-9th Day-
Minseok sibuk memandangi katalog karena ia sedang ingin mengganti suasana di kamarnya. Minseok sudah mengganti sofa coklat di kamarnya dengan sofa Da Vinci berwarna putih. Minseok juga mengganti seprai dengan sutra berwarna krim. Sekarang ia ingin mencari gorden berwarna Shippo, hanya karena Minseok tertarik dengan warna cat kukunya yang juga berwarna Shippo. Ia benar-benar sedang berusaha menghabiskan uang Luhan. Laki-laki itu tidak lagi memberikannya kartu kredit, Luhan membiarkan Minseok memegang ATMnya agar jumlah belanjanya terbatas. Jika tidak, Minseok bisa belanja sampai kartunya over limit dan Luhan bisa mati karena membayar hutang. Tapi tabungan Luhan cukup banyak dan Minseok juga tau kalau kartu yang di pegangnya bukan satu-satunya. Meskipun begitu, yang ada di genggamannyalah tabungan Luhan dalam jumlah terbanyak.
Sejauh ini Minseok hanya berbelanja untuk kepentingan bersama, tapi tidak menutup kemungkinan suatu saat nanti ia berbelanja untuk kepentingan sendiri. Salah Luhan sendiri yang mencetaknya menjadi istri yang di sukainya, tinggal di rumah, berdandan yang cantik dan belanja menghabiskan uang. Jika Luhan benar-benar suka dengan wanita yang seperti itu, maka Minseok sama sekali tidak keberatan untuk berubah menjadi seperti yang Luhan inginkan. Setidaknya Minseok tidak melakukan kesia-siaan saja. Ia juga mulai mengikuti kelas Yoga setiap pagi dan di mulai pada hari ini juga. Sepulang dari studio Yoga Minseok langsung sibuk berkutat dengan berbagai contoh gorden dan katalog-katalog yang berisi macam dan warna. Minseok menunjukkan gambar Gorden berwarna Shippo itu kepada pegawai galeri yang sejak tadi menyertainya.
"Aku mau yang ini, bisa pasang Besok? Aku ingin melihatnya sudah terpasang setelah makan siang."
Pelayan itu mengangguk sopan. "Tentu saja Nyonya. Kami bisa jamin itu. Anda tinggal menuliskan alamatnya dan pegawai kami akan mengecek kesana lebih dulu mengenai ukurannya. Kami menjanjikan pelayanan yang terbaik"
"Lalu dimana aku harus membayar?"
Tidak butuh waktu banyak bagi Minseok untuk menyelesaikan semua urusannya dan keluar dari galeri itu. Ia berjalan kepinggir jalan untuk memanggil taksi sambil beberapa kali meneguk air putih yang sejak tadi terus di bawanya. Sayangnya tidak ada satu taksipun yang datang, Minseok mendengus kesal. Ia harus segera pulang dan bersiap-siap karena hari ini Sehun akan mulai tinggal bersamanya dan Luhan. Besok Minseok akan latihan menjadi ibu setidaknya untuk seminggu kedepan.
"Kau sibuk?"
Jongin? Batin Minseok. Ia mengenal suara itu dan itu adalah suara Jongin.
Spontan Minseok berbalik kebelakang dan melihat Jongin berdiri menghadapnya. Laki-laki itu berusaha memberikan senyum untuk menunjukkan kalau dirinya punya maksud baik.
"Keberatan kalau kita bicara?" Lanjut Jongin lagi.
Minseok sempat tertegun sebentar tapi kemudian segera mengangguk.
"Ya, Bisa! Aku baru pulang Yoga dan punya banyak waktu luang."
"Keberatan kalau kita ke coffee shop?"
"Tidak. Tapi aku tidak minum apapun yang mengandung cafein. Aku sedang diet sehat!"
Jongin menghela nafas. "Kalau begitu kita bicara disana saja!"
Minseok menoleh ke sebuah tempat yang Jongin tunjuk. Sebuah taman kecil yang cukup ramai. Tidak ada hal lain lagi yang bisa Minseok lakukan selain menyetujuinya. Dalam waktu singkat, dirinya dan Jongin sudah berada di atas salah satu bangku di sudut taman. Minseok merasa agak kikuk. Jongin ada disini bersamanya, laki-laki yang seharusnya menjadi suaminya ada di sebelahnya. Ia ingin bertanya mengapa dirinya dan Jongin berpisah, tapi Minseok mengurungkannya. Baik Luhan maupun Halmeonimengatakan kalau Minseok-lah yang meninggalkan Jongin dan menanyakan hal itu adalah tindakan bodoh yang akan merusak hati Jongin.
"Kau baik-baik saja?" Jongin kembali memulai pembicaraan.
"Menurutmu?"
"Aku lihat hidupmu sangat baik. Bagaimana dengan suamimu? Kau benar-benar mencintainya? Kau membatalkan pernikahanmu denganku karena mencintainya kan?"
Minseok angkat bahu. "Mungkin saat mengatakan itu aku sedang mabuk!"
Jongin tertawa sejenak "Aku minta maaf Minseok. Aku sudah menyia-nyiakanmu dan tidak melawan saat kau di rampas oleh orang lain. Saat laki-laki itu datang dan mengatakan kalau kau sudah menikah dengannya aku sama sekali tidak berusaha mengkonfirmasi dan melarikan diri."
Kening Minseok menjadi berlipat-lipat. Dirinya sama sekali tidak mengerti apa yang Jongin katakan. "Aku sudah tidak mengingatnya lagi."
"Ya, sepertinya akhir-akhir ini, aku tidak melihat kalau kau sedang menyimpan masalah. Aku terus memperhatikanmu dan berdasarkan pengamatanku, Kau sangat menikmati hidupmu yang baru tanpa aku!"
Jongin mendesah. Ia memandangi Minseok berharap Minseok menyela dan memintanya berhenti berfikir kalau dia sedang menikmati pernikahannya. Beberapa waktu lalu Minseok selalu datang kepadanya dan membicarakan tentang rencana pernikahan mereka dengan bahagia. Jongin tidak bisa melupakan saat Minseok mengatakan kalau gadis itu masih mencintainya dan bisa mati jika harus melihat orang lain yang bersamanya. Sekarang sepertinya Minseok bahkan tidak begitu merespon kata-kata Jongin dengan serius. "Kau mencintainya? Aku melihatmu bermesraan dengannya di parkiran waktu itu. Berarti kau mencintainya
dan benar-benar melupakanku?"
Kali ini sepertinya Minseok merespon dengan lebih serius. Ia memandang wajah Jongin sekilas lalu tersenyum getir dan segera menunduk. "Aku hanya ingin menikmati apa yang sudah ku miliki. Pada awalnya aku masih memikirkan mengapa orang lain yang berada disampingku? Mengapa orang yang menyisihkan Scallopsnya untukku bukan dirimu? Mengapa harus dia yang ada di sampingku saat aku bangun tidur di pagi hari, bukan dirimu. Tapi kufikir terus begitu malah akan menyiksa. Aku sudah bersuami dan laki-laki itu, siapapun dia setidaknya selalu memberiku uang." Minseok tertawa kecil.
Jongin menghela nafas. Ia salah mengira kalau Minseok sudah meresponnya dengan serius. Tapi Minseok benar, Seharusnya ia menikmati hidupnya yang tanpa Jongin, seharusnya Jongin merelakan Minseok yang selalu datang kepadanya dulu menghilang. Yang ada di hadapannya sekarang bukanlah Minseok yang Jongin anggap remeh karena selalu mengemis cintanya dan mengatakan akan melakukan apa saja demi membahagiakan Jongin, Tapi Minseok yang baru yang nyaris tidak pernah menghadirkan wajah sedihnya. Jongin tersadar dari lamunanya saat mendengar ponsel Minseok berbunyi nyaring.
Wanita itu mengambil ponsel dari dalam jaket yang di kenakannya. Minseok sedang membaca pesan.
"Aku harus pergi sekarang!" Minseok berbicara setelah ia mengamati ponselnya beberapa waktu. "Aku harus bersiap-siap menjadi ibu. Besok ada keponakan Luhan yang akan menginap di rumah selama seminggu!"
"Sepertinya akan jadi minggu-minggu yang sibuk!"
"Ya, sepertinya. Setidaknya, aku pernah merasakan bagaimana rasanya mengurus anak!" Minseok tertawa lagi dan berbicara dengan lebih tangkas setelah tawanya reda. "Aku pulang!"
"Tunggu. Minseok, Apa kita masih bisa bertemu lagi? Atau mulai sekarang aku harus menjauh?."
Minseok memandangnya sejenak. "Kita bisa bertemu kapanpun. Aku menganggapmu sebagai teman. Jika suatu saat bertemu di suatu tempat, aku pasti menyapamu. Tapi jangan sengaja menghubungiku, ya? Aku tidak ingin bertengkar dengan Luhan, karena menurut orang-orang, pertengkaranku dengannya bisa merusak suasana hati banyak orang. Bisa kau bayangkan bagaimana?"
-10th Day-
SEPANJANG hari ini Minseok sama sekali tidak bisa melupakan pertemuannya dengan Jongin kemarin. Jongin masih sama, sangat baik.
Tapi saat benar-benar berdekatan seperti tadi sepertinya Minseok sudah tidak memiliki perasaan apa-apa lagi padanya. Lalu bagaimana dengan Luhan? Minseok mencintai Luhan? Tidak, hubungan mereka hanya sebatas interaksi fisik. Di sisi lain, Minseok menganggap Luhan sebagai saudara laki-laki yang tidak pernah di miliki. Jadi sekarang hati Minseok sedang kosong? Sepertinya begitu, dirinya tidak merasakan debaran apapun saat berdekatan dengan siapapun. Semuanya sangat datar dan….hampa.
"Sudah sampai? Aku di telpon Halmeoni makanya menelponmu tadi. Sehun sudah ada di rumah. Tadi aku juga menelpon Yifanssi dan mereka bilang kalau mereka berdua sedang dalam perjalanan ke Italia!"
Luhan terlihat sibuk merapikan barang-barangnya. Minseok yang tersadar karena kata-katanya barusan segera masuk kedalam rumah tanpa memperdulikan Luhan. Ia menemukan Halmeoni yang sedang sibuk menonton drama di televisi. Begitu melihat Minseok, Halmeonitersenyum memandanginya.
"Sehun ada di kamarmu." Kata pertama yang di ucapkan Halmeoni kepada Minseok. "Tadi orang tuanya datang dan dia sedang tidur. Jadi di letakkan di atas ranjangmu."
"Bagaimana dengan orang-orang yang memasang Gorden baru? Sudah datang?"
"Sudah, untungnya mereka menyelesaikan pekerjaannya sebelum Sehun datang. Jadi ku fikir anak itu sedang tidur nyenyak di kamarmu sekarang dan tidak ada yang mengganggu."
Minseok mengangguk mengerti. Mereka memberikan pelayanan terbaik? Gallery Gorden itu sudah membuktikannya. Mereka bertindak sangat cepat. Sekarang Minseok akan segera masuk ke kamarnya, mengganti pakaian dan tidur. Entah mengapa saat ini ia selalu memikirkan nikmatnya berbaring di atas tempat tidur. Minseok permisi kepada Halmeoni-nya dan segera masuk ke kamarnya. Sehun sedang tidur? Halmeoni salah, anak itu tidak sedang tidur. Sehun sedang melompat-lompat di atas sofa Da Vinci putihnya dengan brutal. Minseok nyaris saja berteriak tapi ia cukup bijaksana untuk mengurungkan niatnya. Perlahan Minseok melangkah dan mendekati Sehun yang kelihatannya belum ingin berhenti melompat-lompat di sofa kesayangan Minseok seolah-olah benda itu adalah trampoline.
"Sehunie, Lelah tidak? Main dengan Bibi yuk?" Minseok berusaha berkata dengan penuh kasih. Tapi sepertinya bujukannya tidak mempan, Sehun masih melompat-lompat dan gerakannya di tambah lagi dengan menggeleng. "Sehun, jangan begitu. Nanti pusing!"
Luhan masuk ke kamar tiba-tiba dan ikut memandangi Sehun dengan terkesima. Bocah itu masih tidak mau berhenti dan sepertinya kesabaran Minseok benar-benar di uji. Hari pertamanya menjadi seorang ibu menggantikan Suho, Minseok harus di uji dengan sofa kesayangannya yang baru berusia sehari dan hari ini akan memasuki hari keduanya.
Luhan memandangi Minseok yang masih berusaha membujuk Sehun dan ia tersenyum. Minseok ternyata lebih sabar bila menghadapi anak-anak. Luhan berusaha untuk tidak perduli dan membiarkan Minseok mengurusi Sehun.
Tapi Sehun masih terus melompat bahkan setelah Luhan mandi dan berganti pakaian. Minseok sepertinya sudah menyerah dan hanya duduk diam memandangi Sehun yang masih belum lelah sambil duduk di atas ranjang dan memeluk kedua lututnya. Luhan mendekat dan duduk di sebelahnya, ia ikut memandangi Sehun seperti yang Minseok lakukan, Luhan bisa merasakan kalau Minseok memandangnya meskipun sebentar.
"Tontonan yang menarik!" Bisik Luhan.
Minseok mendengus. "Aku hanya menunggunya lelah. Kapan dia akan berhenti?"
"Dia tidak akan berhenti sebelum Sofa Da Vinci-mu rusak. Kau tidak mengkhawatirkan sofamu?"
"Aku bisa membelinya lagi. Uangmu masih banyak. Aku takut Sehun sakit karena melompat-lompat seperti itu. Sudah satu jam dia melakukan ini."
"I see!" Luhan mendesis. Ia mengerti apa dengan apa yang Minsek khawatirkan.
Sehun masih merasa kalau Minseok adalah orang asing, karena itu ia masih berusaha membuat Minseok menjauh darinya. Tapi Minseok sepertinya juga mengerti kalau membujuk terus-terusan juga tidak ada gunanya. Ia membiarkan Sehun lelah dengan sendirinya dan menunggu. Sayangnya Minseok seperti sedang berada di puncak kesabarannya. Ia berdiri dan mengambil dompetnya lalu menoleh kepada Luhan.
"Tolong jaga dia sebentar. Aku sedang menunggu sesuatu." Dan Minseok menghilang di balik pintu. Luhan menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan Sehun yang bahkan masih terus seperti itu meskipun Minseok sudah pergi. Luhan juga tidak tau harus berbuat apa.
Dia belum pernah memiliki anak dan tidak terlalu suka kepada anak-anak. Dia tidak mungkin bisa menjinakkan Sehun.
Selang beberapa waktu kemudian Minseok masuk membawa Pizza. Ia meletakkan kotak Pizza di atas meja yang berada tepat di depan sofa Da Vinci yang sudah bertransformasi menjadi trampoline, Minseok lalu membukanya. Sepotong Pizza di ambil dari tempatnya dan Minseok mengigitnya sedikit demi sedikit. Ia sedang membujuk Sehun dengan cara unik dan kelihatannya berhasil. Sehun berhenti menggeleng-geleng dan melompat. Bocah itu terdiam memandangi Minseok yang makan Pizza dengan nikmatnya. Luhan nyaris saja tertawa, Minseok merusak dietnya lagi demi Sehun.
"Sehunie, mau?" Tanya Minseok lembut sambil menyodorkan sisa Pizza di tangannya yang tinggal segigit lagi.
Sehun tidak langsung menjawab, tapi ia berteriak „mau‟ begitu melihat Minseok menghabiskan Pizza potongan pertama. Bocah itu turun dari sofa dan berdiri di sebelah Minseok dan memandangi Pizza dengan tatapan penuh harap. Minseok menggeser Pizza ke hadapan Sehun dan Sehun memandangnya sekali lagi.
Begitu bocah itu yakin Minseok memperbolehkannya makan Pizza, jari-jari kecil Sehun meraih sepotong dan duduk tenang di sebelahnya. Minseok memindahkan Pizza itu kelantai agar bisa di jangkau oleh Sehun jika ia ingin tambah lagi. Ia melupakan Luhan sejenak dan baru mengingatnya beberapa detik kemudian, Minseok segera menoleh kepada Luhan yang juga memandanginya dengan pandangan yang sama seperti tatapan Sehun. Luhan juga ingin makan Pizza? Minseok hampir saja tertawa.
"Ayo, kenapa diam saja!" Minseok berujar lembut sambil menarik tangan Luhan sehingga Luhan berpindah ke sisinya. Sekarang mereka bertiga duduk di atas lantai marmer sambil menyantap Pizza. Minseok sempat keluar sebentar dan kembali dengan membawa beberapa buah cangkir plastik dan sebotol besar air mineral. Sehun makan dengan lahap, dua potong ternyata tidak cukup, ia kembali meraih potongan ketiga.
Luhan hanya makan sepotong karena dirinya memang tidak makan dalam porsi banyak sekaligus. Perutnya selalu butuh jeda karena Luhan tidak memiliki lambung yang besar. Ia mengelus perutnya yang sudah terisi dan menoleh kepada Minseok yang sedang menggigit pizza potongan keduanya dengan gerakan seakan-akan ia tengah melakukan sebuah dosa. Dia sedang diet, tentu saja makan pizza adalah dosa besar bagi orang yang berdiet.
"Hentikanlah kalau memang tidak rela menghabiskannya." Luhan berbisik lagi.
Minseok menoleh kepadanya dan mendekatkan wajahnya ketelinga Luhan. "Jika aku tidak ikut makan, maka Sehun akan segera sadar kalau dia sedang di pancing."
Pembicaraan berhenti sebentar. Sehun menguap lalu merengek minta minum. Segelas plastik air mineral sudah tertuang dan di sodorkan kepadanya. Sehun mengambilnya dari tangan Minseok dan meminumnya, selang beberapa detik bocah itu bersendawa dan bersandar kepada Minseok. Dia sudah mengantuk dan sepertinya tidak bisa di tahan lagi.
"Dia sudah lelah." Bisik Minseok.
"Kau bisa membantuku mengantarkan cangkir-cangkir ini kedapur? Aku sepertinya harus menidurkannya."
Luhan mengangguk mengerti. Perlahan dan hati-hati ia menumpuk gelas-gelas plastik itu di atas kotak Pizza dan membawanya keluar. Di dapur Luhan sempat bertemu Halmeoni yang mengajaknya makan malam dan Luhan mampir sebentar untuk makan sepotong roti. Minseok sedang menidurkan Sehun dan tidak bisa menemani Halmeoni untuk maka malam seperti biasa, lalu bagaimana bisa Luhan membiarkan Halmeoni makan malam sendirian? Setelah ritual makan malam selesai, Luhan kembali kekamar dan melihat Sehun yang mengambil alih tempatnya di atas ranjang. Bocah itu memeluk Linea tiba-tiba.
"Mami…" Desisnya. Sehun mengigau.
"Kenapa Sehun tidur disini?" Luhan berbisik sambil naik ke atas tempat tidur dan duduk di dekat Minseok yang membelakanginya.
Minseok menoleh sebentar lalu menarik lengan Luhan agar berbaring di dekatnya. "Lalu dimana? Aku tidak mungkin membiarkannya tidur di kamar tamu sendirian."
Luhan berusaha menyingkirkan tangan Sehun yang memeluk istrinya lalu menggantikannya dengan lengannya. "Mana boleh dia memelukmu tanpa seizinku!" Ia memeluk Minseok semakin erat dan lengannya menekan perut Minseok agar rapat kepadanya. Minseok tidak melawan. "Kau ibu yang berbahaya. Suho tidak pernah mengizinkan Sehun makan-makanan cepat saji."
"Apa lagi yang bisa ku lakukan?"
Sehun menggeliat, sepertinya bocah itu terganggu dengan bisik-bisik antara Luhan dan Minseok.
Sesegera mungkin Minseok mengelus punggungnya hingga Sehun bisa lebih tenang. Minseok menoleh kepada Luhan yang masih memeluknya erat. Satu ciuman mendarat di pipinya, lalu leher, bahu, Minseok menolak dengan mendorong kepala Luhan jauh-jauh.
"Jangan memancingku." Desis Minseok. "Sekarang tidur saja, atau Sehun bisa terbangun dan menyaksikan ulahmu!"
Luhan mendengus kecewa, tapi ia tidak melepaskan pelukannya dan memejamkan mata. Bukan hanya Sehun yang lelah. Tapi Luhan juga lelah. Perlahan-lahan Luhan kehabisan ketahanannya dan tertidur. Kepalanya bersandar di tengkuk Minseok dan iapun benar-benar terlelap.
To Be Continue
