Genre : Horror – Fantasy
Cast : Super Junior – EXO
Pairing : KyuMin
Jika tertulis "Jangan Dimainkan" berarti jangan pernah kau berpikir atau mencoba untuk memainkannya. Rantai kesalahan dan petaka akan menanti dengan pasti. ( The Reason ) – Dhee
.
.
.
.
The Reason
.
.
Vincent terbaring di atas tempat tidurnya. Matanya memang terpejam tapi kesadarannya masih terjaga. Pikirannya tengah melintas menuju berbagai jalur menemukan berbagai macam jawaban atas pertanyaan yang ada di dalam dirinya. Selimut tebal berwarna merah muda yang menutupi tubuhnya sebatas dada. Nyatanya tidak juga membuatnya merasa hangat. Udara dingin begitu terasa di dalam kamarnya.
"Kau sudah tidur?" Suara bass Kyuhyun yang tiba-tiba terdengar membuat Vincent membuka matanya. Senyum tercipta di atas bibirnya yang melengkung sempurna. Vincent bangun dan bersandar pada tepian tempat tidurnya. Kyuhyun menyodorkan secangkir teh hangat kepada Vincent.
"Minumlah! Ini teh jepang. Rasanya memang sedikit pahit tapi aku bisa menjamin akan membuatmu lebih baik dan nyaman." Kyuhyun mengacak lembut rambut Vincent. Vincent merasakan hangat bersamaan dengan sensani teh yang Ia minum.
Vincent menaruh cangkir di atas lemari kecil yang terletak di samping tempat tidurnya.
"Kau belum pulang?" Tanya Vincent kepada Kyuhyun. Kyuhyun hanya menjawab dengan menggeleng.
"Apakah kau takut ketika melihat apa yang baru saja aku lakukan tadi, Kyu? Maaf." Vincent terkejut ketika Kyuhyun mengenggam tangannya erat. Posisi mereka masih duduk berhadapan dalam jarak lumayan dekat.
"Kau memang terlihat berbeda dan menyeramkan tapi aku tahu bahwa itu bukanlah dirimu. Kau hanya sedang melakukan tugasmu, Vincent."
"Sejujurnya, aku sudah merasa lelah dengan semua ini. Apa peduliku jika para roh yang mati tidak dalam keadaan wajar? Aku ingin kehidupan normalku, seperti orang lain." Vincent menutup matanya sementara Kyuhyun hanya diam seakan mengerti bahwa Vincent ingin mengeluarkan semua kepenatan yang mengalir di dalam dirinya. Dan ternyata benar, Vincent kembali bersuara.
"Tidak pernah ada yang peduli denganku dan Aiden. Jadi untuk apa aku harus melakukan semua ini? Aku tidak mengenal satupun dari para roh itu yang meminta bantuannku." Vincent merasakan jika Kyuhyun menarik tubuhnya. Sentuhan lembut dan sedikit basah terasa pada bibir tipisnya dan ketika Vincent membuka matanya perlahan. Bisa Ia lihat jika Kyuhyun tengah menciumnya lembut.
Tak ada pergerakan yang dilakukan Kyuhyun. Kyuhyun hanya ingin menempelkan bibir tebalnya. Vincent bisa mendengar jika degupan jantungnya bekerja berkali lipat dari biasanya. Tubuhnya kaku tapi Vincent menyukainya. Kyuhyun membuka matanya dan perlahan sedikit bergerak mundur hingga ciuman singkat itu terpisah.
"Sekarang aku peduli padamu. Selama Siwon belum membunuhku. Aku akan selalu berada di sampingmu. Kita akan bersama-sama menyelesaikan tugasmu. Aku butuh dirimu dan dirimu juga memerlukan aku bukan? Sekarang lebih baik tidurlah! Aku tahu kau sangat lelah." Kyuhyun membaringkan tubuh Vincent di atas tempat tidur. Sejenak Kyuhyun terlihat berpikir kemudian ia merubah posisinya dengan berbaring di samping Vincent. Vincent nampak lebih terkejut dari sebelumnya. Vincent memandang Kyuhyun yang tengah tersenyum.
"Sudahlah. Aku tidak akan berbuat macam-macam padamu." Kyuhyun mengangkat selimut merah muda milik Vincent dan mulai memejamkan matanya. Ketika Vincent memutuskan untuk ikut terpejam. Kyuhyun merapatkan tubuhnya dan mendekap tubuh Vincent.
Vincent bisa merasakan jika dirinya bagaikan tengah berada di taman penuh dengan jutaan bunga berwarna-warni, kicauan burung serta tiupan udara yang sejuk. Sungguh Ia merasa sangat nyaman ketika Kyuhyun memeluknya, ketika tangan besar Kyuhyun melingkar pada pinggangya. Ketika Kyuhyun mencium lembut surai rambutnya, kening, kedua kelopak matanya, hidung mancungnya, kedua pipi putih dan berakhir pada bibir tipisnya. Vincent hanya terdiam bukan karena Ia tidak menyukai tetapi karena Vincent sungguh sangat bahagia.
"Aku mencintaimu." Vincent hanya merapatkan tubuhnya sebagai respon balasan dari ucapan yang Kyuhyun ucapkan dan keduanya akhirnya mengalah pada lelah dan membiarkannya menyatu pada selimut lembut sang malam.
0000000000
Hari dimana Ujian musim dingin tiba. Terlihat para mahasiswa yang berwajah tegang menghadapi tes yang akan diberikan. Suara riuh mahasiswa kelas dance sempat membuat emosi mahasiswa di kelas lain seperti vokal dan drama. Mereka hanya bisa mendesah pasrah karena sudah memang menjadi tradisi bahwa kelas dance selalu membuat kehebohan. Seorang pemuda nampak mengepalkan tangannya untuk mengurangi rasa gugup yang tengah Ia rasakan. Seragam putih nampak basah oleh keringat yang mengalir di tubuhnya. Beruntung blazer yang ia kenakan sedikit menutupi.
"Aku yakin kau bisa, Kyungsoo. Semangat!" Teriak pemuda lain yang secara tiba-tiba muncul di depan pemuda bernama Kyungsoo. Sementara Kyungsoo hanya membulatkan matanya dan bersiap untuk menendang pemuda yang di depannya. Akibat teriakan hebohnya itu sudah dipastikan keduanya menjadi sorot perhatian puluhan pasang mata yang berada di koridor.
"Jongin, bisakah kau tidak berteriak seperti itu? Aku tahu kau sedang memberikan semangat kepada Kyungsoo tapi tidak perlu membuatnya menjadi sorot perhatian seperti ini." Suara pemuda di samping Kyungsoo hanya dibalas dengan senyuman lebar oleh Jongin seakan memberi respon meledek.
"Kau hanya iri Suho hyung. Kyungsoo, kau harus percaya diri! Aku yakin kau mendapatkan nilai tinggi di kelas Kyuhyun seonsaengnim. Jangan mengkhawatirkan Appamu yang sedang berada di China. Tenang saja karena ada Hyukjae seonsaengnim, aku dan juga pemuda cerewet itu yang akan selalu menjagamu." Jongin hendak menghindar dari Suho yang sudah bersiap untuk memukul kepala Jongin karena meledeknya.
"Appa..." Kyungsoo mendorong tubuh Jongin dan berlari ketika melihat dua orang pria yang berjalan kearahnya. Satu pria mengenakan seragam staff pengajar Universitas, Hyukjae, dan satunya lagi pria berambut pirang yang mengenakan kemeja biru dan celana panjang cokelat, Luhan. Kyungsoo dan pria itu berpelukan dengan erat berusaha untuk melepaskan kerinduan yang mungkin sudah tidak terucapkan.
"Appamu sengaja datang ke Korea karena Ia tahu sekarang adalah ujian musim dingin. Untuk itu lakukan yang terbaik Kyungsoo." Hyukjae ikut terharu dengan pemandangannya di depannya. Ia mengelus pundak Kyungsoo dengan lembut.
"Lakukan yang terbaik untukmu, Kyungsoo! Kau harus menjadi pria yang kuat. Ada banyak orang yang akan menjagamu. Appa tidak mau mendengarmu mengeluh pada Hyukjae Ahjussi karena merindukan Appa. Appa akan selalu mencintaimu." Luhan berbisik ditelinga Kyungsoo. Sungguh ingin rasanya ia mengajak pergi anak dan hyungnya untuk meninggalkan Korea. Luhan tahu bahwa nyawa kedua orang yang sangat Ia cintai ada ditangannya. Luhan juga menyadari bahwa ada seseorang yang sedang mengawasi dari kejauhan. Sosok yang tidak segan-segan untuk menarik pelatuk dari handgun tepat ke arah Kyungsoo dan juga Hyukjae.
-Flashback On-
Luhan tersadar ketika seseorang menyiramnya dengan seember air dengan suhu yang dingin. Tubuh Luhan berubah kaku dan mengigil hebat. Luhan hanya bisa menatap marah pada pria yang sedang tertawa di depannya.
"Selamat pagi, profesor. Ku harap air ini bisa menyadarkan seluruh pikiranmu agar bertindak lebih cepat sesuai apa yang kumau. Bagaimana perkembangan tentang metode untuk menghidupkan kembali Hyoyeon?"
"Aku sudah mengatakan sebelumnya, Siwon." Ditengah keadaannya yang kedinginan. Luhan masih bisa berekspresi mengejek dengan tatapan sinisnya.
"Rupanya kau memang keras kepala, profesor. Kau tahu? Hari ini adalah ujian musim dingin dan semua mahasiswa harus mendapatkan nilai minimal B untuk bisa naik ketingkat selanjutnya. Bagaimana kalau aku memberi sedikit peringatan untukmu dengan kembali menyerang Kyungsoo? Itu sangat menarik, bukan?" Ancaman Siwon, kembali membuat Luhan ingin rasanya berlari dan langsung menyerang Siwon.
"Apa yang akan kau lakukan, Siwon?"
"Belum tahu. Bagaimana dengan membuatnya tidak bisa lagi bernyanyi? Aku punya serum itu, profesor. Satu tetes pada sebotol orange juice akan langsung membuat Kyungsoo tidak bisa bicara apalagi bernyanyi. Tentunya anakmu itu akan sangat menderita. Bukankah cita-citanya menjadi seorang penyanyi yang terkenal?" Siwon kembali tertawa mengejek. Sungguh segala hal yang berkaitan dengan Kyungsoo bisa diketahui oleh Siwon. Tubuh Luhan semakin gemetar ketakutan membayangkan hal yang diucapkan Siwon terjadi pada anak satu-satunya.
"Kumohon jangan lakukan, Siwon!" Luhan memohon dengan nada terisak. Ketakutannya membuat diri Luhan tak bisa lagi membendung seluruh kesedihannya.
"Maka lakukan apa yang sudah ku perintahkan profesor Luhan!"
"Baiklah. Aku akan melakukannya! Namun, sebelum itu. Biarkan aku menemui Kyungsoo dan Hyukjae hyung. Sebentar saja." Siwon terlihat berpikir mendengar penawaran dari Luhan. Tentu saja Siwon sangat senang ketika akhirnya Luhan akan membantunya untuk menghidupkan kembali Hyoyeon dan menciptakan jiwa yang baru untuknya. Hyoyeon yang hanya untuk dirinya.
"Aku akan mengantarkanmu. Ingat kau hanya punya waktu sebentar profesor. Sekedar untuk berbincang singkat. Jika ada hal yang mencurigakan. Aku akan langsung membunuh Kyungsoo dan Hyukjae. Aku mengawasimu, profesor." Siwon membuka ikatan tali pada tangan dan kaki Luhan. Ia mendorong dan memaksa Luhan untuk berjalan. Luhan hanya bisa menunduk pasrah. Sejujurnya Luhan tidak tahu apa yang baru saja Ia katakan akan berhasil. Di dalam pikirannya kini, Ia hanya ingin menemui anak dan juga hyungnya. Mungkin untuk yang terakhir kali.
-Flashback Off-
0000000000
Vincent baru saja merapihkan beberapa berkas dan berjalan menuju lantai dasar. Ketika sorot matanya menangkap dua orang pria yang baru saja masuk ke dalam sebuah mobil chevrolet putih yang terparkir. Vincent menghentikan langkahnya. Ia tahu sosok satunya adalah Siwon. Siwon masih dapat berjalan santai tanpa ada ketakutan.
"Apa yang kau lihat, hyung?" Vincent menoleh dan mendapati Aiden sudah berdiri di sampingnya dan ikut memperhatikan arah sorot matanya.
"Apa hubungannya pria itu dengan Siwon?" Tanya Vincent dengan suara pelan sementara Aiden hanya mengangkat bahunya.
"Memangnya siapa pria itu?"
"Luhan. Profesor Luhan. Dia adalah salah satu profesor Korea yang cukup terkenal dengan berbagai macam penemuannya. Kebetulan dia adalah orang tua dari Kyungsoo. Salah satu mahasiswaku. Kyuhyun yang memberitahuku tadi saat Ia mengunjungi Universitas untuk bertemu Kyungsoo." Vincent menjelaskan kepada Aiden.
"Mungkinkah dia berhubungan dengan segala macam kegilaan tentang Siwon?" Suara bass mengagetkan baik Vincent dan Aiden. Ketika mereka berdua menoleh ke belakang dan terlihat Kyuhyun tengah berjalan ke arah mereka.
"Habis ini siapa lagi yang akan muncul dan membuatku kaget? Kalian berdua seperti para roh-roh itu." Vincent hanya menggelengkan kepalanya dan tersenyum singkat. Kyuhyun yang sudah berdiri tepat di samping kanan Vincent. Refleks mengecupkan bibirnya tepat di pipi Vincent. Aiden yang melihat hanya bisa berdeham dan memalingkan muka kearah lain.
"Jadi kalian sudah siap mempublikasikan hubungan ini?" Pertanyaan yang dilontarkan Aiden membuat wajah Vincent merona merah dan Kyuhyun hanya tertawa kecil.
"Aku hanya merasakan aura ketakutan ketika berada di dekat Luhan. Sangat berbeda dengan Siwon yang tidak bisa tertebak, begitu banyak kekecewaan, kebencian dan kegelapan. Aku hanya sedang berpikir. Apakah Siwon memanfaatkan Luhan untuk menghidupkan Hyoyeon?" Ucapan Vincent yang random membuat Aiden dan Kyuhyun terlihat berpikir. Vincent kembali fokus pada sorot pandangan awalnya dan ketika chevrolet putih itu meninggalkan Universitas. Vincent menundukan kepalanya.
Tubuh Vincent ambruk menyentuh lantai. Ia masih sadar dengan mata yang masih terbuka. Wajahnya terlihat pucat dengan keringat dingin yang mengalir. Kyuhyun dan Aiden berubah panik. Berulang kali Kyuhyun mencoba memanggil nama Vincent tetapi Vincent hanya diam tak memberi tanggapan. Jiwanya seakan ditarik untuk keluar dari raganya karena makin lama tubuh Vincent semakin dingin. Ketika pupil mata Vincent berubah menjadi hijau terang dan secara perlahan kelopak matanya tertutup. Kyuhyun semakin bertambah ketakutan. Sementara Aiden memperhatikan dengan teliti kemudian berbisik tepat di telinga Kyuhyun.
"Kyuhyun, kita bawa Vincent hyung ke salah satu ruangan kelas! Jangan biarkan ada orang yang masuk! Vincent hyung akan kembali melakukan ritualnya. Kurasa para roh itu kembali datang dan akan meminta Vincent hyung melakukan sesuatu lagi pada Siwon. Tenanglah, Vincent hyung akan baik-baik saja." Kyuhyun sejujurnya sangat ragu dengan ucapan Aiden. Sungguh Ia sangat ketakutan melihat Vincent yang tak sadarkan diri dan suhu tubuhnya semakin turun. Tapi akhirnya, Ia menuruti perintah Aiden.
Mereka berdua membawa Vincent ke ruangan gudang penyimpanan. Hanya orang yang memiliki ijin khusus dari Kyuhyun yang bisa masuk keruangan itu. Tubuh Vincent dibaringkan di atas lantai. Kemudian Aiden menarik Kyuhyun untuk menjauh dan mereka memilih untuk bersandar pada dinding ruangan sambil memperhatikan Vincent.
-Vincent pov-
Aku merasakan jiwaku terpisah dari ragaku. Aku melihat tubuhku yang terbaring di lantai. Aku sejenak tersenyum ketika melihat Aiden dan Kyuhyun yang duduk dalam posisi cemas sambil memperhatikan tubuhku. Aku kembali fokus dengan memperhatikan keadaan sekitar. Rasa senang kembali muncul ketika Aku melihat roh Xiumin kembali datang di ruangan ini.
Xiumin mendekat kearahku dengan membungkuk singkat terlebih dulu. Ekspresi lucu tak lagi nampak di wajah transparannya. Matanya menyorot tajam seakan Ia bertugas untuk menjemput kematian seseorang.
"Lama tak berjumpa, Xiumin? Kemana saja kau?" Aku sedikit mencairkan suasana dengan bertanya dengan nada lembut. Tapi yang kulihat Xiumin hanya membalas dengan mengangguk singkat.
"Ini sudah waktuku, Sungmin. Aku kembali datang sebagai pemberi kematian orang yang sedang kau incar. Aku bukan lagi sebagai Xiumin tetapi juga roh Hyoyeon, Tuan-Nyonya Cho, Jongwoon dan Kangin." Sungguh aku merasakan ketakutan tersendiri ketika mendengar ucapan Xiumin.
Xiumin memberikan sebuah kristal berbentuk persegi enam berwarna hitam kepadaku. Aku mengambilnya walaupun agak ragu-ragu dan kemudian mengenggamnya dengan erat.
"Sungmin kau adalah soul translator. Bukalah jiwa yang terselebung di dalam kristal itu. Bimbing mereka untuk melakukan perintahmu sesuai yang tertulis pada buku dan juga tongkat kematian yang kau miliki. Buat jiwa sang pembunuh itu mengerti akan kesalahan dan menyesali perbuatannya. Ketika sudah tiba waktu Tuhan untuk mencabutnya maka Aku akan datang kembali untuk menyiksanya bersama kematian yang sangat dalam." Suara Xiumin membuat tubuhku semakin kaku. Ya, sosok sang penjemput kematian Siwon kini adalah sang korban yang dulu ia bunuh secara sadis. Sosok tidak bersalah yang memiliki pribadi lucu dan penuh kepolosan.
Roh Xiumin kembali menghilang dan Akupun berjalan ke arah tubuhku yang terbaring. Ketika aku menutup mataku. Aku bisa merasakan jika tubuhku tertarik kembali dan masuk ke dalam ragaku. Aku membuka mata dan melihat jika Aiden dan Kyuhyun sudah berada di sampingku. Aiden menghapus keringat yang mengalir di wajahku sementara Kyuhyun mengenggam tanganku dengan erat. Aku menghela nafas panjang.
"Malam ini, aku akan menemui Siwon. Ia harus menyerah pada permainannya karena jika tidak maka rantai kesalahan dan petaka akan menantinya. Malaikat maut sudah dipersiapkan dan tinggal menunggu waktu." Ucapanku membuat baik Aiden dan Kyuhyun juga ikut ketakutan. Kami bertiga melangkah keluar dengan pikiran yang masih diliputi rasa keterkejutan yang tidak bisa terjawab. Hanya ada satu alasan untuk semua ini yaitu "permainan harus berakhir untuk memutus semua kesalahan".
.
.
.
.
To Be Continued
*** Chapter depan,, akan menjadi chapter terpanjang dan juga terakhir.. Sabar menunggu ya, teman-teman.
*** Kalian tahu VCR awal ss5 khan? Mereka cool banget yach,, adegan action dan pakai handgun. Next project,, Dhee akan bawain chapter singkat yg kebetulan itu sequel FF action dhee sebelumnya. Masih dalam proses pengerjaan,, jadi ditunggu aja yach? (Dhee, masih konsultasi dulu sama Zen dan Rachael supaya FF-nya ngga ngecewain kalian semua)
Regards
Dhee
