Nyaa… Nyaa… Nyaaa… Kembali bersama Frau, iyei!
Gomen lama update, karena Frau lagi sibuk mempersiapkan KKN yang sebenarnya nggak ribet tapi entah kenapa malah terasa ribet waktu Frau ngurus. Chepi ini adalah lanjutan dari chepi 7 kemarin antara ItaKyuu dan kemunculan SasoDei berakhir disini, entah kapan mereka bakal keluar lagi.
Waktu ngedit fict ini Frau dengerin lagu simple plan ft. Kotak yang judulnya jet lag, lagu itu benar-benar ngegambarin cerita di chepi ini menurut Frau sih, kebawa tuh lagu jadinya judul chepi ini seperti ini.
Tanpa banyak kata, seperti biasa silahkan minna-san~
.
.
.
My Beloved Boy
Author : Frau – chan si pecinta kucing
Disclaimer : Masashi Kishimoto
Rating : M
Pairing : SasuNaru, ItaKyuu, dll.
Warning : Shonen Ai, Yaoi, Lemon, Lime, Abal, AU, OOC, Typo, dll
.
.
.
Love 8 : Distance.
Itachi hampir saja menjatuhkan gelasnya saat mendengar nama sang pemuda berambut blonde, dia mengerjabkan kedua matanya. Mungkin ini yang namanya keberuntungan, atau keajaiban. Tanpa perlu mencari susah-susah orangnya sendiri sudah datang. Tapi, belum tentu pemuda itu adalah seorang Namikaze, walau namanya sama kalau marganya berbeda hal itu bukan menjadi sebuah keberuntungan 'kan?
"Um, rasanya sebelum ini aku pernah melihatmu lho," ucap Deidara mengalihkan Itachi.
Itachi terdiam dan memutar pinggiran sloki dengan jari telunjuknya, "Oh ya?" jawabnya misterius sambil tersenyum.
Jawaban tak jelas yang keluar dari Itachi sedikit membuat Deidara penasaran, karena dia merasa pernah melihatnya, entah di suatu tempat, atau hanya perasaannya saja? Tak sengaja matanya menatap televisi yang ada di bar dan saat itu juga Deidara yakin pernah melihat Itachi sebelumnya.
"Ah, pantas saja rasanya pernah melihatmu. Ternyata kau artis ya?" Tunjuk Deidara pada televisi yang menampilkan iklan dengan Itachi sebagai modelnya. Iklan pembersih wajah dan juga pakaian bermerek, wajah sulung Uchiha itu banyak menghiasi layar kaca.
Itachi hanya tersenyum sebagai ganti jawaban. Tiba-tiba seorang wanita cantik berambut gelombang dan bermata merah yang bertubuh seksi mendekati keduanya, atau lebih tepatnya mendekati Itachi. Tubuh wanita itu menempel pada sang sulung Uchiha.
"Lama tak bertemu, Tachi. Kupikir kau tak akan punya waktu main ke sini lagi~" ucapnya manja. "Tumben kau tak bersama si rubah liar, apa kalian sudah putus? Apa dia pacar barumu?" Tanya si wanita beruntun sambil mengangkat jari jempolnya yang mengindifikasikan 'boy friends'.
Itachi dengan sopan sedikit mendorong sang wanita agar tak terlalu dekat dengannya, kalau sampai parfum wanita itu menempel di tubuhnya urusannya bisa tambah panjang, " Kurenai, aku bukannya putus dengan Kyuu kok, sudah kukatakana berapa kali kalau kami tidak pacaran. Akulah yang terus mengejarnya dan ingin mendapatkannya. Lalu, pemuda ini bukan pacarku, dia temanku."
"Ah, sayang sekali~ Tapi, kalau kau nantinya dicampakkan datanglah padaku, aku akan menemanimu~" ucapnya sambil mengecup lembut pipi si Uchiha. "Karena jarang sekali kau datang ke sini aku ingin lebih banyak ngobrol denganmu, tapi aku sudah ada janji kencan nih~"
"Tawaran yang sangat menarik, terimakasih. Tapi, kalau kau seperti ini terus kau bisa dimarahi Asuma lho…" Jawab Itachi sambil mengedipkan sebelah matanya dan menunjuk ke arah pintu, di sana sudah ada seorang lelaki berjas rapi yang memandang Kurenai dengan tajam, rokok yang ada di sela-sela bibirnya tak henti mengepulkan asap.
"Ups! Sudah waktunya aku pergi. Bye Itachi dan temannya~" Lambainya dengan genit dan segera berlari ke arah si lelaki.
"Wanita yang sangat menarik, apa dia temanmu?" Tanya Deidara.
Itachi mengangguk, "Ngomong-ngomong kau dari mana? Sepertinya kau bukan orang Jepang," selidik Itachi, si sulung berusaha hati-hati bicara agar tidak dicurigai.
"Itachi jeli ya…" jawab Deidara dengan wajah senang. "Aku dari Kanada, ada perlu ke Jepang untuk menemui seseorang. Ah, siapa tahu kau tahu orang yang sedang kucari, sebentar aku cari fotonya," ucapnya sambil mengaduk-aduk tas ranselnya.
Itachi terdiam. Rambut blonde, check. Mata biru, check. Dari Kanada, check. Ditambah sedang mencari seseorang, sepertinya pemuda yang ada di sebelahnya benar-benar orang yang sedang dicari para Uzumaki. Ini sebuah keberuntungan!
Setelah beberapa menit membongkar tas ranselnya, apa yang sedang dicari Deidara berhasil dia dapatkan. Sebuah foto lama dengan sebuah alamat di baliknya, dia memberikannya ke Itachi.
Sesuai dugaan sulung Uchiha, tepat. Foto yang diberikan Deidara adalah foto Naruto, tapi terlihat kalau ini foto lama, sepertinya foto saat si blonde SMP, kalau tak salah foto itu diambi saat upacara masuk sekolah. Foto kenangan, Itachi membalik foto dan menemukan sebuah alamat. Kalau tak salah itu adalah alamat rumah lama Uzumaki brother, saat orang tua keduanya masih hidup. Kalau tak salah rumah itu sudah lama dijual.
"Kau pernah melihat anak itu? Namanya Naruto , kakekku tidak memberitahukan nama keluarga yang saat ini dia pakai," ucapnya kesal.
"Hn, memang dia siapamu? Adikmu?" Tanya Itachi pura-pura tak tahu.
"Dia sepupuku, karena ada masalah keluarga, kami tidak saling mengenal. Aku dapat foto itu secara sembunyi-sembunyi, aku mencurinya dari kakekku. Aku hanya tahu namanya, awalnya aku merasa beruntung karena dibalik foto ada alamat rumahnya, saat aku ke sana ternyata pemiliknya yang lama sudah menjual rumah itu. Pemilik yang baru tidak tahu apa-apa tentang pemilik lama, aku benar-benar pusing!" Omelnya panjang lebar.
"Ini foto lama, belum tentu kau dapat menemukannya dengan mudah di Tokyo. Banyak anak muda dengan penampilan seperti ini. Kau bisa mendapat informasi dengan melihat seragam yang dikenakan sepupumu ini, datang kesekolahnya dan tanyakan arsipnya."
"Aku sudah melakukannya dan mereka menutup rapat-rapat mulut mereka."
'Tentu saja,' pikir Itachi. Dengan kekuatan keluarga Uzumaki, mereka menutup mulut semua orang tentang identitas cucu Uzumaki dan tidak akan membocorkannnya ke orang yang tidak dikenal. Kalau mereka melanggar maka akan dapat balasan yang setimpal.
"Lalu, saat aku tanya ke beberapa orang mereka tertawa dan mengatakan, 'Yang kau cari warung ramen?' dengan tatapan mata merendahkan. Rasanya ingin kuhajar," ucapnya lagi.
Itachi tertawa tertahan mendengarnya, "Itu sih tidakheran, karena memberi nama anak 'Naruto' itu tak lazim. Karena artinya adalah bakso ikan yang biasa dihidangkan diatas ramen. Kau datang ke sini sendirian?"
Deidara mengangguk, "Aku pergi sendiri, lebih tepatnya sih aku pergi diam-diam. Aku harus menemukannya sebelum kakekku menyadari aku pergi ke sini."
Itachi menopang kepalanya dengan tangan kanannya yang ada di meja counter dan menatap Deidara, "Datang sendirian ke sini tanpa persiapan sama sekali, dan lagi ini lebih tepat kabur dari rumah. Apa kau begitu serius mencarinya?"
"Tentu saja! Banyak hal yang ingin kukatakan padanya, dia sepupu yang tak pernah kutemui. Aku ingin bicara padanya, ingin bertemu dengannya, dan ini tidak ada hubungannya dengan masalah keluarga kami yang sedikit buruk. Ini hanya kunjungan keluarga yang hampir selama hidup tak pernah bertemu," jawabnya serius.
"Hn, kalau bertemu dengannya apa yang akan kau katakan?"
Deidara terdiam dan menatap Itachi dengan tajam, "Pertama aku ingin minta maaf padanya, minta maaf atas kebodohan keluarga besarku. Dan yang kedua aku ingin bilang kalau aku dan kakekku sangat mencintainya, walau aku tak pernah bertemu dengannya tapi aku sayang padanya."
Itachi tersenyum lebar dan mengacak rambut blonde rapi Deidara dengan gemas, "Jangan terlalu serius, aku akan mencoba membantumu. Berikan nomor ponselmu."
"Kenapa bukan kau saja yang memberikan nomor ponselmu?"
"Gomen, aku dilarang memberikan nomor ponselku pada orang yang tidak ada kaitannya dengan pekerjaan. Kecuali kau jadi pacarku," jawab Itachi genit sambil mengedipkan matanya.
"Un, kalau aku sudah jomblo akan kupertimbangkan," ucap Deidara sambil menuliskan nomor ponselnya pada selembar tisu dan memberikannya pada Itachi.
"Owh, kau sudah punya pacar?"
"Tentu, seorang pemuda berambut merah yang punya sifat khawatir berlebihan. Tapi, aku cinta dia," jawab Deidara dengan wajah gembira.
Itachi melihat jam tangannya yang sudah menunjukkan pukul 23.00, "Aku harus pulang besok jadwalku penuh, apa kau juga sudah mau pulang? Akan kuantar kau," tawar Itachi.
Tapi Deidara menggelengkan kepalanya, "Kau pulang saja duluan, aku mau lebih lama disini, tempat ini menyenangkan."
"Hn, kau serius?"
"Yup, aku akan pulang dengan taxi. Tak perlu khawatir…"
Setelah mengucapkan salam perpisahan dan mengecup pipi Deidara, Itachi pulang dan segera melajukan mobilnya ke kediaman Uzumaki. Berita penting ini harus dia sampaikan secepatnya ke Mito-san dan untuk sementara hal ini akan Itachi sembunyikan dari Kyuubi.
Sulung Uchiha itu merasa kasihan pada Deidara dan tersentuh setelah mendengar penjelasan dari pemuda itu. Setidaknya dia akan mencoba sesuatu agar dia tak pulang dengan kecewa, dan semoga Mito-san senang mendengarnya, karena ini seperti sebuah permainan yang jarang sekali diajukan oleh Itachi.
.
.
.
Kyuubi sedang galau. Yap, galau! Walau rasanya hal itu tidak mungkin, tapi itulah yang sedang dia rasakan saat ini. Setelah beberapa jam, dia baru sadar kalau ucapannya ke Itachi terlalu kasar. Apalagi dia sudah tahu betapa besar rasa cinta sulung Uchiha itu padanya dan setelah kejadian di villa pulau selatan, harusnya dia tidak egois seperti itu. Tapi, nasi sudah menjadi bubur. Kalau dia minta maaf sekarang, harga dirinya pasti bakal terluka. Mana ada dalam sejarahnya Uzumaki Kyuubi meminta maaf, walaupun nyata-nyatanya itu adalah salahnya.
Gara-gara memikirkan hal itu dia jadi tidak bisa tidur alias insomnia dan dengan tega membangunkan sang adik di tengah malam yang tenang ini untuk menemaninya, er… Dari pada menemaninya lebih tepat menyuruh sang adik untuk membuatkan susu hangat agar dia bisa tertidur.
"Kyuu… Cepat habiskan susumu, aku ngantuk…" Gumam sang adik dengan mata setengah terpejam di ruang makan rumah utama.
Kyuubi hanya diam saja dan bengong menatap kepulan asap dari susu hangat miliknya, membuat sang adik mengernyit heran. "Kamu ada masalah dengan Itachi-nii?" Tanya si adik langsung.
Kyuubi sedikit tersentak lalu cepat-cepat menghabiskan susu hangat spesial buatan sang adik, "Tidak," jawab Kyuubi singkat membuat sang adik mengenyitkan kedua alisnya, merasa curiga.
"Bohong. Kalau kau ada masalah, pasti kau tidak akan bisa tidur dan ujung-ujungnnya insomniamu akan kambuh, sebaiknya cepat bereskan masalahmu dengan Itachi-nii. Kalau tidak nantinya kau akan menyesal lho."
Kyuubi membanting gelas dengan keras di meja dan sedikit membuatnya retak, "Jangan sok tahu dan jangan ikut campur."
"Kenapa marah sih! Kau selalu saja seperti itu, karena tidak mau mendengarkan omongan orang lain makanya banyak yang tidak suka padamu. Harusnya kau bersyukur, karena Itachi-nii selalu saja ada di sampingmu tanpa protes dengan sikap burukmu. Dia sangat menyukaimu, benar-benar suka. Apa kau tahu!" Omel Naruto, dia sudah tidak tahan dengan sikap sang kakak yang suka seenaknya saja itu.
"Persetan! Dia cuma cowok mesum yang gay!"
"Kenapa dengan gay? Cinta tidak memandang gender, alasannya selama ini terus berada di sisimu karena dia mencintaimu apa adanya. Kau selalu saja tidak pernah jujur pada perasaanmu, kau mengingkari kalau kau juga suka padanya. Berhentilah berbohong Kyuu."
"Apa kau tidak bisa berhenti mengoceh, Naruto," ucap Kyuubi dingin.
Naruto menggebrak meja sekali lalu berbalik, "Terserah kau kalau tidak mau memikirkan kata-kataku, you are so selfish!" gumam sang adik lalu segera kembali ke kamar untuk melanjutkan tidurnya yang terganggu.
"Stupid brat! Bagaimana bisa aku membesarkan adikku dengan bicara tak sopan seperti itu. Lain kali akan ku hukum dia," gumam Kyuubi. Setelahnya dia benar-benar kesepian, karenaNaruto sedang marah padanya mana mau adiknya itu menemaninya terjaga semalam dengannya. Itu sih murni karena salahnya makanya adiknya marah.
Biasanya saat dia insomnia, Kyuubi akan menelepon Itachi dan menyuruhnya membelikan barang-barang aneh atau makanan di tengah malam dan membuat sulung Uchiha itu repot. Baginya hal itu menjadi penghibur saat insomnianya kambuh, menyiksa Itachi memang hobi buruknya. Setelah itu Itachi akan menemaninya sampai pagi atau sampai dia tertidur, menjaga sulung Uzumaki itu. Menginat hal itu tambah membuat dadanya sesak.
Beberapa kali dia membuka ponselnya dan selama beberapa jam memandangai nomor telepon Itachi, hanya dengan menekan tombol hijau dia akan langsung tersambung dengannya lalu minta maaf dan semua selesai. Harusnya segampang itu, tapi dia sama sekali tidak melakukannya dan hanya memelototi nomor telepon itu.
Kyuubi menyandarkan kepalanya di meja makan, saat itu dia mendengar suara gaduh di genkan depan. Lalu tepat saat dia melihat pintu dapur yang terhubung dengan lorong utama, dia melihat orang itu. Dia melihat Uchiha Itachi lewat di lorong dengan tampang serius. Kyuubi reflek menegakkan tubuhnya, dia melihat Shino mengekor dibelakang Itachi. Tapi, saat melihat salah satu tuan mudanya ada di dapur dia putuskan untuk menghampiri Kyuubi.
"Kenapa dia bisa ke sini tengah malam seperti ini? Apa ada sesuatu yang terjadi?" Tanya Kyuubi pada sang pelayan.
Shino menggeleng, "Saya tidak tahu. Itachi-san hanya bilang ada perlu dengan nyonya dan sudah ditunggu di ruang kerja. Saya rasa tidak ada sesuatu yang gawat, mereka bisanya ada janji minum-minum berdua. Membicarakan hal-hal sepele sambil menghabiskan minuman keras," jelas Shino.
Tapi Kyuubi tidak sependapat, dia merasa memang ada sesuatu yang terjadi, hanya dengan menatap wajah Itachi sekilas dia tahu itu. Mungkin karena sudah lama dia mengenal sulung Uchiha itu.
"Anda tidak tidur?" Tanya Shino.
Kyuubi menggelengkan kepalanya, "Sepertinya insomniaku kambuh, tadi Naru sudah membuatkanku susu hangat. Biasanya minum susu racikannya akan ampuh membuatku tidur."
"Apa anda pikir minuman buatan Naru-sama itu obat tidur, anda jahat sekali. Sebaiknya anda cepat tidur, kalau tidak kondisi tubuh anda bisa menurun,"peringat lelaki pecinta serangga itu.
"Cerewet. Cepat kembali ke tempatmu berjaga sana!" usir Kyuubi, dengan patuh Shino pergi kembali ke tempatnya bertugas.
.
.
.
Di ruangan kerja Uzumaki, terlihat Itachi dan Mito baru saja membicarakan sesuatu yang serius, terlihat dari wajah keduanya yang mengeras. Beberapa kali Mito terdiam dan menghela napas panjang.
"Apa aku harus mempercayai semua ceritamu itu, Itachi?" Tanyanya.
"Apa selama ini aku pernah membuat anda kecewa, Mito-san? Anak itu datang ke sini secara diam-diam, bahkan kakeknya tidak tahu. Saya rasa tidak apa mempertemukan mereka sekali saja."
"Tetap saja hal itu tidak bisa. Kalau dia bertemu Naru, pasti dia aka menceritakan segalanya yang tidak diketahui bocah itu. Kalau seperti itu tidak ada artinya aku membuat kesepakatan dengan kakek itu," jelas Mito. "Aku tidak peduli kalau kau perhatian dengannya, tapi sama sekali tak mungkin mempertemukannya dengan Naru untuk saat ini."
"Dia hanya ingin bertemu sepupunya, tidak ada motif lain."
"Waktu itu juga kakek brengsek itu juga datang ke sini dengan bilang ingin bertemu cucunya, dan ternyata semuanya memiliki motif. Aku tetap saja tidak mempercayai bocah dari Namikaze itu. Segera singkirkan dia dan pulangkan ke Kanada," putus Mito.
"Tapi Mito-san–"
"Apa kau mau mengkhinatiku? Aku tidak akan membiarkamu membuat cucuku terpojok dalam bahaya. Selesaikan saja bocah Namikaze itu, apapun caranya buat dia menyerah dan kembali pulang ke negaranya."
Itachi terdiam, seakan tak setuju dengan perintah sang kepala keluarga itu. Tapi, dia juga tidak mungkin berkhianat, terlalu besar resikonya dan terlalu banyak yang akan dia korbankan. "Baiklah saya mengerti, tapi saya mohon masalah ini jangan sampai di dengar Kyuubi. Katakan saja masalah seorang Namikaze yang datang ke Jepang itu ternyata hanya isu dan bualan."
"Kenapa aku harus menyembunyikannya pada Kyuubi?"
"Kalau dia sampai tahu, Kyuubi tidak akan membiarkan Deidara kembali ke negaranya dengan selamat. Aku tahu sifat Kyuubi yang sangat ingin melindungi Naruto, karena Deidara bukan sebuah ancaman besar jadi tolong rahasiakan ini dan serahkan semuanya pada saya," minta Itachi.
Mito terdiam sebentar, mencoba memikirkan hal itu. "Baiklah. Tapi, aku mau semuanya selesai tanpa ada jejak sedikitpun, kau mengerti."
"Saya mengerti," jawab Itachi. Setelah itu dia undur diri dan menutup pintu ruang kerja milik Mito dengan perasaan berkecambuk.
Saat akan melewati lorong utama dia melihat Kyuubi di pintu dapur dengan kedua tangan yang dilipat di dada, menatapnya tajam. Itachi terdiam beberapa saat, hanya saling berpandangan dengan Kyuubi. Gara-gara pertengkaran kemarin atmosfir diantara keduanya terasa berat dan jarak diantara keduanya semakin melebar.
"Kenapa belum tidur?" Tanya Itachi akhirnya.
Kyuubi tetap saja cuek dan menatapnya tajam, "Kenapa bertemu Mito malam-malam seperti ini? Apa ada masalah?"
"… Tidak ada," bohongnya. "Hanya masalah pekerjaan di dunia bawah, ada sedikit masalah dengan bisnis ayah dan aku disuruh melaporkannya pada Mito-san. Itu saja."
Awalnya Kyuubi tidak mempercayai ucapan Itachi, tapi setelah melihat wajah Itachi yang tanpa ekspresi dia berusaha percaya dan menghela napas. "Hatssyuu!" Udara malam yang dingin membuat hidung Kyuubi gatal dan tak tahan untuk bersin.
"Cepat tidur, nanti kau bisa sakit," ucap Itachi sambil mengacak rambut orange Kyuubi sebentar. Hanya sebentar lalu dia pergi dari hadapan Kyuubi, meninggalkan sedikit kehangatan untuk Kyuubi. Sulung Uzumaki itu hanya bisa menatap punggung Itachi yang semakin menjauh.
Perasaan tidak nyaman ini harus segera dia selesaikan, dia bertekad untuk minta maaf. Walau harus membuang harga dirinya, dia tidak peduli lagi. Kyuubi tak mau merasakan perasaan sakit seperti ini lagi setiap kali mereka saling berpandangan. Sesekali jujur pada perasaan sendiri rasanya tak akan masalah, sepertinya saran sang adik memang benar.
.
.
.
Kyuubi hanya tidur selama 3 jam semalam, lalu pagi-pagi sekali sudah berangkat ke kantor dan menyeret sang adik yang masih sebal padanya gara-gara pembicaraan semalam. Sesampainya dikantor pun Naruto tetap saja cemberut dan menatap sebal pada sang kakak membuat Kyuubi jengah.
"Sampai kapan kau mau memasang wajah jelek padaku, hah!" Bentak Kyuubi.
Naruto melipat kedua tangannya di dada dan menggembungkan kedua pipinya, " Aku masih marah padamu! Gara-gara kamu juga, rencana makan pagiku bersama Teme jadi berantakan. Stupid brother!"
Kyuubi melangkah kearah adiknya dan mencubit kedua pipi gembul Naruto membuat si blonde kesakitan, "Bibir ini yang bicara jelek padaku hah… Coba bilang sekali lagi, ayo…" ancam Kyuubi sambil menyeringai senang, "Stupid brat!"
"Hakit… Hakit, Hyuuu… Homen…" ucap Naruto tak jelas, sedikit air mata menggantung di ujung matanya. Cubitan maut dari Kyuubi benar-benar sakit, lalu Kyuubi melepaskan cubitan itu membuat pipi Naruto memerah. "Huuu… Pipiku merah~" Rengek Naruto sambil menggosok kedua pipinya dengan telapak tangan.
Kyuubi terdiam dan mengelus pipi sang adik lembut, "Yang semalam, kurasa perkataanmu benar."
Naruto tersentak dan mencoba menatap mata Kyuubi, sang kakak sedikit gelisah atau bisa dikatakan sedang malu-malu. "Hu-um, lalu?" Tanya Naruto.
"Maaf, semalam aku sudah bilang hal yang egois."
"Lalu?"
"Kurasa aku… Perkataanmu semalam, er… Ada benarnya," ucap Kyuubi dengan nada pelan, pipinya sedikit merona saat mengatakan hal itu, membuat sang adik tersenyum senang.
"Tentu saja, aku ini adik yang bijak 'kan? Lalu, apa yang akan kau lakukan? Makudku, tentang hubunganmu dengan Itachi-nii," Tanya si adik lagi.
"Aku tidak akan menyeretmu pagi-pagi kekantor tanpa sebab 'kan? Aku mau minta tolong padamu, soal masalah itu."
Naruto tak menyangka dalam semalam sang kakak sudah berubah secepat ini, membuatnya senang. "Sebaiknya cepat bertemu dengannya dan minta maaf. Buang harga dirimu untuk saat ini saja, aku tahu kalau harga dirimu sangat tinggi Kyuu. Hanya kali ini saja cobalah sedikit lembut, hanya sedikit."
"Aku juga sudah menetapkan hati untuk melakukan hal itu, cuma…" ucap Kyuubi ragu.
"Cuma, apa?"
"Aku tidak yakin kalau dengan meminta maaf saja aku akan dimaafkan oleh si keriput mesum."
"Sebelumnya kalau kau ingin minta maaf, jangan memanggilnya dengan keriput mesum. Panggil dengan namanya," peringat si adik.
"Baik…"
"Telepon saja dia sekarang, janjian bertemu dengannya. Kalau kau malu, cari tempat yang sepi lalu minta maaf padanya, ketulusan dari ucapanmu akan membuatnya luluh deh. Lalu, kalau hal itu tidak terjadi, langsung serang saja!" Kata si blonde dengan berapi-api.
Kyuubi sedikit mengernyit saat mendengar kata 'serang', "Apa maksudmu dengan 'serang'?"
"Ah Kyuu ini!" gemas Naruto sambil menepuk pundak Kyuubi ringan, "Langsung cium saja. Kalau hanya perkataan tidak mempan lebih baik langsung perbuatan saja. Oke!" ucapnya sambil mengangkat jari jempolnya dengan percaya diri.
"Oke gundulmu!Mana bisa seperti itu! Itu namanya mesum tahu!" Omel Kyuubi. "Pasti anak ayam mesum itu 'kan yang mengajarkan semua ini padamu, Naru! Iya 'kan?" ucap Kyuubi sambil menggoyangkan pundak Naruto berkali-kali.
"Enak saja, jangan menuduh tanpa bukti. Kakak ipar!" Ucap sebuah suara baritone yang berasal dari pintu kantor.
Kedua Uzumaki itu refleks menatap ke arah datangannya suara dan menemukan Sasuke berjalan ke arah keduanya. Hari ini si raven menggunakan pakaian serba hitam, baju lengan pendek dengan potongan V di dada, celana jins yang dipadu dengan boots, dan tak lupa kaca mata hitam bertengger di hidung mancungnnya, membuat penampilannya, so georgeous!
Naruto segera menghampiri si raven memeluknya lalu memberikan ciuman ringan di pipi si raven, membuat Kyuubi hampir muntah melihat adegan yang baru beberapa detik terjadi di depan matanya. Tidak ada hal yang paling mengesalkan di dunia ini selain melihat adik kandungmu bermesraan dengan seorang lelaki yang berstatus pacar di depan matamu.
"Kenapa dengannya?" Tunjuk Sasuke pada Kyuubi yang memasang wajah mual, rasanya dia sedikit tersinggung.
"Tidak usah hiraukan dia. Maaf ya, tidak bisa makan pagi bersama," ucap si blonde manja.
Sasuke tersenyum pada sang kekasih, "Bagimana kalau siang nanti kita makan bersama? Pengganti makan pagi tadi, ada café yang baru buka, kurasa kau akan suka."
"Terserah Teme saja~"
Udara di ruangan Kyuubi benar-benar panas, membuatnya gerah. Lalu sejak tadi ada bunga-bunga tak jelas yang beterbangan diantara keduanya, beberapanya menghantam kepala Kyuubi. "Hoi, jangan masuk dalam dunia kalian berdua dong. Di sini masih ada aku. Dan Naru, bukankah kau akan membantuku menyelesaikan masalahku?" Ucapan dari Kyuubi membuat Naruto memasang wajah muak.
"Apa ini artinya aku juga harus menemanimu?" Tanya Naruto tak rela.
Kyuubi mengangguk, "Bukankah kau adik yang baik?" Tanyanya dengan aura mengintimidasi, khas Kyuubi.
Dan mau tidak mau Naruto menganggukkan kepalanya, "Baiklah. Sebaiknya kau cepat telepon dia, aku ingin masalah ini sudah selesai sebelum tengah hari. Aku mau kencan dengan Teme."
"Whatever…" jawab Kyuubi seenaknya lalu mengambil ponselnya dan mencari nomor Itachi.
Sasuke memutuskan untuk duduk di sofa di ikuti oleh Naruto, "Hn, kalian punya masalah?"
"Kyuu yang punya masalah, dengan Itachi-nii," jawab Naruto pelan.
Sasuke menyeringai lebar, seolah dapat membaca pikiran si blonde, "Hoo~ Rasanya aku mengerti, tidak kusangka."
"Begitulah…"
"Pertengkaran pengantin baru itu bumbu cinta," gumam Sasuke ngawur, setelahnya ada sebuah dokumen tebal yang hampir saja mengarah ke wajah tampannya. Tentu saja pelakunya adalah sang kakak ipar.
"Kalau kau berani ceritakan hal ini pada anak ayam itu, maka kau akan kena akibatnya Naru! Dan kau, anak ayam! Jangan bicara yang aneh-aneh!" Marah Kyuubi.
"Tak diberitahu pun aku juga sudah tahu, baka!"
Awalnya Kyuubi sudah ingin membalas ucapan si raven, tapi telepon yang ada diujung sana sudah tersambung. Dia sedikit menjauh dari keduanya, tak ingin pembicaraannya di dengar.
'Ada apa?' Tanya suara dingin di ujung telepon, padahal biasanya kalau Kyuubi meneleponnya dia pasti akan senang bukan main.
"Ah, er… Kau ada waktu? Maksudku, hari ini kau ada waktu?" Tanya Kyuubi grogi.
'…Apa ada pekerjaan mendadak?'
"Bukan-bukan, aku ingi menyelesaikan masalah pribadi kita waktu itu."
'…'
"Apa tidak bisa, Itachi?" Tanya Kyuubi lagi, baru kali ini si rambut orange menyebut nama Itachi dengan benar dan bukan keriput mesum.
'Gomen, hari ini aku menemani temanku yang baru saja datang dari luar negeri.'
"Bagimana kalau besok?" Harap Kyuubi.
'Besok juga tidak bisa, kalau itu masalah pekerjaan baru aku datang. Masalah yang waktu itu tidak kupikirkan kok, kau tidak perlu merasa tak enak hati. Sudah ya, sekarang aku sedang bersama temanku,' ucap Itachi lalu menutup telepon secara sepihak, sepertinya masalahnya semakin keruh.
Kyuubi menatap ponselnya dan menggenggamnya dengan erat, tak menyangka teleponnya akan diputus sepihak begitu saja oleh Itachi. Karena penasaran Naruto menghampiri sang kakak. "Bagaimana Kyuu, apa ber–" Naruto tak meneruskan ucapannya dan mundur selangkah demi selangkah kebelakang karena melihat wajah Kyuubi yang berubah menyeramkan.
"Brengsek! Dasar *piip*, lelaki *piip*!" Makinya kesal, lalu membanting ponselnya sampai hancur berantakan di lantai. "Naru!"
"I…iya…" jawab si blonde takut-takut.
"Kau mau membantuku sampai akhir 'kan?" Ancam Kyuubi dengan tampang seram membuat si blonde sembunyi di balik punggung Sasuke dan menatap si kakak dari balik punggung sang kekasih, Naruto mengangguk dengan wajah pucat. "Bantu aku mencari dan menghajar si keriput mesum yang sudah sok jual mahal padaku!"
Saat itu juga, baik Sasuke maupun Naruto hanya bisa meneguk air liur mereka dengan wajah horor, 'Selamatkan dirimu, Itachi!' Jerit keduanya dalam hati.
.
.
.
Setelah mendapat telepon dari Kyuubi dan dengan teganya kata-kata jahat keluar dari mulutnya dapat kita lihat saat ini, Uchiha Itachi menyesali perkataannya dan sedang menangis sesenggukan di meja sebuah cafe dengan kepala yang beberapa kali dia benturkan ke meja.
"Er… Itachi, sepertinya aku tahu apa yang sedang terjadi. Tapi, bisakah kau berhenti menangis dan membenturkan kepalamu ke meja? Orang-orang mulai menatap kita," protes Deidara.
Yap, orang yang di sebutkan Itachi dalam telepon sabagai teman adalah Deidara. Mereka memang janjian bertemu untuk makan pagi bersama di sebuah café. Setelah Itachi bertindak bodoh, banyak gumaman dari pengunjung yang membuat Deidara tidak enak.
Itachi mengangkat kepalanya dengan air mata yang masih berlinangan, mana ada artis tenar seperti dia, memalukan. Deidara memberikan sekotak tisu yang memang disetiapkan di setiap meja agar sulung Uchiha itu menghapus air matanya.
"Bagaimana ini… Aku belum siap dibenci dia… Kalau terus seperti ini habislah aku…" rengek Itachi kembali murung.
"Berhentilah bersikap cengeng, apa kau itu benar seorang lelaki?" sinis Deidara sambil menyeruput kopinya.
"Gomen, tapi aku benar-benar menyukainya. Aku sudah mengejarnya sejak kami masih SMA dan dia mengatakan kalau keberadaanku hanya sekedar ada dan hanya sebagai pelengkap! Apa aku tidak berhak marah!"
"Kalau kau benar-benar marah, kenapa tadi kau menangis?"
"Aku menyesal sudah mengucapkan kata-kata dingin padanya dan menolak untuk bertemu dengannya. Padahal tadi dia memanggil namaku dengan benar, dan bukannya mengolokku seperti biasanya…" Raung Itachi lagi dan dan menaruh kepalanya di meja.
Deidara menghela napas melihat tingkah Itachi, "Sebaiknya kau cepat-cepat minta maaf padanya sebelum kau sendiri menyesal. Bawakan selusin bunga mawar dan minta maaf sambil berlutut, dia pasti akan memaafkanmu, itu sangat efektif," saran si rambut blonde.
"Kau pikir dia akan suka? Dia pasti tetap akan marah, dia pernah bilang dari pada memberi bunga yang seperti sampah lebih baik memberi bunga bank. Lalu, pasti dia tidak akan puas dengan berlutut saja, aku pasti akan di suruhnya terjun dari jurang, baru dia akan puas."
"Apa di kamusmu tidak ada kata optimis?" Tanya Deidara sarkastik.
"Bagaiana ini…"
"Tenang, cepat telepon balik saja dulu dan minta maaf."
Itachi menuruti saran dari Deidara dan segera menelepon Kyuubi lagi, tapi karena Itachi tak tahu kalau ponsel sang pujaan sudah di lempar ke lantai dan hancur berkeping-keping, tentu saja teleponnya tidak akan pernah tersambung.
"Nomornya tidak aktif…"
Deidara yang sudah tak mau tahu lagi asik menikmati sarapan paginya sambil melihat tingkah bodoh artis nomor 1 di Jepang yang kembali meratapi nasibnya yang bagaikan anak terbuang itu.
.
.
.
Sudah hampir 5 menit Naruto dan Sasuke mengalami pengalaman yang langka, mereka meluncur di jalan raya seperti naik jet coaster, dengan gila-gilaannya Kyuubi menyetir dan membuat para pengguna jalan lain terancam nyawanya. Karena khawatir melihat sang kekasih diseret begitu saja oleh Kyuubi, Sasuke ikut keduanya. Dan ujung-ujungnya mobilnyalah yang dipakai paksa oleh calon kakak iparnya itu.
"Kalau sampai mobilku lecet, lihat saja nanti," geram si raven dari kursi penumpang, dibelakang bersama si blonde.
"Hmp! Teme, aku mual…" ucap Naruto dengan wajah pucat.
"Bertahanlah Dobe, aku juga tak akan memaafkanmu kalau kau sampai muntah dalam mobil," jawab Sasuke horor. Sepertinya cintanya pada mobilnya mengalahkan cintanya pada sang kekasih dan hal itu sedikit membuat Naruto sebal.
"Kalau begitu aku akan muntah di sini," ucapnya ngawur.
"Plise, jangan lakukan itu," mohon Sasuke dengan wajah serius.
Tiba-tiba mobil yang dikemudikan Kyuubi itu berhenti mendadak dan membuat kedua penumpang yang ada di belakangnya terdorong dengan kuat ke depan, kalau Sasuke tidak memegangi Naruto, si blonde pasti akan terjungkal ke depan.
"WTH! Apa yang kau lakukan sih! Kau mau membunuh kami berdua!" Omel si raven.
"Lampunya merah," jawab si rambut orange datar dan membuat si raven kesal bukan main.
Sambil menunggu lampu kembali hijau, Kyuubi melihat-lihat ke sekeliling siapa tahu dia bertemu si keriput mesum. Walau dia keluar dengan membabi buta, dia punya tujuan, pertama ke tempat Jirainya, kalau di sana dia tidak menemukannya setidaknya orang tua itu pasti punya informasi dimana Itachi berada.
Tapi, sepertinya hal itu tidak perlu dia lakukan lagi, karena dia melihat Itachi duduk sendirian dengan wajah kusut di sebuah café, pemuda itu duduk di meja luar café dan membuat para pejalan kaki heboh melihatnya. Dengan kecepatan penuh Kyuubi mencari tempat parkir dan segera menemui sulung Uchiha itu.
Sedangkan Naruto, setelah mobil berhenti dia segera mencari selokan dan muntah sepuasnya, Sasuke hanya bisa menatap si blonde perihatin sambil menepuk-nepuk punggung Naruto dengan lembut. Poor Naruto… Untuk sementara dia tidak akan naik jet coaster.
Di keadaan yang sangat berbeda, Kyuubi menghampiri Itachi dan menggebrak meja dengan kuat membuat sulung Uchiha itu terlonjak. Setelah mengetahui yang datang adalah sang pujaan, wajah Itachi cerah ceria.
"Kyuuu~" Ucapnya menjijikkan.
Kyuubi menarik kerah T-Shirt Itachi dan menatap sulung Uchiha itu tajam, "Jangan main-main denganku! Berani sekali kau memutuskan segalanya sepihak dan menutup telepon dariku!" Amuk sulung Uzumaki itu.
Itachi saat itu sadar kalau dirinya masuk dalam sebuah bahaya yang besar, "Go…gomen… Tadi, aku mau menelepon balik, tapi ponselmu tidak aktif."
"Alasan!"
"Tidak kok, aku–"
"Itachi, aku bawakan kopi lagi nih, apa kau sudah baik…baik saja?" Putus Deidara, dia sedikit bingung dengan keadaan yang saat ini sedang terjadi, antara Kyuubi dan Itachi. Sepertinya dia datang di waktu yang tidak tepat, "Aku mengganggu, ya?" Tanyanya.
Kyuubi segera melepaska cengkeraman erat itu dan menatap Deidara dari ujung kaki sampai ujung rambut beberapa kali. Itachi sendiri takut kalau Kyuubi menyadari bahwa pemuda yang ada di hadapannya itu adalah keturunan Namikaze, kalau ketahuan tamatlah sudah.
Tapi, hal itu tidak terjadi. Kyuubi berdecih lalu berbalik pergi, Itachi sempat mengejar dan menangkap tangan si rambut orange dan membuat Kyuubi terdiam.
"Kau mau kemana?" Tanya Itachi khawatir.
"Pulang. Aku mau kembali ke kantor."
"Karena kau sudah mencariku sampai ke sini, apa tidak sebaiknya kita selesaikan masalah kita yang kemarin itu."
Kyuubi menepis genggaman tangan Itachi dan menatap sulung Uchiha itu sebal, "Lain kali saja, kau sedang bersama seseorang 'kan? Aku akan jadi pengganggu saja," ucapnya lalu pergi, membuat Itachi terdiam.
Karena hampir 5 menit sulung Uchiha itu tidak bergerak, Deidara mau-tak mau khawatir dan menghampirinya, "Hei, kau baik-baik saja?"
Itachi tersadar dan menutup mulutnya, wajahnya seketika memerah, "Bagaimana ini? Sepertinya dia cemburu. Aku senang sekali…" jawabnya tak nyambung dengan pertanyaan Deidara.
"Aku tidak mengerti. Kalau kau senang syukurlah, tapi sebaiknya kau temui dia. Aku tidak mau jadi korban cemburu oleh orang yang tak kukenal," ucap Deidara sadis.
Tapi, Itachi yang keburu terbang ke langit ke-7 tak mendengarkan ucapan sadis si rambut blonde. Dia terlalu bahagia mendapati sikap Kyuubi yang tak biasanya. Ini hari bersejarah yang akan dia ingat sampai kapanpun.
.
.
.
Untuk keselamatan semuanya, saat perjalanan pulang Sasukelah yang menyetir. Sedangkan Kyuubi duduk di belakang bersama sang adik. Sejak kembali naik ke mobil, Kyuubi hanya diam dan menatap ke luar jendela membuat Naruto maupun Sasuke bingung.
"Kyuu, ada apa? Tadi kau sudah bertemu Itachi? Kau sudah menyelesaikan masalah kalian?" Tanya si adik khawatir.
"Hum, Menghajarpun aku tak sempat. Dia sedang bersama seseorang, aku tidak mau mengganggu," jawab Kyuubi datar.
"Eh! Dengan siapa?" Tanya Naruto kaget. Hal ini sedikit aneh mengingat sifat Kyuubi, dia tidak akan pergi sebelum masalahnya selesai.
Tapi, Kyuubi tidak menjawab dan memilih diam sepanjang perjalanan, 'Dengan seseorang yang cantik,' lanjut si rambut orange dalam hati. Karena Kyuubi terlihat tidak bersemangat Naruto tidak akan mengganggu kakaknya itu lebih dari ini.
Sepanjang perjalanan Kyuubi memikirkan hubungan antara Itachi dan si cantik berambut blonde yang tidak dia kenal. Entah kenapa dadanya terasa sakit setap dia mengingat itu dan ingin menangis. Tapi, dia tidak akan menangis, untuk apa menangisi orang yang sudah kau campakkan. Bukankah dari awal memang salahnya, jadi tidak heran kalau Itachi sudah lelah dengannya dan memilih orang lain 'kan? Begitulah yang kira-kira ada di dalam pikirannya.
.
.
.
Setelah kembali ke kantor pun dia tidak konsentrasi dan kebanyakan bengong, membuat Karin menatap sang bos heran. Tak lama ada ketukan 3 kali di pintu kantornya, Kyuubi melirik dari ujung matanya dengan tidak semangat.
"Masuk," ucapnya.
Setelah pintu terbuka, dia benar-benar kaget. Beberapa kali dia mengerjabkan matanya tak percaya dengan apa yang dia lihat. Itachi datang dengan sekeranjang apel yang ditata dengan cantik, sesampainya di depan mejanya sulung Uchiha itu berlutut hormat.
"Kurasa kita sudah banyak kesalah pahaman, tapi Kyuu aku sangat mencintaimu, kalau aku ada salah tolong maafkan aku," ucapnya.
Kyuubi hanya bisa terbengong-bengong, melihat hal itu. Apa ini mimpi? "Kau sinting ya! Dasar tak tahu malu! Kau pikir aku sakit, kenapa malah bawa sekeranjang apel!" Omel Kyuubi dnegan wajah merah padam, rasanya saat ini dia ingin di tenggelamkan saja di teluk Tokyo.
"Aku sinting karena terlalu mencintaimu~ Sebenarnya aku ingin membawa sebuket bunga mawar, karena kau pasti tidak akan suka, kupikir sekeranjang apel lebih baik dari pada sebuket bunga mawar."
"Baka!"
"Aku tidak perlu malu karena telah mencintamumu, jadi mau memaafkanku?" Tanyanya berharap.
Itachi berdiri dari kursinya dan menghampiri Itachi yang masih saja berlutut dan mengambil keranjang apel itu dengan wajah merah padam, "Yang salah kemarin itu aku. Maaf," ucapnya pelan yang mirip sebuah gumaman. Baginya hal ini sangat memalukan.
Itachi menyeringai senang dan memeluk Kyuubi dengan erat, "Aku juga salah, maafkan aku ya~"
"Keriput mesum sinting."
"Dasar hewan liar~Tapi, aku suka deh."
Tidak mereka sadari kalau sedari tadi pintu kantor Kyuubi terbuka, beberapa orang mengintip mereka dari balik pintu, termasuk Sasuke dan Naruto. Setelah melepaskan pelukan erat dari Itachi dengan sedikit susah payah, akhirnya Kyuubi menyadari hal itu. Dengan wajah yang masih merah padam dia mengeluarkan aura yang mengerikan, "Apa yang kalian lihat! Cepat kembali bekerja atau kupecat!" Raungnya membuat semuanya kocar-kacir.
"Ne, Kyuu jangan marah-marah, nanti tekanan darahmu naik lho."
"Dari pada mengkhawatirkan tekanan darahku, apa kau bisa jelaskan siapa pemuda blonde 'cantik' yang bersamamu tadi, Itachi?" Tanya Kyuubi dengan aura mengintimidasi yang kuat.
Itachi hanya bisa meneguk air liurnya dengan wajah pucat pasi, kalau dia menjelaskan kebenarannya akan sangat riskan. Sebaiknya dia tetap menjelaskan kalau pemuda yang dia temui adalah temannya, memang kenyataannya seperti itu sih. Tapi, ini akan jadi penjelasan yang paling susah dalam hidup Itachi.
.
.
.
Sedangkan, dua sejoli lain sedang bergandengan tangan ke tempat studio dimana Sasuke nantinya akan ada pemotretan. Karena studionya ada di gedung agensi mereka, Naruto menemani si raven sampai ke sana.
"Syukurlah semuanya berjalan baik, aku khawatir sekali," ucap Naruto.
Sasuke hanya menatap sang kekasih dari ujung matanya dan menghela napas, "Untuk apa mengkhawatirkan mereka. Sudah kubilang 'kan kalau itu hanya pertengkaran pengantin baru, mereka sama-sama bodoh."
"Jangan bicara begitu ah, tapi Itachi-nii hebat deh, bisa memikirkan apa yang disukai atau tidak disukai oleh Kyuu, so sweet~ Cinta Itachi-nii begitu dalamnya~"
"Apa kau juga mau sekeranjang apel?" Tanya si raven.
Naruto menggeleng dengan antusias, "Aku akan menerima semua yang Teme berikan padaku, tapi kalau bisa aku mau sebuket besar bunga matahari," mintanya dengan senyum lebar. "Aku bukan maniak apel seperti Kyuu, tapi kalau kau mau memberi traktiran Ramen akan kuterima juga."
"Hn, akan ku bawakan bunga matahari saja, saat nanti kita makan siang bersama," ucap si raven datar, si blonde sangat senang mendengarnya dan semakin erat memeluk lengan Sasuke. Bagaimanapun opsi kedua dengan mentraktir si blonde dengan Ramen adalah pilihan yang salah, Sasuke tidak mau lagi mendekati hal-hal yang berbau ramen dalam radius 1 meter, pengalaman mengerikannya di warung Ramen cukup waktu itu saja.
.
.
.
Setelah kekacauan yang terjadi antara ItaKyuu, Itachi berhasil lolos dari amukan Kyuubi setelah berbohong tentang pemuda blonde alias Deidara. Untuk merayakan kebahagiaannya, dia mengajak Deidara makan malan di sebuah restoran bintang 5, untung sja sang kekasih sibuk mempersiapkan lounching para Super Star yang sebentar lagi akan mulai.
"Syukurlah kau sudah berbaikan dengan pacarmu. Kapan-kapan perkenalkan dong," minta Deidara.
Itachi tersenyum kecut, 'Tidak mungkin memperkenalkan kalian saat ini, bisa gawat nanti,' ucapnya dalam hati. Itachi mengambil buku menu dan memilih untuk memesan makanan, "Hn, nanti akan kuperkenalkan. Tapi, dia sibuk, pekerjaannya menumpuk. Kau mau makan apa?"
"Aku pesan yang sama denganmu saja."
Itachi mengintip Deidara dari balik buku menu, menatapnya khawatir. "Ada apa? Apa ada sesuatu yang terjadi?"
Si blonde menghela napas panjang dan menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang empuk, "Tidak, hanya akhir-akhir ini aku baru menyadari kalau aku itu terlalu terburu-buru mencari Naruto. Aku kemari tanpa informasi secuilpun tentangnya. Bukankah aku ini bodoh?"
"Kurasa hal itu bukan tindakan bodoh."
"Ha?" Bingung si blonde.
"Padahal kau tidak pernah bertemu dengan anak yang bernama Naruto itu, hanya pernah mendengar sedikit dan kau mencuri foto lamanya dari kakekmu. Tanpa tahu seperti apa wataknya kau sayang padanya dan nekat kemari untuk mencarinya, kurasa kau itu hebat."
Wajah Deidara memerah mendengarnya dan menutupi wajahnya dengan buku menu, "Jangan bicara hal yang memalukan!"
"Gomen, tapi aku juga tidak bisa membantumu. Karena informasi yang kau berikan sangat sedikit, ini jadi seperti mencari jarum dalam tumpukan jerami," jelas sulung Uchiha.
"Aku tahu itu, makanya besok aku akan pulang kembali ke Kanada. Aku akan mencoba mencari informasi anak itu, setelah mendapat informasi yang cukup aku akan kembali ke Jepang. Sampai saat itu, apa kau akan membantuku lagi?"
"Tentu saja, kapanpun kau butuh pertolonganku aku akan datang," jawab Itachi senang. Setidaknya masalah ini selesai, dia tidak perlu melakukan hal berbahaya untuk membujuk Namikaze ini untuk pulang kebali ke negaranya.
"Ayo kita makan! Aku mau daging!" Ucap si blonde dengan semangat.
"Pesan yang kau suka, ini pesta perpisahan sih," ucap Itachi sambil mengangkat gelas wine.
"Cheers," ucap keduanya dengan gembira.
.
.
.
Keesokan paginya, Itachi mengantar Deidara ke bandara Narita. Tentu saja Itachi memakai pakaian yang tidak terlalu mencolok agar tidak mengundang masa berkerumun dan mengganggu jalannya. Tapi, tetap saja hal itu tidak membuat semua mata mengarah padanya, apalagi dia bersama Deidara. Pemuda itu tetap saja punya style yang so cute.
"Aku antar sampai sini saja, ya?"
"Hu-um, terimakasih atas bantuannya selama ini, ya? Aku pasti akan merindukanmu, kalau aku ke Jepang lagi kita bertemu di tempat Jiraiya, ya? Nanti akan kutraktir minum."
"Hn, aku akan menantikannya. Cepat ke ruang tunggu, nanti ketinggalan pesawat."
"Aku tidak pulang dengan pesawat komersil, aku sudah minta jemput orang rumah," jelas si blonde. "Pacarku datang menjemput dengan pesawat pribadi," lanjutnya dengan wajah senang.
"Oh." Memang faktanya kalau keluarga Namikaze itu kaya raya, tapi tak Itachi kira kalau pacar Deidara juga sama kayanya dengan si blonde, sampai dijemput dengan pesawat pribadi segala. Level Namikaze mamang hebat deh.
"Ah itu dia, Sasori!" Lambai Deidara, dari kejauhan tampak seorang pemuda yang tampan, malahan sangat tampan. Pemuda berambut merah dengan mata tajam.
"Itachi, ini pacarku, Sasori. Sasori ini teman yang kubicarakan di telepon waktu itu, Itachi," ucapnya memeperkenalan diri.
Kedua pemuda tampan itu saling berjabat tangan, "Senang bertemu denganmu," ucap Itachi.
Tapi, pemuda itu tetap diam saja dan segera merangkul pundak si blonde, "Hei, bersikaplah yang baik, Sasori!" protes Deidara.
Sasori mengacuhkannya dan menatap Itachi tajam, "Naiklah dulu ke pesawat, ada yang ingin kubicarakan dengannya."
Walau awalnya dia tidak setuju dengan sang kekasih, tapi pada akhirnya dia mengikuti perintah Sasori. "Bye Itachi~ Sampai bertemu lagi ya~" Lambainya dengan semangat dibalas oleh sulung Uchiha itu.
Sampai si blonde sudah tidak terlihat lagi, Sasori sedikit berdecak dan menjauh dari Itachi. "Ketua bilang, minta maaf atas kejadian ini. Kurasa keluarga itu sedikit repot dengan kedatangan tiba-tiba Deidara, tapi sepertinya kau bisa mengatasinya dengan seorang diri."
Ternyata kekasih Deidara ini bukan orang biasa, setidaknya dia tahu tentang hubungan kedua keluarga dan menyembunyikannya dari sang kekasih. "Begitulah, walau keluarga Uzumaki merasa seluruh Namikaze itu hama yang patut dibasmi. Tapi, Deidara pengecualian, dia itu polos dan baik hati, aku tidak suka menyakiti orang seperti itu. Lain halnya kalau orang sepertimu yang datang," sinisnya.
Sasori lalu menunduk dalam-dalam di depan Itachi membuatnya kaget, "Aku tak menyangka harus menundukkan tubuh di depan Uchiha sepertimu. Tapi, karena kali ini kau menjaga Deidara dengan baik aku tidak punya pilihan lain."
"Sebaiknya kau tidak melakukan hal yang kau tak suka. Aku juga tidak perlu mendapat rasa terimakasih dari orang Namikaze sepertimu. Kau sangat menjijikkan, Deidara bisa mendapat kekasih yang lebih baik darimu."
"Kuanggap itu pujian, Uchiha. Katakan pada nenk tua itu, walau ketua menyetujui perjanjian itu. Bukan berarti kami semua setuju, ada beberapa yang tetap menjalankan keinginan awal ketua. Lalu, suatu hari nanti Naruto-sama akan kembali ke sisi kami. Karena dia adalah Namikaze."
"Akan kusampaikan dengan senang hati, sebaiknya kau segera pergi, tak baik membuat kekasihmu menunggu dan tolong sampaikan salamku pada Deidara."
Setelah itu Sasori tidak bicara apa-apa dan segera pergi dari hadapan Itachi, membuat sulung Uchiha itu jengkel. "Menyebalkan, saat bertemu lagi nanti, akan kupastikan untuk menghancurkanmu," gumam Itachi sambil berlalu pergi.
.
.
.
TBC
.
.
.
Sebenarnya fict ini udah lama banget selesai, tinggal ngedit aja. Tapi, Frau males banget, rencanaya sih bakal Frau post-in sama-sama Run to Etoile yang masih dalam setengah pengerjaan. Tapi, tuh fict satu itu ngadat di tengah cerita, dari pada kelamaan, Frau update yang ini dulu. Untuk yang nunggu Run to Etoile bakal Frau publis sekitar bulan 7-8 lama banget ya? Habis Frau mau KKN.
Ngomong-ngomong soal KKN, mungkin untuk sementara Frau bakal Hiatus. Hiatus sementara lho, soalnya Frau nggak tahu bakal di taruh di daerah mana, tapi Frau berdoa biar di tempatkan di daerah yang masih bisa dijangkau, dekat ATM, dekat warung, dekat pasar, and dekat rumah, itu sih maunya Frau ehehehe…
Akhir-akhir ini Frau juga jarang buka fandom Naruto and jalan-jalan ke fandom Bleach, pair GrimIchii T.O.P banget deh! Seme liar ama uke polos, yahut! Tapi, bukan berarti pair TemeDobe kalah, mereka juga yahut. Terus ada satu Author di fandom Bleach yang membuat Frau tidak bisa berkata-kata saking hebatnya dalam menulis and jalan cerita yang menarik, bisa jadi guru untuk Author lain dalam menulis fict. Sugoi deh~
Waktunya balas Review~
.
.
ukkychan :
ItaDei hanya berteman kok, gak ada bumbu-bumbu cinta, tenang aja. Mana berani si keriput mesum selingkuh di belakang Kyuubi, xixixixixi…
Makasih udah review, Ukkychan…
Amimi :
Love U to Amimi!
Gomen SasoDei cuma numpang lewat, ntar mereka bakal Frau munculkan lagi deh…
Makasih udah review, Amimi…
BarbeKyu :
Rival sementara doang, Dei 'kan udah punya Saso-chan…
Bener tuh, Kyuubi udah keterlaluan tap dia udah intropeksi diri kok…
Makasih udah review, BarbeKyu…
Rose :
Cinta Itachi ke Kyuubi nggak tergoyahkan kok. Kedatangan Deidara terjelaskan di chepi ini.
Makasih udah review, Rose…
evi chaan :
Syukurlah lemon chepi kemarin nggak terlalu vulgar, habis Frau juga malu sendiri kalau nulis yang vulgar banget, walau udah diatas 19 tahun tetap aja risih.
Makasih udah review, Evi-chaan…
nami asuma :
Itachi nggak bakal selingkuh kok, dia kan masih sayang nyawanya, ehehehehe…
Baca Devil's Sign lagi ya, jangan lupa review *maksa*, xixixixixi…
Makasih udah review, Nami…
Yashina Uzumaki :
Kyaaa… Yash mesum ih… *Teriak gaje*, suatu saat Frau buatkan yang kayak gitu deh…
Makasih udah review, Yash…
Imperiale Nazwa-chan :
Wah-wah, ternyata banyak juga yang sakit hati ngelihat Itachi di jahatin Kyuu ya? Tapi bener tuh, kalau nggak gitu sikap Kyuu nggak bakal berubah.
Dei nggak mungkin jatuh cinta ke Itachi kok…
Yang dicari Dei udah kebuka di chepi ini kan…
Makasih udah review, Nazwa-chan…
Queen The Reaper :
Syukurlah kalau lemon kemarin terpuaskan, xixixixi…
Itachi nggak berani selingkuh kok…
Maaksih udah review, Queen…
KyouyaxCloud :
Nyehehehehe, ternyata nggak jadi kerebut deh. walau jadinya sedikit cemburu, nyehehehehehe…
Makasih udah review, Kyouya-san…
Nasumi-chan Uharu :
Apa di chepi ini Kyuubi udah terlihat cemburu?
Makasih udah review, Nasumi-chan…
Uciha Hikari :
Wah ketinggalan 2 chapter ya? Nyehehehehe, kemarin Frau libur makanya cepat update, kalau sekarang sih udah sibuk lagi, jadi agak lama deh updatenya.
Tenang Dei udah punya kekasih kok…
Makasih udah review, Hikari…
Kishu Mars :
Pertanyaan Kishu terjawab di chepi ini~
Makasih udah review, Kishu…
Nara Hikari :
Wah banyak yang sebel ma sikap Kyuu yang kemarin ya… Gak Frau sangka efeknya sehebat ini.
Makasih udah review, Hikari…
hatakehanahungry :
Seperti biasa, Hana review panjang and buat Frau nyengir bacanya, hehehehehe… Love it!
Dei emang jadi cowok yang fashionable, gimanapun dia pecinta mode kelas dunia.
Makasih udah review, Hana…
Kyukyukyu :
Rasa penasaran Kyukyu semoga terjawab di chepi ini… Baca dari chepi 1 dong *Maksa*
Makasih udah review, Kyukyukyu…
ChaaChulie247 :
Chulie nge-review ampe 2 kali nih, tapi no problem kok.
Makasih udah review, Chulie…
Uchiha Rika :
Konichiwa, ogenki desuka?
Salam kenal juga, Rika…
Gomen, untuk kali ini Frau terpaksa bakal hiatus, habis Frau udah harus KKN.
Makasih udah review, Rika…
UzuChiha Rin :
Salam kenal juga Rin…
Semoga semua rasa penasaran Rin terpuaskan di chepi ini.
Dan, begitulah Gaara dan Shukaku hanya kebagian peran kecil plus di kacangin, kasian deh. Tapi ntar mereka muncul lagi kok…
Makasih udah review, Rin…
.
.
.
~ So, mind to review, minna-san… \(-_-)/
