Frozen Summer

Pair:

Park Jimin (as Hyperion) x Min Yoongi (as Theia)

Slight:

Kim Namjoon (as Perseus) x Kim Seokjin (as Maeve)

Rate: T - T+

Genre: Fantasy, Romance.

Length: Undetermined

Summary:

Api dan es bagaikan dua sisi mata koin, mereka bersama, tapi mereka tidak akan bertemu. Lalu bagaimana jika takdir mengatakan sang api mencintai dia yang membeku dalam es? / MinYoon, GS!Yoongi.

Notes:

Nama sengaja dirubah untuk kepentingan cerita.

Min Yoongi: Theia (meaning: Goddess) as the Ice Queen

Park Jimin: Hyperion (Theia's husband in Irish/Greek Mytology) as the Fire King

Kim Namjoon: Perseus (meaning: to destroy) as the Fire Knight

Kim Seokjin: Maeve (meaning: intoxicating) as the Petals Princess

Warning:

GS! Yoongi and Seokjin, AU, Fiction. Inspired by 'Halsey - Castle', slightly inspired by The Huntsman: Winter's War.

Notes 2:

Diceritakan dalam sudut pandang Yoongi dan Jimin. Perhatikan agar kalian tidak bingung mana sisi Yoongi dan mana sisi Jimin karena aku tidak akan menuliskan 'Yoongi POV' atau 'Jimin POV' di atas partnya ;)

.

.

.

.

.

.

.

Part 6: End of The Story

Aku tidak yakin soal Siri yang berniat membunuh Hyperion, tapi hanya itu satu-satunya kemungkinan yang paling mungkin. Siri mengatakan dia akan membunuh dia yang sudah melemahkanku dan saat ini aku melemah mungkin karena aku mengandung bayi Hyperion yang pastinya memiliki kekuatan ayahnya dan tentunya berlawanan denganku.

Tapi itu terjadi karena pertumbuhan bayiku. Aku tidak peduli jika nantinya kekuatanku akan menghilang, bagiku selama bayiku bisa tumbuh dengan sehat aku tidak akan keberatan.

"Theia? Ada apa? Ada sesuatu yang mengganggumu?" tanya Maeve pelan.

Suara Maeve membuatku kembali ke kesadaranku, bola mataku berputar menatap kakakku dan lidahku terasa sangat gatal dan ingin menceritakan hal ini padanya. Tapi aku tahu Maeve sangat tidak menyukai Siri dan aku yakin dia hanya akan marah dan kesal padaku karena sudah melepaskan Siri.

"Aku.. hamil, Maeve."

Maeve tersenyum lebar, "Ya, bukankah itu hebat? Bayi kalian pasti akan membuat kedua kerajaan senang. Semoga saja dia anak laki-laki, dia akan menjadi penerus yang hebat."

"Aku tidak mau punya bayi."

Maeve terlihat kaget, dia menatapku dengan mata melebar. "Theia!" bentaknya.

"Jangan katakan pada siapapun kalau aku hamil. Hubunganku dan Hyperion hanya murni untuk urusan bisnis kedua kerajaan. Aku tidak mau memiliki bayi darinya."

Aku bisa merasakan hatiku retak karena ucapanku sendiri. Semua yang kukatakan adalah bohong. Aku bersumpah aku mencintai bayiku yang saat ini berada dalam tubuhku dan aku sangat ingin membesarkannya bersama ayahnya. Tapi aku tidak mau Siri membunuh Hyperion. Siri sangat kuat dan itu tidak diragukan lagi, dia bahkan bisa membunuh Hyperion tanpa Hyperion sempat melihatnya sedetikpun.

Siri terkenal sebagai 'pembunuh dalam bayangan' di kerajaan kami karena kemampuannya untuk membunuh dengan begitu cepat tanpa terdeteksi. Dan jika Siri sudah berniat untuk membunuh, maka dia tidak akan berhenti sampai targetnya tewas. Tidak ada yang bisa aku lakukan selain menjauh dari Hyperion dan meyakinkan Siri kalau Hyperion bukanlah penyebab dari lemahnya diriku.

"Theia, apa yang ada di otakmu? Bayi kalian membutuhkan kedua orangtuanya dan kau tidak berhak membunuhnya hanya karena pemikiran bodohmu soal hubungan diantara kau dan Hyperion!" Maeve membentak lagi dengan gigi bergemeletuk karena amarah.

Jemariku bergetar, aku ingin menangis. Mengucapkan kalimat penolakan untuk bayiku benar-benar membuatku hancur. Tapi aku harus bisa melakukannya untuk menyelamatkan Hyperion. Harus.

"Theia!" bentak Maeve lagi karena aku hanya diam.

"Tinggalkan aku sendiri," ujarku akhirnya. Aku tidak yakin aku bisa menahan airmataku lebih lama lagi.

Maeve menggeram kesal kemudian dia berjalan cepat keluar dari kamarku dan membantingnya.

Tepat ketika pintu kamarku tertutup, airmataku menetes dan aku bergerak memeluk perutku dengan protektif.

"Mommy menyayangimu, kau harus tahu itu. Mommy melakukan ini untuk menyelamatkanmu dan ayahmu."

.

.

.

.

.

.

.

Aku berjalan keluar dari ruanganku setelah semua pertemuan dan rapat selesai. Menjadi seorang Raja memang bukan pekerjaan mudah, bahkan aku harus rela meninggalkan istriku yang masih terbaring di kamar kami untuk menghadiri serentetan pertemuan yang begitu menumpuk.

Kakiku berjalan cepat menyusuri koridor istana untuk menemui Theia secepatnya. Perseus bilang Theia sudah sadar dan Maeve sedang bersamanya sejak tadi. Aku sempat bertemu dengan tabib istana dan bertanya soal keadaan Theia dan untungnya dia mengatakan kalau Theia baik-baik saja dan hanya membutuhkan istirahat.

Aku berhasil tiba di kamar kami dan langsung bergerak masuk. Napas lega keluar dari diriku saat melihat Theia sedang duduk di atas tempat tidur dengan tangan yang mengusap perutnya.

"Theia,"

Theia terlihat agak tersentak, dia menoleh ke arahku dengan gerakan sangat cepat.

"Bagaimana keadaanmu?" tanyaku kemudian duduk di sebelahnya dan mengelus pipinya. Namun betapa terkejutnya aku saat Theia justru menepis tanganku dan menatapku dengan dingin.

"Aku baik, pergilah. Aku ingin sendiri."

"Theia?" ujarku bingung.

"Seharusnya anda ingat kalau hubungan kita hanyalah karena perjanjian lama, Yang Mulia. Saya sudah berusaha menyenangkan anda selama perjalanan menuju ke sini dan saya rasa itu cukup."

Aku tersentak, kepalaku panas mendengar kalimat yang diucapkan dengan begitu dingin dan datar oleh Theia. "Apa maksudmu?" desisku.

Theia menatapku dengan matanya yang dingin, "Kurasa anda mengerti. Hubungan kita hanya karena perjanjian bodoh yang sudah lama dan aku turuti karena aku membutuhkanmu untuk membuat kerajaanku tetap aman."

Aku tidak tahu apa kiranya yang memasuki pikiran istriku hingga dia berubah menjadi sedingin ini. Aku dan dia sudah menjadi sangat dekat belakangan ini dan sekarang dia mencoba mengatakan kalau semuanya dia lakukan untuk menyenangkanku?

"Jadi maksudmu.. semua yang sudah kita lakukan hanya caramu untuk menyenangkanku agar aku tetap mempertahankan pernikahan ini?"

Aku tidak bermaksud mengucapkan itu. Sungguh. Tapi hatiku yang terluka karena ucapan Theia membuatku mengatakan hal yang terpikirkan olehku saat ini.

Theia menarik napas dalam dan mengangguk, "Ya,"

Dan aku tidak bisa menahan diri lagi, aku menggeram dengan tangan terkepal dan saat melihat mata Theia yang membelalak ngeri, aku sadar kalau saat ini kedua tanganku sudah terbakar oleh api yang menggelora di sana. Theia terlihat memasang posisi siaga, dia bergeser dengan lengan kanan yang sudah diselubungi es tipis dan lengan kiri yang memeluk perutnya entah kenapa.

"Aku mencintaimu," lirihku, mencoba membuat Theia kembali menjadi Theia yang bersamaku belakangan ini.

"Dan aku akan membekukanmu dan cinta bodohmu itu."

Cukup, aku tidak tahan lagi. Aku berteriak marah dan tanpa sadar nyaris saja memukul Theia dengan tanganku yang penuh kobaran api jika saja dia tidak memekik dan membuat perlindungan dengan membuat perisai es di antara kami.

Aku tersentak, lapisan es yang dibuat oleh Theia sangat tipis hingga aku bisa melihatnya yang meringkuk ketakutan dengan tangan bergetar dan tangan yang terus memeluk perutnya.

Aku tertegun dan seketika itu juga aku sadar kalau Theia sedang menyembunyikan sesuatu. Dia adalah seorang Ratu dengan kekuatan luar biasa. Jika kami berduel, aku nyaris yakin kalau hasilnya akan seri. Sehingga tidak mungkin Theia akan meringkuk ketakutan seperti itu.

Aku menjauhkan tanganku dan menatap Theia yang masih bersembunyi di balik perisai esnya. Theia masih meringkuk ketakutan dengan tubuh gemetar dan aku memutuskan untuk keluar karena aku tidak sanggup melihatnya ketakutan seperti itu.

.

.

.

.

.

.

.

Aku mendengar suara pintu yang dibuka dan ditutup seiring dengan kepergian Hyperion dari kamar tempatku berada. Aku menghembuskan napas lega dan meringis pelan saat bayi kami yang sepertinya menyadari pertengkaran tadi bereaksi. Aku merasakan sensasi panas di sekitar perutku hingga aku mengerang sakit.

Aku mencoba mengelus perutku dengan tangan yang terselubungi es tipis namun itu tidak berhasil. Lidahku ingin sekali bergerak dan menjeritkan nama Hyperion tapi aku tahu aku tidak bisa melakukan itu. Jadi aku menggigit bibirku kuat-kuat dan meringkuk seperti bola seraya mencoba menenangkan bayiku yang marah karena orangtuanya bertengkar.

'Yang Mulia..'

'Siri?' ujarku lemah. Tenagaku terkuras untuk menenangkan bayiku dan aku tidak memiliki cadangan kekuatan untuk meladeni Siri.

'Saya sudah menemukan anda..'

Apa? Bagaimana mungkin?

'Saya juga sudah menemukan dia.. saya akan membunuhnya.. segera.'

'Siri, tidak! Jangan! Kau tidak mengerti!'

'Yang Mulia, saya merasakan sesuatu di tubuh anda..'

'Ini bayiku! Jangan ganggu dia! Dia keturunanku.'

"Akh!" ringisku saat aku merasakan panas di dalam tubuhku semakin membakar. Kesadaranku semakin menipis dan menggunakan telepati untuk berkomunikasi dengan Siri benar-benar menghabiskan kekuatanku.

'Bayi?'

Aku bisa merasakan keraguan Siri dalam nada suaranya, tapi aku tidak bisa menjelaskan apapun padanya karena kesadaranku sudah menguap.

.

.

.

.

.

.

.

Aku berjalan menyusuri koridor dengan mata yang berputar mencari Maeve. Jika memang ada yang disembunyikan oleh Theia, maka Maeve sebagai kakaknya pasti akan tahu apa yang terjadi. Dan akhirnya setelah berjalan-jalan memutari istana, aku berhasil menemukan Maeve yang sedang duduk di antara rerumputan bersama Perseus.

"Maeve!" panggilku keras.

Maeve menoleh ke arahku sementara Perseus langsung berdiri dan membungkuk hormat padaku. Aku menganggukkan kepalaku pada Perseus dan segera duduk di hadapan Maeve.

"Kau tahu apa yang terjadi pada Theia?" tanyaku cepat.

Maeve mengerutkan dahinya, "Memangnya kenapa?"

Aku meremas rambutku frustasi, "Theia menyembunyikan sesuatu! Aku tahu itu karena ketika kami bertengkar tadi dia begitu ketakutan seperti menyembunyikan sesuatu."

"Kalian bertengkar?"

Aku mengangguk, "Ya, dia mengatakan kalau kami tidak berarti apapun dan selama ini dia hanya berpura-pura menyukaiku untuk membuatku tidak membatalkan pernikahan kami."

Maeve menggeram, "Theia benar-benar keterlaluan."

"Ada apa dengannya?" tanyaku bingung. Aku benar-benar tidak mengeti apa sebenarnya yang ada di dalam kepala Theia. Kenapa dia begitu rumit?

"Theia hamil. Dan aku tidak tahu apa yang salah dengannya sampai menjadi seperti ini. Aku sangat yakin dia juga senang dengan berita ini tapi entah kenapa ada sesuatu yang mengganggunya sehingga dia bertingkah seperti ini."

"Tunggu dulu, Theia.. hamil?"

Maeve mengangguk, "Ya, dia hamil. Aku tahu saat menyentuh perutnya."

Aku tersentak. Astaga jadi itu sebabnya dia selalu memeluk perutnya dengan protektif! Itu karena dia mengandung bayi kami dan aku nyaris saja memukulnya tadi!

Erangan frustasi keluar dari mulutku dan Maeve menepuk-nepuk bahuku untuk menenangkan.

"Kurasa Theia hanya.."

Aku mengangkat kepalaku saat Maeve tidak menyelesaikan kalimatnya. Dia terdiam dengan pandangan kosong, dia sama sekali tidak bergeming saat beberapa daun yang terbawa angin jatuh ke rambutnya. Dia masih diam dalam posisi itu hingga tiga menit penuh sebelum kemudian dia mencengkram lenganku erat-erat.

"Ini gawat.."

"Ada apa?" tanyaku bingung.

"Siri.. Siri ada di kerajaanmu!" pekik Maeve keras.

Dahiku berkerut dalam, "Siri?"

Maeve terlihat luar biasa panik, dia bangkit dengan tangan kanan yang terbuka dan beberapa helai daun yang terbawa angin tengah berada di sana.

"Siri tidak mungkin keluar.. segelnya terlalu kuat." Maeve berjalan mondar-mandir dengan wajah memucat.

"Siapa Siri?" tanyaku dengan kebingungan luar biasa.

Mave menatapku, "Siri adalah assassin terbaik di kerajaan kami. Ayah kami menyegelnya karena dia terlalu berbahaya. Segelnya sangat kuat dan seharusnya dia tidak akan pernah bisa keluar kecuali.." ucapan Maeve terhenti lagi dan matanya membelalak ngeri.

"Kecuali?" tanyaku.

"Kecuali jika salah satu dari anggota kerajaan memanggilnya dan memberinya pekerjaan." Maeve menatap mataku dengan matanya yang penuh dengan kepanikan dan kecemasan.

"Theia.. Theia pasti sudah melepaskan segel Siri dan memberinya tugas." Maeve mengepalkan kedua tangannya dan tiba-tiba saja rumput yang berada di bawah kaki Theia perlahan menjadi kering hingga mati meninggalkan jejak kehitaman di bawah kakinya.

"Maeve.." aku mencoba memanggilnya untuk mengingatkan karena kelihatannya kekuatan Maeve sedang tidak stabil.

Perseus meraih lengan Maeve dan menggoyangkannya lembut, membuat Maeve tersadar kembali dan dia memekik kaget saat melihat rumput yang berada di bawah kakinya mati. Maeve segera berjongkok seraya menggumamkan maaf pada rumput itu dan kembali menghidupkannya seperti semula.

"Maaf soal rumputmu. Aku.. tidak sengaja." Maeve menatapku dengan senyuman canggung di bibirnya.

Aku tersenyum kecil saat melihat Maeve yang agak gugup, "Bukan masalah."

"Kita harus mencegah Siri. Aku mengkhawatirkan Theia."

Mataku berputar memandangi sekeliling, istanaku dibangun di balik sebuah benteng yang tebal dengan penjagaan yang sangat ketat, akan sangat sulit untuk menyusup tanpa terlihat. Apalagi saat ini Theia berada di dalam bangunan utama yang memiliki penjagaan paling ketat.

"Kurasa Theia akan aman berada dalam kamarnya. Sekarang sebaiknya kau menceritakan padaku soal Siri."

.

.

.

.

.

.

.

Aku menggerakkan bola mataku kemudian perlahan membuka kedua kelopak mataku yang terpejam. Aku kembali pingsan karena bayi dalam tubuhku benar-benar membuatku melemah. Mungkin bayiku lebih memiliki kekuatan dari ayahnya sehingga aku tidak sanggup terus menyeimbangkan kedua elemen di dalam tubuhku.

Mataku terbuka sepenuhnya dan helaan napas pelan keluar dari bibirku.

"Anda sudah sadar, Ratuku?"

Kepalaku menoleh dengan cepat ke sumber suara dan aku melihat Siri sedang berdiri di kamarku dan perlahan dia berjalan menghampiriku yang terbaring di tempat tidur.

"Siri.. apa yang.."

"Saya mengkhawatirkan anda, Yang Mulia. Anda melemah, anda sangat melemah."

Aku mencoba untuk bangun dan akhirnya setelah bersusah payah aku berhasil duduk dengan bersandar pada bantal-bantal. "Ini tidak seperti yang kau pikirkan."

"Perkiraan saya tidak pernah salah, Yang Mulia. Saya diciptakan untuk melindungi keturunan Raja."

Aku menghela napas pelan, tanganku bergerak mengelus perutku dengan gerakan memutar. "Dan yang ada di dalam sini adalah keturunan Raja."

Siri mengerutkan dahinya, "Yang Mulia?"

"Aku sedang mengandung, dan yang menyebabkanku melemah adalah karena bayiku kelihatannya lebih banyak mengambil elemen kekuatan ayahnya. Dia yang kau kira melemahkanku adalah suamiku, Siri. Aku dan Hyperion sudah menikah di White Land sebelum aku pergi ke sini."

Siri membulatkan matanya karena kaget, dia menatapku dalam-dalam. "Apa itu berarti.. anda melepaskan White Land begitu saja?"

"Aku memberikan kuasa penuh atas White Land pada suamiku, Siri. Itu kewajibanku dan juga hak Hyperion sebagai suamiku."

"Anda.. membuang White Land.."

Siri terlihat aneh, aku sadar itu. Dia mengepalkan kedua tangannya dan menatapku dengan mata berkilat marah.

"Siri?"

"Anda.. membuang White Land.. White Land yang sangat disayangi oleh Raja." Siri menggeram marah, "Anda bukan lagi keturunan Raja!" teriaknya sebelum kemudian dia menggerakkan pedangnya untuk menebasku.

Aku berhasil menghindar di detik terakhir, aku melompat ke seberang tempat tidur dan memasang posisi bersiaga. "Siri, hentikan! Aku Ratumu!"

Siri mendesis geram, "Anda bukan lagi Ratuku.. Princess Maeve adalah keturunan Raja sekarang. Anda sudah membuang White Land, anda bukan lagi Ratu White Land.."

Siri kembali melancarkan serangannya yang berhasil kuhindari dengan baik. Aku bergerak dan membekukan lengan Siri yang memegang pedang tapi selubung esku bisa dihempaskannya dengan mudah. Siri kembali melompat untuk menerjangku dan aku berusaha setengah mati menghindarinya.

Karena aku terus berusaha berkelit dari Siri, tubuhku terus bergerak sehingga bayiku yang berada di dalam tubuhku terguncang. Perutku menegang dengan sensasi panas yang kuat hingga membuatku meringis kesakitan.

Karena aku sedang sibuk menenangkan bayiku, aku tidak sempat mengelak dari serangan Siri sehingga dia berhasil menggores lenganku dengan pedangnya. Darah perlahan mengalir dari lengan atasku dan menetes ke lantai yang berada di bawah kakiku.

'Hyperion!' aku menjerit memanggil nama Hyperion walaupun aku tahu aku tidak mengikat pikiran kami. Aku hanya mencoba karena saat ini aku amat sangat tidak yakin aku bisa mengalahkan Siri.

.

.

.

.

.

.

.

.

"Siri itu seseorang yang diambil oleh Ayah kami. Ayah kami merawatnya dan membesarkannya sebagai assassin untuk melindungi kerajaan kami. Ayah kami selalu membanggakan kemampuan Siri dan mendoktrinnya untuk selalu melindungi kerajaan kami dan juga seluruh keturunannya."

Aku mengangguk saat mendengar Maeve mulai bercerita kemudian aku melirik Perseus, "Kesetiannya tidak berbeda jauh denganmu."

Perseus mendelik padaku tapi aku membalasnya dengan seringaian yang membuat Perseus kembali menatap Maeve.

"Tapi kemudian Ayah kami mulai takut pada Siri sehingga dia memutuskan untuk mengurung Siri. Theia sendiri yang menambah segelnya agar Siri tidak keluar dari tempatnya ketika dia naik takhta menjadi Ratu." Maeve menghela napas pelan, "Aku tidak tahu apa yang ada di pikiran Theia, tapi Theia begitu mencintai White Land. Dia rela melakukan apa saja asalkan White Land tetap dalam kondisi aman dan terkendali."

"Apakah karena itu Theia melepaskan Siri?" tanyaku pada Maeve.

Maeve mengangkat bahunya, "Mungkin, walaupun Theia itu adikku, ada kalanya aku tidak bisa mengerti apa yang dipikirkan olehnya. Theia adalah seseorang yang baik, terlalu baik malah. Dia rela menjadi pengganti Ayah walaupun sejak kecil Theia selalu mengatakan padaku kalau dia tidak ingin menjadi Ratu karena dia tidak bisa memerintah dengan baik. Tapi dia mau menjadi pengganti Ayah demi menggantikan aku yang memang tidak cukup kuat untuk menjadi Ratu."

Aku berdecak, "Kau nyaris mematikan semua rumput di sini saat kekuatanmu tidak stabil dan yang seperti itu masih dibilang 'tidak cukup kuat'?" aku bersiul rendah, "Sekarang aku penasaran sekuat apa istriku sebenarnya."

Maeve tertawa kecil, "Kekuatanku mungkin hanya sebagian kecil dari kekuatan Theia. Kau harus melihatnya saat bertempur, atau kalau mau kau harus mengajaknya duel sesekali."

"Terdengar menyenangkan." Aku tertawa namun tawaku langsung terhenti saat aku merasakan nyeri yang menghentak di jantungku seolah-olah aku baru saja dipukul.

'Hyperion!'

Itu suara Theia, aku tidak mungkin salah. Theia baru saja berteriak di dalam kepalaku!

Kepalaku berputar cepat menatap bangunan utama kemudian tanpa mengucapkan apa-apa aku langsung berlari menuju bangunan utama.

"Lho? Hyperion?" Maeve berujar bingung tapi kemudian dia menarik Perseus untuk berdiri dan berlari mengejar Hyperion yang sudah semakin jauh.

.

.

.

.

.

.

.

Napasku terengah-engah setelah beberapa menit terus berkelit dari serangan Siri. Salah satu dari panah kecil beracun milik Siri sudah menusuk lengan atasku dan aku sudah merasakan efeknya karena pandanganku mulai berkunang-kunang.

Aku berusaha setengah mati mempertahankan kesadaranku dan melindungi bayiku. Aku sangat mengkhawatirkan dia karena saat ini racun sudah mengalir di pembuluh darahku dan aku begitu ketakutan kalau racun itu akan mengenai dirinya. Dia masih begitu kecil dan jelas tidak bisa melindungi dirinya sendiri.

"Siri, hentikan!" ujarku saat Siri kembali melayangkan serangan. Aku berkelit ke kiri dan sialnya itu justru membuat perutku terbentur sisi meja.

Aku menjerit kesakitan dan jatuh terduduk seraya memeluk perutku. Erangan menyedihkan keluar dari sela bibirku sementara aku memeluk perutku dan mencoba mempertahankan bayiku.

"Tidak, tidak.." gumamku berulang kali karena aku bisa merasakan rasa panas yang sebelumnya menyelubungi perutku perlahan memudar. Aku bahkan tidak peduli dan sama sekali tidak memperhatikan Siri yang masih menjadi lawanku, aku terlalu sibuk berusaha untuk mempertahankan bayiku.

Airmataku menetes saat perutku terasa semakin dingin. Dan disaat isakan pertamaku keluar, aku mendengar suara pintu yang dibuka dengan keras. Dengan sisa tenagaku aku mencoba menatap ke arah pintu dan aku melihat wajah Hyperion di sana, dia menatapku dengan mata membelalak ngeri dan setelahnya aku tidak mengingat apapun lagi.

.

.

.

Ketika mataku terbuka, hal pertama yang aku rasakan adalah rasa hangat yang melingkupi tubuhku dan ketika aku menggerakkan tubuhku dengan perlahan aku langsung sadar kalau saat ini Hyperion sedang memelukku. Perasaan nyaman dan aman ini tidak pernah kurasakan selain ketika aku berada dalam pelukan Hyperion.

"Sayang?"

Hyperion memanggilku dengan suara pelan dan aku tersenyum kecil, "Ya?"

Lengan Hyperion yang memelukku perlahan turun ke arah perutku dan mengelusnya pelan. Hal itu langsung membuatku teringat pada bayiku.

"Dia.."

Hyperion memelukku lebih erat dan mengecup pelipisku, "Dia baik-baik saja. Kita nyaris kehilangan dia tapi dia baik-baik saja."

Aku menghembuskan napas lega dan tersenyum saat telapak tangan Hyperion yang hangat terus mengusap perutku. Sensasi panas yang membakar itu tidak lagi kurasakan saat tangan Hyperion aktif mengelus perutku. Kurasa rasa panas terbakar itu muncul karena bayiku ingin dielus oleh ayahnya.

Hmm, padahal dia belum lahir tapi dia sudah begitu menginginkan ayahnya. Apa yang akan terjadi saat bayi kami sudah lahir?

"Seharusnya kau tidak melakukan itu.."

Suara Hyperion membuatku mendongak dan menatapnya, "Apa?"

"Mengorbankan dirimu dan perasaanmu untuk melindungiku." Hyperion menggeleng, "Theia, aku suamimu, aku yang seharusnya melindungimu. Dan seharusnya kau langsung mengatakan padaku soal Siri."

"Kau tahu soal Siri?"

"Ya, Maeve yang menceritakannya padaku. Aku benar-benar tidak mengerti jalan pikiranmu tapi aku mohon jangan pernah mengulangi ini lagi. Aku mencintaimu, Theia. Harus berapa kali aku mengatakan itu agar kau percaya?"

Aku terenyuh melihat raut sendu di wajah Hyperion. Dia menatapku dengan tulus dan bohong besar kalau aku mengatakan aku tidak melihat cinta di sana. Tanganku terulur dan menyentuh wajahnya dan dengan perlahan mengelusnya.

Hyperion memejamkan matanya dan menyandarkan wajahnya pada telapak tanganku yang sedang mengelusnya.

"Kurasa aku.. aku juga mencintaimu, Hyperion."

Mata Hyperion terbuka dengan cepat dan dia memandangku dalam-dalam, "Kau serius?"

Aku tersenyum padanya, "Ya, bagian kecil dari dirimu yang sedang tumbuh dalam tubuhku ini buktinya." Aku meletakkan tanganku di atas tangan Hyperion yang masih mengelus perutku.

Hyperion tersenyum lebar dan dia menunduk untuk menempelkan dahi kami, "Ya, bayi kita.."

"Bayi kita yang pasti akan sangat mirip denganmu." Aku tersenyum lebar padanya dan perlahan mataku terpejam untuk menikmati momen ini.

Hyperion terkekeh, "Dia akan menjadi perpaduan dari kita yang sempurna."

Aku tertawa, "Api dan es tidak akan bisa berpadu."

"Tapi nyatanya kita bisa bersatu, kan?" Hyperion mengecup ujung hidungku dan senyumku mengembang karena sentuhan ringan darinya.

"Ya, kau benar. Kita akan bersama selamanya."

Hyperion mendesah pelan, "Kita akan selalu bersama, baik itu di kehidupan ini maupun di kehidupan selanjutnya. Aku pasti akan bertemu denganmu dan jatuh cinta padamu lagi, berulang-ulang. Tidak peduli seperti apa dirimu di kehidupan selanjutnya, aku pasti akan kembali jatuh cinta padamu. Karena kau adalah milikku.."

The End

.

.

.

.

.

Yosh! Finally!

Huhuhu akhirnya ini end. Aku senang sekali.

Ini adalah fanfiksi pertamaku dengan nama cast yang diubah seutuhnya dan untungnya ini disukai. Aku sempat ragu kalian akan suka ini karena namanya yang aku ubah tapi ternyata kalian suka cerita ini! aku terharu T^T *sobs*

.

.

.

So, akhir ceritanya happy end! Hahaha

Maaf kalau kurang 'greget' karena memang rencana awalnya hanya sampai di sini. hahaha

Ditunggu reviewnya untuk part terakhir ini~

Love ya!

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

.

Epilogue

_Six Months Later_

"Senang melihatmu dan Hyperion sekarang bersama."

Aku tersenyum pada Maeve yang berbicara padaku dengan tangan yang sibuk membuatkan rangakaian bunga rambat untuk diletakkan di ambang jendela kamarku.

Hubunganku dan Hyperion berkembang dengan baik, dan anak kami juga tumbuh dengan baik di dalam perutku. Bayi kami memang menyebabkanku melemah tapi karena Hyperion sangat aktif menjagaku, aku sama sekali tidak merasa terancam bahaya.

Tanganku bergerak mengelus perutku, "Anakku akan membakarku dari dalam kalau aku menjauh dari ayahnya. Dia benar-benar mendukung ayahnya."

Maeve tertawa, "Hyperion benar-benar mencintaimu. Seharusnya kau melihatnya saat dia mengamuk dan membunuh Siri hari itu."

Aku membulatkan mataku, "Hyperion membunuhnya?"

"Ya, dia meraung marah saat melihat kau pingsan dan dia langsung membunuh Siri dengan tangan kosong. Suamimu itu mencabiknya menjadi dua hanya dengan satu serangan, aku dan Perseus sampai terpaku melihat betapa murkanya Hyperion saat itu."

Aku meringis, "Wow," gumamku pelan.

Maeve tertawa kecil, "Ketika melihat itu, aku langsung sadar kalau Hyperion memang mencintaimu dengan amat sangat. Dia juga yang memelukmu semalaman demi menyelamatkan bayi kalian, Hyperion berdoa tanpa henti selama 18 jam saat kau tidak sadarkan diri akibat racun dari Siri."

Aku tersenyum dan perlahan mengelus perutku yang semakin besar. "Lalu bagaimana perkembangan hubunganmu dan Perseus?"

Maeve terdiam namun aku bisa melihat kalau wajahnya perlahan merona dengan cantik.

Aku tertawa kecil melihat Maeve, "Aku tahu, Maeve. Hyperion selalu mengatakan padaku kalau kalian terlihat semakin dekat. Aku memang tidak bisa keluar dari kamar terlalu sering karena aku sedang mengandung, tapi setiap harinya Hyperion akan memberikan kabar mengenai kedekatan kalian." aku mengerling ke arah Maeve yang masih terdiam dengan wajah yang semakin memerah, "Jadi.. bagaimana?"

Maeve menggigit bibirnya dan bergerak-gerak gelisah, "Kurasa.. aku.. menyukai dia."

Senyumku semakin lebar, "Itu bagus."

Maeve menatapku dengan pandangan ragu dan malu-malu. Aku bersumpah jika saja saat ini ada pria lain di kamar ini, dia pasti pingsan melihat Maeve yang terlihat begitu menggemaskan. "Apa menurutmu aku dan Perseus bisa bersama?"

Aku terbahak, "Jelas saja bisa! Jangan ragu, Maeve."

Senyum perlahan muncul di wajah Maeve yang mempesona, "Jadi, kau setuju kalau aku bersama dengan Perseus?"

"Tentu saja! Kerajaan ini akan terasa jauh lebih menyenangkan jika kau juga menyumbang satu pangeran kecil di sini. Aku tidak mau hanya anakku yang nantinya diagungkan di kerajaan ini, dia harus memiliki teman juga. Aku ingin anakku dan anakmu berteman dengan baik seperti Hyperion dan Perseus."

Maeve memekik malu, "Theia aku dan Perseus bahkan belum menikah! Bagaimana mungkin kau langsung membahas soal bayi?!"

Aku mengibaskan tanganku acuh, "Makanya cepat menikah sana."

"Theia!"

End of The Epilogue