Just a Drabble

H

Hati

Iris semerah darah tak berkedip barang sedetik pun. Pandangan matanya mengarah tepat pada remaja bersurai baby blue. Bukan pandangan intimidasi yang selalu diberikannya pada orang-orang lain, hanya sebuah pandangan lembut yang tampak menerawang jauh ke dalam iris seindah langit tanpa bercak awan.

"Akashi-kun," ah, bukan hanya parasnya saja yang indah bak malaikat dari kayangan, bahkan suaranya pun lebih merdu dari petikan harpa yang dimainkan para bidadari di surga. Makhluk coretsexycoret di depannya ini sungguh memikat

Yang dipanggil tidak merespon dan malah hanyut dalam imajinasinya sendiri—setidaknya pemuda dengan julukan "renkarnasi iblis" itu tidak berimajinasi kotor di sore berhujan ini.

Pemuda yang dipandangi sejak tadi hanya mengangkat bahu acuh dan kembali membaca novel di tangannya

"Tetsuya," panggilan itu membuat sang pemilik nama menengadahkan kepalanya "Apakah kau sedang patah hati?"

Kuroko Tetsuya mengangkat alisnya sedikit, memandang bingung pada sang kapten tim basket Teikou "Maaf, Akashi-kun barusan tanya apa?"

"Aku tau kau mendengarnya dengan jelas Tetsuya." Akashi masih memandang iris mempesona milik lawan bicara "Apa kau sedang patah hati? Bukankah kemarin Tetsuya dan Daiki bertengkar karena si bodoh itu bolos latihan lagi.."

'Bagaimana dia bisa tau?' Kuroko membatin dengan wajah super datar

"Aku tau segalanya, Tetsuya. Jangan meremehkanku."

Ah, sial, Kuroko lupa kalau ketuanya ini bisa membaca pikiran orang. Tangan seputih susu vanilla itu menutup pelan novel yang belum selesai ia baca.

"Tidak juga, Akashi-kun,"

Sebuah senyum tulus terpatri di paras rupawan milik pemuda absolute tersebut "Baguslah. Kalau begitu berikan hatimu padaku dan akan kubuat hatimu berdebar-debar setiap hari—ah tidak, akan kubuat berdebar setiap saat."

Oke, Kuroko merasa yakin bahwa ketua kaptennya ini tadi pagi salah makan. Sejak kapan pemuda sadis itu jadi bisa menggombal seperti itu? Dunia sepertinya sudah mendekati kiamat.

-Hati_end-