Gangsta ©Indiah Rahmawati

T+ (M) | All Member BangtanBoys | All Bangtan Couple

Paris, Monday, 20 March 2017

Jimin berbaring dengan tenang diatas kursi baring dan menikmati angin sejuk beserta dengan sinar matahari yang menerpa tubuhnya. Ia membiarkan rambut hitam kecoklatannya tertiup angin, dan merasakan aroma herbal bunga lafender dari alat pewangi ruangannya. Ini sudah kesekiannya mereka mendapat misi diluar negri dan Jimin akan selalu menikmatinya.

"YAAAAA!"

Satu hal yang pasti adalah suara ribut Taehyung yang selalu memenuhi ruangannya. Jimin selalu mendapat kamar dengan Taehyung, dan kadang mereka sama sekali tak mendapatkan tugas. Jimin tak masalah dengan itu tapi Taehyung bukan tipe orang yang suka diam. Sedari tadi ia sibuk dengan game di handphone miliknya. "argh! Mereka mendesakku!" Taehyung melempar handphone miliknya keatas kasur, ia langsung bebaring disana "Jimin-ah!"

"yak... aku masih jauh lebih tua dari mu"

"sekali Jimin, tetap Jimin! Aku bosan..." kata Taehyung malas

Jimin tertawa pelan mendengar Taehyung "lalu kau mau apa?" tanya Jimin

"keluar! Cari club dan kita senang-senang" kata Taehyung merentangkan kedua tangannya

"apa ada club disiang hari?" tanya Jimin. Suara erangan Taehyung terdengar lagi. Jimin tertawa. Taehyung memang kekanak-kanakan, tapi ia satu-satunya penyemangat digrub ini. "baiklah... mari jalan-jalan... kita cari churros untuk yang lain juga" kata Jimin bangkit dari duduknya

Taehyung melompat dari kasurnya "YEAY!" Taehyung berlari menuju Jimin dan memeluknya bahkan mengangkatnya, meningat tinggi mereka yang jauh berbeda "kau memang yang terbaik Jimin-ah!"

"turunkan aku, atau aku berubah fikiran..." kata Jimin datar

Taehyung segera menurunkannya dan merapikan rambut Jimin, ia menunjukkan senyuman kotaknya "tapi... gunakan uangmu, ya" ia mengedipkan matanya dua kali. Dan Jimin hanya bisa memutar bola matanya malas

"ok ok... cepat rapikan dirimu" Jimin mengambil handuk dan menuju kamar mandi. Taehyung melompat dan meraih lemari untuk memilih jaket dan coat. Setelah beberapa menit pintu kamar mereka terbuka, Jimin mengakan jaket hitam dan sweter biru tua didalam jaketnya, jeans panjang dan sepatu hitam. Taehyung mengenakan pakaian putih dengan kerah bermotif ular, coat hitam panjang, dan celana panjang. Saat keluar dari hotel, bukan 'bangtan' namanya kalau tak menarik banyak perhatian, beberapa orang asing tampak melihat mereka cukup kagum. Memang sudah banyak beredar berita tentang ketampanan serta kecantikan orang-orang asia dieropa, jelas saja penampilan Jimin dan Taehyung menarik hati wanita-wanita luar. "kita akan pergi kerestoran terdekat saja..." kata Jimin melihat handphonenya mencari tempat yang dekat dari hotel mereka

Mereka berdua masuk kesebuah toko desert, Jimin mulai menunjukkan kemampuan bahasanya. Ia memesan beberapa makanan kecil serta makanan tujuan mereka sejak awal. Taehyung menunggu sambil melihat-lihat orang-orang yang berlalu lalang. Jimin selesai membayar dan membungkus semuanya, Jimin mendekati Taehyung, sampai seseorang menabraknya. Mereka saling berpandangan untuk beberapa saat, sampai orang yang mengenakan topi hitam yang menabraknya berjalan pergi. Jimin memandangnya sebentar, dan kembali pada Taehyung.

Orang bertopi hitam tadi keluar dengan senyuman aneh. Ia berjalan keluar menuju sebuah gang melewati orang-orang yang tak peduli. Ia mengeluarkan sebuah dompet hitam yang baru ia curi, ia tersenyum senang mengetahui jumlah uang yang ia dapat "kau benar-benar ahli dalam hal ini, iya kan?" Orang itu terkejut, ia melihat Jimin didepannya. Orang itu berbalik hendak keluar gang tapi Taehyung sudah menunggu disana sambil mengunyah permen karet. Orang bertopi itu berdecak kesal "tapi sayangnya kau berurusan dengan orang yang salah" kata Jimin

"kau tak akan pernah mengerti" katanya menggunakan bahasa korea

"oh! Kau bisa bahasa Korea, baguslah... kita tak perlu susah-susah menghajarnya" kata Taehyung

Jimin mempertajam pandangannya. "lalu apa yang kau inginkan..."

"dengar, kalian tak mengerti. Aku juga tak mau melakukan ini, tapi ini harus, Kumohon lepaskan aku! Aku punya dua anak saat ini" ia memohon, didepan Jimin

"yak... kau, jangan coba-coba menipu kami" Taehyung meletakkan kedua tangannya disaku celanannya. Ia masih memperhatikan orang didepannya

Jimin tersenyum, "kembalikan dompetku kalau begitu..." Jimin mengulurkan tangannya. Orang itu mengangguk dan melempar dompet milik Jimin. Jimin menerimanya, dan membuka dompetnya memastikan semua tak hilang, ia menatap orang itu lagi. "ambilah sedikit untuk anak-anakmu" Jimin melempar beberapa lembar uang yang sudah ia ikat. Orang itu menerimanya, dan membungkuk berterima kasih. Orang itu pergi setelah menerimanya dan melewati Taehyung, mereka bertatapan sejenak dan akhirnya ia pergi.

Jimin mendekati Taehyung, "kenapa kau biarkan dia pergi?" tanya Taehyung. Yang ditanya hanya tertawa "kau gila ya?"

"terkadang... kau tak bisa percaya yang kau dengar" Jimin mengeluarkan satu pepatah. Mereka memandang orang bertopi itu menyebrang jalan yang sepi...

BRAK!

Sebuah mobil menghantam tubuh orang yang baru saja mencuri tadi. Taehyung cukup terkejut, tapi tidak dengan Jimin. Tubuh kurus itu langsung terlempar kejalan, topi hitam melayang diudara, dan mendarat tepat dijalan yang merah. Jimin dan Taehyung tetap diam dan melihat orang-orang mulai mengerumuni tempat kejadian. "kajja" Jimin menyuruh Taehyung pergi. Mereka akhirnya meninggalkan tempat kejadian

"apa yang kau lakukan?" tanya Taehyung membawa bungkusan makanan yang tadi mereka beli

Jimin tersenyum "kau tak bisa percaya apa pun Tae-ah..." Jimin berjalan didepan Taehyung "aku tau dia berbohong padaku, semua ucapannya hanyalah tipuan belaka... Ia mengembalikan dompetku, dan aku tau ia mengambil setengah dari uangku... aku hanya menipunya, dan memberikan lipatan uang itu. Karena keserakahannya, Ia tak tau apa didalamnya"

"jadi..."

"itu alat khususku. Ia seperti magnet tegangan tinggi. Aku memberikannya padanya dan alat itu akan menarik mesin mobil didekatnya. Menarik mesin mobil untuk menyala selama 5 detik, dan berjalan menuju magnet buatanku. Dengan kecepatan yang cukup untuk menghantam tubuh seseorang..." jelas Jimin

Taehyung melihat Jimin "ternyata kau bisa kejam juga... tapi bukannya itu sedikit menyakitkan?" tanya Tehyung

"sudah kukatakan..." Jimin membalik badannya melihat kearah Taehyung "kau tak bisa percaya siapa pun..." ia tersenyum membelakangi sinar matahari

Taehyung terdiam, senyuman aneh Jimin lagi. Senyuman kelam, seolah menceritakan satu cerita pahit yang cukup menyayat hati seseorang. Taehyung bersikap tak tau, dan hanya mengangguk. Taehyung mendekati Jimin dan meraih pundak Jimin untuk merangkulnya "sudahlah, mari pulang dan makan makanan manis kita ini!"

Jimin terkejut, dan hanya tertawa dan mengikuti Taehyung pergi. Mereka berjalan kembali menuju hotel dan tak memperdulikan mobil ambulan yang melewati mereka. Perjalanan kembali merupakan hal yang sangat Jimin butuhkan saat ini, mereka sudah sampai hotel dan menuju kamar mereka. Tapi ada hal aneh, karena pintu kamar mereka tak dikunci "apa kau lupa mengunci pintu?"

"aniyo?" Taehyung menggelengkan kepalanya dan menunjukkan kartu kamarnya. Mereka membuka pintu dan menemukan kamar yang gelap. Jimin tanpa ragu menyalakan lampu, dan yang mereka temukan hanya kamar yang berantakan. "apa-apaan ini..." Taehyung melihat-lihat

Sedangkan Jimin langsung menuju kamar tidur dan membuka lemari pakaiannya. Ia temukan fakta lain. Lemarinya kosong, dan semua pakaiannya ada di lantai. "mereka mencurinya..." kata Jimin

"mwo?" Taehyung datang mendekati Jimin

Jimin tak bicara dan malah memukul alas lemari, membukanya hingga kayu itu hancur. Ada sedikit ruang yang ada dikaki lemari, dan Jimin terlihat mengeluarkan sesuatu dari rongga tersebut. Taehyung memperhatikannya dengan baik, Jimin mengeluarkan sebuah laptop. "yang mereka incar ini..."

"laptop-mu? Untuk apa?" tanya Taehyung

"entahlah..." Jimin berbohong. Ia tau jelas apa yang orang-orang itu incar. "lebih baik kau hubungi Namjoon hyung, aku akan periksa tempat ini..." lanjut Jimin. Taehyung mengangguk dan berjalan pergi. Jimin memastikan Taehyung pergi dan segera membuka laptop miliknya. Ia membuka password miliknya dan membuka beberapa file, setelah memastikan semuanya aman, Jimin mengecek kembali lemarinya. "mereka mencurinya... tapi tak masalah itu hanya salinannya..." Jimin duduk dikasurnya dan mengambil sesuatu dibawah kasurnya. Sebuah kotak, ia membukanya dan hanya menemukan kotak kosong. Bukan Jimin namanya, kalau ia tak punya hal lain selain kekosongan. Ia membuka satu tali tipis untuk membuka alas kotak tersebut, dan menemukan sebuah kertas. "apa pun nantinya... mereka tak akan menemukan ini..."

Taehyung datang "Namjoon hyung sebentar lagi kembali" kata Taehyung. Jimin mengangguk setelah menyembunyikan barangnya kembali

"barangmu hilang?" tanya Jimin

"cuma satu barang... tak terlalu penting" kata Taehyung "selama dia tak mencuri sandal limited edition yang kubeli, ia akan selamat..." perkataan Taehyung melepaskan tawa Jimin. Selain pembunuh, Taehyung juga pengoleksi, sayangnya semua koleksinya bukanlah hal murah. Setengah uang mereka habis hanya untuk semua koleksi Taehyung. Koleksi limited edition yang selalu Taehyung incar. Karena itu Jin selalu pusing masalah keuangan grub ketika Taehyung mulai mencuri untuk kepentingannya.

"Heh... pasti selalu itu. Berhentilah membeli barang-barang itu Tae" kata Jimin merapikan pakaian yang tersebar dilantai.

"heh, aku akan beli apa pun yang aku suka" Taehyung keluar. Dan Jimin hanya tersenyum melihat sikap kekanakan Taehyung lagi.

Setelah memastikan Taehyung keluar, Jimin melihat kearah lampu yang ada dimeja. Ia mengangkatnya dan langsung memutuskan kabelnya begitu saja. Ia mengambil sebuah kotak hitam disaku jaketnya, dan dengan hati-hati langsung menyambungkannya kesebuah lubang yang ada dikotak tersebut. Jimin membuka kotak itu, kotak hitam itu seperti sebuah laptop mini, tapi hanya ada layar kecil, satu tombol, dan sebuah mouse berbentuk setengah bola. "Let's see..." Jimin mulai mendapat banyak data biner, ia mendapat beberapa dan masuk kedalam cctv. Semua Hotel punya cctv tersembunyi yang menyatu dengan dinding, dan sangat jarang orang-orang mengetahuinya. Jimin berhasil masuk dan meliat rekaman hari ini. "jadi mereka meletakkannya di atas lemari... dasar mesum" kata Jimin

Ia lihat dalam rekaman itu, terlihat ada dua atau tiga orang yang masuk. Mereka mengenakan topi yang berbeda-beda, dan terlihat jelas mereka mengacak-acak kamar Jimin. Jimin sedikit bingung saat satu adegan, dimana mereka tampak melihat kearah jendela kamar dan setelah itu pergi dengan terburu-buru. "hmm... tunggu dulu..." Jimin mengingat orang yang mencuri dompetnya "saat mereka melihat jendela..." Jimin memutar ulang rekamannya "ini... adalah saat orang itu tertabrak dan ambulans datang..." Jimin menyambungkan semuanya menjadi satu. "Ini sudah direncanakan...itu artinya m-mereka masih disini!" Jimin bangkit dari duduknya "Tae_"

Klik!

Jimin tak bisa bergerak. Ia rasakan ujung Suppressor pistol ada tepat dibelakang kepalanya. Perlahan Jimin menaikkan tangannya. "Apa mau kalian? Dimana Taehyung!" Tiba-tiba pandangan Jimin menggelap, dan sebuah beturan keras ia rasakan dibelakang kepalanya.

.

.

Dunia terasa kabur pada pandanga Jimin. Dengungan suara mulai masuk kedalam gendang telingannya, Perlahan Jimin membuka matanya. Ia bisa rasakan tangan terikat pada salah satu tiang. Pandangannya mulai menjadi jelas, ia melihat seseorang yang bersimpuh ditanah, dan dipukuli oleh dua orang didepanya. Jimin memandangnya bingung, sampai seseorang menarik rambut pria yang babak belur keatas

"Katakan dimana dokumen aslinya!" Pria sekarat itu tak menjawab, sebuah pukulan mendarat dipipinya kembali

Jimin terkejut setengah mati melihat Taehyung yang berlumuran darah, dipukuli tanpa tau apa-apa "HENTIKAN!"

Dua orang itu melihat kearah Jimin, seorang pria sangat tinggi datang, berjalan menuju samping Jimin dan berjongkok untuk menyamakan posisi mereka. "kau sudah sadar?"

Jimin meoleh dan menemukan wajah familiar baginya "Park Chanyeol..." kata Jimin dengan tajam. Orang yang baru saja datang tersenyum dan bangkit dari posisinya, ia berjalan sambil menarik sebuah kursi, dan duduk disana.

"kau sudah menyadari kami? Dimana barang itu?" tanya Chanyeol

"Heh, setelah kehilangan tiga anggota dan kecelakaan yang menimpa Baek. Sekarang kalian bertindak sebagai preman? Haha... menyedihkan" Jimin menunjukkan senyuman menantangnya.

Chanyeol diam sejenak, ia megambil sebuah balok kayu. Tapi bukannya memukul Jimin, ia malah memukul Taehyung yang sudah tak berdaya hingga kayu ditangannya patah. Jimin terkejut setengah mati, bahkan ia mencoba melepaskan diri "dengar... berani menyangkut masalah kami. Temanmu ini benar-benar tak akan selamat. Anggap saja ini balasan karena melukai Jongdae tadi pagi..." Jimin ingat orang yang mencuri dompetnya, Pantas ia tampak familiar dengan wajah orang itu "sekarang cepat katakan dimana barangnya..." Chanyeol kembali duduk dikursinya

Jimin menggenggam tangannya "apa maksutmu?" Jimin menahan semua emosinya

"heh... jangan sok tak tau" Chanyeol mengeluarkan sesuatu dari balik jaket hitamnya, sebuah lembaran-lembaran kertas. Ia melemparnya tepat didepan Jimin. Jimin terkejut saat salah satu kertas menunjukkan sebuah foto seseorang. Seorang pria berambut pirang yang terikat disebuah kursi, keringat dingin mulai membanjiri tubuh Jimin "Projekmu... 3 tahun lalu... Human experiment" Jantung Jimin terasa berhenti "ah! Iya... aku selalu penasaran..." Chanyeol sedikit membungkukkan badannya "berapa banyak yang kau bunuh?" Jimin memandang sangat dingin pada Chanyeol

Taehyung yang setengah mati, menatap Jimin dengan pandangan kabur. Tubuhnya mukin remuk tapi tidak dengan pikirannya. Ia ingat saat menemukan berkas dengan judul yang Chanyeol baru saja sebutkan "J-jim..."

.

On Other Place

Namjoon menghela nafas berat mengetahui kamar Jimin dan Taehyung berantakan, dan selembar kertas yang tulisannya perhuruf diambil dari judul-judul yang ada diKoran. Bertulisakan "Carilah jika bisa" Namjoon menghela lebih panjang. Dan membuang kertas itu kedalam tempat sampah.

"astaga..." Jin paling pusing diantara semuanya, ia paling benci melihat tempat berantakan

Jungkook kembali dan bergabung dengan Jin dan Namjoon setelah melihat kamar Taehyung "disana tak terlalu berantakan, hanya kamar Jimin hyung" jelas Jungkook

"hugh... kepalaku pusing, kau saja yang urus Joon..." Jin keluar dari sana, ia ingin muntah melihat kamar super berantakan itu. Namjoon hanya tertawa pelan melihat Jin yang seperti ibu-ibu, keluar dari kamar Jimin.

Hoseok pergi melaksanakan perintah Namjoon mencari informasi, dan sampai sekarang ia belum kembali. "sekarang kita hanya bisa menunggu Hoseok" kata Namjoon duduk disalah satu kursi kayu yang selamat.

Yoongi melihat sekeliling, sampai matanya menemukan sebuah kotak hitam dekat dengan lampu meja "Namjoon-ah" Yoongi menarik perhatian Namjoon dan Jungkook. Mereka mendekati Yoongi, dan Yoongi tampak menemukan sebuah box hitam. Ia membukanya, dan menemukan sebuah mouse bulat. Yoongi mencoba-coba dan menemukan cara membuka preview video didalamnya. Mereka bertiga menyaksikan baik-baik video tersebut, bahkan melihat saat seorang pria tinggi memukul Jimin dengan pistol, dan dua orang pria membawa tubuh Jimin.

"hyung, bisa kah kau putar ulang videonya?" tanya Jungkook. Yoongi melakukannya sampai Jimin dibuat pingsan. "berhenti disana!" Jungkook memintar berhenti, dan Yoongi menekan satu tombol yang ada dikotak hitam tersebut. Video berhenti.

Jungkook memperhatikan salah seorang yang membawa Jimin. "aku tau siapa mereka..." kata Jungkook pasti, Namjoon dan Yoongi segera melihatnya. "EXO..." Jungkook berkata pasti tanpa keraguan "kalian pasti sudah dengar soal mereka, itu Sehun..." Jungkook menunjuk pria yang membawa Jimin "kami satu sekolah dulu, dan dia sudah bergabung dengan mereka saat itu" Jungkook mulai mengingat masa-masa kelamnya saat disekolah "Mereka sekarang kacau balau karena masalah ketiga mantan anggotanya Huangzi Tao, Kris Wu, dan Xiao Luhan. Ditambah lagi dengan kecelakaan yang menimpa Baekhyun"

"Baekhun?" Yoongi segera menyaut, diikuti tatapan bingung kedua orang didepannya

Jungkook mengangguk "hyung kenal dia?" tanya Jungkook

Yoongi langsung menggelengkan kepalanya "t-tidak... m-maaf" Yoongi tampak mengingat sesuatu dengan nama Baekhyun. Sesuatu tampak muncul dalam ingatannya, Namjoon melihat Yoongi sekilas sampai ia putuskan membuat satu perintah

"Jungkook, panggil Jin dan mulai mencari tau lokasi mereka. Yoongi panggil Hoseok kembali dan tanyakan apa saja yang ia dapat" Kedua orang itu mengangguk. Dan segera beranjak keluar dari sana. Namjoon menghela nafas berat, ia duduk pada kasur Jimin yang berantakan. Ia mentap langit-langit dan berusaha berfikir rencana selanjutnya, tapi Namjoon tak menemukan satu ide pun. Dengan pasrah ia menjatuhka kepalanya dan menunduk, saat Ia membuka mata, Namjoon menemukan sebuah kotak aneh. Perlahan ia mengambilnya dan membuka isinya, tapi hanya kotak kosong

Mengingat ini kamar Jimin, tak mungkin ini hanya sekedar perampokan dan penculikan. Namjoon mengambil pisau lipat yang ada diikat pinggangnya, ia mengeluarkan pisau dengan bagian atas yang bergerigi, Namjoon megiris bagian bawah kardur tersebut, jelas saja dugaan Namjoon tepat. Ada rongga lain dibawah kardus, Ia melipat kemabali pisaunya, dan membuka paksa alas tiruan tersebut. Namjoon temukan sebuah dokumen bertuliskan "Human experiment" Namjoon membukanya, didalamnya terdapat beberapa tulisan, cara-cara yang ekstrim, dan beberapa daftar nama yang dicoret dengan pensil merah. Namjoon melirik satu nama yang tak tercoret merah, ia bahkan belum memiliki tanggal kematian. Otak Namjoon langsung mendapat jawaban dari semua pertanyaannya tentang Jimin, degan cepat ia membawa dokumen itu keluar.

Namjoon mendapat telfon dari Hoseok dan segera mengangkatnya "ne? apa yang kau dapat?"

"setelah bertanya, ada yang bilang ada kecelakaan saat itu"

"kecelakaan?" Namjoon melihat-lihat kejadian, saat itu mereka semua pergi menagih hutang pada salah satu clien mereka, yang tinggal hanya Jimin dan Taehyung disini. "ada lagi?"

"aku bertanya pada salah satu pemilik toko didekat hotel, ia mengatakan Tae dan Jimin membeli beberapa makanan disana, dan Jimin tampak menabrak seorang pria bertopi hitam, itu 10 menit sebelum ada kecelakaan"

Artinya Jimin dan Taehyung pergi dari hotel, dan saat itu pendobrakan pun terjadi. Orang dengan topi hitam itu pasti salah satu anggota EXO juga, Namjoon sudah mendapat semua gambarannya. Namjoon memperediksi kecelakaan itu terjadi karena Jimin, dengan salah satu alatnya, mugkin orang bertopi hitam itu mencuri sesuatu darinya. Dan saat itu Pria itu berhasil mengalihkan perhatian, tapi berakhir tertabrak oleh mobil. Namjoon ingat dalam rekaman itu orang-orang itu sampak menatap kearah jendela, itu saat mobil ambulan datang karena kamar mereka ada cukup tinggi dan tak mungkin mendenar suara tabrakan mobil dari tinggi sekamar itu.

Sekarang pertanyaannya kemana mereka membawa Jimin dan Taehyung, Namjoon menghela nafas panjang. Tunggu dulu! Namjoon menyadari sesuatu "Hoseok-ah... kau sudah bertanya pada pemilik hotel?"

"aku sudah bertanya" Suara Yoongi langsung terdengar, Namjoon langsung tau mereka ada dilantai paling bawah "mereka bilang Jimin dan Taehyung sudah kembali, dan tak ada orang keluar sejak mereka kembali"

"what? Jadi..." Namjoon tau Yoongi punya pemikiran yang sama

"aku tau, kami berusaha memeriksa gudang bawah tanah, tapi bisa saja mereka keluar dari pintu belakang tanpa ada pegawai yang tau. Kami minta Jungkook dan Jin untuk memeriksa pintu belakang" jelas Yoongi

"baiklah, aku akan bergabung degan kalian segera"

"got it" Yoongi segera menutup telfonnya. Namjoon berjalan menuju kamarnya dan meletakkan dokumen yang baru ia temukan. Namjoon segera menuju lantai bawah, ia turun dengan lift, ia menekan tombol lantai paling bawah. Ia menunggu dengan tenang didalam, Namjoon menatap cctv yang ada dilift tersebut, perasaannya sedikit tidak enak.

.

Jimin terduduk diam dalam ikatannya. Pelipisnya sudah berdarah karena Chanyeol memukulnya dengan botol soju. Ia melihat Taehyung yang terkapar dilantai penuh darah. Taehyung pingsan setelah mendapat banyak pukulan dari Chanyeol dan kedua temannya. Mereka sudah pergi karena lelah menangani Jimin, dan Jimin sudah kesakitan hanya dengan melihat Taehyung tersiksa. Mereka hanya diam diruangan yang hanya diterangi dengan satu lampu itu "..." Jimin hanya memandang lantai dengan pikiran yang campur aduk

"mau cerita padaku?"

Jimin terkejut dan melihat Taehyung, Pria itu masih terkapar lemas dilantai, tubuhnya berbalik membuatnya terlentang menghadap langit-langit yang gelap. "k-au tak mati, heuh?" Jimin sedikit menambah aksen Satori-nya

"heh... aku tak mungkin mati... aku pernah merasakan yang lebih sakit dari ini" Taehyung tiba-tiba ingat masa-masa gelap keluarganya. Dan kehidupannya saat sebelum Jin datang membawanya. Taehyung perlahan menatap Jimin dengan memiringkan kepalanya "sebenarnya... kenapa?"

Jimin menatap sedih Taehyung, lalu membuang pandangannya begitu saja. Ia tak bisa menjelaskan apa-apa pada Taehyung saat ini, Jimin masih belum siap menjelaskan semua masa lalunya

"apa ini ada hubungannya dengan dokumen itu?" Jimin membuka matanya lebar, ia makin berkeringat tapi ia tetap tak mau bicara "terserah kau saja. Kau benar, tak ada yang bisa dipercaya" Jimin terkejut, Taehyung membalik tubuhnya kembali, membuat Jimin hanya bisa melihat punggungnya "pikiranku masih utuh, tapi tidak dengan tubuhku. Karena itu aku tak bisa menyelamatkan kita dari sini" jelas Taehyung, dan masih tak mendapatkan apa-apa dari Jimin "bangunkan aku jika Jungkook datang, aku tak mau dia melihatku seperti ini" Taehyung menutup matanya

Jimin melihat Taehyung yang mulai terlelap, pasti butuh waktu lama agar pikiran Taehyung bisa mengendalikan tubuhnya lagi "mian, bukan saatnya" Jimin hanya bisa mengatakan itu, dan Taehyung kelihatannya tak mendengarnya. Jimin kembai diam, rasanya ia ingin sekali berteriak saat ini. Pikirannya kacau balau, ia bahkan ingin menangis saat itu juga. Otaknya penuh dengan teriakan saat ini, teriakan orang-orang yang ia korbankan untuk kepentingannya sendiri.

Taehyung? Ia belum tidur, ia tau Jimin frustasi saat ini. Sekarang ia benar-benar penasaran tentang Jimin. Apa yang ia sembunyikan dari balik senyumannya itu?

.

Jungkook dan Jin berhasil menemukan pintu belakang. Pintu itu sangat tak terlihat karena berbaur dengan warna cat tembok, ia juga berada di posisi yang gelap. Bahkan disana tak ada cctv. Jin membuka pintu dan mengarah pada belakang Hotel, taman kecil yang langsung mengarah ke jalan raya. Jungkook menengok keatas dan melihat hotel yang tinggi, Hotel memang ada ditengah jalan membuat orang bisa berjalan melingkarinya 360 derajar, jalan juga sengaja dibuat mengelilingi hotel jadi para penginap bisa melakukan lari pagi atau kegiatan olahraga lainnya. "kau periksa sekitar jalan untuk lagi Jungkook-ah, aku akan periksa taman kecil ini" jelas Jin

Jungkook mengangguk, ia berjalan menuju jalan yang terbuat dari bata kuning itu. Ia melihat sekitar, bahkan hampir menuju jalan raya. Tapi ia tak melihat apa pun, sampai matanya menemukan kilatan aneh dipinggir jalan. Jungkook mendekatinya dan menemukan jam tangan milik Taehyung, jam tangan kesukaannya. Jungkook memeriksanya, bagian kacanya sudah pecah, dan pada bagian pergelangannya terdapat bekas ban mobil. Jungkook menatap jalan dan melihat sedikit bekas kaca, ia bisa pastikan mereka dibawa dengan mobil, pasti Taehyung sengaja menjatuhkannya saat mobil hedak melaju pergi. Ia menatap jam tangan Taehyung yang sudah pecah "Tae hyung..." Jungkook segera mendekati Jin

Jin langsung memeriksa jam Taehyung begitu Jungkook menyerahkannya. "ini mobil pick-up tertutup"

"hyung bisa langsung tau?" Jungkook terlihat kagum dengan pengamatan Jin yang bagus

"kau bisa tau dari bekas bannya, nanti kau akan tau juga... lebih baik kita cepart cari Namjoon" Jungkook mengangguk dan segera mengikuti Jin.

Semua sudah berkumpul dikamar Namjoon dan Jin. Karena kamar mereka cukup luas, akhirnya mereka membuat sebuah meja bundar dadakan disana, Ditengah meja ada jam tangan Taehyung, kotak hitam milik Jimin, dan laptop Jimin ynag baru saja Hoseok temukan. Namjoon menatap dingin meja, belum ada yang mulai bicara sebelum Namjoon membuat perintah "haah... jadi, apa yang bisa ditemukan hanya ini..." Namjoon memulai

"mereka dibawa pergi dengan mobil pick-up tertutup, jadi mereka bisa jadi sangat jauh dari sini" jelas Jin

Jungkook menunduk, ia menatap jam tangan Taehyung. Ia ingat Taehyung dengan bangga menunjukkannya ada Jungkook saat Jungkook baru saja bergabung,Taehyung bilang "jam ini adalah penggambaran diriku! Aku tak akan melepasnya! Kau dengar?" Melihat jam itu hancur, perasaannya makin tidak enak

"ini akan sulit mencari tanpa Jimin disini" jelas Yoongi, mengingat Jimin satu-satunya hacker dan pemberi informasi disini

"aku bisa tanya ke beberapa temanku" jawab Hoseok

"terlalu berbahaya untuk bertanya saat ini" Namjoon mulai bicara lagi "mereka akan tau kondisi kita sedang lemah, ini terlalu berbahaya" Namjoo menambahkan membuat Hoseok berfikir ulang soal rencananya

Semua terdiam bingung, Jungkook akhirnya membuat keputusan "aku akan mencari mereka!" Semua terkejut mendengar anggota termuda membuat keputusan

"tunggu! Itu terlalu berbahaya" kata Jin

"tadi kita tak mungkin hanya diam disini!" Jungkook kesal

"ta_" Jin terkejut saat Namjoon menggengam pergelangan tangannya, lalu perlahan Jin kembali duduk

Namjoon menatap dingin Jungkook "apa yang bisa kau lakukan,heuh?" Jungkook terdiam, ia sedikit gemetar melihat Namjoon, ini kedua kalinya Namjoon begini. Tapi Jungkook tau Namjoon sedang mengujinya "kenapa tak menjawab?"

Jungkook menggetaran giginya "aku kenal salah satu dari mereka, jika aku hubungi dia, mungkin aku akan dibawa ketempat mereka" jelas Jungkook

"apa kau yakin mereka akan membawamu?" Namjoon menekan Jungkook

"aku punya satu hal yang pasti yang mereka inginkan" Jungkook berkata pasti, itu jelas membuat para hyungnya penasaran "akan aku pastikan mereka membawaku"

TBC OR END?

Gangsta ©Indiah Rahmawati

Just Review... Please