Tao menghela napas pasrah menatap laki-laki di sampingnya. Warna benar-benar terang menyebalkan di rambutnya mencerminkan sekali sifat jeleknya yang sudah mendarah daging. Tawa lebar yang dikeluarkan lelaki itu tidak membuat Tao ingin terbahak bersamanya lagi. Apa yang lucu dari wajah takutnya coba?

Tao ingin cepat pulang; browsing, hibernasi, atau bahkan mengusili gambar yang Kris buat di kamarnya kalau bisa.

Luhan memang senang membuat orang uring-uringan. Kesal sendiri. Sifat yang tidak memikirkan perasaan orang lain ketika berbicara ini bisa membuat cepat lelah. Apalagi untuk orang yang sering berada di sekitarnya—seperti Tao.

Ia tidak mengerti kenapa kakaknya bisa terbahak hebat setelah tidak sengaja ia tendang di tulang keringnya. Ia sendiri tidak menyangka bisa bertemu Luhan di sana. Tiba-tiba saja Luhan lompat ke arahnya dan langsung bertingkah seperti orang bermain petak umpet? Bagaimana Tao tidak kaget? Untung saja Tao tidak sempat membanting tubuh kurusnya ke atas paving block.

Benar. Ia sudah lelah dengan semua kejahilannya.

.

.

Home Tutor

Kris & Tao YAOI fanfiction

Rated M

Romansu and Drama

I do not own anything except the story

Cerita ini hanyalah fiksi belaka, tidak ada hubungan dengan kehidupan yang sebenarnya

Saya meremake manga yaoi berjudul Home Tutor oleh Yuu Moegi

Warning: Teacher!Kris, Student!Tao, YAOI, BoysLove, Alternative Universe, Typo, EyD, bahasa non-baku, misstypo, etc.

.

Tidak suka? Jangan baca!

.

.

"... kau tahu, Zitao? Wajahmu saat menghadapku itu priceless! Kau seharusnya lihat ekspresimu sendiri di cermin. Hahaha!" Luhan tertawa lebar bersamaan dengan jemarinya yang menunjuk-nunjuk wajah Tao. Sedangkan bahan tertawaan Luhan hanya memutar matanya malas. Betapa ia benci suara menggelegar tersebut—apalagi kalau penyebab tawa Luhan itu ia sendiri.

"Jujur, aku masih belum bisa menghapus bayanganmu tadi—oh, Tuhan, ahahaha!" Ia terbahak lagi. Luhan begitu menikmati momennya sampai-sampai bola hitamnya hanya tinggal segaris tipis, tertutup oleh kelopak mata.

Kaki Tao melayang ke arah yang sama beberapa saat lalu. Ucapan Luhan terputus di tengah jalan bersamaan dengan ujung kaki Tao yang mengenai tulang keringnya keras. Ia meringis dan melempar Tao tatapan mematikan miliknya. "Kakiku masih sakit, adik kurang ajar. Jangan tendang aku lagi!" omelnya sambil menjitak kepala Tao.

Tao menatap kesal Luhan. Dalam hati ia mengutuki kakaknya dengan berbagai macam kutukan. "Kau tahu apa, Luhan? Aku sendiri pun tidak tahu bagaimana bisa sebuah warna rambut menyakiti mataku," ucapnya sinis memberikan ekspresi wajah tidak suka.

Bibir Luhan yang tadinya melengkung ke bawah, kini melebar ke arah sebaliknya dan terbuka menampakkan giginya. Untuk informasi saja, Luhan mengganti warna rambutnya hari ini. Oh, akhirnya sang adik menyadari juga, pikirnya senang.

Tao bergidik ngeri dan segera membuang pandangan ke arah lain ketika melihat betapa cepat Luhan mengganti suasana hatinya.

"Oh, ayolah." Nada yang yang ia keluarkan benar-benar kurang sesuai dengan ekspresi yang Luhan tampilkan. "Rambut lamaku itu sudah tidak keren lagi. Banyak yang sudah menggunakannya. Bukankah sekarang warnanya lebih menarik? Kau harus menyukainya, Zitao!" Tangan Luhan menarik-narik ujung kain di lengan pemuda yang tidak menatapnya; mencari perhatian.

"Lihat, warna emas ini terlihat indah! Sebenarnya tadi aku berniat mengganti menjadi abu-abu saja, tapi kata noona di sana aku malah terlihat tua. Ya sudah, aku pilih saja warna pirang emas ini." Luhan berkata sembari mengerucutkan bibirnya ke samping dan mengendikkan bahu.

Tao memutar matanya lelah. Narsis dan menyebalkan. "Kau memang sudah tua," lirihnya pelan.

"Apa, Zitao?"

"Tidak, tidak." Tao menggeleng. "Aku berkata kalau rambutmu terlihat lucu sekali."

"Seharusnya sangat keren!"

Tao memutar matanya malas. "Ya, ya. Terserah kau," tukas Tao memalingkan wajahnya keluar jendela bis untuk kedua kalinya.

Luhan hanya menginjak salah satu kaki Tao terdekat sebagai pelampiasan rasa kesalnya. Tawanya mulai membahana sekali lagi mendengar adik kecilnya menggerutu.

"Omong-omong..." Luhan menyelipkan sebuah stik biskuit ke dalam mulutnya. "Kau habis darimana tadi?" Ia bertanya dengan stik biskuit bergerak-gerak di mulutnya. Membiarkan remah-remah halus jatuh di celana, kursi dan lantai bisnya.

Tao menoleh ke arah Luhan sebentar. Berjengit melihat bagaimana bisa Luhan menjadi sejorok itu. "Aku dari kafe."

"Bersama teman?" Luhan bertanya sekali lagi.

Tao mengangguk. "Semacam itu." Ia sempat menerawang bayangan wanita yang ia temui di kafe tadi. Pemuda di sebelah Tao pun ikut menganggukkan kepala mengertidan membulatkan mulutnya; membuat stik renyah yang hanya tinggal tiga senti itu terjatuh ke celana. Luhan menunduk dengan cepat, dan segera mengambil biskuit tersebut tanpa merasa bersalah. Tidak menghiraukan pandangan aneh Tao ia tetap memasukkan benda kecil itu ke dalam mulutnya dan segera menghabiskannya dalam hitungan detik.

"Kau sendiri darimana, Lu?"

"Aku?" ucapnya sambil mengunyah stik biskuit yang baru. Ia terlihat menerawang untuk beberapa saat. "Daari tokoh bhuku." Luhan berkata tiba-tiba. Lafalnya sedikit tersendat karena bibirnya sibuk menjepit makanan mungil. Lalu ia melepaskanya dari mulut dan melanjutkan kalimatnya, "kebetulan tadi aku bertemu denganmu."

Adiknya hanya mengangguk menanggapi. Ia mengalihkan pandangannya lagi. Walaupun penglihatannya sama sekali tidak melihat Luhan, tangan kanan Tao tetap menemukan jalan untuk bergerak merayap ke dalam kotak mencuri stik biskuit milik Luhan. Tanpa mengatakan apapun, bibirnya lincah mengunyah stik yang sama dengan Luhan.

Tak lama, Luhan membuka suara lagi—masih dengan stik di mulutnya. "Zithao, kalau kita mampir ke syupelmahket shebentar, bagaimana? Aku ingin membheli seshuatu dulu."

Tao mengernyit sesaat mendengar ucapan kakaknya. "Baiklah," ujarnya kemudian.

.

.

"Aku pulang!" Luhan dan Tao menghambur masuk ke dalam rumah. Pandangan mereka sempat menggelap sedetik untuk beradaptasi dari terangnya matahari di luar. Salah satu pasang kaki melangkah menjauh dari Luhan mencari orang yang biasa menyapanya setiap pulang sekolah.

"Selamat datang, Tuan Muda." Seorang pelayan perempuan tua membungkuk hormat kepada anak kedua anak majikannya.

Luhan tersenyum membalas. "Perlu saya bawakan tasnya, Tuan?" tanyanya pada kedua tuan mudanya. Tao tidak menghiraukan permintaan tersebut akibat sudah duluan ke ruang tengah meninggalkan kakaknya dengan sang Bibi. Sedangkan Luhan sendiri menggeleng; menolak halus. "Tidak usah, biar aku saja."

Lalu bibir Luhan tetap berbicara. "Bibi tahu dimana Ibu?" tanyanya ketika sadar sang Ibu tak hadir menyambutnya.

Pelayan itu mengangguk pelan. "Tadi Nyonya pergi arisan sebentar bersama ibu-ibu komplek, Tuan." Kemudian cepat melanjutkan perkataannya yang tertinggal. "Oh, dan Nyonya berpesan ada seseorang untuk Tuan Muda Tao yang menunggu di kamarnya."

Luhan terdiam sebentar sekedar memproses informasi yang diberikan. Tak lama, ia menggumamkan kata 'oh' sepanjang mungkin. Tampaknya si rambut pirang itu mengerti dengan ucapan pelayannya. Ia tersenyum sambil menggumamkan kata terima kasih pada wanita tua itu.

Luhan tahu siapa. Walaupun ia tahu, hatinya tidak ada niat untuk memberitahu sang adik kalau ada Kris di rumah ini. Biarkan saja orang tersebut menunggu lama di kamar Zitao. Itu urusan adiknya.

Luhan melangkah maju dan merangkul Tao yang sudah melalang-buana mencari minuman.

"Ibu ke mana, Lulu-ge?" tanya Tao sambil berusaha melepas rangkulan kakaknya.

Objek yang ditanya tertawa kecil. "Biasa, arisan ibu-ibu."

"Oh," gumam Tao sambil mengangguk. "Aku ke atas dulu. Lelah sekali."

Dan akhirnya, Luhan pun melepas tangannya dari pundak Tao yang cukup tinggi. "Ya sudah. Sana gih. Jangan lupa untuk ganti baju. Kau bau matahari sekali."

Satu sandal coklat entah milik siapa terbang ke arah Luhan secepat kilat.

.

.

.

Cklek

Perlahan Tao melangkah masuk sembari menghirup dalam partikel yang melayang di sekitar. Cat biru tua yang menempel menyapanya lembut setelah sekian lama menghilang. Harum vanilla bercampur dengan tajamnya kayu manis menusuk indra penciumannya. Begitu rindu remaja China ini pada aroma kamarnya sendiri.

"Hm..." gumam Tao bersamaan dengan menutupnya kedua keping kristal coklatnya. "Rasanya seperti sudah lama sekali tidak ke sini." Tao kembali berkata sambil melangkahkan kaki masuk semakin dalam ke kamarnya.

Tuk

Tiba-tiba langkahnya terhenti. Ia menyadari kalau kursi empuk kesayangannya sudah tidak lagi sendirian. "...Kris?"

Lelaki jangkung berpunggung lebar yang membelakangi Tao berputar perlahan. Senyum tipis namun manis khasnya bertengger sempurna di wajah. Tubuhnya yang duduk di kursi belajar Tao semakin ia sandarkan pada sandarannya.

"Selamat datang, Tao. Bagaimana sekolahmu hari ini? Menyenangkan?"

Untuk sementara, Tao tertegun. Sosok Kris dengan kemeja dan blazer hitam rapi layaknya sekarang benar-benar seperti lelaki dewasa kantoran. Wajah tajamnya begitu memukau walau tidak ada lengkungan di bibir yang menghiasi dan itu menyebalkan sekali sampai-sampai membuat jantung Tao berdentang lebih kencang.

Betapa ia benci ekspresi itu.

Tao memaksakan senyumnya agar terlihat biasa saja. Mengabaikan rasa panas yang menjalar di wajahnya. "Lumayan. Semua urusanku sudah selesai—tidak semua, sih," ungkap Tao. "Tapi biasa saja. Lagipula, ada apa datang ke sini?"

Seringai terkembang di bibir Kris. "Tentu saja untuk memberikanmu bimbingan belajar. Jangan berpikir setelah kau tahu aku adalah tunanganmu, lesmu berhenti begitu saja."

Setelah menyempatkan diri menatap Kris dengan pandangan bertanya, mata sipit Tao berputar ke arah dimana jam dindingnya berada dengan cepat. Detak jantungnya sudah ia kendalikan, otaknya tidak lagi lambat mencerna maksud Kris. "Kau tidak kuliah atau kerja?" Matanya menyipit seakan menyelidik ucapan yang gurunya lontarkan. "Jangan buang-buang waktumu di sini, Kris. Aku tahu pekerjaanmu itu sibuk."

Kris terkekeh pelan. Tidak menyangka kalau Tao serinci itu peduli padanya. "Kau benar," ucapnya. "Aku tidak akan memberikanmu tutor sekarang." Ia menumpukan sikunya di pegangan kursi. Memberikan pandangan sayu ke arah Tao. Kemudian, bibir tebal Kris kembali terbuka, "aku ke sini hanya untuk memberikanmu hadiah."

Sesaat kemudian, tangannya menyodorkan secarik kertas memanjang kepada Tao. Lubang-lubang kecil berukuran seperti titik pada kertas menjalar di tengahnya dengan beberapa digit nomor seri; sebuah tiket. Setelah memastikan kertas berwarna kuning mencolok itu sudah berada di tempat yang tepat, ia mengambil jasnya yang tergantung gemulai di sandaran kursi.

"Tiket Lotte World?" tanya Tao tidak yakin. "Buat apa ini?" Salah satu alisnya mengungkit ke atas.

Senyuman kembali tersungging di wajah tampan Kris. "Baca saja kalimat di balik kertas itu, Tao." Tubuhnya beranjak dari kursi dan berjalan keluar kamar.

Memang benar, ada tinta hitam yang tergores di area polos tersebut. Tao hanya melirik sekilas tulisan tangan yang menempel pada bagian belakang tiketnya. Belum berniat membacanya dengan benar.

Melihat sosok Kris yang berniat menghilang, Tao segera menyampingkan surat itu dari pandangannya. "Tunggu, Kris. Kau langsung pergi?" Nada kecewa terdengar jelas dari mulut mungil itu.

Ia baru saja bertemu dengan orang pirang paling tampan sejagad Korea. Dan orang pirang itu menyempatkan ia datang dari sela-sela kesibukannya. Mereka saja berbicara tidak sampai lima menit. Sekarang, Kris malah buru-buru ingin pulang.

Kris berhenti di depan pintu ketika mendengar ucapan Tao. Ia berbalik menghadap pria bersurai hitam itu sebentar. "Kenapa? Masih ingin aku di sini?" godanya dengan seringai tersungging di bibirnya. Seperti semua kemenangan sudah di tangannya.

Tidak mendapat respon apapun, lelaki tegap itu berujar sekali lagi, "bukankah kau sendiri yang bilang kalau pekerjaanku sibuk?" Kakinya bergerak kembali menghampiri Tao, lalu berhenti saat jarak mereka hanya tinggal lima belas senti.

Seperti reaksi Tao yang biasanya, objek yang diintimidasi oleh Kris berjengit sedikit ke arah belakang. Ia diam saja saat jemari Kris menyentuh manis dagu miliknya.

Cup

Hanya sedikit sentuhan sampai-sampai membuat Tao merona matang. Ia seperti melihat hantu ketika bibir penuh dosa itu menyentuh bibirnya sekilas.

Kris kembali menjauh. Ketika sudah hampir keluar dari kamar, langkahnya berhenti sejenak. Masih dengan menghadap pintu, ia berkata, "aku tidak bisa mengajarmu hari ini karena ada kelas malam mendadak. Semua tugas yang perlu kau kerjakan ada di atas meja. Aku sudah menandai hal-hal yang penting di setiap bukunya. Jangan lupa dipelajari. Sampai ketemu nanti, babe."

Bam

Pintu kamar Tao tertutup sempurna tanpa menunggu jawaban dari pemiliknya, meninggalkan pemuda China tersebut sendiri dengan pikiran yang begitu abu-abu.

"Lusa malam?" gumam Tao rendah. Matanya melirik tinta hitam yang tertoreh di tiketnya. Membaca pelan kalimat yang Kris tuliskan untuknya di balik kertas.

.

.

.

Di pagi hari, ekspresi ceria Nyonya Huang di sambut wajah cemberut si Bungsu.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa bulan ini Kris tidak mengantarnya ke sekolah. Untungnya untuk Tao, ada sang kakak yang dapat membantu dengan senang hati—walaupun dengan bayaran tentunya.

Seperti biasa. Setelah pemuda panda itu menghabiskan sarapannya, Tao masuk ke dalam mobil untuk segera pergi sekolah. Begitu sabuk pengaman terikat rapi di pinggang dan dadanya, pikiran Tao mengabur entah ke mana. Memorinya kembali menayangkan gambaran yang terjadi dalam kurun waktu delapan jam yang lalu.

Ia teringat sesuatu. Saat malam hari ketika Tao hampir tertidur. Muncul pesan singkat di layar ponselnya dengan nada dering yang khusus. Isinya, Kris berkata bahwa ia tidak akan ada di Seoul selama dua hari ini dan beralasan karena adanya urusan penting yang membuatnya harus pergi keluar kota. Ia menghela nafas kecewa tanpa sadar.

Tanpa ingin menambah beban apapun lagi untuk Kris, Tao mengiyakan saja pesan pendeknya. Ia tahu Kris sibuk. Ia tidak bisa egois memonopoli pemuda itu sendirian. Tao menghela nafas pelan. Sepertinya hal tersebut benar-benar penting sampai-sampai Kris harus meninggalkannya mendadak pagi esok.

Tao tidak bisa dan tidak mau mengakui kalau ia tidak suka ketika Kris jauh darinya; tidak bissa melihat sosoknya. Bukankah biasanya Tao yang paling semangat dimana tidak ada seringai yang muncul di kegiatannya sehari-hari?

Ah, sungguh ia benci bagaimana cara hatinya bekerja untuk mempengaruhi sekaligus memanipulasi informasi di otaknya seperti ini. Segala macam bentuk perasaan yang ia rasakan ketika memikirkan atau berada di dekat Kris. Segala macam arti biru yang Kris berikan padanya lewat perbuatan manis dan pahitnya.

Kalau saja hal tersebut bisa dikatakan jatuh cinta. Kalau saja ada guru yang mau membantunya mempelajari kata sakral tersebut.

Sungguh ia benci bagaimana perasaan dari jatuh cinta itu.

Tao tidak yakin perasaan yang dirasakannya adalah perasaan yang semua orang dengan mudahnya sebutkan. Ia membantah kalau ia merasa terpikat dengan feromon manis pemuda tersebut. Bisa saja apa yang Tao rasakan itu cinta monyet yang datang silih berganti. Bisa saja hanya sekedar perasaan suka yang mudah pudar di hari nanti. Lagipula, buat apa ia jatuh cinta dengan orang yang belum pasti mempunyai hati—contohnya, Kris.

Oh, ya. Benar juga.

Tetapi sayangnya Tao tidak ingin jatuh cinta. Setia orang jatuh pasti yang merasakan sakit. Sama halnya dengan jatuh cinta. Lebih enak didengar jika merasakan cinta, tanpa harus jatuh terlebih dahulu.

Keren sekali pemikiranmu, Tao.

Tatapan Tao yang sedari tadi menunduk, ia angkat menghadap jalan di depan. Tangannya ia kepal erat seolah-olah ingin memberi semangat. Biarkan saja, ia bisa melewati hari ini dengan sempurna seperti hari biasanya. Jangan panggil Huang Zitao kalau ia tidak bisa menghadapi semuanya. Bahkan preman pasar sekali pun—eh tidak juga sih.

Bibirnya sumringah ketika melihat sohib abadinya berjalan pelan memasuki pekarangan sekolah.

"Luhan, turunkan aku di sini saja. Terima kasih sudah mau mengantar. Majalahnya akan kuberikan pulang sekolah nanti." Tangan Tao cekatan melepas seat belt yang mengikatnya. Tanpa menunggu protesan dari kakaknya, Tao segera membuka pintu dan turun dari mobil. Sedikit berlari meninggalkan mobil putih milik Luhan, akhirnya ia sampai juga di belakang Baekhyun.

Tao menepuk pundak mungil sahabatnya keras seraya berteriak, "hoi!"

"Ap—astaga." Baekhyun yang tersentak tiba-tiba langsung memegang dadanya. Ia bungkam untuk beberapa detik, lalu mengeluarkan helaan napas pelan. "Tao, berhentilah mengagetkanku. Kau tidak lihat jantungku bisa copot kalau kau seperti itu terus?" Ia melirik Tao cepat. Tanpa banyak bicara lagi, Baekhyun kemudain melanjutkan perjalanannya ke ruang kelas dengan langkah berat. Temannya ia tinggalkan dengan wajah kebingungan.

Tidak biasanya ia membiarkan Tao menjahilinya begitu saja tanpa membalas. Apa mungkin Baekhyun ingin memberikan kelakar yang lebih kejam kepada Tao saat istirahat nanti?

"Kau kenapa? Kau tidak marah? Suram sekali. Ini masih pagi Baekki."

Awalnya, Baekhyun melirik Tao dengan tatapan tajam seperti silet. Namun akhirnya ia hanya mengendikkan bahu menanggapi ucapan temannya. "Entahlah. Aku sedang tidak enak saja hari ini."

"Kau serius? Ayolah. Tidak ada sejarahnya seorang Byun Baekhyun galau. Hahaha," komentar Tao sambil merangkul pundak Baekhyun. Cengiran masih bergelayut di wajah Tao. "Tenang saja, aku tunggu sampai kau mau bercerita padaku."

.

Ting, tong. Ting, tong.

"Your eighth class has ended."

"Akhirnya..."

Bel sudah berbunyi. Waktunya pulang ke rumah tercinta. Waktunya juga untuk mengucapkan selamat tinggal pada pemeras otak. Setidaknya, untuk beberapa saat ke depan.

Kedua pemuda itu tidak langsung pergi menuju rumah mereka, melainkan mampir sejenak di kedai es krim dekat sekolah. Siang itu begitu terik. Peluh yang bercucuran mereka usap begitu bayangan tenda kecil mengenai kulit mereka.

"Kenapa kita tidak langsung masuk di dalam saja? Di sini panasnya luar biasa." Tao mengibas-ngibaskan snapback miliknya ke arah leher.

Baekhyun mendelik tajam mendengar pernyataan Tao. Tubuhnya ngilu dan begitu juga kakinya. Ia hendak beristirahat untuk sesaat di tenda bermeja ini. "Kakiku sedang sakit, Tao. Tenagaku benar-benar habis sekarang. Lari keliling sekolah itu melelahkan," ucapnya kesal. "Hell, guru Kim kejam sekali padaku."

"Oh, ayolah. Kau berlebihan. Jarak tenda ini dengan pintu masuk hanya lima langkah. Itu tidak akan membuatmu mati dehidrasi atau mati tersandung pintu. Cepat masuk." Tao memutar matanya malas lalu berjalan meninggalkan Baekhyun di tenda.

"Kau harusnya mengerti aku, Tao. Menyebalkan," gerutu Baekhyun pelan. Ia melipat tangannya dan memasang wajah cemberut. Walaupun begitu, tetap saja pemuda bersurai kecoklatan itu mengikuti kemana perginya Tao.

Seperti biasa, ada seorang pelayan yang membukakan pintu kedai untuk mereka. Setelah mengucapkan salam, keduanya segera masuk dan mencari tempat strategis untuk mereka tempati. Tao dan Baekhyun menghela nafas lega bersamaan begitu udara dingin berbisik menyentuk tipis kulit mereka. Apalagi aroma manis yang menguar di setiap sudut ruangan. Benar-benar terasa seperti di surga setelah melewati neraka jadi-jadi di luar tadi.

"This place feels so good," gumam Tao sambil mengistirahatkan punggungnya di bantalan kursi. Baekhyun hanya mengangguk pelan menanggapi dalam kungkungan lipatan tangannya sendiri. Pemuda bermata sipit itu menenggelamkan wajahnya di antara meja dan lengannya; mengeksploitasi semua rasa dingin dari kulit meja.

"Selamat siang, anda ingin pesan apa?" Seorang pelayan berucap sambil menyodorkan buku menu ke meja.

Baekhyun dan Tao buru-buru bangkit dan mengambil buku besar yang diberikan. Setelah beberapa saat memindai jejeran gambar es krim yang begitu menggoda akhirnya pikiran mereka sudah memutuskan makanan macam apa yang akan menjadi pelipur lara suhu tubuh ini.

"Aku yang ini saja," ucap Baekhyun seraya menunjuk es krim merah muda bersama potongan coklat di dalam dan hiasan krim putih di atasnya.

"Baik."

"Aku pesan green tea ice cream-nya satu."

"Baik. Ada lagi?"

Tao memberikan pandangannya ke arah Baekhyun dengan isyarat bertanya. Ketika Baekhyun menggeleng, Tao berbalik dan tersenyum kepada pelayannya. "Tidak ada."

"Baiklah. Pesanan anda akan datang sepuluh menit lagi. Mohon waktunya," ujar pelayan wanita itu dan segera pergi dari tempat mereka.

Untuk beberapa detik hening kembali menyelimuti Baekhyun dan Tao. Tepat di detik ke lima puluh, mulut Baekhyun terbuka untuk menghela nafas. "Aku bingung diriku sendiri, Tao."

Dari sudut matanya Tao melirik Baekhyun, "Apakah ini tentang Chanyeol?"

"Mungkin saja."

Lengkungan bibir terkembang sempurna di wajah Tao. Ia memang sudah lama mencium bau-bau cinta di antara teman dekatnya ini. Tentu saja. Siapa yang tidak menyadari tatapan 'ah, dia manis sekali aku ingin memakannya' yang di lemparkan oleh Chanyeol saat Baekhyun berada di dekatnya? "Oke. Akan kubantu kau mendapatkan Chanyeol. Tenang saja," tukas Tao sambil tersenyum cerah—kelewat cerah.

Mendengar itu, Baekhyun pun mengangguk. Otot-ototnya yang tadi tegang seakan merelakskan diri. Temannya yang satu ini benar-benar deh. "Terima kasih—eh," potong Baekhyun saat ia menyadari sesuatu. "Tunggu. Sebentar."

Brak!

Tangannya menggebrak meja tanpa sadar. Kedua bola matanya yang seperti ingin keluar membuat wajah Baekhyun begitu aneh sampai-sampai Tao ingin tertawa keras melihatnya. Mata Baekhyun yang benar-benar sipit melotot terpaksa ke arah pemuda surai hitam itu. Ia sama sekali tidak terlihat menyeramkan; terlihat lucu seperti tokoh kartun. Serius.

Kalau saja ia tidak tahu bagaimana meja kedai ia bisa terlempar ke arahnya nanti, Tao sudah terbahak hingga kursinya terjungkal. Sampai dunia ikut terguncang, mungkin. Ia tahu Baekhyun tidak marah padanya tadi pagi, tetap saja resiko terlihat besar. Ia masih sayang dengan wajah tampannya.

"Memangnya kenapa, huh?" Tao berkata masih dengan menahan tawa.

Pemuda berambut coklat almond ini kembali duduk di melepas tatapan tajamnya "Tidak, tidak apa-apa. Aku hanya hanya malas berdekatan dengan Chanyeol akhir-akhir ini," ketus Baekhyun.

Tao terdiam. "Begitukah?" Ia menumpukan sikunya di atas meja. "Itu namanya suka, Baekki," ujar Tao dengan menaikkan satu alisnya sekaligus memasang wajah sok serius. Dan gebrakan meja pun terdengar sekali lagi.

.

.

.

Ketika sang surya sudah kembali ke peraduaannya, para titik syaraf berteriak ingin diistirahatkan. Untuk orang biasa, mereka sudah terlelap hingga berkelana manca negara.

Di dalam kamar tersayang, Tao termangu diam seraya memainkan bantal panjang dalam pelukannya. Besok sudah libur, ia tidak perlu lagi membereskan buku untuk sekolah. Ia sudah makan malam jam delapan tadi. Wajah, gigi, tangan maupun kaki pun sudah ia bersihkan. Pakaiannya sudah tergantikan dengan piyama biru tua polos dengan pinggiran putih di ujungnya. Di tubuhnya sudah terbalutkan selimut tebal dengan tingkat kenyamanan yang luar biasa.

Ia sudah siap tidur, apa lagi yang ia tunggu?

Di tangan Tao terbaringlah ponsel imut nan manis yang menampakkan layarnya. Tidak ada satu logo pesan atau pun tanda misscall yang muncul. Dan benar, sepertinya Kris benar-benar sibuk hingga tidak sempat mengabarinya barang sebentar.

Tao ingin mendengar suara berat memabukkan itu. Suara rendah basah namun lembut untuk mengantarkannya tidur. Melodi yang begitu mengayunkannya ke alam mimpi. Namun sepertinya hal tersebut adalah permintaan yang tidak mungkin jika Tao tidak ingin mengganggu ketenangan Kris.

Secepat kilat Tao membanting tubuhnya ke atas empuknya tempat tidur. Selimut tebal hangatnya ia rapatkan sampai ke dada. Setelah mematikan ponsel pintarnya, Tao berharap kecil dalam hati dan segera menuju alam bawah sadarnya. Tak peduli dengan rasa resahnya, ia tidak bisa terus menyiksa diri akan sesuatu yang ia sendiri tidak ketahui.

.

.

.

Sementara itu di sebuah hotel ujung nan jauh di sana, pemuda pirang yang meneguk cairan merah panas memabukkan. Ia memandang jauh keluar dari jendela lebarnya. Menatap kosong langit hitam yang begitu mencerminkan bagaimana rumit pikirannya tanpa sebuah petunjuk.

Ia memang seperti di ruangan hampa tak berujung tanpa cahaya. Otak briliannya yang biasa ia gunakan untuk memecahkan persoalan rumit seolah tumpul seketika tak terpakai.

Tuk, ia meletakkan gelas kaki panjang di atas meja. Ia pandangi riak air yang bergerak-gerak di gelas kaca. Walaupun anggur itu merefleksikan wajah datarnya di air, entah mengapa pikirannya malah memandang indah ilusi manis yang Kris sendiri tidak tahu darimana itu terbuat. Jelas-jelas raut wajahnya yang terpantul di air merah gelap miliknya. Mengapa matanya melihat Tao di sana?

Ia tidak pernah mengalami hal ini sebelumnya saat bersama orang-orang itu. Tidak pernah.

Inikah yang mereka rasakan dahulu?

Tuk, sekali lagi pemuda pirang itu meletakkan gelas kaki tersebut jauh darinya. Rasa baru muncul ini benar-benar membuat Kris gila.

Benar-benar jatuh ke dalam pesona seseorang menurutnya tidak begitu enak.

.

.

.

Seperti hari libur pada umumnya, Tao bangun tidur lebih siang dari biasanya. Tidak hanya Tao yang bangun siang, pasti semua anggota Huang seperti itu juga. Sayangnya, hari ini bukanlah seperti hari malas seperti yang lalu. Hanya Tao sendiri yang hidup saat siang ditemani dengan surat mungil di atas meja milik ruang tengah.

Menurut Bibi yang baru saja lewat, ibunya yang meletakkan surat itu sudah terlalu jauh untuk ditemukan. Begitu juga dengan Luhan. Tidak biasanya ia bagun pagi di hari bebas seperti ini.

Tao merebahkan diri di sofa ruang tengah. Tangannya cekatan mengambil remote televisi dan menekan tombol powernya. Tangan kanannya membawa semangkuk sereal yang biasa ia makan sebagai cemilan. Ini masih pagi—menurutnya. Sedikit kebisingan mungkin cukup untuk sekedar mengisi rumahnya.

Surat yang tadi ia acuhkan kini sudah berada di pandangan Tao. Isinya sama saja. Ayah dan Ibunya pergi sampai malam hari dan Tao ditinggalkan beberapa lembar uang dengan nilai yang cukup besar. Lalu ada juga ucapan selamat ulang tahun yang terselip di tumpukan kalimat itu. Mereka meminta maaf karena tidak bisa menemani Tao di hari ulang tahunnya dan berjanji untuk mengadakan pesta kecil namun kilat nanti malam.

—eh, tunggu. Hari ini ia berulang tahun?

Pandangan Tao beralih kepada tanggal yang muncul di acara televisinya. Dua Mei.

Ya, dua Mei. Hari dimana ia lahir beberapa belas tahun yang lalu.

Ya, Tuhan. Tao menepuk dahinya keras. Bagaimana bisa ia melupakan ulang tahunnya sendiri!

Mata Tao kembali bergerak cepat mencari keberadaan seseorang di surat dari orang tuanya. Tidak ada hal yang menyinggung dimana Luhan. Dimana kakak menyebalkannya itu?

Mungkin Luhan sedang pergi mencari hadiah untuknya. Maka dari itu ia sudah menghilang di awal hari begini. Mungkin. Apakah ia sedang melalang-buana ke perpustakaan mengerjakan tugas? Entahlah.

Setelah sekian lama menduga-duga, Tao akhirnya lebih memilih untuk mengendikkan bahu. Ia tidak berharap banyak untuk hari ulang tahunnya, sebenarnya. Tao hanya ingin semua orang terdekat yang ia miliki datang dan menghabiskan waktu bersama-sama. Namun sepertinya tahun ini tidak bisa sesuai dengan kemauannya. Semua orang di rumah memiliki acara mereka sendiri. Tao ditinggal sendirian bahkan di hari yang spesial ini. Ah, sudahlah.

Mencari alat pengalih perhatian baru, Tao mengambil ponsel pintarnya yang ia tinggalkan tadi di kamar. Kakinya ia paksa lari kecil naik ke lantai dua lalu buru-buru kembali turun dari sana.

Tidak mengherankan, memang banyak notifikasi dari jejaring sosial maupun pesan pendek yang muncul di layar ponselnya. Ia sama sekali tidak mendengarnya karena ia masukkan ponselnya ke dalam posisi diam. Jika dilihat dari sana, sepertinya sahabat dan teman Tao lebih peduli dengannya dibandingkan keluarga Tao sendiri.

Ironis, memang. Setelah ini mungkin Tao perlu merogoh kocek lebih dalam untuk mentraktir makan semua temannya nanti. Itu tradisi turun temurun dari generasi ke generasi. Tidak ada yang mempatenkan hal seperti itu, tetapi tetap saja banyak orang menganggap hal itu harus dilakukan. Apalagi untuk orang yang di sekitar orang yang berulang tahun. It's a must, they said.

Tao tidak berpikir ini merugikan. Hanya setahun sekali, pikirnya. Tidak akan membuatnya mati kelaparan atau jadi miskin mendadak. Melihat mereka senang otomatis membuat Tao juga senang 'kan? Ia perlu merayakannya bersama-sama dengan teman dan kerabatnya.

Lalu, jika dipikir-pikir dengan keadaan seperti ini, jika hanya ada Tao seorang di rumah pasti tidak akan seru. Mau apa Tao menunggu sampai pestanya mulai nanti malam?

Bagaimana kalau Tao mengajak temannya untuk bermain sebentar, sekedar menemaninya dan membantunya mendekorasi untuk pesta besarnya nanti. Tidak menyenangkan tentunya kalau hanya pelayan saja yang membantu Tao membereskan semua persiapan pesta. Ia butuh sedikit sentuhan anak muda. Dan lagipula, ia tidak ingin merepotkan orang—kecuali ce esnya. Sebenarnya Tao tidak memerlukan pemanis yang muluk-muluk, yang penting meriah.

Uh, tunggu sebentar. Sepertinya ada sesuatu yang mengganjal di otaknya. Di memori Tao menerangkan jelas bahwa ada hal penting hari ini. Event yang sudah di siapkan dari jauh-jauh hari. Seharusnya Tao ingat. Seharusnya.

Tao mengetuk sekali lagi ikon mini di ponselnya. Tangannya dengan lincah menggeser ke sana-kemari, mencari appointment yang sudah ia tandai di kalender digitalnya.

"Hm..."

'Kedai es krim sebelah utara Lotte World. 07.00 PM.'

"Lotte World, ya." Tao mengangguk mengerti. Jadi ini yang mengganggu pikirannya. Bisa saja ia batalkan untuk pesta kecil hari ini. Memangnya siapa yang mengajaknya, sih?

Pikirannya kembali melayang saat dua hari lalu yang menyerahkan tiket kuning untuk masuk ke dunia permainan itu. Tinggi, rambut pirang, lumayan tampan, senyum menaw—menyebalkan. Kris. Siapa lagi kalau bukan Kris.

"Oh, iya. Tiket masuknya 'kan dari Kris." Tao mengangguk paham sekali lagi. Matanya menyusuri huruf kecil yang berbaris rapi itu memastikan apa yang ia baca benar.

"Nanti malam. Jam tujuh. Oooh—OH." Mata Tao membulat seketika, "OH, IYA."

Seketika Tao terlonjak dari duduknya. Bisa-bisanya ia melupakan jadwal penting seperti itu! Mata Tao langsung berputar cepat melihat jam di atas layar handphone. Pukul sembilan lebih lima belas menit. Masih ada setengah hari sebelum waktu yang di tentukan. Hah. Untung saja.

Tao membanting tubuhnya ke atas sofa. Ia masih punya banyak waktu untuk mempersiapkan—atau bahkan membeli baju bagus untuk bertemu Kris nanti. Ia tahu ini konyol, tetapi tetap saja... Tao tidak bisa membiarkan dirinya terlihat jelek di depan orang itu. Mereka sudah tidak bertemu dalam satu hari—dua hari mungkin? Ia tidak ingat; terlalu fokus untuk melupakan rasa rindunya kepada Kris.

Ups, keceplosan.

Lagipula, Tao rasa tiket itu sebenarnya hanya perantara saja untuk merayakan ulang tahunnya; sengaja membuat kertas kuningnya terlihat begitu misterius jika dibandingkan dari niat asli diberikannya tiket itu. Kado ulang tahun saja seperti peta yang menyembunyikan empat ratus kati emas. Ada peringatan di awalnya terlebih dahulu.

Tanpa disadari, senyum mungil tersungging di bibir Tao. Cara pemuda surai pirang menyampaikan hadiahnya entah mengapa terasa begitu manis. Lucu sekali. Membayangkan bagaimana mereka menghabiskan waktu malam nanti di taman bermain membuat Tao terkekeh sendiri. Wahana apa saja yang akan dinaiki nanti? Stan makanan apa saja yang akan mereka kunjungi? Barang seperti apa yang akan ia minta kepada Kris supaya dibelikan di sana? Tao benar-benar tidak sabar sampai jam delapan malam nanti.

Kedua berlian coklat Tao kembali melirik layar ponsel di tangannya. Notifikasi dari berbagai sosial media tak henti-hentinya menampakkan diri di benda mungil nan pintar tersebut. Tanpa dilihat pun lelaki itu sudah tahu apa isi dari pemberitahuan itu. Ucapan ulang tahun dari teman, mantan teman, kerabat ataupun sahabatnya.

Tao menatap kasihan nama-nama tersebut. Tidak ada acara traktiran untuk hari ini, ya. Pestanya bisa lain kali Tao adakan. Ia punya sesuatu yang harus ia hadiri nanti malam. Tssah.

Karena anak panda lucu kalian sudah diculik duluan oleh sang Serigala.

.

.

.

"Eomma, terima kasih kuenya. Terima kasih kejutannya. Terima kasih untuk semuanya," ujar Tao seraya melengkungkan bibirnya semanis mungkin. Ingin menyampaikan rasa terima kasihnya lewat gerak-gerik. Kemudian ia menoleh ke arah kanan, memandang kakak dan pria paruh baya yang selama ini menjadi panutannya. "Terima kasih juga, Appa, Lulu-ge."

Sang Ibu membalas senyum dan memeluk anak bungsunya hangat. Ia tidak kaget saat merasa tubuh Tao lebih besar dibanding terakhir kali ia memeluknya. "Sama-sama, Tao-ie. Maafkan kami baru bisa menemanimu ketika sudah malam seperti ini."

"Tidak apa-apa, Bu. Kalian ada di sini saja aku sudah bersyukur." Tao mengangguk dalam dekapan Nyonya Huang, lalu berbalik sembari memberikan cengiran lebar khasnya.

Ia harus cepat mengakhiri pesta ini. Kenapa mereka mengadakannya nyaris dari waktu yang harus Tao hadiri.

"Nah, ayo. Bantu eomma membersihkan kekacauan ini," ucap Nyonya Huang dengan senyum penuh arti ke arah tiga pria dihadapannya.

Serentak desahan malas terdengar di antara mereka. Ini bagian yang paling mereka benci dari sebuah pesta. "Taozi, kau yang punya pesta, kau yang bersihkan semua ini. Kalau tidak, kuambil lagi hadiahmu." Luhan memutar kedua matanya malas; tetap dengan cekatan menumpuk piring kotor untuk dibawa ke wastafel.

"Terserah, Luhan-ge. Terserah. Aku lelah dengan ancamanmu."

Mendengar keluh adiknya Luhan hanya tertawa. "Kau sudah tidak asik lagi, adik kecil."

"Kau—GEGE."

.

.

.

Tao mengambil mantel hitam miliknya di atas sofa dengan kecepatan kilat. Sudah jam tujuh lewat empat puluh lima menit. Waktu yang dibutuhkan menuju Lotte World sekitar dua puluh menit. Terlambat sudah menjadi alamat pasti untuk Tao. Salahkan Luhan yang seenaknya memberikan tugas cuci piring yang notabene pekerjaan yang paling lama kepadanya. Dalam hati Tao merutuki kelakuan kakaknya yang seenaknya menyuruh orang.

Secepat kilat ia memakai mantel miliknya. Dalam hitungan detik Tao sudah selesai memakai sepatu mahalnya. Walaupun dalam keadaan terburu-buru, tentu saja ia tidak boleh melewatkan sedikitpun tentang penampilannya.

Ketika semua sudah siap, Tao segera bangkit dan melirik jam di dinding rumahnya. Tujuh lewat empat puluh tujuh menit. Ia panik dan segera berlari.

"Eomma, aku pergi dulu!" teriak Tao saat buru-buru membuka pintu depan.

Nyonya Huang pun ikut membalas dengan suara keras. "Hati-hati, Tao-ie!"

Tak lama kemudian, suara pintu yang ditutup terdengar keras.

Pria yang menyandang marga Huang tersebut menatap miris pintu berukiran indah yang baru saja dibanting oleh Tao. "Sayang, sepertinya kita perlu mengasuransikan pintu kesayangan kita."

.

.

.

Napas Tao memburu ketika ia sampai tepat di depan stan es krim seperti yang dibilang Kris kemarin. Setelah berhasil mengatur nafasnya menjadi lebih teratur, Tao mulai memindai satu per satu orang yang berdiri di sekitar kedai tersebut. Ia bergerak cepat melirik ke dalam kedai saat tidak area luar tidak menunjukkan tanda-tanda hadirnya Kris.

Tidak ada.

Tao menghela nafas. Entah bermaksud lega atau kecewa. Mungkin saja Kris terlambat. Jalan raya menuju Lotte World memang ramai kalau Sabtu malam. Akhirnya Tao memilih membiarkan kakinya membawa masuk ke dalam kedai.

Ia memilih kursi yang terletak di tengah pekarangan stan; berharap Kris dengan mudah menemukannya di sini. Ia sempat tersenyum ketika matanya menyadari warna-warni cerah yang dipajang di etalase dekat kasir. Mungkin tidak ada salahnya menikmati manisnya es krim selagi menunggu. Kemudian Tao menaikkan tangannya ke atas; memberikan isyarat bahwa ia siap memesan.

"Ya, Tuan?" Seorang pelayan laki-laki datang menghampiri meja Tao. Lelaki itu meletakkan buku menu di atas meja.

"Hm... aku pesan es krim rasa vanilla choco chip satu," ucap Tao sembari melihat kembali buku menu yang terbuka. Saat ia menemukan salah satu es krim kesukaannya di pojok bawah ia buru-buru menambahkan, "Oh, es krim green tea satu juga."

Tangan pelayan itu bergerak cepat mencatat pesanan Tao di buku kecil. "Baiklah. Ada lagi?"

Tao menggeleng. "Tidak, itu saja."

"Baik, mohon tunggu sebentar." Pelayan tersebut tersenyum kemudian berbalik badan.

Punggung Tao sudah tersandar nyaman di penyangga milik kursi. Kedua matanya menutup sesaat sebelum kembali terbuka lebar. Ia memesan rasa teh hijau karena seingatnya rasa itu merupakan rasa favorit Kris ketika ia membeli es krim. Kebetulan sekali teh hijau juga rasa kesukaan Tao.

Tao memindai setiap sudut di sekitarnya. Kedai ini seperti restoran namun luas keseluruhannya lebih kecil. Atap yang digunakan berbahan transparan sehingga memberikan kesan pelanggan sedang berada di alam luar. Jika siang hari, lampu tidak diperlukan untuk menerangi ruangan minimalis ini. Lebih banyak aksen hijau yang disematkan di pojok-pojok kedai. Kursi dan meja yang disediakan pun tidak banyak, seakan menyediakan suasana untuk beristirahat menikmati dinginnya es krim dibandingkan untuk makan besar bersama kolega.

Tak sampai sepuluh menit berlalu, kedua es krim yang Tao pesan sudah sampai di depan mata. Pelayan tersebut meletakkan makanan itu dengan rapi. Awalnya Tao tidak menyadari bahwa ada benda lain yang bersembunyi di balik nampannya.

Ada lima permen yang berukuran cukup sedang menampakkan diri dan secarik kertas di samping mangkok es krim berwarna hijau keputihan. Saat pelayan bernama Lay di papan nama mini menaruh benda manis itu Tao tak sengaja menjatuhkan salah satu permennya. Di saat itulah ia baru tersadar akan keberadaan para hadiah khusus dari kedai. Mata sipit layaknya kucing itu melempar tatapan bertanya ke arah sang pelayan.

"Setiap pembelian satu es krim rasa green tea, kedai kami memberikan bonus permen, Tuan," ucapnya seolah dapat membaca pikiran Tao.

Setelah mendengar penjelasan sang Pelayan, mulut Tao membentuk lingkaran kecil yang menggemaskan. "Oh..." gumamnya.

Tidakkah remaja ini sadar kalau bibir merah muda yang terbuka bisa menggoda hewan buas? Jika saja seseorang tidak memberikannya amanat untuk memberikan hadiah kecil ini, si Pelayan tak segan-segan membungkus pelanggan di hadapannya pulang ke rumah.

Tao memandang permen yang terjatuh tadi—setelah pelayan mengambilnya—dan kertas putih itu sekali lagi. Permen rasa orange dan kertas berlipat hingga kecil bentuknya. Mungkin kertas yang diberikan Lay hanya berisikan hal biasa yang ada di brosur-brosur promosi restoran. Lalu, penglihatan Tao kembali pada sang Pelayan. "Terima kasih, kalau begitu."

Pemuda berambut coklat gelap dengan lesung pipit di ujung mulutnya tersenyum lembut. "Sama-sama. Selamat menikmati, Tuan."

Tao hanya mengangguk menanggapi dan mulai mengerakkan sendok mini itu untuk mengambil adonan susu dan es batu yang berwana hijau. Selagi mengemut rasa pahit manis sekaligus asam di lidah, Tao memberanikan diri membuka lipatan kertas putih di samping permen berwarna cerah tersebut.

Tulisan huruf hangul khas buatan tangan terpampang tidak begitu di atas kertas. Tulisan tersebut sama sekali tidak menunjukkan ciri dari sebuah brosur. Jika bukan brosur, lalu kertas apa ini? Perlahan jemari Tao membuka lipatannya.

.

.

#1

Dear Taozi,

Bagaimana? Suka dengan permennya? Aku harap permen yang kupilihkan untukmu rasanya cocok.

Jika kau sudah selesai dengan cemilanmu, pergilah ke arah barat. Cari tempat permainan yang biasa kau mainkan untuk menembak bebek di atas papan. Selesaikan permainanmu, dan tunjukkan kertas ini kepada Game Master. Nikmati tropi kemenangan spesialmu.

P.S: Di dalam tropimu, ada petunjuk kedua. Jangan banyak bertanya, ikuti saja perintahnya—kalau kau mau bertemu denganku.

[2291888450]

.

.

"Huh?"

Bola mata Tao naik-turun menyusuri kertas tebal itu berkali-kali. Alisnya saling bertautan tajam seolah tak mengerti akan kalimat yang diberikan. Ia merasa sedikit percaya tidak percaya dengan susuan kata-katanya. Apa maksud dari kartu ini?

Kerta yang Tao pegang bertekstur hampir sama dengan kartu yang digunakan untuk ucapan hari raya. Namun bagian bawah kertas yang biasanya terisi oleh tanda tangan, kini tergantikan oleh nomor abstrak yang Tao sendiri tidak mengerti apa artinya. Dilengkapi dengan logo bebek hitam pula.

Tunggu sebentar. Tampaknya ia tahu siapa pengirim kartu ini.

Berbagai konsklusi yang muncul di otaknya, Tao pilah hingga menuju yang paling masuk akal. Jika dimasukkan tiket yang beberapa hari yang lalu ia terima, benda itu berhubungan dengan surat yang baru saja ia dapat. Dengan demikian, ada kemungkinan pengirim kedua kertas tersebut adalah orang yang sama; Kris.

Ketika Tao melirik sedikit ke counter kedai es krim, otaknya tidak bisa mengabaikan dua orang wanita berseragam yang mencuri-curi pandang ke arahnya. Begitu juga dengan pelayan yang sok sibuk di samping mereka. Ia yakin semua ini tutornya yang mengatur.

Tao kembali menyendok es krimnya dan mulai membayangkan kejutan apa lagi yang disiapkan untuknnya di sana. Entah apa yang Kris lakukan hingga kedai ini mau saja bekerja sama dengan orang seperti dia.

Kembali melipat kertas pertama itu dan memasukkannya ke dalam tas yang ia bawa, Tao buru-buru menunduk menghindari tatapan orang lain dan segera menghabiskan es krimnya. Sedikit menyesal mengapa ia memesan dua es krim sekaligus. Waktu yang ia habiskan di sini otomatis menjadi lebih lama. Ia tidak sabar melihat bagaimana permainan Kris berjalan.

.

.

.

"Oh, ayolah!" Tao melempar koin lagi untuk melanjutkan permainannya. Ini sudah yang keempat kalinya Tao mencoba bermain, selalu saja bebek terakhir tidak dapat ia lumpuhkan. Sedikit lagi ia bisa menang pengharagaan poin terbanyak dalam minggu ini. Semuanya gagal di akhir karena bebek hitam yang lari seenak kepalanya menghindari peluru dari pistol mainan milik Tao. Sebenarnya apa sih maunya bebek itu?

Permainan ini sebenarnya dibagi menjadi tiga tingkat bebek yang berbeda. Bebek putih dengan poin paling rendah, bebek biru berisi poin tinggi dan bebek hitam untuk poin paling tinggi. Kalau dilihat dari poin yang Tao hasilkan, Game Master sudah bisa memberikan hadiah paling tinggi nomor dua untuknya. Namun tetap saja Tao ingin mengambil hadiah nomor satu di stan permainannya.

...yah, siapa tahu hadiah untuknya nanti bisa lebih bagus jika ia mendapat poin tertinggi.

"Bersiaplah bebek-bebek jelek. Kali ini aku akan benar-benar menangkapmu," lirih Tao sambil menyiapkan senapannya ke arah area tarung.

Dum dum dum

"Hm!"

Semua bebek putih sudah Tao jatuhkan dari papan. Enam bebek biru pun ikut tertembak. Sudah dua bebek hitam Tao taklukan, satu bebek hitam lagi perjuangan Tao berakhir sudah.

"Ayolah..."

Dum!

Seolah kata pujangga, bulu kelam itu sudah terkulai tak bernyawa.

"Selamat Zitao-sshi!" Game Master di samping Tao bertepuk tangan sekaligus menuntun Tao menuju meja kaca miliknya. "Anda berhasil mencapai poin tertinggi untuk minggu ini. Silahkan pilih hadiah apa saja yang anda mau," ujarnya tersenyum seraya menunjukkan koleksi hadiah miliknya.

Saat berada tepat di depan meja kaca berisi hadiah, Tao tertegun sesaat. Begitu banyaknya hadiah yang bisa ia pilih. Tao teringat dengan kalimat yang ia baca tadi. Kemudian tangannya buru-buru mengeluarkan kertas petunjuk yang ia terima di kedai es krim sebelumnya.

"Em, anu. Aku mendapat sebuah surat barusan. Katanya aku harus menyerahkan ini padamu." Tangan Tao terulur memberikan kertas putih misterius itu kepada pemuda yang memakai blazer coklat di hadapannya.

Sang Game Master mengangguk ramah. "Baik, izinkan saya melihatnya dulu."

Tak sampai lima detik, pemuda berambut coklat dengan suara renyah itu tertawa. Tangannya bergerak cepat menyelinap di antara salah satu laci tertutup. Tepat ketika barang yang dimaksud menampakkan dirinya, Tao sama sekali tidak bisa mengalihkan pandangannya dari sebuah boneka dan sepaket coklat berpita itu.

"Semua barang ini tentu berada diluar dari hadiah yang seharusnya anda ambil, Zitao-sshi. Anda menyukainya?"

Tao hanya mengangguk sebagai tanda ia menyetujui perkataanya sang Game Master tampan tersebut. Ia tatap lekat boneka berbentuk naga setengah dinosaurus berwarna hijau. Ekspresi dari tatapan polos mata bulat berkilau milik sang boneka naga sangat mengundangnya untuk memeluk.

Bagaimana bisa manusia membuat benda selucu ini, dalam hati Tao berbicara.

Game Master dengan nametag Kim Jongdae di dadanya tersenyum melihat bagaimana ekspresi Tao berubah cerah. Siapa pun yang melihat dipastikan positif diabetes karena aura manis yang dikeluarkan oleh mereka berdua. Jongdae sendiri sepertinya perlu menggunakan pakaian anti diabetes—kalau ada.

"Pintar benar orang yang memilih boneka seperti itu ya, Zitao-sshi?" tanya Jongdae dengan tangan yang bergerak menepuk lembut makhluk merah di tangan Tao. Kemudian melirik kotak coklat besar yang terabaikan di sampingnya.

Oh, betapa pita emas yang melekat di tubuh itu menunjukkan kemewahannya.

"Anda sungguh beruntung memiliki orang yang sangat peduli dengan anda."

Tao sedikit kaget saat mendengar ucapan Jongdae. Ia naikkan wajahnya dari sang boneka, kemudian menatap Jongdae dengan tatapan simpati.

"Ah, tidak juga... Jongdae-sshi." Tao tersenyum simpul melirik cepat nametag Jongdae sebelum akhirnya memandang lekat kotak coklat berpita emas. "Aku belum tahu siapa yang menyiapkan ini semua. Sudah tahu—belum terlalu yakin, sebenarnya."

Untuk kedua kalinya tawa renyah Jongdae terdengar. "Bukankah biasanya orang yang sangat kita kenali menyiapkan hadiah ini untuk kita, hmm?"

"Mungkin saja." Tao ikut tertawa. Menyebutkan nama Kris saat ini rasanya tidak tepat. "Aku benar-benar penasaran siapa dia."

Jongdae mengangguk seolah mengerti apa maksud ucapan Tao—tidak ingin menambahkan lagi. Terlalu takut memancing pembicaraan dan berujung membuka identitas orang yang meminta bantuan kepadanya secara tidak sengaja.

"Baiklah kalau begitu. Sudah menemukan hadiah apa yang anda mau?"

.

.

Sudah hampir jam sembilan malam dan Tao belum juga bertemu dengan Kris. Melihat sehelai rambut—batang hidungnya pun tidak. Tempat bermain ini akan tutup dua jam lagi dan Tao masih belum bisa menemukan kartu petunjuk kedua di dalam hadiah-hadiah miliknya.

Apakah kartu petunjuk itu ada di dalam hadiah lain yang tidak ia ambil? Bagaimana kalau kartu itu ternyata ada di Jongdae? Tao merutuki pikirannya. Merujuk dari kalimat yang tertera di kartu dan ucapan Jongdae, tidak mungkin kartu petunjuk nyasar di tempat lain. Kris pasti menyembunyikan kartu itu di suatu daerah dalam kotak dan bonekanya.

Setengah putus asa, Tao membaca sekali lagi kartu pertama yang ia dapat. "Di dalam tropimu, ada petunjuk kedua. Hm..."

Tangan Tao bergerak meletakkan boneka naga setengah dinosaurus itu ke sampingnya. Ia sempat membenarkan posisi snapback mahal orisinil dari produsen asli yang baru saja ia dapatkan dari Jongdae sebagai hadiah poin terbaiknya. Lalu jemari Tao mengambil salah satu coklat kecil yang tebungkus rapi dengan kertas emas.

Istirahat sejenak dan menikmati coklat dulu mungkin hal yang bagus.

Ketika Tao tanpa sengaja mengangkat coklat itu, sebuah kertas berukuran sama dengan kartu petunjuk yang ia tadi ia terima terjatuh di pahanya.

"Oh?"

Tao membuka kertas itu dengan penuh harapan. Semoga saja ini bukan daftar ingredients dan nutrition facts milik coklat yang ia makan.

.

.

#2

Dear Taozi,

Selamat. Sudah kukira kau akan mendapat poin tinggi di permainan bebek milik Jongdae. Terlalu mudah, ya? Lebih baik, tadi kau sarankan Jongdae untuk membuat semua bebeknya itu berlari lebih cepat dari serigala.

Kalau kau menyukai coklat yang kuberikan, tentu kau mau jika aku suruh untuk pergi ke merry-go-round di tengah area ini 'kan? Permainan dengan dengan kuda putih milik pangeran yang berputar. Di sana sudah ada yang menunggumu. Berikan satu coklat padanya, dan sebutkan satu kalimat yang berhubungan dengan panda; entah kalimat tanya ataupun pernyataan.

Jika anak kecil itu mendapatkan kata kunci yang kau sebutkan dan memberikanmu kertas petunjuk ketiga, dia bisa menunjukkan dimana aku berada. Namun, jika dia mengerti kata kuncimu tetapi masih tidak ingin memberikan kartu itu, kau harus bisa melelehkan hatinya sampai ia tulus memberikan kartunya kepadamu.

Selamat menjalankan misi kedua.

P.S: Don't give up yet, I have something really big waiting for you after this. Of course I'll give you the prize just if you can successfully pass this section. I know you can. Have fun while talk to him.

.

.

Tepat setelah Tao menutup kembali kertas putih itu, helaan napasnya terdengar. Punggungnya ia sandarkan di kursi panjang tempat khusus peristirahatan.

Tidakkah ia sadar Tao sudah lelah berkeliling seperti orang bodoh dari ujung ke ujung Lotte World. Haruskah ia berdealing bersama bocah-bocah yang bahkan tidak tahu arti dealing itu apa. Screw you, siapapun yang mengirim surat ini.

.

.

.

.

To be Continued to... 2nd part

.

.

.

A/n:

Hai. *brb sembunyi dibalik bantal* aku tahu ini lama sekali. Lama bangedh. Bangetnya pake d sama h. Berapa banyak orang yg nungguin? Siapa aja yg ngepm? Angkat tangan coba hehe.

Maaf. Aku bener-bener minta maaf karena udah hiatus ga bilang-bilang. Ninggalin kalian tanpa kabar. Maaf kalo ini jauh dari perkiraan kalian. Maaf kalo ini mengecewakan. Maaf kalo aku udah bikin kalian kesel. Aku berharap part 1 ini masih pantas untuk menebus waktu kalian nunggu. Maafin saya ya reader. Kan udah lebaran~

Terusss mau bilang ke readers makasih doanya selama ini. usaha saya di kelas 8 ga sia-sia. Rank 1 dengan nilai tertinggi di sekolah. MAKASIH YAAAAAA. /tebarconfetti/ Doain saya sukses selesaiin ff ini sama kelas 9 saya nanti:)

Jangan sedih dulu eak. Masih ada part 2 nya loh... kepanjangan soalnya hehehehehe. Jangan sedih dulu taorisnya masih lack disini:))))

I cant reply your review—but really. I always read it again and again every single seconds for gain some and gather more spirit to write this fic. Kayaknya aku ngeselin banget ya, tapi beneran minta maaf:( Aku mau bilang makasih pujiannya, komentarnya, kritikannya. Review kalian itu semangat setiap author; termasuk aku. Jadiiiiii, tetep review ya kalo mau authornya semangat ngelanjutin hehehe:) Doakan sesuatu akan terjadi in the next part. Aku nyantumin nama kalian semua bukan di sini tapi di hati aku aja yaaa hehehe ((edisigombal)) ((silahkantertawa)). Tapi beneran. Terus, kalo ada yang mau lihat fanart KrisTaonya yang aku sebut tadi bisa liat di twitter at-yonhaeng atau favorit twitter aku; at-yifpandas. bukan masalah promosi, cuma diupload di twitter dan deviantart soalnya:)

Thanks to:

Beta reader saya, Mochi,

Kakak yang berbaik hati membuatkan saya fanart KrisTao, yonhaeng,

Semuanya yang sudah review, favorite, alert, bahkan sampai nge-PM saya buat ngelanjutin FF ini,

And, you!

Lovely Regards,

.

Liz A.