Main Cast : Lee Sungmin, Cho Kyuhyun

Other Cast : Yesung, Zhoumi, Ryeowook, Henry, HanChul, KangTeuk

Disclaimer: Semua cast milik Tuhan, tapi cerita ini milik author mesum (Cupid'skyumin)...

.

.

Previous Chapter

Kau menangis?" Kyuhyun menaikkan dagu Sungmin, hingga Ia benar-benar bisa menatap paras itu dengan lekat.

"Brengsek! Lepaskan aku!" Sentak Sungmin, masih terus berusaha melepas rengkuhan Kyuhyun. Namun namja tampan itu…tak sekalipun bergeming….tetap menggenggamnya bahkan semakin memeluknya erat.

Hingga tiba-tiba saja Sungmin kalap dan…

'PPLAAAK'

.

.

.

Chapter 8


Breakable Heart


.

.

.

Nafasnya begitu memburu… terlalu geram menahan remuk redam dalam dadanya. Sungmin tau…tindakan nekatnya ini mungkin terlalu lancang di depan umum, mengingat Kyuhyun satu-satunya namja yang memiliki nama di sini. Terlebih, bukan tidak mungkin pula...Kyuhyun akan belas menamparnya lebih keras dari dirinya. Tapi Sungmin tak peduli, baginya…..rembasan darah disudut bibir namja itu tak cukup untuk membayar luka batinnya. Bahkan seharusnya bukan hanya sekedar tamparan….tapi lebih dari itu!

Sungmin kembali menatap penuh muak, tapi kemudian memalingkan wajah ke lain arah. Entahlah tatapan redup manik obsidian itu, seakan membuat dadanya kembali berdentum sesak. Tidakkah itu semacam tatapan tersakiti?

Ah! Omong kosong!

Sungmin lebih memilih memutar tubuh dan melangkah pergi. Sebelum perasaan absurd itu semakin menguasai dirinya.

"Tunggu Min"

Namun langkahnya seketika tersendat, begitu Kyuhyun menahan lengan kirinya. Dan memaksanya untuk kembali memutar tubuh.

"Kau salah paham" Lanjut Kyuhyun , berusaha menahan lebih kuat genggamannya. Demi apapun itu, Ia sama sekali tak menginginkan Sungmin pergi dengan memendam semua kesalah pahaman itu.

"Tsk! Haruskah aku tertawa dengan rasa percaya dirimu yang selangit itu Cho?!" Sungmin menghempas tangan Kyuhyun. "Dengar! Aku tak akan peduli….meski sepatah katapun terucap dari mulutmu!" desis Sungmin lagi, lalu kembali mengambil langkah pergi.

Namun seolah tak rela….Kyuhyun kembali menangkap cepat jemari Sungmin dan menggenggamnya seerat mungkin. Ia benar-benar kebas…melihat namja cantik itu, sekeras ini menutup hatinya bahkan semakin menghindarinya.

"Dengarkan aku bicara—

"Persetan dengan ucapanmu!" Sergah Sungmin seraya mendorong dada Kyuhyun. apapun itu, ia benar-benar tak ingin menatap wajah Kyuhyun barang sedikitpun

"Apa yang ku katakan pada Zhoumi bukan—

"MENJAUH DARIKU!" Jerit Sungmin lagi, sambil menghempas kasar tangan Kyuhyun. bulir bening pun kembali mengalir dari paras piasnya, tak perlu penjelasan appapun! Walau hanya sepatah kata yang terucap, lebih dari cukup membuatnya mengingat semua percakapan menyakitkan itu.

Sesaat Ia menggigit bibir bawahnya, berusaha menahan isakan yang hampir pecah. Akan menjadi hal rendah baginya, jika namja sepertinya menangis di depan ratusan mata seperti ini.

Sungmin menatap Kyuhyun kecewa, kemudian benar-benar berlari pergi sebelum namja tampan itu kembali menangkapnya lagi.

TAP….TAP…TAP

Kyuhyun menendang udara kosong di hadapannya seraya meremas surai coklatnya sendiri, oh sungguh! Ia benar-benar merasa gila, melihat Sungmin begitu menutup hati dengan tatapan benci itu. berulang kali pula Ia merutuk geram,bagaimana mungkin Sungmin berada di tempat yang sama dan mendengar semua percakapan sialan itu. Jika seperti ini, bagaimana bisa Ia mendekati Sungmin ? Lebih lagi, bagaimana jika Yesung memanfaatkan situasi seperti ini untuk merebut Sungmin darinya?

"Arght! Shit!" Umpatnya geram, namun tatapannya berubah redup kala melihat siluet mungil itu semakin menghilang dari balik koridor.

Tidak! Tentu Ia tak bisa berdiam diri akan semua hal ini. Sungmin miliknya, hanya menatap dirinya seorang dan sampai kapanpun akan tetap seperti itu.

Dengan gusar, Kyuhyun berlari… berusaha mengejar siluet Sungmin yang terlihat menuju ruang kelasnya. Perasaannya memang berdesir tak menentu, Kyuhyun sadar….ini memang tak seperti pribadinya. Merasa gelisah dan panik kala seseorang menyentaknya seperti ini. Dan orang itu…Lee Sungmin.

.

.

.

Jantungnya berdetak lebih cepat, begitu memijakkan kaki di ambang pintu. Dan di sanalah semua pasang mata tertuju padanya. Tapi bukan pandangan itu yang membuat darahnya berdesir secepat ini, melainkan pada sosok namja mungil yang terlihat kacau memasukkan buku-buku di mejanya ke dalam ransel. Bahkan, sebagian tercecer ke lantai…karna terlalu tergesa. Oh sungguh! Ia tak berharap Sungmin benar-benar muak pada dirinya kali ini.

"Sungmin~ah…..apa yang kau lakukan? Tidakkah kau tau, pelajaran Ibu belum berakhir?" Suara Sunny memecah hening dalam ruang kelas tersebut, dan bersamaan dengan itu pula…Kyuhyun melangkah mendekati Sungmin yang masih terlihat kalut mengemas semua isi ranselnya.

"Pulang!..aku ingin pulang!" sentak Sungmin tiba-tiba. Tak peduli seisi kelas mulai riuh karna ulahnya.

"Kau tak harus melakukan semua ini, kembali duduk di kursimu" Ucap Kyuhyun seraya menahan lengan namja mungil itu.

Tapi lagi-lagi Sungmin menyentaknya"Jangan menyentuhku! Dan jangan sekalipun berbicara denganku!" geram Sungmin, kali ini dengan melangkah ke belakang seraya memeluk ranselnya erat-erat.

Seisi kelas tampak membisu, ini bukan pertengkaran kekanakan seperti yang biasa terjadi di hari-hari kemarin. Tatapan dan bulir bening dari manik foxy itu cukup menunjukkan, Sungmin benar-benar kecewa saat ini. Dan yah, tentu Kyuhyun satu-satunya namja yang dipersalahkan dalam hal ini. Selalu menggoda dan membuat namja mungil itu menjerit bahkan menangis. Tapi kali ini sepertinya….Cho yang agung, sudah kelewat batas. Tapi mereka bisa apa? Nyalinya terlalu lebur jika harus menentang Penguasa sekolah itu. meski sebenarnya merasa iba dan ingin membantu melihat Sungmin seperti ini. Dan itu hanya tetap menjadi niatan terbesit saja.

Sunny menghela nafas pelan. Ia harus menyaksikan keributan semacam ini lagi di tengah-tengah pembelajaran. Tidakkah ini urusan pribadi? dua anak itu tak sedang memainkan sandiwaira suami istri yang bertengkar dalam kelasnya bukan?

Sebagai pendidik…Sunny benar-benar merasa tak becus membimbing keduanya, membiarkannnya melarut-larutkan masalah dan menjadikan ruang kelas sebagai arena bertarung, hingga membuat anak-anak yang lain melihatnya seperti ini. Ya Tuhan…. Itu bukan tontonan yang layak untuk anak semumuran mereka!

Merasa jengah,Sunny beranjak berdiri dari kursinya…berniat menegur keduanya.

"Kyuhyun….Sungmin—

BRAK

Belum sempat Ia mengusaikan kalimatnya, Sungmin tiba-tiba saja melarikan diri dari ruang kelas. Membuatnya harus menelan bulat-bulat rasa kesal itu, karna diabaikan seperti ini.

Ia beralih menatap Kyuhyun. satu-satunya anak yang harus bertanggung jawab akan semua keributan ini. "Kyuhyun…Ibu mohon—

Namun lagi-lagi, Ia tertohok…begitu melihat Kyuhyun turut berlalu meninggalkan kelasnya. Apa-apaan ini? Bukankah dirinya pendidik di sini. Satu-satunya sosok yang paling di hormati di kelas ini? Tapi mengapa dua anak itu sama sekali tak menganggapnya? Dan melenggang begitu saja…seolah dirinya batu hidup di ruangan itu.

Sesaat Sunny menggebrak meja, melampiaskan perasaan kesalnya….tapi setelahnya Ia menarik nafas dalam-dalam. "Joon, kerjakan soal nomor 5 ke depan" Ujarnya, sembari memijit pelipisnya. Mencoba memahami posisinya saat ini, tak kan mungkin menarik kedua telinga Kyuhyun, meski sebenarnya ingin. Oh sungguh! Siapapun tau...Kyuhyun ibarat Pangeran di sekolah ini.

.

.

.


Sungmin melangkah kacau, meniti tepian jalan itu dengan tangan terkepal erat. Sesekali pula ia menepuk-nepuk matanya….berusaha menyeka rembasan bening dari matanya yang memerah itu.

Namun tanpa Sungmin sadari, Kyuhyun masih bertekad mengejarnya. Namja tampan itu berjalan pelan, bahkan terkesan berhati-hati mengikutinya dari belakang.

"Pabboya Cho Kyuhyun!" Umpat Sungmin lirih, namun masih dapat di dengar dengan baik oleh Kyuhyun di belakangnya.

"Mainan kau bilang? Menggodaku dan menciumku sesuka hatimu? Dan kau hanya menjadikanku mainanmu?!" Racaunya lagi, seraya menendang krikil di hadapannya lalu berjalan menghentak kesal.

Kyuhyun mengerjap mendengarnya, tapi samar-samar Ia tampak mengulas senyum tipis. Ya, kyuhyun akui… hatinya beberapa saat lalu memang berdesir tak menentu bahkan terlalu kalut. Tapi mendengar sungmin meracau demikian, membuat sesuatu dalam dadanya tiba-tiba saja berdetak tak karuan. Tidakkah ucapan Sungmin, semacam kalimat pengharapan yang meleset?

"Mainan apa yang kau maksud Hah!" Sungmin berhenti sesaat dan menjerit keras kala menatap langit mendung di atasnya.

Kyuhyun kembali menyimpul senyum melihat namja mungil itu meracau seorang diri. Ah! tak taukah Sungmin…..jika Dia mainan miliknya yang paling berharga, bahkan rasa-rasanya telah mencuri sesuatu dalam dirinya. Mainan yang siapapun tak berhak merebutnya. Sungmin hanya miliknya seorang! Tidakkah selama ini Ia selalu ingin menggoda dan melindungi namja mungil itu dalam waktu yang bersamaan? Semua memang mengacu pada kata 'suka'. Tapi ungkapan itu hanya teredam dalam batinnya,

Dan, hingga saat ini Kyuhyun masih meyakini…semua perasaan itu, sepontan muncul karna Sungmin terlalu menarik untuk mengalihkan suasana hatinya.

Ctik…..Ctik

Tiba-tiba saja ia tersentak begitu rintik hujan mengenai wajahnya, seketika itu pula Kyuhyun menatap ke arah Sungmin yang begitu panik menutupi kepala dengan tas ranselnya.

"Aisshh! Ige mwoya!" Seru Sungmin setengah berlari. Ah sial! Tempatnya berpijak saat ini benar-benar sepi. Tak ada satupun yang melintas…lebih lebih kendaraan semacam taxi. Setiap penjurunya hanya berjejar gang-gang sempit tak berpenghuni. Apapun itu, Ia masih seorang yang baru di kota ini, dan jika harus jujur….Sungmin benar-benar menyesal. Melarikan diri dari sekolah dan berakhir dengan berjalan seorang diri seperti ini.

Dengan panik, namja mungil itu meraih ponsel dari dalam ranselnya…..tak peduli hujan makin kebas membuatnya basah kuyup. Bagaimanapun ia harus menghubungi ayahnya saat ini juga.

"APPA! Aku—

'PEEEP'

Kedua matanya sontak membulat lebar,begitu tiba-tiba saja ponselnya mati tanpa sebab. Berulang kali Sungmin, menekan-nekan gadget tersebut…tapi usahanya berbuah nihil. Layar itu tetap hitam legam tanpa kedip sedikitpun. Tampaknya….air hujan sedikit banyak telah membuat perangkat di dalamnya remuk dalam waktu singkat.

'PRAK'

Sungmin membanting kasar ponselnya dengan kesal, membuat setiap potongan dan serpihannya terpental hingga kebadan jalan. Tapi setelahnya Ia berjongkok dan menyembunyikan kepala di balik lipatan lutut dan lengannya. Membiarkan bulir hujan itu menghujam tubuh mungilnya. sekali lagi, Ia pendatang baru di tempat ini…tak tau arah dan jalan menuju rumahnya. Jikapun tetap bersi keras ingin pulang, sudah pasti akan berbuah kata 'tersesat'. Tak ada yang bisa Sungmin lakukan, selain meringkuk dan terisak lirih. Biarlah setiap orang yang melihatnya memandangnya cengeng. Siapapun akan merasakan hal yang sama. Tapi sejujurnya bukan karna alasan tak tau arah yang membuatnya lembek seperti ini, melainkan karna kata perumpamaan dirinya beberapa waktu lalu.

Mainan? Sebodoh itukah? Diperalat dan dimainkan sesuka hati oleh tuannya. Lalu di buang jika sudah benar-benar membosankan.

"Breng-sek" Lirihnya samar dari dekapan kedua lengannya.

Sementara itu, jauh di tempat yang sama….Kyuhyun tampak memasuki sebuah kedai, dan terlihat sedikit bercengkerama dengan seseorang.

Tak lama kemudian namja tinggi itu keluar, lengkap dengan sebuah payung dalam genggamannya. Sesekali senyuman tipis terulas di bibir merahnya, kala melangkah mendekati sosok yang masih meringkuk bulat itu.

"Eom—mmaa…" Sungmin kembali berbisik lirih, sadar...di saat-saat seperti ini, Hanya leeteuk yang dibutuhkannya. Sesaat kemudian Ia mengangkat wajah untuk memandang ke kanan dan kirinya, masih saja….jalanan begitu sepi. Hanya kecipak hujan yang terdengar menyeruak bising. Membuatnya kembali menunduk dalam-dalam, membiarkan bulir hujan mengalir dan jatuh dari ujung hidung mancungnya. Namja mungil itu tak menyadari seseorang sedari tadi mengikutinya... kini nyaris berpijak tepat di belakangnya.

"Kau membutuhkanku?"

Sungmin terkesiap begitu tau hujan tak lagi mengguyur tubuhnya dan lebih membulatkan mata lebar kala menyadari suara itu milik Kyuhyun.

Secepat mungkin Sungmin memalingan wajah ke belakang dan menatap sengit pemuda tampan itu. bagaimana mungkin namja menyebalkan itu bisa di tempat ini. Dan mendapatkan payung itu?

"Sama sekali tidak!" Sentaknya seraya bangkit berdiri, lalu bersiap menghentak kaki ingin pergi. Namun belum sempat Ia mengambil langkah, Kyuhyun lebih cepat menggenggam tangannya.

"Jangan memaksakan diri" Ujar Kyuhyun seraya memandang lekat-lekat pipi Sungmin, berharap namja mungil itu bersedia memalingkan wajah untuk sekedar balas menatapnya.

"Hujan akan membuatmu jatuh sakit, biar ku antar pulang" lanjut Kyuhyun lagi, membuat Sungmin menoleh cepat dan menatapnya tajam.

"Ini tubuhku sendiri, sakit ataupun tidak…..itu bukan urusanmu!" desis Sungmin sembari menghempas tangan Kyuhyun, namun gagal begitu namja tampan itu semakin menggenggamnya erat.

"Lepaskan tanganmu brengsek! Aku ingin pulang sendiri!" Jerit Sungmin jengkel.

"Tsk…berhenti bersikap keras kepala Min, bukankah kau tak tau arah di jalan ini"

Sungmin mengepalkan tangan erat, meski memendam kesal…namun bibir cherry yang terus menerus menggigil kedinginan itu, semakin membuatnya terlihat rapuh.

"Apa kau tengah menganggapku sebagai mainan yang mengemis belas kasihan darimu?! Aku tak akan menerima bantuan sedikitpun darimu! Sama sekali TIDAK!" Seru Sungmin penuh dengan penekanan.

Kyuhyun berdecak pelan mendengarnya, lagi…..Ia kembali menemukan tabiat menyebalkan namja cantik itu. begitu keras kepala…dan kerap menyalah artikan segala sesuatu yang disimpulkannya sendiri.

"Tck! Baiklah…terserah, pulanglah sendiri jika itu maumu!" Decak Kyuhyun seraya memutar tubuh, dan mengambil langkah meninggalkan Sungmin. Membuat namja mungil itu tampak mencelos karenanya.

"Ah! aku hampir lupa mengingatkanmu. Ini hampir senja bukan? Tepat.. setelah gang itu….banyak pria hidung belang berkeliaran. Terlebih …di saat hujan seperti ini, mereka akan mencari mangsa untuk menghangatkan tubuhnya." Ucap Kyuhyun sembari menyungging sebelah senyumnya.

"Tak terkecuali dirimu….jika melintasi tempat itu seorang diri" Lanjut Kyuhyun lagi, semakin menyeringai tajam, Yakin….Sungmin akan menciut mendengarnya.

Sungmin menggigiti kuku gemetar, tak ada siapapun di sisinya saat ini selain Cho sialan itu, terlebih ponselnyapun telah remuk berceceran entah kemana. nyatakah yang dikatakan Kyuhyun? jika memang benar adanya….sungguh Ia sama sekali tak mengiginkan salah satu pria hidung belang itu menangkapnya, menyeretnya ke gang sempit lalu melakukan hal yang tidak-tidak pada tubuhnya.

Tapi menerima bantuan dari Kyuhyun?

Tentu saja 'TIDAK'!

Ia tau, namja macam apa Kyuhyun sebenarnya. Menerima bantuan darinya ibarat menyerahkan dirinya sendiri sebagai tumbal.

Terlebih, Iapun masih memendam geram pada namja licik itu. Pantang baginya menengadah tangan bahkan memohon pada Kyuhyun.

Sesaat Sungmin menatap jauh ke depan, perasaan takut itu merambat cepat membuatnya gemetar. Di sana terlalu gelap, dan jika ucapan Kyuhyun memang benar adanya... apa yang harus dilakukannya untuk melawan semua pria menakutkan itu.

Namja mungil itu beralih menoleh Kyuhyun, dan rasa kesalnya membumbung berkali-kali lipat lebih besar. Melihat Kyuhyun menyeringai remeh.

Apa maksudnya itu?

'Jangan kau pikir kau bisa merasa menang Cho! Aku sama sekali tak akan memohon padamu!' batin Sungmin seraya memutar tubuh membelakangi Kyuhyun, lalu berjalan menghentak kaki meninggalkan namja itu.

Kyuhyun berdecih melihat sikap dingin itu. Ia tau, Sungmin sebenarnya memang tengah merasa takut. Tapi sikap keras kepala dan harga dirinya yang selangit itu, membuatnya berlaga berani. Meski terlihat dipaksakan.

Ia menarik nafas sesaat, sebelum akhirnya turut melangkahkan kaki mengikuti Sungmin. Bahkan setengah berlari untuk menghampiri tubuh mungilnya.

"Jangan mengikutiku! Apa kau pikir aku penakut? Ani! Aku 1000 kali lebih pemberani dibandingkan dirimu!" Gusar Sungmin sembari melirik sengit namja di sisinya. Berulang kali pula Ia mendorong lengan Kyuhyun. Tak menginginkan namja itu dekat-dekat dengan dirinya.

Namun semakin Ia menyentak, Semakin nekat Kyuhyun mendekatinya, bahkan namja itu kini merangkul lengannya...hingga membuatnya tak lagi berkutik.

"Lepaskan tangan—

"Tsk! Dengar...aku seperti ini. Bukan berarti aku peduli padamu. Aku hanya tak ingin Ayahmu menyalahkanku karna kau sakit"

'NYUT'

Sungmin menunduk, hatinya tiba-tiba saja kembali berdenyut sakit mendengar Kyuhyun bicara demikian. Apa yang terjadi? Seharusnya Ia tak perlu merasa seperti ini.

Tapi mengapa, semakin di tahan...semakin membuatnya merasa sesak saja. Sungmin tau, seharusnya Ia perlu peduli dengan setiap ocehan Kyuhyun. Tapi mendengar namja itu bicara demikian, membuat sebagian dari dirinya tak rela.

Sejujurnya Sungmin benar-benar mengharapkan Kyuhyun memang mempedulikannya dan ingin menjaganya. Bukan semata karna nama baiknya seperti itu. Oh sungguh! Semunafik itukah?

'BUAGH'

"Ughh~"

"J-jika memang tak ingin disalahkan! Menjauh dariku!" Sungmin tiba-tiba saja berontak dengan memukul perut Kyuhyun. Lalu setelahnya berlari...membiarkan tubuhnya basah kuyup lagi.

Kyuhyun sedikitmengernyit menerima pukulan itu, dan berdecak karna bisa selengah itu membiarkan Sungmin melarikan diri.

Sial! Jika seperti ini...anak itu akan benar-benar jatuh sakit.

"Siapa yang memintamu mengikutiku! Berhenti mengusikku! Dan jangan pernah datang ke rumahku lagi!" Gerutu Sungmin, masih terus berjalan dengan nafas memburu. Sama sekali tak ingin mendengar apapun, meski namja itu berulang kali memanggil dirinya

"Tunggu Min!"

"Masa bodoh! Jika kau ingin mengancamku dengan menyebar foto itu! sebarkan saja sesukamu hingga kau PUAS!"

Sungmin terlalu kalap menghentak kaki, rasa-rasanya emosi semakin meledak memenuhi dada dan benaknya. Hingga...tak menyadari, tak jauh di depannya...terdapat lubang bekas perbaikan jalan. Dan...

'BRUGH'

"AHH!"

"M-min!"

Kyuhyun membelalak panik, melihat Sungmin tiba-tiba saja jatuh seperti itu...dan berlari kalut menghampiri namja yang merintih hampir menangis di depannya.

"Gwaenchana?" Ucapnya sembari menyusupkan tangannya di kedua lipatan lengan Sungmin lalu mengangkatnya secara perlahan.

"A-appo...ngh" rintih Sungmin seraya memegangi kakinya.

Kyuhyun berdecak melihatnya, dan menghela nafas miris melihat kondisi Sungmin saat ini. sudah basah kuyup dan kini...jatuh terperosok seperti itu.

"Jika kau tak keras kepala. Tak kan seperti ini jadinya" Ujar Kyuhyun seraya melepas sepatu kanan Sungmin, dan menatap redup luka lebam di pergelangan kaki namja mungil itu.

"Ceroboh sekali! Jika seperti ini siapa yang repot hah?!"

Sungmin membulatkan mata jengkel. "S—singkirkan tanganmu!" Sungmin menarik kaki kanannya. Membuat pegangan tangan Kyuhyun terlepas.

"Siapa yang butuh bantuanmu! Dan aku tak sudi merepotkan manusia sepertimu!" serunya lagi sembari merangkak tertatih-tatih menjauhi Kyuhyun. Sungmin benar-benar habis kesabaran menghadapi Kyuhyun, bisa-bisanya Ia berkata demikian...tak taukah namja itu, ia jatuh seperti ini karna dirinya!

"Aissh! Kepala batu!" Gusar Kyuhyun, seraya bangkit dan mengejar namja yang masih merangkak-rangkak seperti bayi itu. Lalu menarik tangannya dan memakasa menggendong tubuh mungil itu di atas punggungnya.

"T-turunkan aku!...Aku tak butuh bantuanmu! TURUNKAN AKU!" jerit Sungmin sambil menarik-narik surai coklat Kyuhyun. Tak ayal, namja tampan itupun turut berseru jengkel karenanya.

"Diamlah! Kau pikir tubuhmu ringan huh?" Kyuhyun sedikit menoleh ke samping.

"Pegang ini!" Lanjutnya lagi, seraya menyerahkan payungnya pada Sungmin, tanpa tau perubahan raut kusut namja mungil itu.

Sungmin seketika terdiam. Ia benar-benar sensitif seseorang menyinggung berat badannya. Dan lebih memilih menenggelamkan wajahnya di pundak Kyuhyun.

.

.

.

"Bisakah kau memegangnya dengan benar?!" Seru Kyuhyun tiba-tiba, begitu payung itu sedikit condong ke bawah dan menghalangi penglihatannya. Tapi sebenarnya, Ia hanya ingin membangunkan Sungmin yang tanpa sengaja jatuh tertidur itu .

Cepat-cepat Sungmin mengucek matanya. "AKU TAU! DAN AKU TIDAK TIDUR!" Balasnya keras, tak ingin membuat Kyuhyun tau dirinya sempat tertidur di atas gendongan namja itu.

Kyuhyun terkekeh mendengarnya. "Memangnya aku bertanya kau tidur? Menggelikan"

"..."

Sungmin menunduk seraya menggeleng pelan. Ah! Ia benar-benar memalukan jika seperti ini.

"Tentang, apa yang kukatakan di sekolah...Kau—

"Cukup! Aku tak akan mendengarnya" Sergah Sungmin cepat.

"Yya! Dengarkan jika seseorang bicara denganmu!"

"AKU TAK AKAN MENDENGARNYA!" Sungmin tiba-tiba berteriak tepat di telinga Kyuhyun, membuat namja tampan itu berjalan oleng karna ulahnya.

"Apa Kau ingin membuatku tuli?!

"BENAR! TULI SAJA KAU CHO!" Sungmin kembali mengulangi perbuatannya, berteriak sekeras mungkin di telinga kiri Kyuhyun. Ia tak kan peduli...kelak Kyuhyun akan membantingnya detik itu juga.

"Aisshh! Namja gila!" Gerutu Kyuhyun, sembari melangkahkahkan kaki gusar.

'Aku tak akan melepasmu Lee sungmin'

.

.

.


Esoknya...

Langkah kecilnya terayun pelan, merasa lesu untuk menjalani detik di hari ini. Terlebih riuh lalu lalang siswa di sekelilingnya semakin membuat wajah manisnya tertekuk kusut. Entahlah...suasana hatinya benar-benar memburuk di pagi ini.

"Hei...Mungil"

Namu tiba-tiba saja namja manis itu berjengit terkejut,begitu seseorang menepuk bahunya dari belakang. Ia menoleh dan seketika itu pula jantungnya berdentum lebih cepat.

"Y-yesungie" Gumamnya dengan mata tak berkedip.

"Ne?" Yesung sedikit menunduk, mencoba mendengar lebih jelas gumaman namja manis itu.

"Y-yesung Sunbae m-maksudku" Koreksi Ryeowook seraya menundukkan kepala tersipu.

Yesung terkekeh pelan mendengarnya, dan beralih mengacak surai hitam Ryeowook. Tak ayal...namja manis itupun semakin salah tingkah dibuatnya.

"Kau hanya sendiri?"

Ryeowook menahan nafas mendengarnya. Sungguh! Ia benar-benar tak berharap Yesung bertanya tentang keberadaan Sungmin setelah ini.

"Y—ya, aku hanya sendiri" Jawabnya lirih.

"Lalu kemana perginya—

"Ah! Sunbaenim...apa sore ini kau yang membimbing kelas musik lagi?"

Yesung mengerjap, sebenarnya Ia Iangin bertanya mengenai Sungmin. Tapi ya sudahlah, anak itu bisa dicarinya nanti.

"Ya...kemungkinan memang aku, karna Kwon seonsaengnim masih mengambil cuti. Wae?"

"S-syukurlah...jika denganmu, a-aku lebih mengerti"

"Benarkah?"

"Y-ya! Kau sangat berbakat...dan kau sangat hebat saat mengajari kami partitur partitur itu. Bahkan saat kau menyanyi—Ah! Sungguh tak ada satupun yang memiliki suara seindah milik Yesung sunbae." Ujar Ryeowok menggebu-gebu. Kedua manik caramel itu semakin berbinar, kala melihat tangan kanan Kwon Seonsaengnim itu mengulas senyum untuknya.

Yesung kembali mengacak surai lembut namja manis itu, namun begitu menatap ke dalam mata Ryeowook...senyuman itu perlahan pudar. Dan Yesung benar-benar tertegun atas apa yang dilihatnya saat ini.

"Wookkie~ah...apa sebelumnya kita pernah bertemu? Maksudku sebelum kita masuk di sekolah yang sama" Gumam Yesung, tanpa melepas tatapannya pada sepasang manik caramel itu.

DEG

Ryeowook terperanjat, sorot matanya pun berubah pias. Mungkinkah ini saatnya, menemukan Yesung-nya yang dulu?

Ya Tuhan, Ia benar-benar tak bisa menahan diri lagi, dan begitu berharap besar...Yesung menyadari dirinya saat ini.

'Apa kau mengingatku?' Ucap Ryeowook dalam hati.

"S-sunbae...sebenarnya aku adalah Na—

"Yya! Sedang apa kau di sana?...Aissh, apa kau tak melihat jam? Tua bangka itu sedang berjalan ke kelas kita. Ppalli-ppali!"

Tiba-tiba saja, Donghae menyambar lengan Yesung dan menyeretnya untuk segera menuju kelasnya.

"Wookie~ah...mianhae, kita bertemu lagi saat kelas musik...arrasseo?" Seru Yesung sembari melambaikan tangannya. Sesekali pula namja tampan itu terlihat menaikkan kaca mata minusnya, karna Donghae terlalu tergesa menariknya.

"Hhhh" Ryeowook mulai menghela nafas berat, nyaris ia mengatakan jati dirinya. Tapi selalu saja gagal...mengapa waktu tak pernah sedikitpun memihaknya?

.

.

"O—Oiii! Awass!"

BRUGH

"Uhuk...ugh" Ryeowook terbatuk akibat benturan itu, tapi cukup beruntung...Ia tak terjatuh menghantam tanah melainkan menimpa namja yang beberapa saat lalu menabraknya.

"Mianhae...aku sangat terburu-buru. K-karna kelas Hongman Seonsaengnim akan segera di mulai"

Ryeowook sama sekali tak menyahut, dan terus mencoba menarik dan menghembuskan nafasnya dengan benar. Selalu sesak seperti ini saat sesuatu mengejutkanya. Ya! Tubuhnya terlalu ringkih.

Zhoumi mengerjap panik melihat namja mungil di atasnya, begitu kepayahan untuk bernafas. "G-waenchana? Apa perlu aku memanggil—

"T-tak perlu, beri hhh...aku waktu sedikit.. saja" Engah Ryeowook, masih dengan kepala bersandar di dada Zhoumi.

Zhoumi mengangguk mengerti, dan tetap berbaring di tanah. Membiarkan namja kurus itu memulihkan nafas di atas tubuhnya.

"Ini sudah lebih baik" Gumam Ryeowook setelahnya, Ia beralih mengangkat kepala...namun tertahan, begitu sesuatu darinya serasa tersangkut di seragam Zhoumi.

"W-wae? Apa ada sesuatu yang salah?" Zhoumi mengernyit heran, melihat Ryeowook seperti kebingungan untuk bangkit.

"A-ah...nde, sesuatu seperti tersangkut. Apa kau mengenakan accesories?"

Zhoumi mengerjapkan mata. Seingatnya, tak ada pernak-pernik apapun yang melekat di tubuhnya. "Memakai atau tidak ya, tapi apa yang ku pakai? Seingatku—

"YACK! APA YANG KAU LAKUKAN PADA TEMANKU!" Secara mengejutkan Henry, melengking geram. Dari apa yang ditangkapnya, Ia menyimpulkan jika Zhoumi tengah melakukan hal tak terpuji pada Hoobaenya.

Dengan gusar, Henry memegang lengan Ryeowook...tanpa peduli namja manis itu masih kebingungan melepas sesuatu yang masih tersangkut.

"Seharusnya kau berteriak, saat manusia Tiang ini mengganggumu!" Omel Henry, usai menarik Ryeowook dari tubuh Zhoumi secara paksa. Hingga membuat benda yang tersangkut di jas sekolah Zhoumi, lepas begitu saja dari leher Ryeowook. Tapi tak satupun dari mereka yang menyadarinya

'Cring'

.

.

"Yya! Jaga ucapanmu bocah tengik!" Zhoumi mulai tersulut mendengar tuduhan itu,dengan geram Ia bangkit berdiri dan menatap Henry dengan tajam. Rasanya tak pernah habis saja, Hoobae bernama Henry itu mencari-cari masalah dengannya.

"Sudahlah Henry, Zhoumi sunbae tidak sengaja menabrakku" Sela Ryeowook, berusaha meredam emosi Henry.

"Kau dengar apa yang diucapkannya? Aku bukan kriminal seperti yang kau tuduhkan!" Desis Zhoumi sembari menunjuk-nunjuk hidung Henry, tapi semakin Ia menyentuh, semakin lekat pula ia menatap wajah Henry.

"Apa yang kau lihat?!" Seru Henry tiba-tiba, begitu melihat tatapan aneh namja tinggi itu.

"O..A, i-itu...mm a-aku, suka saja melihat wajahmu"

Hening

Tak satupun dari ketiganya yang bersuara, hingga tiba-tiba saja...

'Blush'

Baik Zhoumi maupun Henry, saling menatap tersipu. Terlebih untuk Zhoumi, Ia benar-benar terperangah dengan apa yang diucapkannya sendiri. Sungguh! Kata-kata Itu keluar dengan sendirinya.

"A-ah! M-maksudku...aku..aku hanya—

Zhoumi stagnan sesaat, begitu melihat pipi halus itu semakin merona dalam waktu singkat.

Ah! Apa Henry tengah menggodanya? Itu benar-benar sangat imut di matanya. Hingga tanpa diduganya—

'Chupp'

Bibirnya bergerak dengan sendirinya, mengecup pipi chubby Henry...membuat namja mungil itu jatuh terduduk karena shock.

"A-AAHH! Aku menciummu? Itu..itu, pipimu sperti marshmallow...jadi a-aku! Aishh apa yang kukatakan?! Aarrrgghh! Kau jangan melihatku! JANGAN!" Zhoumi berteriak-teriak rusuh seraya menutupi wajahnya, tapi setelahnya Ia berlari kalang kabut...tak peduli, tatapan aneh di sekelilingnya.

Apa yang baru saja terjadi?

Ryeowook hanya mengerjap tak mengerti melihat namja tinggi itu meracau dan bertingkah sekacau itu. Terlebih melihat Henry yang masih terduduk di rumput, dengan memegangi pipinya sendiri...semakin membuatnya menggeleng heran.

Tapi dari kedua wajah namja itu, ia bisa menyimpulkan...suatu perasaan khusus tengah terajut di sini.

"Kajja" Ucap Ryeowook setengah terkekeh, ia membantu namja chubby itu untuk berdiri, lalu menariknya perlahan.

Henry hanya diam, mengusap-usap pipi kanannya dengan tatapan kosong. Apapun itu...jantungnya tengah berdetak tak normal saat ini.

"Henry..gwaenchana?" Kekeh Wookie

"Dia menciumku? Pipiku bernoda. Di sini sangat panas" Gumam Henry, sama sekali tak mendengar ucapan Ryeowok. Dan terus menerus bermonolog sendiri.

Ryeowook makin terkekeh geli melihatnya, yakin Henry yang banyak bicara ini mulai memendam perasaan untuk sosok yang dipanggilnya 'manusia tiang' itu.

"Henry...Kau menyukai manusia tiangmu!" Seru Wookie lebih keras, dan sukses membuat Henry tersentak dari lamunannya.

"Mworagoo? Siapa yang menyukai siapa?!"

"Kau yang menyukai Zhoumi sunbaenim" tukas Ryeowook sembari menusuk-nusuk lengan Henry.

"M-mwo? HYAHAHAHA...Zhoumi? tiang itu? Aha—

"Wajahmu memerah" sergah Wookie cepat.

Henry mendadak diam. Dan hanya menunduk tersipu. "Diam kau" cicitnya seraya mendorong lengan Ryeowook.

Keduanya terus melangkah menuju kelas, sesekali terdengar kikikkan Ryeowook dan pekikkan khas Henry karna jengkel sekaligus tersipu. Tapi keduanya masih tak menyadari...seuntai kalung , masih terjatuh di rerumputan itu.

.

.

.


"Biar Eomma mengantarmu sampai di kelas Chaggi" Ujar Leeteuk seraya mengelus kepala Sungmin penuh hati-hati, seolah namja mungil itu adalah satu-satunya mutiara yang rapuh milikknya.

Sungmin semakin menggelayut manja diperlakukan demikian, oh sungguh! Ia benar-benar menyukai kelembutan itu, dan tak ada satupun yang bisa menandingi ibunya. Siapapun itu...

"Aniya...tak bisa seperti itu. Tak ada waktu lagi Teukkie...rapat akan segera dimulai. biarkan Sungmin berjalan sendiri" tapi tiba-tiba saja, Kangin menyela kehangatan keduanya, membuat Ibu dan anak itu saling memputkan bibir kesal.

"Appaaa!" Seru Sungmin tak terima.

"Maafkan Eoomma Chaggi" sesal Leeteuk, sambil mengecupi kedua pipi Sungmin.

"Jika Eomma tak mengantarku, aku tidak mau sekolah! Pulang saja!" Sungut Sungmin, seraya menyilangkan kedua lengan di dadanya. Tapi alasan sebanarnya adalah karna Kyuhyun. Ia benar-benar tak ingin melihat wajah menyebalkan itu lagi.

"Yya! Mana bisa begitu? Ppali-ppali...turun dari mobil Minnie, apa kau tak melihat jam? Ini hampir setengah 8 Nak"

"Appa! Kakiku masih sakit!"

"Itu hanya sedikit memar...kau masih bisa berjalan—

"SAKIT APPA!"

..

Tiba-tiba saja seseorang mengetuk jendela mobil, sontak saja sepasang suami istri Lee itu tersenyum sumringah. Itu Kyuhyun!

Oh sungguh! Anak itu benar-benar dewa penyelamat di saat genting seperti ini. Pikir pasangan Lee itu.

"Ahh...kau datang di saat yang tepat Kyunnie" Ujar Leeteuk seraya menurunkan jendela mobil, lalu mengusap pipi Kyuhyun perlahan.

Kyuhyun mengulas senyuman semenawan mungkin. "Ada yang bisa ku bantu?" Tawar Kyuhyun. Tapi sesaat kemudian Ia tertawa ringan, begitu kedua matanya menangkap siluet Sungmin yang masih bersungut kesal dengan mata terpejam.

"Minnie...ingin masuk ke kelas bersama?" Kyuhyun bertanya begitu ramah, sontak saja namja mungil itu membulatkan mata tak percaya mendengarnya. Apa-apaan Kyuhyun! Pagi-pagi sudah bersandiwara seperti itu. 'Minnie' dia bilang?

"JANGAN MEMANGGILKU SEPERTI ITU!" Teriak Sungmin tanpa bisa dicegah.

Membuat Kangin memijit pelipisnya pening. Sungguh! Ia benar-benar tak habis pikir dengan sikap Putra kecilnya. Apa Sungmin dengan temannya yang lain, juga seliar ini?

"Chaggiya...mengapa sikapmu sperti ini eum? Kyuhyun sangat baik terhadapmu, lihat...Kyuhyun jadi terlambat hanya demi menunggumu" Tenang Leeteuk seraya mengelus punggung Sungmin.

"Eomma—

"Jangan membuat Appa telat di hari ini Sungmin! Cepat turun!" Bentak Kangin kemudian.

"E—eomma, antarkan aku neee?" Sungmin mulai merajuk seraya mengguncang lengan Ibunya.

"Bukan Eomma tapi Kyuhyun" koreksi kangin

"Tapi Appaaa—

"Atau kau ingin Appa memotong uang sakumu selama seminggu?"Tegas kangin telak, meski sesungguhnya Ia benar-benar tak sampai hati mengatakan hal itu pada Putra tunggalnya. Tapi bagaimana lagi, jika tidak seperti itu...Sungmin akan tetap menempel pada Ibunya.

Sungmin menatap pias, seraya meremas-remas jemarinya sendiri. Namja mungil itu memang kesal setengah mati. Tapi Ia bisa apa jika Ayahnya sudah sekeras itu.

"Cha...sekarang turun dari mobil, banyak hal yang harus kau pelajari hari ini bukan?" nada bicaranya tak lagi meninggi, Ia menatap Putra kecilnya penuh perhatian dari pantulan cermin mobilnya.

"Kyu...bisakah kau membantu Sungmin keluar dari mobil?" Lanjut Kangin lagi.

"Tentu...dengan senang hati" Ucap Kyuhyun sembari membuka pintu mobil..lalu menawarkan tangannya begitu Sungmin beringsut-ingsut hendak keluar dari mobil.

"Aku bisa melakukannya sendiri!" ketus Sungmin sambil menepis tangan Kyuhyun.

Kyuhyun menyeringai tipis, ia sedikit menunduk dan berbisik tepat di telinga Sungmin. "Aku rasa, akan lebih baik jika aku menggendong Bayi kecil sepertimu"

"Y-YACK!" Teriak Sungmin penuh emosi. Ia tau namja itu tengah merendahkannya.

Dengan gusar ia merangkak ke depan menghindari Kyuhyun, dan merangsak apapun yang dilaluinya, meski itu Ayahnya sendiri

"Yya! Yya! Yya! Lee Sungmin!" Gusar Kangin begitu namja mungil itu memaksa merangkak di pangkuannya, lalu lompat dari pintu mobil tanpa merasa bersalah sedikitpun.

"Anak itu...aishh, apa aku salah memberinya makan?" Lanjut Kangin lagi.

"Tak perlu mencemaskannya Ahjusshi...aku akan mengantarnya saat pulang nanti"

Kangin menangguk paham menanggapinya, selama ini...Kyuhyun tak pernah mengecewakannya. Dan selalu dapat dipercayanya untuk menjaga Sungmin, ah! Mungkin lebih tepatnya menaklukkan bocah itu.

"Aku benar-benar berterima kasih padamu Kyu. Baiklah, lekas masuklah ke dalam"

"Ah..Ye, semoga hari kalian menyenangkan" Tukas Kyuhyun seraya membungkuk, lalu berlari menuju gerbang sekolahnya.

"Semoga harimu juga menyenangkan Kyunnie !" Seru Leeteuk seraya melambaikan tangan untuk siluet yang makin menjauh itu.

"Tidakkah mereka sangat manis Kanginnie?" Gumam Leeteuk setelahnya.

"Hhh...kau selalu mengulang-ulang kalimat yang sama Yeobbo"

"Tck! Memang...aku benar!" kekeuh Leeteuk.

.

.

.


Kyuhyun menyimpul senyum tipis, kala melihat namja mungil itu begitu kesal menghentak kakinya. Meski nyatanya kerap kali Ia meringis, karna luka memar di kaki kanannya.

Tanpa suara, Kyuhyun mempercepat langkahnya...hingga benar-benar berjalan di sisi Sungmin.

"Kau masih hidup?" ucapnya setengah terkekeh.

Sungmin melirik sengit, untuk apa namja itu mengikuti dirinya seperti ini. Tak bisakah Kyuhyun membiarkannya tenang, walau hanya 1 menit saja?

"Jangan mengikutiku!" Jerit Sungmin sembari menghentikan langkahnya.

"Tsk...kau terlalu percaya diri Lee Sungmin" Balas Kyuhyun tenang, lalu melenggang sesantai mungkin.

Sungmin mengepalkan tangan kuat dengan kepala tertunduk, harus dengan cara apa mengusir Kyuhyun jauh-jauh dari hidupnya? Ia benar-benar tak tahan setiap haru beradu mulut atau bahkan dilecehken oleh namja itu.

'Chupp'

Namun tiba-tiba saja Sungmin membulatkan mata begitu Kyuhyun menangkup kedua pipinya lalu mencuri kecupan dari bibirnya tanpa peringatan.

"Satu ciuman...setiap harinya, right?" bisik Kyuhyun setelahnya.

Sontak saja, namja mungil itu menutup bibirnya dengan kesepuluh jarinya. Dan menatap Kyuhyun jengkel.

"Apa kau gila?!" Kesal Sungmin, meski demikian wajahnya semakin merona. Dan membuat Kyuhyun terkekeh melihatnya. Ah! Hanya perasaannya saja atau memang matanya yang sakit. Sungmin sepertinya terlihat semakin manis saja.

"Itu hanya pembuka...bagian inti akan ku ambil nanti. Bersiaplah" Kyuhyun menatap Sungmin sekilas, sebelum akhirnya kembali melanjutkan langkahnya dengan senyum terkembang.

Sungmin menghentak kaki, seharusnya ia berteriak marah karna sikap seenak jidat itu, tapi entahlah sesuatu di dalam dadanya terus menerus berdebar tak jelas, hingga membuatnya meremas dadanya sendiri kemudian berjongkok. Apa yang kini terjadi pada dirinya?

Perasaan absurd itu semakin menguat di setiap harinya, dan itu hanya terjadi saat bersama Kyuhyun.

Mungkinkah...

"Mwo? ANDWAE!" Seru Sungmin tiba-tiba seraya mencabuti rumput di bawahnya, tak peduli setiap mata tertuju padanya, termasuk namja tampan yang kini berjalan cukup jauh darinya.

"Yya! Apa yang kau lakukan di sana? Cepat masuk pabbo!"

Sayup-sayup terdengar Kyuhyun berteriak, ah sungguh...namja tampan itu baru menyadari. Sungmin masih di tengah lapang dan bertingkah seaneh itu. Apa anak itu berniat mencabuti seluruh rumput di lapangan?

'Idiot' Gumam Kyuhyun dalam hati.

.

.

Sungmin sama sekali tak ingin mendengar apapun dan mengabaikan Kyuhyun di ujung koridor itu,ia tetap mencabuti rumput gusar...mencoba melapmiaskan semua perasaan yang menurutnya bodoh itu. Hingga tiba-tiba saja, kedua manik foxynya melihat sesuatu yang berkilau tak jauh dari tempatnya.

"Apa itu?" Gumamnya sembari merangkak mendekati benda misterius itu.

"Kalung? Apa seseorang menjatuhkannya di sini?" Sungmin kembali bergumam begitu meraih benda berkilau itu. Matanya mengerjap polos...kala mengamati liontinnya.

"Indah sekali" monolognya lagi.

"Yya! Kau tak mendengarku?!"

"Aaah!" Sungmin memekik terkejut saat tubuhnya tiba-tiba saja terangkat dari atas tanah, dan begitu melirik ke atas...Ia mendelik kesal, sadar...Kyuhyun tengah mengangkat tas ranselnya.

"Lepaskan ranselku!" Sungmin mulai berontak.

Tapi percuma, mustahil Kyuhyun mendengarnya. Sungmin hanya berdengus seraya menyilangkan tangannya di dada. Membiarkan tubuhnya tetap terseret...ke belakang, mengikuti langkah namja yang masih mencengkram ujung ranselnya.

"Apa yang kau lakukan di sana?" Tanya Kyuhyun kemudian.

"Bukan urusanmu!" Ketus Sungmin. Ia mengerjap sesaat sebelum akhirnya melesakkan kalung itu ke dalam sakunya. Takut kalau-kalau benda itu terjatuh atau bahkan Kyuhyun mengetahuinya lalu merampasnya.

"Tck!"

.

.

.

.


Beberapa Jam kemudian.

Jam istirahat berdentang memenuhi setiap sudut sekolah elite itu, tak ayal ratusan bahkan ribuan siswa, mulai berhamburan riuh keluar.

Sungmin menatap sekitar, dan menatap nafas lega...Kyuhyun tak berada di ruang kelas.

Ia menoleh ke kanan,lalu tersenyum manis begitu melihat Ryeowook di sana.

"Wookie~ah" Panggilnya riang. Sembari berjalan mendekati namja manis itu. Tapi Ryeowook hanya meliriknya sesaat, lalu kembali membaca novelnya.

"Kau tak ingin keluar? Bagaimana jika kita—

"Malas" sergah Wookie cepat, membuat Sungmin membulatkan mata terkejut. Apa Ia tak salah dengar? Tidakkah Ryeowook baru saja berbicara dingin padanya.

"Ahh...aku rasa memang lebih nyaman di ruang kelas" ujar Sungmin lebih untuk menghibur dirinya sendiri, lalu beralih menduduki kursi tepat di depan Ryeowook.

Tapi tanpa Sungmin duga, suasana di antara keduanya semakin canggung dan terkesan dingin. Ryeowook sama sekali tak bersuara, jangankan mengajaknya bicara menatapnya pun tidak. Sungmin sempat menerka-nerka apa yang tengah terjadi di sini...ini tak seperti biasanya. Ia tak pernah melihat Reyeowook sedingin ini terhadapnya. Apa dirinya telah melakukan kesalahan, yang tak disengaja?

"W-wookie...apa—

"Ikut aku" Tiba-tiba Kyuhyun datang dan memaksa menarik tangannya.

"S-shirreo! Aku sedang bersama Wookie...jangan memaksaku untuk mengikutimu!"

Kyuhyun mulai melirik namja manis di depan Sungmin. Kyuhyun ingat betul, Ryeowook pernah mengatakan jika Sungmin 'penghancur' bukan?

Ia mengernyit, begitu merasakan firasat yang mencurigakan untuk namja bernama Ryeowook itu. Entahlah, dari rautnya...terlihat namja itu tak menyukai Sungmin.

"Cepat berdiri!" Paksa Kyuhyun lagi. Merasa Ia harus secepatnya membawa Sungmin pergi dari hadapan Ryeowook.

"Jika aku tidak mau! Ya tidak mau! Berhenti memaksaku!" Kekeuh Sungmin, sambil mendelik kesal.

"Apa-apaan wanita itu?! Bagaimana mungkin dia memberiku nilai serendah ini?! Aku tidak mau mengulang! Aisshh michindee" Henry melangkah gusar memasuki kelasnya, sembari mengibas-ngibaskan hasil ujiannya beberapa hari lalu.

"Henry" Panggil Ryeowook seraya bangkit, kemudian berlalu begitu saja melewati Sungmin, tanpa sedikitpun melihatnya.

"Hm? Ige bwa (Lihat ini)! Bagaimana jika Ayahku tau tentang ini?" Gusar Henry.

"Simpan saja. Aku ingin keluar, di sini membuatku suntuk" Ajaknya, sembari melingkarkan tangan di lengan Henry.

"Oh Okay, Sungmin...kajja, kau ikut dengan kita bu—

"Jangan mengajaknya!" Sela Ryeowook cepat, membuat Henry membulatkan mata terkejut.

"Y-ya? Ada apa denganmu...Sungmin bersama kita, jadi—

"Kau tak mendengarku? Aku ingin keluar dari ruangan ini sekarang juga!" Seru Ryeowook penuh emosi. Membuat Henry meneguk ludah payah, dan pasrah saat namja manis itu menariknya keluar. Sesekali ia mengerjap kikuk, mencoba menerka apa yang tengah terjadi di antara kedua sahabatnya itu. Lalu setelahnya menoleh Sungmin berusaha menyuarakan kata 'maaf' dari tatapannya.

Sungmin mencelos melihatnya, dan Ia benar-benar tak tau apapun. Hingga Ryeowook begitu sampai hati bersikap demikian terhadapnya.

Sementara itu Kyuhyun hanya menghela nafas pelan melihat namja mungil itu tampak shock. Sedari tadi Ia memang sengaja memaksa Sungmin pergi dari ruang kelas, karna sudah menduga sesuatu yang buruk dari Ryeowook. Dan lihat dugaannya benar bukan?

"A—apa aku melakukan kesalahan?" Gumam Sungmin, masih dengan tatapan tak percayanya.

Kyuhyun memang tak tau, dan seharusnya memang tak perlu mencari tau masalah di antara dua namja mungil itu. Tapi melihat Sungmin seperti ini, rasanya ada bagian dari dirinya yang tak merelakannya. Ya! Ia benci melihat kelinci manisnya tersakiti seperti ini.

"Wajahmu sangat jelek...jika seperti ini" Celetuk Kyuhyun sambil menekan kedua pipi Sungmin, hingga membuat wajah bulat itu semakin terpout lucu.

"Lepfhas!" Sungmin menyentak cepat tangan Kyuhyun. Lalu memalingkan tubuh membelakangi namja itu, suasana hatinya sudah cukup keruh...dan berada dalam ruangan hanya dengan Kyuhyun, semakin mengacaukan hatinya saja. Bukan karna apa-apa, tapi Sungmin hanya tak ingin Kyuhyun melakukan hal menyebalkan yang bisa membuat jantungnya berdebar gila.

Kyuhyun menyeringai tipis melihatnya, eskpresi kesal itu benar-benar menariknya untuk berbuat lebih jauh, terlebih tak ada satupun siswa di ruang kelas ini bukan.

"Aku ingin mengambilnya"

Sungmin meneguk ludah payah, dari nada bicara dan suasana yang tengah mengepungnya. Sungmin tau, apa maksud ucapan Kyuhyun itu.

"Haebwa! (Coba saja kalau berani)...A-aku tak akan memberikannya!" Ketus Sungmin, masih dengan membelakangi Kyuhyun. Namun kedua tangannya tampak mencengkeram erat-erat kursinya.

Kyuhyun terkekeh. "Tapi itu perjanjian...kau lupa?" Desisnya kemudian seraya beringsut mendekat dan duduk di belakang Sungmin.

"Aku tak pernah berjanji seperti itu! Mana ada satu ciuman setiap harinya, kau gila!"

"Benarkah?" Kyuhyun menarik kebelakang bahu Sungmin secara tiba-tiba, hingga membuat tubuh mungil itu terhempas dan terbaring di atas pahanya.

"Ah!"

BRUGH

Tak ayal...Sungmin memekik terkejut, tapi sesaat kemudian wajahnya berangsur-angsur dipenuhi semburat merah, menyadari posisinya saat ini. Berulang kali sebelah tangannya mencoba merambati tepian meja, untuk bangkit dari paha Kyuhyun. Namun mendadak lemas...kala kedua obsidian itu menatapnya tajam. Sungmin reflek meremas dadanya yang berdebar tak karuan, saat Kyuhyun semakin mengikis jarak mendekati bibirnya.

Ah! Sial...Ia tak bisa melakukan apapun di saat jantungnya menggila seperti ini. Hanya diam membeku, dan meremas perutnya sendiri begitu Kyuhyun melumat bibirnya secara perlahan. Entahlah Sungmin merasa...banyak kupu-kupu kecil yang menggelitik perutnya.

"Mmmph~" Lenguhnya tertahan kala namja tampan itu menghisap bibir atasnya, tatapannyapun semakin meredup sayu, Sungmin sadar...tak seharusnya ia terlena seperti ini, tapi bibir Kyuhyun terlampau hebat membuatnya lunglai dan terhanyut dalam permainannya. Hingga membuatnya lupa...keduanya kini masih berada di ruang kelas.

"K-Kyuhmpfth...anghh~" Sungmin makin mendesah begitu lidah basah itu semakin menyeruak menyapu langit-langit mulutnya, kedua tangannyapun tampak terangkat dan meremas kuat-kuat lengan Kyuhyun. berusaha mencari pelampiasan.

DRRRT...DRRRT

Namun tiba-tiba saja getaran ponsel menginterupsi cumbuan basah itu, membuat Kyuhyun mengakhiri pagutannya dan berdecak keras begitu melihat nama pemanggil tersebut.

"Wae?!" Seru Kyuhyun penuh emosi.

"Ada yang ingin kubicarakan denganmu, cepat ke markas ppalii!" sayup-sayup terdengar Zhoumi berbicara cukup gusar dalam line telfon tersebut.

"Katakan saja." Ucapnya sembari melirik Sungmin yang mulai bangkit dari pahanya, dan kembali duduk membelakanginya.

"Anniya! Ini sangat panjang dan sangat penting. Ppaliya!"

"Tck! Arra!"

PIP

Kyuhyun kembali berseru keras, sebelum akhirnya memutus line telfon tersebut.

"Aku akan pergi sebentar"

"T-terserah!" Ketus Sungmin. Namja tampan itu terkekeh mendengarnya, ia mengacak surai pirang Sungmin lalu beranjak ingin keluar dari ruang kelas tersebut.

"Jangan beranjak kemanapun, sebelum aku kembali. Arrasseo?!"

"Kau pikir kau siapa!"

Sungmin menundukkan kepala, seraya mengusap rembasan tipis di pelupuknya begitu Kyuhyun benar-benar pergi dari ruangan itu. Entahlah...rasa sesak itu tiba-tiba saja memenuhi dadanya kala mengingat ciuman beberapa saat lalu.

'Kyuhyun hanya mempermainkanku' Gumam Sungmin dalam hati. Berulang kali Sungmin merutuk diri, tak seharusnya Ia terjatuh terlalu dalam sementara Kyuhyun melakukan apapun sesuka hatinya hanya untuk menjadikannya mainannya semata. Bukankah Ia mendengarnya sendiri, langsung dari bibir namja Cho itu?

Sesaat Sungmin menarik nafas dalam-dalam dan menghembuskannya secara perlahan. Suasana tetaplah sepi...tapi tak mengapa, ini lebih baik. Pikirnya.

Namja mungil itu beralih merogoh sakunya, begitu mengingat benda itu masih di simpannya. Dan tersenyum tipis saat mengamati kilau indah dari benda tersebut.

"Siapa pemilik kalung ini? tak mungkin benda seindah ini dibuang begitu saja" Gumam Sungmin seraya membentangkan kalung itu.

"Aku rasa pemilikmu mencarimu" Lanjutnya lagi.

Sungmin menggenggam kalung tersebut, Benda seperti itu rentan hilang, jika di tangannya. Meski di simpan sebaik mungkin...tapi tetap saja akan percuma karna dirinya yang pelupa.

Ia beralih mengamati kalung itu sesaat, mencoba memikirkan bagaimana cara menjaga kalung itu...hingga nanti ia bertemu pemiliknya, tanpa khawatir benda itu hilang.

"Sebaiknya kupakai saja, ini lebih aman" Ujar Sungmin sembari mengenakan kalung itu. Dan tersenyum manis begitu untaian itu...melingkar indah di lehernya.

"Kau di sini rupanya"

Sungmin menoleh cepat, dan tersenyum riang melihat pemuda yang baru saja berbicara padanya itu.

"Yesung Hyung"

"Aku mencarimu sedari tadi. ku pikir kau bersama temanmu...tapi ternyata kau di sini seorang diri"Ujar yesung seraya melangkah masuk menghampiri Sungmin.

"Kau tidak bergabung bersama temanmu di luar?" Lanjut Yesung lagi.

Sungmin tersenyum getir, Ia tau 'teman' yang dimaksud Yesung itu.

"A-ani, aku lebih nyaman di ruang kelas" Jawab Sungmin sembari mengulas senyum, berusaha menyamarkan suasana batinnya yang sebenarnya.

Yesung balas tersenyum menanggapinya, lalu beralih melirik arlojinya. "Masih ada seperempat jam tersisa, apa kau ingin keluar bersamaku? Sekedar minum ...mungkin" Tawar Yesung kemudian.

Sungmin mengerjap beberapa kali, kemudian mengangguk cepat ...menyetujuinya. Bukankah ini lebih baik? Sungmin rasa bersama Yesung, akan merubah suasana hatinya yang kacau. Dan lagi...hanya sekedar minum bukan? Timing yang tepat di saat Ia merasa haus seperti ini.

"Ne...Hyung" Sungmin beranjak bangkit, saat Yesung mengulurkan tangannya kemudian membimbingnya keluar dari ruang kelas itu.

.

.

"Akhir-akhir ini kau sering absen dari club musik. Apa terjadi sesuatu?"

Sungmin menggigit bibir bawahnya. Tentu Ia tak bisa mengatakan bahwa penyebabnya adalah Kyuhyun!

"A-ah itu, karena a-aku kurang sehat..mianhae" Gugup Sungmin.

Yesung melirik Sungmin sekilas, dan mengacak surai pirangnya dengan pelan.

"Gwaenchana...itu lebih baik, aku akan sangat bersalah jika tetap memaksamu untuk masuk"

Sungmin tersenyum kikuk mendengarnya. 'Aissh...semua ulahmu Kyu! Dan aku harus berbohong pada namja sebaik Yesung Hyung!' Kesal Sungmin dalam hati.

Keduanya tetap berjalan, menyusuri sepanjang koridor itu. Sesekali terlihat tangan Yesung bergerak ragu ingin menggenggam jemari Sungmin, namun selalu urung Ia lakukan. Entahlah...Yesung merasa, Sungmin mungkin akan menyentaknya jika tetap berbuat demikian. Dan sungguh, Ia hanya menginginkan Sungmin nyaman di dekatnya atau bahkan bisa memiliki hati namja mungil itu.

"Apa kau menyukainya?" Tanya Yesung tiba-tiba...masih dengan pandangan lurus ke depan.

"N-ne?"

"Kyuhyun...Apa kau menyukai anak itu?" Ulang Yesung lagi.

Blush

Sontak saja kedua pipi chubby itu dipenuhi semburat merah terang.

Ah! Sial untuk apa Yesung menanyakan hal semacam itu? Andai Dia tau...jantungnya akan bermasalah tiap kali mendengar nama bedebah seperti Kyuhyun. Lebih-lebih jika itu menyangkut perasaan.

"S-Solmaa! (Yang benar saja!)... T-tidak! Aku sama sekali tidak menyukainya. Namja itu sangat mengerikan. Mana mungkin aku menyukainya" Elak Sungmin keras, meski sesekali terdengar tersendat.

"Syukurlah...jika hanya satu hati saja, aku masih memiliki peluang besar untuk mendapatkanmu bukan?" Ujar Yesung, sembari mengulas senyuman lega. Ya! Ia begitu yakin dengan tekadnya. Meski Kyuhyun memilikinya ataupun tidak, Ia akan tetap merebut Sungmin ke dalam dekapannya.

"M-mwo?"

WWUUSSHHHHH

Tiba-tiba saja angin berhembus kuat, menghamburkan dedaunan dan ranting kering ke segala penjuru sekolah tersebut.

Yesung bergerak cepat mendekap Sungmin, berusaha melindungi tubuh mungilnya dari hempasan angin itu.

"Gwaenchana?" Bisiknya begitu amukan angin itu telah mereda.

Namun kedua mata sipitnya terbelalak begitu ia menjauhkan tubuh mungil itu dan melihat sebuah kalung yang melingkar di leher Sungmin.

Ia sedikit merunduk, mencoba memastikan, dan seketika itu pula jantungnya berdetak dua kali lebih cepat...kala meyakini benda itu.

"S-sungmin...kau Nat—

"Sedang apa kau di sini?! Bukankah sudah ku katakan untuk menungguku di kelas!" Kyuhyun tiba-tiba saja merengkuh pinggang Sungmin, dan menariknya menjauh dari sisi Yesung.

"Aisshh! Kkamjjagiya! (Kau membuatku terkejut). Pekik Sungmin sambil memukul-mukul lengan kokoh yang kini melingkar diperutnya. Oh Sungguh! Dari mana datangnya manusia itu, bagaimana mungkin bisa menemukannya secepat ini.

"Kembali ke kelas Min!" Kyuhyun semakin geram, kala melihat Yesung. Apapun itu...sesuatu dalam dirinya selalu memanas tiap kali melihat Sungmin berada dekat dengan mantan sahabatnya itu.

Dengan gusar, Kyuhyun menyeret Sungmin untuk pergi. Tak peduli namja mungil itu berontak, dan berteriak-teriak tak terima karna perbuatannya.

"Akh! Appo! Yack...LEPASKAN AKU!"

Sementara Yesung masih tertegun, dengan tatapan kosongnya. Demi apapun itu, Ia mengenal betul kalung yang dikenakan Sungmin saat ini. Benda yang selama bertahun-tahun ini di carinya.

Andai kecelakaan itu tak merenggut ingatannya, mungkin tak kan sesulit ini menemukan Nathan. Hanya nama dan sedikit ingatan tentang kalung itu, yang kini menjadi satu-satunya petunjuk untuk menemukan namja kecil di masa lalunya.

Dan kini, kalung itu berada di tangan Sungmin...mungkinkah itu berarti...

"Lee Sungmin...kau kah Nathan-ku?"

.

.

.

"Berapa kali ku katakan untuk menjauhi namja itu!" Geram Kyuhyun sembari menguatkan genggamannya, beberapa saat lalu ia memang menyeret Sungmin ke ruang medis ini, tapi tetap saja tak meluruhkan emosi dalam dadanya. Sekali lagi...Ia benar-benar panas, melihat Sungmin bersama yesung.

"Kau tak memiliki hak untuk memaksaku Kyu! Apa masalahnya dengan Yesung Hyung?! Dia sangat baik dan aku nyaman bersamanya!"

Lebih dari apapun itu, amarahnya semakin memuncak ke ubun-ubun. Mendengar Sungmin membela namja itu di hadapannya sendiri. Ia mendorong kuat namja mungil itu ke dinding, menghimpitnya dan memenjarakannya hanya dalam sekali gerakan.

"Katakan sekali lagi!" Seru Kyuhyun. Membuat Sungmin menatapnya tajam, meski sebenarnya terbesit perasaan takut dalam hatinya.

"Ya! Aku nyaman dengan Yesung Hyung! Aku senang bersamanya!"

Kyuhyun menyeringai penuh emosi. "Kau tak kan mungkin menyukainya! Kau hanya bisa menatapku! Karna kau milikku Lee Sungmin!"

Emosi Sungmin mulai tersulut. Tentu Ia tak terima Kyuhyun menuntutnya demikian! Mungkinkah karna Kyuhyun menganggapnya mainannya dan Dia bisa besikap semena-mena seperti itu. Memaksanya sesuka hati dan mengekangnya hingga rasa-rasanya ia benar-benar terjebak dalam penjara yang Kyuhyun buat sendiri.

"Oh ya?! Tapi aku menyukai Yesung! Sangat menyukainya! Dan aku bukan milikmu! PUAS?!" Sungmin meracau kalap,hingga semua yang terucap bukanlah sebenar-benarnya dari hatinya. Ia hanya ingin meluapkan emosinya...dan terlalu frustasi dengan sikap Kyuhyun saat ini.

Andai kata 'milik' itu berarti perasaan terdalam dan bukan hanya sekedar mainan. Tentu ia tak kan merasa sesakit ini.

Sungmin terisak, biarlah seperti ini dan terlihat memalukan. Mau apa lagi? Kyuhyun benar-benar meremukkan hatinya,

Kyuhyun menggeram keras seraya menghantamkan tangannya ke dinding. Terlalu kacau, melihat Sungmin semakin menutup hatinya dan kini Ia membuat Sungmin menangis di hadapannya seperti ini. Oh sungguh! Betapa ingin, Kyuhyun memeluk namja mungil itu. Tapi tubuhnya serasa beku, dan ia tetap tak tau...harus dengan cara apa memegang perasaan Sungmin, dan membuatnya tetap menatap dirinya. Bukan Yesung!

"Jangan memaksaku, karna aku membencimu!" Lirih Sungmin sebelum akhirnya, berlari meninggalkan namja yang masih terdiam itu.

Kyuhyun memejamkan mata erat. berusaha meredam perasaan sakit yang kini semakin merambati hatinya.

"Neol joahanikka"(Karna aku menyukaimu). Bisik Kyuhyun pelan.

.

.

.


"H—henry, kalungku hilang" Ryeowook menghentikan langkahnya seraya meraba-raba dirinya, begitu sadar benda paling berharga itu tak lagi melingkar di lehernya.

"Jjeongmalyo? Mungkin kau lupa memakainya"

"Tidak! Tidak...aku selalu memakainya, dan aku tak pernah melepasnya. Ah! Eotohkae!" Racau Ryeowook nyaris menangis, Ia berlari gusar kembali ke dalam sekolah. tak peduli tubuh ringkihnya menabrak lalu lalang siswa lainnya.

Henry membulatkan mata lebar melihat Ryeowook sekalut itu. Dengan panik Ia berlari mengejar...dan menggenggam tangan namja manis itu demi menenangkannya.

"Aku harus mencarinya! aku harus menemukannya Henry, bagaimana jika benda itu hilang? Aku takut...aku—

"Sssh...kita akan mencarinya bersama-sama. Sekarang tenanglah...kalung itu pasti kita temukan" Tenang Henry seraya menatap lekat—lekat manik caramel itu, berusaha meyakinkannya.

Dan benar saja, Ryeowook berhenti meracau dan terlihat sedikit tenang. Tak apa...tidakkah ini lebih baik? Pikir Henry, meski nyatanya...bukan hal mudah menemukan benda sekecil itu di tengah sekolah seluas ini.

.

.

.

.


Sungmin semakin mendekap erat tubuhnya sendiri, tetap meringkuk di bawah pohon mapple itu, tak peduli suasana sekolah semakin senyap dan dingin karna senja. Bahkan...berulang kali pula ia mengusap kasar bulir bening yang jatuh dari sudut matanya.

"Pabbo" Lirihnya, masih terus mengusap kasar linangan air matanya. Kapan air mata itu kering? Rasanya Ia benar-benar lelah menangis seperti ini hanya karna Kyuhyun.

"S-Sungmin"

Sungmin sedikit tersentak begitu seseorang memanggilnya, tapi setelahnya ia menyembunyikan wajah di balik lipatan lengan dan lututnya, begitu tau orang itu adalah Yesung. Bagaimanapun Sungmin tak ingin siapapun melihat wajah menyedihkannya, meski Yesung sekalipun. Sial! Dari sekian banyak orang, mengapa harus Yesung yang menemukannya di sini.

Namja berkaca mata itu, mendekat panik dan bersimpuh ingin merengkuh tubuh mungil itu.

"Eolgeuri wae irrae?" (Ada apa dengan wajah ini?).

Ucapnya saat menangkup pipi Sungmin dan menyeka air mata namja cantik itu dengan ibu jarinya.

Sungmin hanya diam, dan berusaha menunduk...tak ingin Yesung semakin jauh melihat kelemahannya.

Namja tampan itu menghela nafas melihatnya, ia tau...apa yang dihadapi Sungmin, pastilah sangat berat hingga membuatnya rapuh seperti ini.

Yesung tak tahan lagi! Bukan isakan ini yang diharapkannya dari namja cantik itu. Sungguh! Ia benar-benar ingin memiliki, melindunginya hingga tak satupun berani menyakiti dan membuatnya menangis seperti ini. Terlebih...Sungmin adalah Nathan. Satu-satunya namja yang mengisi hatinya sejak di masa lalunya. Sungmin miliknya! Ya...Yesung yakin itu.

Ia kembali menangkup pipi Sungmin, berusaha membuat namja mungil itu menatap matanya.

"Apa kau tak mengingatku?" Tanyanya kemudian. Sungmin mengerjap mendengarnya. Merasa ganjal dengan pertanyaan tersebut.

Yesung mengulas senyuman getir melihat sikap diam itu, mungkin Sungmin sangat tertekan...dan tak seharusnya ia menuntut dengan pertanyaan itu. Sekali lagi, Yesung hanya menginginkan Sungmin nyaman saat dekat dengannya.

"Aku menyukaimu Sungmin~ah" Ucapnya tiba-tiba, membuat manik foxy itu semakin membelalak lebar.

"Ye-yesung Hyung?" Gumam Sungmin lirih, tak percaya dengan apa yang baru saja di dengarnya.

.

.

.

Sementara itu jauh di tempat yang sama

"W-wookie...bukankah itu Yesung sunbaenim? Ommo! Itu Sungmin?" pekik Henry shock, begitu melihat sosok yang berada cukup dekat dengan Yesung, bahkan seperti ingin diciumnya itu adalah Sungmin.

Dengan takut Henry menoleh Ryeowook dan detik itu pula, ia meneguk ludah payah kala melihat sahabatnya itu menatap penuh emosi dengan rembasan bening mengalir dari pelupuk matanya.

Oh sungguh! Ini bukanlah sesuatu yang baik.

"Bitch!" Umpat Ryeowook lirih, sebelum akhirnya berlari meninggalkan tempat itu. Tak tahan dengan apa yang baru saja dilihatnya.

"W-wookie tunggu!" Seru Henry kalut.

.

.

.

Yesung merunduk...sedikit meremas kedua bahu Sungmin begitu ia semakin mengikis jarak dengan bibir Sungmin. Sementara….namja mungil itu hanya mengepalkan tangan dan memejamkan mata erat-erat. Tak yakin….Ia bisa melakukan semua ini dengan Yesung. Tapi semakin Yesung mendekat, semakin lekat pula wajah Kyuhyun memenuhi benaknya. Tidak! Ia harus mencobanya...dan membiarkan Yesung menciumnya, barang kali itu bisa membuatnya lupa semua tentang Kyuhyun.

"BRENGSEK! BUAGGHH!

"Ugh"

Sungmin membuka mata terkejut dan membelalak lebar, begitu melihat Yesung tersungkur di sisinya. Dan Ia tau siapa pelakunya

"Apa yang kau lakukan pada Yesung Hyung!" Pekik Sungmin, sembari membantu Yesung berdiri.

"Menjauh darinya!"

"WAE?! Bukankah kau hanya menjadikanku mainanmu! Jadi untuk apa memintaku menjauhi Yesung Hyung!"

.

.

Kyuhyun mengepalkan tangan kuat….dengan tatapan tak tentu arah.

'Karna Kau milikku Min' Serunya dalam hati, Ia menatap getir namja cantik di hadapannya. Terlalu banyak kata yang ingin terungkap. Tapi masih saja Ia merasa kelu mengatakannya, hingga membuatnya serasa seperti pecundang. Oh sungguh! Apa yang harus dilakukannya agar Sungmin tau isi hatinya saat ini?

"Jibe kajja (Ayo pulang)...Hyung!" Ujar Sungmin kemudian, seraya memaksa Yesung melangkah pergi dari tempat tersebut.

Kyuhyun semakin mengepalkan tangan geram. Demi apapun itu, amarahnya semakin menggila di dalam dadanya. Tapi Ia bisa apa? Ingin kembali menghajar Yesung dan menarik Sungmin ke dalam pelukannya? Rasanya percuma! Karna itu hanya akan membuat Sungmin semakin menaruh benci terhadapnya

Namja tampan itu hanya diam, membiarkan Yesung membawa namja cantik itu pergi menjauhinya.

"AARGHHH!" Erangnya seraya menendang kuat-kuat pohon maple di hadapannya.

.

.

.

.

Tbc

.

.

Next Chap (Chapter Berikutnya)

"Kita ditempat yang sama huh?"

"..." Kyuhyun mengernyit, begitu namja manis itu berjalan perlahan dan duduk tepat di hadapannya.

"Bukankah kau menyukai Sungmin. Sekarang anak itu bersama seseorang. Dan orang itu—" Ryeowook menghentikan ucapannya, untuk menoleh ke bawah. Tepat pada siluet Yesung yang tengah berjalan bersama Sungmin di sisinya.

"Satu-satunya namja yang kucintai" Lanjutnya penuh penekanan.

Kyuhyun terbelalak lebar mendengarnya, jadi inikah alasan Ryeowook begitu membenci Sungmin?

"Aku tau kau begitu menginginkan Sungmin. Dan aku bisa membuat anak itu menjadi milikmu...lalu aku mendapatkan Yesung" Ujar Ryeowook sembari mengulas seringai tajam.

"Apa maksudmu?" Kyuhyun mulai membuka suara.

"Semacam rencana"

Kyuhyun semakin menautkan kedua alisnya, menerka-nerka kemana arah pembicaraan namja manis itu.

"Apa?"

"Aku akan mengatakannya jika kau berjanji menerima rencanaku...Otteyo?"

Sejenak Kyuhyun menatap tajam Ryeowook, mencoba berpikir sekaligus menemukan kesungguhan dari manik caramel itu.

"Baiklah." Jawab Kyuhyun setelahnya.

Ryeowook semakin bersorai dalam hatinya, yakin rencananya untuk membalas rasa sakitnya pada Sungmin akan berjalan tanpa hambatan setelah ini.

"Jadilah kekasihku" Ucap Ryeowook santai.

"M—mwo? Apa kau gila?!"

"Ingat kau sudah berjanji. Bukankah Cho Kyuhyun tak pernah mengingkari janjinya?...lagipula, kupastikan rencanaku berhasil. Percayalah"

"..."

.

.

.

"Kyu-

PLAKK

"Jangan pernah menyentuh kekasihku!...kajja Kyunnie."

Sungmin menunduk...sembari memegang sebelah pipi kanannya, tak percaya Ryeowook begitu sampai hati...menyentak dirinya seperti ini. Tamparan itu memang menyisakan perih yang nyata. Namun...itu sama sekali tak sebanding dengan denyut nyeri di dadanya.

Haruskah Ia menangis detik ini juga...?

Atau...

Haruskah Ia mengejar Kyuhyun...dan merebutnya dari namja manis itu?

Tapi...semua seolah hanya tertelan dalam benaknya. Kyuhyun hanya diam ...bahkan ketika namja manis itu menamparnya. Kyuhyun hanya berlalu mengacuhkannya.

"Kyuhyun" Lirih Sungmin parau...tatapannya begitu pias kala memandang siluet Kyuhyun dan Ryeowook, perlahan menghilang dari balik koridor.

.


Annyeong...Breakable Heart hadir..
mian lama upnya, susah mencari waktu luang. Mohon dimaklumi, Tapi tetap Update kaan ^^

Chapter ini belum terlalu nyesek kok Chinguu, jd jngan khawatir ^^

Yang mengharapkan Nc, sabarnya...nunggu Kyuminnya baikan dulu..

Review ya? Kl g review...author mogok nulis T_T

Dan Untuk:

Cho Na Na, KyuMin ELF, kyumin joyer ChoLee , cho sungkyu137 , Ria, Mayu Cholee, cintakyumin137 , GaemGyu137 , ChanMoody, dessykyumin, bunnyblack FLK 136, ChoLee KyuMinie, baekta, wulandari apple , may moon 581 , Mong Ji, Anita ariestamaru, bebek, reva kyuminelf, TeukHaeKyu, kim hyun nie , Voice 13Star , Zefanya Amelia, OhSooYeol , Sungyoung , Atiqah elfpumpkin, Indah Isma N ,Love Kyumin 137 , devilojoshi, iciici137 , Gyumina , ratu kyuhae , audrey musaena , melsparkyu , Shywona489 , grace grace 9026, fenigista99Atiqah, evilminnie14, goodnarulita , Yuuhee , cho hyo woon , Ncie gyuminglove, Santiyani febby , pumpkinsparkyumin , kimteechul , Cho Kyuna, MalaJaeWook, Princess JOYELF137, shippo chan 7, Row-chun, hwangpark106 , myangelicKYUMIN , KYUMINTS , endah kyumin137 , indah elfii , teukiangle , WineShipper, ButtCouple137 , Hana Kyumin, minnieGalz, shippocha.7, LauraRose14 , baekhyunniewife, diynazha gint , kyuminsaranghae , reiasia95 , Cho MeiHwa, nonapanda, chominhyun , Mybluepearl , RithaGaemGyu137 , coffeewie137 , Bunbunchan, Cho Adah Joyers , kyumin pu , sha nakanishi , thiafumings, Zen Liu , Park Heeni , 5351, LittleMing137 , henlicopter, cloudswan , myFridayyy , mayasiwonest everlastingfriends , wullancholee , bing , nova137 , unicorn ajol , Kang Dong Jae, Eggyuming, Rei Akisima, ShinJiWoo920202, Kim Yong Neul , Kyumin2131, zefanyadw, TifyTiffanyLee, rii, sary nayolla , fonami-kyuminelf, minniekyu , myst-girl , wyfckh, sitara1083 , riesty137, LiveLoveKyumin, reaRelf, emi mardi , hazelsung , kiran heacyankEsa , minnie kyumin , zagiya joyers , tiara pumpkins137 , Imtwins, kyuminshipper , Vikyuu , chu , nanayukeroo, rizkyamel63, haniyamari, Sparkyuminmin, park ji hyun, cloudsKMS , Phia89, Yefah , gyumin4ever , abilhikmah, Hizmikeyla, sissy , Adekyumin joyer , stawberry rae, imKM1004, liu13769, Prisna Sparkyu , yunjaeee, lhiyasungminnie ,dirakyu , Okalee, hidarae yazk , fariny , vila13kyuvil , letstalkyu, KyuMin ELF, BabyMing , kyokms26 , Cho Hyun Ah Sparkin 137, keykyu, shflynie , Sitapumpkinelf, Ashiya yukia, Ceicoung, LEETEUKSEMOX , sjkms137 , nana137 , chepta cheozil , wereyeolves , minako yoshida , Airi tokeida, KyuPuchan 15, Aey raa kms , ayyu annisa 1, dJOYers , bla , Yen Lee , Agung Dinarayoekyuelf , dan para Guest

Gomaawooo sudah mereview di chap 7 kmrn

Mohon reviewnya di cahp 8 ini...Author masih membutuhkan semangat dari Chinguu

Kamshaaeeeee

Saraaaanghaaaaeee