"APA YANG KAU LAKUKAN?!" Luhan langsung tersentak kaget ketika mendengar suara Sehun yang membentakkan dengan cukup keras. Matilah kau Luhan.
"Emmm,,, i-itu aku… eee…"
.
.
.
.
.
~~ Oh Zhiyu Lu ~~
Author : Oh Zhiyu Lu
Title : Popobawa
Genre : Mysteri, Tragedy, Romance, Hurt, Yaoi, NC21, Dirty Talk, Hard sexs, Kekerasan, Masokis
Rating : M
Light : Chaptered
Cast : Sehun, Luhan
Other Cast : Baekhyun, Chanyeol, Kris, Sungmin, & Kyuhyun
Pair : HunHan, Baekyeol, Kyumin.
Disclaime : Cerita ini asli milik saya. Papi Hun dan Mami Han hanya milik saya seorang! Jika ada kesamaan, itu hanya sebuah kebetulan. Atau mungkin kita jodoh?
WARNING!
Di chapter ini ada sedikit adegan dewasa, jadi di sarankan membacanya setelah berbuka puasa atau saat tidak berpuasa. Typo is everwhere…
Oh Zhiyu Lu
Present
.
.
.
.
.
.
© Popobawa ©
"ITU APA HAHH?!" Luhan menundukkan kepalanya dalam – dalam saat mendengar bentakan Sehun.
Tap
Tap
Tap
Nyali Luhan semakin menciut ketika mendengar ketukkan sepatu Sehun menggema di pendengarannya. Ia ingin sekali menghindar dari amukkan Sehun, namun tubuhnya seperti terpaku di lantai tempatnya berdiri. Tubuhnya tak mampu digerakkan bagaikan patung.
Kedua matanya menemukan sepasang sepatu tepat di depan kedua kakinya. Sehun mendekatkan bibirnya pada telinga Luhan.
"Kau tak punya mulut untuk menjawab heh?!" Bisik Sehun dengan penuh penekanan di setiap suku katanya. Terlihat jelas jika emosi Sehun kini sudah sampai ke ubun – ubun.
"Ak-ku han-hanya penasaran." Bahkan untuk menggerakkan lidahnya saja, rasanya seperti mengangkat gunung Himalaya dengan jari kelingkingnya. Luhan bagaikan patung saat berhadapan dengan Sehun yang seperti ini. Padahal baru tadi siang mahkluk di depannya ini –sedikit- bersikap baik padanya. Dan kini ia kembali ke wujud aslinya yang keras kepala, kejam dan tak berperasaan.
Yahhh… jangan salahkan Sehun juga. Luhan memang menyadari jika dirinyalah yang terlalu lancang memasukki kamar Sehun dan menyentuh atau melihat barang pribadinya. Namun ia juga penasaran, unutuk apa Sehun menyimpan foto dirinya.
"Penasaran?" Sehun tersenyum miring mendengar jawaban Luhan. Tangan kananya terulur mendekati tangan kiri Luhan yang menggenggam selembar foto. Sehun menyentuh sudut foto tersebut lalu menariknya secara paksa dari tangan Luhan.
"PUNYA HAK APA KAU UNTUK MENGETAHUI SEMUA TENTANG KU HAH?!"
"Ma-maaf Sehun-ah. Aku janji tak akan melakukannya lagi."
Jantung Luhan berdetak semakin kecang di dalam tubuhnya. Bahkan ia bisa mendengarkan suara detak jantungnya sendiri. Uhhh… Luhan sungguh malu jika Sehun dapat mendengar suara detak jantungnya yang memompa darahnya dengan kencang. Namun bukan saatnya Luhan untuk memikirkan hal tersebut. Ohhh… ayolah! Nyawamu sedang berada di ujung tanduk Xi Luhan!
Luhan semakin was – was menunggu tindakkan apa yang akan dilakukan mahkluk di hadapannya ini selanjutnya. Pasalnya sejak lima menit yang lalu, kesepian itu terus menyelimuti mereka semakin erat. Ia merasa saat ini Sehun sedang menatapnya dengan tatapan yang sangat menusuk.
"Oh Sehun, mi- awww!" Luhan langsung meringis kesakitan saat Sehun mendorong tubuhnya dengan keras ke tempat tidur king size miliknya. Ia mengubah posisinya menjadi setengah duduk dengan menopang berat tubuhnya pada kedua sikunya. Sialnya, ia malah mendapatkan tatapan tajam nan menusuk dari Sehun.
Ohh,,, sungguh saat ini rasanya Luhan ingin sekali menghilang dari hadapan Sehun. Bagaimana tidak? Luhan melihat sebuah gundukkan yang teramat besar di antara selangkangan Sehun. Seingatnya, ia tak melakukan hal apapun yang mampu membangkitkan libido mahkluk yang ada di hadapannya. Namun mengapa batangan itu malah ereksi?
Luhan memundurkan tubuhnya saat Sehun merangkak mendekainya. Sebisa mungkin ia menghindar dari amukkan mahkluk yang ada di hadapannya kini.
Sehun yang geram dengan tingkah Luhan, malah menarik pergelangan kaki Luhan agar mendekat padanya. Hingga kini jarak wajah keduanya hanya terpaut sepuluh senti. Luhan dapat merasakan deru nafas Sehun yang memburu menerpa wajahnya.
Beberapa detik Luhan terpaku dengan ketampanan wajah Sehun yang sangat memukau. Namun khayalannya langsung memudar saat sebuah seringai terpampang di wajah dingin itu.
Gluukk
Luhan meneguk ludahnya saat Sehun memajukan wajahnya menuju leher mikinya. Seluruh tubuhnya langsung meremang saat merasakan terpaan nafas Sehun pada perpotogan lehernya. Padahal tempat itu adalah tempat yang paling sensitive.
"Eunghh~~"
Luhan mengutuk dirinya yang mengeluarkan lenguhan nista itu. Ia benar - benar tak tahan saat lidah hangat milik Sehun menjilat ceruk lehernya, menghisapnya lalu menggigitnya hingga menimbulkan bercak keunguan yang sangat kentara.
"Ahh~~ Enghhh~~" Luhan sudah mabuk akan sentuhan Sehun. Bahkan hanya cumbuan pada lehernya saja membuat libidonya langsung naik. Tangannya kananya beralih meremat rambut bagian belakang Sehun, sedangkan tangan kirinya masih menahan berat tubuhnya.
Crasshhh
Luhan tak dapat menyembunyikan keterkejutannya saat sepasang sayap yang sangat besar mencuat dari punggung Sehun. Ditambah lagi dengan telinganya yang meruncing seperti telinga kelelawar. Namun mahkluk di depannya ini masih setia menghisap lehernya.
Libido Luhan yang sempat naik, kini turun kembali. Yang ada hanya rasa takut yang menghantuinya. Yang ia tahu dari Baekhyun, jika sudah seperti ini, tandanya Sehun sedang meminta jatah makannya.
Lain dari yang biasanya, jika hanya sebagai pelampiasan nafsunya, Sehun tak akan menampilkan wujud aslinya. Namun jika seperti ini, Sehun sedang menambah tenaganya. Ia akan bermain dengan sangat kasar pada korbanya.
Dan hal itu merupakan kiamat bagi Luhan
"Arrgghh! Appo!" Luhan merasakan sebuah gigi yang sangat panjang dan tajam mengoyak kulit leherrnya. Nipple sebelah kananya dipelintir telalu kuat oleh jemari Sehun. Bahkan ia merasa kuku panjang Sehun telah menembus baju kausnya.
"Andawee! Appo!" Luhan mendorong dada Sehun agar menjauh darinya. Namun tak sedikitpun mahkluk itu bergerak dari posisinya. Rasa sakit yang menjalar dari leher dan nipplenya membuatnya menitihkan air matanya. Rasanya sangat perih dan sakit. Ia mengumpulkan seluruh kekuatannya untuk mendorong tubuh Sehun agar menjauh dari tubuhnya.
Berhasil!
Kali ini Luhan mampu mendorong tubuh Sehun agar menjauh dari tubuhnya. Dan alangkah terkejutnya Luhan saat melihat wajah Sehun. Sebuah mata yang muncul di keningnya berserta dengan taring panjang yang berlumuran akan darahnya.
Bola mata Sehun berwarna semerah darah dengan tatapan yang syarat akan nafsu, emosi, dan kebencian yang sangat besar. Luhan benar - benar takut saat perkataan Sehun beberapa hari yang lalu melintas di fikirannya. Dan benar saja, Sehun kembali mengungkit tentang pembicaraan mereka waktu itu.
"Kau tahukan apa yang akan terjadi jika kau membuat libidoku turun?"
Luhan kembali meneguk ludahnya saat Sehun menunggu jawabanya. Mau tak mau, Luhan pun harus menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Sehun.
Sebuah seringai terpatri di wajah Sehun yang kini berubah sangat mengerikan. Tangannya meraik baju kaos milik Luhan, merobeknya hingga terlihatlah tubuh melus dan ramping milik Luhan. Nipple kecoklatan milik Luhan yang telah menegang membuat nafsu Sehun meningkat berkali – kali lipat.
"Arggghhh!" Luhan memekik kesakitan saat merasakan nipplenya diraup dengan kasar oleh mulut Sehun. Raut kesakitan itu terlihat sangat kentara di wajah Luhan. Namun entah mengapa, ada sebuah perasaan nikmat yang menyelip di antara rasa sakit yang mendominasi tubuhnya.
Luhan pun sangat bingung dengan dirinya sendiri. Fikirannya memberontak untuk mengatakan tidak, namun hati dan tubuhnya berkordinasi untuk menciptakan sebuah anggukkan pada kepalnya.
Dan malam itu merupakan siksaan sekaligus kenikmatan tiada tara yang dialami Luhan sepanjang hidupnya. Berbeda dari saat pertama kali Sehun menjamah tubuhnya. Kali ini sedikit banyaknya ia dapat merasakan sebuah perasaan nikmat dan nyaman atas perlakuan kasar Sehun pada tubuhnya. Apa mungkin Sehun telah merubahnya menjadi sosok berkepribadian masokis?
~~ Oh Zhiyu Lu ~~
Sang surya telah kembali dari peraduannya. Menggantikan tugas sang bulan untuk menerangi dunia. Membantu manusia dalam menjalankan setiap aktivitasnya. Sinarnya yang agung berlomba – lomba menerangi bumi yang dipenuhi oleh ratusan bahkan jutaan umat manusia.
Sinarnya pun tak ingin melewatkan sebuah rumah mewah bergaya eropa kuno yang terletak di pedalaman hutan Korea Selatan bagian Utara. Cahanya berusaha masuk melalui celah – celah tirai jendela, hingga akhirnya menerpa sosok pria berkulit pucat yang sedari tadi tengah memandangi objek indah di depannya yang tengah terlelap dengan pandangan sendu.
Sehun beranjak duduk dari posisi tidurnya. Tangannya menyingkap selimut yang menutupi tubuh Luhan. Entah mengapa ada perasaan menyesal yang sangat dalam saat ia melihat kondisi tubuh Luhan yang sangat mengenaskan.
Busshhhh
Sehun memutar bola matanya ketika ia melihat sosok Kai yang diselimuti oleh asap yang kian lama kian memudar. Kedua tanganya ia lipat di depan dadanya, memandang Sehun dengan tatapan mengejek.
"Ck ck ck…" Kai menggelengkan kepalanya ketika matanya menangkap kondisi tubuh Luhan. "Albono bodoh! Lihat apa yang telah kau lakukan padanya!"
Sehunhanya bersikap acuh dengan bentakkan Kai terhadap dirinya. Sebenarnya ia juga merasa menyesal karena ialah penyebab dari kondisi tubuh Luhan.
Tubuhnya yang semula putih mulus kini dipenuhi oleh luka dan bercak darah yang telah mengering. Di beberapa bagian tubuh Luhan juga terdapat bagian – bagian yang lecet. Dan yang paling mengerikan, di bagian manholeya terdapat banyak sekali aliran darah yang bercampur dengan sperma miliknya yang telah mongering. Terlihat jelas ada sedikit luka robekkan pada pintu manholenya.
"Kau tak kasihan padanya Oh Sehun? Kau memperlakukannya seperti habis manis sepah di buang bung! Kau benar – benar tak memiliki perasaan."
"Aku ini setan. Mana ada setan yang memiliki perasaan."
"Heeeii! Aku saja yang asli keturunan setan memiliki sedikit belas kasihan. Mengapa kau yang setengah manusia setengah setan tak memiliki perasaan? Aku heran denganmu Sehun. Sepupumu saja yang setengah manusia setengah setengah jin saja memiliki perasaan untuk mencintai seseorang, tapi mengapa kau tidak?"
"Jangan samakan aku dengan dia!"
"Bahkan ia masih sudi membantumu Sehun." Sehun mengalihkan pandangannya ke arah jendela. Menatap gumpalan awan yang mengambang di langit – langit yang berwara biru cerah.
"Hahhh…"
Kai mengela nafas beratnya saat menyadari Sehun malah tak menganggap keberadaanya. Ia sedikit geram dengan tingkah Sehun yang sangat keras kepala. Tak pernah mau mendengarkan apa yang diucapkan Kris padanya. Sebenarnya ia sudah lelah menasehati Sehun. Ingin saja rasanya ia pergi menghadap Kris lalu mengatakan pada Raja Jin itu bahwa dirinya telah menyerah menasehati Sehun. Namun ia tak mempunyai nyali yang cukup untuk melakukan hal tersebut. Berbeda dengan Sehun yang memang tak mempunyai rasa takut.
"Sehun, dengarkan aku!" Kai berhenti sejenak untuk menunggu Sehun memperhatikannya, namun pria itu tak bergeming sedikitpun dari posisinya. Akhirnya Kai tetap melanjutkan ucapannya dengan atau tanpa perhatian dari Sehun.
"Kau sudah tahu sendiri kalau penyihir jahat itu mulai mencari cara untuk menghancurkan kau dan orang tuamu. Maka dari itu kau harus cepat membuat Luhan mencintaimu. Dan semakin cepat juga kau mengambil setengah jiwanya. Setelah itu kau bisa mendapatkan kehidupan normalmu dengan kedua orangtuamu Sehun."
Dalam hati ia juga membenarkan ucapan Kai. Semakin cepat ia membuat Luhan mencintainya, maka semakin cepat ia mendapatkan kehidupan normalnya dengan kedua orang tuanya. Bukankah itu yang ia tunggu – tunggu selama ini?
"Sudahlah! Aku merasa berbicara dengan patung. Kau ingat baik – baik apa yang aku katakan Sehun! Aku mengatakan ini karena aku sahabatmu." Kai mengulurkan tangannya untuk menjetikkan jarinya, caranya untuk berteleportasi. Namun ia teringat satu hal.
"Kau sembuhkan lukanya itu. Kasian dia jika harus melakukan aktifitasnya dengan luka di sekujur tubuhnya."
Busshhh
Dan Kai pun hilang di antara kepulan asap yang ia buat sendiri, meninggalkan Sehun dengan pikirannya yang tengah berkecambuk dengan hebatnya.
"ARRRGGGHH!" Sehun menjambak rambutnya dengan kuat. Kepalanya benar - benar sakit hanya untuk memikirkan masalah ini. Ia memungut pakaiannya lalu memakainya secara asal.
Setelah memakai pakaiannya, ia berjalan mendekati Luhan yang masih tenggelam dalam dunia mimpinya. Memasangkan kembali selimut tebal tersebut pada tubuh Luhan hingga sebatas bahunya. Memandang wajah damai itu sejenak hingga membuat perasaanya sedikit lebih tenang.
Ia membalikkan tubuhnya lalu berjalan ke arah pintu kaca yang ada di kamarnya. Menggesernya lalu terbang ke langit dengan sayap besarnya yang kokoh.
~~ Oh Zhiyu Lu ~~
Sehun menghentikan langkah kakiknya ketika ia telah berdiri tepat di sebuah ruangan simpit yang gelap nan pengap. Ruangan tersebut ditutup oleh sebuah besi – besi panjang yang saling tersusun. Di dalam ruangan tersebut terdapat seorang pria yang tengah meringkuk di sudut ruangan. Tubuhnya yang teramat kurus membuat Sehun merasa sangat bersalah. Ia memaki dirinya yang terlalu lambat dalam mengambil tindakkan.
"Eomma…"
Pria itu mengangkat kepalanya saat mendengar sebuah suara yang sangat familiar di pendengarannya. Sudut - sudut bibirnya terangkat saat matanya menangkap sosok Sehun yang tengah bersimpuh dengan kedua lutunya di depan jeruji besi tersebut.
"Sehun… eomma merindukanmu." Sungmin –pria itu- menjulurkan tangannya untuk menyentuh pipi sang buah hati. Mengelusnya dengan kasih sayang.
Sehun memejamkan matanya merasakan kenyamanan saat tangan pria itu mengelus pipinya dengan lembut. Rasanya sudah sangat lama sejak terakhir kali ia bermanja – manja dengan pria yang telah melahirkannya ini.
"Kau habis 'makan' eoh?" Tanya Sungmin dengan nada yang sedikit menyindir.
Sehun membuka matanya untuk menatap sang eomma dengan dalam. Ia ingin sekali kembali ke masa lalunya saat bersama dengan eommanya. Bermanja – manja dengannya dan memakan masakkan pria ini setiap harinya. Bukan 'makanan' yang sekarang ini sering dikonsumsinya.
"Eomma! Tanganmu kenapa?" Sehun baru menyadari jika ada sebuah luka cambukkan pada tangan kanan Sungmin.
"Ani. Ini tidak apa – apa. Wanita licik itu mencambuk eomma karena eomma tak memberikan mutiara appamu." Rahang Sehun mengeras saat mendengar penuturan Sungmin. Ia berjanji akan membunuh wanita licik itu dengan tangannya sendiri. Secepatnya ia akan membunuh wanita itu dan membuat kehidupannya menjadi normal seperti manusia selayaknya.
"Eomma, kemarikan tanganmu!" Sebuah sinar kecil muncul saat Sehun mengelus bekas luka cambukkan itu. Hingga beberapa detik kemudian, cahaya tersebut menghilang dan bekas luka cambuk itu menghilang. Bahkan tak terdapat bekas apapun di sana.
"Gumawo Sehunie." Ucap Sungmin sambil mengelus surai kecoklatan milik Sehun. Sehun hanya tersenyum mendapat perlakuan tersebut dari eommanya.
"Eomma, aku pergi dulu. Aku berjanji sebentar lagi kita akan hidup bahagia dengan appa. Menjadi manusia normal tanpa ada masalah apapun lagi."
"Tapi-"
"Kenapa eomma?"
"Syaratnya, kau harus mengambil setengah jiwa manusia yang mencintaimu untuk menghancurkan wanita itu."
"Lalu?"
"Kau sudah mendapatkan orangnya?"
"Aku sudah mendapatkannya, dan aku pasti akan membuatnya mencintaiku."
"Sehun,,, setiap manusia yang setengah jiwanya diambil, ia pasti akan mati. Bukan hanya itu, setengah jiwanya yang lain akan tersesat di dunia yang mengerikan sampai ia menemukan setengah jiwanya yang hilang. Di dunia itu ia akan hidup tersiksa dengan ketidak pastian. Bahkan saat kiamat pun, ia akan tetap hidup di dunia yang mengerikan itu Sehun."
"Aku tahu tentang hal itu eomma."
"Tak bisakah kau mencari cara lain? Ia telah mencintai dengan tulus tapi kau malah menjerumuskannya ke dunia yang sangat mengerikan yang tiada akhir. Eomma tak pernah mengajarkanmu untuk berbuat seperti itu Sehun."
"Hanya cara ini yang biasa aku lakukan eomma. Tak ada yang lain. Kris hyung juga bilang, ada kemungkinan jika manusia yang di ambil setengah jiwanya masih bisa bertahan hidup."
"Memang benar jika ia masih bisa bertahan. Namun kemungkinan itu sangat sedikit. Dan belum ada yang pernah berhasil Sehunie. Dan jika pun berhasil, apakah kau tega membiarkannya hidup sendiri dengan cintanya yang begitu besar terhadapmu. Sedangkan kau sendiri tak mengingat apapun dengan kehidupanmu yang dahulu."
"Eomma, sudahlah! Eomma tak perlu memikirkan hal itu. Yang terpenting kita bebas dari siksaan ini." Ucap Sehun lalu beranjak dari posisinya diikuti dengan Sungmin yang juga berdiri.
"Tap-"
"Aku pergi dulu eomma. Jaga dirimu baik – baik sampai aku berhasil membebaskanmu." Sehun kembali melangkahkan kakinya menjauhi ruangan tempat Sungmin ditahan.
~~ Oh Zhiyu Lu ~~
Langit yang semula berwarna biru cerah kini muai menampakkan semburat oranye di ujung barat. Jarum jam pun kini tengah mengarah pada angka lima. Menandakan sang surya mulai tergelincir ke ufuk barat.
Masih di sebuah rumah di pedalaman hutan bagian utara, seorang pria yang sejak tadi terlelap dalam tidurnya, mulai menunjukkan tanda – tanda bahwa ia akan terbangun.
"Shhh.." Suara ringisan itu mengalun dari bibirnya saat ia merasakan perih yang megalir di sekujur tubuhnya. Terutama bagian punggugnya yang bergesekkan dengan kain spray yang ada di bawahnya.
"ARRGGHH!" Jeritan nyaring itu keluar begitu saja saat rasa sakit yang teramat sangat perih diterima Luhan ketika ia akan beranjak untuk duduk. Seluruh tubuhnya bagaikan mati rasa karena menahan sakit di sekujur tubuhnya
Air matanya mulai menggenang karena menahan rasa sakit yang melingkupi seluruh tubuhnya. Walaupun sakitnya tak separah saat pertama kali Sehun melakukannya pada tubuhnya, namun rasa sakit itu benar – benar membuatnya sangat tersiksa.
"Hikss… appo~~" Bahunya bergetar karena isakkannya yang semakin kencang. Biasanya ia akan menangis sambil menyebutkan eommanya, appanya atau nama Baekhyun. Namun entah mengapa ia mengharapkan Sehun berada di sampingnya saat ini juga. Ia sangat berharap agar pria berkulit pucat itu menenangkannya. Membantunya untuk menghilangkan rasa sakit yang mendominasi seluruh saraf tubuhnya.
Ckleekk
Luhan mengangkat kepalanya ketika ia mendengar suara pintu terbuka. Dan hatinya langsung bergemuruh bahagia ketika melihat sosok Sehun berdiri di ambang pintu dengan sebuah nampan di tangannya.
Lain Luhan, lain juga dengan Sehun. Hatinya bagaikan teriris pilu ketika melihat mata indah Luhan yang selalu bersinar kini digenangi oleh air mata. Padahal ia sudah sering melihat Luhan menangis sehabis melakukan kegiatan panas mereka. Namun mengapa kini hatinya berkata lain?
Luhan terus memperhatikan gerak - gerik Sehun yang melangkah mendekatinya. Pria itu mendudukkan dirinya di tepi ranjang di sebelah Luhan.
"Kau belum makankan?"
Tolong! Siapapun tolong Luhan. Bantu dia agar terbangun dari mimpinya yang terlanjur indah itu. Terserah kalian akan melakukan apa pada Luhan. Menamparnya, menendangnya, meninjunya ataupun kalian menyiramnya dengan air keras sekalipun, lakukanlah! Karena ia bermimpi jika tadi Sehun tersenyum dengan lembut kepadanya.
Luhan terdiam dengan seribu fikiran yang melayang di otaknya. Ekspresi wajahnya menggambarkan bahwa ia tak percaya dengan apa yang baru saja ia lihat. Tubuhnya masih tak bergeming walaupun Sehun menggerakkan telapak tangannya di depan wajah Luhan. Bahkan ia telah melupakan rasa sakit yang mendominasi seluruh tubuhnya.
Cuppp
Luhan langusung tersadar dari kebingungannya ketika ia merasakan Sehun mengecup bibirnya sekilas. Saat ia melihat ke arah Sehun, pria itu malah tersenyum dengan lembut kepadanya
"Aku tahu kau lapar. Ini aku belikan kau makanan." Ucap Sehun sambil menunjukkan nampan yang ia bawa. "Aku tak terlalu tahu apa yang kau sukai. Tapi aku membelikanmu nasi goreng Beijing dengan bubble tea rasa taro yang waktu itu kau pesan. Jika kau masih lapar, aku juga membeli es krim dan waffle."
Luhaaann! Kau harus berbahagia karena Sehun mengingat setiap moment yang ia lakukan bersamamu. Ia mengingat makan yang kau pesan semalam. Padahal Sehun tak pernah melakukan hal ini pada siapapun. Sering sekali ia tak mengingat nama orang yang ia tiduri. Padahal kejadian tersebut baru saja terjadi beberapa jam yang lalu.
Sehun menyodorkan sesendok nasi pada Luhan yang masih setia dengan keterbingungannya. "Lu~~ bukalah mulutmu! Kau harus makan."
"Akhh." Saat membuka mulutnya, Luhan merasakan sakit pada bagian rahangnya karena bekas cumbuan Sehun tadi malam.
"Apakah sangat sakit?" Luhan menganggukkan kepalanya dengan pelan untuk menjawab pertanyaan Sehun.
"Berbaringlah!"
"Tapi tubuhku sangat sakit saat digerakkan."
"Akan aku bantu." Sehun membantu Luhan untuk membaringkan tubuhnya kembali di ranjang. Tak terasa, tubuh Sehun malah merinding mendengar suara ringisan Luhan karena menahan sakit pada tubuhnya.
"Ayolah Sehun! Ini semua hanya akting! Jangan terlalu terbawa dalam peramu." Sehun terus mengucapkan hal tersebut ketika hatinya mulai terenyuh dengan kondisi Luhan.
Dari tangan sehun mencul sebuah cahaya kecil yang berwarna hijau cerah. Tangannya ia sapukan ke seluruh tubuh Luhan yang terdapat luka dan lecet. Dan beberapa detik kemudian Luhan telah merasakan tubuhnya yang semula. Tanpa rasa sakit apapun yang mendominasi. Bahkan ia tak menemukan bekas luka apapun pada tubuhnya. Semua kembali seperti semula.
"Otte?"
"Tidak sakit lagi. Kasahamnida Sehun-ah."
"Baiklah, sekarang kau duduk dan makanlah makananmu. Aku harus keluar sebentar. Jika kau ingin waffle dan es krimmu, aku letakkan mereka di dalam kulkas di dapur di lantai satu." Luhan menganggukkan kepalanya pada Sehun yang telah berdiri di ambang pintu.
Setelah pintu tersebut tertutup dengan rapat, Luhan langsung memegang kedua pipinya menimbulkan semburat merah yang sangat kentara. Bahkan menjalar hingga ke telinganya.
Tapi Luhan juga sedikit bingung. Seharusnya Sehun membencinya karena tadi malam dengan lancangnya ia melihat - lihat barang milik Sehun. Namun mengapa saat ia terbangun, Sehun bersikap sangat manis kepadanya.
Tapi biarlah. Luhan tak perduli akan hal itu. Perlakuan seperti ini baru pertama kali di dapatkan Luhan. Dan rasanya sungguh sangat indah. Luhan berharap ini semua bukan hanya mimpi semata dan akan terus berlangsung hingga akhir. Luhan tak perduli jika Sehun itu jin atau sebangsnaya, ia hanya ingin bersama Sehun.
Luhan mengambil piring miliknya yang berada di atas nakas tempat tidur, menyantapnya dengan lahap, lagi pula ia memang sangat lapar. Kegiatan panasnya tadi malam membuatnya banyak menguras tenaga. Di tambah lagi ia juga belum makan pagi dan siang.
~~ Oh Zhiyu Lu ~~
Ckleeek
Sehun tersenyum miring setelah ia menutup pintu kamarnya dengan rapat. Ia membalikkan tubuhnya menghadap ke arah tiga orang yang tengah berdiri di hadapannya. Kedua tangannya ia lipat di depan dadanya dengan seringainya yang masih ia pertahankan.
"Bagaimana? Aktingku baguskan?" Ketiga pria itu hanya menganggukkan kepalanya menjawab pertanyaan Sehun barusan.
"Sepertinya Luhan mulai jatuh cinta padamu Sehun. Namun sayangnya ia masih was – was. Ia belum menyerakan seluruh hatinya untuk mencintaimu." Ucap Kai yang juga tengah menampilakan seringai andalannya kepada Sehun.
"Kau harus banyak belajar padaku Sehun. Aku lebih pengalaman tentang hati manusia. Aku bisa memberitahukan padamu bagaiaman caranya membuat Luhan semakin mencintaimu." Ucap seorang pria yang berdiri di sebelah kiri Kris.
"Baiklah. Aku senang akhirnya kau mendengarkan nasehat kami. Aku berharap dengan ini kau bisa menghilangkan kutukkan keluargamu. Dan juga, dia ada benarnya." Ucap Kris sambil menunjuk pria yang berdiri di sebelah kirinya.
"Kau harus banyak belajar untuk membuat Luhan itu jatuh cinta padamu dengan Chanyeol. Sepupumu itu bahkan bisa membuat pacarnya tak mengetahui apapun tentang jati dirinya." Sehun hanya memutar bola matanya saat mendengarkan penuturan sang raja.
"Kami pergi dulu. Good luck Bro!" Chanyeol menepuk bahu Sehun dengan pelan sebagai salam perpisahan sebelum mereka menghilang diselimuti kabut asap milik Kai.
To Be Continue
Ayoooo! Siapa yang mau protes dengan posisinya Chanyeol yang sebenarnya. Zhiyu tau mungkin agak di paksakan. Tapi review kalian yang mencurigai sikap Chaneyol buat Zhiyu jadi tergoda untuk membuat jati diri Chanyeol yang kayak gini. Dan kembali lagi, setiap review kalian itu inspirasi buat Zhiyu. Jadi Zhiyu mohon banget untuk meninggalkan jejak setelah ngebaca fanfic ini.
Zhiyu tau ini fanfic masih banyak kurangnya, tapi dengan kritik dari kalian bakal ngebantu Zhiyu untuk berusaha lebih baik. Zhiyu selalu ngingat keritik dari kalian dan Zhiyu terrapin di fanfic Zhiyu
Zhiyu minta maaf kalau chap ini ga sesuai dengan keinginan kalian. Banyak typo, diksi berantakkan, banyak kata kerja yang tidak aktif dan sebagainya yang mengganggu keamanan dan kelancaran kalian saat baca fanfic ini. Zhiyu minta maaf.
Big Thanks to :
| zoldyk | Novey | Hyelin | oktaviarita rosita | kimyori95 | A Y P | ia | Lost Little Deer | EXiOh HunHan | RZHH 261220 II | yunjae q | tarra kyuminELF | irna lee96 | Fuji jump910 | SeLuChenBaek | kyoonel72 | exindira | kim heeki | Taeminho597 | 13613 | Kaisoo addicted | younlaycious88 | Hayashi Hana-chan | fitry sukma 39 | fangirl-nim | FrederichOfficial | hwangpark106 | HHSKTS | WulanLulu | junia angel 58 | ferina refina | lisnana1 | nam mingyu | ohmydeeer | hunhanminute | Jung Eunhee | Guest | AmbarAmbarwaty | HyunRa | Alexandra n xing | ren hunhanhardshipper | ShinJiWoo920202 | Rly C JaeKyu | Marry Cho | Re-Panda68 | snowy07 | hunhan9524 | pixoxo | michyeosseo | ash | noni ratugmail com | lolamoet | jaja | Ami Yuzu | ohsehun79 | ANONIMOX | PrincessJewelSh | Su Hoo | Maple fujoshi2309 | sycarp | LuluHD | xlkslb ccditaks | lulusmanly | shinshin99SM | HunHanLoverz |
Zhiyu ngucapin banyak – banyak terimakasih buat readers yang masih setia buat nunggui dan baca fanfic Zhiyu. Buat siders, Zhiyu mohon banget buat review. Agar Zhiyu tau ini fanfic masih pantas atau engga buat di up date
Buat yang nunggu HunHan moment, chap depan Zhiyu bikin HunHan moment full.
See You Next Chapter
.
.
Review Again, Please?
