Terimakasih untuk review yang sangat berharga dari Mina-san…. Plus untuk Mina-san yang telah dan akan terus mampir di fict ini.

Enjoy reading!

.

.

Disclaimer : Bleach belong to Om Tite Kubo *I don't own anything but imagination*

.

.

.

Tittle : THE IRIS

By : Nakki Desinta

.

.

Chapter 7

.

.


Waktu menunjukkan hampir pukul Sembilan, dan aku baru mengantar Rukia setelah memastikan dia membawa semua barangnya, aku jadi seperti orang yang sedang kena phobia ibu hamil. Mengurus semuanya tentang Rukia, padahal baru usia tiga minggu, bagaimana jika sudah mendekati saat-saat anak bayi akan lahir? Aku tidak bisa membayangkannya.

Aku mengantar Rukia menuju rumah sakit, entah mengapa aku jadi lebih mempercayai dokter Unohana untuk mendetailkan pemeriksaan tentang kehamilan Rukia.

Kami sampai di rumah sakit setelah melewati kemacetan jalan karena ada perbaikan, aku kasihan sekali melihat Rukia yang berkali-kali hampir muntah, dia tampak sangat tersiksa karena mual yang tidak berhenti menderanya.

Dokter Unohana sudah menunggu kami, kami bertiga masuk dalam ruang pemeriksaan, dan sementara Rukia di periksa di balik partisi yang menyelubunginya, aku menunggu dan duduk manis di kursi tunggu yang berjarak beberapa meter dari tempat pemeriksaan.

Samar-samar aku mendengar dokter Unohana menanyakan waktu terakhir Rukia haid, namun Rukia menjawabnya dengan suara yang sangat pelan, aku merasa ingin menerobos masuk untuk mendengar pembicaraan mereka.

Aku mendengar suara tawa dokter Unohana yang lembut, dan suara Rukia yang bergetar karena malu samar-samar menyapa telingaku.

"Berarti salah," kata dokter Unohana riang.

"Bukan begitu, aku-"

"Sudah-sudah,"

Suara mereka kembali hilang, aku tidak mendengar lagi kasak kusuk suara mereka, hanya suara beberapa alat yang tidak aku ketahui, jujur ruang pemeriksaan ini sangat luas, bahkan menjadi dua bagian yang sangat jauh dengan sekat ruangan partisi yang menghalangiku mendengar jelas perbincangan keduanya.

Akhirnya keduanya keluar dari ruangan, dokter Unohana tersenyum cerah, membawa Rukia bersamanya kehadapanku.

"Sebelumnya aku menyampaikan selamat, Mr. Kurosaki. Kehamilan istri Anda sungguh sebuah mukjizat, saat Rukia jatuh dari tangga, sesungguhnya sel telurnya sudah mengalami pembuahan, rahimnya kuat, setegar ibunya, karena itu janin itu bertahan hingga saat ini. Aku pun tidak mendeteksi kehadiran janin itu saat melakukan pemeriksaan pada Rukia sebelumnya. Selamat ya untuk Anda berdua."

Aku mengangguk dalam, dan sangat bersyukur.

"Kapan terakhir kalian berhubungan?" tanya dokter Unohana tiba-tiba, dan pertanyaannya membuat pipi Rukia merona merah seketika. Mungkin ini pertanyaan tabu yang mungkin dia sendiri merasa jengah dan bingung untuk menjawabnya, karena dia sendiri tidak ingat telah berhubungan denganku.

"Rukia tidak bisa menjawabnya, karena itu harus bertanya padamu, Mr. Kurosaki," tambah dokter Unohana dengan kerlingan mata jahil.

Aku memutar kembali pita memoriku, terakhir kali kami berhubungan itu malam sebelum Rukia kecelakaan, ya, tepat malam sebelumnya.

"Malam sebelum kecelakaan," jawabku.

"Itu sangat jelas," sahut dokter Unohana cepat, membuat pipi Rukia makin merah, "…berarti hari ini tepat tiga minggu lewat empat hari," lanjutnya dengan senyum lebar.

Aku melirik Rukia yang tersipu di tempat duduknya, pipinya merona dengan sangat indah, membuatku sangat ingin mencubit pipinya yang menggemaskan itu.

"Tadinya Rukia berkeras mengatakan tidak dalam keadaan hamil saat jatuh dari tangga, lalu dari mana datangnya janin itu? Rukia lupa kapan periode kedatangan haidnya, tapi setelah tadi dilakukan pemeriksaan lebih lanjut, sudah jelas semuanya," kata dokter Unohana lagi, dan aku makin yakin Rukia sudah sangat malu mendengar penjelasan panjang lebar tentang dirinya pada kami semua.

Tentu saja dia malu, dia kan tidak pernah berpikir bahwa aku pantas untuk tau semua tentang dirinya. Mungkin dia masih berpikir seperti seorang wanita yang belum menikah dan menganggap semua yang berhubungan dengan kewanitaannya adalah hal yang rahasia.

"Mulai saat ini harus perhatikan pola makan, dan asupan vitamin serta gizi yang cukup untuk kalian berdua." Dokter Unohana menunjuk Rukia dan perutnya dengan sorot matanya.

Aku masih senyum-senyum kegirangan melihat Rukia yang mengangguk pasrah di kursinya. Sekarang dia sedang dalam sesi konseling penuh nasehat dari dokter, ini yang aku suka dari sikap diamnya, dia jadi sangat penurut.

"Untuk saat ini harus rutin periksa, aku akan ingatkan jika Rukia lupa," gumam dokter Unohana.

"Terima kasih, Dokter," jawabku.

Kami pun pamit, tenang karena ternyata semua sangat baik, bukan sekedar baik. Rukia duduk tenang di kursi penumpang sampingku, matanya menatap jalan yang lurus di depan kami. Kami berdua melintasi jalan yang lebih dekat menuju kantornya, aku tidak ingin Rukia terlalu lama di jalan, karena dia kembali seperti orang yang sedang menderita mabuk perjalanan, berkali-kali hampir muntah setelah sepuluh menit berada dalam mobil.

Aku berbelok memotong jalan, melihat GPS di dekat dasbor mobil.

"Ichigo, berhenti sebentar."

"Kenapa?"

"Aku terlalu mual, aku butuh istirahat sebentar. Belikan aku jus strowberi," ucapnya tanpa beban.

Aku mengernyit mendengar permintaannya. Tapi aku menepikan mobil untuk mengambil langkah aman.

Melihat sekitar yang masih terasa asing di mataku, kami berhenti di dekat daerah pemukiman dengan deretan rumah yang sangat sederhana, aku tidak sadar jika di jalur ini ada perumahan yang bernuansa sangat pedesaan seperti ini, tidak ada café ataupun penjual minuman pinggir jalan, dimana aku harus mencari penjual jus strowberi?

"Bisa kita beli nanti saja setelah sampai di kantor?" aku mencoba menawar permintaan Rukia yang kurang tepat waktu.

"Aku mau sekarang!" tegasnya tanpa nada memohon lagi, telah berubah menjadi perintah.

Beginikah kelakukan ibu hamil yang sedang mengalami masa krisis yang disebut 'ngidam'?

Benar-benar sungguh merepotkan.

"Tapi Rukia, di sekitar sini tidak ada-"

"Ichigo, bukan aku yang meminta, tapi dia." Lagi-lagi Rukia menunjuk perutnya, yang sekrang merupakan satu-satunya kelemahanku.

"Baiklah, tapi kau ikut aku mencari jus itu," kataku yang tidak ingin mengambil resiko membiarkan Rukia sendirian, sekalipun Rukia dijaga oleh dua orang pengawal itu, tetap saja aku tidak bisa mempercayakan sepenuhnya kan?

"Aku sedang mual, aku tidak ingin jalan-jalan. Aku ingin rebahan."

Rukia menekan tuas jok dan memosisikan dirinya hingga rebahan, sudah tidak bisa lagi aku membantahnya sekarang.

Posisiku benar-benar lemah, tidak ada pertahanan untuk melawannya sekarang, karena sekarang posisinya dua lawan satu, dua karena Rukia bersama bayi kami, dan aku sendiri. Aku menghela napas berat, ini sungguh pertandingan yang tidak adil, apalagi kedua lawanku adalah yang harus aku lindungi, turuti atau aku akan makan hati sendiri. Tuhan, anugerah yang kau berikan ternyata juga agak sedikit merepotkan.

"Baiklah, aku akan minta ke salah satu pemilik rumah di sini, siapa tau mereka punya strowberi, kau tunggu di sini," kataku dengan telunjuk teracung tinggi mengancamnya.

"Aku akan menunggu," jawab Rukia tetap dengan mata terpejam.

Aku menutup pintu mobil dan mulai memindari deretan rumah di kanan dan kiriku, ada sekitar ratusan rumah, dan rumah mana yang harus aku kunjungi dulu. Aku tidak bisa membayangkan betapa malunya aku melakukan hal seperti ini. Aku melihat sebuah rumah yang luar biasa besar diantara yang lainnya, rumah orang terpandang sepertinya, seharusnya pemilik rumah ini memiliki buah lengkap di rumahnya.

Aku langsung menuju rumah besar itu dengan cat berwarna hijau terang mencolok, sangat tidak serasi warna yang dipilihnya. Aku menekan bel rumah itu, tapi yang menyapaku kemudian adalah dua ekor anjing helder dengan taring tajam dan berliur. Euh! Aku jijik melihat liur yang menetes-netes itu, dan pemilik rumah tidak juga keluar. Bukan dapat jus malah kena rabies gara-gara gigitan anjing ganas itu.

Mungkin tidak ada orang di dalam, aku berbalik, tapi kemudian aku mendengar pintu terbuka.

"Lee, Clave, diam!"

Aku terdiam saat melihat orang yang keluar dari rumah besar itu, seorang dengan dandanan nyentrik. Dia menghias kepalanya dengan hiasan menyerupai konde, lengkap dengan cepol di puncaknya, make up yang ia gunakan pun tidak lazim, dia tersenyum lebar padaku yang berdiri mundur perlahan, sedetik kemudian aku melirik papan nama pemilik rumah.

Kurotsuchi Residance

Dia membuka pintu pagar rumahnya, dan mengisyaratkan pada kedua anjingnya yang bernama siapa tadi? Oh ya, Lee dan Clave, nama anjing yang terlalu keren untuk anjing seganas mereka.

"Ada yang bisa saya bantu, Mr. Kurosaki?"

Aku bergidik mendengar namaku melesat dari mulutnya, merasakan bulu kudukku meremang seketika, melihat orangnya saja aku sudah ngeri, ditambah lagi dia tau namaku. Aku memang sudah setenar artis, dan aku benci hal itu.

Aku mendengar dari Tatsuki bahwa suami dari ibu hamil tidak boleh melihat, mendengar dan melakukan hal yang buruk, bisa menular pada si bayi. Dan harus mengucapkan mantra ampuh 'amit-amit cabang bayi' dalam hati. Aku setengah percaya saat mendengarnya mengucapkan kalimat itu semalam, tapi aku lebih baik ambil amannya saja, aku mengikuti nasehat Tatsuki.

Amit-amit cabang bayi, jangan sampai anakku mirip dengan orang ini.

"Mr. Kurosaki?"

"Maaf, Mr. Kurotsuchi?" kataku takut mengucapkan namanya, tapi lalu ia mengangguk mengiyakan sebutanku, dan dia tersenyum lebar lagi, menunjukkan giginya yang luar biasa bersih, kontras sekali dengan warna make up yang ia gunakan.

"Istri saya sedang hamil dan ingin minum jus strowberi, apakah di rumah Anda-"

"Oh, maaf sekali, kami tidak memiliki strowberi, tapi kalau kulit buaya kering, rempah-rempah kering, taring cobra dan soda api kami ada, mungkin istri Anda akan berubah pikiran jika sudah melihat rumah kami."

Aku makin ngeri pada orang ini, bisa-bisanya menawarkan seorang ibu hamil benda-benda aneh seperti itu, bisa pingsan seketika Rukia karenanya.

"Tidak, terima kasih, saya akan mencari ke rumah lain. Terima kasih!"

Aku langsung kabur tanpa menunggu jawaban orang aneh itu. Apa-apaan dia? Dukun? Mengoleksi benda-benda aneh seperti itu, pantas saja dandanannya beda dari yang lain dan tidak umum seperti itu.

"Salam untuk istri Anda, Mr. Kurosaki!" seru orang itu saat aku berjarak lima meter darinya.

Lebih baik tidak aku sampaikan! Amit-amit…

Aku sampai di rumah yang aku pikir cukup bersahabat, halamannya luas, dan sangat teduh dengan pohon mangga dan kebun kecil di sampingnya, aku mengetuk pagar besi rumah, karena tidak ada bel di rumah itu.

"Permisi!" teriakku keras-keras, sambil sesekali melirik mobilku yang terparkir di ujung jalan, aku tidak menyangka sudah berjalan sejauh ini untuk mencari segelas jus strowberi.

"Ya?" seorang nenek luar biasa renta muncul dari pintu rumah, jalannya saja seperti sudah menghabiskan berabad-abad untuk mencapai gerbang tempat aku berdiri.

"Apakah nenek punya strowberi?" seruku yang sudah tidak sabar, berharap dia segera menjawabku, karena aku sendiri ragu dia sendiri memiliki strowberi.

"Apa, Nak?" dia mendekat selangkah demi selangkah, berat dan sangat lambat. Argh! Aku makin tidak sabar melihatnya, kalau aku tinggal, sangat tidak sopan.

"Strowberi, Nek!" teriakku hingga menggema.

Si nenek sepertinya mengalami gangguan pendengaran, dia tidak juga bisa mendengarku sekalipun jarak kami hanya beberapa langkah lagi darinya. Aku akhirnya berdiam sejenak, membiarkan dia bergerak kearahku dan membukakan pintu, percuma aku berteriak keras, hanya membuang tenaga dan dia tidak juga mendengarku.

"Ada apa, Nak?"

Akhirnya dia berada cukup dekat denganku.

"Nenek punya strowberi?" kataku.

"Apa?" Si nenek mendekatkan telinganya yang sudah berkeriput padaku, aku menarik napas panjang dan meninggikan suaraku.

"Strowberi, Nek!"

"Setruk Berry?"

"Strowberi, strow-beri!" aku mengeja kata-kataku perlahan, berharap dia akan mendengarku.

"Scrup?"

Argh! Aku jadi kesal di buatnya, buat apa aku cari scrup? Untuk mengencangkan engsel di kepalaku mungkin, karena aku sudah sangat tidak sabar menghadapi nenek ini, rasanya kepalaku mau pecah.

"Kalau linggis Nenek ada," lanjut nenek itu.

"Habislah aku," gerutuku kesal sambil menepuk dahi. Linggis pula, untuk apa?

"Jus strowberi, Nek. Istriku sedang hamil."

"Kamu bercanda saja, Nak!"

Tiba-tiba nenek itu menepuk bahuku, dan mengalihkan wajah dengan gaya malu-malu, aku heran, apa yang salah dari kalimatku?

"Nenek sudah 72 tahun, mana mungkin Nenek hamil lagi, lagi pula tidak ada yang mau sama nenek tua seperti aku ini. Jangan berlebihan, Nak!"

Heh? Aku benar-benar sedang menderita kesialan beruntun, tadi ketemu orang aneh dan sekarang ketemu satu lagi nenek aneh, sudah menderita gangguan pendengaran, masih juga bisa bersikap layaknya remaja yang tersipu malu begini.

"Bukan Nenek, tapi istriku," ralatku.

"Kamu mau melamar Nenek jadi istri? Kamu sudah tidak waras Nak."

Oh, tidak! Aku bisa mati berdiri menghadapi Nenek satu ini.

"Permisi, Nek!"

Aku pun kabur darinya, merasakan jantungku akan meledak karena kesal yang mencapai ubun-ubun. Ini sungguh hari yang berat bagiku. Aku kembali mendarat di salah satu rumah yang sudah aku pilih secara acak, dan untungnya mereka masih normal, tidak mengatakan atau berlaku aneh, tapi rupanya Tuhan masih ingin menguji kesabaranku.

"Kami punya strowberi tapi tidak ada gula dan blender," jelas mereka yang sudah sangat mengasihaniku. Aku sudah bercucuran keringat hingga kemejaku rasanya menempel ke kulit saking basahnya.

"Tidak apa, aku akan mencarinya di rumah yang lain."

Mereka pun memberikanku satu kantong strowberi, tapi sebagai gantinya mereka meminta foto bersama satu keluarga, sebagai kenang-kenangan aku pernah berkunjung ke rumah mereka. Ya Tuhan, aku sudah kucel seperti ini pun masih saja mau di foto, hilang sudah kesan tampan dalam diriku.

Aku kembali bertandang ke rumah-rumah lain, aku sudah mendapatkan strowberi dan gula, tapi tidak juga menemukan rumah yang memiliki blender, hampir semua rumah aku kunjungi, hingg rumah terakhir yang berada di dekat aku parkir mobil. Aku sempat melirik Rukia yang terbaring pulas di dalam mobil, sangat tenang sementara aku sudah kepanasan mencari jus strowberi, hah… demi anak harus sampai seperti ini ya.

Kali ini aku bertemu dengan pemilik rumah lebih cepat, dia tersenyum lebar padaku saat aku menyodorkan padanya sebuah kantong plastic berisi strowberi dan sebungkus gula.

"Apakah Anda punya blender?" tanyaku dengan napas terengah-engah.

"Tidak, di lingkungan ini hanya Mr. Kurotsuchi yang memiliki blender," jawabnya.

"Apa?" seruku hampir pingsan. Pantas saja dari tadi aku berkeliling tidak juga mendapatkan blender, rupanya hanya si orang aneh itu yang punya. Lalu apakah aku harus mendatangi lagi rumah orang itu? Lagipula apakah blender miliknya steril? Bagaimana jika blendernya sudah dia gunakan untuk menggiling kulit buaya? Aku tidak ingin ambil resiko.

"Sebenarnya siapa Mr. Kurotsuchi itu?"

"Dia dokter terkenal di lingkungan ini, dia menyembuhkan penyakit semua warga di sini."

Aku mengangguk dalam, mungkin dia adalah dokter dengan metode pengobatan alternative dan tradisonal, hingga masih menggunakan kulit buaya seperti itu.

Aku melirik jam tanganku, sudah satu jam aku menghabiskan waktu mencari jus sederhana namun begitu menyusahkan ini. Aku menelan ludah, menelan kengerian yang terasa di mulutku, dan kembali ke rumah besar itu.

Anjing bernama Lee dan Clave itu tidak lagi menggonggong, mereka terikat rapi di dekat kandang mereka, sedang melahap sesuatu dari tempat makan mereka, makanan yang berbentuk cairan lengket yang mereka terus jilat. Apa yang tengah mereka makan?

"Silahkan masuk!"

Aku melompat mundur saat tiba-tiba seorang perempuan dengan baju terusan serba hitam sepaha muncul dalam sekejap tanpa suara, menatapku dengan mata malasnya. Dari mana munculnya perempuan ini? Tiba-tiba saja sudah berada di hadapanku seperti sekelebat bayangan saja.

"Mr. Kurotsuchi sudah menunggu Anda, silahkan masuk!"

Mendengarnya mempersilahkan aku masuk malah mengundang kecurigaanku, orang ini begitu yakin aku akan datang lagi ke tempatnya.

"Aku hanya ingin-"

"Kami sudah menyiapkan blender untuk Anda," kata perempuan itu kembali memotong ucapanku.

"Te-terima kasih." Kataku mengikutinya yang melangkah masuk ke rumah, aku tersentak saat memasuki rumah yang sangat remang itu, dekorasi rumah lebih mirip tempat pemujaan sekte atau dukun supranatural, dari pada tempat seorang dokter.

Aku sampai di ruangan yang berada dokter bernama Kurotsuchi ini, dia tengah duduk di kursi yang aksyen dan hiasannya lebih menyerupai kursi para raja zaman dulu, ukiran rumit dan alur yang meliuk-liuk.

"Ini blendernya, silahkan. Pasti istri Anda sudah terlalu lama menunggu," ucapnya seraya mendorong blender dengan ukuran kecil itu, bentuknya menyerupai gelas terbalik, dan tanpa permisi lagi perempuan yang tadi merebut kantung dari tanganku, dan gerakannya sangat cepat memotong strowberi, dan dalam sekejap jus strowberi sudah tersaji di dalam gelas, siap untuk aku angkut.

"Istri Anda sungguh memiliki kepribadian dan masa lalu yang rumit. Aku berharap dengan kehadiran bayi dalam kandungannya akan merubah semua nasib buruk yang tengah mengintainya," ucap Mr. Kurotsuchi tiba-tiba.

"Maksud Anda?" aku meneliti wajah orang yang terkesan kaku karena make up itu, dia terlihat sulit berkata-kata lagi karena pertanyaanku.

"Aku hanya berpesan agar Anda jangan pernah membiarkan istri Anda kembali pada masa lalunya,atau dia akan terjerumus dan tidak akan bisa keluar lagi," lanjut Mr. Kurotsuchi dengan suara serius, bahkan nyaris mengancam.

"Kau pun harus bersyukur atas janin dalam kandungannya, kau dan istrimu sama sekali tidak menyadari kehadirannya. Betapa kalian pasangan yang sangat bertolak belakang satu sama lain. Seperti siang dan malam, yang satu terlalu cerah sementara yang lain begitu kelam."

Apa-apaan orang ini? Apakah dia peramal atau ahli sihir? Hingga bisa mengetahui apa yang telah dan akan terjadi padaku dan Rukia, atau dia sedang meracau hingga tidak menyadari ucapannya, mungkin dia dokter gila, ya dokter gila. Tapi jika dia gila dari mana dia tau kecelakaan Rukia? Mungkin dari berita. Argh, aku jadi ikut gila jika lama-lama disini, apa penghuni pemukiman ini memang tidak waras semua?

Aku memutuskan untuk cepat-cepat angkat kaki dari tempat ini, lebih cepat pergi akan lebih baik.

"Terima kasih atas bantuannya, aku harus kembali," kataku seraya beranjak dari hadapannya, membawa gelas plastic yang telah tertutup rapat.

"Sama-sama. Anda bisa menganggap ku gila, tapi Anda tidak boleh menganggap ucapan ku hanya kalimat tanpa makna, karena aku melihat awan hitam menyelubungi istri Anda."

Aku berdiam sejenak, merenungkan ucapan Mr. Kurotsuchi, mungkin ada benarnya apa yang telah ia sampaikan, karena hingga detik ini Rukia tidak berkenan membuka sedikitpun lembaran tentang kehidupannya, masa lalu yang tidak bisa aku sentuh dari Rukia. Mungkinkah itu yang dia maksud? Lalu bagaimana dengan Grimmjow? Bukankah itu juga bagian dari masa lalu?

"Aku akan pastikan istriku baik-baik saja," kataku lebih pada diriku sendiri.

Dengan sebaris kalimat itu aku berlalu keluar rumah didampingi perempuan tadi. Jus sudah di tanganku, namun ada hal lain yang membebani kepalaku, aku merasa apa yang diucapkan oleh orang itu memiliki makna lain. Menjaga Rukia agar tidak lagi terjatuh dalam masa lalu, tapi masa lalu yang mana dan seperti apa? Apa yang harus aku lakukan.

Mobilku dalam jarak pandangku, dan aku menggegaskan langkah mendekati mobil, merasakan ketidaksabaran untuk segera melihat Rukia.

Aku masuk mobil dan membanting pintu terlalu keras, aku tidak sadar karena terlalu bersemangat, hingga Rukia membuka mata dan melirikku, segera saja ia terbangun dan memerhatikan gelas di tanganku. Aku mengangkat gelas penuh kebanggaan, membiarkan napasku masih memburu dan bercucuran keringat, memberikan gelas berisi jus strowberi padanya. Aku yakin blender dari dokter nyentrik itu steril, karena cukup bersih saat aku lihat tadi, dan semoga tidak ada efek apapun dari blender itu.

"Kenapa lama sekali?" ucapnya kesal.

Sabar, sabar, kau harus sabar Ichigo.

Rukia, kau tidak tau bagaimana perjuanganku mencari segelas jus itu, sampai ketemu nenek aneh yang mengira aku akan melamarnya, bahkan seorang nyentrik dengan kalimat petuah agar aku menjaga Rukia. Semuanya benar-benar menyiksaku.

Rukia merebut gelas dari tanganku dan menghabiskan semua jus dalam sekali gerakan, terlihat sangat puas dengan jus yang aku berikan. Jerih payahku tidak sia-sia.

"Hari ini panas sekali, aku sampai haus," gumamnya seraya meletakkan gelas kosong di atas dasbor, dia menelitiku yang tengah memerhatikannya.

"Kau sampai basah begitu, habis lari marathon?" ucapnya tanpa rasa bersalah sedikitpun, tapi ia meraih tissue dan mengusap dahiku, mengeringkan keringatku, seperti tersapu hujan yang mendinginkan, panas yang aku rasakan hilang begitu saja, atau mungkin karena efek AC mobil? Hah, terserah saja, yang penting Rukia tidak lagi teriak-teriak minta sesuatu yang tidak masuk akal.

Aku bisa menyebut dan memperingati hari ini sebagai hari Tragedi Jus Strowberi, aku akan mengingat baik-baik hari ini. Tapi aku juga senang bisa memenuhi keinginan anak kami, sudah aku buktikan aku ini Ayah yang baik, kan?

Kami baru sampai di kantor Rukia menjelang makan siang, jadilah aku ikut makan siang bersama Rukia dan Ulquiorra. Si wajah stoic yang semalam baru saja beradu mulut denganku itu, sekarang sudah kembali ke sikapnya yang semula,dia bahkan sempat menjabat tanganku untuk memberikan selamat atas kehamilan Rukia.

Aku bangga minta ampun mendapat salut darinya, karena ini salah satu pembuktian Rukia adalah milikku dan tidak bisa di rebut lagi oleh siapapun.

Hinammori mencegat langkah kami saat kami akan kembali dari kantin kantor, setelah makan siang, dia memberikan sebuah karangan bunga pada Rukia, hanya terdiri dari tiga kuntum bunga yang sangat bertolak belakang.

"Ini dikirim oleh seseorang kebetulan dia tidak mencantumkan nama, tapi kurir paket bunga menyampaikan pesan dari pengirimnya, ucapan selamat atas kehamilanmu, Rukia," ucap Hinamori yang bermaksud menyerahkan karangan bunga itu, tapi Rukia malah terdiam melihat bunga di tangan Hinamori, tidak juga menerima karangan bunga itu.

Bunga itu terdiri dari tiga kuntum bunga mawar, tapi warnanya ada putih, orange, dan pink. Aku belum pernah melihat ada seseorang yang memberikan karangan bunga dengan kombinasi warna seaneh ini.

"Seseorang?" bisik Rukia purau, dan Hinamori mengangguk dalam.

"Kau boleh mengambil bunga itu, Hinamori. Aku tidak suka bunga itu!"

Aku membaca kebencian dalam suaranya, bahkan wajahnya menggelap saat kembali melangkah menjauh dari Hinamori yang masih berwajah bingung karena reaksi Rukia yang sangat tidak bersahabat. Aku dan Ulquiorra pun sama bingungnya dengan reaksi Rukia, entah apa yang salah dengan karangan bunga itu? Mungkinkah karena warnanya yang saling bertabrakan?

Aku mengejar langkah Rukia, dan saat aku sudah cukup dekat aku mendengar Rukia sedang berbisik, sangat pelan, bicara pada dirinya sendiri dan tidak bisa aku dengar apa yang ia bicarakan.

"Rukia?" aku menepuk bahu Rukia, membuat Rukia kembali ke dunia nyata dan berhenti mengoceh, dia membeku menatapku yang meneliti wajahnya yang pucat.

"Aku tidak apa-apa, lebih baik kau kembali ke kantormu sekarang, Ichigo."

Rukia mendorongku berbelok menuju pintu keluar, tenaganya sangat kuat, hingga mau tidak mau aku menurutinya. Aku berjalan menuju lobby, dan mobilku sudah di parker disana.

"Aku akan menjemputmu nanti sore," kataku sebelum masuk ke mobil, Rukia menjawabnya dengan sekali mengangguk, sedangkan Ulquiorra yang berdiri di sebelahnya hanya diam, orang ini jadi jarang bicara hari ini. Sedang menghemat suara rupanya.

"Jangan pergi sebelum aku datang!" ancamku sungguh-sungguh.

Aku pun masuk mobil dan menyalakan mesinnya, melambai sambil menginjak gas dan keluar memutar, aku melihat sosok Rukia yang perlahan mengecil dari kaca spionku, dia aman bersama Ulquiorra disana, dan dua orang pengawal akan selalu menjaganya, aku tersenyum melihat Rukia melambai padaku, tapi tiba-tiba ada yang aneh dengan wajahnya, wajahnya berubah penuh kengerian, dia menunjukku, aku bingung dengan apa yang sedang ia tunjuk, dan kemudian aku merasakan hantaman keras dari sisi kanan mobil hingga aku terhempas ke kiri dan kepalaku menghantam kaca mobil. Reflek aku menekan pedal rem agar mobil tidak berputar.

Kepalaku sakit sekali, pandanganku kabur saat melihat sebuah mobil sedan hitam melintas dengan kecepatan tinggi mendahuluiku, mobil yang terlalu gelap hingga aku tidak bisa melihat siapa pengemudinya. Kepalaku seperti berputar-putar, aku reflek memegang kepalaku untuk mengusir sakit yang terus berdenyut.

Ku pejamkan mata dan berusaha menghilangkan rasa sakitnya, ditengah-tengah usahaku mengusir sakit, aku mendengar ketukan di kaca mobil, tanganku yang masih gemetaran mencari-cari tombol otomatis penurun kaca mobil, tapi pintu mobil malah terbuka dan seketika aku mendapati wajah Rukia memenuhi jarak pandangku, dia terengah-engah.

"Kau tidak boleh lari-lari, Rukia. Kasihan bayinya," kataku lemah, kepalaku masih sakit sekali.

"Bodoh!" Rukia menubrukku dan memelukku erat, aku mendengar isak tangisnya.

"Kau seharusnya mencemaskan dirimu sendiri, bukan aku," bisiknya. Aku merasakan tubuhnya yang gemetar, memelukku, napasnya tidak teratur, berhembus hangat ke leherku.

"Aku tidak apa-apa, hanya sedikit pusing," jawabku untuk menenangkannya, dan aku mengelus puncak kepalanya, sakit di kepalaku perlahan hilang, meresapi harum dari tubuh Rukia memberikan sedikit efek penenang padaku.

"Aku sangat takut, mereka mengincarmu, Ichigo…" desisnya lagi. Suaranya terdengar sangat menderita, aku menarik tubuhnya hingga duduk di atas pangkuanku, dia tidak juga mengendurkan pelukannya, tetap memelukku erat, seolah takut aku akan hilang dari pandangannya.

"Sshh, aku baik-baik saja, Rukia. Aku tidak terluka, jangan terlalu cemas, ingat kandunganmu. Hmm?" gumamku seraya mencium puncak kepalanya, dan aku tidak mendengar jawaban apapun dari Rukia. Aku tau kecemasannya padaku, tapi bukankah ini terlalu berlebihan? Aku baik-baik saja, mungkin tadi hanya orang mabuk yang sedang mengendarai mobil dan menabrakku tanpa sengaja.

Suara sirine mobil polisi terdengar, Rukia kontan mengangkat wajahnya, dan menatapku dengan mata basahnya, dia menangis karena mencemaskanku.

"Polisi sudah datang, aku harus menjelaskan pada mereka," kataku meminta Rukia untuk berhenti mencemaskanku lewat tatapan mataku.

Ragu-ragu Rukia beranjak dari pangkuanku, dan berdiri menungguku bangun dari jok setelah susah payah aku berkutat dengan sabuk pengaman.

"Mobil itu tanpa plat nomor, warnanya hitam pekat, dan dia benar-benar ingin menghantam mobil Mr. Kurosaki, tapi karena laju mobil Mr. Kurosaki lambat, tidak sampai menyebabkan tabrakan hebat."

Aku menoleh pada Ulquiorra yang tengah bicara dengan salah satu petugas polisi, polisi itu berjalan mendekatiku.

"Anda baik-baik saja, Mr. Kurosaki?"

"Ya, aku baik-baik saja, ku pikir pengendara mobil itu pasti sedang mabuk hingga menabrak mobilku," jelasku.

"Tidak ada orang mabuk di jam begini, dan mengendarai mobil tanpa plat nomor. Kesengajaan tidak mencantumkan nomor plat agar tidak terdeteksi, ini percobaan pembunuhan yang direncanakan, Mr. Kurosaki!" tandas Ulquiorra datar namun penuh keyakinan.

"Bagaimana mungkin-"

"Mobil itu bergerak cepat setelah mobilmu keluar dari parkiran, bergerak lurus bermaksud menabrak mobilmu," kata Ulquiorra tegas.

Aku bergerak dan memeriksa kondisi mobilku. Benar saja, bagian kanan mobil sampai ringsek dan hancur total. Siapa orang yang ingin membuatku menjemput maut?

Aku menoleh pada Rukia yang berdiri memeluk diri di seberangku, dia menggigit bibir bawahnya kuat-kuat, dia tengah menahan diri, dia sangat ketakutan. Dibanding aku yang baru saja mengalami kejadian yang sesungguhnya, Rukia terlihat jauh lebih terguncang.

"Kami akan menyelidiki kasus ini, kami akan membawa mobil Anda untuk pemeriksaan lebih lanjut."

"Silahkan, pastikan Anda menangkap pelakunya dengan cepat, tidak seperti kasus Rukia yang terus berlarut-larut tanpa kejelasan!" kataku mengakhiri pembicaraan dan kembali pada Rukia.

Aku memeluknya tanpa isyarat apapun, membawa Rukia berjalan kembali ke kantornya, meninggalkan kerumunan orang yang kebanyakan adalah penghuni kantor dan Ulquiorra yang memberikan keterangan pada polisi. Aku tidak cemas pada diriku sendiri, aku lebih cemas pada Rukia yang tidak bisa juga menenangkan diri. Dia seperti sedang dikejar mimpi buruk yang tak kunjung berakhir.

Dia mengatakan aku sedang diincar,dan seharusnya mencemaskan diri sendiri. Rukia mengetahui sesuatu, dan aku harus mencari tau semua kebenaran tentang ini semua. Jika tidak kami akan sama-sama gila hidup dalam tekanan tanpa akhir seperti ini.

Rukia duduk di sofa dalam ruangannya, bersandar sepenuhnya di sandaran sofa, mengistirahatkan kepalanya, dan aku mendapati raut wajahnya semakin putih, dia semakin pucat. Aku membiarkannya istirahat sementara aku memeriksa kepalaku yang baru bengkak akibat benturan tadi, sakit juga ternyata, aku pun mengoleskan salep yang diberikan Hinamori untuk mengurangi efek memar yang bisa jadi makin besar.

Hari ini aku benar-benar sial, dan yang ini bukan kesialan tak disengaja, memang ada seseorang yang sedang berusaha memecah kebahagiaanku dengan Rukia. Padahal aku berpikir teror itu sudah reda sedikit, tapi rupanya aku memang tidak boleh lengah barang sedetikpun, karena sekarang justru aku yang diserang.

"Kau tidak perlu ke dokter?" tanya Rukia yang kembali menegakkan tubuh setelah aku meletakkan salep di atas meja, selesai mengobati bengkak di bekas benturan.

"Aku baik-baik saja," ucapku tenang, dan Rukia tidak nampak lega mendengar jawabanku. Aku tau yang ia inginkan bukan jawaban atas keadaanku, tapi jawaban kapan berakhirnya semua teror ini.

"Aku tidak perlu pengawal, yang membutuhkan pengawal adalah kau, Ichigo. Aku tau dua orang yang dikirim Jendral Ichimaru untuk melindungiku, kau yang memintanya, kan?"

Aku terbelalak seketika, seluruh gerakan dalam tubuhku terkunci di bawah tatapan Rukia. Tidak ada yang mampu aku katakan untuk mengelak dari tuduhan dalam sorot matanya.

"Aku menyadari kehadiran mereka setelah kita pulang dari penjara, dua orang itu sangat tidak lihai menyembunyikan diri mereka sebagai pengawal," lanjut Rukia.

"Rukia, aku…"

"Yang butuh pengawal sekarang bukan aku, TAPI KAU, ICHIGO!" Aura keseriusan terpancar dari Rukia, membuatku takut untuk membantahnya.

Rukia tidak pernah bisa berhenti mengejutkanku. Kenapa sekarang aku yang butuh pengawal?

"Bunga itu... mereka tidak lagi mengicarku, mereka mengincarmu, Ichigo" bisiknya berat, matanya terpekur menatap lantai yang kami jejak, wajahnya tersembunyi dalam-dalam.

Aku makin bingung mendengar apa yang ia ucapkan padaku, mungkinkah teror ini tengah merambat hingga aku pun menjadi sasarannya?

.

.

To Be Continue…

.

.


A/N

Aku masih terus berusaha agar bisa lebih cepat update, Minna-san.

Tadinya aku niat buat Ichigo luka-luka, tapi aku tidak tega. Menurut Minna-san juga gitu kan?

Nah sampai jumpa di chap berikutnya.

Please don't mind to review…

Keep The Spirit On ^_^