"Haah… Liver, apa yang harus kakak lakukan sekarang?" Aku membenamkan wajahku ke dalam bantal empuk dan wangi milikku ini dan berputar-putar di atas kasurku tanpa henti.
Sepasang tangan mungil menahan badanku untuk tidak kembali berguling kesana-kemari. Aku membuka mataku dengan pelan―agar cahaya lampu kamarku tidak terlalu menusuk mata―dan menatap adikku yang menggemaskan itu sedang mengisi mulutnya dengan udara sehingga pipinya terlihat lebih besar dari biasanya.
"O―li―ver!" sahutnya dengan kedua tangan yang dilipat di depan dadanya. "Bukan Liver!"
Aku tertawa geli dan menepuk kedua pipi Oliver yang masih saja membesar. "Tidak masalah, bukan?" ujarku seraya memeluk Oliver yang juga sedang tidur di atas kasurku ini. Aku mengeratkan pelukanku terhadap Oliver sehingga aku dapat mencium dengan jelas aroma badan Oliver yang sangatlah wangi.
"Tentu saja itu masalah! Kedengarannya 'kan tidak enak!" Oliver melepas pelukanku, membalikkan badannya dan menatapku dengan pandangan sebal yang tajam.
Aku tertawa untuk yang kedua kalinya. "Baiklah, baiklah, maafkan aku, Oliver!" seruku.
"Jadi? Apa masalahnya?" tanya Oliver yang kini sudah menunjukkan senyumannya yang manis itu.
Menghela napas panjang, aku mulai berbicara, "Oliver tahu, 'kan, kalau kakak akan memerankan drama sebagai Tuan Putri dan kakak akan melakukan adegan ciuman dengan Rinto?" Oliver mengangguk dengan santai tanpa menunjukkan ekspresi sedikitpun. "Nah, apa yang harus kakak lakukan agar semua itu tidak terjadi tanpa menghancur adegan drama?" tanyaku dengan mata yang berkaca-kaca.
"Kalau begitu pasrah saja!" jawab Oliver. Oliver mendudukkan dirinya di atas kasurku dan menatapku lembut. "Apa kakak mau latihan drama bersama Oliver?" tanyanya dengan muka yang sangat menggemaskan sehingga aku langsung mengangguk dengan cepat dan segera melupakan tentang permasalahan yang baru saja dibicarakan.
Memilih
By: Lixryth Rizumu
-Ternyata memilih itu sangat susah-
Vocaloid © Yamaha Corp
Words: 3000 (Story Only)
Pair: Kagamine Rin
Rate: T
Genre: Romance, Friendship
Warning: OOC, Typo, EYD berantakan, sudut pandang orang pertama.
"Apa kalian akan datang ke sekolah?" tanyaku sambil memeluk kakiku yang aku lipat. Ibu dan Ayahku saling bertatapan sejenak dan dengan bersamaan mereka mengangkat kedua bahu mereka. "Tenang saja, aku tidak akan memaksa," lanjutku.
Ibu mengambil sepotong apel yang tersedia di atas meja ruang keluargaku dan memakannya lalu berbicara di sela-sela kunyahannya. "Sepertinya Mama akan datang untuk melihat wajah malumu di panggung pementasan nanti," ujarnya seraya memasang cengiran khas miliknya yang sangat menyebalkan itu.
Tangan kananku mencoba untuk menggapai-gapai potongan apel berbentuk kelinci itu, seraya memajukan bibirku dengan kesal. Ibuku memang tidak pernah bosan untuk menyiksaku. Pandanganku beralih kepada ayahku yang sedang berkutat dengan ponselnya untuk meminta jawaban darinya. Ketika menyadari kalau aku menatapnya, ayahku hanya menghela napas dan menggelengkan kepalanya. Sepertinya dia harus kembali bekerja malam ini.
"Kalau begitu aku pergi dulu." Aku bangkit dari dudukku dan menuju kamar tidurku untuk mengganti baju. "Nanti Mama dan Oliver menyusul saja," lanjutku dan menutup pintu kamarku.
Kuhempaskan badanku kepada kursi meja belajarku dan seluruh wajahku sudah mulai memerah dengan pekat. Astaga, aku tidak menyadari kalau akhirnya hari ini akan tiba juga. Seharusnya tadi aku tidak menawari kedua orang tuaku untuk datang! Kalau mereka akan melihat adegan yang paling memalukan dalam hidupku, apa yang akan terjadi? Mungkin aku akan langsung pingsan saking malunya? Atau bahkan Ibuku akan menertawakanku dengan sangat keras? Argh! Membayangkannya saja aku tidak mau!
Kuacak-acak rambutku yang sudah tersisir rapih hingga menjadi berantakan seperti rambut singa dengan frustasi. Bangkit dari dudukku, aku berjalan dengan pelan menuju cermin besar yang melekat pada dinding kamarku. Setelah melihat penampilanku yang tidak sewajarnya, aku menyentuh dengan perlahan bibirku yang berwarna merah muda ini. Apa yang akan terjadi pada bibirku malam ini?
Aku menggelengkan kepalaku dan mulai mengganti bajuku menjadi seragam sekolahku dan mempersiapkan barang-barang yang akan aku bawa. Setelah merapihkan wajahku yang acak-acakan, aku keluar dari kamarku dan berlari menuju pintu rumahku. "Aku berangkat!" teriakku dan mulai berjalan menuju sekolah.
Jarum jam di jam tangan kiriku menunjukkan jam delapan pagi. Karena hari ini sekolah hanya akan mengadakan kegiatan festifal, hari ini aku bisa datang kapan saja ke sekolah. Haah, andaikan saja setiap hari seperti ini, mungkin aku bisa bangun siang semauku.
Aku meneratkan tali tasku untuk mengeratkannya kepada punggungku. Sebenarnya barang-barang yang aku bawa tidak terlalu banyak, tapi tasku tetap menggembung hingga terlihat penuh. Kalau memikirkan isi tasku yang penuh dengan peralatan untuk drama, aku jadi kembali memikirkan nasibku pada hari ini. Kuhelakan napasku panjang dan mulai berlari menuju sekolah untuk mempersiapkan festifal.
Setelah sampai di sekolah, aku langsung melihat ke seluruh penjuru sekolahku. Karena hari ini adalah hari yang spesial, semua murid di sekolahku terlihat lebih semangat dari biasanya dan lebih berkerja keras dari biasanya. Kalau hari-hari biasa, pasti pemandangan sekolahku adalah sekolah yang sangat sepi, tapi kalau hari ini, lapangan sekolah terlihat lebih penuh dari biasanya.
Aku memelankan jalanku untuk melihat setiap pekerjaan yang dilakukan dengan semangat oleh murid-murid di sekolahku. Berbagai macam stand memenuhi seluruh lapangan. Ada stand makanan, pernak-pernik, dan yang lainnya.
"Riiin!"
Aku menolehkan kepalaku dan melihat seorang gadis berambut panjang yang diikat dua, Miku, berlari menujuku. "Ada apa, Miku?"
Ketika sudah berdiri tepat di hadapanku, Miku mengambil napasnya yang sepertinya sudah sangat habis. Setelah berdiri dengan tegak, Miku menepuk pundakku. "Maaf, tapi bisakah sekarang kau mengubah pakaianmu dengan kostum drama dan membagikan brosur drama kita?"
Aku tertawa kecil. Jadi, Miku berlari terburu-buru hanya untuk menyampaikan itu saja? "Baiklah, akan aku lakukan sekarang," ujarku seraya berlari dengan kecepatan penuh menuju ruangan kelasku. Ditengah perjalananku menuju kelas, pandanganku tertuju kepada seorang pemuda tampan yang mengenakan kostum kerajaan yang sedang berjalan di koridor sekolahku. Wajahku memanas dengan hebat hingga mencapai daun telingaku ketika mengetahui bahwa pemuda tampan itu adalah orang yang sangat aku kenal. "Rinto?" panggilku, membuat pria tersebut menoleh kepadaku.
"Ah, Rin!" sahut Rinto seraya melambaikan tangannya lalu berjalan menghampiriku. "Syukurlah, aku baru saja berpikir kalau hari ini kau akan kabur dan tidak akan pergi ke sekolah," ucap Rinto.
Aku memanyunkan bibirku dan melipat kedua tanganku di depan dada dengan kesal. "Apa yang membuatmu berpikir kalau aku akan kabur?" tanyaku.
Rinto terlihat gugup dan menggaruk-garuk lehernya dengan kaku lalu menghindari kontak mata denganku. Aku terus menatap Rinto dengan tajam, menunggu jawaban darinya yang masuk akal. "Err, aku pikir kau akan kabur karena adegan ciuman yang akan kita mainkan," jawab Rinto tanpa melirikku sedikitpun.
Wajahku kembali merona. Kini aku juga memalingkan wajahku seraya melirik Rinto di ujung mataku sesekali. "Aku memang berencana untuk kabur," ujarku dengan tenang sehingga Rinto menatapku dengan bingung dan aneh. "Tapi mana mungkin aku melepas tanggung jawabku sebagai pemain begitu saja?" ujarku dengan nada angkuh.
Rinto tertawa kecil seraya mengacak-acak rambutku dan memukul kepalaku pelan dengan brosur yang dia bawa. Mungkin tadi dia sedang membagikan brosur drama kita kepada murid-murid yang berlalu lalang, dengan menggunakan kostum yang dipakainya untuk menarik perhatian seluruh murid. "Cepatlah ganti bajumu dan bantu aku membagikan tumpukan brosur ini!"
Senyumku mengembang. Aku menganggukkan kepalaku dan memukul lengan Rinto dengan pelan agar dia tidak kesakitan. "Ngomong-ngomong, kau terlihat sangat tampan dengan kostum itu," ujarku jujur seraya melembaikan tanganku lalu pergi meninggalkan Rinto yang mematung dengan wajahnya yang merona.
Aku bersenandung kecil sehingga membuat beberapa pasang mata yang tertuju kepadaku karena aku adalah satu-satunya orang diantara mereka yang tidak sibuk mempersiapkan festifal. Menghiraukan pandangan semua orang, aku menghentikan langkahku saat aku sudah sampai di depan pintu kelasku dan langsung membuka pintu seraya mengucapkan selamat pagi.
Semua teman-temanku yang sedang mempersiapkan properti untuk drama membalas ucapan selamat pagiku dan mengingatkan aku untuk segera mengganti bajuku di pojok ruangan kelasku yang tertutupi dengan tirai. Aku memasuki ruangan ganti baju yang sangat kecil itu dan mengganti seragam sekolahku dengan gaun putih panjang tanpa lengan.
Setelah selesai mengganti bajuku, aku mengeluarkan kepalaku dari balik tirai dan memperhatikan seluruh teman-temanku hingga pandanganku tertuju kepada Miku yang sepertinya baru saja datang kembali. "Miku!" panggilku kepada Miku dan menyuruhnya untuk kemari dengan isyarat tangan. "Err, bagaimana dengan penampilanku?" tanyaku seraya membuka tirai yang menutupi tubuhku.
"Kyaa! Rin, kau manis sekali!" teriak Miku dengan sangat keras hingga menarik perhatian seluruh teman-temanku. Ada banyak pasang mata yang melihatku dengan terkejut dan ada juga yang melihatku dengan pandangan yang biasa-biasa saja. "Sekarang aku akan memberikanmu beberapa sentuhan make up," ujar Miku seraya mengeluarkan beberapa peralatan make up miliknya dari dalam tasnya.
Aku menganggukan kepalaku dengan pasrah dan mendudukan badanku kepada kursi. Beberapa peralatan kecantikan yang asing bagiku seperti lipstik, blush on, serta teman-temannya melekat pada wajahku sehingga wajahku terasa sangat penuh. Aku hanya diam saja seraya menutup mataku agar tidak mengganggu pekerjaan Miku.
"Nah, sudah selesai!" Aku membuka mataku dengan perlahan dan menatap pantulan diriku yang terdapat pada cermin milik Miku yang ia sodorkan di depan wajahku. "Bagaimana?" tanya Miku dengan penasaran.
Aku melihat diriku di cermin dengan aneh. Sekarang ini mataku terlihat lebih besar, pipiku lebih memerah dari biasanya, bulu mataku terasa lebih lebat dari biasanya, dan tidak lupa warna bibirku menjadi lebih merah muda dari warna bibir yang sewajarnya. Kukedip-kedipkan mataku dengan cepat, ternyata begini rasanya memakai make up, entah kenapa bagian bulu mataku terasa berat sekali.
"Miku, apa aku harus berkeliling sekolah dengan penampilan seperti ini?" tanyaku kepada Miku yang kini mengeluarkan tawa iblisnya yang menyeramkan.
Miku mengambil beberapa tumpukan selembaran kertas yang ada di sampingnya dan menyodorkan tumpukan kertas tersebut kepadaku. "Sekarang waktunya bekerja!" ujar Miku dengan nada yang sangat menyeramkan.
Hanya mencoba pasrah, aku mengambil kertas tersebut dari tangan Miku dengan agak tidak terima, dan segera membantu Rinto untuk membagikan brosur drama secepat mungkin. Aku menarik napas panjang, berusaha menahan malu karena make up tebal yang aku pakai dan juga gaun yang berkibar kemana-mana saat aku sedang berjalan, dan membuat beberapa pasang mata mengarahkan pandangan mereka kepadaku.
"Hei, Rin!"
Aku menoleh, melihat Lui yang berlari menujuku seraya melambaikan tangannya. "Hai juga, Lui!" Aku menyodorkan selembar brosur dramaku kepada Lui yang langsung diterimanya. "Sedang apa?" tanyaku.
Lui terlihat membaca dengan sekilas brosur yang aku beri, dan langsung menatapku. "Sebenarnya sedang mencari peralatan untuk drama kelasku, tapi aku mau bolos sebentar, malas," jawab Lui seraya menjulurkan lidahnya. "Ngomong-ngomong, Rin manis kalau pakai gaun itu," puji Lui seraya menatapku dari atas sampai bawah.
"Ya, begitulah. Aku memakainya hanya demi drama saja," ujarku seraya memutarkan tubuhku di depan Lui. "Kau akan datang, bukan?"
"Tentu saja! Semoga sukses dengan dramanya, Rin!" ujar Lui seraya pergi meninggalkanku dengan terburu-buru. Sepertinya ada sesuatu yang harus dilakukannya.
Membaca brosur yang aku pegang, aku baru tersadar kalau di dalam brosur itu tertampang dengan sangat jelas namaku dengan huruf kapital. Astaga, kalau namaku ditampang di brosur yang akan aku bagikan ini, semua orang akan mengetahui kalau pemeran putri itu adalah aku. Hancur sudah hidupku.
Kalau kembali diingat-ingat, drama kelasku jatuh pada posisi ke-dua yang akan ditampilkan, dan saat-saat awal drama, itulah saat-saat dimana penonton masih berjumlah banyak hingga melihatnya saja bisa membuatku mabuk. Hari ini hidupku benar-benar sangatlah kacau.
"Whoa! Ada apa dengan kostum itu?!"
Aku membalikkan badanku seraya memajukan bibirku dengan kesal. "Len! Ucapanmu terlalu keras!" ujarku seraya memukul pemuda dengan kacamata yang bertengger dengan manis di hidungnya di depanku itu dengan lembaran brosur yang aku pegang dengan erat.
Pemuda berambut pirang itu hanya tertawa renyah seraya merebut selembar brosur yang aku pukulkan kepadanya. Dibacanya dengan cepat brosur itu, dan dikipas-kipaskan brosur tersebut di depan wajahnya yang terlihat sangat kecapaian. Ah, mungkin pada hari ini OSIS lebih sobuk dari biasanya sehingga Len terlihat lelah seperti itu.
"Rasanya tidak sabar melihat Rin yang akan menjadi idola panggung hari ini." Len membenarkan posisi kacamatanya dan tertawa kecil. Diperhatikannya dengan seksama gaun panjang yang aku kenakan. "Aku yakin akan ada banyak lelaki yang terpesona pada Rin hari ini," ujar Len seraya mengacak-acak rambutku dengan pelan agar tidak terlalu berantakan.
Aku melipat kedua tanganku di depan dada. "Maksudmu, terpesona denganku atau dengan gaunku?" tanyaku dengan sebal.
Len mencubit pipiku dengan gemas. "Tentu saja dengan Rin." Len kembali membenarkan letak kacamatanya dan menyeringai kecil. "Saat ini saja aku sudah terpesona dengan kecantikan Rin," bisik Len tepat di telinga kiriku sehingga membuatku merinding dan seluruh bulu kudukku berdiri.
Dengan gerak reflek aku menutup telingaku seiring dengan Len yang sudah meninggalkanku sendiri. Aku melirik Len yang sedang melambaikan tangannya kepadaku dari sudut mataku. Akhir-akhir ini ternyata Len memang menjadi semakin aneh. Entah mengapa, kata-kata yang dikeluarkan oleh Len saat ini terdengar lebih lembut dan… manis, mungkin?
Aku mengangkat kedua bahuku dan kembali melaksanakan tugasku―membagikan brosur. Selagi aku tidak melihat, ternyata Len yang berjalan di belakangku pergi menghampiri Lui yang berada di kelasnya, dengan sedikit berlari. Setelah sampai di depan kelas Lui, Len segera memanggil Lui yang disambut dengan tatapan tidak suka oleh Lui.
"Hibiki Lui, kalau tidak salah, kau menyukai Rin, bukan?" tanya Len to the point.
Lui melipat tangannya di depan dada dengan perasaan curiga. "Kalau iya, memangnya kenapa?"
Len mengembangkan senyumnya. "Mau bekerja sama denganku?"
.
"Kepada seluruh murid yang berpartisipasi dalam drama, harap bersiap-siap. Sekali lagi, kepada seluruh murid yang berpartisipasi dalam drama, harap bersiap-siap,"
Aku sedikit tersentak ketika suara pengumuman tersebut bergema dari speaker sekolah. Melirik jam dinding yang ada di sekitar sekolah, aku langsung bergegas pergi menuju kelasku untuk bersiap-siap seraya menghapal beberapa dialog yang akan aku keluarkan pada saat drama di dalam hati.
Ketika aku sampai di dalam kelasku, aku melihat hampir semua teman-temanku panik dengan hebat. Aku sampai-sampai tertawa geli karenanya. Padahal ini hanyalah acara festifal saja, tapi bisa membuat panik semua orang.
"Kau terlihat berbeda," ujar Rinto yang tiba-tiba berada di depanku.
Aku tersenyum kecil. "Kenapa, terpesona?" tanyaku singkat seraya menjulurkan lidah.
"Lumayan," jawab Rinto, disertai dengan juluran tangan―mengajakku bersiap-siap untuk pergi ke belakang panggung drama―dan langsung disambut olehku. "Semoga kita berhasil, Tuan Putri," ujar Rinto seraya mengecup pelan punggung tanganku. Pipiku merona dengan hebat, tentunya karena perilaku Rinto terhadapku.
Aku mencoba mengalihkan pandanganku agar tidak bertatap muka dengan Rinto yang sedang memasang wajah jahilnya itu. Saat aku melihat ke sebelah kananku, aku menemukan Miku yang sedang tertawa melihat tingkah lakuku dengan Rinto yang menjadi tontonan gratisnya. "Daripada berpacaran, bagaimana kalau kalian merapihkan lagi riasan kalian?" goda Miku seraya menepuk pundakku pelan.
Merengut, aku menarik tanganku dengan kasar dari Rinto dan membantah, "Aku tidak sedang berpacaran!" Aku langsung berjalan menuju tempat rias―pojok kelasku―diikuti Miku yang masih saja menggodaku.
Setelah sampai di pojok kelas, aku melihat seluruh isi ruangan kelasku yang tadinya sangatlah penuh dan berantakan, kini sudah kosong melompong, mungkin karena sebagian besar perabotan untuk drama sudah dibawa menuju panggung.
Aku mendudukkan diriku di sembarang tempat, masih dengan wajah masam. Melipat tanganku di depan dada seraya menutup kedua mataku, aku mempersilahkan Miku untuk kembali membuat wajahku berat dengan make up tebal darinya.
"Seharusnya aku memotret kalian pada saat Rinto sedang mencium punggung tanganmu," ujar Miku.
Aku menghela napas berat. "Miku, hentikan itu." Aku mengambil beberapa helai rambutku yang berada di depan telinga kananku dan menaruhnya tepat di belakang telingaku. "Kau membuatku semakin stress saja!"
"Jadi?" Miku menggantungkan kalimatnya dan tetap fokus terhadap wajahku. "Bagaimana rasanya dikelilingi oleh laki-laki? Apakah kau sudah merasa menjadi remaja?" tanya Miku. Aku kembali merengut. Sifat Miku kalau sedang menjahiliku sangatlah mirip dengan sifat Ibuku yang menyebalkan itu.
"Ternyata jadi remaja tidak terlalu enak," ujarku seraya bangkit dari dudukku setelah Miku selesai mengacak-acak mukaku dengan make up nya. Aku mempercepat langkahku menuju panggung yang berada di aula sekolahku. Disana, aku bisa melihat beberapa teman sekelasku sudah menaruh properti drama di atas panggung.
Ketika aku melihat punggung yang sangat familiar, aku menepuk pundak pemilik punggung tersebut dengan pelan agar tidak mengagetkannya. "Rinto, apa giliran kita sudah tiba?" tanyaku.
Rinto tersentak sedikit dan menoleh. "Sepertinya begitu."
Deg… deg… deg…
Aku menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan berat. Akhirnya berakhir sudah hari-hari bahagiaku. Drama sudah akan dimulai, dan aku masih saja tidak siap untuk adegan 'spesial'-nya. Aku menaiki satu tangga di panggung tersebut dengan gugup. Kalau melihat ke arah kursi penonton, aku bisa menemukan Ibu dan juga Oliver yang melambaikan tangan mereka diantara beratus-ratus orang yang menonton.
"Semoga berhasil, Rin!" Miku mencoba menyemangatiku dengan pandangan khawatir darinya. Aku mengangguk singkat dan menarik napasku panjang untuk yang kedua kalinya.
Narator pun langsung memulai drama. "Pada suatu hari di kerajaan yang megah―"
.
"Begitulah rencananya!" Len melepas kacamata yang dikenakannya dan mengelap embun-embun yang melekat pada lensa kacamatanya. "Kau bisa melakukannya, bukan?" tanya Len seraya memasang kembali kacamatannya lalu menatap Lui tajam.
Lui terlihat sedang berpikir sebelum akhirnya bibirnya mengucapkan, "Apa kau yakin akan melakukannya?" Lui menghela napas kecil melihat Len yang mengangguk dengan pasti. "Kalau kita dimarahi, apa yang akan kita lakukan?" Lui kembali meluncurkan pertanyaan.
Pemuda berambut pirang pendek tersebut tertawa kecil. "Apa kau lupa kalau aku ini Wakil Ketua OSIS? Semua pasti bisa teratasi," jawab Len seraya menjulurkan tangannya kepada Lui. "Bagaimana?"
Tanpa basa-basi lagi, Lui langsung menerima uluran tangan tersebut dengan senyumn tipis di bibirnya. "Baiklah, aku akan melakukannya."
Len dan Lui yang sedari tadi masih berada di depan kelas Lui langsung bergegas pergi menuju backstage panggung drama festifal. Len langsung pergi menuju sang narator yang berdiri dengan tegak tanpa lelah di sudut panggung sehingga dirinya tidak terlihat oleh para penonton. Sedangkan Lui langsung pergi menuju ruang persiapan di belakang panggung dan menanyakan dimana tempat orang yang bertugas untuk membuka dan menutup tirai yang berada di panggung.
Ketika sang narator sedang tidak membaca naskah, Len langsung menepuk pundak narator tersebut pelan dan bertanya, "Maaf, apa boleh aku menggantikanmu? Aku bagian dari OSIS," ujar Len dengan senyuman menawan di wajahnya.
"Eh? Ba―baiklah."
"Kau sudah baca sampai mana?"
"Err, sampai adegan pangeran akan mencium Putri."
Kalau Lui, sudah menemui pemuda yang bertugas untuk menutup tirai. "Maaf, ada anggota OSIS yang menyuruhku untuk menggantikanmu dalam menutup tirai," ujar Lui dengan cepat. "Kau boleh istirahat," lanjut Lui dengan senyuman manis hingga pemuda yang bertugas menutup tirai tersebut merona dengan merah karena sudah mengira Lui sebagai perempuan yang manis.
"Baiklah."
.
Entah sudah yang keberapa kalinya aku menelan ludah dengan susah payah. Sebenarnya hanya akting tertidur untuk selamanya di atas kasur yang lumayan empuk tidak masalah untukku, tetapi aku terlalu gugup untuk terus tertidur seperti ini sementara Rinto masih memerankan perannya.
"Akhirnya, sang Pangeran yang tampangnya biasa saja mendekati sang Putri yang cantik jelita."
Aku tersentak. Kenapa isi naskah dan juga suara narator berbeda? Dan, entah kenapa aku merasa suara narator itu mirip dengan suara Len?
"Dengan kecupan singkat yang pahit dari sang Pangeran, membuat Putri terbangun dan mereka hidup bahagia selamanya!"
Sreg.
Baru saja wajah Rinto sudah berjarak satu senti dari wajahku, tirai langsung tertutup dan suara tepuk tangan bergema di seluruh ruangan. Rinto yang belum sempat menciumku langsung menjauh dariku dengan terkejut dan sedikit… kecewa?
Aku tersenyum sangat kecil. Sebenarnya apa yang kau lakukan, Len?
To Be Continued.
Akhirnyaaa! Akhirnya chapter ini dipublish juga! Ternyata kalau sebentar lagi akan menghadapi UN, jadwal sehari-hari jadi sibuk banget!
Jadi, mohon maaf buat semua pembaca yang (kalau ada) menunggu kelanjutan cerita ini! Disela-sela Ujian Akhir Semester, aku nyempetin buat lanjutin cerita ini. Soalnya kalau engga dilanjutin sayang bangeet. Jadi kayaknya tinggal beberapa chapter lagi, cerita ini selesai dan aku akan bikin cerita baru!
Kira-kira pasangan Rin siapa yaa? Lui, Rinto, atau Len? Lui, Rinto, atau Len? Lui, Rinto, atau Len? Yaah, pokoknya terima kasih banyak untuk semua pembaca baik yang sudah me-review, faforit, dan juga follow, maupun silent reader. I love you all! Sampai bertemu di chapter selanjutnya!
