Ayah, aku akan mencari jalan keluar yang terbaik untuk kita semua, untuk kita berdua. Walaupun usaha pertama sudah gagal, tapi aku akan menggunakannya lagi.

Jangan khawatir. Semua akan baik-baik saja. Seperti sebelumnya. Karena itulah,

semuanya harus kembali ke nol.

.

.

ZERO

Final Decision of Scorpius Malfoy

Rozen91

Harry Potter © J. K. Rowling

.

.

"Mungkin sudah waktunya."

"Saya juga berpikir demikian. Draco memang harus tahu—"

"Lebih cepat, lebih baik. Aku sudah tidak tahan dengan Draco yang tidak tahu kalau... apalagi anak itu yang—"

"Aku mengerti perasaanmu, Cissy. Anak itu pasti juga sudah—"

"Jadi, Lord Malfoy?"

"Duke Zabini, kita akan beritahu Draco besok pagi."

Kakek dan nenek, serta paman Blaise sudah memutuskan apa yang akan mereka lakukan hari esok. Mungkin, seandainya saja, mereka memeriksa apakah pintu kerja itu sudah tertutup rapat atau belum, tentunya aku tidak akan mengetahui pembicaraan rahasia mereka. Kualihkan pandanganku ke jendela, melihat seseorang yang bersemangat memacu kudanya.

Ayah tidak tahu kalau aku datang. Aku hanya bisa melihatnya dari jauh, di balik kaca jendela di sebuah kamar tamu yang belum pernah digunakan sebelumnya. Ayah begitu bahagia, aku selalu memperhatikannya. Akan tetapi, apakah semuanya akan terus berlanjut hingga esok hari?

"Bukankah ayah sangat bahagia?" tanyaku, memandang mereka satu persatu, "kumohon, biarkan saja seperti ini terus."

Aku harus memilih keputusan yang baik untuk kami berdua. Dan inilah yang terbaik.

Tapi, aku terlalu naif, berpikir bahwa semuanya akan berjalan lancar. Mungkin semuanya terlihat begitu jelas di kedua mata ayah yang tidak tahu apa-apa. Mungkin ayah melihat semua bentuk kesedihan yang bersembunyi dan menjadi wajah kedua orang-orang di sekitarnya. Atau mungkin sebenarnya, ayah juga bisa merasakan setiap perasaan yang berterbangan seperti ngengat di tiap ruangan yang ia masuki. Tentu saja, karena semua kenangan ibu ada seperti denging yang memantul di setiap dinding manor.

Mungkin karena itulah, ayah terdorong untuk berkeliaran dan membuka pintu yang sekian lama ia biarkan berdebu dan penuh karat. Ayah menangis. Suaranya begitu pilu dan menyakitkan. Aku tak sengaja melihatnya dari celah pintu kamarnya ketika paman Blaise membawanya kembali setelah ayah ambruk tak sadarkan diri. Wajah ayah sangat pucat dan lelah.

Ini adalah kesalahanku.

Seandainya saja... seandainya saja aku tidak ragu-ragu untuk melenyapkan kamar itu... maka ayah pasti...pasti...

"Mr. Potter, kumohon—"

Nyonya yang tergantung tidak mau melihat wajahku ketika aku datang, menaiki undakan anak tangga, dan menghampiri mereka berdua, yang tampak seolah memang sedang mengharapkan kedatanganku. Aku sudah menyakiti hatinya dengan permintaan pertama yang kuucapkan pada Tuan bertopi hitam. Walaupun aku sudah minta maaf, dia tetap tidak mau menatap ke arahku lagi. Namun, aku tahu kesedihannya lebih tercurah untuk siapa. Tapi, Nyonya, aku akan baik-baik saja, jadi, kekhawatiran Nyonya hanyalah sesuatu yang sia-sia.

Karena itulah, aku tersenyum dan menatap Tuan bertopi hitam.

"—sekali lagi."

"Nak," katanya seraya memejamkan kedua matanya, "resikonya sangat besar."

Kedua mataku ikut terpejam. "Tidak apa-apa."

Oleh karena itu,

biarkan ayah kembali ke angka nol.

Aku tidak akan ceroboh lagi. Keberadaan kamar itu akan kuhapus hingga ayah tak akan pernah menemukannya lagi. Kegelapan yang berdiam di setiap sudutnya. Wajah ibu dan ekspresinya yang kurindukan. Semuanya akan kubawa bersamaku. Keberadaan ibu, bahkan keberadaanku pun, pasti akan membuat ayah...pasti...

"Inilah yang terbaik."

Kubiarkan nenek menggenggam tanganku saat kami bersama-sama berjalan melintasi teras di malam hari yang dingin. Aku akan kembali ke Hardforth dan tinggal di sana seperti beberapa bulan terakhir ini. Tapi, aku tidak ingin ceroboh. Ada kemungkinan ayah akan menemukan keberadaanku jika aku tetap tinggal bersama nenek di vila di Hardforth.

"Di sana ada sekolah berasrama yang bagus."

Tak ada yang benar-benar setuju dengan keputusanku. Kakek enggan mengirimku ke sekolah itu—katanya standarnya tidak terlalu mewah untuk ukuran seorang Malfoy. Aku memelas kepada nenek agar mau meyakinkan kakek untuk menerima keinginanku. Walaupun pada akhirnya kakek mengizinkan, namun aku tahu apa yang sebenarnya ingin kakek pastikan tentangku. Tentang sekolah yang hanya mengizinkan sedikit hari libur untuk para muridnya.

"Score, kakek bisa mencari sekolah yang lebih pantas untukmu."

Aku tersenyum, mencoba menenangkan hati kakek yang tampak bergejolak. "Aku suka sekolah itu, kakek."

Ibu, aku sudah membuat hati kakek dan nenek sedih. Aku tidak ingin menjadi cucu yang durhaka, tapi, ibu, ayah sudah kembali ke angka nol. Ayah sudah bahagia. Aku tidak ingin merepotkan tuan bertopi hitam lebih daripada apa yang sudah kutimpakan padanya. Aku juga tidak mau menjadi alasan air mata nyonya yang tergantung mengalir terus-menerus. Ibu selalu menasihatiku untuk menjadi anak yang baik. Aku tidak ingin siapapun bersedih lagi.

Dan inilah satu-satunya yang terbaik untuk ayah. Inilah yang terbaik.

Perjalanan panjang ke Hardforth di malam yang dingin. Aku merasa nyonya yang tergantung memandangku dari jendelanya di menara. Mungkin dia sudah memaafkanku, ibu. Tuan bertopi ada di jendela di sampingnya, melambai ke arahku. Aku hanya bisa mengangguk penuh rasa terima kasih. Ibu, merekalah yang sudah menolong ayah. Mereka juga menolongku. Dan bersama-sama, dengan kakek dan paman Blaise, mengantar kereta kuda yang membawaku dan nenek ke Hardforth.

Ayah tidak mengantar—tentu saja, tapi tidak apa. Aku akan baik-baik saja.

Ibu, ayah berdiri di angka nol untuk kedua kalinya. Walaupun melupakan segala hal tentang kita berdua, senyum ayah pasti akan kembali. Ayah pasti akan bahagia. Dan senyum yang kita rindukan pun pasti akan terlihat di wajahnya.

Oleh karena itu, ibu tidak usah khawatir.

Karena, aku pun, pasti, akan baik-baik saja.

.

.

.

Di suatu hari nanti.

Pasti.

_Final End of MAD series_

Alhamdulillah, fic ini dimulai oleh MAD dan diakhiri oleh ZERO. Scorpius benar-benar mirip ibunya. Padahal umurnya masih 7 tahun, tapi sudah seenaknya membuat keputusan untuk semua orang. Dia memang seperti Hermione yang suka menyembunyikan perasaan yang sesungguhnya. Seperti ketika Hermione, di tahun pertama Harry Potter, bersembunyi di toilet cewek dan menangis sendirian—mungkin Scorpius juga akan melakukan hal yang sama. Apalagi jika dia tahu efek samping yang harus diderita oleh Harry dan Pansy saat Harry menggunakan kekuatannya untuk Draco. Mungkin, Scorpius akan berpikir dua kali sebelum memohon hal itu pada Harry. Mungkin dia akan mencari jalan lain.

Hm, entahlah.

Well, readers-sama have been following this fic for a long time. I am very thankful for your patience and amazing reviews that bring support for me to finish this fic. Yosh! Thanks to:

Nisa Malfoy#reviewer pertama! kyahoo!,

Constantinest#yosh! Yosha!,

guest #pesan Pansy: "Aku akan mengirim Hermione untukmu! !" # ;) ,

galuhtikatiwi#semoga yang ini udah jelas, ya (OvO) #atau malah makin... #gelep.. ,

Crystal Rotgelle#setelah menebak-nebak maksud setiap chapter, miss Crystal, ini yang terakhir (^D^) #analisisnya amazing! ;D,

Nha chang #kamu tidak menyerah membaca fic ini biarpun saya tidak pernah memberi tahu maksud setiap chapter (Y_Y) #sankyuuu, Nha Chang! (^o^) ,

draco #Draco udah muncuuul ! \(^O^)/,

StarCo#bintang-bintang di langit~,

Amiracle Die Thequeen#ciee, yang ganti username #plak!,

nOu.54#salam untukmu, wahai kau sang pemberani ('v')/, dan

Mrs Malfoy #... Hermione, kaukah itu? #gaje #hmm, karena ini chapter terakhir, okelah #chapter 1 – 5 hanyalah ilusi #Hermione yang itu sama sekali tidak ada.

Best regards,

Rozen91

_Another Laurant in the mist—

.

.

(Ketika keinginan anak itu dikabulkan.

Maka, 'Hermione' akan terbangun.

Dan melanjutkan pestanya.)

xxx