? apakah dia sakit atau yang lain?"

Chanyeol menggeleng, "Seseorang telah melenyapkannya."

"Apa maksud papa, kenapa ada orang yang tega melakukan hal itu pada seorang dokter?"

"Entahlah, papa juga tidak tahu apa motifnya."

"Apa ini berkaitan dengan Shixun juga?" tanya Jongin.

Chanyeol menggeleng, "Terlalu dini untuk menyimpulkan hal seperti itu, anakku."

Jongin terdiam.

"Papa sudah meminta detektif kita untuk menyelidiki hal ini, bersabarlah, mungkin dalam beberapa hari ini kita akan menemukan buktinya."

"Pertama Shixun, sekarang Dr. Edgard, apa sebenarnya yang terjadi? Aku benar-benar tak mengerti. Apa ini perbuatan salah satu musuhku?"

"Tak ada satupun yang patut di curigai saat ini, semua orang memasang topeng yang sempurna Jongin, kita pikirkan nanti saja, sekarang kita harus kembali ke ruangan istrimu."

Topeng yang sempurna? Jongin termenung memikirkan itu, siapa yang berpura-pura baik sebenarnya? Atau siapa yang berpura-pura jahat padahal dia sebenarnya baik?

Saat memikirkan Dr. Edgard, Jongin teringat dengan percakapan terakhir mereka di telpon. Sesaat kemudian mata Jongin melebar, amplop cokelat. Ya, Dr. Edgar mengatakan padanya soal amplop cokelat berisi data yang harus Jongin baca. Kenapa ia melupakan hal itu akhir-akhir ini, saat pulang nanti Jongin akan membacanya dan ia akan mengetahui penyebab kematian Dr. Edgard.

.

.

.

.

.

.

TBC

Sejujurnya, aku menulis epep ini tergantung dengan mood dan ide, kalau ide lagi lancar bisa aja cerita yang aku ketik bakal panjang, gitu juga kalau ide ga lancar bisa jadi aku ngetik hanya sedikit. Karena bagiku menulis sebuah cerita itu ga segampang saat membacanya.

Salam KaiHun Hardshipper

KaiHun Lovea