Fake Affection (Chapter 8) © by YoonMingi

.

Rate : T+

Category :

KyuMin. Yaoi/BoysLove. M-Preg. Hurt/comfort, lil angst. Innocent!Min

Cast :

- Lee Sungmin

- Cho Kyuhyun

- Can you guess who?

Pairing: KyuMin ofc!

.

DON'T BE SILENT READER

.

DON'T LIKE DON'T READ

.

"Min? Kau mau kemana?"

"K–kamar mandi."

Kening Kyuhyun mengerut. Langkah Sungmin tergesa-gesa meninggalkan ruang makan sambil sebelah tangannya membekap mulut. Belum lagi suara Sungmin serak dan bergetar seolah menahan sesuatu. Sekilas, Kyuhyun melihat mata Sungmin memerah.

Kyuhyun tercekat.

Secepatnya dia meninggalkan semua yang sedang dilakukan untuk mengikuti langkah Sungmin. Terus hingga sampai di kamar mandi terjauh yang jarang tersentuh dan hanya disediakan untuk tamu. Kaki Kyuhyun terhenti saat pintu itu berdebum kencang tepat di hadapannya. Tapi Kyuhyun yakin Sungmin belum menyadari jika ia mengekor di belakang.

Penasaran dengan yang terjadi di dalam membuat Kyuhyun mendekatkan daun telinga ke permukaan pintu.

Zrassh

Hoeekk

Tangan Kyuhyun meremas gagang pintu kuat.

"M… Min?" gumamnya.

Kyuhyun makin mengencangkan genggaman tangan di gagang pintu terlebih saat mendengar suara mengerikan di dalam sana namun tersamarkan kucuran air yang diyakininya dari wastafel. Kyuhyun makin ngilu mendengar rintihan serta erangan tersiksa dari Sungmin. Ia mulai bergerak gelisah, bingung menentukan pilihan menunggu Sungmin yang keluar atau membuka paksa pintu ini untuk mengetahui keadaan di dalam.

"Hiks…"

Sebuah isakan terdengar membulatkan tekad Kyuhyun untuk berlaku nekad. Apalagi kondisi gagang pintu yang tampak rapuh makin memperkuat ide gila terlintas di otaknya.

"Min? Apa yang terjadi?!"

DUG DUG DUG

Digedornya pintu itu kasar.

Namun tak ada jawaban yang didapat. Kesunyian yang berlangsung makin meningkatkan ketakutan Kyuhyun. Ia benar-benar akan melancarkan ide gilanya.

BRAAKKK

"Min!"

GREP

Tepat setelah Kyuhyun mendobrak pintu, tubuh Sungmin yang oleng ke belakang berhasil ia tahan sebelum membentur lantai. Kyuhyun mengatur nafasnya yang menderu, kepanikan menjalar hingga ia tak tahu harus berbuat apa lagi.

Ditepuknya pipi Sungmin berkali-kali. Lengan yang lain menopang tubuh itu. Namun tepukannya hanya mendapat respon ringisan dan lenguhan lemah dari Sungmin. Sungmin tidak sampai pingsan, kesadarannya menurun, namun tetap saja membuat Kyuhyun kelabakan.

"Kita ke kamar sekarang." Ucap Kyuhyun bergetar.

Sungmin dapat menyadari bahwa Kyuhyun yang menahannya tadi. Dan sekarang dokter itu berencana membawanya entah kemana karena kalimat Kyuhyun terdengar samar.

Sungmin menggeleng, menolak ketika Kyuhyun akan menggendongnya. Ia tidak mau merepotkan Kyuhyun terus-terusan.

"Tidak ada penolakan!" tegas Kyuhyun membuat Sungmin menciut tak berani melawan.

Direngkuhnya tubuh lemah Sungmin dan membawanya ke kamar mereka.

Sungmin mendesah kecil dan hanya bisa menyembunyikan wajah di dada Kyuhyun. Ia meremas baju menahan mual, panas, dan perih yang menjalar di perut. Ia bahkan tak sadar saat Kyuhyun merebahkannya di ranjang. Yang ia pikir hanyalah kemarahan Kyuhyun setelah ini karena ia ketahuan memuntahkan sarapan yang susah payah disediakan.

"Apa yang sakit?!" tanya Kyuhyun dengan nada tinggi seraya mengusap keringat dingin yang mengalir di pelipis Sungmin.

Sungmin tak menjawab, ia sudah setengah sadar. Suara Kyuhyun yang keras cukup membuatnya yakin bahwa Kyuhyun benar-benar marah. Ia terus merintih dengan tangan mencengkram perutnya kuat. Dikulum bibirnya menahan rintihan yang semakin mengeras. Kepalanya menggeleng lemah, seolah memohon agar Kyuhyun tak bertanya lagi.

"Jangan diam saja! Cepat jawab aku! Katakan dimana yang sakit!" bentak Kyuhyun kalap.

"Hiks…" Sungmin malah terisak. Ia memeluk perutnya gemetar, lidahnya kelu tak mampu menjawab dan hanya mengisyaratkan Kyuhyun lewat gerakan.

Meski membingungkan, namun Kyuhyun mengerti isyarat itu. "Tunggu disini sebentar!" perintahnya dan segera melesat keluar kamar.

Dan tak lama kemudian, Kyuhyun kembali membawa segelas air bening dan sebuah benda kecil mirip tutup botol yang di dalamnya terdapat cairan kental.

Diletakannya gelas itu di nakas lalu beranjak ke kasur. Ia menarik tubuh Sungmin perlahan, membantunya bangkit dan bersender di bahunya. "Minum ini."

Sungmin menggeleng lemah, ingin menolak benda apapun yang masuk ke tubuhnya.

"Minum!" paksa Kyuhyun. Ditahannya wajah Sungmin agar tak berpaling.

Sungmin mengigit bibir bawahnya takut. Air matanya kembali mengalir. Perlahan bibirnya terbuka menerima cairan kental yang tak tahu apa jenisnya dan berasal dari mana itu. Ia berjengit ngeri ketika cairan itu melewati indra pengecapnya.

Setelah semua cairan itu tertelan, Kyuhyun mengambil gelas di nakas. Meminumkannya pada Sungmin untuk membantu menyamarkan rasa aneh di mulut.

"Ingin kubuatkan teh? Akan kubawakan biskuit juga jika mau, perutmu harus terisi walau sedikit." tawar Kyuhyun melembut saat hembusan nafas Sungmin mulai teratur. Setidaknya Kyuhyun tahu obat anti mual yang ia beri sudah bereaksi dan menurunkan asam lambung secara perlahan.

Sungmin masih bungkam, untuk mengangguk saja ia terlalu lemas.

"Baiklah, aku tahu kau tidak mau makan. Kalau begitu aku bawakan teh. Tunggulah sebentar." Ujar Kyuhyun pengertian. Diusapnya kepala Sungmin lalu membaringkannya lagi di ranjang.

Setelah itu, Kyuhyun meninggalkan kamar lagi.

Tak membutuhkan waktu lama, belum sepuluh menit Kyuhyun sudah kembali membawa sebuah mug berisi teh manis hangat.

Sungmin ingin tertawa mengetahui mug apa yang Kyuhyun bawa. Mug pink kesayangannya dengan gambar kelinci menghiasi. Mug yang Kyuhyun hadiahkan khusus untuknya. Bibir Sungmin tertarik sedikit, membentuk secarik senyum tipis.

Kyuhyun kembali merengkuh tubuh Sungmin, membantu ke posisi seperti tadi dan bersender di bahunya. Dengan kelembutan, dibantunya Sungmin menghabiskan teh hangat itu seteguk-seteguk. Sambil tangannya mengusap punggung Sungmin agar merasa nyaman.

"Sudah merasa lebih baik?"

Sebuah anggukan dari Sungmin cukup menjawab pertanyaan Kyuhyun. Ia merebahkan lagi Sungmin di ranjang kini diikuti olehnya. Didekapnya tubuh yang masih lemas itu erat untuk menyalurkan kehangatan juga kenyamanan. Diusapnya kepala Sungmin sayang dan menariknya lebih dalam ke pelukan.

Mata Sungmin terpejam. Menerima satu-persatu perlakuan lembut itu. Meski tadi sempat menerima bentakan kasar, namun Sungmin baru menyadari bentakan itu bukanlah amarah, melainkan wujud dari perhatian yang Kyuhyun beri.

Terserah kalian ingin menyebut Sungmin terlalu percaya diri atau apa, tapi Sungmin sangat yakin semua yang Kyuhyun lakukan adalah tulus. Dirinya menikmati sentuhan-sentuhan manis yang sempat dianggapnya kesialan beberapa hari terakhir.

Sesuai naluri, Sungmin makin beringsut masuk ke pelukan Kyuhyun. Tak peduli jika nanti Kyuhyun protes. Sungguh, ia sangat ketagihan dengan cara Kyuhyun membuat bayang kesakitannya sirna.

"Terimakasih, Kyu." Gumam Sungmin setengah berbisik.

Senyum Kyuhyun terukir lebar walau tidak melihat wajah Sungmin saat mengucapkannya. Sangat menyenangkan. Terlalu bahagia hingga rasanya ingin berteriak. Terlebih Sungmin yang tak menghindari sentuhannya sama sekali.

Dikecupnya kepala Sungmin lama.

Tak ada penolakan.

Hingga niatan berbuat lebih itu muncul…

Ditariknya dagu Sungmin lamat-lamat, membuat bola mata mereka bertemu.

Keduanya menahan nafas. Menikmati keindahan wajah masing-masing. Merasakan waktu yang berjalan melambat seiring getaran baru yang semakin menguatkan perasaan mereka.

Sampai mereka tak sadar jarak mereka yang semakin menipis …

Dan ketika dua belah bibir itu bertemu…

Jantung Kyuhyun hampir meledak bahagia. Rasa manis itu kembali terasa. Berkali lipat lebih nyata.

Yang terpenting dari semuanya—

Sungmin tak lagi menolaknya.

.

=oO Fake Affection Oo=

.

2 Weeks Later

"Kyuhyun-ah, apa aku jelek?"

Yang ditanya mengernyit bingung dan langsung mengabaikan lembar hasil USG Sungmin yang sedang ia perhatikan tadi. "Kenapa bertanya seperti itu? Kau manis, Min. Bukankah sudah kukatakan berkali-kali?"

BLUSH

Wajah Sungmin kontan merona. Ia mengusap pipinya menutupi jejak merah yang muncul setiap kali ia tersipu. Dan Kyuhyun-lah orang yang selalu membuatnya seperti ini! Menyebalkan!

"Bukan itu. Maksudku ini. Apa aku terlihat jelek?" Sungmin menunjuk perutnya. Ya, benar. Minggu ini kehamilan Sungmin sudah menginjak bulan keenam. Tentu kalian bisa bayangkan perut Sungmin yang semakin membuncit. Kkk.

"Itu wajar. Setelah anak kita lahir perutmu bisa kembali ke semula, Min." Kyuhyun tertawa, makin tergelak ketika Sungmin berjalan ke arah cermin dan mematut diri disana.

Sungmin berdecak. "Aku terlihat… mengerikan." Gumamnya sambil sebelah lengan mengusap perut besarnya. Ia berputar ke kiri dan kanan dengan mata tetap tertuju ke cermin itu.

"Sudahlah, jangan dipikirkan terus. Nanti kau stress lalu sakit bagaimana? Lebih baik duduklah disini dan lihat buku yang kubeli kemarin lusa." Usul Kyuhyun.

Sungmin menoleh ke arah ranjang. Kyuhyun memperlihatkannya sebuah buku dengan cover bergambar bayi dan boneka-boneka lucu di sekitar.

"Nama-Nama Bayi." Sungmin membaca judulnya keras-keras. "Eh?" alisnya bertaut.

"Iya, nama bayi. Tentu saja kita harus menamai anak kita kan?" Kyuhyun membolak-balik bukunya. Memperhatikan bayi yang tampak lucu di cover itu. Tapi Kyuhyun yakin anaknya dan Sungmin akan lebih menggemaskan.

Sungmin mulai melupakan masalah bentuk tubuhnya dan beranjak meninggalkan cermin. Lalu mendudukan diri di ranjang tepat di sisi Kyuhyun. Matanya tak lepas dari buku yang telah menarik perhatiannya itu.

Kyuhyun terkekeh tanpa suara karena raut Sungmin yang begitu serius. Ia lalu berdeham pelan, ikut menyamakan raut serius daripada Sungmin menyadari bahwa ia sengaja mengeluarkan buku itu sebagai pengalih perhatian.

Dibukanya buku itu secara acak. Menampilkan deretan nama-nama yang berasal dari korea maupun luar negeri.

"Cicero Cato, Martialis Bandinus, Quintinus Varius—" ucapnya lantang, membacakan nama-nama yang tertulis dibuku itu tanpa menyadari raut Sungmin yang berubah drastis.

"Kyuhyun-ah, ini nama dari—"

"—Ow ow… lihat ini! Alwin Autenburg." Sela Kyuhyun antusias. Dibukanya lagi-lembar selanjutnya, masih menampilkan banyak sekali nama entah dari negara mana dan dari jaman kapan.

"Kyu!" Sungmin mencubit pinggang Kyuhyun kesal karena perkataannya digubris.

Kyuhyun meringis, mengusap bekas cubitan Sungmin yang ampuh membungkam mulutnya.

"Nama macam apa itu?"

"Oh, itu nama Romawi, dan nama dari Jerman. Hehe, menurutku itu keren." Kyuhyun tertawa masih dalam wajah menahan sakit hingga terlihat aneh.

"Kau akan menamakan anak kita dengan itu?"

"Kenapa tidak?"

"Kau serius?"

"Tidak juga."

Mulut Sungmin menganga lebar, tak mengerti jalan pikiran Kyuhyun kini. Matanya mengerjap dan segera merebut buku itu dari tangan Kyuhyun. Membuka lembar selanjutnya dan bermaksud serius mencari nama yang indah untuk anak mereka kelak.

Namun Kyuhyun lebih cepat merebut buku itu balik dan memasukannya ke laci kecil yang berada di nakas. "Lupakan, nama disana tidak ada yang bagus. Lebih baik nanti saja. Kita belum tahu jenis kelamin anak kita kan?"

Sungmin kembali ternganga, menatap tangannya yang sudah kosong dalam sekejap. Ia menarik nafas panjang dan menghembuskannya kuat-kuat. Berdebat dengan Kyuhyun salah satu hal menyenangkan tapi sulit dijalani(?).

Yah setidaknya kata menyenangkan itu sudah menjadi bukti nyata akrabnya hubungan mereka lagi. Setelah hubungan yang sempat merenggang, kini Sungmin dan Kyuhyun kembali terlihat romantis. Entahlah, Sungmin rasa itu tidak ada romantis-romantisnya karena di antara mereka kata 'hubungan' itu tidak pernah ada. Mereka hanya dekat…

Iya, hanya dekat.

"Min, aku bosan."

Sungmin menoleh. "Bosan kenapa?"

"Ya, karena aku bosan." Jawab Kyuhyun asal. "Tidak ada hal lain yang kukerjakan di rumah. Aku baru masuk kerja seminggu lagi. Rasanya bagai berabad-abad kau tahu?" jelasnya lebih rinci.

Kepala Sungmin langsung tertunduk, teringat alasan kenapa Kyuhyun bisa menemaninya disini. Tentu semua tahu ketika Kyuhyun diberhentikan dari pekerjaan selama sebulan oleh sang atasan. Rasa malu kembali muncul. Kyuhyun tak akan mengalami ini semua jika bukan karenanya…

Menyadari Sungmin yang berubah sendu, Kyuhyun langsung kelabakan. "T—tapi tidak apa-apa. Uhm–kau bisa liat aku juga menikmati waktuku disini. B–bersamamu dan anak kita. Yeah, itu sangat menghibur. Setidaknya aku bisa jauh dari bau rumah sakit walau sebentar." Hibur Kyuhyun. Ditarik kepala Sungmin untuk bersender di bahunya.

"Maafkan aku…" ucap Sungmin lirih.

"Tidak apa-apa, sudah jangan dipikirkan. Itu sudah lewat." Kyuhyun mengusap kepala Sungmin menenangkan.

Sungmin tak berkata lagi. Ia menyembunyikan wajah di bahu Kyuhyun. Membiarkan tangan Kyuhyun yang kini beralih mengusap perutnya dengan gerakan memutar. Menghasilkan efek nyaman tersendiri bagi Sungmin.

"Daripada seperti ini terus, lebih baik kita jalan-jalan. Oh ya, bahan makanan di kulkas juga mulai menipis. Haruskah kita ke supermarket? Setelah itu kita makan di luar. Itu juga jika kau berminat." Usul Kyuhyun.

Kepala Sungmin terangkat perlahan. Ditatapnya Kyuhyun bingung. Tidak biasanya Kyuhyun mengajak ke luar. "Terserah saja. Aku juga tidak mau diam di sini terus."

Jawaban Sungmin sukses membuat Kyuhyun bersorak senang. Yang mengandung arti Sungmin mau menerima ajakannya. Dikecup pucuk kepala Sungmin berkali-kali.

"Cha~ kalau begitu cepat ganti baju. Atau mau kugantikan?" goda Kyuhyun disertai senyum mesumnya.

Sungmin menggeleng kuat. Menahan panas yang kembali muncul di sekitar wajahnya, bahkan diikuti semburat merah di pipi.

"A—aku bisa sendiri!"

"Hahaha!"

.

=oO Fake Affection Oo=

.

"Daging ayam, babi, sapi…" bibir Sungmin mengerucut, ditangannya sudah terdapat kertas berisi daftar bahan-bahan apa saja yang ingin dibeli.

"Sosis, daging giling—Kenapa semuanya serba daging?" Sungmin melirik Kyuhyun di sebelahnya curiga. Namun yang dilirik hanya berjalan santai sambil mendorong trolley mensejajari langkah Sungmin. Pria manis itu menghela nafas. Rasanya saat membuat daftar belanjaan di apartemen, ia tidak ingat mencantumkan nama daging sebanyak ini.

"Dan—eh? Mana sayurnya?!"

"Kuhapus." Jawab Kyuhyun santai. Tangannya usil memasukan satu persatu makanan ringan yang ia suka serta banyak lagi barang tidak berguna lainnya.

Permen.

Biskuit.

Softdrink.

Mie instant.

"Tapi aku mau—Kyu! Itu tidak termasuk daftar!" pekik Sungmin saat Kyuhyun sudah mengisi hampir setengah trolley. Padahal mereka baru masuk ke dalam supermarket ini. Dan lihatlah Kyuhyun sudah sibuk lagi memilih minuman kaleng beralkohol lalu memasukannya ke trolley dalam jumlah banyak.

Ditahannya tangan Kyuhyun agar tak mengambil lebih banyak.

"Kenapa?" tanya Kyuhyun bingung.

"Kita harus membeli yang ada di daftar ini duluu~!" protes Sungmin dengan pipi menggembung kesal.

Kyuhyun terdiam. Ia menengguk air liurnya susah payah saat Sungmin merengut disertai wajah yang dibuat seimut mungkin. Ah, dia memang imut tidak dibuat-buat. Jika sudah begini Kyuhyun tak lagi bisa menolak.

Dikecupnya pipi Sungmin gemas.

"K–Kyu…" Sungmin terkesiap.

"Baiklah nona manis, cepatlah beli yang kau butuhkan. Jangan malah diam saja." Titah Kyuhyun menahan tawa ketika Sungmin kembali tersipu dibuatnya. Ia mendorong trolley-nya maju meninggalkan Sungmin yang membatu di belakang.

Sungmin langsung menggeleng cepat. Diusapnya bekas ciuman Kyuhyun yang masih terasa. "N–nona? A–apa-apaan itu." Gumamnya sambil menyusul langkah Kyuhyun.

Meski hanya gumaman, namun Kyuhyun dapat mendengarnya. "Lalu ingin kupanggil apa? Tuan? Lihatlah pakaianmu, bahkan semua orang di sini akan menyangka kau wanita hamil. Yeah, walau dadamu rata. Tapi tetap saja tidak mengurangi nilai pandangan mereka." Kyuhyun menatap Sungmin dari atas sampai bawah dengan alis naik turun terkesima.

Sungmin mengikuti arah mata Kyuhyun. Meneliti kesalahan apa yang ada pada tubuhnya. Tapi tidak ada yang salah. Semua biasa saja. Memangnya salah jika memakai celana putih selutut dan hoodie pink bergambar kelinci? Ya, Sungmin terpaksa memakai hoodie agar menyamarkan dadanya yang rata serta perut buncitnya, tapi… itu semua terasa wajar bagi Sungmin.

"Sudah, ayo cepat." Kyuhyun merangkul bahu Sungmin, bermaksud mengajaknya ke area yang menjual sayur, buah, dan daging.

"N–ne."

Sesampainya di area itu, Sungmin langsung memilah-milah sayuran hijau yang masih terlihat segar. Di belakangnya Kyuhyun menatap ngeri memperhatikan sayuran-sayuran mengerikan itu. Kadang ia menahan tangan Sungmin, mengisyaratkan agar tak mengambil terlalu banyak.

Sungmin menutup mulutnya, menahan senyum mendapati raut memohon Kyuhyun. "Ini sehat, kau kan dokter. Harusnya kau sering-sering menerapkan pola hidup sehat, bukan malah banyak membeli minuman beralkohol."

"Sesekali tak masalah." Kyuhyun membela diri.

Matanya lalu menelusuri satu persatu benda hijau lain hingga menemukan sebuah sayur dengan bentuk yang menarik perhatiannya. Sebuah ide jahil tiba-tiba terlintas. Diambilnya satu dan memperlihatkannya pada Sungmin.

"Min, lihat ini."

"Hn? Ada apa?" Sungmin melirik sayur itu dan Kyuhyun bergantian. "Timun?"

Kyuhyun mengangguk. Diperhatikan seksama sayur itu. "Iya. Kira-kira milikku dengan ini besaran mana?"

"M–Mwo?!" Sungmin hampir tersedak. Ya ampun! Kyuhyun tak serius menanyakan itu kan? "Milikmu a–apa? Yang mana?" tanyanya pura-pura bodoh menutupi rasa malu walau ia tahu maksud Kyuhyun sebenarnya.

Kyuhyun berdecak. "Jangan pura-pura." Dicubitnya pipi Sungmin gemas. "Lebih besar mana?" ulangnya.

Sungmin langsung memalingkan wajah yang sudah semerah tomat. Bibirnya terbuka sedikit, bergetar karena gugup untuk menjawab. "T–tidak tahu. Aku sudah lupa 'ukuranmu'. T–terakhir mencobanya kan sudah lama." Kilahnya, berharap agar Kyuhyun tak mengungkit lagi hal bodoh itu.

Namun jawaban itu malah membuat sebuah seringai terulas di wajah Kyuhyun. "Oh, jadi kau ingin mencobanya. Baik kalau begitu. Kutunggu di apartemen."

"Bukan begituuuu!"

Wajah Sungmin makin memerah.

Tawa Kyuhyun meledak. Puas menggoda Sungmin hingga kini mereka menjadi pusat perhatian. Menyenangkan juga. Bahkan banyak yang bilang mereka pasangan suami-istri yang romantis. Wow, sebuah kebahagiaan tersendiri bagi Kyuhyun.

"Hahaha! Baiklah aku mengerti. Tentu saja lebih besar punyaku. Timun ini tidak ada apa-apanya." Dilemparnya timun itu ke tempat semula. Tak peduli hal yang baru diperbuat adalah sebuah tindakan kriminal. Jika timun itu rusak bagaimana?

Sungmin mengusap wajahnya. Menutupi hasil perbuatan Kyuhyun yang membuatnya malu. Tidak elit sekali membicarakan hal ini di supermarket. Di dengar banyak orang pula.

Dengan bibir mengerucut lucu, Sungmin mengekori langkah Kyuhyun menuju area daging. Wajahnya tersembunyi di balik tubuh Kyuhyun. Jemarinya mencengkram baju bagian belakang Kyuhyun agar tak tertinggal.

Matanya sibuk melirik kesana kemari, mencari hal menarik lain sementara Kyuhyun terus mendorong trolley belanjaan mereka. Sampai bola matanya berhenti ketika menemukan sebuah alat pendingin besar di salah satu sudut. Bukan bendanya, namun isinya yang berhasil membuat matanya berbinar cerah.

Ice cream!

Sungmin berhenti melangkah, mengabaikan Kyuhyun yang terus berjalan ke depan. Sibuk menatap semua ice cream itu lapar. Tergoda corak kemasannya yang beraneka warna serta bagaimana nikmat isi kemasan itu…

Merasa ada yang janggal, Kyuhyun langsung berbalik. Alisnya bertaut bingung melihat Sungmin berdiam diri tidak jauh di belakangnya dengan tatapan tak berpindah dari suatu… benda, mungkin. Kyuhyun mengikuti arah pandangan Sungmin.

Senyumnya terulas kala tahu apa yang Sungmin perhatikan.

"Ice cream?"

Sungmin langsung tersentak ketika tangan Kyuhyun sudah melingkar di bahunya. Terlebih ketika tahu Kyuhyun menyebut nama makanan yang membayangi pikirannya sekarang! Ia sangat menginginkan ice cream itu.

"Kau mau?" tanya Kyuhyun.

Diluar dugaan, Sungmin malah menggeleng cepat dan menundukan kepala. "T–tidak usah. Ayo, sebaiknya kita beli daging dan cepat-cepat pulang." Ujarnya gugup. Sungmin memang sangat menginginkan ice cream itu. Tapi jika merengek, Sungmin takut akan merepotkan Kyuhyun. Sungmin tak mau Kyuhyun marah lagi karena ia terlalu banyak meminta seperti yang lalu. Ia sudah berjanji tak akan berulah lagi. Tekad menjadi anak baik sudah tertanam dalam dirinya.

Kyuhyun menghela nafas. Meski hubungan mereka sudah membaik, ia masih merasa Sungmin menjaga diri. "Benar tidak mau? Kalau mau biar kuambilkan." Tawarnya. Ia tahu Sungmin sangat menginginkan ice cream itu.

Sungmin menggeleng. "Tidak apa-apa." Jawabnya lalu mengulum senyum palsu.

"Jangan berbohong, Min. Senyummu mengerikan. Aku serius. Jika kau mau akan kuambil." Tawar Kyuhyun lagi.

Yang ditawari mulai mengigit bibirnya ragu. Antara menerima dan menolak. Ia melirik Kyuhyun dan ice cream-ice cream itu bergantian.

"Diam berarti iya. Tunggulah disini, atau kau bisa memilih daging dulu selama aku mengambil ice cream-nya." Diacak-acak rambut Sungmin gemas. Kemudian berlalu meninggalkan Sungmin untuk mengambil beberapa kotak ice cream. Sungmin sangat menyukai makanan dingin itu dan Kyuhyun tahu.

Bibir Sungmin terbuka sedikit, mengucapkan terima kasih dalam volume suara yang sangat kecil. Bukan hanya terima kasih karena Kyuhyun telah mau membelikan ice cream. Namun karena semua kebaikan yang Kyuhyun beri. Sungmin masih sadar dirinya siapa. Ia tak tahu bagaimana membalas kebaikan Kyuhyun jika ingatannya sudah kembali nanti. Juga anak yang dikandungnya sekarang. Sungmin masih belum memutuskan kedepannya nanti…

Sungmin janji akan membalas semuanya. Bahkan ia tak yakin bisa membalas satu-persatu karena semua pemberian Kyuhyun terlalu banyak.

Termasuk perasaan serta pandangannya pada Kyuhyun yang semakin berubah seiring waktu kebersamaan mereka.

Karena perasaan aneh itu pula, Sungmin bahkan sempat berharap ingatannya tidak pernah kembali. Agar ia bisa selalu bersama Kyuhyun…

BRUK

"Maafkan aku." Sungmin berseru panik saat tak sengaja menubruk seorang pria lain ketika mendorong trolleynya. Ia langsung membungkukan tubuh untuk memohon maaf amat sangat. Salahnya juga sih, jalan dengan pikiran kemana-mana, tidak melihat bahwa banyak orang yang sedang berlalu-lalang juga.

Sungmin masih membungkuk takut. Menunggu kalimat teguran atau amarah pria tinggi yang baru saja ditubruknya.

"S—Sungmin?"

EH?

Kepala Sungmin terangkat. "Maaf, apa kau baru memanggilku?" tanyanya ragu dengan telunjuk mengarah ke diri sendiri.

"L—Lee Sungmin? Kau benar Lee Sungmin kan?!" tanya pria tinggi itu berulang-ulang. Matanya membulat lebar menatap tubuh Sungmin dari atas ke bawah seksama. Tangannya terulur menggapai wajah Sungmin dan menelitinya lekat-lekat.

Sungmin berjengit risih, pria asing itu terlalu lancang menyentuh wajahnya. "Iya, aku Lee Sungmin. Kau mengenalku?" Sungmin balik memperhatikan wajah pria itu. Tampan. Namun tak lebih tampan dari Kyuhyun dan… kenapa pria ini tahu namanya?!

GREP

"Astaga Sungmin! Kau tak tahu betapa sulitnya aku mencarimu! Kau kemana saja! Ya Tuhan! Semua orang mengkhawatirkanmu, Min! Jangan kabur lagi!"

Sungmin terbelalak. Lengan kokoh pria itu sudah beralih mendekap erat tubuhnya. Terlalu erat hingga ia kesulitan benafas dan memberi jarak untuk perutnya. Dapat Sungmin rasakan aura bahagia keluar dari pria tinggi ini. Bahkan meski tak melihat wajahnya, Sungmin yakin pria itu tersenyum sangat lebar. Dan yang makin membuatnya terkejut, pria itu beralih mengecup bahu serta keningnya!

Buru-buru Sungmin menjauhkan tubuhnya paksa. "Maaf tapi sebenarnya kau siapa?"

Raut wajah pria itu berubah pias. "Kau t–tidak mengingatku?" tanyanya tak percaya.

Sungmin mengangguk yakin.

"Aku jungmo, Minnie! Kim Jungmo!"

.

=oO Fake Affection Oo=

.

.

TBC

Yeay apdet cepet(?) *ditabok. Mana ada apdet cepet berhari hari kaya gini -,_- tapi diitungan saya segini termasuk lumayan. Yahh saya kan ngaret apdet huweee T^T

Yang mau kyumin mesra mesraan udah yaaa xD hehehe. kurang mesra kah?

Mianhae saya belum bisa nyebutin siapa aja yang review di chap kemaren. Ini saya berebut wifi, buru buru sebelum gangguan dan dicabut. Saya tahu saya banyak alasan tapi tolonglah hargai saya. Saya minta review kalian sebagai penyemangat juga. Saya tahu karya saya emang ga sempurna. Tapi saya cuma pengen di hargai *bahhh hehehe. Dan terimakasih untuk semua masukan kaliaaaan, jujur saya sangat senang setiap ada yang memberi saya masukan, saran dan kritik. Tidak termasuk bash dan flame. Saya sangat suka setiap ada yang mengomentari karya saya. Kan saya jadi bisa introspeksi diri. Apa alur saya masih terlalu lama? Atau kalimatnya banyak yang kurang? Typo bertebaran? Kasih tau saya juseyooo~

Hehehe gomawoo~ ^ ^

I Love Reader

I Love KYUMIN!

Sign,

=YoonMingi=