Disclaimer: All character belong to Masashi Kishimoto. But this story purely mine. I don't take any profit from this work. It's just because I love it.
Warning: AU, miss-typo, OOC, another NaruSaku fic. M just for safe.
And for all anti-NS, if you DON'T LIKE, I know you'll smart enough to DON'T READ
.
Come Hell or High Water
by LastMelodya
.
.
"The longer you stay in the friend zone, the harder it is to get out. If you want a girl, man up, and get her. -Tumblr"
.
.
Chapter 8
Because I'm tired with this fucking weird feeling
.
.
Naruto tak dapat memejamkan matanya. Berkali-kali ia mencoba, berkali-kali pula usahanya gagal. Trial and error. Again and again. Dan, begitu seterusnya. Hingga rasanya ia sudah melakukan hal itu beribu-ribu jam yang lalu. Bahkan persedian domba yang ia hitung sudah habis. Dan ia tetap tak bisa terlelap.
Safirnya akhirnya menyerah. Netra itu tak mau terpejam barang sebentar, maka Naruto pun bangkit dari tempat tidur dan berjalan ke arah dapur. Mencari apa saja, untuk dimakan atau diminum. Mengalami insomnia tanpa melakukan hal apapun bukanlah hal yang ia sukai. Mungkin, setelah menemukan cemilan dan minumannya, ia akan pergi ke ruang tengah dan memutar film horror di sana. Atau film blue, terserah.
Gerakannya sesaat berhenti ketika mendapati sepiring salad yang tertutup rapi dengan food plastic di meja makannya.
"Untuk menetralisir tubuhmu, baka. Kau sama saja bunuh diri jika hanya sering memakan makanan instan dan minum-minum alkohol. Coba, kalau tidak numpang makan denganku, kau makan apa?"
"Hm, ramen. Atau delivery pizza, bakmie, apa saja lah yang mudah dimakan."
"Baka."
"Makanya jangan marah kalau aku menumpang makan denganmu, Sakura-chan. Kau itu sumber kesehatanku, tahu?"
"Ish, kau ini. Memangnya aku akan selalu bisa memasak untukmu? Pikirkan juga kalau aku tidak sempat atau—"
"—iya, iya. Aku bawa saladnya. Cerewet."
Konversasinya dengan Sakura sehabis makan malam tadi tiba-tiba saja kembali berputar di pikirannya. Ia lupa memakan salad pemberian Sakura itu, dan akhirnya hanya meletakkannya di meja makan.
Hatinya menghangat.
Naruto mengambil salad itu. Gerakkannya kembali berpindah menuju kulkas, mencari-cari minuman di sana. Ia meringis ketika hanya mendapati botol-botol minuman beralkohol dan kaleng-kaleng soda.
"Kau sama saja bunuh diri jika hanya sering memakan makanan instan dan minum-minum alkohol."
Sembari mendengus, pria itu akhirnya mengambil gelas di rak dan menuang air putih dari dalam dispenser. Air hangat.
Bukannya menuju ruang tengah, langkah Naruto justru kembali ke kamar tidurnya. Ia menghempaskan tubuh di sofa panjang di sebelah ranjangnya, duduk bersila dan mulai memandangi salad buatan Sakura dalam hening.
"Apa yang salah dengan otakku, Sakura-chan?" pria itu bergumam lirih, "kau selalu muncul di dalamnya."
Hanya detak jarum jam yang mendominasi ruangan itu. Terkadang, suara mesin pendingin ikut berpartisipasi membentuk resonansi di dalamnya. Malam telah larut. Lewat dari larut. Karena jam dinding kini sudah berada di antara angka satu dan dua.
Naruto tak pernah memikirkan hal ini sebelumnya. Tentang segala otak dan pikirannya yang perlahan mulai dijajah oleh gambaran satu entitas. Ia tak menyadari, atau bahkan sadar tapi tak memedulikan. Atau bahkan peduli, tapi tak ingin menghindar. Karena, jajahan itu menyenangkan. Sakura yang berada dalam pikirannya itu menyenangkan dirinya. Senyum gadis itu, tawa gadis itu, kekesalan gadis itu, suaranya… apapun tentang Sakura yang ada dalam otaknya, itu menyenangkan.
Astaga … apakah?
Safir itu perlahan melebar, ketika menemukan satu verba yang selama ini tak pernah ada atau melintas dalam pikirannya. Satu hal yang tak pernah ia yakini, atau berusaha ia cari. Sesuatu yang selama ini ia mainkan.
Naruto ingat, terhitung sampai hari ini, ia sudah dua minggu lebih tak memiliki teman kencan. Atau lebih tepatnya tak mencari. Dua minggu ini ia merasa kembali dekat dengan Sakura, namun relasi ini terasa berbeda dibanding relasi mereka yang dulu. Sangat berbeda, setidaknya bagi dirinya.
Ada rasa senang yang lebih besar ketika ia bersama Sakura. Ada kepuasan tersendiri, ada sebuah keprotektifan dan keegoisan yang membuatnya ingin menahan Sakura hanya dengannya saja. Ia … seperti pria yang haus akan kehadirannya. Sakura menahannya dari segala dunia luar, yang harusnya menjadi kebiasaan statis dirinya. Sakura berhasil menahan dari semua itu, dan menarik dirinya ke dalam gelombang milik gadis itu.
Kenyamanannya bersama Sakura membuatnya … berhenti berkencan dan bermain-main dengan wanita.
Naruto tak ingin mengelak, tapi ia belum begitu yakin akan hal ini.
Matanya menangkap voucher Namikaze Travelling Pocket miliknya di sudut meja serbagunanya. Voucher yang sama dengan voucher yang ia berikan pada Sakura beberapa waktu lalu. Voucher yang akan membawanya pergi ke luar benua bersama Sakura. Berdua saja. Kini, dadanya tiba-tiba saja bergemuruh, jantungnya berdetak cepat, pria itu jadi semakin mengerti mengapa gagasan itu menjadi sebuah hal menyenangkan yang membuat hatinya sangat-sangat bahagia.
"Oh, fuck this feeling. Fuck you, Haruno Sakura."
Ia jatuh cinta dengan gadis itu.
Naruto jatuh cinta dengan Sakura, sahabat baiknya.
…
"Apa Si Pirang itu lupa dengan jadwal ini?" Sasori mendengus kesal ke arah Sasuke dan Shikamaru. Pria itu melempar puntung rokoknya ke dalam asbak pada meja di hadapan mereka.
Sasuke mengangkat alis, "hn, kurasa tidak. Kupikir Si Dobe itu yang paling bersemangat dengan rapat ini, bukan?"
"Coba kita tunggu sebentar lagi," Shikamaru menengahi perbincangan tersebut. Ia tahu, jika sudah menyangkut hal ketelatan rapat atau latihan, Sasori adalah orang yang sulit ditolerir. Apalagi jika tak ada alasan apapun yang melatarbelakangi keterlambatan tersebut. Sulit sekali membuat pria itu diam barang sebentar.
"Kalau sampai ia telat karena kencan…" Sasori menggeram, "aku akan mengeluarkannya dari Sunset." Decihnya kemudian.
Shikamaru tertawa geli, Sasuke mendengus.
"Kaupikir ia akan mengencani siapa sepagi ini? Sakura?" ujar pria tampan berambut biru kehitaman itu. Tanpa disadari, kedua lelaki yang berada di sebelahnya menoleh dengan gerakan cepat.
Sasuke mengangkat bahu, "aku bercanda. Lagipula, memang hanya Sakura satu-satunya wanita yang kemungkinan besar dapat ditemui Naruto sepagi ini."
Sasori kini balas mendengus, entah mengapa, pria berambut merah itu terlihat tak suka dengan ucapan Sasuke. "Taruhan, aku akan mengencani salah satu groupies Sunset yang paling jelek kalau Sakura mau disentuh oleh Naruto sepagi ini."
Shikamaru menyeringai, "pengalaman pribadi, eh?"
Sasori memalingkan wajah. Sialan. Lagipula, ia memang bisa dikatakan berpengalaman dalam hal menyentuh Sakura. Jangankan sepagi ini, ketika larut malam penuh gairah saja gadis itu bertahan dengan segala keangkuhannya.
"Jadi kau masih kesal karena tak berhasil menyentuh Sakura, hn, Sasori?" Kini Sasuke yang menyeringai.
Yang digoda menatap tajam teman satu band-nya itu, "memang kaupikir sudah sejauh apa kau menyentuh Sakura ketika kalian bersama, eh, Sasuke?"
Tiba-tiba saja seringaian di wajah Sasuke menghilang, wajahnya berubah datar dengan ekspresi dingin khasnya yang muncul mendadak. "Aku bersama Sakura bukan seperti kau yang hanya ingin mengincar tubuhnya, brengsek."
"Dasar naïf, pada kenyataannya kau juga belum pernah menyentuhnya, kan?"
"Kau, brengsek—"
—Bukh. Bukh.
Secepat ucapan Sasori dan Sasuke, secepat itu pula sebuah pukulan yang melayang di wajah keduanya.
Sasori dan Sasuke mengernyit, merasakan denyutan menyakitkan yang bersarang di pipi masing-masing. Keduanya menoleh, bermaksud untuk melihat siapakah pemilik kepalan sialan yang sudah melepaskan tinjunya pada wajah tampan mereka berdua.
Seketika itu juga, mata mereka bertemu dengan sepasang safir yang menyala-nyala.
"Sekali lagi kalian membicarakan hal-hal tak pantas tentang Sakura-chan, aku tak akan segan untuk membuat wajah kalian hancur."
Naruto berdiri di sana. Dengan helaian pirang acak-acakan dan air muka yang menegang. Ia marah, ketika ia baru saja melangkahkan kakinya di studio mereka, tiba-tiba indera pendengarannya sudah menangkap suara dua teman brengseknya itu tengah merendahkan Sakura.
"Sudahlah, Naruto. Sebaiknya kita mulai rapatnya." Shikamaru akhirnya angkat bicara, lagi-lagi berusaha untuk menengahi ketiga rekannya tersebut. "Kuharap kita tidak mengecewakan penonton nanti malam."
Naruto mengepalkan tangannya, sedikit meredam emosi di sana hingga akhirnya ia mengangguk dan melangkah menuju sofa kemudian menghempaskan diri di sebelah Shikamaru. Setidaknya, masih ada satu sosok yang normal di sini, pikir Naruto geram.
Sasori dan Sasuke—masih dengan wajah kesal, akhirnya ikut kembali duduk di sofa berhadapan dengan mereka. Sudut bibir Sasori terlihat memerah, berbeda dengan Sasuke yang sepertinya sedikit lebih beruntung karena pukulan Naruto hanya mendenyutkan pipi tirusnya.
"Kenapa kauterlambat?" Sasori membuka suara sebelum segalanya dimulai, hazel-nya menatap Naruto sinis.
"Masih penting menanyakan hal itu?" Balas Si Pirang tak kalah sinis, "setidaknya aku sudah hadir."
"Sekali lagi kuingatkan, kita memiliki komitmen."
"Aku tahu."
"Kau tahu tapi kau tetap bertindak seperti itu. Maka aku tanya, apa alasanmu datang terlambat?"
Suasana kembali memanas. Sasuke melirik kedua rekannya dengan tatapan datar, sudah malas menanggapi segala ocehan mereka. Sedangkan Shikamaru, satu-satunya yang masih bisa berpikir rasional, jelas-jelas melihat satu daya tarik-menarik antara dua lelaki yang tengah beradu mulut kini. Entah mengapa, keduanya seperti tengah membentuk sebuah battle tak kasat mata, yang menjadikan keterlambatan Naruto sebagai kamuflasenya. Tatapan mereka bersaing, seolah tak ingin kalah satu sama lain.
Dan Shikamaru berpikir ini ada hubungannya dengan Sakura.
Sudah jelas, setelah beberapa waktu lalu gadis merah muda itu berkencan dengan Sasori, Naruto seolah segera memandang Sasori dengan perspektif lain. Tidak lagi sebagai rekan kerja sekaligus teman. Semua orang tahu Sasori dan Naruto sama-sama memiliki rekor sebagai mesin wanita. Dan keduanya tak masalah dengan ini sebelumnya. Ya, sebelum akhirnya Sakura menjadi salah satu dari wanita-wanita Sasori itu. Meski kemarin Sakura mengatakan bahwa secara harfiah Sasori tak berhasil mendapatkannya, tapi tetap saja judgmental yang diberikan bahwa Sakura pernah menjadi milik Sasori tak akan pernah hilang. Dan Si Pirang itu terlihat keberatan.
Ditambah lagi, akhir-akhir ini Shikamaru memerhatikan bagaimana Naruto mengisolasikan dirinya dari berbagai kencan dari para wanita yang dipilihnya secara acak seperti dulu, dan mendekatkan diri pada Sakura. Ini hanya terlihat … tidak seperti biasanya. Seperti sesuatu dalam diri Naruto telah menyadari hal yang selama ini tersembunyi di sudut-sudutnya itu.
"Aku kesiangan. Puas kau?" Naruto kembali angkat bicara. Sebelum Sasori membalas dengan kata-kata yang tak menyenangkan, Shikamaru akhirnya kembali angkat bicara.
"Baiklah, baiklah. Bisakah kalian berdua menepikan urat persaingan kalian itu untuk nanti? Kaupikir kapan konser kita berlangsung? Besok? Lusa? Minggu depan? Demi Tuhan, malam ini!"
Sasori menunduk, Naruto memalingkan wajah, "maaf. Silakan dimulai."
Menghela napas sedikit, akhirnya Shikamaru—yang entah mengapa kali ini terlihat seperti leader dari para makhluk maskulin itu—akhirnya membuka pembicaraan mengenai konser mereka nanti malam.
…
Sakura menipiskan bibir, sekali lagi memulas lipstick berwarna nude yang ia kenakan pada bibir tipisnya. Setelah terlihat sempurna dan mengilat, gadis itu beralih memerhatikan rambut merah muda sebahunya yang tergerai indah. Perfect. Tak ada yang terlihat cacat atau aneh. Dan terakhir, ia mengecek pakaiannya. Tubuh semampainya masih terbalut setelan kantor, dengan rok pensil dan blous berlapis blazer abu.
"Kau tetap akan pergi ke konser mereka dengan penampilan seperti itu nanti?"
Di sebelahnya, Ino mengujar pelan. Gadis pirang itu tengah memulaskan lipstick merah terang pada bibir seksinya, wajahnya terlampau maju hampir menyentuh cermin toilet hingga membuat Sakura menahan tawa.
"Hm. Memangnya kenapa? Kupikir banyak sekali para direktur berjas yang datang ke klub mahal itu hanya untuk iseng mencoba wine baru atau … wanita baru." Sakura menyandarkan tubuhnya pada sisi dinding toilet. "Lagipula aku tidak bawa baju ganti."
Ino mengangguk-angguk. Menyelesaikan pulasannya dan memberikan senyum terakhir pada cermin di hadapannya sebelum menoleh ke arah Sakura. "Hm, hm. Yang penting kan kau datang, kau itu sumber semangat mereka, tahu?"
"Jangan mengarang, Pig."
"Lho, memang benar, kan?" Ino terkikik. "Kau itu sudah seperti—hm, apa, ya? Kalau di arena racing, istilahnya kau itu umbrella girl mereka. Gadis spesialnya mereka. Coba tebak, sudah ada berapa gadis yang patah hati karena selalu melihat kau berada di teritori mereka setelah para pria tampan itu tampil?"
"Ino! Itu, kan, karena memang aku mengenal mereka. Kupikir kaujuga akan diperlakukan seperti itu jika kau selalu ikut menonton mereka tampil. Itu tidak mengartikan aku yang paling spesial." Sakura membalas dengan wajah geram.
"Yeah, setidaknya spesial untuk salah satunya." Ino menyeringai, kembali menoleh ke arah cermin. "Atau salah duanya? Salah tiganya? Semuanya? Hm… Kau ini sudah terlanjur terikat benang merah dengan mereka semua, Saku. Jadi, jangan membantah kalau kubilang kau itu gadis spesial mereka. Karena kenyataannya memang begitu, bukan?"
Sakura tak menjawab, kenyataan bahwa ujaran Ino memang tak bisa disangkal membuatnya hanya diam dan mendengus pelan. That red string, mungkin memang sudah mengikatnya dengan para lelaki itu. Sasuke, Sasori, Naruto … mungkin memang hanya Shikamaru yang masih dirasa netral untuknya. Walau saat ini Sakura juga sudah tak merasa apapun pada Sasuke dan Sasori. Mungkin hanya satu orang yang…
Gadis itu tiba-tiba menggelengkan kepalanya. Pemikirannya tetiba menjadi taksa, dan ketaksaan itu harus ia lenyapkan.
"Sudah selesai, Pink? Ayo kembali."
Sakura tak menjawab, hanya menatap cermin sekali lagi demi meneliti penampilannya, kemudian pergi keluar dari toilet mengikuti Ino.
…
Pukul tujuh malam kurang lima belas menit lagi, dan Sakura masih berdiri di depan gerbang utama kantornya. Ia tak bisa mencari angkutan umum atau sekadar menumpang dengan teman kantornya untuk pulang ke apartemen, karena Naruto berjanji akan menjemputnya di sini. Bukan penawaran cuma-Cuma, sebenarnya. Ya, walau akhir-akhir ini lelaki pirang itu seolah sudah kembali menjadi supir pribadi Sakura, tapi malam ini ia meminta Sakura untuk berkunjung ke klub tempat Sunset akan tampil. Seperti biasa, menjadi umbrella girl versi Sunset, maybe?
Band mereka akan on air pukul delapan malam. Tak seperti konser-konser sebelumnya yang bebas, konser Sunset kali ini akan diliput secara live oleh salah satu stasiun televisi nasional. Maka dari itu, persiapan yang mereka lakukan sedikit melebihi biasanya. Sakura tahu, jika dibandingkan band-band ternama di Konoha lainnya, nama Sunset memang belum seberapa meroketnya. Namun, di kalangan band indie dan musisi muda yang menyukai band bergenre pop rock ringan, nama Sunset sudah banyak dikenal. Masing-masing dari personilnya juga pastinya sudah dikenal secara umum oleh para pencinta musik Konoha. Khususnya para entitas yang rutin mengunjungi klub dan pub yang tersebar di Konoha. Dari tempat-tempat seperti itulah Sunset lahir.
Sakura mengangkat wajah, menatap jalan padat pusat kota Konoha di bawah langit hitam yang diterangi sinar bulan sempurna. Bunyi klakson terdengar di sekelilingnya. Umpatan kasar, decakkan kesal, dan tawa ringan terdengar sayup-sayup di indera pendengarannya. Ia menghela napas, dan ketika dirinya hampir mengeluarkan ponsel untuk menghubungi sahabat pirangnya, sedan hitam metalik yang terlihat familiar muncul dari arah kanan, dan perlahan melambat di hadapannya sampai akhirnya benar-benar berhenti.
Kaca bagian pengemudinya terbuka setengah, menampakkan sesosok kepala pirang yang mengedik ke arah kursi penumpang.
Sakura bergegas melangkah memutari mobil dan membuka bagian kursi penumpang. Dihempaskan tubuh lelahnya di sana. Ia harus menahan beberapa jam untuk berendam nyaman di bath up dan merebahkan tubuh di kasur empuknya untuk beberapa jam ke depan. Ia harus duduk di kursi bar, dengan punggung tegak dan tangan penuh dengan wine demi melihat pria-pria tampannya ini tampil.
"Agak telat, maaf." Naruto berujar ketika mobil sudah kembali melaju dengan lancar di jalan raya. Sakura menoleh, menatap wajah sahabat baiknya yang tak terdefinsi. Kacamata hitam bertengger di atas hidungnya.
Hm … he's looks adorable hotly.
Ouch. Sakura menggeram dalam hati. Sial, lagi-lagi pikirannya dipenuhi gagasan-gagasan aneh mengenai pria pirang di sebelahnya ini.
Sakura menyandarkan tubuh pada sandaran kursi, memejamkan mata demi menghilangkan hal-hal aneh yang mulai menyambanginya.
Ketika ia mulai rileks dengan posisinya, harum sitrus menguar di antara indera penciumannya. Harum sitrus yang khas, berpadu dengan aftershave yang juga sering ia baui. Dalam sekejap, gadis itu membuka kelopak matanya, menampakkan emerald indah yang terlihat bersinar namun sayu.
Hampir saja ia berteriak kencang kalau-kalau otaknya tak berefleks dengan baik. Wajah itu … masih dengan kacamata hitam yang membuatnya terlihat so damn hot, tepat berada di atas wajahnya saat ini. Naruto tengah mencondongkan tubuhnya ke arah Sakura, meneliti yang tak bisa pria itu lihat. Kalau saja Naruto melepaskan kacamata hitamnya, Sakura sudah pasti melihat netra safir itu berkilat-kilat.
"Kau lelah, ya?" Pemuda itu membuka suara lagi. Tak mengubah posisinya yang membuat Sakura menahan napas.
Sakura sedikit melirik ke arah kaca depan, sedang traffic light. Pantas saja Naruto tak fokus dengan stirnya.
Gadis itu menelan ludah sebelum akhirnya kembali menatap wajah Naruto, "hu-um. Pekerjaanku tak semenyenangkan pekerjaanmu, you know."
Naruto menghela napas, dan akhirnya menarik tubuhnya menjauhi Sakura, kembali pada posisi tegaknya di depan stir. "I know. I'm sorry."
Sakura kini mengakkan tubuh, kembali rileks. "Sorry for what?" tanyanya menatap Naruto di sampingnya.
Naruto menyandarkan tubuh, sembari menghitung mundur traffic light yang akan segera berakhir, ia menaikkan kacamatanya hingga tertahan di pucuk kepalanya. "Maaf karena menculikmu untuk menonton kami malam ini, Sakura-chan."
"I thought you'd never say that." Sakura tertawa mengejek. "Jadi, terpikir juga untuk meminta maaf?"
"Sakura-chan…" Suara pria itu merengek. Mobil kembali berjalan, Naruto membelokkan stir di pertigaan yang mulai sepi. Mereka hampir sampai. "Dibanding harus menghabiskan malam minggu sendirian di apartemen. Lebih baik menonton kami, kan? Sunset menyelamatkanmu, my sugar."
Sakura mendengus, "watch your talk. Sunset menimbulkan segala efek complicated bagi hidupku, tahu."
Naruto tersenyum, sedikit banyak mengerti penuturan tersirat itu. "Siapa suruh tergoda dua di antaranya?"
Andai Naruto tahu, it's not just two of them.
Tak berapa lama, Naruto menghentikan mobilnya. Mereka berdua turun dan memasuki klub yang sudah terlihat ramai. Naruto segera naik ke panggung untuk check sound, dan pada akhirnya Sakura hanya menonton mereka dari kursi khususnya.
Sudut bibir Sakura tergelitik hebat ketika akhirnya mereka tampil dan Sasori menyanyikan Sugar. Pria berambut crimson itu masih menatapnya dengan pandangan penuh minat, hanya saja Sakura tak akan terperangkap lagi. Lagipula, siapa yang mau mencoba di lubang yang sama, bukan?
Performa mereka berjalan lancar, dan konser itu ditutup setelah mereka menyanyikan lima lagu. Seperti biasa, setelah selesai, keempatnya segera turun dari panggung dan menempati kursi khusus bersama Sakura. Namun, karena malam ini sedikit berbeda, mereka belum bebas sepenuhnya karena masih ada konferensi pers yang akan mereka ladeni setelahnya.
"Omong-omong, konferensi persnya mulai limabelas menit lagi." Shikamaru berujar seraya mengambil segelas wine-nya. Sasuke mengangguk mahfum, sedangkan Sasori hanya mengangkat bahu dan mengambil tempat duduk jauh-jauh dari Sakura.
Sakura mengedarkan pandangan, netranya tak menangkap sosok pirang itu di sekitarnya. Apa lagi-lagi tertahan oleh penggemarnya, huh? Dan … Si Pirang itu mulai kembali merespon wanita-wanita itu? Sakura tiba-tiba saja merasa kesal.
Namun belum sempat kekesalannya itu berujung, sosok Naruto terlihat melangkah ke arah meja mereka. Sendirian. Tak terlihat para wanita yang kiranya menahan pria itu beberapa saat tadi. Atau memang tak pernah ada wanita-wanita itu?
Alis Sakura sedikit mengerut ketika melihat ekspresi wajah Naruto yang mengeras, terlebih lagi … tatapan safir itu tepat menghujam emerald-nya.
Perasaannya berdentum aneh, sesuatu sepertinya akan terjadi, dan mungkin bukan sesuatu yang baik.
"Mereka menunggu di VVIP Room untuk konferensi," kata Naruto singkat pada teman-temannya. "Tapi sebelumnya … aku butuh penjelasan tentang hal ini."
Di sana, di tangan Naruto, pria itu memegang selembar kertas foto berukuran 4R yang memperlihatkan dua sosok kontras yang begitu dikenalnya.
"K-kau … darimana kau mendapatkan itu?"
Kertas foto berobjekan sosok Shikamaru yang tengah membelai mesra sudut bibir Sakura di antara keramaian café.
.
.
To be Continued
.
.
a/n: heuuuu sinet abiiiiis hiiiih u.u, iya gak sih? Pikiran saya lagi swinging jadinya kontennya kabur ke mana-mana gini :$ tapi semoga tetap bisa menghibur, yaaah hihi. Btw, saya gak bermaksud bikin Saku jadi mary sue, lho, ya. Saku punya banyak kekurangan, kok. Cuma ya, memang ceritanya kelebihannya itu ada di penarik perhatian para pria :'')))
As always, thanks to all adorable reviewers OhhunyEKA (hehe apa ada skandal di sini? ;) thanks udh rnr ya!), HyperBlack Hole (already updated!), Lullaby Cherry (hehe sorry for it, semoga gak baper bacanya yah ;p), zeedezly clalucindtha (hehe itu cuma salah satu paparazzi-nya Sunset yg gak sengaja ngeliat mereka kok, thanks udh rnr ya), lieda (thankyouuuu), Guest (thanks yah), SR not AUTHOR (thank you :* btw, jangan panggil senpai :D), Guest (happy to hear that! Ayo ayo banyak baca narusaku yg lain juga ;p ada new fic shikasaku yg baru saya publish lho, let's check it out! xD), Lalaki224 (syudaaah), N ares (Sugar yg saya pakai di sini lagunya Maroon 5 :)), Yassir (saya juga suka sama review kamu :'''))) hehe makasih banyak ya :D), dewazz (me too! xD), Esya 27 BC (thaaanks), little lily (hehe hidup London! #lho), Vii Violetta Anais (updated!), CherryFoxy13 (makasih banyak yaaa, gimana ujiannya?^^ saya juga suka naru yg begitu huhu u.u kesannya hottie hottie gimana gitu #plak), Joker (thanks yaa, updated!), Guest (I'll writing no lemon here :)), anonymous (because shikasaku is antimainstream and I love them ;p hehe kepengin bikin scene-nya di London, semoga masih bisa kamu nikmati ya :) thanks udh rnr!), Charllotte-chan (already), VeeQueenAir (updated :D)
Saya sangat senang kalau ada yang mengkritik atau memberikan masukan. Karena review seperti itu pastinya akan menjadi sebuah memorable thing untuk saya :') so, mind to give any costructive critism?
RnR?
LastMelodya
