Fanfiction KaiHun

Cast : Kai, Sehun! GS

Genre : Romance, Drama, Comedy

Summary : Kai adalah artis terpopuler di Korea Selatan saat ini dan Sehun adalah fan-nya. Disuatu musim panas, Sehun mendapat lowongan magang di agensi dimana Kai bernaung. Sehun berusaha keras—dan mempertaruhkan rasa malunya—dalam waktu dua bulan untuk membuat Kai jatuh hati padanya.

Chapter Seven

Kalian pernah dengar kan jika cewek itu jauh lebih dewasa dari cowok di umur yang sama? Sehun baru mengerti akan hal itu ketika bertemu dengan Kai. Umur mereka yang hanya terpaut beberapa bulan ternyata tidak membuat Kai yang lebih tua sama dewasanya dengan Sehun.

Sehun memandang wajah riang yang sedang memilih es krim disebelahnya. Sehun bertanya-tanya, seberapa banyak lagi ia akan mendapat kejutan-kejutan dari pria tampan itu. Kai benar-benar berbeda dari bayangannya dua minggu lalu. Setiap pertemuannya dengan Kai, dia selalu mendapat kejutan atas sikap Kai. Kadang pria itu bisa hangat dan menyenangkan, kadang juga bisa menjadi orang paling kekanakan yang pernah ia temui.

"Kau mau rasa apa?" Kai bertanya pada Sehun yang sedari sibuk dengan pikirannya.

"Aku mau vanila." Sehun menjawab asal.

"Bibi aku mau bubble gum satu dan vanila satu." Kai mengeluarkan dompetnya dan membayar es krim untuknya dan Sehun. Begitu keduanya sudah menggenggam es krim ditangan mereka, perjalanan menuju area parkir mobil kembali berlanjut.

"Kai, apa kau yakin dengan hal itu?" Sehun bertanya sambil menikmati eskrimnya.

"Tentu saja." Kai menjawab juga sambil sibuk dengan es krimnya.

"Kau sengaja memilihku untuk naik ke atas panggung malam ini karena ingin menyenangkanku karena aku temanmu?" Sehun mengulang kembali kalimat yang beberapa saat lalu baru saja Kai katakan.

"Iya." Kai menjawab singkat.

"Dan kau kesal pada Jongdae yang selalu menggangguku karena aku adalah satu-satunya temanmu?"

"Iya."

"Temanmu cuma aku saja?" Sehun bertanya lagi.

"Teman yang bisa aku ajak mengobrol selain pekerjaan dan juga bisa aku ganggu, lalu aku ajak makan malam hanya dirimu."

"Baiklah, aku percaya." Sehun tersenyum geli mendengar jawaban Kai.

"Kau tidak percaya?" Kai terkejut.

"Uhm, aku percaya kok." Sehun menjawab dengan menahan tawa.

"Kau pikir aku berbohong padamu?" Kai terlihat sedikit panik. "Untuk apa aku berbohong padamu tentang masalah ini? Memangnya untuk apa aku marah-marah kalau bukan karena hal itu?" Kai yang suka mengomel telah kembali.

"Entahlah, mungkin…" Karena kau menyukaiku, Sehun membatin.

"Memang karena itu kok! Tidak ada alasan lain!" Kai mencoba meyakinkan Sehun jika diirnya mengatakan yang sebenarnya.

"Iya, iya. Aku percaya padamu." Sehun hanya mengiyakan ucapan Kai dengan ekspresi ragu.

"Sungguh!" Kai melihat ekspresi itu.

"Iya, aku percaya."

"Tapi wajahmu begitu!"

"Wajahku memang begini!"

"Tidak! Tidak! Wajahmu tidak seperti biasanya! Wajahmu aneh!"

"Aneh? Kau mengatai wajahku aneh?"

Perdebatan kembali mewarnai kebersamaan mereka. Perjalanan pulang menuju apartemen bibi Sehun juga dipenuhi dengan kebisingan didalam mobil manajer Kai tersebut. Selama perjalanan Kai berusaha meyakinkan Sehun jika alasan ia meminta panitia untuk memilih Sehun naik ke atas panggung karena Kai ingin menyenangkan Sehun sebagai teman yang baik. Alasan yang diberikan Kai karena mulutnya tidak bisa di rem ketika nervous juga tidak kalah konyol, Kai kesal pada Jongdae karena Jongdae selalu mengganggu Sehun dan Kai tidak terima jika teman satu-satunya diganggu.

Pertama kali mendengar hal ini Sehun sampai harus meminta Kai mengulangnya tiga kali. Memang Sehun bukan orang jenius, tapi alasan Kai kali ini terlalu…aneh baginya. Belum lagi Kai berusaha mati-matian agar Sehun percaya dengan alasan-alasannya, hal itu membuat Sehun semakin yakin jika Kai memang sedang berbohong.

"Kau sudah percaya padaku kan?" Kai bertanya lagi begitu sampai didepan apartemen bibi Sehun.

"Iya, iya. Aku percaya! Sudah sana pulang!" Sehun melepas sabuk pengamannya.

"Sungguh?"

"Sungguh!" Sehun membuka pintu mobil dan keluar.

"Baiklah, selamat malam bebek!" Kai membuka jendelanya dan mengucapkan salam perpisahan lalu segera menginjak gas cepat-cepat. Meninggalkan Sehun yang mengomel karena lagi-lagi Kai memanggilnya bebek.

"Ckckck..jadi itu yang namanya sedang bekerja?" Kyungsoo memandang sinis ke arah Sehun yang baru saja masuk ke dalam kamar. Bibi Joonmyun memang sedang tidak ada di Seoul akhir pekan ini, jadi Kyungsoo bisa menginap disana tanpa harus menerima omelan panjang lebar.

"Huh?"

"Pulang diantar dengan mobil mewah dan senyum selebar itu. Aku mengenalmu bertahun-tahun Sehun, aku tahu kau tidak pergi bekerja tadi." Kyungsoo terus memandang Sehun yang salah tingkah karena ketahuan berbohong.

"Aku minta maaf Kyung!" Sehun langsung mengakui kebohongannya. Kyungsoo memang terlalu mengenalnya, dan tatapan sinis itu sungguh membuat Sehun seram. "Aku baru akan menceritakan semuanya!"

"Aku dengarkan." Kyungsoo langsung tersenyum cerah. Ternyata Kyungsoo tidak marah sungguhan dengan Sehun, hanya sedikit kesal karena Sehun berbohong padanya. Sehun langsung menceritakan semua kejadian yang dia alami dengan Kai, mulai dari masalah sepatu kuning, menjadi manager, Luhan, hingga makan malamnya hari ini.

"Wah, itu sih sudah jelas jika Kai menyukaimu!" Kyungsoo histeris begitu cerita Sehun tamat.

"Aku juga merasa begitu sih, tapi aku tidak mau besar kepala dulu Kyung." Sehun mencoba berpikir realistis. Kai naksir padanya seperti mimpi kedengarannya.

"Kau coba saja memancing bagaimana perasaannya padamu, bagaimana?" Kyungsoo memberi usul.

"Bagaimana caranya?"

"Kau buat Kai cemburu, lalu kau cari perhatiannya."

"Cari perhatiannya? Ih, aku kan bukan cewek seperti itu!"

"Kita cari cara agar kau tidak terlihat seperti cewek murahan Hun."

"Ba-baiklah.." Sehun hanya mengangguk setuju, masih tidak yakin dengan usul Kyungsoo. "Oh iya, bagaimana dengan Jongdae?" Sehun teringat dengan misinya.

"Dia benar-benar cowok keren Hun!" Kyungsoo langsung bersemu mendengar nama Jongdae, membuat Sehun terbelalak kaget. Bukankah harusnya Kyungsoo kesal dengan Jongdae yang terlalu cerewet? Lalu mengomeli Jongdae dan merubah Jongdae sebelum mereka benar-benar berkencan? Dan seorang Do Kyungsoo wajahnya bersemu? Sesuatu yang belum tentu terjadi lima tahun sekali.

"Keren?"

"Iya! Keren! Dia tahu banyak hal dan bersikap sangat manis. Aku heran kenapa kau bisa menganggap dia itu cerewet." Sehun lagi-lagi terkejut. Tadi yang ia kenalkan pada Kyungsoo adalah Jongdae teman kantornya kan?

"Sudah jangan bahas Jongdae dulu. Ceritamu lebih seru dari pada ceritaku." Kyungsoo mengibaskan tangannya.

"Seru? Kau pikir ceritaku seperti drama?" Sehun sedikit cemberut.

"Lebih seru dari drama Hun! Seorang super star keren naksir dengan gadis dari desa kecil. Apa itu tidak seperti drama?"

"I-iya sih. Tapi…"

"Jangan tapi-tapian lagi. Kau harus mengambil kesempatan ini Hun! Kau harus mengejar cintamu!"

"Cinta apaan sih! Norak sekali!"

"Kau sudah menyukai Kai dari dulu kan—"

"Aku hanya menganggapnya sebagai idola Kyung.."

"Tapi perasaan lain mulai tumbuhkan? Kau boleh berkata tidak padaku, tapi jujurlah pada hatimu sendiri." Kyungsoo seperti biasa, mampu membuat Sehun skak mat.

"Entahlah Kyung, aku cuma…Oh Sehun dan dia adalah Kim Kai. Aku tidak yakin aku dan dia—"

"Kau adalah gadis cantik dan berbakat Hun, kau pantas mendapat cowok paling hebat di dunia ini, apalagi cuma Kai.." Biarpun kata-kata Kyungsoo sering pedas, tapi gadis jutek itu adalah teman terbaik. Sehun tersenyum memberikan penuh terima kasih pada Kyungsoo yang membuat rasa percaya dirinya naik. Malam itu mereka habiskan bercerita tentang cowok dan percintaan, keduanya sedang dilanda cinta sih.

Hari Minggu, hari kesukaan Sehun. Dulu. Tapi bagi Sehun sekarang hari Minggu adalah hari yang sangat menyebalkan karena dia tidak bekerja. Biasanya orang-orang kantoran akan senang mendapat satu hari libur untuk beristirahat tapi tidak bagi gadis ini. Sehun ingin pergi ke kantor dan menemui lelaki yang beberapa hari terakhir terus-terusan ia pikirkan.

Ingin rasanya Sehun mengirim pesan pada Kai, bertanya apa yang sedang ia lakukan, sedang bersama siapa, sudah makan belum. Tapi Sehun jelas tidak akan melakukan hal tersebut, memangnya dia cewek macam apa yang menghubungi cowok duluan? Sehun jadi uring-uringan karena Kai sama sekali tidak menghubunginya.

"Sehun, ayo jalan-jalan!" Teriakan Kyungsoo mengingatkan Sehun jika ia tidak harus terus berbaring memikirkan Kai seharian.

"Ayo! Kau mau kemana?" Sehun langsung bersemangat.

"Entahlah, aku tidak tahu mau kemana. Kau kan yang tinggal di Seoul!"

"Uhm, aku juga belum banyak tahu sih tentang Seoul." Sehun berpikir sejenak kemudian teringat dengan salah seorang temannya. "Kau mau aku mengajak temanku?"

"Siapa?" Kyungsoo langsung terlihat bersemangat.

"Chanyeol Oppa."

"Siapa?"

"Chanyeol Oppa. Dia temanku yang bekerja di dekat gedung BT Ent." Sehun menjelaskan.

"Uh, aku kira kau akan mengajak Jongdae." Sinar di wajah Kyungsoo sedikit pudar.

"Aku bosan bertemu Jongdae setiap hari." Sehun berkata jutek. Sudah cukup bagi Sehun mendengar ocehan Jongdae setiap hari.

"Tapi aku ingin pergi dengan Jongdae!" Kyungsoo mulai merengek.

"Kau ke Seoul untuk menemui tidak sih?"

"Kita kan bisa bertemu kapan saja, aku mau bertemu dengan Jongdae! Tapi aku malu mengajaknya duluan, tolong ajak dia juga yaaa?" Kyungsoo kembali merengek manja.

"Haaahh, baiklah. Kau pergi dengan Jongdae saja sana, aku akan dirumah saja." Sehun malah mengerucutkan bibirnya.

"Jangan ngambek dong Sehun sayangku! Ayo-ayo kita pergi dengan Chanyeol-mu saja." Kyungsoo langsung memeluk Sehun yang sepertinya sedikit sensitif hari ini. Merindukan Kai ternyata bisa membuat Sehun yang biasanya cuek jadi gampang marah.

"Baiklah, aku akan menghubungi Chanyeol Oppa." Sehun mengetik pesan diponselnya masih dengan bibir sedikit cemberut.

Satu jam kemudian, Sehun dan Kyungsoo sudah menyusuri jalanan Kota Seoul yang ramai. Chanyeol mengusulkan untuk mengajak Sehun dan Kyungsoo ke kafe yang sedang ramai dikunjungi pemuda-pemudi Seoul. Melihat Kyungsoo yang penuh semangat, membuat Sehun jadi ikut bersemangat. Sehun tidak ingin memikirkan Kai hari ini, dia akan bersenang-senang dengan Kyungsoo dan Chanyeol.

"Sehun!" Cowok tampan berdiri didepan kafe yang ramai. Gadis-gadis yang melewati depan kafe tersebut pasti memperhatikan cowok itu. Memang pesona cowok tinggi bernama Park Chanyeol tidak bisa ditolak oleh kaum hawa.

"Oppa!" Sehun melambai penuh semangat melihat Chanyeol.

"Astaga, tampan sekali dia.." Kyungsoo ternganga melihat Chanyeol yang menurutnya lebih tampan dari artis-artis Korea Selatan.

"Kenapa semua orang jadi norak sih kalau melihat Chanyeol Oppa?" Sehun tidak mengerti dengan Kyungsoo dan Jongdae yang terpesona dengan Chanyeol. Padahal menurutnya Chanyeol itu ya…keren. Sudah. Tampan, pandai bermain musik. Sudah. Chanyeol tidak menyebalkan seperti Kai, tidak kekanakan seperti Kai. Senyumnya tidak semanis Kai.. Ah, Sehun lagi-lagi teringat dengan Kai.

"Lama menunggu Oppa?"

"Sama sekali tidak. Ayo masuk, aku sudah memesan meja untuk empat orang." Chanyeol mengacak lembut rambut Sehun ketika gadis itu sudah disampingnya.

"Empat orang?" Sehun mengernyit heran. Bukankah mereka cuma bertiga?

"Iya, aku mengajak Jongdae."

"JONGDAE?" Sehun berteriak keras.

"Iya, aku mengajak Jongdae. Dia ingin ikut denganku katanya." Chanyeol menjawab lugu. Tidak mengerti mengapa Sehun langsung berteriak seperti itu begitu nama Jongdae disebutkan.

"Kau ya yang mengajak Jongdae?" Sehun bertanya pada Kyungsoo yang langsung tersenyum-tersenyum sendiri.

"Tidak! Sumpah!" Kyungsoo langsung menggeleng cepat.

"Kenapa sih kau selalu marah-marah pada Jongdae?"

"Gara-gara dia nama baikku jadi…ah sudahlah. Sepertinya aku memang tidak bisa menghindar dari cowok ember itu. Tampaknya sebentar lagi dia akan jadi saudara iparku." Sehun menghela nafas panjang.

"Huh?" Chanyeol sedikit bingung.

"Temanku ini, namanya Kyungsoo naksir berat dengan Jongdae. Sungguh aku tidak habis pikir.." Sehun menunjuk Kyungsoo yang sedari hanya diam saja.

"Seleramu tidak lebih baik Hun, kau naksir pada cowok kekanakan yang—" Sehun dengan cepat menginjak kaki Kyungsoo agar gadis itu diam. Kenapa Kyungsoo makin lama makin mirip dengan Jongdae ya?

Siang itu berlalu sangat menyenangkan. Jongdae dan Kyungsoo benar-benar dimabuk asmara, membuat Sehun dan Chanyeol sedikit salah tingkah karena keduanya terus-terusan saling menatap mesra, juga terkadang saling menyuapi. Sehun sedikit menyesal sudah mengenalkan Kyungsoo pada Jongdae, bukan misinya yang berhasil tapi Kyungsoo malah menjadi norak seperti Jongdae.

"Bisa tidak sih tidak bermesraan dulu?" Sehun bertanya dingin.

"Kau iri?" Jongdae bertanya sinis.

"Kau ingin aku suapi juga?" Kyungsoo ikut memojokkan Sehun.

"Ih, tidak sudi." Sehun langsung mengernyit jijik.

"Ini, aku suapi saja biar." Chanyeol tiba-tiba menyodorkan sesendok es krim pada Sehun. Gadis cantik itu langsung menerima suapan itu dengan senang hati.

"Lihat tuh, aku juga disuapi!" Sehun tertawa puas, ia tidak merasa dengan tatapan Kyungsoo padanya dan Chanyeol yang penuh makna. Apalagi tatapan Chanyeol yang dari tadi tidak pernah lepas darinya.

Tringg!

Sehun mengecek ponselnya setengah hati. Setelah seharian menunggu pesan dari Kai, ia mulai menyerah. Sehun tidak mau lagi berharap bahwa pesan yang barusan masuk berasal dari Kai.

Bebek kau dimana? Aku habis selesai latihan, temani aku makan malam.

Sehun nyaris melonjak dari duduknya. Pesan itu dari Kai. Akhirnya doanya sepanjang pagi terjawab juga. Kai mengiriminya pesan, mengajaknya makan malam lagi.

Aku sedang di Gangnam. Kau ingin makan malam apa?

Sehun dengan cepat membalas pesan dari Kai.

Tringg!

Kai merespon pesan Sehun sama cepatnya.

Ke apartemenku saja dan bawakan aku ayam goreng. Yang banyak. Juga cola.

Sehun tersenyum melihat pesan yang dikirim Kai, ia bisa mendengar suara Kai dalam kepalanya menyebutkan makanan-makanan yang ia inginkan. Kyungsoo melihat perubahan ekspresi Sehun yang berubah super bahagia dan dia yakin itu ada kaitannya dengan Kai.

"Uh, aku harus pergi teman-teman." Sehun membalas tatapan Kyungsoo yang penuh makna, berusaha mengirim sinyal lewat sorot matanya.

"Benarkah? Sayang sekali." Kyungsoo menangkap kata-kata yang tersirat di mata Sehun.

"Kau mau kemana?" Chanyeol bertanya penasaran.

"Aku..ada panggilan kerjaan. Dari sunbaeku." Sehun setengah berbohong.

"Baiklah, aku antar." Chanyeol langsung berdiri dengan sigap.

"Eh tidak usah. Aku bisa—"

"Tidak baik untuk gadis sepertimu berjalan sendirian menjelang gelap seperti ini." Chanyeol sudah berdiri memakai jaketnya.

"Baiklah." Sehun tidak bisa menolak lagi. Chanyeol memang seorang kakak yang super baik, selalu bisa membuat Sehun merasa aman.

"Dadah Kyungsoo! Kau juga ember! Jaga temanku dengan baik! Awas kau apa-apakan dia!" Sehun memberi tatapan mengancam pada Jongdae yang tidak bisa menyembunyikan kebahagiaan dengan kepergian Sehun dan Chanyeol.

"Iya, iya. Sampai ketemu besok!" Jongdae melambai riang pada Sehun yang berjalan menjauh. Akhirnya ia bisa berduaan dengan Kyungsoo.

Chanyeol dan Sehun berjalan beriringan menuju halte bus. Berkali-kali Chanyeol melindungi Sehun dari orang-orang yang nyaris menabraknya karena jalanan sangat ramai. Sehun hanya memberikan senyum terima kasih pada Chanyeol namun pikirannya terus melayang pada Kai yang sedang menunggunya.

"Sulit ya bahkan hari Minggu saja kau masih mendapat panggilan."

"Ah, tidak juga. Aku senang kok." Sehun sedikit merasa bersalah sudah berbohong pada Chanyeol yang begitu baik padanya. Sehun tidak bisa dengan mudah membicarakan hal-hal seperti ini pada sembarang orang, karena Kai adalah artis tenar. Sehun harus berhati-hati dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan Kai.

"Oppa, aku ingin membeli makanan dulu."

"Tentu saja." Chanyeol menggiring Sehun ditengah keramaian Kota Seoul. Sungguh beruntung Sehun bertemu dengan Chanyeol pada hari pertamanya di kota ini, namun keberuntungan itu tidak dirasakan oleh Chanyeol. Sejak perkenalannya dengan Sehun, hatinya selalu resah. Ada sesuatu dalam diri Sehun yang membuat Chanyeol tidak bisa mendekatinya ataupun melupakannya.

"Terima kasih Oppa! Aku akan mampir ke tempat kerjamu besok siang!" Sehun melambai pada Chanyeol yang berdiri diluar lobi apartemen mewah Kai. Sungguh beruntung Sehun karena Chanyeol sama sekali tidak bertanya apapun tentang pekerjaan bohongannya. Apalagi mengantar Sehun ke hunian mahal ini dimana hanya orang-orang super kaya saja yang mampu tinggal di apartemen mewah tempat Kai tinggal.

"Sampai jumpa besok." Chanyeol membalas lambaian Sehun. Mata Chanyeol tidak berhenti menatap Sehun hingga gadis itu masuk ke dalam elevator. Chanyeol tidak bodoh, ia tahu jika Sehun kesini bukan untuk bekerja. Sehun pasti menemui seseorang, entah siapa. Chanyeol tidak tahu dan tidak punya bayangan sama sekali. Satu hal yang Chanyeol tahu, ia harus bergerak cepat sebelum Sehun berjalan terlalu jauh darinya.

Gadis cantik yang nyaris mematahkan hati Chanyeol itu berjalan penuh semangat menyusuri koridor panjang di apartemen mewah tempat tinggal orang-orang paling kaya di Korea Selatan. Begitu ia sampai didepan sebuah pintu kayu besar, ia merapikan rambutnya sedikit dan memencet bel.

"Sebentar!" Gadis itu mendengar suara familiar dari balik pintu.

"Ayam! Ayam!" Wajah tampan muncul dihadapannya tidak lama kemudian. Sehun cemberut mendengar hal pertama yang diperhatikan Kai adalah bungkusan ditangannya.

"Jadi cuma ayam saja yang kau inginkan dariku?"

"Tentu saja tidak. Aku membutuhkanmu untuk ku kerjai, aku bosan sekali seharian berlatih vokal." Baru dua menit mereka bersama, Kai sudah berhasil membuat Sehun kesal lagi.

"Kau baru saja latihan vokal berarti tidak boleh makan ayam goreng!" Sehun langsung merebut plastik berisi ayam goreng dari tangan Kai. Kini saatnya Sehun membuat Kai kesal.

"Ya! Kau tahu apa tentang latihan vokal? Aku mau makan ayam!"

"Tidak boleh. Kau harus makan sup hangat dan teh madu lemon. Ayamnya untukku saja ya? Akan ku buatkan kau makan malam yang sehat." Sehun melesat menuju dapur apartemen Kai untuk mengamankan ayam goreng yang baru saja ia beli.

"Ya! Ya! Bebek! Kau jangan sok tahu! Aku boleh makan ayam goreng!" Kai berlari mengejar makan malamnya.

"Aku tidak bodoh Kai, aku tahu kau tidak boleh makan ayam goreng. Minyaknya tidak sehat untuk tenggorokanmu." Sehun menyembunyikan plastik ayam goreng dibalik punggungnya.

"Kembalikan ayamku!"

"Tidak akan!" Sehun berjalan mengitari dapur menjauh dari Kai yang berusaha mendekatinya.

"Ya!" Kai yang kakinya jauh lebih panjang dari Sehun dengan mudah memerangkap Sehun didepan lemari es besar miliknya.

"Jangan mendekat atau ku adukan pada Minhyuk Sunbae kau makan ayam goreng!" Sehun terperangkap diantara lemari es dan Kai. Kekuatan fisik mereka yang jauh berbeda tidak membuat Sehun berhenti mengerjai Kai, kini saatnya Sehun mengeluarkan ancaman-ancaman pada Kai.

"Adukan saja! Kau juga akan ku adukan sudah membawakanku ayam goreng." Kai tidak kehilangan akal dan mudah termakan ancaman dari Sehun.

"Jangan mendekat! Jangan mendekat!" Sehun berjalan semakin ke belakang, punggungnya sudah menempel pada permukaan lemari es. Kai tertawa penuh kemenangan, salah siapa mengerjainya.

Kai dengan lincah mencoba mengambil bungkusan dibalik punggung Sehun. Tangannya melingkari pinggang ramping Sehun dan wajahnya menjadi begitu dekat dengan puncak kepala Sehun. Kai bisa mencium wangi rambut Sehun yang seperti bunga-bungaan.

Sehun tidak menyerah begitu saja, ayam goreng ditangannya ia jauhkan dari Kai sebisa mungkin. Gerakan-gerakannya membuat Kai semakin mendorong tubuhnya pada permukaan lemari es hingga dada mereka nyaris bersentuhan.

"Berikan padaku!"

"Tidak akan!"

"Kau benar-benar keras kepala!"

"Kalau aku keras kepala lalu kau apa?"

"Dasar bebek tukang iler!"

"Beruang manja!"

"Berikan pada—"

"KYAAAAA!" Sehun tiba-tiba menjerit kencang sekali sampai Kai terkejut dan berhenti berusaha meraih bungkusan yang dari tadi mereka ributkan. Butuh beberapa detik bagi Kai untuk menyadari alasan dibalik jeritan Sehun adalah dirinya. Tangannya tidak sengaja menyentuh pantat Sehun.

"Ma-maaf.." Kai langsung menjauhkan tubuhnya dari Sehun yang wajahnya sudah memerah.

"YA! DASAR MESUM!"

"Ma-maaf! Aku tidak sengaja!"

"KAU MAU MEMPERKOSAKU? HAH?" Sehun berjalan menjauh dari Kai sambil menyilangkan kedua tangan didepan dadanya.

"A-apa? Memperkosamu?" Wajah Kai ikut memerah. "YA! KAU PIKIR AKU LAKI-LAKI MACAM APA?" Kai jadi ikut berteriak mendengar tuduhan Sehun.

"Kau itu laki-laki mesum! Aku menemukan majalah dewasa dilaci ruanganmu!"

"Semua cowok pasti pernah membaca majalah seperti itu tau!" Kai tidak terima dengan tuduhan yang Sehun berikan padanya dan berusaha memperbaiki nama baiknya yang rusak hanya gara-gara ayam goreng dengan mendekati Sehun untuk berbicara baik-baik.

"Ahhh! Jangan dekat-dekat!" Sehun berlari menjauh dari Kai menuju ruang tengah.

"YA! Aku cowok baik-baik!" Belum pernah seumur hidupnya, Kai dipanggil cowok mesum. Harga dirinya sebagai seorang cowok baik-baik rasanya diinjak-injak.

"Aku cowok baik-baik tahu! Tanyakan saja pada Minhyuk Hyung! Aku tidak pernah minum alkohol kecuali untuk kesopanan saja ketika ada acara. Lalu…lalu…aku tidak pernah ke klub-klub malam. Aku tidak pernah menghabiskan waktu berduaan dengan cewek manapun.." Kai menjabarkan betapa suci dirinya sebagai seorang laki-laki.

"Kau tidak pernah berduaan dengan cewek?" Sehun menaikkan alisnya tidak percaya. Mana mungkin Kai tidak pernah berduaan dengan cewek, baru saja minggu kemarin Sehun mendapati Kai berduaan dengan Luhan.

"Berduaan yang…yang…begitu. Kau tahu? Tentu saja aku pernah berduaan dengan cewek untuk urusan pekerjaan. Dengan noona penata rias aku sering berduaan, lalu dengan dokter pribadiku juga aku sering berduaan. Aku hanya berduaan jika menyangkut masalah pekerjaan." Entah kenapa Kai merasa harus menjelaskan pada Sehun jika dirinya adalah cowok baik-baik yang tidak pernah melakukan hal-hal tidak senonoh.

"Sungguh?" Sehun setengah tidak percaya. Apa dengan Luhan kemarin juga masalah pekerjaan?

"Sungguh! Ayo kemarilah dan kembalikan ayamku." Jadi Kai ingin mengembalikan nama baiknya didepan Sehun atau mendapatkan ayam goreng?

"Baiklah, aku percaya. Kau memang terlalu culun untuk jadi cowok nakal." Sehun berjalan mendekati Kai dan menyerahkan ayam goreng makan malam mereka.

"Aku? Culun?" Kai tidak percaya dengan setiap komentar yang Sehun berikan untuk dirinya malam ini. Tadi ia dianggap cowok mesum, sekarang cowok culun.

"Iya. Kau culun dan kekanakan." Sehun berjalan menuju dapur melewati Kai yang menganga.

"Aku adalah cowok paling keren di Korea Selatan asal kau tahu."

"Keren dari mana? Kau masih menggunakan gelas Pokemon!" Sehun mengacungkan sebuah gelas yang berada di rak piring bersih.

"Itu bukan patokan tahu!" Kai kembali mendebat Sehun.

"Terserah kau deh, suaraku sudah habis gara-gara pelecehanmu tadi!"

"Sudah aku bilang aku tidak sengaja kan!"

"Jangan berisik deh, kau mau makan tidak?" Sehun menatap Kai tajam sambil menyiapkan ayam goreng untuk makan malam mereka.

"Aku diam!" Kai membuat gerakan mengunci mulutnya dan meninggalkan Sehun didapur sendirian. Sehun menahan tawa melihat bagaimana Kai sangat menyukai ayam sampai langsung mengalah padanya. Sehun memang sudah tahu dari dulu jika Kai menyukai ayam—dia kan fangirl sejatinya Kai—tapi Sehun tidak tahu jika Kai tidak hanya menyukai ayam, tapi mencintai ayam.

"Kau mau aku buatkan madu dengan lemon?!"

"MAUUU!" Kai berteriak penuh semangat dari ruang tengah.

"Jangan terlalu banyak berteriak, nanti pita suaramu luka." Sehun mengingatkan Kai jika pita suaranya adalah sesuatu yang sangat berharga bagi Kai karena profesinya sebagai penyanyi. Sehun bisa melihat Kai mengacungkan jempol dari ruang tengah, lagi-lagi Sehun terkekeh. Kenapa Kai bisa berubah dari sangat menyebalkan jadi sangat menggemaskan hanya dalam hitungan menit?

"Sehun tadi kau pergi dari mana?" Kai mencomot ayam goreng sambil menonton televisi.

"Aku pergi dengan teman-temanku."

"Teman-temanmu? Dari kantor?"

"Iya, dengan Jongdae."

"Jongdae lagi?" Sehun mengangkat alisnya mendengar kata-kata Kai. Sepertinya ini saatnya ia mencoba membuktikan dugaannya semalam.

"Iya, dia ngotot ikut pergi denganku dan Chanyeol Oppa serta—"

"Chanyeol? Park Chanyeol?" Kai berhenti memakan ayam gorengnya.

"I-iya.." Sehun sedikit gugup dengan reaksi Kai ketika ia menyebutkan nama Chanyeol.

"Ah, begitu." Kai kembali memakan ayamnya dengan santai.

"Chanyeol Oppa tadi—"

"Aku mau nonton televisi, jangan berisik." Kai langsung menyela kalimat Sehun. Gadis itu menelan ludahnya dengan gugup, apa Kai cemburu? Dengan Chanyeol Oppa juga? Astaga jantungku…jangan berdebar terlalu cepat…

"Kai, aku mau nonton acara musik dong.." Sehun mencolek lengan Kai, mencoba mendapat perhatian Kai lagi.

"Beli televisi sendiri." Kai berkata dingin.

"Jangan marah-marah dong Kaiiiiiii, kenapa sih kau tiba-tiba marah?" Sehun bertanya dengan wajah datar, padahal dalam hati Sehun dipenuhi berbagai macam emosi seperti gugup, berharap, senang dan masih banyak lagi.

"Siapa yang marah-marah?" Kai masih menonton iklan di televisi yang menampilkan cara mendapat paha sempurna untuk ibu muda yang baru saja melahirkan.

"Kau."

"Tidak, aku biasa saja."

"Biasa apanya? Kau cemburu ya?" Sehun mencoba memancing Kai.

"UHUK! UHUK!" Reaksi Kai sungguh luar biasa, tersedak cola yang sedang ia minum. "Cemburu? Pada cowok raksasa seperti itu?" Kai bertanya sambil melotot, entah karena kaget atau karena dadanya sakit tersedak cola.

"Yaaaaa, mungkin saja kan." Sehun berpura-pura sibuk dengan ayam goreng ditangannya, dadanya bergemuruh kencang. Entah keberanian dari mana Sehun mampu mengeluarkan pertanyaan seperti itu dari mulutnya.

"Mana mungkin aku cemburu pada cowok semacam itu! Aku jelas-jelas lebih keren! Lebih tampan!" Kai mengacungkan gelas colanya dihadapan wajah Sehun.

"Iya, memang kau lebih keren dan tampan." Ya sudahlah, sudah basah sekalian berenang saja, siapa tahu aku bisa menebak isi hati Kai untukku.

"Huh?" Kai langsung berhenti dari seluruh kegiatannya untuk memandang Sehun.

"Kalau aku dekat dengan cowok yang lebih keren darimu, misalkan…Choi Minho, apa kau tidak cemburu?" Sehun lagi-lagi memancing Kai dengan menyebutkan salah satu artis dari BT Ent yang juga digemari banyak masyarakat.

"Choi Minho? Kau anggap dia lebih keren aku? Dia itu cuma sedikit lebih berotot dari aku tahu! Aku juga bisa punya tubuh seperti itu…"

"Jadi kau cemburu jika aku dekat dengan cowok manapun?"

"H-huh? Tentu saja tidak! Untuk apa aku cemburu?" Kai tidak mau memandang kearah Sehun.

"Habisnya kau tadi kau…"

"Aku tidak cemburu, oke? Aku cuma cemas padamu, kau tidak tahu betapa brengseknya cowok-cowok jaman sekarang. Kau adalah gadis lugu dari desa kecil yang baru dua minggu berada di Seoul dan kau sudah kesana kemari dengan cowok-cowok. Kau tidak tahu kan betapa bahayanya kota besar seperti Seoul?" Kai kini duduk menatap Sehun lekat-lekat, matanya berusaha meyakinkan jika dirinya tidak cemburu.

"Lalu kau memangnya bukan cowok?" Sehun membalas tatapan Kai.

"Aku itu cowok baik-baik tahu. Kau sudah pernah menginap disini bersamaku kan? Dan tidak terjadi apa-apa kan? Tidak semua cowok memiliki jiwa sesuci aku.." Kai menjelaskan dengan penuh percaya diri.

"Baru saja tadi kau memegang pantatku—"

"YA! Kita kan sudah sepakat jika itu tidak sengaja!"

"Begitu ya?" Sehun menahan diri agar tidak tersenyum. Meskipun Kai sangat berusaha meyakinkan Sehun, entah kenapa gadis itu malah semakin ingin tersenyum. Seolah dia sedang diceritakan tentang Santa Clause oleh bocah lima tahun yang masih percaya dengan adanya kakek baik hati tersebut.

"Iya. Mulai saat ini kau harus lebih berhati-hati dengan semua cowok yang kau temui. Apalagi Park Chanyeol itu, aku punya feeling tidak bagus mengenai dirinya.." Kai mengelus-elus dagunya seolah sedang memikirkan sesuatu serius.

"Jadi aku juga harus berhati-hati denganmu?"

"Aku? Tentu saja tidak. Aku sudah bisa membuktikan bahwa aku adalah cowok baik-baik yang menjalankan nilai dan norma dengan baik." Sehun sungguh ingin tertawa mendengar kalimat-kalimat yang keluar dari bibir Kai. Terdengar seperti guru kedisiplinan disekolahnya dulu.

"Baiklah, baiklah, Kai cowok suci. Aku akan menjaga jarak dengan semua cowok didunia." Sehun menghadap televisi sambil tersenyum kecil. Kai ikut tersenyum mendengar ucapan Sehun barusan, membayangkan hanya dirinya yang bisa berdekatan dengan Sehun sepertinya sangat menyenangkan.

Kai terbangun karena bunyi alarm di ponselnya. Seingatnya dia tidak pernah menyalakan alarm, kenapa bisa menyetel sendiri? Kai memijat-mijat lehernya yang pegal karena tertidur di sofa ruang tengahnya, matanya mencari-cari sosok Sehun. Tidak ada.

"Sehun?" Kai berjalan menuju dapur. Tidak ada juga.

"Kemana sih dia.." Kai bergumam sambil mengacak rambutnya yang sudah berantakan.

"Huh?" Kai menyentuh sesuatu yang asing didahinya.

Bangun malas! Olah raga sebelum kau pergi bekerja, dan jangan lupakan sarapanmu di dapur. Panaskan dengan api kecil selama sepuluh menit.

Kai tersenyum lebar. Lebar sekali. Lalu mulai tertawa dan meloncat-loncat. Diciuminya kertas kecil yang tadi menempel didahinya, lalu panci kecil yang berisi sup juga ia ciumi. Senin pagi belum pernah terasa semenyenangkan ini bagi Kai.

To Be Continue

Akhirnya update juga wkwk

Semoga chapter ini memuaskan dan banyak yang suka!

Jangan lupa tinggalkan review, kritik dan saran^^

Gomawo!