Bacotan Author: welehhh.. Malu saya nulis bacotan minggu kemarin xD. Ternyata yang dibingungin adalah jalan ceritanya *lol* okay.. Sebelumnya MAAF! Saya tidak bisa kasih bocoran. Tapi dengan seiringnya cerita berjalan pasti kalian akan mengerti xD.
Bagus tuh yang sudah punya hipotesa berarti udah bisa nebak sesuatu. Iya kan? :'v
Dan untuk yang ingin lemon LawLu pasti saya kasih xD tapi masih lama. Massihh.. Jauh -_-
Errr... saya tidak tahu siapa Tomie. Tapi saya harap Tomie sama Luffy berbeda. Karena saya punya alasan. Jehehehehe.
Lalu... Bolehkah saya ngakak? :3
JAHAHAHAHAHA! —Uhuk! Maaf.. Saya keselek.
Okay.. Enjoy!
.
.
.
Sekolah Sunny-Go dan jam istirahat.
Helmeppo
"Kau yakin baik-baik saja, Coby?"
Anggukan dan Helmeppo yang mulai menghela napas pasrah. Ia terlihat khawatir ketika melihat keadaan menghawtirkan temannya tersebut dimana si pemuda bernama Coby itu memiliki suhu tubuh yang cukup hangat. Wajahnya juga terlihat pucat dan hal yang dilakukan pemuda bersurai pink tersebut hanya duduk dengan tangan menggenggam sebuah gantungan hantu imut. Helmepo hanya terdiam sampai ia kembuka kembali suaranya.
"Mau pesan sesuatu? Biar ku bawakan dari kantin."
Gelengan, dan Helmeppo yang mulai mengangguk.
Pintu kelas kembali dibuka dan Helmeppo pun keluar dari kelasnya dimana hal pertama yang ia lihat adalah seorang gadis cantik bersurai pink dari kelas 3-5A dengan banyaknya kotak pizza di tangan kirinya. Seketika Helmeppo pun mulai terdiam dengan ingatan pada gadis bersurai sama dengan nama berbeda. Wajah helmeppo pun mulai merona merah. Namun, dengan cepat Helmeppo menggelengkan kepalanya ketika ia ingat keadaan sahabatnya yang belum stabil.
Helmeppo siap pergi ke arah kantin jika saja telinganya tidak mendengar suara barang jatuh dan jeritan dari gadis yang sebelumnya ia perhatikan. Bukan cuma Helmeppo yang mendengar namun beberapa siswa-siswi yang masih berdiam di dekat kelas mereka mulai menoleh hanya untuk melihat seorang gadis cantik menggeram sedih meratapi pizza-pizza-nya yang berserakan dilantai.
"KAU PUNYA MATA ATAU TIDAK? LIHAT! SEMUA MAKANANKU JATUH GARA-GARA, KAU!"
Beberapa siswa-siswi yang masih ada di dalam kelas mereka mulai keluar. Mereka terlihat penasaran dengan adanya keributan di depan kelas mereka. Tak terkecuali dengan Usopp yang saat itu baru kembali dari ruang guru dan terhenti karena keributan di depannya.
Bahkan orang yang menjadi bahan kekesalah gadis tersebut hanya terdiam meratapi sayangnya makanan tersebut terjatuh— sepertinya.
"TANGGUNG JAWAB!" Gadis tersebut kembali membuka suara. Urat kekesalan tercetak jelas di pelipisnya.
Helmeppo yang mendengar hal itu mulai membelalakan kedua matanya kaget dengan mulut setengah menganga. Ia juga terlihat berlari mendekati orang yang dibentak Jewelry Bonney, nama dari gadis tersebut. Dan menghampirinya untuk ikut meminta maaf. Jelas. Karena Helmeppo tahu siapa orang itu.
"Bo-Benney.. Maafkan Luffy. Dia tidak sengaja menabrakmu."
"Kau tahu aku suka pizza dan dia dengan sengaja telah menabrakku!"
"Itu ketidak sengajaan. Lagi pula mana ada orang yang akan sengaja menabrakmu, Bon."
"Alasan! Pokonya aku tidak mau tahu! Aku minta ganti rugi! Aku tidak mau uang! Aku mau pizza baru dalam waktu SE-CE-PAT-NYA!"
Helmeppo meneguk ludah takut. Ternyata wanita mau secantik apapun itu tetap saja menakutkan jika sedang marah.
"CEPAT! Mana pizza-ku?" Bonney kembali menuntut dengan sebelah tangan menadah ke arah si raven.
Hening perlahan terjadi. Bahkan orang-orang yang melihat kejadian tersebut masih setia terdiam di tempat mereka masing-masing.
Beberapa detik perlahan mulai berlalu sebelum akhirnya Helmeppo menghela napasnya seraya mengeluarkan ponsel yang ia miliki untuk menghubungi seorang penjual pizza yang ia ketahui. Namun, sebelum hal itu terjadi Luffy sudah menahan pemuda tersebut. Ia juga terlihat mulai maju beberapa langkah ke arah Bonney dan membuat gadis di depannya mengangkat dagu tanda menantang.
"Jangan minta macam-macam. Aku akan bayar kerugian ini sendiri."
Bonney menggeram!
"Sudah ku bilang. Aku tidak butuh uang, sialan! Aku-ingin-PIZZA!"
"Uang dan Pizza sama saja. Kau dapat membeli pizza dengan uang itu!"
"Tapi aku mau kau yang membelinya, bodoh! Kenapa harus aku! Kau yang salah karena sudah menabrakku! Pokonya aku tidak mau tahu! Pizza baru atau— kau mentraktirku makan selama sebulan penuh!"
Gluk!
Beberapa siswa merinding seketika. Tepatnya siswa yang pernah menjalin hubungan dengan gadis cantik tersebut dimana dalam waktu lima menit uang mereka telah habis hanya untuk mentraktir gadis dengan julukan 'Big Eater' tersebut.
Luffy terdiam. Ia hanya memalingkan wajahnya ke arah kiri dengan kedua tangan dibelakang punggungnya.
Bahkan di sebelahnya, Helmeppo masih terlihat sangat khawatir. Ia siap menelfon tukang pizza langganannya jika saja, Luffy tidak menghentikan pergerakannya kembali.
Didepannya, Bonney mulai menyilangkan kedua tangannya dimana jari-jarinya yang berkuku panjang dan dirawat dengan baik mulai mengetuk pelan bahuya seakan mengitimidasi.
Helmeppo makin tidak tenang. Sementara, Luffy kembali membuka suara dengan beberapa lembar uang di tangan kirinya.
"Uang saja!"
"Sudah ku bilang! Aku—"
Tes!
Bonney tidak melanjutkan kata-katanya ketika ia melihat Helmeppo membelalakan kedua matanya dengan tangan yang menangkap tangan Luffy yang memegang sejumlah uang. Bukan cuma Helmeppo yang terbelalak kaget tapi beberapa siswa-siswi yang melihat hal tersebut ikut terbelalak dengan tatapan kesal ke arah Bonney.
"Jewelry! Apa yang kau lakukan pada, Luffy?"
Bonney terdiam. Ia mulai melihat kedua tangannya dengan seksama lalu dilanjut dengan melihat tangan si raven yang berlumuran darah dari bekas luka seperti cakaran kuku. Dan karena lukanya yang cukup dalam, darah yang mengalir dari tangan kiri Luffy sampai menetes di atas lantai kramik yang menjadi pijakan mereka. Bonney menggelengkan kepalanya. Bahkan Luffy hanya terdiam dengan mulut sedikit terbuka.
"A-aku tidak menyadarinya. Pantas saja tanganku sedikit perih."
"Ki-kita harus cuci lukamu, Luffy!" Dan dengan itu Helmeppo pun menarik Luffy ke arah toilet tanpa memperdulikan Bonney yang masih di deathglare beberapa siswi yang terlihat kesal padanya.
Bonney hanya menggelengkan kepalanya. Ia— terlihat kebingungan.
.
.
Dengan mendudukan dirinya di bangku taman sekolah, Bonney mulai terdiam dengan kedua tangan yang kembali ia perhatikan. Ia juga terlihat mulai menghela napasnya dengan pecobaan seberapa tajam kuku nya yang dirawat memanjang.
"Hai." Bonney terlonjak kaget. Didepannya terlihatlah Luffy yang mulai tersenyum dan ikut mendudukan diri disebelah gadis tersebut.
Bonney yang merasa bersalah mulai bergeser sebanyak mungkin dan hal itu malah membuat Luffy terkekeh pelan dari tempat ia duduk.
"Tenang saja. Lukanya sudah dibasuh. Jadi kau tidak perlu khawatir."
"M-maaf. Aku tidak sadar telah melukaimu saat kita tabrakan tadi. Sepertinya fokusku hanya pada pizza saja."
"Shishishi.. Tidak apa-apa. Aku juga tidak memberimu pizza seperti yang kau mau. Jadi.. apa aku masih harus meminta maaf?"
Bonney terlonjak kaget. Ia mulai menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"Tidak! Aku yang salah disini. Aku yang harusnya minta maaf. Maafkan aku.. Dan— aku sudah tidak ingin Pizza lagi." Wajah yang terlihat sedih dan Bonney yang kembali melihat kedua tangannya. Mungkin setelah ini ia akan memotong semua kuku yang telah ia rawat selama beberapa bulan belakangan ini.
Luffy pun demikian. Ia masih terduduk ditempatnya dengan tangan kanan mengelus tiga luka cakaran yang baru ia dapatkan.
"Perih." Bonney terbelalak kaget. Ia mulai melihat ke arah Luffy. "Oh.. m-maksudku.. tidak apa-apa. Shishishi."
"Aku akan memberimu pizza setiap hari."
"Apa?"
"Aku akan memberimu sepotong pizza setiap hari selama sebulan. Ini— sebagai bentuk permintaan maaf dariku."
"Kau tidak perlu melakukannya, Je—
"AKU MEMAKSA, BODOH! Dan senanglah! Karena aku tidak pernah mau berbagi makanan dengan siapapun sebelumnya!" Lalu Bonney pun berlalu dengan wajah yang terlihat matang. Luffy masih terdiam. Sebelum akhirnya ia tersenyum dan mulai melambaikan tangannya.
"Shishishi.. kalau begitu terimakasih." Dan Bonney pun makin memerah.
.
Di dekat pohon terlihatlah Helmeppo yang tengah bersembunyi. Ia terlihat memperhatikan Luffy dimana senyuman pemuda tersebut perlahan menghilang dengan pandangan mata yang tiba-tiba terasa begitu mati. Ingatan ketika dirinya membasuh luka si raven terlintas kembali di otaknya. Diamana, Luffy ternyata juga memanjangkan kukunya walau pun tidak sepanjang Bonney. Dan di tangan kanan si raven terlihat pula noda darah yang mengotori kuku-kuku tersebut.
Helmepo menggelengkan kepalanya dengan cepat. Tidak mengerti dengan pikiran kenapa si raven melukai dirinya sendiri seperti tadi. Dan hal yang membuatnya lebih bingung lagi adalah munculnya Eustass Kid yang langsung memarahinya ketika melihat tangan si raven yang terluka.
Walau dibalas acuh oleh pemuda tersebut namun, Helmeppo dapat berasumsi jika si raven punya cara untuk membuat orang-orang di sekitarnya takluk bahkan jika itu adalah seorang guru sadis seperti Eustass Kid yang mulai mengeluarkan saputangannya dan membungkus luka si raven dengan kain barusan.
Helmeppo berusaha tidak ambil pusing. Ia kembali ke dalam gedung sekolah dengan harapan otaknya tidak berpikir macam-macam lagi.
.
.
.
Udara dingin mulai berubah. Beberapa daun kering mulai berterbangan dan tak lama kemudian suara bell sekolah pun mulai berbunyi.
KRIINGGG!
Shirahoshi
"Kak Luffy!" Seorang gadis manis mulai memanggil. Ia terlihat berlari dari lorong kelasnya ketika ia melihat si raven menuruni tangga beberapa saat lalu.
Wajahnya yang merona merah mulai memanas. Ia juga terlihat gugup dengan gantungan gurita di genggamannya.
Bahkan dari arah lain terlihat pula seorang gadis cantik bersurai pirang pendek yang melihat Shirahoshi dengan kedua alis bertaut.
Ia terlihat kesal sebelum akirnya kaki ia langkahkan untuk mendekat.
"?"
"A-anu.. se-sebenarnya." Shirahoshi nampak terbata. Ia mulai memainkan gantungan gurita di tangannya sebelum akhirnya menyerahkan gantungan tersebut ke arah Luffy yang masih kebingungan.
Perlahan Luffy mulai tersenyum dan ketika ia akan mengambil gantungan gurita tersebut, tiba-tiba seorang gadis pirang datang dan langsung merebut gantungan yang masih berada di tangan Shirahoshi. Shirahoshi yang kaget hanya bisa terbelalak. Tak lupa ia pun mulai meminta gantungannya kembali walau ditolak oleh gadis di depannya.
"Kak Marguerite.. itu punyaku!"
Sebuah tatapan tidak suka yang diberikan.
"Uhh.. gantungan jelek seperti ini?" Dan gadis bernama Maeguerite tersebut mulai memainkan gantungan di tangannya seolah jijik. Bahkan ia pun mulai tersenyum setelah ia melihat sesuatu yang menarik perhatiannya. Dan dengan melempar gantungan tersebut dari tangannya, benda kecil tersebut mulai melayang dan masuk tepat kedalam sebuah tong sampah yang tak jauh dari arah si pirang berdiri.
"TIDAK!"
Shirahoshi yang masih kaget perlahan mulai terisak sebelum akhirnya mendekati tong sampah tersebut dan memungut gantungannya. Tak disangka, Marguirite pun ikut mendekati Shirahosi dan tanpa aba-aba ia pun mulai mendorong gadis muda tersebut sampai terjatuh dan bermandikan sampah dari tong sampah yang tumpah ke arahnya.
Marguerite mulai tertawa. Untunglah Sekolah sudah mulai sepi karena sebagian siswa-siswi Sunny-Go sudah menuruni tangga utama untuk keluar dari gedung sekolah. Jadi kejadian ini tidak akan terlalu mempermalukan gadis bersurai pink tersebut.
Namun, karena kejadian yang ia alami, akhirnya Shirahoshi hanya bisa terisak sebelum akhirnya ia menangis.
Marguerite mulai menyilangkan ke dua tangannya di depan si pinkette.
"Gadis cengeng sepertimu tidak pantas memberi hadiah pada pria lain! Dasar incest!"
"Aku— hiks.. Aku tidak menjalin hubungan dengan kakak kandungku! Kenapa kak Marguerite selalu mengatakan hal itu?" Shirahoshi masih terus menangis namun tak membuat gadis di depannya mengerti dan malah mengalihkan pandangannya ke arah lain. Ia masih terlihat kesal. "Kak Fukaboshi hanya terlampau baik padaku. hiks.. Kami tidak pernah menjalin hubungan cinta!"
"Tck! Berisik sekali! Kau hanya berusaha menutupi hubungan kalian. Aku yakin.. kau pastilah pernah berhubungan badan dengan Fukaboshi." Luffy terbelalak untuk sesaat. Marguirite yang melihatnya mulai menyeringai. Gadis tersebut puas karena bisa membuat pemuda yang ia suka mulai menganggap jijik pada saingan cintanya. "Benar 'kan apa yang aku katakan?"
Si pinkette mulai menggelengkan kepalanya dengan cepat.
"TIDAK! hiks.. HWEEEE!" Shirahoshi makin menjerit keras. Air mata membasahi seluruh wajahnya.
"Kau menyangkalnya, cengeng! Bisa saja kau menggoda kakakmu itu atau yang lebih menjijikkannya lagi kau pernah jadi korban pemerkosaan Fukaboshi sendiri dan lebih buruknya lagi.. kau malah menikmatinya!"
"Jangan menghina kakak-ku! Hiks.. Kakaku tidak akan pernah melakukan hal keji seperti itu!"
"BOHONG! Walau Fukaboshi tidak melakukannya tapi dia punya banyak teman. Bisa saja 'kan jika salah satu dari temannya itu pernah tidur denganmu karena kau menggodanya. Menjijikan! Sudah incest kau bahkan dengan rela di perkosa oleh siapa saja. Kau itu menjijikan!"
"Jangan menghinaku! Aku tidak bersalah! Hiks.. Berhenti juga mencoreng nama kak Fukaboshi! Kami tidak pernah berhubungan! Hiks.. HWWEE!"
"Penyangkal!" Dan Marguerite pun mulai memutar matanya bosan. Bahkan dirinya tidak sadar telah membuat si raven yang berdiri tidak jauh di antara mereka mulai terpuruk dengan gigi yang ia gertakkan. Si raven bahkan mulai melangkahkan kedua kakinya untuk mendekati gadis menyebalkan tersebut.
"Kau itu—
Tap!
Dan Marguerite pun menghentikan kata-katanya ketika ia merasa pundaknya ada yang menepuk. Marguerite mulai menoleh hanya untuk melihat Luffy menatapnya dengan raut wajah tak terbaca namun anehnya gadis pirang tersebut malah merona dengan gerak-gerik yang terlihat salah tingkah.
Ia mencoba terlihat acuh dan jengkel.
"A-apa yang kau lakukan? Dasar pria aneh!"
"Apa yang salah dengan menjadi korban pemerkosaan?"
Marguerite terbelalak. Ia juga terlihat mulai kebingungan.
"Ehh? M-ma— maksudmu?"
"Bagaimana jika aku mengatakan aku adalah korban pemerkosaan sebuah organisasi bahkan Ayah tiriku sendiri.. pernah memperkosaku. Apa kau juga akan menganggap ku jijik?"
DEG!
Baik Marguerite maupun Shirahosi, mereka berdua sama-sama kaget atas pengakuan si raven barusan. Margurite mulai menggelengkan kepalanya tidak percaya. Bahkan ia mulai mundur beberapa langkah ketika si raven makin mendekatinya.
"Kenapa diam? Katakan! Apa itu benar?"
"A-aku.. KAU PASTI BOHONG! Kau hanya ingin membela si cengeng it—
"Apa yang ku katakan adalah kebenaran." Dan Marguerite pun makin membelalakan kedua matanya. "Kau hanya tidak tahu karena aku menutupi rahasia itu. Mau tahu apa lagi yang membuatmu akan lebih mengaanggapku jijik?" Marguerite mulai menggelengkan kepalanya. Air mata pun hampir menggenang di pelupuk matanya. "Karena aku menikmati perlakuan mereka padaku. Mereka mencemari tubuh dan pikiranku. Dan aku tidak pernah keberatan karenanya. Bahkan aku menikmati belaian lembut Ayah tiriku di atas ranjang. Oh.. Aku dan pria sialan itu masih sering melakukan seks hingga saat ini dan kau harus tahu akan hal itu."
"K-kau bohong! Hiks.. KAU BOHONG!" Marguerite makin prustasi. Ia terus menggelengkan kepalanya ketika pemuda raven di depannya makin mendekat.
"Satu lagi." Dan tubuh Marguerite pun makin gemetar. "Aku juga berharap.. Ayah kandungku melakukan hal yang sama padaku."
Hati yang terasa makin sakit!
"Diam.. Hiks.. K-kau tidak punya bukti—
Deg!
Dan Marguerite pun makin terisak ketika ia melihat banyaknya tanda kemerahan di leher yang ditunjukan si raven. Perlahan, Marguerite mulai terjatuh dan Luffy mulai menjongkokan tubuhnya dengan bibir di dekat telinga gadis pirang tersebut.
"Jadi.. Lebih baik kau tidak mengganggu kami lagi. Karena kami.. bernasib sama. Atau.. ada bagusnya kau pergi dari sekolah ini, cantik."
"Hiks.."
Marguerite terbelalak kaget. Ia kembali menggelengkan kepalanya sebelum akhirnya ia kembali berdiri lalu berlari meninggalkan Luffy dan Shirahoshi.
Luffy mulai tersenyum, ia pun mulai mendekati si pinkette yang terlihat masih shock.
"Kau baik-baik saja?"
"A-apa itu benar— K-kak ?" Bukannya menjawab, Shirahoshi malah bertanya balik. Untuk sesaat Luffy mulai terdiam sampai akhirnya ia menutup mulutnya sebelum akhirnya ia tertawa lepas.
"A-apa yang lucu?" Tanya Shirahoshi khawatir.
"Maaf maaf.. Aku hanya menipu si pirang tadi."
"L-lalu.. tanda di leher—
"Kemarin aku terlalu lama diluar rumah. Aku jadi kena gigitan nyamuk. Lihatlah.. gatal sekali semua leherku. Jadi, kau jangan menganggap semua perkataanku nyata, Yowahoshi."
"Aku hiks— Shirahoshi, kak."
"Oh.. Maaf. Shishishi."
Lalu, pandangan Shirahosi pun teralih ke tangan kiri si raven.
"Tangan kiri kak, Luffy kenapa?"
"Oh.. Yang ini?" Tanya Luffy seraya menunjuk lukanya yang dibalut saputangan. "Tadi ada kucing yang mencakarku. Kau jangan khawatir, Yowa—
"Bohong!" Si pinkette mulai menyela marah. "Aku tahu luka yang itu.. A-aku mendengarnya sendiri dari kak Usopp."
"..." Dan Luffy pun perlahan mulai tersenyum. Ia mulai menepuk pelan kepala gadis tersebut yang secara spontan membuat wajah Shirahoshi kembali memerah. "Tapi kau jangan membenci, Bonney ya. Dia tidak sengaja melakukannya."
Debaran jantung yang makin mengencang.
"I-iya.. Kakak sangat baik. Orang lain salah kakak malah membiarkannya dan lagi.. Menyuruh orang lain agar tidak membenci orang itu." Shirahosi makin malu. Ia mulai memalingkan wajah manisnya ke arah lain dan membuat Luffy kembali terkekeh karenanya.
"Shishishi.. Jadi, apa yang mau kau berikan padaku tadi?"
Perlahan wajah Shirahoshi makin memerah sebelum akhirnya ia memberikan Luffy gantungan kunci yang terus-menerus ia genggam.
"Ga-gantungan gurita. Ku dengar, Kak Luffy memelihara gurita jadi— aku membeli gantungan ini. Semoga kakak menyukainya."
"Wow.. Thanks ya."
Makin memerah dan Shirahoshi pun memalingkan wajahnya karena malu.
Suara getaran dari sebuah ponsel mulai terdengar dan membuat Luffy buru-buru mengeluarkan ponselnya. Dimana dirinya terlihat tengah membaca sebuah pesan sebelum akhirnya membalas pesan tersebut.
"Oh.. sudah jam lima lebih. Maaf ya, Yowahoshi. Tapi aku ada janji dengan Ayahku jadi aku harus segera pulang sekarang."
Shirahosi terlonjak kaget. Ia mulai menganggukan kepalanya dengan cepat.
"Ha-hati-hati dijalan, kak."
"Kau juga." Dan dengan itu, Luffy pun berlari tanpa menolong Shirahoshi yang sebenarnya masih bermandikan sampah.
Tak lama kemudian, Shirahoshi pun membangkitkan tubuhnya sendiri dan mulai berjalan untuk melihat keluar jendela. Dimana Shirahoshi dapat melihat jika si raven mulai memakai sebuah topi jerami berwarna kuning dengan hiasan pita merah yang baru ia keluarkan dari dalam tasnya. Ia juga terlihat mendekati sebuah mobil di seberang jalan dengan seorang pria dingin dan seekor burung putih di pundak yang sedang menunggunya.
Spekulasi, Shirahoshi?
"Itu pasti Ayahnya kak, Luffy."
.
.
.
.
Satu bulan kemudian.
Law
Dengan hati-hati, seorang Dokter mulai membuka gips ditangan kiri Law dengan perlahan untuk ia ganti dengan yang baru.
Setelah kecelakaan yang ia alami pihak rumah sakit— tempat dimana dirinya bekerja telah memberinya waktu istirahat lebih panjang lagi. Bahkan Shachi, yang adalah temannya sesama Dokter mulai mentertawakan nasibnya, sebab, Law yang adalah seorang Dokter harus datang ke rumah sakit untuk pengobatan secara rutin dan berkonsultasi bersama Dokter lainnya.
Law mulai mendesah bosan.
Memang, kedengannya hal itu sangat memalukan. Tapi apa boleh buat, Law pun membutuhkan saran dari mereka.
Ditambah lagi sang Ibu, Baby 5 sangat khawatir dan beberapa kali hampir datang ke Fuusha jika saja Sai tidak menghalangi. Bukannya Law tidak mau dijenguk tapi dirinya sudah berpesan pada Sai untuk tidak membiarkan Baby 5 datang karena ada suatu urusan yang harus ia selesaikan dengan cukup lambat.
Sai yang mengerti hanya bisa mengangguk dan berusaha menenangkan sang Istri yang terus-terusan merengek ingin pergi ke Fuusha secepat mungkin.
Dan untuk hal ini, Law sangat berterimakasih pada Ayah tirinya tersebut karena mau mengerti akan dirinya.
.
Lalu, satu masalah kembali mendatangi dirinya.
Reiju, gadis cantik bersurai pink yang pernah ia temui satu bulan yang lalu mulai datang mencarinya.
Alasannya: adiknya mulai menolak sekolah selama dua minggu ini.
Hal ini membuat Reiju bingung dan mulai mencari dirinya yang dikira dapat membatu.
Law hanya bisa terdiam. Jika ia bisa membantu, kenapa tidak?
.
Sesampainya Law di kediaman Vinsmoke, Law mulai diantar Reiju ke kamar adiknya yang terlihat sangat kacau. Untuk sesaat Law merasa khawatir pada pemuda tersebut sebab si pirang kini lebih suka menyendiri seakan takut jika ada orang asing yang masuk ke kamarnya.
Reiju makin khawatir, bahkan ia hampir menangis ketika melihat keadaan adiknya yang merinding ketakutan.
Bahkan sesekali ia berteriak 'PERGI!' Atau 'jangan pergi...'.
Dan setelah Law mengatakan untuk Reiju meninggalkan dirinya dengan sang adik. Reiju mulai memangguk dan kembali menutup pintu didepannya.
Kini, tinggalah Law yang tengah berhadapan dengan sebuntel manusia dalam selimut. Ia juga terlihat mulai mendudukan diri di sisi ranjang pemuda pirang tersebut.
"Sanji?" Law mulai bertanya dan mau tak mau si pemuda pun menoleh dengan perlahan dari balik selimutnya.
Deg!
Sanji makin ketakutan, sekilas ingatan ketika dirinya memperkosa si raven terlintas kembali di dalam otaknya. Sanji menggelengkan kepalanya. Ia sangat takut berhadapan dengan kakak dari pemuda raven tersebut. Dan dengan mengingsutkan tubuhnya Sanji pun kembali mentup diri.
"Tenang, Sanji. Aku tidak akan menyakitimu. Aku— mari kita bicara. Siapa tahu aku dapat membantu."
"..."
"Sanji. Aku tahu kau ada masalah. Dan aku tidak akan mengetahuinya jika kau tidak memberitahuku. Kau mau 'kan, bicara denganku?"
Sanji membuka kudung selimutnya, mendengar Law mengatakan 'belum tahu apa-apa' membuat dirinya sedikit tenang, mungkin pria di depannya 'memang' belum mengetahui perbuatan kejinya pada sang adik.
Dengan perlahan, Sanji mencoba menududukkan dirinya. Rasa takut masih menghantui jiwa dan pikirannya. Namun, jika ia tidak mengatakannya, Sanji takut dirinya akan semakin stress dan mungkin akan berakhir menjadi gila. Sanji tidak mau mengalaminya.
"Sanji?" Law kembali memanggil dan membuat si pirang menoleh hanya untuk membuat dirinya menyesal ketika melihat tangan kiri Law yang dibalut gips.
"Gara-gara aku."
"Apa?"
"Gara-gara aku tanganmu berluka."
Law terkekeh. Ia mulai mengelus tangan kirinya dengan perlahan.
"Jangan dipikirlan. Nyawamu lebih berharga dari pada sebuah tangan."
"Yang benar saja?" Sanji terlihat sangat marah. "Tentu hal itu adalah masalah. Kau pasti tidak bisa melakukan apapun karena keterbatasan tanganmu. Benar 'kan?" Sanji mulai bertanya emosi dan Law pun mulai menghela napasnya dengan bosan.
"Iya. Memang benar. Gara-gara kau, aku jadi tidak bisa bekerja dan yang lebih parahnya lagi seluruh temanku yang adalah sesama Dokter mentertawakan diriku."
Sanji membeku namun ia kembali rileks ketika Law menepuk pelan pundaknya lagi seperti saat itu.
"Sekarang ceritakan, kenapa kau menolak sekolah." Untuk sesaat, Sanji kembali gemetar. Ia mulai terpuruk dan kembali ketakutan. Law kebingungan. Ia tidak tahu harus berbuat apa.
"Takut."
"..."
"Aku takut ke sekolah."
"Kenapa?"
"Ada yang mengancamku." Dan Law pun terbelalak. Bahkan tanpa mereka tahu Reiju pun sama-sama terbelalak ketika ia sedang menguping di balik pintu kamar adiknya.
"Siapa?" Law mulai bertanya marah namun Sanji menggelengkan kepalanya dengan air mata yang mulai bercucuran.
"Aku tidak bisa mengatakannya. Hiks.. Aku takut nyawa Reiju terancam."
Dan Reiju pun terjatuh karena kaget. Ia mulai menangis.
"Dengar. Aku punya teman seorang kepala polisi. Kau hanya harus memberitahuku siapa orang itu, dan kau akan aman."
Sanji terdiam. Ia juga mulai berhenti menangis. Dan dengan bibir yang gemetar, Sanji pun mengucapkan nama tersebut yang langsung membuat Law menggeram dan akhirnya pergi dari kediaman Vinsmoke.
.
Law mulai menggunakan selulernya. Ia mulai memutar nomor tertentu untuk menghubungi seseorang.
Lalu setelah selesai, Law pun mematikan ponselnya dan kembali masuk ke dalam sebuah taxi yang masih menunggunya.
.
.
.
Smoker
Beberapa saat lalu, Smoker mendapat laporan dari salah seorang bawahannya jika seorang warga telah menemukan kembali kerangka manusia yang berupa tulang pengumpil. Kasus yang membuatnya jengkel karena bagian tubuh yang lainnya di temukan di tempat berbeda selama dua tahun ini. Hasil laporan yang ia dapat dari pihak rumah sakit; ternyata kerangka-kerangka tersebut adalah milik orang yang sama. Dan Smoker, masih menaruh curiga pada gerangan bernama Lucy tersebut sebagai pelakunya.
Ditambah lagi seorang pria bernama Dracule masih terus mendatanginya untuk melakukan pencarian terhadap putrinya.
Bukannya Smoker enggan melakukannya tapi pencarian yang ia lakukan selama empat bulan terakhir tidaklah membuahkan hasil sama sekali.
Lalu, belum lagi temannya yang bernama Law tiba-tiba saja menghubunginya lewat ponsel. Tidak biasanya. Sebenarnya apa yang terjadi? Padahal tugas yang lama saja belum selesai. Para pelaku kejahatan seperti pembunuhan, penculikan bahkan pelaku tabrak lari saja belum tertangkap dan beberapa bukti belum bisa ia temukan walau pelaku lain sudah dapat ia pastikan lewat beberapa orang saksi dan rekaman para amatir.
Smoker berusaha acuh untuk hal-hal itu. Mungkin— panggilan dari temannya tersebut lebih penting lagi.
Dan setelah Smoker menerima panggilan dari Law tiba-tiba kedua matanya berubah jadi setengah terbelalak ketika ia mendapat laporan tersebut.
Smoker menganggukan kepalanya, ia mulai menutup panggilan barusan.
Dan— jika laporan dari temannya tersebut benar maka, bisa jadi pelaku lain yang selama ini ia incar adalah pelaku yang sama bulan lalu.
Bagus. Memang ini yang dia butuhkan.
Yaitu.. menanyakan sendiri pada si pelaku.
Jika si pelaku terbelalak maka ada kemungkinan perkiraannya itu adalah benar.
Tapi, jika salah. Smoker masih bisa menangkap pria tersebut untuk di jebloskan ke penjara dengan tuduhan yang ada dan sudah ia dapatkan dari temannya tersebut.
.
Lalu, sepuluh menit kemudian, Smoker dan pasukannya bersiap pergi ke sebuah Sekolah. Dan saat mereka sampai, Smoker langsung keluar dari mobilnya diikuti semua pasukanya kecuali untuk seorang polisi yang tiba-tiba saja kembali ke tempatnya dengan suara yang teredam.
Smoker mulai menunjukkan lencananya pada seorang penjaga Sekolah yang langsung membuat pria tersebut terbelak kaget dan menganggukan kepalanya tanda mengerti.
Pintu gerbang mulai dibuka dan Smoker beserta seluruh anak buahnya mulai masuk ke Sekolah Sunny-Go dan membuat geger semua guru dan murid, termasuk seorang siswa bernama Franky yang saat itu tengah membawa sebuah matras sampai ia berlari dan akhirnya bersembunyi.
Padahal tujuan sang kepala polisi dan pasukannya hanya satu dan orang itu adalah: Eustass Kid.
.
.
"Lepaskan aku!" Kid mulai menggeram kesal. Ia mulai ditarik secara paksa ketika dua orang polisi berhasil menciduknya yang saat itu tengah menghajar seorang murid karena tak sengaja menabraknya.
Kid terus berontak. Namun, tak membuat para polisi bergeming barang sedikitpun. Yang ada mereka makin menarik dirinya dengan kekuatan yang mereka miliki.
Didepannya Smoker sudah menunggu dan hal itu membuat Kid sangat ketakutan dan berusaha melepaskan borgol yang melilit kedua pergelangan tangannya.
"Apa salahku, eh? Lepaskan aku! Aku tidak salah. Aku—
Dan Kid pun diberhentikan tepat di depan Smoker. Keringat dingin perlahan mulai mengalir di area pelipisnya, apalagi saat ia melihat tatapan sang kepala polisi yang sangat tidak bersahabat ke arahnya.
"Dengan menganiaya seluruh muridmu saja kau sudah dapat dihukum, Tuan Eustass. Ditambah kau membuat seorang murid takut sekolah dengan ancaman kau akan membunuh kakaknya."
"Tapi aku tidak—
"Dan lagi—
Smoker menggantung kata-katanya, membuat Kid membeku dengan keringat dingin makin mengalir dari pelipisnya. Smoker mulai mencondongkan tubuhnya dan berbisik pelan di telinga sang Eustass Kid.
"Aku sudah lama mengintaimu. Bahkan ketika kau membunuh sorang gadis tanggal tujuh oktober lalu dan mengambil semua darahnya!"
DEG!
Kid terbelalak. Ia mencoba untuk berontak kembali. Berbeda dengan Smoker yang mulai menyeringai karena dugaannya selama ini adalah benar adanya
"LEPASKAN AKU! Aku tidak bersalah!"
"Kami tidak akan mendengar penjelasan darimu. Kau dapat bicara didepan Hakim hari ini."
Kid makin berontak. Seluruh penghuni Sekolah terlihat mengintip dan memenuhi seluruh jendela. Bahkan beberapa di antaranya ada yang keluar hanya untuk melihat kejadian tersebut walau dihalang oleh sebagian guru.
Bahkan Franky sampai berlari atau lebih tepatnya kabur dari tempatnya barusan dengan perasaan takut dan juga was-was.
.
Makin lama, Kid makin berontak. Ia tidak terima dirinya ditangkap polisi.
"LEPASKAN AK—
Lalu tiba—
DOR!
"KYAAA!" Seluruh penghuni Sekolah Sunny-Go menjerit. Para polisi sangat keget. Smoker menjatuhkan dua cerutunya dan Kid— terbelalak dengan darah bercucuran dari mulut dan dadanya.
Dua orang polisi yang semula mencengkram tangan Kid dengan cepat langsung menjauh ketika orang yang tadinya mereka pegang mulai melemah dan akhirnya ambruk ke tanah.
Kid mulai mengejang sebelum akhirnya ia meregang nyawa detik itu juga.
"SIAPA YANG MENEMBAK?" Smoker bertanya dengan murka membuat sekelebat bayangan besar kabur dan kembali masuk dalam mobilnya. Smoker menggeram kesal sekarang calon tahanannya mati di depan matanya sebelum dia di adili.
Dan Smoker, bingung harus mengatakan apa pada temannya tersebut.
Dan sialnya lagi, dirinya harus bisa membuat seluruh sekolahan tutup mulut atas apa yang sudah terjadi hari ini.
Kejadian memalukan ini haruslah ditutupi!
Dan Smoker harus melakukannya dengan cepat sebelum berita ini menyebar lewat media atau pun mulut ke mulut.
.
.
Sementara itu.
Doflamingo
Keheningan tercipta disebuah ruangan besar dengan hiasan meja dan kursi besar yang begitu nyaman. Beberapa rak buku dengan ukiran cantik pun nampak memperindah ruangan tersebut dihiasi beragam buku yang disusun dengan sangat rapi. Sementara itu, di belakang kursi yang tengah ia sandari terlihatkah sebuah mantel bulu berwarna pink yang ia simpan dengan cukup apik. Menghela napasnya lelah, Doflamingo kembali membaca berkas-berkas yang menurutnya tidak penting. Merasa bosan, ia pun kembali melirik kopi instant yang ia buat sejam yang lalu dan kembali meminumnya dengan ekspresi mengernyit tidak suka.
Jelas, karena kopi instant tidaklah seenak kopi buatan anak tirinya.
Kembali ke kegiatan awal, Doflamingo akhirnya menjauhkan berkas di depannya dan mulai menyimpan berkas tersebut di sebuah laci. Tak lupa ia pun mulai menggeser sebuah laptop untuk ia simpan didepannya.
Lalu, tak lama kemudian—
Tok! tok! tok!
"Oh.. Masuklah."
Pintu terbuka dan menampakan Luffy dengan raut wajah yang terlihat sedih. Doflamingo lekas berdiri ia mulai merentangkan kedua tangannya dengan harapan sang anak akan mendekat.
"Lucy.. Kenapa kau pulang lebih awal, sayang?"
Tatapan sedih yang diberikan.
"Sekolah dibubarkan karena Pak Eustass—
Dan Luffy pun tidak sanggup mengatakannya membuat Doflamingo tersenyum dan berjalan mendekati si raven. Tak lupa, Doflamingo pun mulai memeluk pemuda tersebut dengan lembut seraya mengelus surai ravennya yang halus.
"Kalau susah dikatakan jangan dikatakan, sayang." Luffy mulai menggangguk sebelum akhirnya kedua bibir mereka bersatu menjadi kecupan panas yang mengundang nafsu.
Baju perlahan terlepas, celana perlahan melorot dan tubuh Luffy perlahan mulai diangkat dengan kedua kaki dipisahkan oleh kedua tangan Doflamingo.
Tak lupa, Luffy pun melingkarkan sebelah tangannya di leher sang Ayah tiri dengan tangan yang satunya mengarahkan penis besar si pirang di lubangnya yang belum di persiapkan. Dan dengan sekali anggukan, Doflamingo pun menurunkan tubuh Luffy hingga membuat si raven menjerit kesakitan karena penetrasi yang tidak main-main langsung menyeruak masuk diantara otot sfingternya tanpa sedikitpun pelumas.
Setitik air mata perlahan mulai mengalir dan dengan tubuhnya yang sedikit gemetar Luffy mulai tersenyum dan membuat Doflamingo menyeringai sebelum akhirnya menggerakan tubuh anak tirinya dengan brutal.
Desahan!
Teriakan!
Kata-kata kotor dan rintihan sakit, semuanya bercampur menjadi satu di ruangan kerja tersebut.
Keringat mulai bercucuran membuat Luffy memeluk leher Doflamingo makin kencang ketika si pirang sibuk mengangkat dan menurunkan tubuh sang anak tiri di atas penisnya yang masih setia keluar-masuk dari arah bawah.
"Mmh— AHH!" Luffy terbelalak kaget. Sebuah titik berbintang perlahan melintas di pengelihatannya membuat Doflamingo menyeringai dan berusaha menggerakan anaknya di tempat prostatnya terhantam.
"Ahh!" Kini Doflamingo yang mulai mendesah. Bukan karena gesekan yang ia dapat terasa sangat nikmat namun, kuku tangan anak tirinya yang tajam telah melukai punggungnya kembali dan membuatnya meringgis sakit. "Ohh.." Keringat makin membanjiri tubuhnya dan beberapa detik kemudian Doflamingo pun berhenti ketika penisnya menyemburkan sperma yang sangat banyak hingga memenuhi lubang anaknya. Bahkan beberapa diantaranya sampai bocor dan mengalir di pahanya sendiri dengan warna campuan sedikit merah.
Luffy menarik napas dengan berat. Dirinya pun sangat kelelahan. Dan dengan posisi mereka yang masih melakukan seks, Doflamingo mulai berjalan ke arah kursinya untuk duduk dan melanjutkan kegiatan mereka.
Bahkan Doflamingo kembali menyeringai ketika dilihatnya si raven mulai bergerak sendiri dan mengendarai penis Ayah tirinya dengan cara menggerakan pantatnya naik-turun dengan tempo yang sangat cepat.
Hasilnya, penis Doflamingo kembali menegang dengan nafsu yang kembali bangkit menguasai tubuh dan pikirannya.
Peluh Doflamingo kembali mengalir. Wajahnya yang masih memerah karena panas mulai ia lap dengan tysu yang ia ambil di atas meja. Bahkan kedua tangannya ikut menggerayangi dan berakhir di bongkahan pantat anak tirinya tersebut. Lalu, ketika Luffy menghentikan gerakan pantatnya, kini giliran Doflamingo yang menggerakan pinggulnya untuk membuat penisnya mendapatkan gesekan yang ia inginkan.
Desahan lain kembali keluar.
"AHHH!"
Bahkan, Doflamingo dan Luffy kembali berciuman.
Krek!
Memicing!
Namun, Doflamingo berusaha untuk acuh. Karena ia tahu lidahnya pasti berdarah karena ulah anak tirinya tersebut. Juga, bukan kali pertama lidah Doflamingo digigit ketika mereka melakukan seks. Seakan-akan menggigit adalah rutinitas tetap yang akan dilakukan si raven kala nikmat dan sakit ia terima ketika bercinta.
Gerakan makin dipercepat.
"OH! Hosh! Lucy~!"
Rintihan sakit dan nikmat kembali terdengar.
"Ahh.. M-Mingo!"
Dan beberapa menit kemudian, Dofamingo kembali mendesah hebat dengan klimaks yang ia keluarkan untuk yang kedua kalinya bersamaan dengan tertabraknya kembali prostat Luffy hingga membuatnya klimaks tanpa sedikitpun sentuhan pada penis si raven.
"MINGO!"
BRUK!
Luffy ambruk di atas tubuh Ayah tirinya. Mereka terlihat menarik napas sangat lambat dengan mulut yang terbuka lebar.
Bahkan tak lama kemudian, Doflamingo mulai menyeringai dengan tangan mengelus surai raven anak tirinya tersebut.
"Bag-bagaimana hosh— Lucy?"
"..." Tidak ada jabawaban. Dilihatnya sang anak tiri sudah menutup mata dengan suara napas yang teratur dikeluarkan. Doflamingo sampai terkekeh dan mulai menarik mantel bulu pinknya untuk menutupi tubuh setengah telanjang sang anak tiri.
Doflamingo mulai mengelus surai raven milik Luffy dan dilanjut dengan mengelus bekas luka di bawah mata kirinya juga, luka di jari manis tangan kirinya. Melihatnya membuat Doflamingo menyeringai dan mulai mencium sayatan berbentuk huduf 'D' tersebut.
Tak lama kemudian ketukan lain mulai terdengar namun, Doflamingo seolah tak peduli dan membuat si pengetuk membuka pintu dengan sendirinya. Untuk sesaat pria besar berkacamata hitam tersebut terdiam kaget ketika ia merasa datang di saat yang tidak tepat. Wajahnya pun terlihat merona merah dengan kacamata yang ia benarkan agar tidak terlalu fokus melihat. Ia juga berusaha terlihat acuh dan mulai berjalan ke arah Doflamingo yang saat itu mulai mengetik dengan santai di depan laptopnya.
Bahkan si pirang tidaklah peduli jika seorang pemuda raven tengah tertidur di panguakannya dan otomatis mengganggu kegiatannya untuk mengetik.
Ia, terlihat sibuk sendiri bahkan ketika pria besar tersebut mulai menyimpan sesuatu di atas meja yang tengah ia gunakan.
Tak!
"Semuanya selesai, Tuan."
"Apa ada yang mengetahuinya?"
"Tidak Tuan, tempat cukup aman untuk saya menculik dan mematahkan leher seorang polisi lalu mencuri senapannya."
"Bagaimana dengan mayatnya?"
"Saya potong jadi enam bagian dan membuangnya di pinggiran sungai agar mudah ditemukan. Dan saya juga sudah memberi inisial 'L' di salah satu bagian tubuh mayat itu, Tuan."
"Keadaan sekitar?."
"Smoker dan anak buahnya sedang menangkap korban yang anda inginkan."
Doflamingo terkekeh.
"Dari yang tadinya akan jadi pelaku kini pria sialan itu menjadi korban. Sungguh lucu." Doflamingo menjauhkan laptopnya, ia mulai membawa benda yang baru ia dapatkan, yang ternyata adalah sebuah senapan milik anggota kepolisian.
"Kerja bagus, Vergo. Kau dapat pergi. Dan terimakasih sudah menghabisi nyawa guru sialan itu untukku."
"Apapun yang anda inginkan, Tuan."
Dan dengan itu, pria bernama Vergo tersebut berlalu dan membuat Doflamingo tersenyum seraya menyimpan kembali senapannya.
"Dan untuk ini pasti Lucy akan menjadi tersangka kembali. Ffuffuffu. Lucu sekali."
Doflamingo mulai bersandar di kursinya ia kembali melihat di layar laptopnya dimana dirinya menulis nama 'Lucy' sampai memenuhi seluruh layar. Dan untuk di jajaran paling bawah layar terdapat nama lain yang membuat Doflamingo mulai menyeringai.
'Blood Death Lucy.'
"Nama yang sangat cantik. Smoker memang selalu bisa memilih nama."
Doflamingo kembali menggerakan jarinya dimana tulisan Death dihapus dan durubah menjadi D.
Kini, dari tulisan yang awalnya Blood Death Lucy kini berubah menjadi Blood D. Lucy.
"Sempurna."
Dan Doflamingo pun mulai mengelus perlahan nama yang baru ia buat di layar laptopnya, tak lupa ia pun kembali mengelus surai hitam Luffy dan mencium pucuk rambutnya dengan lembut.
"Kau hanya milikku, Lucy. Dan Guru sialanmu itu tidak berhak memilikimu juga. Dia— pantas mati. Siapapun.. akan ku bunuh jika mereka mencoba merebutmu dariku. Dan nama gadis ini akan terus kupakai untuk menutupi kejahatan ya ku lakukan. Dan semoga kau tidak beneratan— Lucy."
.
.
.
Tbc
Note: nananana na.. nanana.. na..
Btw ada yang pernah mikir pair Sakazuki x Luffy? :'v
Terimakasih sudah membaca xD
Next:
Luffy mulai menatap Sakazuki dengan tangan kiri yang menyentuh dada bidang keras milik guru barunya tersebut. Luffy mulai mengatakan sesuatu dengan suara yang cukup pelan.
"Kau ingin balas dendam padaku 'kan?" Luffy mulai bertanya dan Sakazuki pun mulai menyeringai seraya membenarkan letak duduk si raven sesuai keinginannya.
