UNFORGIVEN HERO (REMAKE)
Chapter 8
Cast:
Zhang Yixing as Elena
Kim Junmyeon as Rafael Alexander
Kang Seulgi as Victoria
Kim Minseok as Donita
Jung Seoyun as ibu Rahma
Genderswitch. OCC
Sorry for the typo. Story milik Santhy Agatha. EXO milik SM kecuali Zhang Yixing #dihajar
WARNING: Rate M, GS, Remake
Yixing tak pernah tahu, ada sosok dibalik kenyamanannya itu. Kim Junmyeon, pria yang sudah membunuh ayahnya. Dia berusaha membayar kesalahannya dengan menjadi guardian angel bagi Yixing. Masalahnya adalah, Junmyeon jatuh cinta pada Yixing. Dia begitu terobsesi pada gadis itu. Hingga dia berusaha membuat sebuah jalan agar Yixing berjalan ke arahnya
.
.
.
SULAY
Cerita remake dari novel Santhy Agatha
.
.
=CHAPTER 8=
"Lihat, Alfred menggila, dia memasak begitu banyak kue untuk sarapan." Junmyeon mengoleskan mentega lembut ke permukaan muffin panas, membuatnya meleleh dan berkilauan dengan aroma manis yang harum ke seluruh penjuru dapur.
Alfred yang sedang mengaduk sesuatu di dalam panci hanya tersenyum mencela dan melanjutkan kegiatan memasaknya. Mereka sarapan di dapur yang menghadap ke timur, tempat sinar matahari pagi langsung masuk dan menghangatkan mereka. Menu sarapan mereka luar biasa. Muffin madu, biskuit kacang dan kelapa, telur orak-arik yang rasanya fantastis dan satu loyang besar pie apel hangat yang baru dikeluarkan dari oven. Memang benar kata Junmyeon, Alfted menggila dalam memasak. Sepertinya dia terlalu senang karena tuannya datang, dan akhirnya ada yang bisa dia buatkan masakan istimewa.
Pagi ini seindah pagi-pagi yang lain. Yixing sampai tidak sadar bahwa mereka sudah melewatkan beberapa hari di pulau indah ini. Berbulan madu, begitu kata orang-orang. Dan memang itulah yang terjadi. Mereka benar-benar bersenang-senang sepanjang hari, makan, mengobrol, membaca, bercanda, dan bercinta dengan begitu panas di malam harinya.
Pipi Yixing memerah, mengingat malam-malam panas mereka. Junmyeon benar-benar lelaki yang sangat bergairah. Di pagi hari, saat mereka sudah bercinta semalaman, lelaki itu masih bangun dengan kejantanan mengeras dan mereka bercinta lagi. Seperti kata Junmyeon kepadanya dulu, lelaki itu memang selalu bergairah kepadanya.
"Alfred tampaknya sedang memasak besar hari ini." Yixing berbisik pelan sambil melirik ke arah Alfred yang tampak sibuk.
Junmyeon tersenyum simpul, "Memang, aku memintanya untuk menyiapkan makanan kita untuk seharian."
"Seharian?" Yixing mengernyit. Alfred biasanya selalu ada setiap saat di rumah ini. Begitu juga dengan para pelayan lainnya. Mereka selalu ada untuk mempersiapkan seluruh kebutuhan mereka, setiap saat.
"Aku meliburkan semua pelayan mulai nanti siang sampai besok pagi mereka baru kembali. Alfred juga. Karena itu Alfred memasakkan kita makan siang dan makan malam untuk dihangatkan nanti malam."
"Kenapa kau meliburkan semua pelayan?"
Junmyeon tersenyum nakal, lalu mendekatkan bibirnya ke telinga Yixing dan berbisik menggoda, "Karena aku ingin hari ini kita di rumah seharian, hanya berdua."
PIpi Yixing memerah. Apa sebenarnya yang direncanakan oleh Junmyeon?
.
.
.
Rumah benar-benar benar sepi ketika para pelayan tidak ada di rumah, biasanya setiap saat Yixing akan berpapasan dengan para pelayan yang lalu lalang mengerjakan sesuatu di rumah ini. Sekarang suasana hening, tidak ada suara percakapan di lorong, kesibukan di dapur maupun suara langkah kaki orang-orang yang lewat.
Yixing dan Junmyeon menghabiskan hari itu dengan di perpustakaan. Junmyeon mengatakan akan menyelesaikan beberapa perkerjaan sedangkan Yixing memilih untuk membaca. Perpustakaan di rumah pantai itu cukup lengkap, dengan berbagai bacaan ringan di sana, koleksi milik ayah Junmyeon. Sepertinya ayah Junmyeon benar-benar berniat untuk bersantai ketika mengisi buku-buku untuk perpustakaan ini.
Tanpa sadar hari sudah siang ketika Junmyeon mengangkat kepalanya dan bergumam, mengalihkan Yixing dari bacaannya yang menarik.
"Aku lapar."
Yixing menutup bukunya dan tersenyum lembut, "Aku akan menyiapkan makanan."
Alfred telah menyiapkan semuanya dan memberitahu Yixing cara menghangatkan makanannya. Yixing mencampur salad dengan udang dan saus alpukat yang telah disediakan oleh Alfred, lalu menghangatkan daging saus manis yang sudah disiapkan Alfred di panci.
Ketika Yixing sedang menuang kotak-kotak es batu ke dalam pitcher berisi es teh manis. Junmyeon datang ke dapur dan tersenyum. Dia mengendus ruangan dan mendekati Yixing dengan menggoda,
"Aku bisa memperkerjakanmu sebagai koki pribadiku. Baunya harum, seharum masakan Alfred."
Yixing tertawa, "Alfred memang yang memasak semuanya, aku hanya mempersiapkannya." Dengan cekatan dia mengaduk saus manis untuk daging di panci.
Junmyeon mendekat dan memeluknya dari belakang dengan mesra. Mengecup Yixing dengan menggoda.
"Hentikan Kim Junmyeon. Atau kau akan terciprat kuah yang sedang mendidih ini." Yixing mengingatkan Junmyeon, tetapi tidak ada penolakan dari tubuhnya. Junmyeon melingkarkan lengannya makin erat, jamarinya bergerak menggoda, mengusap puncak payudara Yixing sambil lalu. Membuat Yixing mengerang, Kuah itu telah mendidih, dan Yixing mematikannya.
Junmyeon mengajak Yixing mundur dari kompor, masih memeluknya, dia bersandar di meja dapur dan membawa Yixing yang masih di peluknya dari belakang. "Kita bisa telanjang seharian di rumah, karena tidak ada orang lain di sini.:"
"Junmyeon!" Yixing berseru dengan pipi memerah malu, membuat Junmyeon tertawa dan mengecupi leher Yixing penuh gairah.
"Atau kita bisa bercinta di atas meja dapur." Junmyeon setengah menggigit leher Yixing, meninggalkan bekas kecil kemerahan di sana. Seperti pejantan yang menandai betinanya. Jemarinya meraba lembut payudara Yixing dan meremasnya dari belakang. "Bagaimana menurutmu?"
"Jadi ini yang ada di benakmu ketika meliburkan semua pelayan?" Yixing berbisik lirih, untuk kemudian membiarkan bibirnya dilumat oleh Junmyeon dengan penuh gairah. Lelaki itu duduk di atas meja dapur, lalu mendongakkan kepala Yixing ke belakang, dia lalu menunduk ke atas Yixing dan melumat bibirnya, dengan cara terbalik. Menciptakan sensasi yang berbeda. Membuat dia bisa mencecap, dan merasakan bibir Yixing dengan cara yang lebih sensual.
Tubuh Yixing melemas akibat ciuman itu sehingga Junmyeon harus menopangnya, dia bersandar sepenuhnya di tubuh Junmyeon, dan merasakan kejantanan Junmyeon mulai mengeras, menekan tubuh belakangnya. Dengan lembut, Junmyeon kemudian membalikkan tubuh Yixing dan beranjak turun dari meja dapur. Dia mengangkat tubuh Yixing hingga terduduk di atas meja dapur itu. Dikecupnya dahi Yixing lembut, hidungnya, pipinya dan kemudian kembali ke bibirnya lagi. Setiap kecupan Junmyeon membuat tubuh Yixing panas membara. Lelaki itu lalu membuka kemeja Yixing dan menurunkannya, payudara Yixing yang tidak terlindungi bra – karena Junmyeon melarangnya mengenakannya setelah para pelayan pergi tadi – terpampang indah di depan Junmyeon.
Lelaki itu memuja payudaranya. Mengelusnya lembut, mengusap ujung putingnya dengan penuh gairah hingga mengeras dan siap di tangannya. Lalu setelah puting itu memenuhi keinginannya, Junmyeon mengecupnya lembut, dan menjilatnya dengan menggoda. Membuat Yixing mengerang, merindukan hisapan Junmyeon di putingnya yang membuatnya melayang. Lelaki itu tidak membuat Yixing menunggu lama, disesapnya payudara Yixing dengan penuh pemujaan, membuat tubuh Yixing lemas dan terbaring di atas meja dapur itu, dengan kaki menjuntai ke bawah.
Posisi Junmyeon sangat pas, karena tubuhnya tinggi, meja dapur itu pas setinggi pinggangnya. Dan sekarang dihadapannya, isterinya terbaring dengan kaki menjuntai ke bawah, pahanya terbuka, siap menerimanya. Junmyeon menurunkan celana dalam Yixing, dan membukanya. Lalu dengan penuh gairah, tanpa peringatan apapun, karena Junmyeon tahu Yixing sudah sangat siap untuknya. Junmyeon segera melepaskan celananya dan menyatukan tubuhnya ke dalam kelembutan yang panas dan basah, yang sudah siap untuk menerimanya.
Kaki Yixing langsung melingkar di pinggang Junmyeon. Kemudian, ketika gerakan Junmyeon makin cepat dan bergairah, dia berdiri dan menumpukan tangannya di tepi meja dapur, membuat Yixing terbaring di sana penuh gairah, menerima desakan-desakan Junmyeon jauh di dalam tubuhnya yang menimbulkan gelenyar panas tak tertahankan. Junmyeon lalu mengangkat kaki Yixing yang semula melingkari pinggangnya dan mengangkatnya ke pundaknya. Posisi itu membuatnya semakin mudah bergerak, menemukan titik-titik kenikmatan Yixing yang ada jauh di dalam kelembutan kewanitaannya, dan membawa Yixing langsung ke puncaknya.
"Kau sungguh nikmat Yixing…" Junmyeon berucap di antara napasnya yang memburu, "Apakah aku nikmat untukmu Yixing?"
Yixing mencoba menjawab. Tetapi sensasi itu sungguh menguasai tubuhnya, membuatnya semakin tersengal dan larut dalam kenikmatannya.
"Jawab aku Yixing…." Junmyeon tak mau menyerah, "Apakah aku nikmat untukmu?"
Yixing mengulurkan tangannya, menyentuh pipi Junmyeon yang membungkuk di dekatnya, "Kau… sangat…." suaranya tertelan oleh napas memburu dan erangan tertahan karena dorongan Junmyeon yang bergairah, susah payah dia mencoba berkata, "Kau…. sangat nikmat… untukku…"
Junmyeon menatap Yixing dengan rasa memiliki yang dalam, "Kalau begitu, mari kita saling menikmati." Gerakannya menjadi semakin cepat, semakin bergairah, semakin tak tertahankan, "Ayo Yixing, nikmati aku… puaskan dirimu…" Junmyeon berbisik parau, membimbing Yixing ke dalam pusaran gairah. Sehingga dia mencapai puncaknya dengan begitu cepat. Mencengkeram Junmyeon dalam kenikmatan orgasmenya, dan merasakan lelaki itu orgasme bersamanya, di dalamnya.
.
.
.
"Tadi sungguh luar biasa." Junmyeon tersenyum sambil menyuapkan suapan terakhir makan siangnya ke mulutnya.
Mereka akhirnya makan siang menjelang sore, karena Junmyeon memutuskan mereka harus melanjutkan beberapa lagi sesi bercinta di dapur sebelum makan. Lelaki itu sungguh memiliki fantasi yang gila dalam bercinta. Pipi Yixing memerah mendengar godaan Junmyeon. Lelaki ini sudah berhasil mengubahnya dari perempuan pemalu yang tidak tahu apa-apa, menjadi perempuan sensual yang selalu merespon setiap rangsangan yang diberikan Junmyeon dengan luar biasa.
Tetapi Yixing menikmatinya. Dia sangat beruntung. Ada pasangan-pasangan yang tidak diberkahi kenikmatan di atas tempat tidur. Dan Yixing diberkahi suami yang luar biasa nikmat di atas tempat tidur. Junmyeon selalu memuaskan Yixing, menunggu Yixing siap menerimanya, dan mengantarkan Yixing sampai ke titik terdekat orgasmenya sebelum kemudian mencapai orgasmenya sendiri.
"Ya Junmyeon. Tadi memang luar biasa." Yixing akhirnya mengakuinya kepada Junmyeon, membuat Junmyeon tersenyum bahagia.
Selesai makan, Junmyeon mengajak Yixing berjalan-jalan ke pantai pribadi mereka. Malam sudah menjelang dan lelaki itu memakaikan salah satu jaketnya pada Yixing, membuat Yixing memakai jaket yang kebesaran di tubuhnya. Tetapi Yixing berterimakasih kepada Junmyeon karena melakukannya. Udara malam cukup dingin malam ini.
Langit yang gelap memayungi mereka, bertaburan bintang berkelap-kelip yang indah. Junmyeon mengajak Yixing berdiri di tepi pantai dan menatap ombak,
"Aku dulu bukan orang yang baik, aku menyakiti banyak orang dan membuat mereka kecewa." Junmyeon bergumam pelan, tatapannya menerawang jauh, "Tetapi kemudian ada sebuah peristiwa yang menghantamku. Dan membuat aku berbalik arah."
Peristiwa apa? Yixing mengernyit dan menatap Junmyeon, ingin bertanya. Tetapi lelaki itu berdiri di sebelahnya dengan tatapan menerawang, seolah sedang larut ke dalam masa lalunya, sehingga Yixing kembali diam, menatap laut dan mendengarkan.
"Aku berubah menjadi lebih baik, berusaha menjadi lebih baik. Dan aku benar-benar sudah menjadi baik ketika aku bertemu kau." Junmyeon menghela tubuh Yixing ke arahnya, dan mereka berhadap-hadapan, "Sejak aku mencintaimu."
Dipeluknya Yixing erat-erat. Beberapa hari ini dia sangat bahagia, Tertawa bersama Yixing, menghabiskan setiap menit bersama perempuan itu, dan tidak pernah merasa bosan. Kebahagiaan itu menyelipkan seberkas rasa takut di benak Junmyeon, setiap dia menatap Yixing yang tersenyum kepadanya, tanpa dapat ditahannya pertanyaan-pertanyaan selalu muncul di benaknya, Bagaimana kalau Yixing tahu kenyataan yang sebenarnya? Apakah Yixing mau tersenyum lagi kepadanya? Apakah Yixing akan meninggalkannya?
Junmyeon takut menghadapi itu semua. Membayangkan kalau Yixing pada akhirnya mengetahui semua itu secara tidak sengaja. Mungkin Yixing melihat berita di masa lalu, atau bertemu dengan orang di masa lalu yang kebetulan tahu tentang kecelakaan itu dan masih mengingat Junmyeon, atau banyak kejadian lainnya yang bisa membuat Yixing tahu. Jauh di dalam lubuk hatinya, sebenarnya Junmyeon sangat ingin menahan Yixing di pulau ini. Jauh dari kehidupan luar, berbahagia di dalam surga mereka sendiri tanpa ada gangguan dari pihak manapun.
Tetapi tentu saja itu tidak mungkin. Mereka mau tidak mau harus kembali ke dunia nyata. Dengan berbagai kemungkinan yang bisa terjadi. Junmyeon harus bersiap menghadapi yang terburuk setiap saat. Apakah Yixing akan menuduhnya sebagai pembohong besar? Membangun pernikahan mereka di atas sebuah kebohongan?
Apakah dia harus memberitahu Yixing sekarang? Tidak. Ini bukan saat yang tepat. Mereka begitu berbahagia sekarang. Saat-saat ini terlalu berharga untuk dinodai oleh kebencian di masa lalu.
Junmyeon menelan ludahnya dan mengangkat dagu Yixing, agar menatapnya,
"Berjanjilah untuk tidak meninggalkan aku, apapun yang akan terjadi nanti."
Lelaki itu tampak bingung. Yixing membatin. Kenapa Junmyeon tampak begitu bingung? Apa yang sebenarnya berkecamuk di dalam hati lelaki itu?
"Berjanjilah Yixing." Suara Junmyeon mendesak, dipenuhi oleh kebutuhan.
Yixing menyentuhkan jemarinya dengan lembut di alis Junmyeon yang berkerut, mencoba menenangkan suaminya,
"Aku berjanji Junmyeon."
Suaminya mendesah lega, dan memeluknya era-erat. Mereka berpelukan diiringi deburan ombak dan taburan bintang.
.
.
.
"Kau harus mengatakan kepadaku." Lagi-lagi Leo menghalangi jalan Hyuna di lobi apartemennya.
Hyuna menatap Leo dengan jengkel. Beberapa hari ini Leo sangat mengganggunya, Lelaki itu muncul di mana saja, berusaha mengorek-orek rahasia yang mungkin disembunyikan oleh Hyuna,
"Aku bisa menyuruh polisi menangkapmu kalau kau terus menguntit dan menggangguku seperti ini."
"Tidak perlu sampai seperti itu." Leo menarik napas frustasi, "Aku cuma butuh jawaban."
"Bukankah aku sudah menjawabmu? Kau berkali-kali bertanya kenapa aku merayumu malam itu. Aku sudah menjawab, mungkin karena aku sedang ingin bercinta! Titik! Itu saja jawabanku. Tetapi kau masih terus-menerus menggangguku. Sebenarnya kau ingin jawaban apa?"
"Karena jawabanmu bohong." Leo menatap Hyuna tajam, "Katakan padaku yang sebenarnya Hyuna, atau aku akan terus mengganggumu."
"Baiklah!" Hyuna setengah menjerit, tak tahan lagi. "Aku merayumu karena Jun… maksudku Suho yang menyuruhku. Dia ingin membuat Yixing memergokimu sedang bercinta denganku!"
"Kenapa Mr. Suho ingin kau melakukan itu Hyuna? Apa yang dia inginkan dari Yixing?"
Hyuna mengerang. Leo tidak akan berhenti mengorek informasi, dan dia tanpa sengaja telah membocorkan informasi penting kepada lelaki ini. Ya ampun. Junmyeon akan amat sangat marah kepadanya.
"Aku tidak tahu. Dia memintaku dan aku melakukannya. Aku tidak bertanya apa tujuannya dan kenapa. Kalau kau memang ingin tahu, tanyakan pada Mr. Suho sendiri." Hyuna mengibaskan rambutnya dan membalikkan tubuhnya, kemudian berhenti dan menatap Leo penuh peringatan, "Jangan menggangguku lagi Leo. Atau aku akan melaporkanmu kepada polisi atas perbuatan tidak menyenangkan, dan aku tidak main-main." Serunya sebelum melangkah pergi, meninggalkan Leo termenung di sana.
Dahi Leo berkerut memikirkan jawaban Hyuna. Jantungnya berdegup kencang. Jadi benar semua dugaannya. Semua ini sudah direncanakan oleh Mr. Suho. Lelaki itu dari awal mungkin sudah mengincar Yixing dan berniat menyingkirkannya, meskipun dengan cara yang licik. Leo menggertakkan giginya. Dia telah dijebak dan dipermalukan di depan Yixing, tanpa kesempatan untuk membela diri. Kemudian Yixing mencampakkannya begitu saja untuk menikahi Mr. Suho.
Leo tidak akan tinggal diam. Dia akan membalas, ketika waktunya sudah tepat nanti.
.
.
.
"Aku ingin kau segera hamil." Junmyeon tersenyum sambil mengusap perut Yixing. Mereka sedang berbaring di atas ranjang, bersiap untuk tidur setelah percintaan mereka yang panas dan bergelora. Tubuh mereka telanjang di balik selimut, saling memeluk erat.
Yixing yang sudah setengah tertidur di pelukan Junmyeon langsung terjaga mendengarnya. Hamil, mengandung anak Junmyeon. Pikiran itu terasa begitu menyenangkan untuknya. Memiliki anak-anak dari Junmyeon, yang tampan dan eksotis dengan rambut gelap dan mata berkilauan, pasti amat sangat membahagiakan.
"Apakah kau mau mengandung anak-anakku?"
"Tentu saja Junmyeon." Yixing tersenyum dan mendongakkan kepalanya, menatap Junmyeon lembut, "Kau kan suamiku. Pikirmu aku akan mengandung anak siapa kalau bukan dirimu?"
Junmyeon tertawa, tawa yang dalam dan terdengar seksi di telinga, mengalun lembut, "Kalau begitu kita harus giat mengusahakannya."
Yixing mengangkat alisnya, "Kau melakukannya pagi, siang, sore, dan malam… kurang giat apalagi?"
Tawa Junmyeon memenuhi ruangan. Dia memeluk Yixing dengan lembut, berdoa semoga kebahagiaan ini tidak pernah berakhir.
.
.
.
Seluruh pelayan sudah kembali ke rumah pagi ini dan kegiatan berlangsung seperti biasa. Yixing sedang di dapur belajar membuat kue kelapa bersama Alfred. Ketika suara ribut-ribut terdengar dari lorong, yang mau tak mau terdengar sampai ke dapur. Itu suara Junmyeon, lelaki itu sedang mengumpat-umpat di telepon. Mengumpat-umpat?
"Bagaimana mungkin dia bisa lolos? Ini pulau pribadi. Tidak sembarang orang bisa kemari." Kemarahan tercermin jelas dalam suara laki-laki itu.
Suara di seberang telepon menjawab, tampak mencoba menjelaskan dengan panik. Tetapi kemudian Junmyeon memotongnya dengan tajam.
"Sudah. Kita bicarakan keteledoran yang dibuat anak buahmu nanti. Kau yang harus menanggung ini semua. Nanti. Begitu aku selesai membereskan masalah ini." Lalu Junmyeon menutup telepon dengan kasar. Membuat Yixing merasa kasihan pada siapapun yang menjadi lawan bicara Junmyeon di telepon.
Beberapa detik kemudian pintu dapur terbuka, dan Junmyeon masuk dengan wajah serius.
"Yixing." Junmyeon memanggil dari ujung dapur. Membuat Yixing yang sedang bertaburan tepung dan membantu Alfred membentuk kue di cetakan menoleh,
"Ya Junmyeon?"
"Kemari, aku ingin bicara."
Junmyeon tidak pernah sekaku ini ketika berbicara kepadanya, membuat Yixing mengerutkan keningnya. Apakah lelaki itu sedang marah. Kepada siapa? Kepadanyakah?
Dengan hati-hati dia melangkah keluar dapur, mengikuti Junmyeon ke arah teras samping. Junmyeon berdiri di sana, mondar-mandir dengan wajah gusar.
"Ada apa Junmyeon?"
Lelaki itu melangkah mendekati Yixing dan merengkuh kedua bahunya, membuat Yixing dekat dengannya.
"Anak buahku mengacau. Kita akan kedatangan tamu. Bukan tamu yang menyenangkan, tetapi kita terpaksa menampungnya beberapa hari demi kesopanan. Aku harap kau mengerti."
Yixing menganggukkan kepala. Sedikit lega mendengar perkataan Junmyeon, Jadi hanya karena masalah itu? Seorang tamu, meskipun terasa aneh karena datang di bulan madu mereka, tampaknya tidak menjadi masalah besar. Yixing pasti bisa menghadapinya. Kalau begitu kenapa Junmyeon masih tampak begitu gusar?
Junmyeon yang masih mencengkeram kedua bahu Yixing mendesah kesal. "Dia bukan tamu biasa. Dia mungkin datang untuk mengacau, seperti yang Seulgi ramalkan. Aku minta maaf Yixing, aku tidak menyangka dia akan seberani itu, menyusulku kemari."
"Siapa Junmyeon?" Yixing berubah waspada, karena Junmyeon tampak begitu serius tentang tamu yang satu ini.
Junmyeon menatap Yixing pahit. "Dia mantan kekasihku Yixing. Anak buahku mengatakan dia tidak bisa mencegah kedatangannya kemari. Sekarang dia sedang dalam perjalanan dengan perahu boat kemari. Maafkan aku."
.
.
.
Memikirkan bahwa Junmyeon mempunyai mantan kekasih sebelumnya, yang tentunya juga berbagi hal-hal intim bersama lelaki itu sungguh membuat semuanya terasa aneh.
Seharusnya Yixing siap. Minseok dulu pernah mengatakan kepadanya bahwa Junmyeon pernah punya beberapa kekasih yang berhubungan dengannya tanpa status. Yixing mungkin bisa melupakan itu semua kalau situasinya tidak seperti ini. Seorang mantan kekasih yang nekat tampaknya bertekad merebut Junmyeon kembali. Dan Yixing harus menghadapinya.
Astaga. Kenapa dia ada di dalam situasi begini? Apa yang harus dia lakukan? Dengan bingung Yixing memencet nomor ponsel Minseok. Dalam deringan kedua ponsel itu diangkat,
"Ada apa Yixing? Apakah kau sudah pulang dari bulan madumu?"
"Bukan Minseok. Aku ingin menanyakan sesuatu."
"Tentang apa?"
"Tentang mantan kekasih Junmyeon."
Sejenak Minseok tertegun di seberang sana, lalu bergumam ragu. "Well sayang, menurutku ketika kita sudah menikah dengan seseorang, tidak perlu mengungkit-ngungkit masa lalu, apalagi mencari informasi tentang mantan pacar pasangan kita…"
"Bukan begitu Minseok. Aku bukannya ingin menyelidiki masa lalu Junmyeon. Aku hanya ingin tahu apa yang harus kuhadapi. Mantan kekasih Junmyeon.. entah yang mana tampaknya tidak terima dengan pernikahan ini, dan entah dengan jalan cerdik apa berhasil menyusul ke pulau ini… dia sedang dalam perjalanan kemari, dan sebentar lagi sampai."
"Apa?" Minseok memekik marah, "Siapa perempuan tidak tahu malu itu?"
"Kata Junmyeon, namanya Sulli."
"Sulli.. oh Astaga." Suara Minseok tertelan di seberang sana.
Yixing mengernyitkan kening, tiba-tiba diserang perasaan buruk karena kediaman Minseok, "Ada apa Minseok? Kenapa kau terdiam?"
"Karena mantan pacar yang kau hadapi adalah musuh yang paling berat." Minseok menghela napas panjang, "Sulli bisa dikatakan kekasih permanen Mr. Suho, dia selalu kembali kepada perempuan itu. Sulli adalah perempuan keras yang mandiri, tampak tidak butuh laki-laki, dan hubungannya dengan Mr. Suho hanya demi kenikmatan semata. Tetapi sepertinya dia tidak rela Mr. Suho menjadi milik perempuan lain, karena dia terbiasa memiliki Mr. Suho untuk dirinya sendiri. " Minseok menghela napas panjang, "Dia sangat pandai mengintimidasi lawannya. Hati-hati Yixing. Jangan sampai kau tertekan di bawah auranya."
Yixing mendesah ketika pembicaraannya dengan Minseok berakhir. Ternyata mantan pacar Junmyeon yang akan datang kemari adalah yang paling hebat di antara semuanya. Jantung Yixing berdetak penuh antisipasi. Menanti apa yang akan terjadi nanti.
.
.
.
Ketika perempuan itu memasuki rumah, dengan koper-kopernya dibawa oleh para pelayan, Yixing yang berdiri di belakang Junmyeon merasa bahwa mimpi buruknya benar-benar datang. Bagaimana mungkin dia bisa menghadapi perempuan ini? Dia bagaikan dewi yang datang dari surga. Keseluruhan dirinya sangat sempurna. Dari caranya berpakaian yang berkelas, tubuh sempurnanya yang indah, bentuk wajahnya yang klasik dan sensual, dibingkai oleh rambut panjang indah berkilauan. Bahkan bentuk alisnyapun sempurna. Yixing mengamati diam-diam dan merasa letih tiba-tiba.
"Kenapa kau datang kemari Sulli?" Junmyeon yang menyapa Sulli duluan, sikapnya waspada dan tidak bersahabat.
Sulli menatap Junmyeon dan tersenyum manis, "Kenapa kau tidak kemari dan memelukku seperti biasanya Junmyeon? Aku rindu pelukanmu." Suara Sulli terdengar rendah dan seksi. 'Dan kenapa aku kemari? Itu karena aku merindukanmu. Aku pulang dari luar negeri dan menunggu panggilanmu. Biasanya kau akan menghubungi dan menemuiku, aku sudah tak sabar melewatkan waktu berdua denganmu. Tetapi kau tidak mengunjungiku. Lalu kudengar kau sedang ada di pulau ini, jadi aku menyusulmu kemari."
Sulli sudah jelas menyadari kehadiran Yixing di belakang Junmyeon, tetapi hal itu tidak membuatnya menahan kata-kata vulgar dan penuh rayuannya kepada Junmyeon. Apakah Sulli tidak tahu bahwa Junmyeon dan Yixing sudah menikah? Yixing menghela napas dan mengalihkan pandangan kepada Junmyeon. Suaminya itu tampak tidak suka dengan kata-kata Sulli. Lelaki itu mundur, seolah menjaga Yixing dari sambaran Sulli,
"Aku sedang berbulan madu, Sulli. Dengan istriku."
"Oh?" Sulli tampak tidak kaget. Berarti perempuan itu sudah tahu bahwa Yixing adalah isteri Junmyeon, betapa kejamnya dia mengucapkan kalimat penuh rayuan tadi kalau begitu. "Tidak masalah untukku." Suara Sulli terdengar manis, "Aku ingin bertemu denganmu Junmyeon, bukan dengan istrimu." Dengan langkah anggun dia mendekat dan berdiri di depan Junmyeon dan Yixing. Matanya dengan sengaja menelusuri Yixing dari atas ke bawah. Yixing tentu saja tidak sama dengan Sulli, dia tidak mengenakan baju rancangan desainer ternama, hanya mengenakan kemeja longgar berwarna putih dan celana jeans yang sudah memudar warnanya.
Senyum Sulli kemudian lebih seperti senyuman mencemooh, "Yixing bukan nama isterimu." Sulli tersenyum manis kepada Junmyeon, seolah tidak menganggap Yixing ada, "Aku ingat saat-saat manisku ketika aku mendengar nama Yixing." Senyum Sulli tampak penuh arti dan tatapannya menggoda penuh rahasia, yang seketika itu juga membuat wajah Junmyeon merah padam karena marah.
Sulli tertawa ketika melihat reaksi kemarahan Junmyeon yang diharapkannya karena sindirannya, dia mengedikkan bahunya ke arah tangga, "Kuharap pelayan bisa menunjukkan di mana kamar tamunya, aku lelah karena perjalanan ini. Mungkin aku akan istirahat dan tidur sejenak." Dengan nakal dikedipkannya matanya kepada Junmyeon, "Meskipun aku tidak akan menolak kunjungan singkat di siang hari seperti yang biasanya kau lakukan dulu Junmyeon." Sulli membalikkan tubuhnya dan melangkah anggun. Meninggalkan Junmyeon dan Yixing yang membeku di dalam keheningan. Keheningan tidak mengenakkan yang menyesakkan dada.
.
.
.
=TBC=
