Chapter 1-8
Archetypes V
Jalan yang mereka tempuh sepi dan dipenuhi deret pepohonan. Sampai sekarang, tidak ada apapun yang terjadi (Justin sempat kentut tanpa mengaku). Mereka berjalan sambil mengobrol. Judith mencoba membunuh beberapa Poring dan berhasil.
Cuaca saat itu segar; cerah tapi tak panas, sejuk dan berangin. Seseorang mengusulkan piknik. Usul itu ditembak mati oleh Leid. Ia berkata, "Kita harus sampai Izlude sebelum malam."
"Memangnya kenapa?" Justin bertanya.
"Monster," Leid menjawab tanpa menoleh.
Jadi mereka terus berjalan.
Dan berjalan.
Tak lama kemudian, Izlude memperlihatkan diri. Kota satelit itu bertengger anggun di pinggir pantai, dikitari burung camar dan diterangi matahari. Kilau laut bersinar menyengat di cakrawala. Debur ombak samar-samar terdengar, diantar hembusan angin laut. Judith kembali bersemangat setelah melihatnya. Meskipun Ancilla bilang jaraknya masih satu kilometer lagi.
"Oh iya," Ruth tiba-tiba menggeplak dahi. "Aku harus ke Prontera. Aku pergi dulu ya,"
"Woi," Justin menggenggam lengan Magess itu. "Masa kamu mau jalan ke sana?"
"Tenang saja, aku pakai warp portal ke Izlude, tapi aku buru-buru nih!" Ruth langsung berangkat.
"Kita juga ikut," Nichols dan Ferdinand berkata bersamaan.
Justin memandang mereka sesaat, dan berkata, "Aku juga deh."
Judith memperhatikan mereka pergi. "Boleh tuh?" ia menunjuk.
"Terserah mereka," Leid berkata datar. Ia menoleh ke Chronos. "Ketemu?"
Chronos, yang dari tadi jalan merem, menggeleng. "Nggak. Aku benar-benar heran. Roth-san dan Sigurd-san sama sekali tidak bisa dihubungi. Yang lain juga begitu. Aurum pula," ia membuka matanya. "Apa perlu kita cari, Leiden-san?"
"Tentu saja," Leid menjawab. Meskipun begitu, ia tetap berjalan ke Izlude.
"Kenapa tidak sekarang saja?" Chronos berkata lagi. Kali ini, ada cemas di suaranya.
"Aku percaya sama Roth dan Sigurd," High Archer itu menjawab.
Mereka tiba di sisi barat daya Izlude. Di sana mereka menemukan sebuah bangunan berpapan "Penginapan Ragnafilia". Di sebelahnya ada bangunan berpapan "Cafe Ragnafilia". Dan di seberangnya ada toko. Coba tebak papannya berbunyi apa. Ketiga bangunan itu terbuat dari beton, dan terlihat sederhana, rendah hati serta ramah. Siap menyambut petualang yang memerlukannya. Grup itu masuk ke Penginapan Ragnafilia.
Isinya terlihat seperti bar biasa. Meja panjang, kursi, lantai kayu, lampu besar di langit-langit, konter minuman, bartender yang terus mengelap gelas yang tidak kotor, dan sebuah phonograph di pojok ruangan. Patrick dengan yakin dan mantap mendekati sang bartender, yang kebetulan juga perempuan.
Judith mengamati penginapan ini. Di sisi kiri ruangan ada tangga. Tampaknya, kamar ada di lantai atas. Ruangan yang ada di lantai bawah hanya untuk makan dan minum. Lalu Judith sadar di satu ujung ruangan ada perapian. Tempat itu terlihat nyaman.
Tapi Chronos tidak memperhatikan semua ini.
'Roth?'
Tak ada jawaban.
'Sigurd?'
Tetap tidak ada jawaban.
'Chronos?'
Mata mage itu langsung terbuka.
'Shigel-san?'
'Yo. Kamu lagi di mana?'
'Penginapan Ragnafilia. Roth—'
'Di sana ada siapa aja?'
'Aku, Leiden-san, Judith, Ancilla-sensei, Patrick dan Charlotte—'
'Bagus. Aku ke sana.'
'Shigel-san!'
Tak ada jawaban.
Chronos menghela napas. "Walah, walah."
"Kenapa?" Ancilla bertanya.
"Shigel mau datang ke sini," Chronos mengumumkan.
"Kapan?" tanya Patrick. Ia telah selesai berbincang-bincang.
"Sekarang juga," kata Chronos.
"Sekarang? Wah, aku jadi nggak bisa ketemu dia deh," kata Priest itu. "Aku pergi dulu. Titip salam ya," katanya tiba-tiba.
Patrick memutar dan beranjak ke luar bangunan. Tanpa berkata apapun, Charlotte mengikuti.
"Mau ke mana?" Judith bertanya.
"Beli bunga," jawab Patrick sambil tersenyum. Pasangan pendeta itu keluar, berbelok dan hilang dari pandangan. Judith memperhatikan mereka, penasaran. Tetapi anggota grup yang lain tidak bereaksi.
Mereka naik dan masuk ke satu kamar. Sebelum Ancilla sempat menutup pintu, cahaya biru terang memancar dari lantai ruangan. Cahaya itu langsung memudar lagi, dan di tempatnya dua orang menjelma. Yang satunya Shigel. Yang satunya lagi adalah gadis yang belum pernah Judith lihat.
"Yo," Shigel menyapa dengan amat cerianya. "'Pa kabar?"
Leid memberikannya tatapan dinginnya yang khas.
"...cuma nanya," Shigel berkata. "Oh ya. Judith, ini Aurum. Aurum, Judith."
Shigel menepuk-nepuk punggung gadis di sebelahnya.' Aurum' terlihat sebaya dengan Judith. Tinggi badan mereka sama. Rambut pirangnya sedikit lebih pendek. Tapi yang paling membedakan adalah mata birunya yang terang dan tanpa ekspresi.
Kedua gadis itu saling bertatapan. Tidak ada uluran tangan. Tidak ada kata-kata. Senyum pun tidak.
"Bagus," Shigel menepuk tangan bahagia. Ia berjalan ke salah satu tempat tidur dan menjatuhkan dirinya. Ia langsung mendesah bahagia. "Sudah lama aku tak merasakan tempat tidur," katanya, tersenyum.
Ia terus berbaring di sana, tak bergerak, mata tertutup.
"..."
"..."
"Jadi ada kejadian apa?" Leid memulai percakapan.
002
Prontera. Ibukota Rune-Midgard. Tempat orang-orang berada tinggal. Tempat penuh Ksatria dan Pedang. Dan seterusnya.
Sekarang, Ruth sedang melihat-lihat aneka pisau di salah satu toko NPC. Untuk apa? Itu rahasia.
Kembali ke topik. Ruth sedang melihat-lihat aneka pisau di toko NPC.
'Ruth?'
Magess itu berkedip. Ia merasa ada yang memanggilnya barusan.
'Ruth, tolong!'
Tapi suara kecil ini tidak terdengar karena ada massa mengamuk melintas di depan toko. Mengejar seorang Thief.
Magess itu memiringkan kepala, heran. Lalu ia memutuskan untuk kembali belanja.
'Ruth~~'
Ia melihat ke belakang dan jantungnya nyaris copot. Ia langsung berpikir. Sebenarnya, kenapa ia dikejar? Karena pakai kostum Thief atau ada di dekat TKP pencurian? Atau dua-duanya?
Dalam panik, ia berbelok ke kiri. Massa di belakangnya mengikuti. Lalu mereka tiba-tiba berhenti.
Thief yang mereka kejar hilang.
Assassin yang menyelamatkannya kabur secepat kilat. Ia melompat-lompat dari atap ke atap dengan santainya, menjauh dari massa yang sekarang garuk-garuk kepala. Assassin itu terus melesat sampai mereka tiba di jalan yang sepi. Setelah memastikan tak ada yang melihat, ia melompat turun dari atap sebuah toko bunga. Lalu ia melihat Justin dan Justin melihatnya.
"Kamu ini dari dulu memang magnet masalah, ya," katanya. Ia menjatuhkan Justin. Thief itu berhasil mendarat dengan tangan dan lutut. Keras. Justin meringis kesakitan dan perlahan-lahan bangun.
"Bukan salahku," omelnya. ia menepuk-nepuk debu dari celananya.
"Payah kau," Assassin itu menambahkan.
"Iya deh Roth, yang jago," Justin balas menyindir.
"Ara~"
Kedua orang itu menoleh. Mereka melihat seorang Hunter sipit bertopi menghampiri mereka.
"Justin? Sedang apa kamu di sini?" ia bertanya.
"Kamu sendiri sedang apa di sini?" Thief itu langsung membalas.
"Logistik," kata Hunter itu. "Kita baru selesai hunt. Kita masih menunggu Iris dan Reed."
"Kalian dari mana aja, sih?"
"Hunt di Goa Payon."
"Kok dari tadi diwhisp ga jawab-jawab?"
"Hah?" Hunter itu keheranan.
"...mungkin kamu ngewhispnya pas kita ngelawan Munak yang itu," Roth menebak.
"...mungkin," sang Hunter setuju.
"Munak yang apa?"
"Tadi kita ketemu dewa segala Munak," Roth menjawab. "Nyaris dibantai kita."
"Yang bener?" Justin bertanya tak percaya.
"Nggak. Ya iya, lah, buat apa aku bo'ong?" Roth membalas.
"Ngambekan amat, sih," Justin menggumam. Ia menutup mata dan membatin:
'Leid? Aku ketemu Sigurd ama Roth.'
Tidak ada jawaban.
'Leid?'
"Kenapa?" Sigurd bertanya, matanya melebar sedikit.
"Aku lagi nyoba ngewhisp Leid, tapi nggak nyambung," Justin berkata, sedikit khawatir.
"Paling dia lagi tidur," kata Roth santai.
Sigurd dan Justin menoleh ke arahnya bersamaan.
"...kenapa?"
"Pasti dia sedang sibuk," kata Sigurd dengan kalem. "Leid sekarang di mana?"
"Izlude. Ragnafil."
"Ya udah, ayo ke sana," Roth berkata.
"Aku kontak Iris dulu," Sigurd berkata. Ia menempelkan dua jari ke pelipisnya.
'Iris?'
'Yo.'
'Kamu di mana?'
'Aku baru aja selesai—Hei!'
'Kenapa?'
'Aku baru aja ngelewatin Thief yang miriiip banget ama Justin.'
Sigurd berkedip. Ia menengok ke belakang dan melihat seorang Blacksmith perempuan berjalan melewatinya. Di sisinya ada seorang Acolyte yang membawa buku besar. Sigurd dan Acolyte itu bertemu mata. Sang Acolyte mengangkat tangannya sebagai sapaan.
'Iris?'
'Hm?'
'Tengok kanan.'
Sunyi. Sigurd menutup kuping. Lalu-
"DOR!"
Rambut Hunter itu bergoyang-goyang karena teriakan tadi.
"Ha~lo," Iris menyapa dengan senyum ultra lebar.
"Halo," Sigurd balas tersenyum.
"Udah selesai?" Roth bertanya. Iris dan Acolyte di sampingnya mengangguk.
"Ya sudah-"
"Buku baru?" Justin tiba-tiba berkata. ia menunjuk buku yang dipegang sang Acolyte erat-erat.
Acolyte itu tersenyum tipis. "Pemberian dari bapa Cyril," katanya dengan penuh perasaan. Ia memeluk buku itu lebih erat lagi.
"Ayo," Roth mengajak, berjalan memimpin. Acolyte itu dan Iris mengikuti di belakang.
003
"Benua baru?" Leid bertanya.
"Yep. Jotunheim, Aelfham, Sweartaelfham, Vanaheim dan, Muspelheim," Shigel menjelaskan.
Pria berambut putih itu bersandar di jendela. Di baliknya, tampak langit jingga terang dan awan-awan yang berwarna sama. Matahari sudah tidak terlihat, bersembunyi jauh di barat. Kamar penginapan itu dipenuhi bayang-bayang. Para Arketipe duduk di ranjang, dan Aurum bersandar di pojok, dengan semua perhatian tertuju ke Shigel.
"Kreatif sekali kamu," Ancilla berkata dengan nada menyindir.
"Kamu tahu?" Shigel bertanya terkejut.
"Tahu apa?" sambung Chronos.
"Semua itu bagian-bagian Yggdrasil," Ancilla berkata. "Benar, kan?"
"Memang benar," Shigel mengakui.
"Ya sudah, ada benua baru. Terus kenapa?"
Semua menoleh ke Leid.
"Kamu ini benar-benar tak punya rasa kekaguman, ya," keluh Shigel.
"Untuk apa benua sebanyak itu?" Leid bertanya lagi.
"Nggak tahu. Aku cuma kurir," jawab Shigel. "Dan bukan kami yang membuat benua-benua itu."
Hening.
"Kalau bukan kalian, siapa?" Judith berkata terkejut.
"Tanyalah kepada teman-temanmu ini," Shigel merogoh ke jaket panjangnya dan mengeluarkan sebuah gulungan. Ia melemparnya ke Leid. "Peta dunia baru. Just in case."
Leid menangkap dan menaruh gulungan itu di sampingnya. Ia memandang benda itu sesaat, lalu berkata:
"Kita tadi ketemu Ramos."
"Di mana?" sentak Aurum tanpa peringatan.
Semua kepala langsung menoleh ke gadis itu. Ini pertama kalinya ia bicara.
"Di Surga Poring, barusan," kata Chronos, sedikit khawatir.
"Surga Poring?" Shigel berkata heran. Ia menoleh ke Aurum. "Di sana tadi ada gangguan whisper, kan?"
"Aku cek," kata Aurum.
"Kenapa?" Ancilla bertanya.
"Cuma dugaan."
"Benar," Aurum berkata. "Ada gangguan sejam lalu, 15 menit lamanya. Terus aku juga ketemu dua lagi."
"Hah?" Shigel terkejut.
Aurum mengangguk. "Satu di Goa Payon dan satu lagi di Kastil Prontera."
"Hei," Ancilla berkata, mata melebar. "Itu kan-"
'Justin?' Leid langsung mewhisper.
'Ya?'datang balasan langsung.
'Kamu di mana?'
'Luar Pront. Sekarang mau balik.'
'Semua masih hidup?'
'Uhh...Iya?'
Kekhawatiran langsung lenyap dari wajah Leid.
"Bagaimana?" Chronos bertanya.
"Semuanya baik-baik saja," kata Leid tulus.
(Di suatu tempat di padang rumput Prontera, Justin sedang garuk-garuk kepala.)
"Baguslah," Shigel berkata, berdiri tegak. "Aku harus balik sekarang. Gangguan ini akan aku periksa. Bye."
Sebuah tiang cahaya menyelubungi Shigel. Begitu Judith berkedip, pria itu suda hilang. Hal yang sama terjadi pada Aurum.
Ruangan itu menjadi sunyi. Langit jingga berubah jadi merah.
"Aku harus menyelesaikan pekerjaanku," Ancilla berkata, bangkit dari ranjang. Chronos mengikutinya, menawarkan bantuan tanpa kata-kata. Kedua orang itu keluar, menyisakan Judith dan Leid.
Bayang-bayang dalam ruangan makin gelap. Langit memerah.
"Leid. Soal benua baru itu," Judith memulai. "Apa game ini bisa membuatnya dengan sendiri seperti itu?"
"Seharusnya tidak," Leid menjawab.
"Jadi mereka datang dari mana?"
Untuk pertama kalinya Judith melihat Leid tersenyum. "Dari tuhan."
