Disclaimer:
Naruto [Masashi Kishimoto] and High School DxD [Ichie Ishibumi]
Saya tidak mengambil keuntungan materi apapun dari fanfiksi yang saya publish.
.
Lime or Lemon
Drama, Suspense, Romance, Friendship, Family, Fantasy, Spiritual, and etc.
Rate : M
Type : Crossover
.
Warning! : OOC, OC, Typo(s), AU, AR, AT, Lime, Lemon, NTR and many more!
.
Chapter 8 Tapi Bukan Aku
.
.
Wajah yang gugup, lidah yang berkeluh dan detakkan jantung yang tidak stabil membuat Minato kelabakkan atas kedatangan sang anak. Keringat dingin mulai membasahi dahi licinnya.
"Ayah, ayah sedikit aneh. Ada apa sebenarnya, Yah?" tanya Naruto sambil memandangi wajah ayahnya.
"Naruto ... ano."
Minato menundukkan wajahnya sambil tetap memegang kedua pundak Naruto. Menahan sang anak agar tidak memasuki apartemennya.
"Naruto, maafkan ayah. Hari ini ayah sedang sangat sibuk. Bisakah kau kembali besok lagi?" tanya sang ayah sambil mencengkram pundak sang anak.
Naruto merasa sesuatu yang tak patut untuk diketahuinya sedang terjadi. Ia kemudian pasrah memenuhi permintaan sang ayah.
"Baiklah, Ayah. Aku mengerti. Kalau begitu aku pamit, sampai jumpa," ucap Naruto lalu mulai beranjak pergi.
Minato pun mengangguk, mengiyakan ucapan sang anak. Di dalam hatinya merasa beruntung karena skandal dirinya tidak diketahui oleh Naruto. Minato kemudian dengan segera menutup pintu apartemennya dan menguncinya dari dalam. Sedang Naruto saat melihat pintu itu ditutup, ia segera berbalik sambil bergumam di dalam hatinya.
'Ayah, apa firasatku benar, seperti yang ibu ceritakan...?' tanyanya dalam hati.
Naruto penasaran dengan apa yang sedang terjadi. Ia berusaha mencari tahu saat itu juga, melupakan semua aktifitasnya sesaat.
.
.
.
Sementara itu...
Minato segera menyuruh Rias bersiap untuk segera pergi dari dalam apartemennya.
"Ada apa, Minato-nii? Kau tampak gugup sekali."
Rias yang hanya tertutupi selimut tebal sampai ke bagian dada itu merasa bingung dengan sikap Minato yang tiba-tiba berubah drastis setelah menerima kedatangan sang tamu.
"Rias, aku minta kau segera bersiap. Kita pergi dari sini, sekarang," pinta Minato lalu segera memakai pakaiannya yang tergeletak di atas lantai.
"Tapi, kita kan belum selesai?" sanggah Rias halus.
"Masih ada yang lebih penting dari ini, Rias. Tolong cepat bergegas, Sayang." Minato meminta ulang kepada Rias.
Rias yang curiga hanya dapat memenuhi permintaan Minato, tanpa banyak bertanya ia kemudian ikut mengambili pakaiannya yang berserakkan di atas lantai.
Sepuluh menit kemudian keduanya keluar dari dalam apartemen.
"Kita akan kemana, Minato-nii?" tanya Rias yang manja.
Minato mengunci pintu apartemennya dari luar, ia kemudian merangkul Rias dengan memegang pinggul kirinya. Saat itu Rias berada di sisi kiri Minato.
"Aku akan memenuhi apa yang kamu pinta, Cantik," jawab Minato sambil mencolek hidung Rias yang licin.
Rias pun tersenyum gembira, akhirnya apa yang selama ini ia inginkan diwujudkan oleh Minato.
"Baiklah, mari kita pergi," lanjut Minato sambil berjalan mesra bersama Rias, Rias pun membalas rangkulan dengan memegang pinggang kanan Minato.
Sementara dari balik lorong apartemen, terlihat seorang pemuda yang sedang mengintip percakapan keduanya. Pemuda itu tampak kesal, terlihat dari raut wajahnya yang merah padam.
"Jadi ... ayah!"
Ya, pemuda itu adalah Naruto. Putra tunggal Minato Namikaze yang sedang mencari tahu alasan kenapa sang ayah dapat menolaknya masuk ke dalam apartemen, padahal ia sudah melakukan perjalanan jauh hanya untuk menemui sang ayah tercinta.
"Rias!"
Naruto geram bukan main, laju darahnya begitu cepat. Hampir-hampir saja jantung di dalam tubuhnya pecah karena melihat kejadian itu di depan kedua mata kepalanya sendiri. Ia segera berbalik badan sambil mengepalkan kedua tangannya. Hatinya benar-benar hancur setelah mengetahui alasan sang ayah menolak kedatangannya. Kali ini Naruto benar-benar marah kepada dirinya sendiri.
"Dasar wanita jalang!"
"Arrghhh!"
Naruto kemudian pergi meninggalkan lorong tempat ia mengintai sang ayah. Ia tidak berniat memergoki Rias saat itu karena emosinya sedang memuncak, yang pasti akan ada yang terbunuh jika Naruto melampiaskan kekesalannya saat itu juga.
.
.
.
Senin, pukul dua siang waktu setempat.
Terdengar suara pintu diketuk dari arah luar. Tak ada yang menyahut di siang itu. Nampak dua orang lelaki dan satu orang perempuan masih menunggu dibukakannya pintu.
Salah satu di antaranya bernama Sasuke, pria berambut emo berpakaian t-shirt hijau dibalut jaket kulit yang berwarna hitam dan celana jeans birunya tampak berulang kali mengetuk pintu. Sepatu sport hitam yang ia kenakan tampak serasi dengan tas punggung yang ia sampirkan di pundak kirinya.
Ia kemudian mengeluarkan handphone dari saku celana kanan lalu menghubungi sang pemilik rumah.
TUUTT
TUUUTTT
Telepon itu selalu saja berakhir sendiri saat ia menghubunginya.
"Bagaimana, Sasuke. Apa terangkat?" tanya seorang pemuda berkacamata, memakai cardigan abu-abu lengan penjang, jeans hitam dan juga sepatu sport hitamnya.
"Hn, tidak," jawab Sasuke singkat.
Tampak raut kecemasan di wajah sang gadis.
"Bagaimana ini, aku takut jika terjadi apa-apa dengannya, Sasuke, Sai ..."
Dialah Haruno Sakura yang sangat mencemaskan keadaan Naruto, terlebih saat Sakura membaca status terakhir Naruto tadi malam di sebuah jejaring chat yang biasa disebut dengan WA.
.
Kau atau aku yang akan mati, PENGKHIANAT.
.
Kata-kata itu selalu terbayang di benak Sakura, ia kemudian mencoba bergantian mengetuk pintu sedang Sasuke terus mencoba menghubungi sang pemilik rumah yang tak lain adalah Naruto. Sai sendiri memundurkan langkahnya ke belakang mencoba melihat keadaan kamar Naruto yang berada di lantai dua rumah minimalis itu.
Sai kemudian mengambil kerikil lalu ia lemparkan ke atas tepat di mana kamar Naruto berada. Mereka masih tampak menunggu dibukakannya pintu.
.
.
.
Sementara itu, di lain tempat...
"Selamat datang."
Tsubaki menyambut kedatangan pengunjung yang datang ke kedai milik sepupunya, Akeno.
Wajah santun kala dirinya menyapa kedatangan pengunjung seketika berubah drastis di saat ia melihat siapa gerangan pengunjung yang datang ke kedainya.
Seorang pria bertubuh tinggi sekitar 175cm memakai kemeja biru metalic berlengan panjang, celana dasar hitam dan juga sepatu pantofel hitam mengkilat.
"Kau ..."
Tsubaki tak percaya jika pengunjung yang datang kali itu adalah...
"Selamat siang, benarkah ini kedai Hime's milik Akeno?" tanya sang pria kepada Tsubaki.
Pria itu tampak tidak mengenali Tsubaki.
"Kau kan ... Yuuto ... Kiba Yuuto?" ucap Tsubaki tak percaya.
"Ehhh?"
Pria yang memang Yuuto itu tampak bingung sendiri.
"Dasar kau ... humas bodoh!" Tsubaki kemudian berkata di luar tata krama pelayanan terhadap pengunjung.
"Emm, siapa ya? Sepertinya kau mengenal diriku?" tanya Yuuto yang terheran.
Tsubaki lalu keluar dari area kasir, ia mendekati Yuuto lalu membuka kunciran rambut dan bando berenda putih yang ia pakai.
"Lihat aku, kau masih tidak mengenali diriku?" tanya Tsubaki sambil meminta Yuuto untuk melihatnya lebih jelas.
"Errr..."
Yuuto menggaruk-garuk pelipis kanannya. Ia sungguh tidak sadar siapa gerangan gadis yang sedang berada di hadapannya ini.
"Hufft..."
Tsubaki menghela napasnya sambil menyilangkan kedua tangan di dada.
"Baiklah, apa kau masih tidak ingat terhadap bendahara Osis di SMA-mu dulu? Apa kau masih tidak ingat saat sang bendahara memintamu untuk membuka sepatu karena kau biasa menyimpan uangmu di dalam sepatumu itu? Apa kau masih tidak ingat saat bendahara itu mengejarmu sampai di gerbang sekolah hanya untuk menagih uang iuran yang belum kau bayarkan. Apa kau-"
"Cukup-cukup." Yuuto menghentikan ucapan Tsubaki sebelum Tsubaki melanjutkan perkataannya.
Tsubaki pun terdiam sambil memejamkan matanya. Ia menunggu Yuuto mengingat siapa gerangan dirinya itu.
"Jadi kau itu ... bendahara Osis waktu aku SMA, ya? Kalau begitu kau sangat menyeramkan saat itu, Tsubaki. Kau seperti seorang debt kolektor," ucap Yuuto kemudian.
Mendengar jawaban dari Yuuto, Tsubaki kemudian menatap Yuuto yang lebih tinggi sepuluh senti dari dirinya.
"Jadi kau sudah mengingatku?" tanya Tsubaki sambil bertolak pinggang.
"Hem, iya," jawab Yuuto yang sedikit memundurkan kepalanya ke belakang karena takut.
Mereka kemudian terdiam sejenak dan...
"Hahahahaha..." Mereka tertawa bersama.
"Jadi kau sudah ingat denganku. Hahaha."
Tsubaki tetawa renyah saat mengingat masa-masa dirinya menjabat sebagai bendahara Osis.
"Iya, hahahaha. Kau sungguh menyeramkan saat itu, Tsubaki. Lebih menyeramkan dari seorang debt kolektor. Hahahaha."
Yuuto ikut tertawa sambil memegang kepala dengan tangan kanannya, tanda tak mengerti mengapa pertemuan ini harus terjadi.
"Hah, hah, baiklah. Ada urusan apa kau kemari, Yuuto? Sekedar berkunjung atau ada alasan yang lain. Ingin bertemu denganku? Hahaha," tanya Tsubaki lagi.
Yuuto sedikit malu saat Tsubaki berkata seperti itu kepada dirinya.
"Aku ... aku ingin bertemu Akeno. Aku dengar dari Irina bahwa Akeno kembali ke sini," jawab Yuuto kemudian.
"Irina?" Tsubaki tampak bingung.
"Ya Irina adalah teman sekantor kami, kedatanganku ke sini untuk urusan pekerjaan," lanjut Yuuto.
"Oh, baiklah." Tsubaki pun mengerti akan maksud Yuuto berkunjung ke kedai Hime's.
"Akeno sedang berada di teras belakang. Kau dapat memutar arah untuk menemuinya," ucap Tsubaki kemudian.
"Jadi aku keluar dulu, ya?" tanya Yuuto pura-pura tidak mengerti.
"Ya, itu benar. Pintu samping hanya terhubung dengan kamar mandi. Jadi jika kau ingin menemui Akeno kau harus mendatangi ruangan kerjanya," jawab Tsubaki.
"Oh, baiklah," sahut Yuuto kemudian.
"Sudah sana cepat pergi, atau kau mau kutagih seperti dulu lagi?" ledek Tsubaki sambil memakai bandonya kembali.
"Baiklah, terima kasih, Tsubaki," ucap Yuuto sambil tersenyum ke arah Tsubaki.
Tsubaki hanya mengangguk sambil terus tersenyum ke arah Yuuto, ia menjadi geli sendiri di kala mengingat masa-masa SMA-nya, terlebih saat ia menagih Yuuto secara kejam di hadapan siswa-siswi yang lain.
.
.
.
Yuuto kemudian keluar dari kedai dan memutar arah jalannya. Saat ia tiba di teras belakang kedai, memang benar seorang gadis manis tampak sedang mengetik sesuatu pada laptop pribadi.
Akeno sedang duduk tegap memakai baju terusan berwarna putih dengan motif bunga mawar berwarna pink. Baju terusan itu menutup hingga ke lutut kedua kakinya. Tampak ia juga memakai sepatu sandal berbahan dasar plastik yang berwarna putih dengan motif jaring ikan.
"Akhirnya aku menemukanmu, Akeno," sapa Yuuto yang berdiri di samping kanan Akeno. Ia agak jauh sekitar tiga meter dari tempat di mana Akeno duduk.
Akeno yang sedang mengetik itu kemudian menoleh ke arah asal suara.
"Yu-to!"
Ia terkejut saat melihat keberadaan Yuuto yang berada di teras belakang kedainya. Yuuto pun berjalan mendekati Akeno.
"Boleh aku duduk?" tanya Yuuto meminta izin untuk duduk di sebelah kiri Akeno.
Akeno tersenyum ke arah Yuuto sambil berkata, "Kenapa kau tidak mengabariku jika kau akan datang kemari, Yuuto?" tanya Akeno kemudian.
Yuuto kemudian menarik kursi yang terbuat dari besi itu, ia duduk lalu segera menatap Akeno lebih dekat.
"Aku tidak punya waktu untuk memberi kabar orang sesibuk dirimu, Akeno," jawab Yuuto sambil menatap Akeno.
"Hemm..."
Akeno menghela napasnya sambil memejamkan mata, ia mengerti benar akan maksud kata sindiran yang Yuuto ucapkan secara halus.
"Maafkan aku, aku tidak mengabarimu beberapa hari ini."
Akeno menghentikan aktifitas mengetiknya, ia merasa bersalah atas tindakkannya terhadap Yuuto.
"Sudah, tak apa."
Yuuto berusaha membangkitkan semangat Akeno lagi, saat itu Yuuto ingin sekali mengusap poni rambut Akeno, tapi ia tidak berani melakukannya.
Percakapan pun di lanjutkan setelah Akeno menawarkan minuman kepada Yuuto.
"Tidak usah, Akeno. Terima kasih. Aku sudah minum tadi," jawab Yuuto menolak secara halus tawaran minum Akeno.
"Kedatanganku kemari didorong oleh dua alasan yang kuat. Yang pertama ini berdasarkan urusan pekerjaan dan yang kedua memang alasan pribadiku sendiri." Yuuto memulai percakapannya.
Akeno kemudian menutup laptopnya. Ia sangat menghargai kedatangan Yuuto yang sudah jauh-jauh datang hanya untuk menemui dirinya.
"Maafkan aku, Yuuto. Aku tidak memberi kabar kepadamu," ucap Akeno lagi. Akeno benar-benar diselimuti perasaan bersalahnya.
"Aku tidak mempersalahkan masalah pekerjaanmu di kantor redaksi ayahku. Aku hanya sedikit merasa bersalah jika karena ulahku, kau mengundurkan diri dari kantor redaksi." Yuuto mengungkapkan isi hatinya.
"Yuuto, kau jangan berpikir seperti itu. Ini tidak ada hubungannya denganmu."
Akeno memegang tangan kanan Yuuto yang berada di atas meja. Ia benar-benar tidak enak hati kepada Yuuto yang sudah banyak membantunya dalam hal penulisan cerita selama ini.
Sesaat saat kedua tangan itu bersentuhan membuat Yuuto merasa bahagia, karena akhirnya Akeno menyentuh dirinya yang sudah satu tahun belakangan ini menjadi seorang pemuja rahasia sang Himejima.
"Akeno ..."
Yuuto tidak berani membalas pegangan tangan Akeno. Ia kemudian beranjak berdiri dari duduknya.
"Setidaknya jika kau tidak dapat membalas perasaanku kau dapat menghargainya," ucap Yuuto kemudian, ia berdiri membelakangi Akeno.
"Yuuto ..."
"Aku ... aku ..."
Yuuto ingin mengungkapkan perasaannya saat itu, terlebih beberapa hari ia tidak menjumpai sang gadis yang membuatnya rindu setengah mati.
"Akeno, aku sangat berharap jika suatu saat perasaan yang ada pada diriku ini dapat terbalaskan." Yuuto berucap yang ditanggapi keterkejutan Akeno.
"Yuuto, tapi-"
"Aku yakin jika Irina sudah memberitahumu. Selama satu tahun ini akulah yang selalu menaruh bunga mawar di atas meja kerjamu. Selalu menulis kata-kata indah untuk dirimu sebagai bentuk rasa ... yang ada di dalam hatiku. Apakah ... apakah kau tidak juga mengerti?"
Yuuto sedikit terbata mengungkapkannya, lidahnya tiba-tiba berkeluh karena tidak selaras dengan hati yang sudah lama menanti.
Akeno pun beranjak berdiri. Ia mendekati Yuuto.
"Yuuto, aku-"
Akeno mengerti akan maksud perkataan Yuuto, tapi trauma yang mendalam membuat dirinya tidak dapat membalas perkataan apapun yang Yuuto lontarkan.
Mereka kemudian terdiam cukup lama sambil menikmati sapuan angin yang menyerang tubuh keduanya dengan kencang. Ombak yang berkejaran menjadi saksi di antara dua hati yang belum siap menerima kekalahan.
"Akeno ..."
Yuuto kemudian berbalik menghadap Akeno, tangannya berusaha meraih kedua pundak sang gadis tapi segera ia tepiskan
"Aku tidak akan memaksamu. Aku akan menunggu dan ... aku minta segera ambil kembali surat pengunduran diri yang kau letakkan di atas meja kerjaku. Aku pamit."
Yuuto kemudian membalikkan badannya, dan berjalan meninggalkan Akeno.
"Yuuto ..."
Akeno tidak mampu berdiam, ia kemudian mengeluarkan ketakutan yang sedang melanda dirinya saat ini. Yuuto pun sejenak berhenti di saat Akeno memanggil namanya sambil tetap membelakangi Akeno.
"Aku bukan seorang gadis yang kau temui dalam keadaan utuh. Apakah hal itu akan membuatmu mundur dari perasaanmu saat ini?"
Akeno bertanya tanpa berani melihat ke arah Yuuto.
Yuuto menelan ludahnya, hatinya tercabik di saat Akeno membeberkan tentang dirinya. Sebuah kalimat kamuflase yang sangat ia pahami apa maksud dari kalimat yang diucapkan Akeno. Tapi cinta itu tidak memandang kasta, harta, raga dan rupa.
"Aku tahu, Akeno. Saat ini sulit menjumpai seorang wanita dalam keadaan utuh. Tapi aku masih berharap Tuhan menyisakan untukku seorang wanita yang mempunyai budi pekerti yang baik. Karena kelak dia akan menjadi ibu dari anak-anakku," tutur Yuuto dengan penuh keyakinan lalu ia segera pergi dari hadapan Akeno.
JLEBB
Perkataan Yuuto membuat hati Akeno luluh lantak. Tak terasa bulir air mata itu jatuh membasahi pipinya. Seorang Kiba Yuuto dapat menerima keadaan Akeno yang sudah tidak utuh lagi. Kekuatan cinta yang Yuuto berikan kepadanya, menjadi bara api yang membakar semangat hidup Akeno.
"Yuuto ..."
Akeno tersentuh, terlebih saat ia mengingat penuturan Irina tentang Yuuto yang tidak pernah berani mengungkapkan perasaannya. Yuuto diakui tidak pernah mempunyai pacar atau seorang teman dekat sepanjang hidupnya. Barulah Akeno yang membuat pandangannya berubah 180 derajat.
Yuuto benar-benar mencintai Akeno dan siap menerima segala keadaan sang pujaan hatinya. Sangat miris memang, tapi itu adalah arti dari cinta yang sebenarnya.
Tanpa mereka sadari, Tsubaki menguping pembicaraan mereka dari balik dinding tembok.
"Jadi ... Yuuto mencintai Akeno?" tanya dirinya sendiri.
Tsubaki menelan ludahnya, ia berkecil hati setelah mengetahui isi hati Yuuto.
"Ternyata aku salah."
Ia kemudian beranjak pergi dari tempat di mana dirinya berada dan kembali beraktifitas seperti biasanya.
.
.
.
Kediaman Naruto, 4.00 pm.
"Akhirnya kau membukakan pintu rumahmu untuk kami, Naruto," ucap Sakura saat masuk ke dalam rumah Naruto, diikuti Sasuke dan Sai. Keempatnya kemudian duduk di kursi sofa yang berada di ruang tamu.
"Maaf, hari ini kondisiku belum stabil. Kalian ingin minum apa?" tanya Naruto yang memakai t-shirt kuning berlambang Uzumaki dan celana tidur berbahan katun yang berwarna biru langit.
"Tak perlu repot, kami sudah membawanya."
Sai kemudian meletakkan satu kantong plastik yang berisi beberapa soft drink dan makanan ringan lainnya ke atas meja.
"Terima kasih, pasti ini ulah Sakura," cetus Naruto yang tidak enak hati
"Sudah, tak usah sungkan. Kau seperti dengan orang yang baru saja kau kenal, Naruto!" gerutu Sakura.
"Ya, ya, baiklah. Maafkan aku," sahut Naruto masih dengan nada yang lemah.
Kondisi Naruto saat ini benar-benar tidak stabil. Semalaman ia tidak bisa tidur memikirkan kejadian yang baru saja ia lihat dengan kedua mata kepalanya sendiri. Begitu pedih dan menusuk sampai ke sela-sela persendian tulangnya. Ingin rasanya ia menuangkan amarahnya, tapi ia berpikir ulang akan semua cita-cita yang sudah mulai ia rintis.
"Naruto, kedatangan kami ke sini untuk mengabarkan bahwa kita mendapat nomor audisi ke tujuh dari total delapan puluh kampus yang ikut serta dalam festival musik band kampus tahun ini." Sasuke kemudian menuturkan tujuannya.
"Ketujuh?!" Naruto pun terkejut.
"Iya, maka dari itu latihan akan kita tambah di hari Rabu dan Jumat selama dua jam penuh pada pukul tujuh malam. Apa kau keberatan?" Sakura kemudian bertanya kepada Naruto.
"Emmm, tapi kondisiku belum membaik," sahut Naruto.
"Tak apa, kita latihan santai saja. Tidak usah banyak bergerak. Toh lagu ciptaan kita juga dibawakan secara akustik," jelas Sasuke.
'Pasti ini karena Sakura yang mendaftar lebih awal sehingga kami yang harus menanggung akibatnya,' gumam Naruto dalam hati.
"Hem, baiklah aku akan berusaha." Naruto berusaha membangkitkan gairah bermusiknya.
Sakura lalu mendekati Naruto dan menepuk pundak kanannya.
"Mana semangat yang selalu berkorban dari dalam jiwamu itu, Naruto?" tanya Sakura berusaha mengembalikan semangat Naruto.
Sasuke ikut mendekat ke arah Naruto yang sedang duduk di kursi sofa yang berada di depannya.
"Saat kau mulai merasa lelah, ingatlah impian yang sedang berusaha kau raih kawan," ucap Sasuke yang diikuti oleh Sai.
"Lihatlah aku, walau aku berkacamata tapi aku tetap semangat mengejar cita." Sai ikut bersuara.
"Hei, Sai. Apa hubungannya?!" seru Sakura yang merasa ucapan Sai keluar dari topik.
"Hahaha, maafkan aku. Aku sangat sulit untuk berbasa basi." Sai mengungkapkan sifatnya.
"Ini bukan berbasa basi tahu, ini menyemangati!"dengus Sakura yang kesal.
"Sudah-sudah mari kita habiskan makanan ini." Sasuke mengalihkan pembicaraan.
Sasuke mengerti tanpa harus diungkapkan oleh Naruto apa isi hati sang Uzumaki yang sebenarnya. Sasuke mengenal Naruto sudah sejak dua tahun yang lalu. Dan Sasuke pulalah yang menjadi saksi hidup atas bencana yang menimpah keluarga Naruto.
'Arigatou, Minna-san,' bisik Naruto di dalam hati.
Naruto sangat bersyukur di saat hatinya tengah terombang ambing, masih ada teman-teman yang setia menghibur dan menyemangati dirinya.
.
.
.
Malam hari pukul sembilan malam waktu setempat.
"Yo, Naruto. Sering-sering kau mengajak ku kemari. Aku dengan senang hati akan menerimanya." Kiba berucap senang saat Naruto mengajaknya masuk ke dalam klub malam.
Suara musik yang menggema, mengguncang isi kepala dan memaksa para pengunjung untuk segera mabuk dalam keindahan malam. Banyak para gadis berpakaian mini yang berkunjung ke dalam sana. Sedang para pria mengenakan pakaian yang rata-rata tertutup, sweater atau cardigan panjang. Tak menutup kemungkinan jaket pun dipakai saat masuk ke dalam ruangan itu, sebuah area yang biasa orang-orang menyebutnya sebagai dunia gemerlap (dugem).
Tentunya setelah melalui pintu masuk yang dijaga ketat oleh dua orang penjaga berbadan kekar. Memeriksa identitas dan mengecek tubuh seorang pengunjung yang akan masuk ke dalam.
"Ini..."
Naruto kemudian memberikan identitasnya kepada penjaga klub malam bersama dengan identitas Kiba. Mereka lalu dipersilahkan masuk oleh para penjaga berbadan kekar itu.
Sesaat setelah Naruto memasuki area klub malam, matanya mencari-cari sosok yang ingin ia temui. Sementara Kiba berpisah diri lalu mendekati para gadis yang sedang asik minum minuman yang memabukkan itu, ditemani suara alunan musik yang menggetarkan jantung.
Di sudut bar, terlihat Rias yang sedang berpesta bersama kedua orang temannya. Sona dan Xenovia.
Mereka juga memakai pakaian yang serba mini dan menarik penglihatan para lelaki, sesuai dengan warna rambut mereka.
"Hahahaha, akhirnya kau mendapatkan apa yang kau mau, Rias." Xenovia tertawa saat ia memegang kunci mobil baru milik Rias temannya.
"Kau begitu hebat dapat membuat Minato membelikan mobil mahal seperti ini." Sona ikut bersuara sambil menggerakkan kepalanya mengikuti alunan musik remix yang diputar.
"Ini masih belum seberapa, lihat saja aku akan membuat Minato memberikanku sebuah rumah. Setelah kudapatkan maka dia akan kutinggalkan, kujual rumahnya lalu menghilang selamanya." Rias meyakinkan ucapannya.
"Luar biasa, kau wanita yang luar biasa, Rias. Dapat membuat semua pria bertekuk lutut di hadapanmu. Cheerrrs..." Xenovia mengajak bersulang. Rias dan Sona pun mengikutinya.
"Cheeerrrsss, hahahaha..."
Mereka bertiga tertawa terbahak-bahak, merayakan keberhasilan Rias.
Tiba-tiba Naruto mendatangi mereka dan segera saja Sona dan Xenovia mengundurkan diri
"Rias, itu ..." Sona menunjuk Naruto.
Rias segera menoleh ke arah yang ditunjuk Sona, ia pun kemudian salah tingkah sendiri mendapati seseorang berpakaian casual dibalut jaket kulit berwarna cokelat. Celana jeans dan sepatu sport biru.
'Gawat! Apa dia mendengar ucapanku?' tanya Rias dengan dirinya sendiri.
Rias segera merapihkan rambut dan juga pakaiannya saat Naruto datang menghampirinya.
"Aku ingin berbicara sebentar kepadamu," ucap Naruto lalu meminta Rias untuk pergi ke atap teras klub, karena tidak akan terdengar jelas saat berbicara di area klub malam itu. Suara musik sangat mengganggu pendengaran.
Rias pun mengikuti, ia kemudian pergi bersama Naruto menaiki anak tangga menuju lantai atap teras.
Dan sesuatu kemudian terjadi...
.
.
.
Naruto membelakangi tubuh Rias, ia membiarkan angin malam itu menerpa tubuhnya.
Rias yang takut hanya dapat berdiam diri. Karena ia tahu siapa sebenarnya Naruto. Naruto adalah atlet bela diri tingkat kota yang selalu menjadi juara dalam mendapatkan gelar sabuk emas. Bahkan kehebatan bela dirinya sudah diakui sejak Naruto SMA dulu.
"Rias ..."
Naruto mulai berucap dengan masih membelakangi Rias. Ia menahan kesal dan juga amarah yang sudah membeludak. Ingin rasanya ia mengikuti kemauan iblis yang menghasutnya untuk menjatuhkan tubuh Rias dari lantai teras atap klub malam.
Tapi semua demi cita-cita dan impiannya yang sudah susah payah ia rintis. Keinginan itupun lalu dipendamnya dalam-dalam.
"Kedatanganku kemari hanya ingin menyampaikan jika ..." Sesaat ucapan Naruto terputus.
Rias masih menunggu perkataan Naruto tanpa berani menyelanya.
"Hubungan kita cukup sampai di sini," lanjut Naruto kemudian berbalik ke arah Rias.
JLEBB
Rias terkejut, bukan perkataan putus yang ia ingin dengar dari Naruto melainkan permintaan maaf karena Naruto telah mengacuhkannya selama ini. Rias sakit hati, sakit karena cintanya harus berakhir.
"Jadi ... kau mengakhiri hubungan kita karena wanita yang kau tiduri saat itu?" Rias mencoba bertanya.
"Rias, sudah cukup kau beralibi. Memang lebih baik kita menjadi orang yang berpura-pura tidak tahu tapi sebenarnya mengetahui segalanya. Tapi tidak untuk urusan kali ini. Kau salah menilaiku," sahut Naruto.
Naruto menatap tajam Rias.
"Kau hanya seorang pemain cinta. Kau hanya penikmat nafsu dunia yang tidak mempunyai hati. Kau tidak pantas untukku. Semoga saja kau menemukan seseorang yang benar-benar mencintaimu. Tapi ... bukan aku."
Naruto kemudian berjalan berpapasan dengan Rias yang sedang terkaku tanpa dapat menjawab pernyataan Naruto tentangnya.
Naruto pun terus berlalu pergi, sebelum sampai langkah kakinya membuka pintu menuju lantai utama, Rias segera mengejarnya.
"Naruto!"
Tangisannya mulai pecah karena Rias tidak ingin kehilangan Naruto. Sosok pemuda yang mulai ia cintai dengan tulus.
Rias kemudian menahan kepergian Naruto dan memeluk Naruto dari arah belakang.
"Naruto, tolong. Tolong jangan tinggalkan aku," pinta Rias sambil menyandarkan kepalanya di pundak Naruto.
Naruto tidak menjawab, ia malah melepas kedua tangan Rias yang melingkar di pinggangnya. Dan kemudian pergi begitu saja.
"Naruto!" teriak Rias memecah keheningan suasana.
Rias benar-benar terluka, baru kali ini ada seorang pemuda yang pergi meninggalkannya. Tetesan air mata itu sudah tidak berguna saat sang Uzumaki telah membuat keputusan yang pahit.
Rias menangis, ia kemudian menjatuhkan tubuhnya ke lantai teras. Ia duduk menangis sambil menutupi wajah dengan kedua tangannya. Isakkannya begitu menyentuh bagi siapa saja yang melihat dirinya saat itu.
Sementara Naruto terus berlalu, ia menarik Kiba untuk segera keluar dari dalam klub.
"Hei, Kawan. Baru saja aku mendekati para gadis di sini. Kau sudah menarik kerah baju belakangku," sindir Kiba yang kemudian berjalan keluar klub bersama Naruto.
Naruto hanya diam seribu bahasa. Ia kemudian kembali ke rumahnya bersama Kiba dengan menaiki motor sport berwarna merah.
.
.
.
Beberapa hari kemudian, Jum'at pukul 11 malam waktu setempat.
Naruto dapat kembali beraktifitas dengan normal setelah masa sulit ia lalui. Selama dua hari dua malam, Sai dan Sasuke menginap di rumahnya yang sepi itu. Selain mengerjakan tugas bersama, mereka juga melakukan sesi latihan secara mandiri. Hanya bermodal sebuah gitar akustik, kursi kayu dan keyboard electric, mereka menambah waktu sesi latihan mereka.
"Baiklah, saatnya kita tidur. Besok jangan lupa bangunkan aku," pesan Naruto sebelum ia tertidur.
Mereka bertiga tidur sejajar dan bertelanjang dada di atas kasur Naruto. Udara yang panas tidak mampu terlawan oleh kipas kecil yang Naruto gantung di dinding kamarnya.
"Ya, akupun sudah lelah." Sai kemudian berbaring di kasur berbahan foam itu.
"Hn, baiklah." Sasuke ikut merebahkan tubuhnya.
Mereka bertiga akhirnya tertidur hanya dengan memakai boxer celana mereka, sampai sang fajar menjelang.
.
.
.
Sementara itu...
Di sebuah rumah besar yang berada di pinggir kota Tokyo. Terlihat seorang pemuda yang sedang mencampur beberapa bahan untuk segera ia lakukan uji coba.
Dialah Hyoudou Issei yang sedang mempersiapkan beberapa formula untuk ia berikan kepada sang target sasarannya. Sambil memandangi sebuah foto seorang gadis, ia menjilat sebuah pisau yang telah ia asah dengan sangat tajam.
"Akeno ..."
Sosok gadis yang ada di foto itu adalah Akeno yang sedang berfoto bersama dengan dirinya menggunakan seragam khas SMA Jepang.
"Tidak ada yang boleh mendapatkanmu. Aku pastikan itu," ancam dirinya kepada foto yang ia pandangi.
Issei berubah menjadi seorang pria yang sangat dramatis, hiper obsesi dan memaksakan kehendak kepada siapapun. Tapi kadang sifat halus dan lemah lembutnya muncul di saat ia mengawali kegiatannya untuk mendapatkan apa yang dia mau.
Ya, Issei berubah menjadi seorang psikopat kelas kakap, sejak api cinta yang ada di dalam hatinya itu padam.
"Aku akan membuatmu kembali ke dalam pelukkan ku, Akeno," ucap Issei sambil mencium foto Akeno yang ia pegang dengan tangan kirinya.
.
.
.
TBC
