"Menikah? Nggak mau!"
Todoroki Enji masih menatap putra bungsunya dengan wajah teguh. Lelaki beriris biru es itu nampak tidak senang dengan penolakan gamblang tersebut. Ia hanya menyodori sebuah map berisi surat pengajuan pernikahan, surat perjanjian bertanda-tangan atas nama ayahnya dan selembar foto 4x6 dari perempuan ayu berambut panjang berkelok. Senyum manisnya di foto itu membuat Shoto menaikkan satu alisnya dengan sanksi.
Sekali lagi, Todoroki Enji menatap putra bungsunya.
"Putrinya Midoriya. Namanya Izuku. Dia sudah tua, tetapi masih melajang." Ucap Todoroki-san. "Midoriya tidak ingin putrinya jadi perawan tua. Jadi—"
"Kau menikahkanku dengan perempuan tua?" Shoto mendecih.
Todoroki-san melanjutkan. "Kalau bukan karena jasa Midoriya yang membantu meretas data kasus penipuan itu, kita semua sudah pasti bakalan mati kelaparan. Kau dan ibumu, aneki -mu. Dan aku akan membusuk di penjara."
"Membusuk saja sana di penjara." Celetuk Shoto kesal. "Kau bahkan membuat orang lain mencuci dosamu? Memuakkan."
Todoroki-san bergeming, seakan menunggu putranya bersuara.
"Aku menurutimu segala hal—pendidikan, karir, tempat kerja..." Shoto terdiam. Kepalan tangannya mengeras. "Apa belum puas, sampai kau juga mengatur pernikahan untukku?"
"Itu adalah perjanjian yang ditawarkan Midoriya." Balas Todoroki-san.
"Bayar saja dia. Suap, apapun lah namanya. Biasanya kau pandai dalam hal buang-buang uang."
"Tidak, Shoto. Kau salah." Todoroki-san menggeleng. "Permintaan ini murni dari Midoriya."
"Lihat, kau bahkan menggunakan orang lain untuk membetulkan perbuatanmu lagi."
Hening menyeruak. Shoto dan ayahnya masih bersitegang. Dalam 25 tahun hidupnya, campur tangan lelaki itu dalam kehidupannya sudah terlalu banyak. Pasalnya, Todoroki Enji bukanlah pengusaha bersih. Ia salah satu konglomerat kontroversial yang terkenal karena ekspansi perusahaannya yang luas. Belakangan diketahui, ia banyak menyuplai uang kepada klan gokudo agar perputaran uangnya lebih signifikan dan dinamis.
Bisa dibilang, keluarga Todoroki sudah terseret dalam urusan bisnis skala gembong mafia. Bisnis pencucian uang, kalau tidak salah begitu orang-orang menyebutnya di berita. Penggelapan dan pendanaan yang segalanya bersifat abu-abu. Hal ini yang membuat Shoto berang, mengutuk sang ayah agar lebih baik terbakar menjadi kerak-kerak api neraka karena telah menafkahi istri dan anak-anaknya menggunakan uang haram.
Istri?
Apakah lelaki biadab seperti ayahnya masih menganggap ibunya itu istri?
"Aku janji, ini yang terakhir, Shoto." Gumam Todoroki-san. "Menikahlah dengan wanita itu."
"Jangan bicara soal pernikahan di depanku, tua bangka bajingan." Shoto berujar dingin. "Pernikahanmu saja tidak sukses."
"Masih kau bicarakan hal itu?" Todoroki-san menatap putranya tak percaya. "Shoto! Ibumu menyiram wajahmu dengan air panas!"
"Lalu kau kirim dia ke rumah sakit jiwa?" tukas Shoto. "Kau dengar sendiri apa kata dokter, kan? Ibu berbuat begitu karena tekanan batin. Suaminya tukang pukul anak-istri."
Todoroki-san menggeram kesal, siap melayangkan pukulan demi melampiaskan amarah. Namun, ia tahu bahwa Shoto itu berbeda. si putra bungsu sudah kebal dengan rasa sakit, karena serabut dengki mencengkram hatinya—membuatnya memandang ayahnya adalah iblis yang menjadikan kehidupan keluarganya bagaikan jahanam. Kekerasan fisik hanya ia telan pahit-pahit, meski ia tetap tidak menolak bagaimanapun sang ayah mengatur masa depannya. Todoroki-san tahu bahwa Shoto melakukan itu bukan karena patuh, melainkan karena ia tidak punya pilihan. Shoto bukanlah bocah naif yang akan melupakan segalanya dan kabur dari rumah hanya karena ia benci orangtuanya. Todoroki-san tahu, bahwa putra bungsunya punya rencana yang lebih menyakitkan.
Ia tahu, Shoto akan tumbuh dewasa secepat mungkin, lalu memapankan diri dan melupakan kedua orangtuanya.
Perlahan, Todoroki-san beranjak. Ia merubah posisi duduknya, menjadi bersimpuh. Hal yang paling ia tidak pernah bayangkan seumur hidupnya; bahwa ia harus merunduk, merendahkan kepalanya ke tanah. Ia bersujud di hadapan putra kandungnya sendiri.
"Shoto, aku janji ini adalah yang terakhir." Ucap Todoroki-san dengan suara pecah. "Nikahi wanita itu. Demi dirimu sendiri."
Selasa dini hari, pukul 03.34.
Lokomotif Shoto mengudara, tepat bersandar di pinggir jendela yang terbuka sedikit. Lelaki itu meninggalkan futonnya yang hangat, tegak terjaga ketika merasakan rembesan hangat di bagian pinggang yukata tidurnya. Izuku masih berbaring dalam tibunan hangat selimut dan futon, meringkuk seperti bola dan dalam lelap yang tak nyaman. Bidadari manis itu kedatangan bulan pada tengah malam, menciptakan pulau darah di atas futon mereka. Yukata Shoto juga menjadi korban, tentu saja karena mereka menghabiskan malam dengan tanding marathon atau terlelap sambil berpelukan. Tapi, malam ini ternyata naas. Mood Shoto jatuh serendah liang kuburan, lantaran tak bisa menyentuh bebas tubuh sang istri yang menganggap dirinya sendiri sedang tidak suci.
"Sho-chan..." Izuku melirih dari dalam balutan selimut. "Maaf...nanti yukata-mu aku cuci pakai kucekan tangan deh..."
"Hmmm." Shoto menggeram malas. "Santai saja."
"Uguuu..." Izuku menggigil. Nampak tak nyaman dengan tubuh sendiri di hari pertamanya.
Shoto menoleh. "Kenapa? Dingin?"
"Perutku sakit..." Izuku merintih. "Badanku lemas dan rasanya keram semua."
"Aku harus bagaimana?" Shoto menggaruk kepalanya, nada bicaranya meninggi karena frustasi.
Izuku menciut. Ia kembali menenggelamkan dirinya ke dalam futon sambil merajuk, merasa dibentak oleh suami tercintanya. Shoto terdiam, kembali mengepul asap hingga batang rokoknya terbakar habis. Lelaki berambut nyentrik itu terbatuk kecil, dan lama-kelamaan terdengar semakin keras karena ia merasa gatal pada batang tenggorok. Izuku menyembulkan kepala dari balik selimut. Shoto melirik sejenak, dan kepala berbalut surai hijau gelap itu kembali bersembunyi.
Terdiam sejenak, Shoto menelusupkan dirinya ke dalam selimut, lalu menarik Izuku keluar. Ia menggendong istrinya dalam pelukan, melangkah keluar dari kamar tidur menuju ruang tengah. Dengan lembut, Shoto membaringkan Izuku ke sofa. Dari balik rok gaun tidurnya, Shoto meihat jejak darah yang sudah mulai mengering di paha Izuku.
"Ganti dulu, sana." Ucapnya. "Dicucinya besok pagi saja."
Izuku mengangguk malu. "Shoto...aku..."
"Shh..." Shoto mengecup lembut bibir Izuku. "Aku ini laki-laki yang kurang sabar. Katakan kau mau apa, kau butuh apa, dengan jelas."
Wanita mungil bertubuh molek itu bergelung, melingkarkan lengannya ke tubuh sang suami. "Mau matcha latte panas..."
"Aku nggak tahu cara buatnya." Balas Shoto cepat dan berbubuh negasi.
"Ada di lemari, tahu. Cara seduhnya kayak buat kopi instan." Izuku memanyunkan bibirnya. "Nanti aku kasih chuu kalau dibikinin itu..."
Shoto mengangguk. "Mau kuambilkan pakaian ganti juga?"
Izuku balas mengangguk. Shoto mencabut sehelai celana dalam Izuku dari lemari pakaian dan sebungkus pembalut dari laci kamar mandi, dan menyerahkannya pada Izuku. Selagi istrinya berganti, Shoto menyeduhkan segelas matcha latte instan. Ketika ia kembali ke ruang tengah, Izuku telah selesai berganti. Ia meremas gumpalan kain setengah basah dengan wajah bersemu, nampak malu jika Shoto melihatnya.
"Izuku..." Shoto menaruh gelasnya di meja, lalu menghampiri Izuku. "Kemarikan celanamu."
Izuku menggeleng. "Jangan. Kotor."
Shoto merendah, bersimpuh di dekat sofa agar ia dan istrinya sejajar jarak pandang. "Setiap hari, kau mencuci dan menyetrika pakaianku. Memasak untukku. Membuatkan bekal. Membersihkan rumah. Bertanding marathon, dan juga menemaniku membuat proyek di rumah sampai subuh. Jadi, apa yang harus kulakukan untuk membalasnya?"
Izuku tertunduk. "Kenapa jadi membahas itu?"
"Entahlah..." Shoto menghela nafas. "Semenjak kau tiba-tiba kabur ke rumah Mama, ada satu hal yang mengganjal buatku. Aku ini tidak pandai mengurus perempuan, jadi...kupikir nampaknya aku kurang mempedulikanmu."
"Ini..." Izuku mengerjapkan matanya. "Tidak ada hubungannya dengan Shoto."
"Hey, apa masalah aku terlalu memaksamu marathon? Atau karena aku jarang mengajakmu jalan-jalan? Uang belanja kurang? Atau—"
"Sudah kubilang, ini tidak ada hubungannya dengan Shoto!"
Todoroki Shoto begitu terhenyak mendengar istrinya yang lembut dan penuh afeksi, bisa berteriak dengan nada penuh amarah seperti itu. Begitu menyadari perbuatannya, keduanya bungkam dengan canggung. Izuku nampak tidak sedang asal bicara. Jelas, ada yang tidak beres dengannya. Shoto mendengus, lalu beranjak bangkit.
"Tidak perlu bentak-bentak." Tukasnya dingin. "Hidupmu itu urusanku. Kalau kau masih menganggap aku ini tidak ada hubungannya, lebih baik kita tidak usah bicara lagi selamanya."
Lelaki tinggi berambut nyentrik itu kembali ke kamar, dan terdengar pintu tertutup dengan kasar. Izuku merasa dadanya sesak. Lembing-lembing negasi dan penyesalan membuat relung hatinya berdarah, terkoyak-koyak hingga tak lagi berbentuk. Ia tahu, bahwa ia bisa bercerita tentang apapun pada Shoto, seperti yang ia lakukan setiap hari. Tetapi, kali ini rasanya tidak bisa. Izuku tidak berkehendak membagi nestapa ini bersama orang lain.
Shoto adalah lelaki yang baik dan penuh determinasi. Izuku yakin, ia mempersembahkan afeksi murni untuk dirinya seorang. Tetapi, di sisi lain ada bisikan kelam yang membuat rasa cinta yang polos dan sederhana itu bagaikan noda pada setitik kain. Izuku merasa rendah dan pedih, ketika ia menghadiahkan selaksa cinta pada Shoto. Ia tidak bisa membohongi dirinya sendiri, bahwa masih ada ruang yang amat besar di dalam batinnya untuk nama Bakugo Katsuki. Cinta pertamanya, cintanya kini dan cintanya hingga kelak nanti. Ruang itu terlalu besar untuk ditiadakan. Ruang itu mendominasi, meminta dirinya untuk bersanding saja dengan orang yang seharusnya. Satu dekade itu bukan waktu yang sebentar untuk menanti, dan Izuku sudah menyerah meski pujaan hatinya yang dahulu datang dari balik dunia dan kembali menjalin jala asmara. Tetapi, Izuku bukan perempuan bodoh. Ia tahu bahwa pernikahan bukanlah sesuatu yang pantas ditinggalkan begitu saja. Terlalu banyak aspek yang mengikat. Hukum, adat, tata krama antar keluarga, dan tentu saja—perasaan.
Kalau ia meminta Shoto menceraikannya, ia bisa menikahi Katsuki. Hidup bahagia berdua selamanya, seperti yang dicita-citakannya sejak sekolah dasar dahulu. Tetapi, Izuku paham betul betapa menyakitkannya ditinggal orang yang paling kita cintai. Ia sudah menyadari sebesar apa afeksi Shoto padanya, seberapa dalam keduanya mulai menjalin satu sama lain. Bercerai dengan Shoto akan terasa jauh lebih memilukan dibandingkan dikuliti hidup-hidup.
Dalam kekalutan antar hati dan kenyataan, Izuku memilih pasrah. Jiwanya lebur, hancur menjadi kepingan remuk yang tak lagi mampu ia susun ulang. Airmata berderai, zamrud cemerlang itu bergenang isak, karena kata tak lagi mampu melukiskan segalanya.
Kalaupun bisa, Izuku berharap tubuhnya disobek dua saja sekalian. Agar, ia bisa membagi tiap paruh-potongnya pada Shoto dan Katsuki secara adil. Otak, jantung, hati, kaki, tangan—agar tak lagi ia dilanda dilema siapa yang dapat ia jadikan pelabuhan hati. Lupakan saja soal jiwa dan semangat. Izuku sudah merasa mati ketika Katsuki meninggalkannya. Ia terseok, berusaha setidaknya merangkak bangkit dengan menerima Shoto secara ikhlas. Dan, sekali lagi ia dimatikan dengan kembalinya Katsuki bersama afeksi lamanya yang tak kunjung berubah.
Izuku bertelut, mengaduh pada Sang Waktu yang memiliki Awal dan Akhir. Ia melirih, berdoa kepada Sang Takdir yang Adil dan Pengasih. Ia larut dalam nestapa, buntu jalan hidupnya hingga ia terseok dan tersungkur. Izuku sudah pernah menyerah ketika tersandung. Lalu, kembali ia melangkah.
Kali ini, saat hidup menghadangnya kembali hingga tersungkur, apakah Izuku harus benar-benar menyerah?
Todoroki Shoto, meski usianya sudah 25 tahun—nyatanya ia adalah bocah naif keras kepala.
Masih karena aksi diam-diamannya dengan Izuku, ia menolak membawa bekal yang telah disiapkan sang istri. Tidak memberikan pelukan perpisahan, apalagi ciuman selamat jalan. Shoto benar-benar seperti balok es berbentuk manusia, yang bibirnya kini menjadi lokomotif dinamis yang seringkali mengepul. Izuku tidak lagi melarangnya merokok. Keduanya, sejak dua hari yang lalu, bahkan tidak lagi tidur berpelukan. Mereka berpisah futon.
Izuku tidak tahu harus berbuat apa. Tentu saja, pedih hatinya ketika Shoto kembali lagi ke tahap awal hari-hari pertama pernikahan mereka: balok es berbentuk manusia—tanpa emosi, tanpa semangat hidup, tanpa afeksi. Izuku sudah berkali-kali mengucap maaf, namun Shoto hanya memalingkan wajah. Dalam hati, wanita berambut panjang berombak itu tahu bahwa suaminya bukan menginginkan dirinya mengemis ampun. Lelaki itu meminta keping jiwanya—masa lalu, keluh kesah, buah pikiran, tangis dan tawa. Shoto tidak mendesak Izuku, ia ingin istrinya sadar dengan sendirinya. Namun, sikapnya yang kelewat pasif membuat rumah tangga mereka terasa seperti neraka dunia.
Kelam. Gelap. Mencekam. Penuh dengan tekanan.
Shoto memang pada dasarnya, merupakan lelaki temperamental. Ia beberapa kali melangkah pergi meninggalkan Izuku ketika berusaha kembali bercekrama dengan sang istri, karena tanggapannya begitu getir. Izuku pun tak lagi berani menegur suaminya, lantaran takut membuat keadaan semakin keruh. Ia menunggu, ketika segala emosi mulai surut, ia akan bertelut, melakukan apapun yang diinginkan Shoto.
Itu saja.
"Kelam sekali." Shinso mengomentari bab yang dikirimkan Izuku. "Padahal temamu biasa saja, kan? Domestic romance cinta segitiga. Tetapi, tampaknya pengaruh Seijuro Yamamoto sangat besar pada rumah tangga pasangan Yanagi."
Izuku mengangguk kecil. "Mereka, saling mencintai."
"Menurutku, Yanagi Fuwa ini perempuan serakah." Gumam Shinso. "Dia sudah menikah, tetapi masih ingin bahagia dengan mantan pacarnya, tapi tidak berniat melepaskan suaminya. Walaupun secara gaya hidup dan finansial, Yanagi Shirabu lebih bisa diandalkan."
Izuku mengangguk.
"Sudah kau tentukan ending-nya?"
Izuku menggeleng.
"Hey, ada apa? Kau sakit tenggorokan?" Shinso menegur. "Bicaralah. Biasanya kau cerewet sekali."
Izuku menggigit bibirnya. "Aku...tidak tahu bagaimana membuat Yanagi Fuwa...merelakan Seijuro Yamamoto." Izuku berkata parau, nyaris seperti setengah menangis. "Dan bahagia bersama suaminya yang sekarang. Terlalu sulit membangun jembatannya."
Shinso terdiam. Ia mengambil sebuah kertas dan menulis dengan pulpen bertinta hijau.
"Yanagi Fuwa—tokoh utamamu, harus tahu diri. Itu saja. Mau secinta apapun ia dengan Seijuro Yamamoto, tidak pantas jika seorang wanita bersuami menjalin hubungan cinta dengan lelaki lain. Terlebih, Yanagi Shirabu adalah lelaki terhormat yang juga memperlakukan istrinya dengan bermartabat."
Izuku mengakhiri sesi bimbingannya dengan pamit berupa anggukan kepala. Beragam kecamuk menguar di dalam pikirannya. Tetapi, kata-kata Shinso ditangkapnya bagaikan benang perak diantara gumpalan jelaga.
Harus tahu diri.
Apakah selama ini, Izuku bertindak tidak tahu diri?
TRIIIING! TRIIIING!
Ponsel Izuku berdering. Shoto menelponnya. Tumben betul. Lelaki itu jarang menelpon, apalagi siang bolong begini. Dia pasti sedang sibuk kerja, kan? Meski ragu, Izuku mengangkatnya.
"Moshi-moshi?"
"Ah, yokatta!" terdengar suara mezzo perempuan di balik telepon. "Todoroki-san, ano...maaf saya bertindak lancang. Aku—"
"Kenapa kau bisa pegang ponsel suamiku?!" nada suara Izuku meninggi. "Kau siapa?"
"Ah, gomen." Wanita itu terdiam sejenak. "Namaku Yaoyorozu Momo. Aku kepala konstruksi di kantor suami Anda. Bisa katakan Anda dimana sekarang, Todoroki-san?"
"Ah? Aku sedang di kantor penerbit. Buat apa?" tanya Izuku bingung.
"Apa nama kantornya? Alamatnya? Saya sedang dalam perjalanan menuju kediaman Anda. Ini darurat! Saya akan jemput Anda sekarang juga!"
Izuku memucat. Tenggorokannya tercekat.
"Apa...terjadi sesuatu...pada Shoto?"
"Todoroki-san pingsan, setelah muntah-muntah. Kami membawanya ke ICU karena gumpalan darah keluar dari hidung dan mulutnya. Perusahaan membawanya ke RSU Hosu, dan saya akan mengantar Anda kesana sebagai tanggung jawab saya."
Chapter 8 update.
sungguh ya, ini chapter tersusah sepanjang aku nulis rekonsiliasi. Full of editing, dan sempat mulai lagi dari awal satu bab ini sampai dua kali. Yah, seperti yang udah kalian baca, bahwa bagian pertama itu sebenernya flashback kenapa Deku dan Shoto bisa dijodohin. Pembahasan selanjutnya ada di chapter berikutnya. Dan fayneleh, saya bikin DekuShoto berantem lagi setelah full naena di chapter sebelumnya. Meskipun alurnya rada angst, author janji bakal menghadiahkan happy ending setelah dua pasangan unyu bin emesh ini aku jungkir-balikin.
sekian bacotan saya. See you on the next chapter ya~
