Hidup di tengah kemelut dunia politik dalam lingkungan keluarga, ternyata tak membuat Chanyeol ingin melanjutkan estafet dari sang ayah yang tahun lalu menjadi pensiunan Diplomat. Ia tidak pernah berpikir menghabiskan masa lajangnya dengan bekerja pada sebuah partai atau melakukan perjanjian-perjanjian internasional dengan negara asing. Memang hal itu menjamin dirinya untuk memiliki karir yang bagus di masa depan, tapi Chanyeol merasa ada cara lain yang bisa dilakukannya untuk tetap berkarir tapi tidak melibatkan dirinya pada negara yang melulu membahas GNP; Partai Nasional Besar yang dimiliki Korea Selatan. Walau disatu sisi, Chanyeol terkadang bangga pada ayahnya yang mampu membuat Korea utara geram dengan kinerjanya memenangkan banyak parlemen.
Atau seperti ibunya, seorang dokter ahli bedah. Bekerja pada pusat klinik kecantikan di rumah sakit besar tentu merupakan profesi yang diinginkan oleh siapapun, mengingat budget yang dikeluarkan setiap orang untuk mempercantik diri mereka cukup besar, tak dapat dipungkiri dokter ahli bedah di Korea memiliki kantung yang tebal. Tapi lagi-lagi hal ini tidak membuat Chanyeol tertarik untuk terjun di dunia kerja yang sama dengan ibunya.
Tidak sedikit yang iri pada kehidupan keluarganya yang nyaris sempurna. Nyaris. Bahkan Yoora memanfaatkan posisi ayahnya saat berada di parlemen untuk mendaftar pada MBC sebagai pembawa berita harian. Hasilnya sudah bisa ditebak, ia diterima dengan mudah bahkan menjadi pembawa berita tetap di stasiun tv tersebut. Yoora tidak perlu merepotkan kedua orangtuanya untuk urusan biaya kuliah, sebab ia sudah menghasilkannya sendiri.
Sedangkan Chanyeol lahir hanya untuk menghura-hurakan kekayaan keluarganya. Kecintaannya pada dunia fashion dan brand, membuatnya mendapatkan apapun yang ia inginkan. Masalah menjadi runyam saat Chanyeol ketahuan mendepositokan uang ayahnya di bank, lalu membeli beberapa mobil dengan brand bersaing; mobil itu disimpan pada sorum milik Kris di Apgujeong. Tidak hanya ayahnya saja, ibunya bahkan ikut memarahinya dan menangis telah melahirkan dan membesarkan anak keparat seperti Chanyeol yang hanya bisa menyusahkan keluarga.
Chanyeol sempat tidak setuju dikirim ke Berlin untuk belajar, karena ia tahu itu hanya upaya keluarganya untuk mengasingkan dirinya dari mereka. Ayahnya bilang itu cara agar Chanyeol bisa belajar mandiri dan hidupnya memiliki tujuan yang jelas.
Setidaknya usaha terisolasi tersebut membuahkan hasil. Chanyeol sudah mau diajak bekerjasama untuk membahas pekerjaan, dan ia memilih perusahaan milik pamannya sebagai tempatnya bekerja. Menjadi seorang bisnisman terdengar lebih menarik bagi Chanyeol daripada harus menjadi Diplomat, Pembawa Berita atau bahkan Dokter Bedah.
Terima kasih pada Tuhan yang sudah mengirimkan Baekhyun dalam hidupnya dan mempertemukan mereka di cafe. Lelaki mungil itu adalah tepat yang diinginkannya untuk menutup kekosongan di hatinya, menjadi seseorang yang duduk disebelahnya pada kursi penumpang, menjadi seseorang yang menjengkelkan dan menggemaskan dalam waktu yang sama.
"Tidak bisakah kita berjalan seperti ini saja?! Kita rekan kerja yang saling membutuhkan, tidak lebih."
"Apa kau serendah itu?!"
"Kau berlebihan, Chanyeol. Kita lelaki dewasa yang membutuhkan seks, semua lelaki seperti itu. Kau mungkin lupa jika aku tidak akan hamil meskipun kita berhubungan badan ratusan kali."
"Kau mengejutkan."
"Kau hanya tidak tahu, Chanyeol. Ketika kita berjalan di keramaian, orang-orang akan memandang dan menilai. Itu membuatku risih. Kau pernah bilang bahwa keluargamu tidak sepenuhnya setuju, dan aku juga mengkhawatirkan ibuku jika dia tahu bahwa anaknya berhubungan dengan seorang laki-laki. Itu.. Hal itu membuatku sulit membayangkan wajahnya yang kecewa menatapku."
"Aku tidak tahu apa yang sedang kau bicarakan."
Mereka tidak harus bertengkar seperti tadi, keduanya sama-sama bersalah dan seharusnya yang mereka lakukan adalah saling meminta maaf. Tapi Chanyeol merasa bukan dirinya yang memulai, jika saja Baekhyun tidak kekanakkan mengatakan kata-kata seperti itu, Chanyeol pikir ia juga akan mengurangi keras kepalanya.
"Maaf." Baekhyun dengan matanya yang seperti bayi anjing, menatap padanya dengan wajah memelas.
Well, Chanyeol menyerah. "Tidak masalah, aku hanya terbawa emosi."
"Aku tahu kau sudah banyak berbuat baik padaku tapi aku justru tidak tahu diri." Baekhyun bergumam sembari tertunduk memainkan jarinya yang ramping dengan gugup. "Kuharap kau bisa mengerti bahwa yang kulakukan tidak untuk menyakiti siapapun."
"Mari tidak usah membahas ini dulu, aku sangat tidak suka situasi semacam ini."
Baekhyun senang Chanyeol—nya sudah kembali.
...
Kejutan yang dimaksud oleh Chanyeol adalah rumahnya. Baekhyun merangkai sendiri pemikirannya untuk apa mereka datang ke rumah pria tinggi itu. Hingga ia lelah dan hampir menyerah, sesuatu yang seharusnya tidak perlu dipikirkannya justru melintas begitu saja ke dalam benaknya.
"Tidak usah gugup begitu, ayo kemarilah." Chanyeol menggerakkan tangannya mengajak Baekhyun, mereka sudah sepakat untuk saling percaya dengan hubungan tidak jelas keduanya bahwa akan baik-baik saja, dengan itu ia menerima tangan Chanyeol dan mereka jalan bergandengan. Sebelumnya Baekhyun memang sudah pernah datang kemari, tapi tentu saja dengan alasan yang berbeda. Rasanya sangat canggung untuk saat ini.
"Malam adalah waktu luang bagi keluargaku untuk berkumpul bersama, kau tidak akan menemukan ibuku pada pagi atau siang hari karena dia sibuk bekerja. Sedangkan noona dikejar deadline antara kuliah dan bekerja untuk shift-nya yang tidak menentu. Dan ayahku, walaupun dia sudah pensiun, tapi dia suka menghabiskan waktunya untuk bermain tennis dan golf bersama para eksmud dan teman sebayanya." Chanyeol berusaha memecah ketegangan Baekhyun dengan membawanya mengobrol ringan sampai mereka mencapai teras.
Baekhyun menghela nafas melalui bibirnya, Chanyeol tertawa kecil mendengar hal tersebut. "Apa kau butuh nafas buatan?"
"Gosh! Diamlah, aku sedang gugup."
"Ya, itu terlihat jelas di dahimu hahahaha."
Baekhyun tahu tawa itu palsu—tidak berhasil, terlalu dipaksakan, atau apalah itu—jadi Chanyeol menutup mulutnya lalu kembali menjadi Chanyeol yang normal.
Tangannya berkeringat saat pintu utama dibuka oleh Chanyeol. Kabar baiknya Baekhyun tidak menemukan para keluarga sedang berkumpul di ruang tamu, tapi itu tidak membantu saat ia mendengar suara melengking khas wanita terdengar dari arah tangga.
"GOD DAMN IT! SIAPA YANG KAU BAWA ITU CHANYEOOOL?!"
Yoora berhasil membuat jantung Baekhyun berceceran di lantai, apa tujuannya ia berteriak seperti itu?! Chanyeol yang sigap membuat benteng di depan Baekhyun dengan tubuhnya yang tinggi, siapa tahu kakak perempuannya yang seperti alto-soprano dan mellophone pecah itu bisa menyakiti Baekhyun kapanpun dengan suaranya yang mengganggu.
"Berhenti disitu, noona!"
"Apa?!"
"Ada apa dengan wajahmu? Kau membuatnya takut." Chanyeol kembali memberi peringatan. Ia tahu seberapa antusiasnya Yoora terhadap Baekhyun saat di Cafe beberapa hari yang lalu.
"JANGAN BERCANDA!" Yoora membentaknya. Baekhyun yang penasaran dengan apa yang terjadi, memberanikan dirinya untuk memperlihatkan kepalanya dengan rambut berwarna brunette dari balik tubuh Chanyeol dan matanya yang bergerak-gerak meneliti. "Oohhh dia manis sekaliii. Cepat singkirkan tubuh bodohmu itu dari sana Chanyeol, aku ingin bertemu dengan makhluk itu."
Makhluk itu?!
Tunggu. Baekhyun merasa sedikit terhina. Apa dirinya bukan makhluk seperti mereka? Manusia? Mengapa ia dipanggil makhluk itu?!
"Apa yang terjadi? Apa kalian tidak bisa menjadi kakak adik yang normal sehari saja?" Nyonya Park berbicara dari arah ruang tv.
"Ibu, kau harus lihat siapa yang dibawa Chanyeol."
Wanita tua itu tidak melihat orang lain disana selain kedua anak perempuan dan laki-lakinya, tapi ketika ia menyadari seseorang di balik tubuh besar Chanyeol yang tengah mengintip, oh itu manis sekali, ia tahu bahwa ada orang lain disana.
"Apa itu... Baekhyun?"
Dengan teratur, Baekhyun menyembulkan kembali kepalanya memeriksa keadaan. "Ya, selamat malam bibi Park. Maaf sudah membuat keributan." Baekhyun mencari akses agar tidak dihalangi tubuh Chanyeol dan membungkuk pada wanita itu yang terlihat seusia dengan ibunya.
Disaat tidak ada yang sadar dengan kehadirannya, Yoora dengan gesit berlari dan memeluk Baekhyun dengan erat, tidak, sangat erat, sampai Baekhyun terbatuk karena terkejut. "Akhirnya, aku bisa bertemu denganmu lagi."
Chanyeol hanya memutar kedua matanya melihat betapa membosankannya kakaknya itu, tapi ia berubah khawatir saat batuk Baekhyun tidak berhenti.
"Ya! Lepaskan dia, kau membuatnya tidak bisa bernafas."
Yoora tertawa menyebalkan seraya melepaskan pelukannya sebelum ia berhasil membunuh seseorang. "Hehee maaf." Baekhyun bersumpah bahwa kakak Chanyeol sedikit mengerikan. Otaknya yang konyol justru memikirkan bagaimana jika Yoora dan Jongdae dipertemukan dalam satu ruangan yang sama.
Ugh.
Nyonya Park kembali angkat bicara agar mereka segera menuju ruang tv untuk bertemu ayah Chanyeol.
.
.
Jika saja kebodohan Baekhyun berkurang sedikit, ia pasti tahu mengapa keluarga Chanyeol tidak terlalu mempermasalahkan tentang orientasi anak mereka yang tidak normal dari lelaki kebanyakan. Dan Yoora, ia masih tidak habis pikir bagaimana adiknya itu bisa menjadi seorang gay, tapi saat mengetahui Baekhyun penyuka sesama jenis, Yoora mulai menjodoh-jodohkan adiknya dengan Baekhyun. Wanita memang sulit diprediksi.
Sebenarnya yang menjadi pertanyaan Baekhyun, apakah orangtua Chanyeol terlalu terbuka atau ibunya sendiri yang terlalu berlebihan membatasi pergaulan seksualitasnya? Kepala Baekhyun mendadak pening saat memikirkan beberapa kemungkinan yang tidak baik.
Ruang keluarga terasa sangat mengganggu keadaannya. Ayah Chanyeol yang bijaksana berdehem kering kemudian membuka mulutnya menanyakan sudah berapa lama mereka berkenalan, dengan ajaib Chanyeol mengatakan sebulan. Ya, tentu saja itu terdengar masuk akal daripada mereka menjawab yang sebenarnya. Hanya empat hari dan sudah melakukan seks dua kali.
Tapi setidaknya empat hari berjalan sangat panjang.
"Baekhyun bisa memasak." Chanyeol mengintrupsi dan Baekhyun pikir itu tidak perlu, karena sekarang seluruh anggota keluarga yang ada disana melirik padanya dengan wajah penuh pertanyaan.
"Jadi kau benar-benar bisa memasak?" Yoora akhirnya yang pertama kali mewakilkan pertanyaan dan secara otomatis melihat pada Chanyeol dan Baekhyun bergantian, siapa tahu adiknya itu berniat berbohong pada mereka. Lelucon Chanyeol sering dianggap tidak berhasil.
"Aku belajar memasak dari ibuku, tapi tidak sebaik masakannya." Baekhyun hanya menjawab tanpa menaruh rasa curiga sedikitpun hingga...
"Apa kau bersedia memasak di rumah kami?"
"A-apa?"
"Menginaplah disini Baekhyun." Nyonya Park mulai memprovokasi.
"Ayolah, sunshine." Dengan seenak perut, Yoora memberinya julukan.
Baekhyun menatap pada pemuda paling tinggi satu-satunya disana meminta bantuan, namun yang ia dapatkan justru seringaian lebar Chanyeol yang tidak berguna.
Apa kau sengaja melakukan ini, sialan?
...
Tidur Baekhyun harusnya bisa lebih panjang lagi kalau saja Yoora tidak berisik di depan pintu kamar—inap—nya meminta agar ia segera memasak untuk makan malam mereka yang terlambat, dan itu mengingatkan Baekhyun bahwa malam ini ia akan tidur sampai dini hari dan tidak pulang ke rumah.
Semuanya berjalan dengan baik. Seperti Chanyeol membantunya mengganti spray tempat tidur tamu yang seharusnya sudah berada di laundry, serta beberapa kalimat keberatan Baekhyun yang tidak ditanggapi. Terakhir dengan Yoora yang baru saja kembali dari mini market membeli bahan mentah untuk diolah Baekhyun agar menjadi makan malam yang layak.
Well, disinilah Baekhyun. Di dapur keluarga Park yang rumit, ia bahkan sempat kesulitan mencari dimana pisau—Seriously, terlalu mengejutkan menyadari pisau bisa begitu berharga—yang ditaruh diantara set strato knife block dan buffet kacang polong.
"Menu malam ini adalah?" Yoora bertopang dagu setelah mengeluarkan hasil tour-nya dari dalam plastik dan keranjang dibantu oleh beberapa asisten rumah tangga, berharap agar Baekhyun bisa memasak dengan apa yang ditemukannya di rak mini market pada malam hari.
"Sepertinya..." Baekhyun mempelajari satu persatu bahan dihadapannya bagaimana bisa menjadi sebuah menu, melihat tidak ada satupun hewan segar yang berhasil didapatkan Yoora, sayur mayur tidak terdengar buruk. "Kimchi bokkeumbap, Japchae dan Danmuji."
"Sempurna, itu menu rumahan yang sederhana." Yoora mendekat padanya dan menepuk bahu si mungil. "Aku bisa membantumu kalau begitu."
"Ahh, aku memang perlu sedikit bantuan." Baekhyun tertawa sumbang dan menggaruk belakang lehernya.
"Aigoo, kau manis sekali."
Kimchi memang tidak terdengar asing berada diatas meja makan, tapi ketika Baekhyun melihat lobak, ia teringat pada ibunya dan itu membuatnya merindukan suasana rumah. Yoora mencuci sayuran di wastafel karena Baekhyun bilang Danmuji; acar lobak, bisa dikerjakan lebih dulu.
Desain dapur keluarga Park bergaya kabinet minimalis berbentuk L dan sebuah kitchen sink dengan dua bak cuci dan pengering. Handle dan frame pintu kabinet menggunakan bahan alumunium, detail yang simple dengan garis-garis geometris mempertegas model kitchen set modern tersebut. Lima meter di depan buffet kacang polong terdapat meja makan, disana Chanyeol dan kedua orangtuanya membicarakan sesuatu yang tidak jelas Baekhyun dengar.
"Giliranku." Chanyeol memberikan senyum waspada kearah ayah dan ibunya. "Jika Kim Jong-un tenggelam di sungai selatan dan memasuki zona otoriter lalu tubuhnya hanyut, dimana kita bisa menemukan mayatnya?!"
Baekhyun menghentikan kesibukannya pada irisan jamur diatas talenan akar kayu jati. Kim Jong-un?! Kenapa harus tua bangka Korea Utara tersebut?! Apa di parlemen hal seperti itu perlu?!
Oh, itu mengejutkan. Baekhyun kembali mengiris jamurnya dan merendam bihun ke dalam panci.
"Di sungai Han?"
"Konyol sekali. Ayah pikirkan dulu sebelum menjawab."
"Di Seonjaedo?"
"Bukan."
"Kalau dia hanyut berarti mayatnya berada di sungai, Chanyeol. Jangan bercanda!"
Chanyeol memutar kedua matanya, lihat, sense humor siapa yang buruk?!
"Aku tidak bilang mayatnya tersangkut di pesawat bu. Itu tidak masuk akal dan bukan seperti lelucon yang kuinginkan."
"Lalu dimana mayatnya muncul kalau begitu?!" Yoora yang tertarik ikut penasaran.
"Mungkin di surat kabar." Jawab Baekhyun random.
"Benar!"
"Eh?"
"Jika Kim Jong-un tenggelam di sungai selatan dan memasuki zona otoriter lalu tubuhnya hanyut, mayatnya akan muncul di surat kabar!"
Baekhyun mengerti apa yang lucu dari jawabannya hingga bisa membuat Yoora tertawa sampai berpegangan pada sisi wastafel, tuan dan nyonya Park tidak kalah heboh sampai kerutan di sudut mata mereka terlihat jelas akibat banyak tertawa.
...
Chanyeol banyak memuji masakan Baekhyun tanpa tahu alasan apa yang membuat istimewa makanan tersebut masuk ke dalam mulutnya. Berbeda dengan dua wanita di seberang meja mereka, Yoora dan Ibunya mengomentari wortel pada Japchae Baekhyun yang masih sedikit keras. Baekhyun meringis ketika menggigit wortel tersebut dan benar, itu masih keras.
"Tapi mie tepung ubinya sangat enak."
"Kau merebusnya pada suhu dan air yang pas."
Chanyeol terhibur melihat bagaimana senyum Baekhyun terkembang lebar. Ia bahkan nyaris tertawa saat wajah Baekhyun mendadak menegang 'aku-tidak-bermaksud-meracuni-kalian' ketika Yoora dan ibunya mengatakan wortel Baekhyun masih keras.
Tuan Park hanya makan dengan teratur, ia tidak tahu menahu bagaimana prosedur memasak hingga tekstur masakan pun harus dikomentari. Ia hanya menemukan cita rasa yang pas di lidahnya dan itu menjawab semuanya.
Baekhyun merasa harus memperbaiki kemampuan memasaknya yang ia yakini telah menurun beberapa waktu ini. Ibunya dulu sempat memuji salad buatan Baekhyun, tapi ia takut ia telah kehilangan kemahirannya itu sekarang.
Baekhyun akhirnya dapat merasakan kenyamanan ranjang setelah perdebatan panjang Yoora dan Chanyeol tentang dengan siapa ia harus tidur. Chanyeol keras kepala mengatakan akan tidur di kamar tamu bersama Baekhyun, tapi Yoora punya cara yang ampuh membuat Channyeol tidak melakukan hal tersebut.
"Balik ke kamarmu dan biarkan Baekhyun sendiri atau kita tidur bertiga dengannya."
Itu bukan ide yang bagus jika Chanyeol hard di tengah malam dan ada Yoora yang mengganggu diantara mereka.
.
.
.
"Kita bekerja dengan target, jika kita bisa mendapatkan yang lebih maka tidak ada alasan untuk berhenti." Kyungsoo memberikan senyum bunga matahari miliknya pada ketiga rekan kerjanya yang tampak kehilangan hidup mereka. Lima jam terjun ke lapangan dimana organisasi yang mereka datangi membuat mereka keluar dari comfort zone sebagai seorang surveyor; marketing officer, dan cukup memuaskan mereka bisa saling bekerja sama tanpa ada perdebatan konyol seperti di kantor.
"Aku sedang berusaha untuk itu. Kau tahu, konsentrasi terkadang mengacaukan segalanya." Luhan bergumam dan masuk ke dalam mobil Sehun di jok depan pada kursi penumpang, diikuti Jongin dan Kyungsoo pada jok belakang.
Salah satu yang membuat Kyungsoo senang mengajak Sehun dan Luhan adalah tumpangan gratis, itu artinya ia tidak perlu mengeluarkan wonnya untuk membayar taksi atau tiket subway. Sedangkan Jongin hanya ikut kemana Kyungsoo pergi, mungkin jika carburator mobilnya tidak bermasalah ia bisa menawarkan pulang bersama.
"Ini sudah masuk akhir pekan, ayo bersenang-senang." Luhan menarik leher kekasihnya yang tengah memasukkan kunci kontak dan memberikan ciuman singkat di bibir pria Oh tersebut.
"Kita akan double date, itu terdengar bagus." Jongin memikirkan beberapa kemungkinan baik tentang kencan mereka sore ini.
"Tapi aku tidak menyebut ini kencan."
"Jangan mulai perdebatan, Kyung." Luhan memperingati dengan sudut matanya.
"Kami sudah memutuskan bahwa untuk sekarang, pada tahap ini kami merasa nyaman dan melihat bagaimana ini berlangsung." Kyungsoo memberi pengertian kepada mereka bahwa ia belum memberikan harapan pada pemuda tan disebelahnya.
"Itu benar, dan aku tidak masalah sama sekali. Jika dia langsung menerimaku, kurasa itu bukan tantangan."
"Wow, mengejutkan ada pasangan seperti kalian." Jawab Luhan sarkatis.
"Kau harus berhenti menggunakan nada seperti itu sebelum kami berpikir kau adalah seorang cupid, kau tahu." Jongin tidak bermaksud menyindir, tapi garis antara sindiran, sarkatis dan peringatan sangat tipis.
"Setiap akhir pekan Sehun akan berada di apartementku seharian, kami melakukan banyak hal karena kami adalah sepasang kekasih."
"Kau tidak perlu pamer Luhan, akhir pekanku tidak seburuk yang kau bayangkan." Kyungsoo memutar matanya.
"Apa kau sudah mengundang Jongin ke apartementmu?!" Sehun yang fokus pada kemudi tiba-tiba tertawa dengan pertanyaannya sendiri.
"Apa pentingnya itu?!"
"Tentu saja untuk memperjelas hubungan kalian, jerk." Luhan keliatan mulai bosan pada dua orang di jok belakang, jika ia tidak memiliki belas kasihan ia mungkin sudah menyuruh Sehun menurunkan kedua lelaki itu dan bersenang-senang dengan Sehun di dalam mobil.
"Permisi, lebih baik kau urus saja soal pertunanganmu dengan gadis China yang sudah dijodohkan denganmu saat kau berusia enam bulan. Tidakkah itu perlu untuk diurus?!" Akhirnya bibir Jongin sudah gatal untuk menyerang Luhan yang lidahnya sangat tajam sejak tadi.
Wajah Luhan dan Sehun mengencang terlihat mereka tidak suka membicarakan hal ini, dan Jongin tahu bagaimana membuat suasana menjadi buruk.
"Um... Come on guys, kupikir dia tidak bermaksud." Kyungsoo yang bisa membaca situasi merasakan aura tidak menyenangkan dari kedua lelaki di jok depan.
Sehun menepikan mobilnya di area larang parkir, dan ia harus bergerak cepat sebelum polisi lalu lintas yang entah datang darimana menderek mobilnya. "Terakhir yang kuperiksa, kalian sedang berada didalam mobilku. Tapi kupikir lebih baik kalian mencari taksi sekarang sebelum Luhan mengacaukan isi mobil."
Selama ini Sehun memilih kata-katanya dengan baik, tapi entah mengapa hari ini ia terlihat begitu kasar. Kyungsoo ingin mewakili Jongin untuk meminta maaf, tapi lelaki tan itu sudah lebih dulu menarik lengannya dan membuka pintu mobil.
"Terima kasih atas tumpangannya, kami akan mencari taksi kalau begitu."
Mobil Sehun pergi setelah itu.
"Bravo! Kau membuat kita diturunkan di tengah jalan."
"Aku tidak melakukan itu, aku hanya ingin kita terbebas dari pertanyaan-pertanyaan konyol mereka yang terdengar ingin ikut campur." Jongin membela dirinya yang tidak bersalah.
"Baiklah lupakan. Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang?! Kita diturunkan di tengan jalan dan tidak ada yang lebih lucu dari ini."
Jongin berpikir keras untuk tidak mengacaukan rencana kencan mereka diakhir pekan, tidak ada Sehun dan Luhan bukankah itu lebih baik?! Jongin tersenyum diam-diam tanpa Kyungsoo sadari.
"Pertama, kita akan menyewa mobil terlebih dahulu, setelah itu kita akan putuskan kemana kita akan pergi." Jongin berhenti ketika melihat kerutan di dahi lelaki pendek di depannya, saat ia mengetahui maksud dari kerutan dahi itu ia pun melanjutkan. "Aku yang akan membayar sewa mobilnya dan semua biaya yang kita keluarkan hari ini. Kau cukup menurut saja dan jangan khawatirkan isi dompetmu."
Kyungsoo tersenyum begitu manis hingga membuat siapapun yang melintas diantara mereka ingin menculiknya. "Kalau begitu, ayo kita pergi menyewa mobil."
.
.
.
10 jam yang lalu
Chanyeol masuk ke dalam kamar tamu—kamar dimana Baekhyun tidur tadi malam—dan menguncinya setelah memastikan tidak ada yang melihatnya sepagi ini pergi menemui Baekhyun di kamar tamu.
Pintu kamar mandi terbuka, disana ada Baekhyun yang sedang mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil dan handuk yang lain melilit pinggangnya.
"Gosh! Apa yang kau lakukan disini?!" Baekhyun tersentak dan hampir berteriak panik melihat Chanyeol berada di dalam kamarnya.
"Sial. Kau masuk ke dalam mimpiku dan aku mendapatkan masalah di pagi hari dengan penisku yang berdiri."
Baekhyun melirik pada objek yang mereka bicarakan. "Oh tidak! Kau gila, ini masih di rumahmu."
"Tapi kau harus menyelesaikan ini."
Baekhyun mengerang kesal sebelum melempar handuk yang digunakannya untuk mengeringkan rambut keatas ranjang dan menarik Chanyeol masuk ke dalam kamar mandi.
"Tunggu, kenapa harus di kamar mandi?! Tidakkah ranjang lebih nyaman?!"
"Ini untuk memperkecil resiko." Baekhyun menutup pintu kamar mandi dan mulai bingung untuk memulai, ia berputar-putar berapa kali membuat Chanyeol bosan menunggunya diatas toilet duduk.
Yang lebih kecil tersentak melihat Chanyeol membuka baju dan celananya, ia membuang muka kemanapun asal tidak melihat pemandangan bergairah tersebut. Morgana, pipinya sedang terbakar.
Chanyeol menyuruhnya mendekat, Baekhyun bisa melihat sesuatu diantara selangkangan lelaki tinggi itu sedang berdiri dan itu membuktikan Chanyeol tidak berbohong ia telah mengalami wet dream tadi malam dengan Baekhyun sebagai partner-nya, dan sejujurnya Chanyeol memiliki ukuran alat seks yang bagus. Dengan malu-malu, Baekhyun melepas handuknya dan naik keatas pangkuan lelaki tinggi tersebut.
Ia bersandar di bahu Chanyeol ketika lelaki tinggi itu mulai mencari keberadaan lubangnya, saat berhasil dan sesuatu memenuhi hole-nya, Baekhyun mengeratkan pelukannya pada leher Chanyeol dan berusaha mati-matian menahan suara-suara aneh yang dapat membuat mereka ketahuan. Ia menyembunyikan wajahnya diantara perpotongan leher Chanyeol, yang tinggi dapat mendengar nafas putus-putus pemuda mungil yang sedang disetubuhinya.
Hanya ada benturan nafas dan geraman yang memenuhi ruangan persegi tersebut serta suara kulit bergesekan yang terdengar licin, Baekhyun lebih banyak menggigit jari telunjuknya mengalihkan desahannya. Sedangkan Chanyeol merasa mendapat jackpot dengan posisi wajahnya di depan dada Baekhyun, ia menjilat benda mungil berwarna merah kecokelatan disana dan menghisapnya membuat Baekhyun melupakan namanya sendiri karena rasa nikmat yang didapatkannya tidak masuk akal.
"Aahh, fuck emhh." Mulut penuh dosanya berubah menjadi berisik saat detik-detik dirinya akan sampai dan Chanyeol menjadi tidak sabaran membuat tubuhnya naik turun dengan liar.
Baekhyun tahu ini tidak akan berjalan cepat hanya dengan satu ronde dimana Chanyeol tidak harus merasa cukup hanya mendesah panjang mendapati klimaks pertamanya, Baekhyun tahu Chanyeol akan membuatnya menungging dan kembali memenuhi manhole-nya dengan penisnya yang panjang. Tapi yang tidak mereka tahu adalah Yoora yang berada di depan pintu kamar tamu dan berteriak mengganggu mereka.
"Sunshineee! Apa kau sudah bangun?!"
Otomatis membuat kedua lelaki yang sedang dikejar orgasme tersebut langsung kelimpungan. Baekhyun dapat mendengar Chanyeol mengumpat dan mengancam akan membunuh kakak perempuannya itu.
Tapi kejadian itu benar-benar membuat Baekhyun ingin tertawa setiap mengingat betapa konyol seks mereka di kamar mandi. Pagi ini tidak berjalan baik saat Chanyeol melipat wajahnya setiap melihat Yoora, Baekhyun tidak memiliki masalah dengan wanita cantik itu, sebab Yoora lah yang meminjamkannya seragam kerja milik tuan Park yang terlihat cocok di tubuhnya. Jangan tanyakan kemana pergi seragam miliknya, karena itu sudah berada di keranjang pakaian kotor. Yoora berjanji akan mengantarkannya langsung untuk Baekhyun jika seragam kerjanya sudah kembali bersih.
Ia melirik berkas-berkas yang diberikan Kris diatas mejanya, menjadi sekretaris tidak pernah terbayangkan akan sesibuk ini pikirnya.
Mempelajari dan mengerti soal pasar modal memang bukan hal baru lagi bagi Baekhyun, saat kuliah ia bahkan dipaksa oleh dosennya untuk menghapal hukum perusahaan, ya hal itu sebelum tugas sekretaris yang ia tahu terbatas hanya untuk menangani catatan dari atasan; notulen, mengetik serta menyimpan informasi telah banyak berubah fungsi dan diperluas secara manajerial.
Seperti mediator penting antar klien dan skateholder, kurang lebih tanggung jawab yang dijalankannya juga bertambah. Mungkin jika ia tidak dipindahkan dari pengurus administrasi, bisa jadi sekarang ia hanya menghabiskan waktu istirahat untuk tidur. Sejujurnya Baekhyun kurang tidur semalaman karena acara masak dadakan yang diprovokatori oleh Chanyeol.
Baekhyun menarik berkas berwarna cokelat dari dalam lacinya, sebuah rincian hasil rapat dengan Inventec Corporation dua hari lalu yang sempat ia dokumentasikan. Disana mencakup agenda rapat selanjutnya antara dewan direksi dengan pemangku kepentingan rapat.
Kris menyelipkan memo diatas berkas-berkas yang diantarkan jaksa Kim tadi siang diatas meja kerja Baekhyun.
'Pelajari berkas-berkas ini secepatnya, dan mulai urus semua jadwalku selama aku tidak berada di perusahaan.'
Baekhyun memeriksa berkas-berkas tersebut dan mendadak asam lambungnya kumat. Disana tertera bagaimana mengirim laporan tahunan, pemberitahuan surat edaran tentang kebijakan perusahaan serta pertemuan kepada pemegang saham dengan teratur.
Morgana, bunuh saja aku.
...
Pukul tujuh malam Baekhyun menyimpan semua dokumen ke dalam tas kerjanya, ia akhirnya bisa merasakankan kembali nyawanya setelah dibunuh oleh berkas-berkas yang sialnya ia butuhkan. Baekhyun bersyukur bisa mengetahui pasar modal dan transaksi lebih mudah melalui broker forex perusahaan, ia berhenti sebentar di depan lift untuk memikirkan bahwa menjadi sekretaris ternyata cukup keren.
Di Lobi ia bertemu dengan Chanyeol, lelaki itu menawarkan tumpangan untuk pulang tapi Baekhyun berusaha menolaknya dengan alasan ibunya tidak akan suka melihat hal itu.
"Kau tahu Chanyeol, aku tidak suka terus-terusan menyusahkan orang lain, dan aku tidak suka berhutang budi." Baekhyun terus berbicara seperti ia tidak akan lelah karena hal tersebut. Tapi bagi Chanyeol, ia seperti anak anjing berisik yang belum diberi makan.
"Kau hanya senang mempersulit dirimu sendiri." Dan Chanyeol tahu, bahwa antara gengsi dan harga diri, Baekhyun memiliki keduanya. Tentu saja ia akan menganggap ini adalah hutang budi, walaupun Chanyeol berteriak hingga telinganya tuli bahwa ia tidak akan keberatan sampai kapanpun.
"Ibuku akan mulai berpikir segala hal jika aku pulang ke rumah diantar olehmu lagi, dan dia akan menjadi lebih cerewet dari biasanya kalau saja dia tahu aku tidur di rumahmu kemarin malam."
Chanyeol pribadi yang spontanitas, berbeda dengan Baekhyun yang paranoid dan memikirkan segala hal yang membuang-buang waktu.
"Aku tahu ibumu mulai tidak suka aku selalu menjemput dan mengantarmu setiap hari, tapi minimal jika aku mengantarmu kau tidak perlu membuatku khawatir jika nanti kau turun di stasiun yang salah."
"Kau lupa?! Aku sudah 25 tahun." Baekhyun menyela, tidak terima dikatakan masih terlalu dini dalam urusan melakukan transit.
Chanyeol hanya mengangkat kedua bahunya.
"Kita bahas hal itu nanti, sekarang kau harus pulang denganku." Chanyeol pemaksa dan Baekhyun keras kepala, kurang lebih tabiat mereka sama-sama menjengkelkan.
Baekhyun melihat-lihat keadaan basement seolah-olah sedang berpikir serius. "Tapi akan kupertimbangkan."
"Kau memang perlu pertimbangan." Chanyeol berkata seakan tidak ada pilihan lain selain mempersulit ruang gerak Baekhyun dalam menentukan keputusan.
Baekhyun masuk ke dalam mobil sembari merapalkan doa di sepanjang perjalanan.
.
.
.
Jongdae akan benar-benar berpikir ibunya pantas mendapatkan oscar jika tidak berhenti berjalan mondar-mandir sembari menggigit kuku-kuku jarinya. Bertindak seperti itu sangat berlebihan menurutnya, ayolah Baekhyun itu sudah dewasa dan ia laki-laki yang bisa menjaga dirinya sendiri.
Otak ibunya terlalu hiperaktif memikirkan mungkin saja Baekhyun saat ini diculik seseorang yang berencana ingin menjual organ tubuhnya. Itu jelas ada riwayatnya, mengingat dulu Baekhyun adalah anak manis yang petantang-petenteng tapi tidak tahu jalan pulang, dan ia hampir dikirim keluar negeri oleh oknum penjual anak. Maksudnya, bagaimana jika hal itu terjadi lagi?!
"Oh menyebalkan, ibu harus benar-benar menelpon polisi sekarang."
"Bagaimana jika hyung pulang setelah ibu menelpon polisi?!"
"Kau sudah mengatakan hal yang sama sebanyak lima kali! Tapi lihat, Baekhyun tidak juga pulang ke rumah."
Entahlah, apa yang harus Jongdae lakukan. Ia merasa ia dikelilingi orang-orang yang rumit. Tapi yang jelas, sudah lama ia tidak pernah komplain lagi.
Suara mesin mobil di pekarangan rumah seolah menjawab semuanya, Jongdae sudah bisa menebak reaksi ibunya akan berlari menyerbu pintu dan memeluk Baekhyun jika saja yang berada diluar sana benar-benar sosok Baekhyun.
.
.
.
To Be Continue!
.
.
.
*) Di foreword (Prolog) aku sempat tulis :
-Tidak akan jatuh cinta pada Jobseeker/HRD di perusahaannya.
Sebelumnya, sorry udah bikin ekspetasi kalian salah. Berhubung prolognya di publish dalam keadaan unbeta-ed alias gak di edit ulang (bisa di check ke prolog), jadi foreword itu bikin hampir semua readers salah paham kayaknya. Seharusnya aku tulis "Tidak akan jatuh cinta pada Jobseeker/HRD di perusahaannya."
Ok, let me explain it.
Kenapa di bold dan di italic?! Karena 'Tidak akan jatuh cinta' bukan makna dari 'Mereka saling benci dan gak akan pernah suka satu sama lain karena dendam masa lalu atau trauma.' No! It's so casual ever I seen, I've better idea. Jadi maksudnya itu; Mereka laki-laki dan seharusnya Tidak akan jatuh cinta karena status sosial dan sinisme masyarakat. Seperti yg aku pernah bilang di chapter sebelumnya, ff ini mengangkat salah satu konflik tabu yang berkembang di masyarakat, Homophobic.
Kenapa unbeta-ed?! Karena laptopku rusak saat itu, sedangkan ponselku gak bisa ngedit font. So, aku harap kalian bisa ambil kesimpulan dari penjelasan diatas, I know you're smart readers and I know you'll understand what I mean.
A/n :
How to start this? Eerrr awkward -_-
Aku bahkan gatau gimana cara berterima kasih pada kalian yang masih mau menunggu, pada kalian yang mau bersusah-susah mendorong mood-ku buat berfanfic lagi, pada kalian yang mau bawelin aku tiap hari suruh update padahal aku udah bilang 'Aku masih dendam sama semua file ff-ku yang ke format di memory.' Dan yeah, aku kembali lagi kesini karena kalian. Big thanks! Kalian yang bikin aku ngulang dari awal, gak ada yang tau gimana lebay nya aku nangisin semua file berharga yang udah ke format T.T
Spesially Thanks for Yuni, You're the real MVP! Gue ga bakal bosan ngomong gini terus buat lu Yu T.T Buat kak Amie juga yang udah kasih banyak support biar gue ga berhenti nulis.
For my beloved Reviewers! Aku pikir aku bisa jadi author egois yang main pergi aja tanpa selesain PYD. Tapi baca review kalian bikin aku jadi sadar kalau aku masih sangat dihargai disini, dan ternyata aku emang gak bisa egois T.T I'm here back for you guys! *KISS*
Once more! Aku update 2 FF hari ini demi memenuhi tantangan dari makhluk CIC (Deestacia, Flameshine, Jonah Kim, Oh Lana) jangan heran kalau email kalian kena spam hari ini, udah disengaja :D Demi memeriahkan CIC 3rd Anniversary event "UNSTOPPABLE LOVE FOR CHANBAEK"
Last! Aku juga minta maaf karena gak bisa sering-sering update kayak author yang lain, maklumi kehidupan Real-ku yang gak semulus paha Baekhyun. Hidup dalam keluarga Broken home dan pecandu barang addictive bikin aku kekurangan waktu untuk nulis, dua hari ini aku kebut 2 FF karena lagi ada kesempatan ayah masih di luar kota sampai minggu depan. Sorry ya kesannya malah kayak curhat gini panjang banget -_- aku harap kalian bisa ngertiin posisiku kenapa lama banget update.
Aku kembali dan aku bahagia :')
Big thanks to :
[Kim ryeosa wardhani] , [phinow bubblepaie] , [KT CB] , [KyungMii] , [noer takingintluka] , [blackreader] , [JoKykio] , [vanee27] , [Krasivyybaek] , [alfianisheila] , [neli amelia] , [luwinaa] , [yeolinbaek] , [Eiko Miyuki] , [KyusungChanbaek] , [Little iLaa] , [deux22] , [ariniencedw] , [Brida wu] , [dewi min] , [Mela quererr chanBaekYeol] , [anaals] , [rillakuchan] , [byunbaek] , [hunniehan] , [CussonsBaekBy] , [qtpie] , [superBAEKman] , [dianahyorie1] , [Acetaminophen Kwon] , [chabek] , [Chanbekhuman] , [parkxbyun] , [babyCH0] , [littlechanbaek] , [chanchanhwang] , [Chan Banana] , [fitry sukma 39] , [baekggu] , [CY Destiny] , [nia aries] , [Dheacho] , [Pupuputri] , [lolamoet] , [rekmooi] , [pintutGABISADIGINIIN] , [shelhunhan28chanbaek] , [indri kusumaningsih] , [sunsehunee] , [baekfrappe] , [Yang Seo Ah] , [Xoloverisa] , [ParkRae] , [Lala Maqfira] , [sweetyYeollie] , [CB Rala] , [lulubaekkie1] , [MissFrontal] , [elisabt yehet] , [ChanBaekLuv] , [wulandaridewi kenanga 5] , [egggyeolk] , [desy wulandari 564813] , [andhana riswari] , [beagle6104] , [sopiyuliawati15] , [kimkyungin15] , [Re Tao]
