Yo, minna..
Maaf, udah 2 bulan ini saya tak update.. (_ _ )
Dan maaf juga, saya tak bisa membalas review dari readers semua karena review chapter sebelumnya sangat banyak..
oke, langsung saja..
Chapter 8 : A New Student...
"Kyaaaaa!" teriakan melengking yg dikeluarkan Sang gadis sungguh menyakitkan. Menangkup kepalanya dengan kedua tangannya. Sakit, sungguh sakit kepalanya ini. Bahkan iapun tak tahan untuk segera melepaskannya dari kesakitan ini.
Set!
?!
Perlahan, kesadarannya mulai hilang. Menghilang dengan memori-memori yang diingatnya. Kelopak matanya tak jua bertahan. Menutup segala kesakitan yang dialaminya dengan kegelapan yang kelam...
"Dengan ini, kau takkan ingat kami..."
.
Disclaimer : ©Masashi Kishimoto
Pair : Sakura x Naruto
Rate : T
Genre : Fantasy x Romance
Warning : TYPO,OOC,DLL
Don't like ? Do'nt Read!
.
Sreggg!
"Ohayou Gozaimasu minna-san~" sapa seorang gadis lembut. Matanyapun ikut menyipit tatkala ia mengucapkan sapaan itu. Surai pink yang selalu terhiasi bandana itu mulai ia ikat dengan ekor kuda. Namun, semua itu tak menghilangkan kecantikan alami yang dimiliki sang gadis.
"Ohayou Sakura-chan..." sapa balik siswa yang berada di kelas tersebut dengan ramah. Kecuali 1 orang.
Ya, 1 orang..
Naruto?
Mau tak mau Sang gadis cantik itu mengernyit heran. Aneh, biasanya Naruto selalu menyapa balik dengan suara lantang tentunya.
Dengan perlahan, ia mendekati pemuda pirang itu yang sepertinya tengah termenung. Ia masih menatap heran kepada Sang pemuda. Apa yang dipikirkannya hingga pemuda dihadapannya tak menyadari keberadaannya?
"Hei, Naruto..." sapa Sakura lembut. Ia tepuk pundak kekar sang pemuda yang sukses membuat pemuda pirang itu menoleh.
"Ah, Sakura-chan.. Ohayou.." jawab sang pemuda itu ramah. Namun, senyum itu, bukanlah senyum seperti yang biasa ia keluarkan.
Senyum itu...
Terkesan memaksa...
"Kau kenapa? apa ada sesuatu?" perkataan dari Sang gadis sukses membuat Naruto menoleh kembali kepadanya seraya menggeleng pelan.
"Aku hanya tak enak badan..." dustanya lemah. Mengeluarkan cengiran seperti biasa yang membuat orang tak mengetahui akan ada kegelapannya disana.
Perlahan, sang gadis mulai tersenyum mendengar itu, ia mulai beranjak dari kursi yang didudukinya. Sejenak ia menoleh kepada sang pemuda.
"Kalau kau ada masalah, kau bisa ceritakan padaku kok." ujar sang gadis cantik itu lembut. Iapun mulai kembali ke bangku tempat belajarnya.
Mau tak mau, pemuda pirang itu tak dapat menahan semu merah yang berada di paras tannya. Mata saphirenyapun membulat sempurna.
Dan seketika iapun tersenyum..
"Arigatou. Sakura-chan."
.
.
Kring!
Bel telah berbunyi nyaring, menyebabkan suasana hening yang ditimbulkan oleh sang guru mulai kembali hilang. Sorak riuh gembirapun mulai terdengar dari berbagai kelas. Diikuti iringan para murid yang mulai keluar kelas.
"Hinata-chan, Shion-chan, Ino-chan, ayo kita ke kantin!" ajak sang gadis bersurai pink itu antusias. Ia menggenggam erat tangan mungil teman sebangkunya itu untuk keluar dari mejanya.
"Tunggu Sakura-chan, kau ini bersemangat sekali." dengus sang gadis bersurai pirang yang tengah merapikan buku. Iapun mulai beranjak berdiri seperti ketiga sahabatnya. Dan seketika, senyuman menawan telah terpatri jelas di paras cantiknya. Dengan sigap, sang gadis bersurai pirang itupun mulai keluar meninggalkan ketiga sahabatnya yang mulai kesal akan tindakannya.
Namun tidak untuk Naruto. Entah kenapa, kejadian kemarin membuatnya teringat akan masa lalunya.
Sial, memang.
"Naruto! Sasuke! Ayo!" perkataan lantang dari sang sahabat membuat pemuda pirang ini tersadar akan lamunannya. Sontak ia menoleh kebelakang dan didapatinya para sahabatnya tengah mengajaknya.
Iapun mencoba untuk tersenyum lebar kepada para temannya.
Sosok kegelapan, yang berhasil ia sembunyikan dari poker facenya.
"AYO!" seru pemuda itu lantang. Pergi bersama-sama dengan para temannya. Meninggalkan kelima gadis yang masih kesal akan kelakuan sang gadis pirang. Mereka terus berkejara-kejaran layaknya anak kecil yang tak mempunyai etika. Hingga sadarlah ketiga gadis itu bahwa sahabat pirangnya itu telah membawanya tepat kehadapan kantin.
"Bagaimana? hebat kan?" tanya Shion sedikit bangga seraya berkacak pinggang di hadapan para sahabatnya.
"Huh, ya,,,ya,,,ya,," tanpa mendengarkan ujaran Shion, mereka bertiga langsung menduduki sebuah kursi kantin dekat mereka. Dan mau tak mau, Sang gadis bersurai pirangpun mendengus kesal.
Sial, dia tak didengarkan..
Shionpun mulai duduk seperti ketiga sahabatnya. Iapun mulai memesan makanan kesukaannya. Sama, Sakurapun mulai meraih makanan yang dipesannya. Diraihnya sumpit kayu itu dengan tangan mungilnya.
Hingga akhirnya, perkataan dari seseorang sukses membuatnya membeku.
"Hei, kau tahu tidak? ada berita bahwa kemarin malam ditemukan seorang gadis yang ternyata ketua dari B. A. B. E. L."
"Eh?! benarkah?!"
"Ya, dan yang paling parahnya lagi, ia tak dapat mengingat apa-apa. Seperti, amnesia permanen."
Sungguh, betapa terkejutnya Hinata, Ino dan Sakura tatkala mendengar itu. Namun tidak untuk Shion, ia tetap tenang menikmati hidangannya.
"Maaf, bolehkah kami tahu siapa gadis itu?" tanya Sang gadis bersurai pink itu dengan sopan.
Mendengar itu, gadis yang semula tengah berbincang dengan temannya mulai menoleh kearah Sakura seraya mengatakan sesuatu.
"Sabaku Temari, gadis bersurai pirang diikat empat." ujar Gadis itu kepada Sakura. Dan betapa terkejutnya ia tatkala mendengar itu.
Gadis itu..
Gadis yang menyerangnya kemarin..
Dengan sigap, Sakurapun mulai menengadah, ingin menanyakan suatu hal janggal yang selalu menghantui di pikirannya.
"Apakah ia terluka sehingga terjadi amnesia?"
"Tidak. Kudengar, tak ditemukan luka dalam dan luka luar sekalipun pada tubuhnya. Seakan-akan, ada sihir yang menyihirnya menjadi seperti itu." sungguh, perkataan dari Sang gadis itu membuatnya tak dapat menahan keheranannya. Begitu juga Hinata dan Ino. Mereka tak dapat mempercayai hal yang tidak masuk akal ini.
Esper psikometrer berlevel 9 mungkin dapat menghilangkan ingatan seseorang.
Namun tak begitu lama..
Melihat temannya yang seakan dalam kebingungan terdalam, sembunyi-sembunyi sang gadis bersurai pirang itu menyeringai. Membagakan hasil dari serangannya yang sepertinya memang telah sempurna.
.
.
"Naruto, ini minumanmu!" lagi, seruan lantang dari temannya membuat Sang pemuda pemilik saphire itu tersadar akan lamunannya. Iapun menoleh ke arah temannya dengan cengiran khasnya.
"Arigatou, Kiba." jawabnya ceria. Meraih segelas minuman khas jeruk itu dari temannya.
"Hm, kurasa, tempat ini bagus juga untuk jadi tempat perkumpulan kita." ujar sang pemuda bersurai hitam pendek. Iapun kembali meminum minumannya. Mata onixnya tersebut tak jua berhenti. Melirik ke sekeliling tempat yang telah jadi tempat berkumpulnya dengan teman-teman barunya.
Ya, tempat ini berada di samping gudang sekolah, tempat yang tak pernah dikunjungi oleh para siswa dan siswi. Dan mereka, para pemuda tersebut berada di tempat ini. Dengan alasan yang tak pasti.
"Lalu bagaimana?" tanya seorang pria berambut bob dengan alis tebalnya. Mendengar itu, pemuda yang berada di sampingnyapun mulai angkat bicara.
"Sudah jelaskan? disini kita akan membuat kelompok. Bagaimana?" tanya kembali pemuda beriris perak itu dengan tenang.
Mendengar itu, kedelapan pemuda tersebut mulai menatap sang pemuda beriris perak tersebut. Beberapa menit mereka tak kunjung membuka suara hingga akhirnya kedelapan pemuda itu mengangguk.
"Baik, baik. Lalu, siapa ketua dari kelompok kita dan apa nama dari kelompok kita?" tanya salah seorang dari pemuda tersebut. Taringnya sedikit terlihat tatkala ia tersenyum lebar.
Dan kemudian, sang pemuda beriris perak yang diketahui bernama Neji itu kembali angkat suara.
"Karena dari kalian aku yang mempunyai level physics paling tinggi. Aku yang akan menjadi ketuanya. Dan kita namakan kelompok kita 'The Nine of Rookie Esper'. Disingkat menjadi T'nore. Bagaimana? apakah ada yang keberatan?" jelas Neji panjang lebar.
Menatap satu-persatu anak buahnya dengan intens. Memang, jiwa pemimpin yang tinggi selalu ada pada dirinya. Melekat kuat dengan jiwanya dan ketegasannya.
"Baiklah, aku sih setuju-setuju saja." balas sang pemuda paling pemalas itu dengan santai. Ia menggaruk tengkuknya seraya kembali menguap lebar.
Satu-persatu dari pemuda itu mulai menganggukan kepalanya masing-masing. Menyetujui tanggapan dari Neji yang sekarang telah menjadi ketua mereka.
"Baiklah, rapat selesai. Kembali kekelas." perintah sang ketua seraya keluar dari ruangan tersebut. Diikuti oleh siswa lain yang mulai keluar dari ruangan yang telah menjadi tempat berkumpul kelompok itu.
"Ayo kita-"
Sret!
"?!"
Namun, sesuatu hal terjadi dihadapan mereka. Membuat mereka menghentikan langkah mereka dengan tatapan waspada.
"Siapa disana?! keluar!" seru Neji dengan tegas. Menatap tajam sebuah katana yang semula melesat kearah mereka. Sama, para pemuda disanapun mulai memasang tatapan waspada.
Dan seketika, iris perak itu membulat dengan sempurna.
"Halo siswa TCE." betapa terkejutnya para siswa tersebut tatkala melihat sosok yang tak asing lagi bagi mereka.
Jubah hitam dengan awan merah disana.
"Akatsuki." desis pemuda beriris perak itu dengan sinis. Menatap pria yang berada dihadapannya dengan tatapan kebencian.
"Hoo, santai saja bocah. Kami hanya ada urusan dengan salah satu dari kalian." ujar sosok itu dengan santai. Tersenyum sinis kepada para siswa tersebut dengan tatapan tajam.
"Siapa?" tanya Neji to the point. Sontak pria dihadapannyapun menunjuk kearah temannya. Kearah sang pemuda pirang.
"Aku?" tanya sang pemuda pirang dengan nada polos. Menunjuk dirinya dengan jari tannya. Membuat semua siswa disana terheran-heran.
Wajar saja jika mereka keheranan, mereka heran kenapa anggota akatsuki yang dijuluki mafia terhebat dan kuat ingin berurusan dengan seorang pemuda bodoh, konyol dan berlevel rendah.
Yah, itu yang berada di pemikiran mereka.
"Ya. Kau!" seru pria itu dengan lantang. Menunjuk sang pemuda pirang yang masih dengan tatapan cengok. Tak mau membuang waktu, Nejipun mulai berbicara kembali. Tak terkecuali dengan tatapan tajamnya yang masih senantiasa hinggap diwajahnya.
"Kenapa harus dia?"
"Karena aku ingin berbicara dengannya."
"Apa yang ingin kau bicarakan dengannya?"
"Cih, itu bukan urusanmu."
Sungguh, jika ini bukan perintah dari ketuanya, ia jamin pemuda yg berada dihadapannya yang terus menanyainya layaknya diinterogasi ini sudah ia jadikan mayat. Namun, ia harus tetap bersabar dengan tujuannya kemari.
"Baiklah, tapi, tidak lama." ujar Sang pemuda pirang itu dengan raut yang dibuat-buat. Iapun mengikuti sosok pria yang diketahui akatsuki itu dengan wajah cemberutnya. Meninggalkan kedelapan temannya yang masih membeku di tempat. Mencerna kejadian tadi dengan raut kesal.
"Anak bodoh." gumam kedelapan pemuda itu dengan sweatdrop. Menatap punggung Naruto yang hampir menghilang. Ditelan kejauhan.
XxXxXxXxXxXx
Tap,,,Tap,,Tap..
Sungguh, betapa bingungnya pemuda ini tatkala ia dibawa ke hutan yang tepat berada dibelakang sekolah. Sedikit ia mencuri pandang kepada sosok yang berada didepannya. Ya, sosok yang tadi mengajaknya.
Akatsuki?
Entah kenapa, ia masih merasa asing dengan kata itu. Tapi jika dilihat ekspresi temannya tadi, ia tahu orang ini bukanlah orang baik-baik.
Apa yang ingin orang ini bicarakan padanya?
Apakah ada sesuatu?
Tep.
Pemikiran dari Narutopun sontak terhenti tatkala pria yang berada di hadapannya menghentikan langkahnya. Pria akatsuki itupun mulai berbalik. Menatap sang pemuda pirang dengan seringai jahatnya.
"Hm, aku masih tak percaya jika kau adalah 'Dia' bocah." ujar sang pria itu memulai pembicaraan. Menatap sang pemuda pirang yang masih menunjukkan tatapan polos.
"Dia?" tanya Naruto yang sepertinya masih memakai 'poker face'nya. Ia miringkan kepalanya. Menatap pria yang bersurai sama dengannya dengan polos.
Seketika pria dihadapannya itupun mulai mengangkat lengannya. Menjentikkan jarinya seakan memberi isyarat. Melihat itu Narutopun hanya mengernyit heran. Bingung akan tindakan pria dihadapannya.
Dan seketika, mata saphirenya membulat sempurna.
"Deidara, kau berhasil membawanya." ujar sosok itu dengan tenang. Menatap pria bersurai pirang disampingnya dengan dingin.
Dan entah kenapa, Naruto merasa familiar dengan sosok itu. Sosok bersurai hitam, bermata onix dan-
Tunggu.
Orang itu,,,
?!
Ya, Naruto ingat. Ia adalah sosok yang telah membuat Sasuke menderita, yang telah membuat Sasuke kalah saat itu, yang membuat Sasuke merasa terbebani akan dendamnya.
Dan salah satu orang yang berhasil kabur, atas pembantaian konoha 6 tahun yang lalu.
Uchiha Itachi.
Sungguh, jika ia tak menahan emosinya, ia akan bunuh sosok yang membuat sahabatnya menderita tersebut. Namun, ia tetap pada komitmennya. Memasang tampang polos untuk mempertahankan 'Poker face' nya.
Sosok pria yang diketahui bernama Itachi itupun mulai menoleh kearah Naruto. Iapun mulai menunduk hormat seraya mengucapkan sesuatu.
"Suatu kehormatan besar bagi saya tatkala bertemu anda, yang mulia." sungguh, entah seberapa terkejutnya Naruto tatkala Itachi mulai menunduk hormat padanya. Seketika, pria bersurai kuning yang berada disamping Itachipun mulai menunduk hormat juga kepada Naruto.
"A, apa maksud kalian? gyahahaha kalian sungguh luc-"
"Buka sandiwaramu, The King of Esper.." ujar Itachi menyela ucapan dari Naruto. Dan seketika pemuda pirang dihadapannya itupun mulai terdiam. Menundukkan kepalanya. Tak bergeming sedikitpun.
Sementara itu, Deidara yang berada di samping Itachi merasa heran menanggapi pernyataan tadi.
Seakan keheranan dari pria akatsuki bersurai pirang itu terjawab tatkala pemuda dihadapannya tersebut mulai mendongakkan kepalanya. Raut yang semula polos, ceria dan bodoh itu seakan luluh, digantikan dengan raut dingin, tajam, mengerikan, dan penuh kebencian.
"Hm, mau apa kalian?" tanya sang the King of Esper dengan berat. Suaranya begitu dingin, mencekam dan begitu menusuk.
Mendengar itu, pria bersurai hitam didepannya mulai berdiri. Memandang sang The King of Esper dengan dingin.
"Kami ingin kau bekerja sama dengan kami, untuk menghancurkan seluruh Jepang." ujar Itachi dingin. Namun tenang.
"Cih, kenapa aku harus bekerja sama denganmu?" desis Naruto lebih dingin. Memasang raut tak suka kepada kedua anggota tersebut.
Mendengar itu, Itachipun mulai bergerak. Diteleportkannya dirinya dibelakang sang pemuda pirang. Kemudian ia jerat leher tan itu seraya mengeluarkan sebuah kunai ke leher sang pemuda.
"Karena aku tahu, kau dendam pada mereka. Mereka semua yang membuatmu menderita kan?" perkataan dari Itachi sedikit membuat Naruto terperangah tak percaya. Aneh, kenapa Itachi mengetahui dendamnya pada masyarakat kota?
Dan akhirnya, pemuda yang berada di genggaman leher Sang pria itupun hanya diam tak bergeming menunggu Itachi untuk berbicara lebih lanjut.
"Kau ingin membalas kematian ibumu, kedua sahabatmu, dan semua orang yang tertawa melihat penderitaanmu bukan? Mereka tak tahu tentang penderitaan masa kecilmu. Mereka hanya duduk manis tanpa menolongmu." seakan hasutan dari Itachi mengubah segalanya, raut wajah Naruto mulai dipenuhi oleh kegelapan sepenuhnya. Ia mulai menggeram, mengepal tangannya hebat yang sedikit membuat tanah retak.
"Pergi." geramnya dingin.
"Tidak, aku akan-"
"CEPAT PERGI DARI HADAPANKU!" bentak Sang The King of Esper seraya membangkitkan kekuatan physicsnya. Membuat kedua anggota Akatsuki itu terpental beberapa meter. Tanah didekatnya pun telah menjadi kawah kecil. Raut wajahnya lebih mengerikan dibandingkan semula. Perlahan Itachi mulai terbangun dari tersungkurnya. Sama, Deidarapun mulai terbangun dari jatuhnya.
'Kekuatan luar biasa..' batinnya kagum. Sang pria bersurai pirang itupun mulai mengusap darah yang berada di mulutnya. Menatap Sang pemuda pirang sembari menyeringai.
"Ingat, kami masih membutuhkanmu. Jika kau berubah pikiran dan ingin mengikuti organisasi kami, maka kami akan menerima kau dengan senang hati. Dan kemungkinan, kau akan dispesialkan juga di organisasi kami. Ingat itu." ujar Deidara seraya menghilang dari tempatnya semula. Disertai rekannya yang ikut juga menghilang.
"Cih." hanya decihan yang dikeluarkan oleh sang pemuda tatkala kedua orang itu menghilang dari tempatnya. Tangannya mengepal hebat. Meninju permukaan tanah yang jadi tempatnya berpijak. Dan seketika itu juga, tanah disekitarnya menjadi retak, hancur, luluh dan lantah.
Dua orang keparat itu..
Telah mengingatkannya akan masa lalunya..
Yang sekarang telah menjadi hal tabu baginya...
Segera ia mulai berdiri dari tempatnya semula, mendongak dengan raut iblis yang telah terhinggap di paras tampannya.
"Akatsuki? akan kupikirkan." ujar Naruto seraya berbalik kearah sekolah. Memasang tampang poker facenya kembali tanpa ada beban sedikitpun.
oOoOoOoOoOoOo
Tap...
Tap...
Tap...
Langkahnya menggema di sebuah koridor sekolah, berjalan dengan berat diikuti dengungan suara sepatu porselen tersebut. Meramaikan kesunyian yang semula menjadi atmosfer dalam sebuah koridor itu.
Tap, Tap.
Langkahnya terhenti tatkala ia melihat sosok sang sahabat yang tengah bertopang di dinding dengan lengan yang masih senantiasa bersidekap. Mata onixnya dengan dingin menatap sang pemuda yang tengah menghentikan langkahnya.
"Hei, Naruto. Kau tak apa?" tanya pemuda beriris onix itu dengan tenang.
"Ya, aku tak apa." jawab pemuda pirang itu yang mulai melanjutkan kembali langkahnya. Melewati sang pemuda beriris onix tersebut dengan tenang.
"Tunggu Naruto, aku menunggu disini karena ada suatu alasan." ya, perkataan dari Sang sahabat tersebut membuatnya kembali menghentikan langkahnya, iapun menoleh kearah Sang sahabat dengan tenang.
"Apa?"
"Kau tak ingin dimarahi guru karena bolos kan? kemari, aku punya cara yang tepat untuk menipu guru itu."
.
.
Tok!Tok!Tok!
"Masuk." sahut wanita muda tersebut tatkala suara ketukan pintu telah hinggap dipendengarannya. Membuatnya berhenti akan penjelasannya kepada para murid didikannya.
Kriett..
Pintupun mulai terbuka dengan perlahan, menampakkan kedua pemuda dengan keadaan gelisah. Pemuda pertama terlihat merangkul tangan tan sang sahabat sedangkan sang pemuda kedua itu sendiri tengah dirangkul oleh temannya dengan raut pucat.
"Naruto? Sasuke? kalian kenapa?" ujar sang wanita muda itu menyebut nama kedua pemuda tersebut. Dengan cepat pemuda pertama menjawab.
"Naruto masuk uks, sensei. Ia terlihat pucat." jawab sasuke dengan raut gelisah yang dibuat-buat. Sementara itu, kedelapan rekannya hanya bersweatrop ria melihat sandiwara kedua temannya itu.
"Baiklah. Naruto, apa kau sudah baikan?" tanya Sang guru dengan nada khawatir. Mendekati sang pemuda pirang yang sedari tadi menunduk.
"Aku,, tidak,, apa-apa,, sensei." sahutnya tersenyum lebar. Ia dongakkan kepalanya, menatap Sang guru dengan raut pucat.
Ya, kembali anggota grup T'nore tersebut hanya bersweatdrop ria. Memang, hanya dengan cara inilah kedua teman mereka itu bisa menaklukan guru killer itu. Akan tetapi, sungguh mereka tak menyangka jika kedua temannya itu pandai sekali bersandiwara dengan raut yang seperti tak dibuat-buat.
Berbeda dengan anggota T'nore yang tahu jika mereka bersandiwara, justru kedua gadis cantik itu terlihat cemas melihat kedua pemuda tersebut. Gadis pirang itu mulai bimbang melihat keadaan Taichounya tersebut. Bimbang karena 2 hal, sungguhan? atau sandirawa?
Sementara gadis bersurai pink itu menatap khawatir pada pemuda pirang itu. Sungguh, ia begitu khawatir dengan pemuda tersebut. Ingin rasanya ia membantu pemuda pirang itu, namun apa daya? ia tak mau teman-temannya disini mempunyai prasangka yang tidak-tidak.
Akhirnya, ia hanya dapat menghela nafas pasrah..
"Baiklah, kalian berdua silahkan duduk." perintah Sang guru disertai kedua pemuda itu yang mulai berjalan kearah bangkunya masing-masing. Sasukepun mulai berjalan kearah bangkunya setelah mengantar Naruto ke mejanya. Sedikit ia menyeringai melihat tingkah guru killer dihadapannya.
"Baka no Sensei.." gumamnya pelan, mulai mendengarkan penjelasan Sang sensei yang sempat tak didengarkan olehnya.
"Baiklah anak-anak, karena pelajaran sejarah untuk minggu depan terbilang sulit. Maka saya umumkan minggu depan kita akan melaksanakan study tour." jelas Sang guru mengakhiri penjelasannya yang sukses membuat para siswa di kelas tersebut bersorak-sorak gembira.
"Kemana kita akan pergi sensei?" tanya salah satu siswa di kelas tersebut. Mendengar itu, sang wanita muda yang diketahui bernama Kurenai itu mulai angkat suara.
"Ke Konoha." sontak para siswa disana terdiam tatkala mendengar perkataan Sang guru. Tak terkecuali para esper dewa, mereka tak dapat menahan diri mereka untuk terbelalak.
"Konoha?" interupsi salah satu murid. Mendengar itu, Kurenaipun mengangguk.
"Ya, sejak 6 tahun yang lalu. Desa Konoha telah hancur dan tak ada penduduk lagi yang bertempat tinggal disana. Semenjak itu, desa itu menjadi desa bersejarah tentang agresi The god Esper. Desa itu sekarang dikelilingi oleh tebing tanah. Maka dari itu, pemerintah pusat membiarkan desa itu menjadi desa bersejarah. Bahkan sedikit merenovasinya. Sehingga banyak wisatawan berkunjung kesana untuk mengetahui lebih jauh tentang agresi tersebut.." jelas sang guru panjang lebar. Mendengar itu, para murid hanya dapat berdecak kagum.
Namun, tidak untuk ketiga Esper dewa tersebut.
"Cih, Konoha?" desis Sang pemuda pirang tajam. Sepertinya, ia akan berkunjung ke kampung halamannya kembali.
Dan ia tak mau bernostalgia tentang masa lalunya.
'Hm, ide yang bagus untuk menjenguk makam Rin dan Obito kan Taichou?' ya, telepati dari Shion yang tepat mengenainya itu sedikit membuatnya terperangah.
Mengunjungi Rin?
Obito?
Dan seketika, Sang pemuda pirang itupun tenang kembali. Mulai berpikir di pikirannya. Berharap Sang The Queen of Esper mendengar ucapan dalam pikirannya.
'Kita bertiga, akan mengikuti study tour ini..'
OoOoOoOoOoOo
Sreegggg..
"Itadaima." sahut seorang pemuda dengan tenang. Mata emeraldnya terlihat tenang, tak menyiratkan sebuah kecemasan dan kekhawatiran tentang Sang kakak perempuannya.
Berbeda dengan kakak laki-lakinya. Ia nampak bingung dan lelah memikirkan masalah ini. Masalah yang membuat kakak perempuannya mendadak amnesia permanen.
"Kankurou, kau masih memikirkannya?" ujar seorang pemuda beriris emerald itu kepada kakaknya. Ia langkahkan kakinya mendekati Sang kakak yang tengah dilanda kebingungan.
"Ya, seharusnya Temari tak bersekolah di sekolah Esper itu. Aku tahu itu berbahaya." ujar Kankurou parau. Sontak Sang adik yang mendengar perkataan Sang kakakpun terkesiap. Mata emeraldnya yang selalu tenang itu mulai terbelalak tak percaya.
"Gaara?" interupsi Sang kakak memanggil nama adiknya.
Namun, yang ditanggapinya hanya sebuah seringai dari sosok Sang adik.
"Kankurou, kapan kejadian Temari nee-san itu terjadi?"
"Hm, saat ia pulang sekolah."
"Dan apa tak ada luka atau benturan sedikitpun dari tubuhnya?"
"Tak ada, hanya luka kecil, tapi tak akan menyebabkan ia sampai amnesia."
"Hm begitu ya..." perkataan Sang adik membuat Kankurou bingung mencernanya. Iapun memberanikan diri bertanya kepada sang adik.
"Ada apa?" tanya Kankurou kepada Gaara. Dan seketika, pemuda pemilik emerald itu menyeringai kembali.
"Ini kejadian aneh bukan? tak ada benturan atau luka berat dapat membuat kakakku seperti itu."
"Ya?"
"Hanya ada satu penyebab yang dapat membuatnya seperti itu. Yaitu seorang Esper psikometrer yang mempunyai level tinggi. Namun, tidak permanen, hanya beberapa bulan atau beberapa tahun saja."
"Be, benar. Lalu?"
"Dan kau pasti tahu. Siapa Esper yang dapat mengamnesiakan orang secara permanen." sontak perkataan Sang adikpun membuat Kankurou terperangah.
"The-The Queen of Esper?!" ujar Sang kakak dengan terbata. Gaarapun hanya mengangguk merespon itu.
"Diketahui para Esper dewa selalu hidup berkelompok. Jika Temari nee-san amnesia setelah pulang sekolah, berarti hanya ada satu kemungkinan."
"..."
"Bahwa The God Esper, bersekolah di TCE Senior High School.."
TBC
Karena UAS menanti saya, saya akan hiatus dulu selama 2 bulan.. :)
Akhir kata,,
Mind To Review?
