Kuda Gokudera bergenjit panik. Gokudera dan Hibari terlempar beberapa senti dari si kuda panik.

"Sial! Apa yang terjadi?!" Gokudera bangkti seraya mengumpat. Hibari ikut bangkit dan menatap nanar.

"Menurut pendengaranku, sepertinya, telah terjadi ledakan dari dalam gua.." Emerald sukses membulat.

"Apa?! Apa yang dilakukan trio bodoh itu?!" Gokudera mengarahkan pandangannya pada tempat yang telah diliputi asap hitam tipis itu.

'Juudaime, bertahanlah..'

Title : PRINCE WHO DUMB

Genre : Romance/Drama

Rate : T..?

Pair : 1827 (Main) , slight 8059 and R27, TYL!2795 in the end

Warnings : Blind!Hibari, Dumb!Tsuna, alur membelit dan membingungkan, typo(s) , dari shounen-ai berubah jadi straight

.

.

#Happy Reading!

.

.

Katekyo Hitman Reborn Amano Akira

FanFiction Ameru-Genjirou-Sawada

"VOI! MAMMON BODOH! SUDAH DIBILANG JANGAN BERTARUNG DIDALAM MARKAS! NANTI BIAYA PERBAIKANNYA MAHAL!" Suara indah Squalo mengudara di lorong markas yang nampak elegant itu. Dan entah mengapa, gaya ucapannya malah menirukan Mammon.

Tapi tentu ia gondok. Uang hasil jarahan sudah susah payah ditimbun, terkuras hanya untuk memperbaiki markas. Dasar tidak tahu diuntung.

Squalo lalu berjalan tergesa-gesa sambil mengayunkan pedangnya kesal.

.

.

oOo—PRINCE WHO DUMB—oOo

.

.

Gua itu kini hancur lebur. Barisan stalaktit dan stalakmit indah itu runtuh seketika. Empat orang itu masih dalam posisi bertarung.

"Sudah kuduga dari awal kau itu memang mencurigakan, dasar Arcobaleno pengkhianat.." Mukuro mengangkat trident-nya dengan nada dalam.

"Hum. Aku tidak akan melakukan pekerjaan bila tidak dibayar.." Mammon masih melayang diudara. Ryohei berteriak kesal.

"KYOKUGEN! KAU MENGKHIANATI VONGOLA, BERARTI TIDAK ADA PILIHAN UNTUKMU!"

"Kau harus mati." Yamamoto mengacungkan pedangnya. Nadanya dalam dan menusuk. Ia tidak terima pengkhianat memporak-porandakan Vongola seenaknya.

Mammon mendengus, "Lebih baik kalian lebih pintar."

Diam.

"Kalau kalian menghancurkan tempat ini, aku tidak bisa menjamin keselamatan pangeran kalian.." Tiga guardian-nya tersentak.

"APA?! SAWADA ADA DISANA?!"

"Tsuna!"

"Kau, dimana Tsunayoshi-kun?" Mukuro sudah lelah bercipika-cipiki.

"Hum…, kalau ingin pangeran kalian sehat…tentu tidak gratis.." Mammon—walaupun masih datar—tersenyum tipis.

"KYOKUGEN! JADI INI TARUHAN YANG DIBICARAKAN HIBARI!?"

"Um, jadi orang buta itu benar-benar kembali ke istana?" Mammon mulai tertarik.

"Apa maumu?" Balas Mukuro dingin. Mammon mendengus.

"Ya, aku baru saja mengembalikan 'bagian' daripada pangeran kalian.." Dan Yamamoto sukses tersentak.

"APA?! KAU MENGEMBALIKAN INGATAN TSUNA?!" Ryohei berteriak kasar.

"Ingatan tentang 6 tahun lalu.." Guardian makin naik pitam.

"Tapi, sepertinya kalian tidak bisa bekerjasama?" Mammon melayang turun, kakinya memijak tanah gua yang dingin, "Kalau begitu. Kalian harus lenyap."

Kembali. Suara ledakan terdengar.

.

.


"Tsunayoshi."

Siapa?

"Tsunayoshi."

Apa? Kau—

Rambut hitam itu. Suara itu.

"Maaf. Aku memang salah.."

Iya, kau memang salah..

"Aku sudah tidak pantas ada dihadapanmu.."

Eh—?

"Aku..akan membayar semuanya."

Apa? Tunggu!

Mata caramel itu membuka. Rasanya, kepalanya berdenyut sakit sekali. Napasnya terengah-engah. Sakit. Menderita. Dan sialnya, tubuhnya masih terikat.

Tsuna mengedarkan padangannya ke sekitar tempatnya berada. Ada puing-puing bangunan disekitarnya. Tsuna menarik kesimpulan, bahwa anak buahnya telah menuju kesini.

Tahu dari mana? Karena guardian-nya itu pasti akan menghancurkan segalanya.

"Tsunayoshi." Suara itu.

Laki-laki berjubah hitam dan berkacamata hitam.

[Hibari…san..] Hibari berjongkok, dan melepaskan ikatan tali Tsuna.

"Tsunayoshi, aku—" Namun Tsuna menampar uluran tangan Hibari.

Tatapan ketakutan dan kebencian. Walau tak bisa melihatnya, namun Hibari bisa membayangkannya. Persis seperti yang diharapkan Hibari.

"Rupanya benar, kau membenciku.." Hibari tersenyum getir.

[Setelah apa yang kau lakukan? Tidak heran aku begini..] Air mata sudah terbendung dipelupuk mata Tsuna. Ia masih shock mengingat hal yang sekarang ia 'dapatkan' itu.

Kembali, Hibari tersenyum getir, "Kalau begitu, atas apa yang telah kulakukan, aku akan membayar.."

Tsuna melongo. Sepertinya, ia pernah mendengar kalimat itu.

Tapi, kejadian itu berlangsung sangat cepat dimata Tsuna.

SLEP!

CRAT!

[A—] Belum sempat membuka mulut, hal itu terjadi.

Darah. Merah segar, menguar dari tubuh itu. Anyir. Semua masuk kedalam indera Tsuna.

"Uhuk! Urgh—" Cairan merah itu keluar dari mulutnya. Tidak. Bukan begini yang Tsuna harapkan.

[Tidak…] Walaupun Tsuna membencinya, tidak mungkin ia melihat orang yang pernah dicintainya begini.

[TIDAAK!] Dalam diam, Tsuna merintih. Memanggil sosok yang sudah membatu itu.

.

.


"Kau menyesal, Tsunayoshi?"

Ya.., aku menyesal..

"Bodoh. Aku sudah membayar hutangku. Seharusnya kau bahagia.."

Tidak..aku tidak bahagia sama sekali..

"Eh? Kenapa..?"

Walau aku membencimu, tapi..

"Sudahlah, Tsunayoshi. Aku telah membunuh ayahmu dan anggota kerajaanmu. Sudah cukup beban yang kau dan aku tanggung selama 6 tahun ini.."

Tidak..

"Terimalah bayaran ini, Tsunayoshi."

Selamanya tidak..

"Kalau tidak aku tidak bisa tidur dengan tenang.."

Kalau begitu kembalilah. Aku tarik semuanya..

"Tidak bisa, Tsunayoshi.."

Aku minta maaf…

"…akulah yang harusnya mengatakan itu.."

Tidak.., ini memang salahku..harusnya kita tetaplah teman..

"…maaf, Tsunayoshi.."

Tidak..Hibari-san, jangan pergi..

"Sudah waktunya, Tsunayoshi. Semoga kau menjadi raja yang sukses.."

TIDAK! MAAFKAN AKU, HIBARI-SAN! KEMATIAN BUKANLAH BAYARAN ATAS SEMUANYA! KEMBALI!

"Sampai jumpa, Tsunayoshi.."

Tidak..kembalilah…

Aku menyesal..


.

.

Bertahun-tahun berlalu.

"Tsuna-kun, ini tehnya.." Anda ingat siapa? Dahulu, ia hanya koki kerajaan. Ia menyajikan teh hangat pada sang suami.

[Arigatou, Kyoko..] Tsuna menerima cangkir itu dan menyesapnya sedikit. Ah, pengalaman didapur.

"Tou-san! Kaa-san! Ayo main!" Seorang anak berambut coklat kehitaman datang berlari kearah Tsuna dan Kyoko. Tatapan binarnya mengharap sang ayah dan ibu menemaninya bermain.

[Ah, Kyoya.., ayah dan ibu…sedang sibuk..] Tsuna menatap Kyoko dengan tatapan simpatik. Kyoko hanya tersenyum.

"Sudahlah, Kyoya, ayahmu capek.., sini, ibu temani.." Anak yang dipanggil Kyoya itu tersenyum senang dan menarik tangan sang ibu. Tsuna menghela napas lelah. Dasar anak-anak.

Tatapan Tsuna menerawang. Ia menatap anak pertamanya, sang calon penerus kerajaan, dari kejauhan. Rambutnya yang entah mengapa ada surai kehitaman, mengingatkannya pada seseorang. Tentu sifatnya tidak sama dengan orang itu.

Itulah yang membuat Tsuna memberi nama anaknya sama dengan orang itu.

[Hibari-san, kau memberikan sedikit aksenmu pada anakku.., kenangan yang indah…] Tsuna tersenyum manis, sekaligus getir.

Walaupun ia telah tiada, niscaya, orang itu masih memandang dari nirwana sana, lalu mendengus kesal.

"Tsunayoshi. Enak saja menggunakan namaku pada anakmu.." Tsuna jadi terkekeh sendiri membayangkan hal itu.

[Arigatou, Hibari Kyoya-san..]

Langit biru nan indah, berselubung awan yang egois mengapung bebas, namun memberikan ketenangan dan keteduhan. Tawa seorang anak polos mengudara bebas, Sawada Kyoya, tersimpan kekuatan misterius yang tak diketahui.

.

.

_FIN_


Prince Who Dumb! Tamat! Dan akhirnya sumpeh, aneh amat ._.

Terimakasih yg udh setia ngikutin cerita Prince Who Dumb sampe akhir.., dan akhirnya…, semoga kalian ga kecewa *ngumpet di bawah meja*

Okay, mau memberikan jejak terakhir?

Hountou ni arigatou!

.

Sign,

AGS—Ameru dan Genjirou Sawada.