Disclaimer : Bleach © Tite Kubo

.

.

.

Demons

.

Hoshikawa Mey

.

.

Tawa anak kecil, lagi-lagi. Tidak berhenti, malah semakin riang bergemuruh.

Menunduk melamun, tatapan wajah Ichigo terlihat kosong meski sepenuhnya sadar suara-suara berisik dilorong sangat mengganggu pertemuan dengan sang tetua. Kerap kali tetua Kurosaki yang renta itu berdeham tak nyaman, terganggu—tentu saja. Tapi seakan tidak peka, Kurosaki Ichigo hanya memasang wajah datar mengangkat wajah.

"Ehm—"Nada suara naik satu oktaf, jelas sengaja memperlihatkan otoriter sang tetua yang arogan ingin selalu didengar. "—kau tahu masalahnya sekarang berkembang cukup serius."

Raut muka Ichigo tentu tanpa perubahan, pemuda yang menempati urutan pertama dalam daftar pewaris Kurosaki tersebut telah terbiasa berada dalam lingkupan aura mengintimidasi sang kakek. Terganggu ataupun tidak, Ichigo tahu kakeknya akan tetap mengeluarkan isi kepalanya tanpa bisa dicegah.

Ichigo hanya mengangguk sekilas, sadar pintu telah bergeser menampakan sosok istrinya tengah membawa nampan dengan aroma teh hangat khas. Begitu telaten istrinya menuangkan cairan hangat bewarna hijau kecoklatan ke cangkir di atas meja, menjadikan suasana menjadi hening sejenak, seolah seperti sebuah jeda dalam ketegangan. Sayang tak berlangsung lama. Seorang anak kecil tertawa kegirangan hendak menerobos masuk, beruntung seorang pelayan berhasil menahannya tanpa ada protes karena telah diberi isyarat amat ramah dari Rukia yang secara ajaib menaklukan keaktifan anak kecil tersebut lewat seulas senyum.

"Kudengar kali ini mereka bergerak cukup cepat," Ichigo melihatnya, dahi sang tetua telah menekuk dalam. Karena itu dia sengaja mengeluarkan kalimat, lagi-lagi sebagai pengalih yang Ichigo sendiri tidak mengerti kenapa dia harus repot melakukan hal tersebut. Demi Rukia? Entahlah.

Sang tetua mengangguk setuju, pengalihan berhasil. "Beberapa keluarga bangsawan sudah habis mereka bantai. Kudengar tadi malam bahkan ada tiga klan yang mereka serang secara bergantian."

"Ahh, apakah yang kakek maksud adalah para pembrontak di daerah pinggirian Rukongai? Aku rasa mereka akan mulai bergerak menyerang klan-klan kuat."

"Kau juga tahu tentang mereka, Rukia?" kali ini minat sang tetua jatuh pada Rukia, kembali Genryusai dibuat takjub dengan pengetahuan yang dimiliki menantu dari klan Kuchiki yang mereka miliki sekarang.

"Tidak begitu banyak. Hanya saja awal tahun lalu mereka sudah bergerak menyerangg Kuchiki mansion, tapi gagal karena Paman Byakuya sudah bekerja sama dengan aparat keamanan untuk mengamankan mansion. Aku rasa mereka tidak main-main dengan rencana melakukan penyerangan habis-habisan kepada keluarga bangsawan."

"Yah—tampaknya kita harus mulai waspada. Bawalah Ikkaku bersamamu sebagai penjagaan mulai sekarang, Ichigo. Kita belum tahu apakah klan Kurosaki atau bukan yang menjadi target berikutnya."

Rukia turut mengangguk menyepakati. "Aku juga setuju dengan pendapat kakek. Bagaimanapun juga sudah menjadi rahasia umum bahwa Ichigo adalah pewaris berikutnya. Bisa jadi bila klan Kurosaki yang menjadi target, pilihan mereka akan jatuh antara kakek atau Ichigo."

"Baiklah, aku harus kembali dan mengatur kembali pola penjagaan. Kusarankan agar kalian lebih tenang berada di ibu kota dan jangan melakukan perjalanan jauh dulu, terlebih bagimu Ichigo. Kau paham bukan?"

.

.

Beberapa pelayan membawa nampan keluar dari ruang santai tempat sang tetua berada sebelumnya, membungkuk memberi hormat sebelum melewati Rukia. Mereka adalah orang yang membereskan meja setelah nyonya rumah pergi mengantarkan kepergian sang tetua.

Rukia tersenyum sekilas membalas bungkukan hormat, memberi isyarat terimakasih lalu masuk kedalam ruangan yang telah rapi.

"Kakek sudah pulang, kau tidak perlu berwajah tegang seperti itu."

Di dalam ruangan masih terlihat sosok Ichigo. Pewaris muda itu tampak belum beranjak sama sekali dari tempat duduk yang telah diduduki saat berbincang dengan tetua. Iris kuning madunya hanya melirik Rukia sekilas, lalu membuang tatapan keluar jendela. "Kau—terlihat akrab dengannya"

Sudah lewat dua hari dari kepulangan mereka di acara tahunan klan Kuchiki. Banyak pula yang terjadi hingga beberapa kali Ichigo pun harus terlibat dalam perselisihan keluarga Kuchiki. Mungkin tidak ada hal yang mengkhawatirkan yang membuat hubungan mereka memburuk, namun harus Rukia akui belakangan mimik wajah suaminya sering terlihat serius dan tampak sedang berpikir keras. Entah itu karena masalah pribadi atau mungkin persoalan lain, Rukia hanya tidak mengerti, dan—Rukia tidak ingin tahu.

"Hmm, siapa?" Rukia menaikan sebelah alis, tampak bingung untuk sejenak namun tawa rendah menyusul berikutnya. "Kakekmu?"

Rukia mungkin bergurau, atau mungkin tawa perempuan itu serius. Nyonya rumah Kurosaki itu sungguh sedang menertawakan suaminya sendiri.

Ichigo tetap merespon datar, menampilkan ekspresi lebih sinis mendengus kecil. Tidak perlu mengatakan apapun untuk memberi tahu istrinya bahwa dia sedang jengkel, tentu istrinya akan tahu sendiri bahwa yang dimaksudkan perempuan itu berbeda dengan apa yang ada dipikiran Ichigo. Buktinya tawa Rukia langsung terhenti, memasang wajah lebih seirus lalu duduk menghampiri. Tangan perempuan itu terangkat, menyapukan jemari mengusap pipi suaminya.

"Ahh—jadi kau ingin menceritakan sesuatu?"

Kedua manik mata saling mengadu memancarkan kilatan dari pantulan cahaya penerangan. Kembali Ichigo mendengus. Lagi-lagi merasa dikalahkan oleh kesempurnaan istrinya yang semakin paham isi pikirannya. Ichigo bukanlah orang yang mudah mengungkapkan sesuatu dengan kata-kata, Rukia pasti tahu. Tentu saja begitu. Bila seandainya tidak tahu sama sekali, perempuan itu tentunya tidak akan mulai menyentuhnya seperti saat ini.

Sentuhan hanya untuk permulaan, dan percakapan hanya sebagai bentuk rayuan. Apabila hingga akhir Rukia tidak akan mampu mengetahui apa yang sedang mengusik isi kepala Ichigo, pada akhirnya perempuan itu akan mencari cara lain setidaknya untuk membuat perasaan mengganggu itu sedikit mereda. Karena itu Rukia merayunya, menggoda, membujuk untuk mengalihkan perhatian agar tidak terlalu terpusat pada masalah.

Dan selalu—Ichigo tidak pernah menolak.

Iris kuning madu yang tadi beradu kini turun menelusuri ujung hidung, bibir kemerahan istrinya, lalu berhenti pada lipatan obi dibawah dada pewaris Kurosaki itu kini gantian terulur, tidak menyapukan jemari pada pipi seperti yang dilakukan istrinya, melainkan menarik sipul ikatan obi kimono istrinya.

.

.

Wajah itu tetap saja dingin.

Semua yang sudah terjadi beberapa menit sebelumnya bahkan tidak mengurangi segaris pun kerutan di wajah yang sudah memiliki pahatan kerut permanen di dahi.

Masih mengenakan yukata yang tidak sepenuhnya terpasang rapi, menampakan dada bidang dengan beberapa bekas luka goresan. Ichigo duduk bersila di atas bantal duduk, bergeming membiarkan kehingan menjernihkan suara nafas teratur istrinya yang sudah tertidur dengan hanya berselimutkan kimono serta lipatan tangan sendiri sebagai bantal.

Mungkin saat Rukia terbangun, perempuan itu akan mengeluh sedikit karena dibiarkan tidur dalam posisi tidak baik, namun Ichigo tidak terlalu menghiraukan. Pria Kurosaki itu terlalu nyaman mendengarkan deru nafas tenang istrinya, memberi bukti bahwa perempuan itu ada, membuatnya merasa sedikit tenang.

Tenang?

Yah, akhir-akhir ini banyak hal yang mengusik. Kebanyakan mengenai permasalahan klan, dan—sebagian besar lainnya adalah tentang Rukia, istrinya.

Dulu—awal pernikahan, jujur Ichigo merasa terganggu dengan keberadaan Rukia sebagai pelengkap status dalam strategi penguat klan. Watak aslinya pencuriga, karena itu ia tidak pernah mempercayai siapapun, terlebih orang itu datangnya dari luar klan Kurosaki. Namun fakta yang terjadi sekarang membuat Ichigo sama sekali kurang memahami dirinya.

Perlahan, keyakinan Ichigo memudar. Penolakannya dulu tiba-tiba bagai angin berputar arah menjadi penerimaan. Rukia yang tidak ingin diterima malah berubah harus diikat.

Mungkinkah Rukia memberikan kutukan padanya?

Alasan yang terbilang aneh itu malah rasanya bisa menjadi alasan yang jauh lebih masuk akal untuk menjelaskan kondisi yang dialami Ichigo saat ini. Dengan sadar, perlahan, hari demi hari, perempuan itu mengisi isi kepala. Hingga akhirnya kini tiada hari bagi Ichigo tanpa memikirkan istrnya, apa saja.

Setiap hari, Ichigo ingin melihat istrinya. Setiap hari, ingin selalu menjamahnya dalam dekapan. Semakin hari semakin ekstrim. Bahkan hari ini saat tetua datang membicarakan persoalan serius, konsetrasi Ichigo terpecah begitu mendengar tawa Rukia sedang bergurau bersama anak seorang pelayan kediaman mereka. Tiba-tiba saja Ichigo berfikir bagaimana bila seandainya tawa Rukia itu bukanlah bersama orang asing, tapi tidak lain adalah anak mereka.

Ichigo sedikit bergidik dari pemikiran yang baru terlitas. Tangannya sedikit refleks merapatkan lipatan kerah yukata seperti reaksi cuaca dingin, hasil dari respon penyangkalan untuk menerima pemikiran. Sungguh—apakah Ichigo akan merasa lebih bahagia saat mereka memiliki anak? Bersama Rukia?

"Ah, aku ketiduran."

Lamunan Ichigo terpecah, tatapannya teralih pada Rukia yang bersinggut duduk. Mata kuning madunya tidak pernah lepas mengamati saat istrinya mulai mengenakan kembali kimono hingga terpasang rapi, lalu beralih menyalakan lampu penerangan. Perempuam itu hanya tersenyum tipis menghampiri, duduk sopan di hadapan Ichigo untuk membenahi ikatan yukata yang tengah dikenakan suaminya.

"Apakah kau ingin kubuatkan teh, atau—ingin kusiapkan air hangat untuk mandi?"

"Rukia."

"Hmm?"

"Aku ingin—" mulut Ichigo masih membuka, menggantung kalimat belum terselesaikan.

Berikutnya perkataan Ichigo hanya berupa bisikan kecil yang telah sukses mebuat iris violet Rukia sedikit membesar, kalimat halus yang cuma bisa terdengar oleh telinga Rukia.

.

.

Tubuh mungil Rukia duduk dengan anggun di depan cermin hias, jemari lentiknya menyematkan sirkam dengan hati-hati pada sisi rambut. Suami perempuan bertubuh mungil itu boleh berbangga hati, jujur dia mempersiapkan penampilan yang anggun sedemikian rupa hanya untuk menyambut kepulangan suaminya. Bukanlah hal yang sering putri es itu memberikan kejutan yang membuat waktu sedikit tersita, namun yah—anggap saja suasana hati Rukia sedang berbedadari biasanya.

Sadar ataupun tidak. Hari ini ia merasa sedikit linglung.

Semua aktivitas memang dilakukannya seperti biasa. Dia menyiapkan semua kebutuhan suaminya, merangkai bunga, merawat tubuh, dan mempercantik diri. Semua aktivitas yang memungkinkan bagi nyonya muda itu untuk tetap sibuk, karena saat ini ia cukup ngeri bila ada jeda istirahat isi kepalanya akan melayang pada seputar kejadian dimana suaminya mengutarakan sebuah permintaan yang tak terprediksi.

Kurosaki Ichigo menggunakan haknya sebagai seorang suami, pria itu meminta lebih, dia ingin—

Srakkk!

Sebenarnya Rukia sedikit terkejut, namun perempuan itu berhasil mengendalikan diri hingga merubah kembali ekspresinya menjadi tenang. Santai wajahnya melirik Kiyone yang membuka pintu dengan wajah penuh keringat dan terengah.

"Nyonya, syukurlah anda berada disini. Kita harus segera pergi."

"Pergi?" dahi Rukia menyerinyit, tubuhnya tidak lagi duduk manis di depan cermin, kini ia telah berjalan menuju pelayannya dengan penuh tanya. "Ceritakan dengan pelan-pelan Kiyone. Apa yang sedang terjadi."

Kiyone menggeleng kuat. Melupakan sikap kesopanan perempuan muda itu meraih pergelangaan tangan sang nyonya dengan kedua tangan. "Kita tidak boleh berdiam diri disini. Mari kita pergi, saya akan menceritakannya sambil berjalan."

"Tapi—"

Rukia hendak memprotes, namun Kiyone sudah menyentakkan tubuhnya dan menariknya berlari. Menambah kecepatan menelusuri lorong menuju bagian rumah paling belakang.

"Kenapa kita menuju taman belakang, Kiyone. Cepat ceritakan padaku."

"Seseorang sedang menyerang rumah ini, Nyonya. Para penjaga sedang menahan mereka di pintu gerbang, tapi sepertinya kita kalah jumlah. Sebelum mereka berhasil menemukan kita, nyonya harus segera meninggalkan tempat ini."

"Tunggu, menyerang? Siapa? Siapa yang berani menyerang kediaman Kurosaki ketika ada seorang keturunan Kuchiki tinggal di dalamnya? Dan Ichigo, dimana dia?"

"Tuan sedang dalam perjalanan kesini. Perintah sementara yang saya terima adalah membawa anda keluar dengan aman."

Penjelasan Kiyone seperti sebuah suntikan racun yang mulai memberi efek pada tubuh Rukia. Entah kenapa tanpa bisa dikontrol jaringan otak Rukia terasa menumpul, pikirannya berubah menjadi kosong. Ada rasa pening luar biasa yang membuat tubuhnya seperti akan terhuyung. Ada sesuatu yang tidak beres pada dirinya, dan parahnya Rukia tahu apa penyebabnya.

"Tidak." Suara Rukia mendingin. Tangannya menghentakkan tangan Kiyoen hingga terelepas dari genggaman, kaku wajahnya menghentikan langkah. "Bagaimana mungkin aku bisa lari sendiri ketika suamiku kemungkinan bisa dalam bahaya bila menuju kemari."

"Nyonya—anda tidak bisa seperti itu. Anda tahu betul prioritas utama sekarang adalah keselamatan anda. Keselamatan tuan memang juga penting, tapi ini bukan waktu anda untuk memikirkan tuan."

Kiyone benar, Rukia tahu dengan pasti. Bahkan isi dalam kepalanya pun terus mencemooh sikap bodohnya yang tiba-tiba berubah menjadi aneh. Tapi mereka semua tidak mengerti, mereka tidak akan tahu apa yang dirasakannya saat ini.

"Nyonya, saya mohon—"

Rukia menggeleng. Inilah sikap keras kepala sesungguhnya dari seorang Rukia. Suka ataupun tidak, siapapun harus mengalah karena tidak akan mampu menggoyahkan keputusannya. "Kita harus menemukan seseorang yang bisa diutus untuk menghadang suamiku agar tidak kemari. Aku harus menuju pintu depan."

Semakin putus asa rasa menjalar di batin Kiyone. Tindakan nyonya muda yang telah dilayaninya memang tindakan terhormat bagi seorang istri, namun keputusan itu juga adalah hal paling berbahaya yang seharusnya tidak dipilih. Kiyone yakin seratus persen nyonyanya akan dalam bahaya besar bila keinginannya diikuti, karena itu mati-matian ia harus mencegah. Namun belum sempat Kiyone melontarkan bujukan, sang nyonya muda telah melesat kembali mundur kearah mereka bergerak sebelumnya.

"Nyonya!" diselimuti rasa putus asa Kiyone memutuskan mengejar Rukia. Kiyone memang ketakutan, dia sendiri sedang bertaruh pada peruntungan serta berharap dewa sedang berpihak pada mereka.

"Kenapa kau masih disini?"

Ahh—benarkah ini peruntungan. Suara itu—yang datang dari arah berlawanan, Kiyone mengenal siapa pemiliknya.

Dibalik mata berkaca-kaca, terharu langkah Kiyone terhenti, membuka jalan agar lebih lebar. Dua orang lari bergandengan melewatinya, membuncah rasa bahagia bercampur lega. Setidaknya mereka sudah lebih aman sekarang.

"Kenapa kau diam saja, Kiyone? Kau harus berjalan lebih dulu di depanku."

Seolah tersadar, Kiyone mengerjapkan mata. Tatapannya yang sendari tadi terpaku menatap punggung kedua majikannya yang semakin menjauh kini beralih pada sesosok pemuda berkepala licin dengan tato warna merah di sudut mata bak riasan seorang pemain kabuki.

"Ikkaku-san?"

"Ck, jangan melamun. Kurosaki-sama dan istrinya sudah semakin jauh. Cepat kita susul mereka."

Mengangguk mereka berdua lekas bergerak, menambah kecepatan lari untuk memperpendek jarak dengan kedua orang yang harus mereka jaga. Dalam kebisuan hanya derap langkah yang terdengar, menggigit bibir Kiyone menahan tangis. Anggaplah dirinya memang cengeng, namun tidak bisa dipungkiri lubuk hatinya mengucap rasa syukur ketika melihat kemunculan tuan besarnya dari arah berlawanan, mencegah tindakan nekad sang nyonya, meraih tangan istrinya itu untuk membawa kembali ke arah semestinya mereka berlari.

"Mereka disana!" seruan kencang terdengar dari arah belakang.

Kiyone terkesiap terkejut, membelit kaki sendiri hingga terjadi hal bodoh membuat tubuhnya terjerembab terjatuh.

"Kiyone?" langkah Rukia terhenti, melepaskan genggaman dari tangan Ichigo. Bergegas nyonya muda itu menghampiri pelayannya untuk membantu berdiri.

"Kenapa kau pakai acara terjatuh segala sih!" Ikkaku geram. Cemas wajahnya terus melirik kebelakang lalu dengan tatapan serius mengadu pandang dengan tatapan Kurosaki muda yang tampak sama tegangnya. "Aku punya berita buruk, Kurosaki-sama. Mereka berhasil mengejar kita."

"Kakimu baik-baik saja kan, Kiyone." Bersikap tenang Rukia menyembunyikan panik. Pikirannya mencoba dialihkan dengan lebih menaruh fokus pada pelayannya. "Ayo, kita harus bergegas."

Menyesal Kiyone menggeleng meneteskan air mata. "Sa,sa,saya tidak bisa berlari lagi, Nyonya. Kalian harus pergi, tinggalkan saja saya sendiri."

"Aku tidak akan meninggalkanmu, Kiyone."

"Tapi mereka sudah semakin dekat, nyonya harus segera pergi."

"Kiyone benar, Rukia."

"Ichigo!"

"Tidak, Rukia. Bagaimanapun harus ada yang tinggal." Akhirnya menarik pedang yang sendari tadi digenggamnya di sebelah kanan. Memantulkan kilatan dari sisi tajam membuat Rukia menyerinyit.

"Bawalah Kiyone bersamamu, aku akan menahan mereka bersama Ikkaku disini."

Huh!

Usaha yang cukup bagus. Tidak buruk. Rukia mengapresiasi usaha Ichigo melindungi mereka.

Bila seandainya mereka tertangkap, mungkin Rukia tidak akan perduli pada nyawa siapapun. Namun—yang dilakukan Ichigo, entah kenapa membuat nyawanya terasa dihargai, mengusik hati kecilnya menciptakan sepercik keingan untuk selamat.

"Kata-kata waktu itu," Rukia berdiri, menatap langsung wajah suaminya. Wajahnya kaku, membuat Ichigo berfikir ekspresi apa yang sebenarnya ingin ditutupi Rukia. "Kau tahu kan, kau harus tetap hidup untuk mencapainya. Bila seandainya terjadi kesalahan kecil sekarang, kau akan kehilangan banyak."

Ichigo terdiam.

Peringatan tegas dari Kuchiki mungil. Manik violet itu tampak keras menatap, menusuk bagai perintah mendikte. Tegas dan kejam, Ichigo tahuitu adalah peringatan mutlak persis seperti sebagaimana mestinya bila seorang Kuchiki menekan lawan, namun—bukanlah takut yang Ichigo rasakan.

Entah mengapa, tatapan tajam Rukia membuat perasaan hangat di dada, menjadikan logika sedikit melemah hingga hampir menyerah memilih tidak berpisah agar bisa terus lari bersama.

Ahh—bahkan Kami-sama pasti tahu seberapa besar keinginan Ichigo untuk terus bersama Rukia.

Tapi untuk kali ini dia tidak boleh egois. Ikkaku, Kiyone, sekarang dua orang yang amat setia pada klan Kurosaki itu sedang bersama mereka. Mengorbankan banyak orang untuk saat ini bukanlah ide bagus. Harus ada yang tinggal lebih lama. Karena itu, tanpa keraguan Ichigo memberi kecupan singkat di bibir mungil sang istri lalu mengangguk sebagai jawaban persetujuan.

"Pergilah, aku berjanji akan segera menyusul."

.

.

Sekitar tiga puluh menit berlalu, kereta kuda sudah berjalan cukup jauh meninggalkan kediaman Kurosaki. Tanda-tanda ada yang mengejar pun tak terlihat, kendaraan tradisional memang lebih aman digunakan bila dalam pelarian, dan bisa saja kepala keluarga Kurosaki sudah berhasil menghalau sang pengejar.

Dalam diam Rukia menyingkap sedikit tirai kereta, mengintip jalanan di luar yang amat gelap. Desahan berat terhembus dari sang nyonya muda, menutup kembali tirai lalu mengetuk jendela kecil yang menghubungkan mereka dengan kusir.

"Nyonya butuh sesuatu?" Sang pendamping kusir menoleh kebelakang berbicara lewat celah kecil. Tidak banyak siluetnya bisa tertangkap oleh mata Rukia.

"Kemana arah tujuan kita sekarang?"

"Ah, Kurosaki-sama memerintahkan kami untuk membawa nyonya ke rumah persembunyian. Mungkin akan memakan waktu cukup lama, sebaiknya nyonya beristirahat saja dulu."

"Ah.. begitukah. Kalau begitu, bisakah kita berhenti di pemandian umun di perbatasan. Aku ingin pelayanku memperbaiki kimonoku sebentar."

"Saya tidak yakin itu adalah ide yang bagus, saya takut kita bisa terkejar bila berhenti."

"Aku tidak akan lama. Kalian tahu bukan, tidak pantas bagi seorang istri bangsawan mengenakan kimono yang tak layak di dalam kereta."

"Tapi—"

"Kalian ingin menurut atau aku mencari kendaraan lain?"

.

.

'Ah!'

Ini mungkin sudah yang kesepuluh, merintih tidak memperdulikan noda tanah menempel—Rukia berdiri seolah tubuhnya yang sudah melebam karena berkali-kali terjerembab tidak memiliki masalah serius.

Ia sadar ada denyut ngilu serta rasa perih dari kulit yang tergores, namun akalnya juga logis memerintahkan untuk tidak berhenti berlari meski kaki telanjang terus menapak tanah lembab bercampur semak tajam. Kecepatan serta perhitungan yang terpenting, tidak boleh melambat karena kemungkinan tertangkap lebih besar dari peluang selamat.

Ah—adakah yang sadar bahwa Kuchiki Rukia sedang melarikan diri sendiri saat ini?

Ingin bertanya tentang Kiyone? Malu mengatakannya, gadis lugu itu sudah tidak sadarkan diri Rukia dorong ke semak rerumputan beberapa menit lalu saat melarikan diri. Anggap tindakan spontan tersebut sebagai aksi heroik menyelamatkan Kiyone agar tidak tertangkap—tunggu, benar mereka sudah dalam kereta yang aman, namun sebernanya mereka berada dalam tawanan.

Para pengawal yang membawa mereka dari Kurosaki Manor adalah penculik menyamar. Menyusun rencana dalam kepanikan hendak menculik istri kesayangan Kurosaki Ichigo. Tidak ada kecacatan dalam rencana, bahkan tidak ada kecurigaan saat pertama kali Rukia menaiki kereta kuda.

Nyonya muda Kurosaki mulai menaruh curiga saat rute yang diambil terlampau jauh untuk sebuah rencana mencari perlindungan, bila seandainya mereka disembunyikan di tengah kota, mungkin saja Rukia masih lengah dan terseret arus rencana. Entah kebruntungan atau kemalangan, haruskan Rukia bersyukur menyadari rencana penculikan lebih dini?

Itulah alasan mengapa ia begitu keras kepala memaksa untuk berhenti sejenak di pemandian umum dengan akting tidak tahu menahu. Rukia ingin memanfaatkan kesempatan untuk diam-diam menyusup lari dari pintu belakang. Sayang namanya juga rencana dadakan, tidak dibutuhkan waktu lama pula bahwa para penculik sudah dikelabui sang nyonya Kurosaki.

Kesal karena sudah ditipu, mereka mengejar. Cepat menemukan jejak tawanan karena fisiknya sebagai perempuan lebih lemah dari banyaknya pengejar, namun tetap saja nyonya mungil masih keras kepala berlari padahal punggungnya sendiri sudah tampak di depan mata para penculik.

"Cepat cari, mereka disekitar sini!"

Rukia terbatuk dengan nafas tidak terkontrol, terkejut karena semakin dekat dengan para penculik. Respon dadakan yang membuat dadanya semakin sesak, sadar kondisi tubuh mulai di ambang batas.

Tidak.

Menggeleng kuat, seolah memarahi diri sendiri.

Rukia tidak ingin menyerah, tidak pula berencana berhenti berlari.

Kenapa ia memilih menyembunyian Kiyone, dan memaksa daerah perbatasan sebagai tempat pelarian. Bukankah sebuah renana selalu dibangung dengan tujuan. Pelarian kali ini bukan asal-asalan dengan pertaruhan keselamatan untuk kembali pada Kurosaki Ichigo. Semua adalah rencana sempurna yang terbangun dalam kesempatan.

Kesempatan sudah datang kali ini, Rukia tidak boleh menyia-nyiakan.

Tertangkap sama artinya dengan neraka.

Biarlah ia mati membusuk daripada harus kembali terbelenggu. Sudah waktunya mengambil kebebasan.

Tidak perduli rasa sakit, mematikan indra meski nafas tersengal. Rukia berlari, terus memacu tidak ingin menoleh kebelakang. Seharusnya dia sudah dekat dengan tujuan. Ia tidak ingin kembali, tidak ingin lagi terikat, tidak boleh—

'Ah!'

Brug!

Rangkaian semak membelenggu pergelangan kaki Rukia, menghilangkan keseimbangan. Membawa tubuh lemah untuk kesekian kali terjerembab. Pasrah Rukia memejamkan mata, lelahnya memaksa menyerah. Dalam hati berdoa semoga Kami-sama mengambil saja nyawanya saat ini.

"Hei, kau tidak apa?"

Iris violet memaksa mengerjap, mengambil gambar sebisa mungkin. Berhalusinasi atau bukan, sesorang tampaknya sudah menangkap tubuh Rukia sebelum sempat disambut oleh tanah. Sosok Ichigo yang pertama kali Rukia rasakan sebelum kesadarannya benar-benar terambil oleh rasa lelah.

.

.

Ichigo tidak bisa tenang.

Aura menyeramkan terpancar terseret langkah kaki yang tidak berhenti mondar mandir. Pikirannya kacau, berbagai hal buruk terus singgah tak bisa dicegah.

Di mana Rukia?

Sudah berjam-jam berlalu semenjak mereka terpisah di Kurosaki Manor. Istrinya yang seharusnya telah tiba sebelum dirinya, kini malah dikabarkan menghilang diculik. Ini kesalahnya.

Seharusnya perempuan itu tidak boleh lepas dari pengawasan bagaimanapun situasi. Salahnya membiarkan istrinya menaiki kereta tanpa pengawal kepercayaan.

'Ahh!'

Frustasi Ichigo mencengkram kepala. Tempat itu sama sekali tidak ada jejak luka maupun lebam, namun terus bergdenyut seirama dengan rasa tertekan dan amarah. Dulu saat Rukia mencoba lari darinya saja sudah seperti terserang penyakit kronis. Kini saat sesesorang mengabarkan bahwa kereta yang dinaiki istrinya tidak terlacak, bayangkan bagaimana persaan Ichigo saat ini.

Bila seandainya terjadi sesuatu yang buruk pada Rukia, Ichigo bersumpah—

"Kurosaki-sama," seorang pengawal masuk menjeda imajinasi buruk Kurosaki muda. Tidak berniat menghilangkan ekspresi berkerut, ganas Ichigo menatap sang pengawal bayaran. "Kami menemukan seorang perempuan tidak sadarkan diri di pinggiran kota, mereka yakin perempuan itu berasal dari Kurosaki Manor. Apakah Kurosaki-sama ingin—"

Tidak sabar menunggu pengawalnya selesai memberi laporan, Ichigo telah berjalan keluar memberi isyarat untuk diikuti, wajahnya malah semakin tengang menapaki koridor.

"Katakan padaku dimana dia dibawa."

.

.

Rasa pening menjalar di kepala Rukia, beberapa kali matanya mencoba mengerjap, berusaha agar pengelihatannya kabur menjadi normal.

"Kau baik-baik saja?"

Suara itu terdengar menggema, bersahut-sahutan ditengah proses kembalinya kesadaran. Mata Rukia memejam untuk sekali, lalu membuka. Terlihat sudah. Sosok yang menanyainya berada tidak jauh disamping tempatnya berbaring. Ekpresinya sedikit guratan khawatir, namun masih menyunginggkan senyum hangat. Membuat Rukia melupakan pening yang belum pulih, terbawa mengikuti menarik garis senyum di bibir.

Ahh—dia sudah aman.

.

.

Ichigo terdiam.

Matanya tidak pernah lepas memandang sosok terbaring di atas futon tidur yang mulai tersadar. Perempuan itu bergerak merintih menahan nyeri, tampak bekas lebam di bagian kulitnya yang tidak tertutup kimono.

Kasihan. Itu yang pertama kali terpikir dalam otak rumit Kurosaki Ichigo. Namun—selain satu kata ambigu tersebut, tidak ada hal lain lagi yang terlintas karena mengosongnya semua isi kepala. Bahkan tubuh yang begitu tangguh miliknya serasa tidak menapak tanah karena sekejap mati rasa. Orang yang memperhatikan mimik wajah Kurosaki muda juga pasti sadar pewaris Kurosaki itu memucat.

"Kurosaki-sama baik-baik saja?"

Mendengus Ichigo berbalik, melipat kedua tangan berjalan keluar. Suaranya serak berpadu rasa tegang, "Cepat temukan istriku, nyawa kalian taruhannya."

.

.

.

To be continued...


Hiks,

Ga iklas Demons mendekati tamat T.T