Frozen as Frost

Bab 7. Ulahku

J A C K

Matahari sudah beranjak tinggi, bahkan aku sudah mendengar suara berisik para yeti yang bekerja mempersiapkan hadiah yang akan dibagikan saat natal tiba. Tapi rasanya, kepolak mataku belum mau beranjak dari mataku. Dan aku terlalu lelah untuk bangkit dari tempat tidurku.

Hei apa yang kalian pikirkan? Makhluk sepertiku tidak tidur? Oh yeah, itu bisa jadi benar, tapi kami juga merasa lelah. Mungkin lelah adalah 'mengantuk' versi kami, walau tooth, bunny dan north tidak tidur saat lelah, tapi apa salahnya jika aku begitu?*

Semalam, aku mengendap-endap mengambil portal milik North. Dia bilang aku hanya boleh memakai satu kali pulang-pergi portal dalam sehari, karena aku hanya akan menghabiskan portal-portal miliknya.

Tapi siapa peduli? Portal diciptakan untuk digunakan. Lagipula—sejauh ini—hanya aku yang menggunakannya, karena semuanya terlalu sibuk dengan urusannya.

Musim dingin masih sebulan lagi, dan karena itu, sekarang ... aku pengangguran.

Aku tidak memiliki pekerjaan lain selain mengangguk para yeti atau berjalan-jalan tidak jelas. Jadi, daripada aku melakukan hal yang sudah kulakukan selama beratus tahun aku hidup, lebih baik aku jalan-jalan di Arendelle—karena aku bisa mendatangi tempat itu saat musim dinginnya saja.

Tadi pagi, aku kembali datang ke Arendelle, dan aku melihat ada kereta kuda yang terhenti di depan sebuah jembatan kayu—saat aku berjalan-jalan.

Kelihatannya itu seperti kereta kuda kerajaan, apa didalamnya ada Raja, ratu atau semacamnya? Aku menukik turun, dan berjongkok di atas sebuah pohon. Tentu saja mereka tidak bisa melihatku.

Bahkan kuyakin, mereka tidak pernah mendengar tentang kisahku, entahlah.

Mereka tampak berbalik arah—mungkin karena jembatan yang rusak. Lalu, kuda mereka tampak terluka, dan mereka akhirnya berjalan. Wow ditengah cuaca seperti ini, bahkan sepertinya badai akan datang, mereka nekad berjalan kaki. Hebat sekali.

Aku terbang kembali, dan angin berhembus begitu aku bergerak. Oh, maaf, sepertinya karenaku, mereka tampak kedinginan. Terutama, untuk gadis kecil berambut ... platinum blonde?

Warna rambutnya pucat, hampir mendekati putih. Walau kuyakin, jika disejajari oleh rambutku, rambutnya akan terlihat bewarna. Hei, rambutku bewarna silver. Tapi sepertinya, aku mengenali warna rambut itu, aku berpikir sejenak.

Ohya! Itu sama seperti warna rambut putri kerajaan Arendelle, hei rambut mereka warnanya sama.

Tapi aku tidak bisa berlama-lama di dekat mereka, aku hanya akan membuat mereka mati membeku kalau begitu terus menerus. Akhirnya, akupun beranjak pergi.

Malam hari, aku kembali ke tempat tadi. Hari sudah pagi, dan matahari tampak cukup cerah disini. Aku terbang mendekati istana. Entah apa nama kerajaan ini, karena yang pasti ini bukan Arendelle.

Aku melihat dua orang laki-laki, berambut pirang dan cokelat gelap, berjalan bersebelahan, dengan pedang di pinggang mereka. Juga—hei, itu si rambut pirang pucat! Tak kusangka aku bertemu dengannya lagi.

Aku berjongkok di salah satu pohon, memperhatikan mereka. Si pirang pucat tampak memperhatikan sekeliling, sedang dua temannya berbincang sambil menunjuk-nunjuk tempat, tangan mereka memegangi pedang di pinggang mereka, seolah waspada jika ada sesuatu bergerak.

Oh, mereka sedang berburu?

Tiba-tiba si pirang pucat berlari ke arah pohon tempatku berjongkok, sambil ... melihatku? Hei dia bisa melihatku? Gawat—

Aku segera loncat mejauh dari pohon itu, tapi lalu turun, bersembunyi dibalik pohon tak jauh dari mereka.

"Ada apa Elsa?" seru si rambut pirang, berlari mendekati si rambut pirang pucat—yang sepertinya bernama Elsa—begitu juga dengan si rambut cokelat gelap.

"Kau melihat tupai terbang?" tanya si cokelat gelap semangat. Tupai terbang? Haha, sepertinya benar tebakanku, mereka sedang berburu.

"Bukan, bukan tupai terbang yang kulihat, tapi, seseorang ... yang terbang, mungkin," sahut Elsa.

"Seseorang terbang?" ulang si cokelat gelap . "apa maksudmu?" oh perlu dikoreksi, aku tidak terbang barusan, aku meloncat.

"Tadi aku melihat seseorang, berjongkok ditas situ," kata Elsa. Hei, dia melihatku? "memakai baju biru, karna jauh, aku tidak melihat wajahnya, tapi dia menghilang begitu saja, seolah ...,"

"Seolah dia terbang?" lanjut si pirang.

"Kau mungkin berkhayal," kata si cokelat gelap "kau tahu, fatamorgana, itu bisa saja terjadi."

"Memang fatamorgana bisa seperti itu?".

"Kita anggap saja begitu,"

Ya benar, anggap saja seperti itu, bocah. Gawat sampai sosokku terlihat. Dengan segera, aku terbang menjauh dari mereka, mendekati sebuah bukit tidak jauh dari sana.

Angin berhembus kuat mengikuti arah gerakku, mungkin aku bisa membuat badai sekarang, haha.

Beberapa saat, aku bermain disini, tiba-tiba tiga bocah itu mendekati bukit ini. Sial, si ramput pirang puca—Elsa maksudku—bisa melihatku. Aku kembali terbang menjauh, kenapa aku jadi menghindari mereka begini sih?

Ah sudahlah, lagipula kalau aku sampai terlibat oleh mereka, bisa-bisa aku mengubah takdir. North tidak akan menyukai itu.

"Heiii!"

"Kau yang berbaju biru! Keluarlah! Kami membutuhkan bantuan muu!"

Aku terhenti begitu mendengar seseorang berseru—seolah memanggilku. Berbaju biru? Hei kebetulan sekali, aku juga memakai baju biru.

Aku mendarat di dekat pohon, hingga gadis kecil itu berlari mendekatiku.

Ach, gawat aku harus segera per—

"Tuan!" serunya. "tuan berbaju biru, jangan pergi dulu!"

Apa-apaan itu? Dia memanggilku? Apa aku terlihat setua itu, hingga pantas dipanggil tuan? Ah lupakan. Dia sudah melihatku, tapi sepertinya dia ... dalam kesulitan.

"Tuan, syukurlah," Dia tampak mendongak, lalu memperhatikan rambutku. Rambutku memang aneh, kuakui itu.

"Kau, ng ... bisa melihatku?" tanyaku, tidak yakin, Bagaimana bisa dia melihatku?

Dia mengernyit. "Tentu saja," balasnya cepat. "teman kami sedang kesulitan, kumohon kau bersedia membantu kami.".

Aku menggaruk pelipisku, sedikit ragu. "Aku bisa saja membantumu, tapi ..., ng," belum aku menyelesaikan kalimatku, dia sudah menarik tanganku, akupun berjalan mengikutinya.

Dalam hati berdoa semoga dia tidak dikatakan aneh karena menarik angin.

"Elsa!" seru si pirang. "Dan ...," dia tampak memperhatikanku, kejutan, dia bisa melihatku. Bagaimana bisa?

"Aku menemukannya, dia bilang dia bersedia kita." Kata Elsa, terdengar senang.

Si pirang tersenyum. "Terima kasih sebelumnya," katanya sopan. Terlihat sekali, dia anak yang memiliki pendidikan berkelas.

Aku tersenyum pada mereka. "Apa yang bisa kubantu?" tanyaku.

Si rambut gelap meringis. "Kakiku terkilir, kuharap kau mau menolongku untuk kembali ke tempat kami." Katanya.

"Aku bisa membantu kalian, tapi tolong pegangi tongkatku." Kataku, mengulurkan tongkatku pada si pirang dan satu-satunya perempuan disini.

Elsa tampak melirik kearah si pirang. "Biar aku saja," katanya, mengambil tongkatku. Ia terdiam sebentar memperhatikan tongkatku.

Si pirang berjalan mendekatiku, merangkul tangan si rambut gelap yang satunya. "Aku bisa membantumu membawa Tobias." katanya yakin.

"Tidak apa, aku kuat menggotongnya sendiri." Kataku menyakinkannya. Si pirang—satu-satunya yang belum kuketahui namanya—tampak tidak enak padaku, tapi setelah kuyakinkan kembali, akhirnya dia mengalah. Kamipun berjalan beriringan.

Tapi sebagai roh musim dingin, hawa musim dingin akan selalu mengikutiku. Terlihat si pirang dan si rambut gelap—Tobias—menggigil di sampingku. Hanya si gadis kecil, Elsa, yang tampak tidak terpengaruh dengan cuaca dingin ini.

Ditengah jalan, si pirang merasa kakinya kesakitan dan minta istirahat sebentar. Dia bilang tempatnya sudah cukup dekat, hanya saja tidak terlihat karena kabut dari badai.

Aku mengiyakan saja, mendudukkan Tobias di bawah sebuah pohon. Elsa ikut duduk di samping Tobias. Aku meregangkan tanganku. Sepertinya mereka tidak mengenaliku, tapi bagaimana mereka bisa melihatku?

Kalau mereka tidak mengenalku, rasa mustahil mereka mempercayaiku. Bukankah begitu? Hm.

"AWAS!"

Seru Elsa tiba-tiba, mengejutkanku. Aku menengok kebelakang dengan cepat. Dan mataku terbelak.

Elsa menggerakkan tangannya ke atas kepalanya, dan es mendadak muncul, menghentikan patahan pohon pinus yang hampir mengenai mereka.

Hei tunggu, darimana asalnya es itu? Elsa? Bukan ... aku?

Aku menoleh kearah tongkatku, terbaring di atas salju. Sihir es hanya akan ada saat aku yang memegang tongkat itu. Mungkin kalau ada aku yang lain, tongkat itu juga akan bekerja, sayangnya hanya ada satu aku didunia ini.

"Apa ... itu ... barusan?"

Tanya si pirang terpatah. Es pirang, itu es.

"Tangan Elsa mengeluarkan ... es." Balas yang lainnya.

Elsa kembali menggerakkan tangannya, benar, itu berasal darinya. Ia tampak takut dengan tangannya sendiri, lalu gantian memperhatikan kami. Tangan kanannya tampak gemetar—dan aku yakin itu bukan kedinginan. Tiba-tiba ia berlari dari kami, si pirang memanggil-manggilnya, tapi Elsa tidak berhenti.

Aku sempat mengusulkan untuk menyusulnya, tapi sebelum ide itu dipikirkan, terdengar langkah kaki kuda yang terdengar segerombol. Mereka meneriakkan 'pangeran' berkali-kali. Hingga mereka berjumpa dengan kami.

Oh apa itu pengawal kerajaan? Apa yang mereka lakukan disini?

Salah satu dari mereka membawa si pirang keatas kuda, juga Tobias. Mereka bahkan menawarkanku juga, tapi untuk apa? Aku tidak perlu kuda untuk pergi. Mereka lalu pergi meninggalkan aku—yang langsung terbang lagi.

Aku masih terpikir dengan bocah itu—Elsa. Bagaimana caranya dia mengeluarkan es dari tangannya? Bahkan aku harus menggunakan tongkatku. Aku mencari bocah itu, berkeliling kota hingga sore menjelang. Hingga aku melihat sebuah kereta kuda kerajaan.

Benar juga, aku melihatnya turun dari kereta yang sama sebelumnya. Aku mendarat di dekat sebuah lintasan kereta kudanya. Dan saat kereta kuda itu melintas, kami saling bertemu. Elsa sedang melihat keluar jendela, dan matanya tampak terbelak kaget. Kubiarkan kereta kuda itu berjalan, lalu terbang kembali, mengikuti jalan kereta kuda itu.

Ternyata kereta kuda itu menuju kerajaan Arendelle. Begitu sampai di perkarangan istana, para pengawal berbaris, lalu membuka pintu kereta kuda itu. Seorang laki-laki, dengan pakaian yang terlihat mewah keluar dari kereta kuda itu—mungkin dia sang raja. Elsa keluar mengikuti sang raja kemudian.

Wajahnya tampak murung, dan langsung pergi masuk kedalam istana. Apa dia juga masih memikirkan apa yang baru saja terjadi pada tangannya?

Aku mengikutinya diam-diam, tiba-tiba, dari arahku, seorang perempuan berambut pirang seperti rambut laki-laki sebelumnya, berlari kearah Elsa.

Dengan semangat, dia memeluk Elsa dari belakang.

"Elsa! Kau sudah kembali!" serunya senang. Hei kenapa dia tidak bisa melihatku? Aku mengernyit bingung, tapi segera bersembunyi kembali, karena melihat Elsa yang berbalik sambil tersenyum lebar.

Elsa balas memeluknya. "Maaf sudah meninggalkanmu Anna."

"Elsa dari mana saja?" tanyanya. "pasti menyenangkan ya, bisa jalan-jalan seperti itu bersama Ayah. Aku juga ingin menjadi ratu seperti Elsa!"

Ow, Elsa putri mahkota? Dia putri kerajaan ini?

Aku terdiam sebentar. Berarti dia gadis yang sama yang telah kuhidupkan kembali?

Elsa tampak berbicara dengan gadis kecil—yang satunya—dengan senang, lalu berjalan pergi.

Aku masih mematung ditempat, memegangi kepalaku.

Apa yang sudah kulakukan...?

Aku melakukan hal yang fatal, jangan bilang Elsa, memiliki kekuatannya ...

Karena ulahku?

a.n

jujur saya lupa mukanya jack pas nulis chapter ini-_- akhirnya nostalgia, nonton rotg lagi dan keterusan :")

selalu sedih kalo mikir jack 'mati' karena adeknya haha... mana adeknya mirip gitu sama jamie :"3 #jadi curcol #baper #plak

sip, disini jack belum kenalan sama elsa

sip, ini cuma jelasin sudut pandangnya jack aja haha

sip, saya lagi stuck

sipsipsip

[*] ini saya ga beneran tau apa jack bisa tidur._. mungkin enggak sih, tapi diawal cerita, dia baru 'bangun' haha. Gak papalah ya, iya-in aja heuheu :3