.
.
-It Has to be You-
.
.
Udara musim semi di Korea benar-benar sejuk. Aku merasakannya setelah kami turun dari pesawat. Angin musim semi menerpa kami dan aku merasa tepat memilih sweater rajut lengan panjang dan celana skinny jeans berwarna biru dongker ini. Wajahku pasti bengkak sekarang karena aku hanya tidur beberapa jam di pesawat, dan itu pun tidak nyenyak. Perasaanku bercampur aduk dan aku benci mengakui bahwa aku merasa tegang setelah sampai di Korea. Berbanding terbalik dengan Minseok oppa, ia terlihat segar sekarang karena dari awal penerbangan ia langsung tidur dan baru bangun satu jam sebelum kami sampai. Tadinya kupikir ia mati dalam tidurnya karena Minseok oppa benar-benar terlelap seperti mayat, syukurlah ia masih bernafas sampai sekarang.
Beberapa orang berbaju hitam mendatangi kami saat kami sampai di ruang tunggu. Mereka seperti bodyguard di film-film luar negri karna badan besar mereka yang kontras terlihat bahkan dari luar pakaiannya. Mereka berbicara dengan Produser Kang dan ia tampak panik setelahnya.
"Apa kau menggunakan make up?" Produser Kang menoleh kepadaku dan pertanyaannya membuatku kaget.
"Uhm, well.. Aku hanya menggunakan BB cream dan eyeliner sebelum kita berangkat dari Inggris." jawabku jujur. Aku bukan orang yang suka make up, jadi aku hanya menggunakan alat make up yang benar-benar simple, malah terkadang Minseok oppa lebih hebat dalam menggunakan alat make up daripada diriku.
"Pakailah make up yang bagus, ada banyak wartawan dan media di luar!" Produser Kang mengambil handphone-nya dan melangkah pergi.
"Aku suka tampilan wajahku. Kenapa aku harus menggunakan make up yang berlebihan kalau begini saja aku sudah terlihat cantik." gumamku dihadapan Minseok oppa.
Ia terkekeh, "Well, kau memang cantik. Tapi tidak ada salahnya jika kau memperbaiki make up mu supaya kau semakin terlihat cantik di kamera. Ayo, aku akan membantumu make up!" Minseok oppa dan aku pergi ke sebuah ruangan khusus yang disediakan untuk menunggu selagi Produser Kang menangani kekacauan di luar sana.
Produser Kang bilang bahwa kemungkinan kita akan keluar dari pintu khusus atau pintu belakang untuk menghindar dari serbuan wartawan. Aku jadi bertanya-tanya, seberapa banyak wartawan dan media yang berkumpul di luar sana? Apa ada dari mereka yang datang sebagai fans ku? Berita kepulanganku ke Korea ternyata sudah menyebar sejak awal April lalu. Pihak managementku yang mengkonfirmasi hal ini langsung pada media, jadi jelas saja mereka semua berkumpul di bandara. Dari sana aku menyadari bahwa aku sudah benar-benar terkenal dan mungkin aku harus terus menggunakan make up secantik mungkin bahkan hanya untuk membeli kopi di ujung jalan.
Minseok oppa selesai memoles wajahku setelah ia berkutat dengan eyeliner dikedua mataku, "Nah, sudah selesai.." pekiknya senang.
"Gomawo, oppa.." sahutku tidak kalah senang sambil bercermin. Oppa tidak pernah mengecewakanku dengan hasil make up nya, make up nya simple tapi tetap elegan, sesuai keinginanku.
Entah berapa lama lagi aku dan oppa harus menunggu disini, kami bahkan sudah menghabiskan kopi yang dibelikan oleh Produser Kang sejak 10 menit yang lalu. Aku sudah bosan dan akhirnya aku mengambil remote TV dan menyalakannya. Minseok oppa hanya menoleh sekilas ketika TVnya menyala dan kembali berkutat dengan handphonenya. Acara pertama yang keluar adalah acara talkshow bertema musik, ada beberapa cuplikan dan teaser-teaser yang ditampilkan dengan cepat, sampai akhirnya seorang perempuan yang sepertinya adalah pembawa acara talkshow tersebut muncul dilayar.
"Selamat siang, pemirsa Music Talkshow. Seperti yang Anda lihat sebelumnya, pasti Anda sudah tahu bahwa bintang tamu kita kali ini sangat istimewa. Sudah hadir di studio, seorang rookie, penyanyi solo pria yang sangat tampan, mari kita sambut, Choi Minhoooo..!" si pembawa acara memekik kencang dan kemudian kamera menyorot Choi Minho yang datang dari sisi kiri panggung. Aku menutup mulutku yang menganga lebar karena tak percaya. Ia berjalan masuk dengan langkahnya yang lebar dan berdiri di samping si pembawa acara sambil tersenyum manis sebelum akhirnya duduk berdampingan dengan si pembawa acara di atas sebuah kursi tinggi.
"Woahh, bukankah itu Minho? Choi Minho yang satu agency denganmu?" Minseok oppa langsung mengalihkan pandangannya setelah Minho muncul dilayar TV. "Ternyata ia benar-benar tampan yah, kau sampai terpana begitu. Nanti kita pasti akan bertemu dengannya, tapi kau jangan menunjukkan wajah yang seperti itu, okay? Bagaimana pun kau kan penyanyi internasional, kau sunbae-nya." Minseok oppa menyikut lenganku dan nyengir sambil mengeraskan suara TVnya.
Kurasa paru-paruku langsung menciut karena aku bahkan tidak tahu lagi bagaimana caranya bernafas. Minho muncul tepat di layar TV dan membuatku kaget. Ia sedikit banyak berubah, rambutnya sudah tidak hitam, warna rambutnya berubah menjadi agak coklat tua, dan ia memotongnya dengan gaya yang pas sekali dengan bentuk wajahnya. Ia tampak 100, ah tidak, bahkan 1000 kali lebih tampan sejak terakhir kali aku bertemu dengannya. Minho memakai setelan jas dan celana panjang hitam dan di dalamnya ia menggunakan kaos putih polos. Ia bahkan tidak seperti seorang manusia karena penampilannya yang begitu sempurna, dan bagaimana mungkin ia terus-terusan mengerling pada si pembawa acara dan tersenyum sangat manis didepannya? Menyebalkan sekali!
"Selamat datang, Minho-ssi.. Ini pertama kalinya kau hadir dalam acara talkshow, kan? Ku harap kau tidak tegang.." si pembawa acara tertawa girang, dan Minho pun ikut tertawa bersama.
"Nde, ini pertama kalinya aku tampil di acara talkshow. Aku sedikit tegang, tapi aku akan berusaha menampilkan yang terbaik." jawabnya santai. Yah, harus ku akui itu memang ciri khas Minho, ia selalu santai dalam keadaan apa pun.
"Debutmu baru bulan lalu, dan lagumu langsung all-kill di semua chart musik Korea, bahkan kau bersaing ketat dengan penyanyi Park Hyerin-ssi. Bagaimana perasaanmu?"
"Aku tidak menyangka bahwa laguku akan langsung diterima dengan baik oleh masyarakat. Aku senang karena aku diapresiasi dan dicintai oleh begitu banyak orang. Mengenai laguku yang bersaing ketat dengan lagu Hyerin, kurasa itu suatu keberuntungan. Tentu saja akan sangat sulit bagiku untuk bisa menyusulnya, walaupun aku benar-benar ingin." Minho menaikan sudut bibirnya dan menatap kamera dengan kerlingannya yang menyebalkan.
"Hahahaa, kau terdengar sangat akrab dengan Park Hyerin-ssi saat menyebutkan namanya." sahut si pembawa acara sambil melihat Minho curiga. "Ku dengar lagu debutmu, Waiting for Luck merupakan pengalaman pribadimu, apa benar?"
Minho tersenyum tipis dan mengangguk, "Ne, aku membuat lagu itu berdasarkan pengalaman pribadiku. Aku menulis liriknya sendiri dalam waktu semalam, dan Produserku bilang bahwa aku harus langsung merekamnya setelah ia mendengar demo musiknya."
"Wahh, kurasa itu merupakan pengalaman yang berkesan untukmu. Ada bagian lirik dimana lagumu menceritakan sebuah kisah yang romantis, tapi ada juga lirik dimana lagumu bisa jadi terdengar sedih. Apakah ini berkaitan dengan kehidupan asmaramu?" si pembawa acara dengan berani mengajukan pertanyaan itu sambil mencondongkan tubuhnya ke arah Minho. Minho yang duduk di kursi disampingnya hanya tersenyum menanggapi pertanyaan itu. Apa ia akan bilang pada seluruh orang bahwa yang dimaksud lagunya itu aku? Tapi tunggu, aku bahkan belum medengar lagu Minho, jadi bagaimana kalau yang dimaksud Minho dalam lagunya itu bukan aku? Sial! Aku pasti akan menghabisinya jika itu benar.
"Yah, lagu ini berkaitan dengan kehidupan pribadiku. Aku menyukai seorang gadis, tapi gadis itu menyukai pria lain, bagian itu yang membuat lagunya terdengar sedih. Tapi aku merasa beruntung mengenalnya, dan aku mau menyukainya sampai kapan pun walau aku tidak tahu kapan aku bisa memilikinya." Minho mengatakannya dengan tenang sambil menatap lurus ke kamera yang menyorotnya.
"Jadi, apa kau sedang menunggunya? Kau tahu apa yang kau ucapkan barusan bisa saja membuat semua penggemarmu kecewa, Minho-ssi.." pembawa acara terdengar menyindir Minho.
"Nde, aku menunggunya. Aku masih menunggunya kembali. Aku justru akan membuat penggemarku kecewa jika aku tidak mengatakannya terus terang. Bagiku, semua fans yang selama ini sudah mendukungku adalah orang-orang yang berharga, mereka bagian dari diriku sekarang, dan akan tetap seperti itu walau aku sudah tidak bisa berdiri di panggung lagi." Minho menjawab dengan raut wajahnya yang serius. Dan sialnya, semua fans nya pasti akan semakin terpesona dengan Minho, walau Minho akan mematahkan hati mereka berkai-kali.
"Betapa beruntungnya gadis itu. Kau rela menunggunya sampai kapan pun, dan tidak ada sedikit pun keraguan yang kulihat dari wajahmu saat kau mengatakannya. Tapi, siapa sebenarnya gadis ini, berani sekali dia membuatmu menunggu selama itu? Apa ia tidak tahu bahwa ada banyak sekali gadis yang rela menggantikan posisinya di hatimu?" pembawa acara bertanya lagi sambil tertawa mengejek. Pembawa acara ini benar-benar menjengkelkan! Demi apa pun aku tidak akan mau datang ke acara dimana ia jadi hostnya.
Minho tertawa kecil, "Aku tidak tahu apa ia tahu bahwa ada banyak sekali gadis yang lebih daripadanya di luar sana, tapi tidak apa-apa. Ia akan kembali, dan aku akan menjemputnya. Aku akan mengatakan langsung dihadapannya, bahwa aku tidak akan menunggu lagi, karena kali ini akan ku pastikan bahwa ia akan jadi milikku. Ku harap ia mendengarnya saat ini." katanya mantap sambil tersenyum lebar menatap kamera yang menyorotnya. Seketika jantungku terasa berhenti berdetak, kosong dan hampa pada saat yang bersamaan. Apa maksud Minho ada banyak gadis di luar sana yang lebih daripada aku? Berani sekali ia mengatakan bahwa aku akan menjadi miliknya? Sungguh menggelikan, ia tidak berubah sedikit pun dari segi sifat. Tetap menyebalkan seperti dahulu kala. Aku segera mematikan TV dan membuang remotenya begitu saja di samping sofa.
"Yah, kau kenapa? Kenapa kau mematikan TVnya?" Minseok oppa mengerutkan keningnya dan terlihat bingung.
"Aku bosan, dimana sebenarnya Produser Kang? Ini benar-benar menyebalkan!" aku melipat kedua tanganku, dan berjalan menuju meja rias tanpa menganggapi oppa.
"Bersabarlah, kurasa kepopuleranmu sudah melintasi berbagai benua, sampai-sampai Produser Kang tidak bisa menangani semua wartawan itu." Minseok oppa mendekatiku dan mengelus rambutku.
"Hyerin, Minseok, ayo kita pergi!" tiba-tiba pintu terbuka dan muncul Produser Kang dibaliknya.
"Kenapa lama sekali, Produser Kang? Apa kita sudah bisa pergi sekarang?" tanyaku mendekatinya.
"Semua wartawan itu benar-benar gila!" Produser Kang memekik frustasi sambil memijit keningnya. "Bagaimana munkin mereka menunggu kita dari berbagai arah? Aku sampai harus menyewa bodyguard untukmu!"
Aku dan Minseok oppa hanya terdiam. "Minseok, pastikan kau menjaga Hyerin. Kita tidak bisa keluar dari pintu belakang, jadi kita akan menggunakan pintu depan, semoga kondisinya sudah kondusif." Produser Kang berjalan di depan kami sambil menelpon, ia terus-terusan meracau dan marah-marah.
Aku merangkul lengan Minseok oppa erat-erat saat kami masuk untuk turun dengan lift. Entah kenapa jantungku berdegub kencang sekali, dan tiba-tiba saja perutku sakit.
"Hyerin-ah, tanganmu dingin sekali. Apa kau baik-baik saja?" Minseok oppa menatapku dengan raut wajah khawatir.
"Oppa, perutku sakit. Kurasa aku tegang." kataku pelan.
"Yah, bisa kurasakan detak jantungmu seperti akan meledak. Tenanglah, kau bahkan tidak pernah demam panggung sebelumnya, jadi sudah seharusnya kau juga tidak merasa tegang disaat kau akan disambut oleh para wartawan." Minseok oppa menenangkanku sambil mengelus-ngelus tanganku.
"Oppa, apakah riasanku bagus? Apa aku harus touch up lagi?" aku melepas rangkulan di lengan oppa dan berkaca di dinding lift. Kenapa aku jadi sangat tegang? Padahal sebelumnya aku yang bilang bahwa tapa make up pun aku tetap terlihat cantik.
Minseok oppa hanya tertawa geli, "Kau cantik, Hyerin-ah.. make up mu juga bagus, tidak perlu touch up lagi.." jawabnya menenangkanku.
Pintu lift terbuka dan kami segera keluar. Ada begitu banyak kilatan lampu kamera dan suasananya ramai sekali diluar sana. Minseok oppa langsung menggandeng tanganku erat dan mendekat pada Produser Kang agar kami tidak terpisah. Jalan kami tertutup oleh banyaknya wartawan dan media yang datang ke bandara. Bodyguard yang disewa Produser Kang membuka sebuah jalan agar kami bisa lewat di tengahnya. Beberapa wartawan mengarahkan mic nya ke wajahku dan terus menerus bertanya mengenai debut dan albumku. Ada juga yang menanyakan tujuanku kembali ke Korea. Suara mereka benar-benar kencang dan aku sampai pusing mendengarnya karena ditambah lampu kamera yang terus menerus mengenai mataku.
Sesampainya kami di ujung jalan yang dibuka untuk kami keluar, suasana semakin ribut dan banyak sekali wartawan yang berteriak. Aku hanya bisa menundukkan kepalaku agar mataku tidak terkena lampu kamera. Tapi tiba-tiba saja Produser Kang dan Minseok oppa berhenti, aku langsung menanyakannya pada oppa, "Oppa, ada apa? Kenapa berhenti?" aku menoleh pada Minseok oppa dan oppa hanya memandang lurus ke depan tanpa menoleh sedikit pun padaku.
"Kurasa kau harus melihat ini, Hyerin. Kenapa dia bisa ada disini?" Minseok oppa menjawabku sambil menunjukkan jarinya ke depan. Aku mengikuti arah yang ditunjuk oppa dan menemukan seseorang menghalangi jalan keluar kami.
Demi Tuhan! Choi Minho! Ia mengenakan setelan yang sama dengan yang kulihat di acara talkshow tadi. Ia membawa sebuah bouquet bunga besar ditangan kirinya. Bunga mawar dengan warna gradasi biru dan putih. Ia memandangku dan dengan senyumannya ia berjalan mendekatiku sambil melewati Produser Kang dan bodyguard-bodyguard yang ada disekitar kami. Aku hanya terperangah dan tubuhku kaku tidak bisa bergerak. Aku semakin mengeratkan genggamanku pada Minseok oppa, dan ia meringis kesakitan. Minho sampai di depanku, dan ia melihat genggaman tanganku pada oppa, dan dengan segera Minseok oppa memaksa melepas tanganku dan menyingkir dari sana.
"Selamat datang kembali, Hyerin.." sahut Minho sambil mengulurkan bunga padaku.
Aku mengulurkan kedua tanganku dan menerima bouquet besar itu dari tangannya. Semua wartawan dan media terus saja mengambil gambar kami dan menunggu apa yang akan aku katakan.
"Apa kau sudah gila?" kataku tak percaya. Bagaimana mungkin Minho bisa hadir disini, dihadapan para media dan wartawan dan menemuiku untuk menyerahkan bunga ini? Kurasa aku akan jadi headline yang menghebohkan satu Korea Selatan karena Minho.
"Jika aku gila, maka kau lah penyebabnya." Ia tersenyum sangat manis sambil memiringkan kepalanya. Ya Tuhan, jika tidak ada media atau wartawan disekeliling kami, mungkin aku sudah memukulnya, mengahajarnya, memakinya, ah tidak, mungkin yang benar-benar akan aku lakukan adalah aku akan langsung menghambur ke arahnya, memeluknya dengan erat, dan tidak akan pernah ku lepaskan.
"Bogoshippeo.." Minho mengatakannya dengan lembut bahkan sampai hampir tidak terdengar olehku. Aku menatap ke dalam mata Minho dan tiba-tiba saja hatiku seperti mencair. Ada banyak genangan air mata yang menumpuk dikedua mataku. Aku tidak bisa menahannya lagi saat Minho tersenyum dan mengucapkannya lagi untuk yang kedua kalinya dengan jelas dihadapanku, "Park Hyerin, bogoshippeo..". Aku langsung memeluknya erat dan menumpahkan semua air mataku.
"Bo-bogoshippeo.." kataku sambil sesenggukan. "Bogoshippeoso, Minho-yaa.." aku membalas ucapan Minho bukan hanya di hadapan Minho tapi di depan semua orang di bandara. Aku tidak peduli lagi walau riasanku harus luntur karena tangisanku dan para wartawan itu akan mengambil gambarku saat aku sedang jelek karena menangis. Aku hanya ingin menikmati moment ku bersama Minho yang sudah lama sekali aku rindukan. Minho mengeratkan pelukannya dan menumpukan dagunya di bahuku. Ia terkekeh geli saat aku terus saja sesenggukan karena tidak bisa berhenti menangis.
"Saranghae, Hyerin-ah.." Minho mengucapkannya tepat di telingaku, dan tidak mungkin aku tidak mendengarnya. Aku langsung berhenti menangis dan seketika itu juga aku merasa seperti tubuhku tidak lagi berpijak di bumi, badanku serasa melayang, dan aku benar-benar gembira setelah mendengar Minho mengucapkan hal itu. Ia melepas pelukannya dan menatapku dengan matanya yang berbinar. Kami saling memandang untuk beberapa saat sampai Minho mengahapus sisa air mata yang mengalir di pipiku.
"Bukankah seharusnya ada yang harus kau katakan padaku?" tanya Minho sambil memegang kedua bahuku.
"Nado!" jawabku cepat. "Nado saranghaeyo, Minho-yaa.." Minho terkekeh melihatku dan ia memegang kedua pipiku.
"Haruskah aku melakukan sesuatu agar ini semakin menarik?" Minho mengedipkan mata kanannya dan melihat sekitar kami. Masih ada banyak wartawan yang tidak ada henti-hentinya mengambil gambar kami berdua disini, dan kurasa suasana semakin brutal dan ribut sekali karena banyak dari mereka yang saling mendorong karena terhalang oleh penjagaan bodyguard.
"Melakukan apa?" tanyaku bingung. Dan tiba-tiba saja Minho menciumku. Di depan semua orang! Mataku terbelalak saking kagetnya. Ia bukan saja hanya menciumku, tapi ia melumat bibirku di hadapan semua orang di sini. Aku hanya bisa mendengar berbagai sorakan dari sekeliling kami dan riuh tepuk tangan orang-orang. Aku menatap Minho dengan kedua mataku yang membulat, masih tidak percaya dengan kelakuan gilanya padaku di depan umum seperti ini. Matanya terpejam, dan ia terus menuntunku untuk membalas ciumannya. Minho menarik pinggangku dan membawanya lebih erat, ciumannya semakin dalam dan menuntut sampai akhirnya aku pun ikut memejamkan kedua mataku dan membalas ciumannya. Aku mengalungkan kedua lenganku di belakang leher Minho, dan kami benar-benar sudah hilang kendali. Harusnya ini ciuman pertama kami, instens, dan penuh sensasi menggembirakan. Perlahan kami berhenti dan aku hanya bisa terengah-engah sesudahnya. Kening kami menempel, dan begitu aku melihatnya, ia hanya menyeringai nakal, "Kupastikan hanya aku yang bisa menciummu seperti itu." katanya sambil tersenyum. "Dan di tempat umum seperti sekarang." tambahnya lagi sambil mengedipkan mata kanannya. Aku tertawa geli saat kalimat terakhir Minho itu keluar dari mulutnya. Kurasa Minho benar-benar sudah gila, atau mungkin ia terkena star syndrome dan menuntut untuk mendapat banyak publikasi atau pengakuan dari orang lain.
"Aku memang hanya pernah dicium olehmu, dan aku yakin kau benar-benar haus akan popularitas sampai-sampai melakukan hal segila ini padaku." jawabku sambil mejauhkan wajahku dari keningnya.
"Aku bisa melakukan hal gila apa pun jika aku bersamamu." Minho melengkungkan senyumannya dan kemudian ia menarikku pergi dari sana, melewati kerumunan wartawan beserta Produser Kang dan Minseok oppa yang hanya bisa tercengang melihat kami pergi begitu saja. Entah akan pergi ke mana, tapi jika itu bersama Minho aku akan mengikutinya. Aku percaya bahwa bersama Minho lah seharusnya aku berada. Aku tidak ingin lagi tersiksa karena harus merindukannya berada disisiku. Aku mau menggenggam tangannya, memeluknya erat, dan tidak pernah akan ku lepas. Karena aku mencintainya, aku mau terus menjalaninya bersama Minho.
-The End-
