Chapter 8; Hakuryuuko

"New life and New War"

Disclaimer : Naruto dan Hight School DXD, Bukan punya saya tapi

:Masashi Kishimoto

: Ichiei Ishibumiuncak.

Warning: gaje,abal,typo,dan alur nyeleneh. Melenceng dari canon,ooc,oc dll

Summary:Naruto yangg telah menyegel chakra Madara,Obito,dan Juubi didalam tubuhnya. Akhirnya mencapai pada ambang batasnya,bukanya mati tapi ia malah terkirim ke dimensi lain dengan kondisi yang berbeda jauh,;

"GLORIA"

-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o-o

Suasana mencekam yang sempat dirasakan di area Akademi Kuah, kini perlahan lahan menghilang bersamaan dengan musnahnya salah satu petingi Falen Angel{Kokabiel}, biang dari kekacauan itu. Di area seluas tiga kali lapangan sepak bola yang awalnya taman akademi dan gedung kelas tempat para siswa Akademi Kuah menuntut ilmu, kini telah hancur seperti telah terserang badai topan yang sangat dahsyat. Di area reruntuhan gedung, terlihat sekelompok remaja atau bisa disebut juga kaum iblis tengah berkumpul. Dari tujuh iblis yang ada ditempat itu, empat diantaranya tergolek lemah tak sadarkan diri dan sisanya sepertinya tengah berusaha membantu anggotanya dengan mengalirkan energi kehijauan pada keempat tubuh tak bergerak empat iblis remaja tadi

Sepertinya malam ini adalah salah satu malam yang takkan pernah terlupakan oleh kaum iblis dari keluarga Gremory itu. Pasalnya, malam ini mereka hampir saja dibabat habis oleh seorang Falen Angel lalim yang bisa dikatakan sangat kuat. Bukan hanya itu, kematian mereka bukan hanya memberi duka untuk keluarga masing-masing, namun juga awal dari perang massa lalu yang dapat membuat ketiga fraksi hampir punah. Dan untungnya mereka malam ini masih mempunyai nasib yang bisa dibilang mujur, karena kedatangan seseorang iblis baru yang selama ini mereka pandang dengan sebelah mata, mampu mengubur semua impian mengerikan dari sang Falen Angel, sekaligus menarik para kelompok Gremory yang sudah mengintip pintu kematianya masing-masing.

"Eengg" salah seorang iblis betina dari tim itu akhirnya siuman, karena memang ia tidak menerima luka yang cukup fatal seperti yang lainya, namun karena fisiknya yang memang cukup lemah, luka ringan itu bisa membuat iblis muda itu harus kehilangan kesadaranya" B-bucho"

"Ahhhh,, kau sudah sadar Asia?" seseorang yang dipangil Bucho oleh Asia menghembuskan nafas nya dengan berat, namun dari wajahnya tergambar raut yang melegakan. Asia Argento adalah salah satu iblis pemilik dari Sacred Gear Twilight Healing, satu dari sekian banyak Sacred Gear yang mempunyai kemampuan unik untuk menyembuhkan luka fisik, entah pada manusia,iblis dan malaikat. Singkat cerita, dengan sadarnya sang medis ditimnya membuat Rias dapat menyerahkan masalah selanjutnya pada Asia, dan ia sendiri bisa beristirahat dengan tenang. Terkesan egois memang, namun kita tak bisa menyalahkanya, pertarungan dengan Kokabiel sepertinya menguras banyak energi iblisnya dan sisa energi yang ia punya pun telah didonorkan pada budak baru Sona untuk menyelesaikan masalah terbesar merekal. Meski ia iblis kelas atas dengan kapasitas energi yang besar, namun tetap saja semua makhluk hidup mempunyai batasan, dan sekarang ini si Red Hair sepertinya telah mencapai batas itu.

"Bucho, apa yang terjadi?" Asia memutar arah pandangnya pada sosok Akeno dan Xenovia yang masih sibuk mengurusi anggota lainya yang masih tak sadarkan diri. Dan pandanganya terhenti pada sosok remaja dengan surai coklat muda yang tengan mendapatkan pertolongan dari si ratu"Isse-kun"

"Asia!" suara lemah dari Rias kembali mengembalikan fokus sang medis kepada Kingnya itu.",,kita menang. Secara lengkapnya akan ku ceritakan nanti, sekarang bisa kau bantu mereka?"

Mengetahui magsud dari king nya, Asia mengangukan kepalanya dengan antusias. Meski masih agak bingung dengan situasi saat ini, tapi ia cukup senang saat kingnya mau mempercayakanya tugas yang terkesan penting itu padanya. Karena pada dasarnya, ia merasa tak berguna didalam tim ini. Ia yang tak dapat bertarung seperti Xenovia, Akeno, Kiba dan yang lainya dikarenakan fisiknya yang lemah, bahkan setelah menjadi iblis sekalipun ia masih lemah. Ia hanya bisa menyembuhkan yang lainya. Tadi saat pertarungan baru beberapa menit terjadi, ia sudah kehilangan kesadaranya hanya karena serangan lemah dari salah satu gagak hitam itu, dan itu secara otomatis membuat tim ini kehilangan penyokong mereka. Dari kejadian itu ia semakin berpikir bahwa ia benar-benar tak berguna, hanya beban di tim si Red Hair,.

"T-tentu Bucho!"

"Hah,,,baguslah kalau begitu!" dengan helaan nafasnya, Rias kemudian melirik pada Akeno dan Xenovia yang sama-sama melihat kearahnya dengan wajah lelah mereka masing-masing. Mengangukkan kepalanya pada mereka berdua, sebelum kembali memandang Asia didepanya dengan senyum tipisnya" kami mengandalkan mu,Asia!"

"Uum" mengangukkan kepalanya sebagai formalitas sebelum menjauh menghampiri anggotanya yang lain untuk memberi pertolongan dengan kemampuan dari Twin Ring yang menjadi berkahnya dari Tuhan.

"GLORIA"

Keheningan melanda di markas anggota tim OSIS. Diantara mereka tak ada yang mengeluarkan sepatah katapun, saking heningnya membuat suara tikus bercicit yang ada di loteng bangunan itu terdengar cukup keras oleh mereka yang ada disana.

Pada saat pertarungan Naruto dengan Kokabiel telah berakhir, dan Naruto yang pingsan dalam dekapan Sona, mereka{angota OSIS} tanpa membuang waktu langsung pergi dari dari tempat itu menuju markas tim itu mereka bahkan tidak memberisalam pada tim Rias yang waktuitu masih ada disana{datang tak disambut, pulang tak di diantar}.

"Hah, kurasa aku harus memoles kembali pedang ku" Tomoe yang pertama memecahkan suasana mencekam tersebut seraya menebas-nebaskan katana hitam yang sempat diserahkan pada Naruto untuk menyokongnya melawan Kokabiel.

"Salahmu sendiri menyerahkanya pada bocah itu"

"Heh,, setidaknya bagian dariku mendukungnya dalam aksi heroik itu" ia kembali menyarungkan katan-nya pada tempatnya dan melirik lawan bicaranya dengan mata memincing heran.",,bagaimana denganmu,Momo?"

Mendapat tatapan sedikit anaeh dari Tomoe, membuat Momo memutar bola matanya dengan bosan. Jika boleh jujur ia sedikit iri dengan temanya. Jika ia bisa, sebenarnya ia juga ingin ikut ambil peran dalam aksi dari keluarga baru mereka malam ini, namun priaritas utamanya adalah Kekkai jadi, yahh apa boleh buat. Peritah king adalah mutlak baginya.

Kriettt,,

Dengan sepontan, tubuh para iblis remaja diruangan itu berdiri dari posisi duduk mereka masing-masing saat sang Kaicho baru saja muncul dari sebuah pintu kamar di salah satu ruangan tersebut.

"Kaicho, bagaimana keadaan Naruto-Nii?"

Sona memandang para budaknya yang tengah menungu jawaban darinya, dari penglihatanya tergambar jelas wajah-wajah khawatir dari mereka semua. Menaikan kacamata nya dengan elegan ia medongakkan kepalanya disertai senyum kecil, menandakan kabar baik yang akan ia beritahukan" Ia hanya kelelahan, luka dalamnya entah mengapa seperti menghilang entah kemapa, tapi yang pasti ia akan baik-baiksaja" helaan nafas lega terdengar hampir dari semua angota iblisnya kembali membuat Sona menyunggingkan senyum tipisnya."Kalian kembalilah ke Akademi, dan lakukan tugas kalian seperti biasa, jangan sampai ada kesalahan!"

"Ha'i"

Mereka semua minus Sona, keluar dengan langkah ringan dan senyum kecil diwajah masing-masing. Keluarga mereka baik-baik saja, jadi tak ada yang perlu dicemaskan, bukan begitu?.

Setelah semua budak nya menghilang dari ruangan itu, Sona kembali masuk kekamar tempat ia keluar. Dikamar sederhana yang tidak terlalu luas itu terdapat beberapa perabotan seperti tv, lemari es, ranjang dan lemari tempat menyimpanan pakaian serta sebuah ruang lain yang bisa diasumsikan sebuah kamar mandi. Diranjang terlihat sebuah tubuh tertutup selimut yang hanya menampakan kepalanya saja, surai kuningnya terlihat berantakan dan wajahnya mengambarkan rasa lelah yang amat sangat dari sosok itu.

Iris ungu violet indah itu menatap dalam wajah pemuda yang saat ini tengah memasuki alam mimpinya dengan pancaran sedih, senang dan bangga. Sona mendudukan dirinya di samping ranjang dekat kepala pemuda itu bersemayam, secara pelan tangan ringkihnya mulai terjulur dan berlabuh di wajah itu, dengan lembut ia membelai wajah dengan tiga garis halus itu tanpa terlewat seincipun."Dasar merepotkan" desahnya lirih.

"Baru beberapa hari kau menjadi iblis, namun kau sudah bisa membuatku berkali-kali sport jantung" elusan tanganya kini beralih ke surai kuning cerah Naruto, sama seperti diwajahnya, Sona melakukannya dengan lembut sarat akan kasih sayang dan kenyamanan yang membuat wajah Naruto mematri senyum tipis dalam tidurnya, seakan ia menikmati perlakuan dari kingnya meski saat ini ia dalam keadaan tak sadar.

Menarik kembali tangannya dari kepala si pirang, tangan kecil itu perlahan membuka pengait kancing blazer akademinya. Melepaskan satu persatu dengan pelan. Tanpa membutuhkan waktu yang lama, semua pakainan yang awalnya melekat pada tubuh iblis betina itu telah tangal seutuhnya. Memperlihatkan lekuk tubuh yang sempurna( deskripsinya disetop dulu'puasa'.. pikirkan sendiri & dosa tangung sendiri), dan kegiatanya diakhiri dengan melepaskan lensa kaca yang selama ini selalu terpajang manis di atas hidung mancungnya.

Dengan perlahan sosok kecil itu beranjak naik keatas ranjang dan menyusup kedalam selimut yang digunakan Naruto. Memeluk tubuh sang pemuda di daerah pingang dan menyandarkan kepalanya disandarkan pada lengan kekar Naruto. Sosok Sona kembali mendongkak untuk melihat wajah damai Naruto dalam tidurnya.

"Setelah malam yang mencekam berlalu, maka pagi yang indah akan menyongsong. Hari berat telah berlalu dan hari yang lebih indah perlahan akan datang menghampiri. Meski begitu, kita juga harus berusaha agar hari itu datang, karena semua itu tidak akan datang dengan sendirinya. Kau telah memulai langkahmu untuk itu, aku dan yang lainya akan menyanga pungungmu sebagai pendukung. Jika suatu hari kau terpeleset di jalan terjal yang akan kau lalui,,," dekapan itu semakin mengerat bersamaan dengan Sona yang terus membisikan pikiranya pada sosok pemuda di pelukanya. Entah karena merasa tergangu atau apa, sosok itu juga perlahan ikut memiringkan tubuhnya dan membalas pelukan Sona dengan lembut. Posisi mereka yang awalnya seperti orang bergandengan tangan kini berganti menjadi seperti sepasang kekasih yang saling memberi kasih sayang dengan cara berpelukan.

Wajah Sona kini tepat menghadap kedada bidang Naruto, nafas hangat yang di hembuskan secara teratur itu dapat ia rasakan saat menerpa ubun-ubunya, terasa nyaman ,hangat dan damai. Tangan sang pemuda kini juga dengan berani melingkari pingang ramping Heeries keluarga Sitri tersebut. Reaksi yang didapatkan Sona atas kejadian itu hanya biasa-biasa saja, malah terkesan ia menikmati semua itu, dan itu terlihat dari bagaimana ia dengan nyamanya membenamkan wajahnya semaki dalam ke dada bidang Naruto.

"O-yasuminasai. Ii yume o miru yoo ni"

"GLORIA"

Masih di antara reruntuhan Akademi Kuoh yang entah mengapa terlihat mulai memeperbaiki dirinya secara sendiri. Area yang awalnya hancur lebur bak reruntuhan Palmyra di Syria itu, kini berangsur angsur kembali seperti semula. Atas semua keajaiban ini, alangkah baiknya jika kita berterimakasih pada angota OSIS yang bahu-membahu mengunakan sihirnya untuk mengembalikan area tersebut kembali ke keadaan normalnya.

Selain angota OSIS yang sibuk bekerja, disana terdapat pula tim Rias yang terlihat telah kembali bugar berkat bantuan dari Asia, kemampuan mengagumkan dari mantan biarawati itu bahkan tak meninggalkan goresan kecil ditubuh masing-masing anggotanya.

",,,Jadi begitulah akhir dari riwayat Kokabiel" Rias yang baru saja selesai menceritakan kronologi kejadian kemenangan kelompoknya atas Falen Angel lalim pada anggotanya. Ia memandang wajah wajah bangga yang di tujukan pada Issei, minus Akeno dan Xenovia dengan tersenyum. Memang, ia sedikit merubah alur ceritanya, dengan mengatakan bahwa Issei lah yang membunuh Kokabiel dalam keadaan tak sadar, ia mengeluarkan kekuatan terpendam dari Sacread Gear di tangan kirinya sehingga berhasil membunuh Kokabiel. Ia juga menceritakan kedatangan Naruto, namun ia tak mengatakan bagaimana perjuangan budak Sona tersebut. Ia hanya berkata, bahwa Naruto datang dan dikalahkan dengan sekali serangan oleh Kokabiel, setelah itu ia dibawa pergi oleh kelompoknya.

"Hahahaha,,,aku memang hebat kan" Issei membusungkan dadanya (bangga) atas kemampuanya. Dia yang pada dasarnya tak menyadari kebenaran dari cerita Rias, hanya menelan bulat-bulat kebohongan dari Kingnya, begitu juga dengan anggotanya yang lain. Kecuali dua gadis yang mengetahui kronologi kejadian yang sebenarnya" Cih, si buta itu memang tak berguna, apa sebenarnya magsud Sona Kaicho mau merenkarnasikanya? Ia pasti hanya akan membawa beban untuk timnya"

Tiim Sitri

Saji yang mendengar cerita(palsu) king dari keluarga Gremory itu wajahnya langsung memerah marah karena emosi. Dia tidak terima jika sosok Naruto yang entah sejak kapan telah menjadi panutanya itu di olok-olok oleh Naga merah sialan itu. Ia sudah hampir melesat kearah tim Rias untuk menyangkal semua yang di katakan Rias andai saja tak di cegah oleh Bennie.

"Apa magsud mereka, brengsek!" masih dalam cengraman Bennie, Saji mengeluarkan umpatanya." Jika Naruto-san tadi tak datang mereka pasti sekarang sudah mati"

"Tenanglah Saji-kun!"

"Tenang? Kau masih bisa menyuruhku tenang saat mereka menghina Naruto-san seperti itu, brengsek?" untuk pertama kalinya Saji berani berkata dingin pada Bennie."Sadarkah mereka, bahwa yang saat ini mereka hina adalah sosok yang telah memperpanjang umur mereka, hah!"

Dalam keadaan apapun, sebenarnya seorang Saji tak akan pernah bisa berkata dengan begitu kasar pada seorang wanita, namun kali ini? sepertinya amarah yang terlalu tinggi membuat ia melupakan prinsipnya itu. Bennie yang mendapat perlakuan seperti itu dari Saji, tak sedikitpun mengendorkan cengkramanya pada tangan kiri Saji, ia malah memberikan senyum bangga pada remaja laki-laki didepanya.

"Tenaglah, bukan hanya kau yang marah pada mereka" masih dengan nada kalem Bennie menunjuk tim Rias berkumpul" lihatlah sekelilingmu, kami juga sama sepertimu. Kami marah, sedih dan jengkel, namun itu bukan hak kita. Selama tak ada perintah dari Kaicho, kita tak bisa apa-apa."

"Bennie benar Saji, kami sama sepertimu. Yakinlah, suatu saat nanti kita pasti bisa menuangkan perasaan ini pada mereka" Tsubaki juga ikut menenangkan Saji, sebagai wakin dari ketua OSIS ia dituntut agar bisa mengatur anggotanya jika sang ketua tak ada, dan sekarang ia tengah menjalankan peranya' suatu saat nanti, itu pasti!'

"Dari pada kalian berdebat terus tak ada gunanya, alangkah lebih baik jika kita kembali melakukan tugas kita hah!" teriakan dari Yuma yang terkesan lebih dingin dari biasanya membuat mereka kembali mengingatkan tugas dari ketua mereka. Dengan terpaksa Saji akhirnya mengikuti saran dari gadis-gadis disekitarnya. Mereka kembali mengonsentarsikan energi sihir mereka seperti sediakala, tentu dengan amarah yang tak di hilagkan dari hati iblis mereka masing-masing,,, yah semoga saja tak mempengaruhi bentuk bagunan yang saat ini mereka perbaiki.

Tim Rias.

Akeno yang terlihat kurang setuju dengan Rias yang menutupi kebenaran akan kejadian tadi perlahan mendekati Rias"ara Bucho, apa magsudnya ini?"

Mendengar bisikan tajam Akeno, Rias menoleh kearah sang quin yang telah berada disampingnya, terlihat jelas ketidak setujuan dari iris hitamya yang saat ini menatapnya tajam. Mendapati situasi itu Rias menghembuskan nafasnya dengan pelan sebelum menjawab pertanyaan quin-nya.

"Tenaglah Akeno, aku melakukan itu hanya untuk medongkrak semangat mereka"

"Magsudmu?"

"Fuhh,,,dalam waktu dekat ini akan diadakan turnamen Rating Game untuk iblis muda, kau tahukan?. Aku menceritakan,,yah bisa kau sebut kebohongan itu pada mereka agar mereka tak down. Lawan pertama kita adalah tim Sona, kau tau itu?!" Akeno mendengarkan dengan serius penjelasan Kingnya, ia mengangukan kepalanya saat Rias menjelasan akan diadakan Rating Game yang memang ia telah ketahui" Dan apa yang terjadi jika mereka tahu bahwa budak dari Sona yang hanya mengkonsumsi 'satu bidak pion' mampu mengalahkan Falen Angel sekaliber Kokabiel, apa yang akan terjadi?"

"Mereka akan sangat terpuruk jika mengetahui fakta tersebut. Mereka pasti akan berfikir 'jika pionya saja sekuat itu bagimana dengan kingnya', kaerena itulah aku mengatakan kebohongan itu pada mereka" Rias mengalihkan padanganya kearah budak-budaknya yang tengah membagakan Issei."Kau tau kan apa impianku!"

Melihat kingnya yang mengatakan impianya dengan senyum kecut, membuat Akeno menormalkan pandanganya, ia thu impian mengebu-gebu Rias dan Jujur, ia sangat mendukungnya. Ia ingat dengan jelas, bagimana duluuu sekali, untuk pertamakalinya Rias meneriakkan keinginanya untuk menjadikan timnya iblis tingkat atas dan menempani peringkat tertinggi dari Rating Game. Saat itu, ia mengatakanya dengan penuh semangat layaknya anak kecil yang menyampaikan impian naifnya.

"Hah,,,terserah kau saja Bucho, namun yang perlu kau tau, aku akan selalu mendukungmu hingga kau bisa mencapai impianmu itu"

Dengan sangat cepat Rias menoleh kembali kearah Akeno yang telah memasang senyumnya seperti biasa"Yah,,terima kasih Akeno, kau memang teman terbaikku!"

"Tentu saja, khukhukhu" mendengar tawa aneh Akeno yang kembali muncul, tak ayal langsung membuat Rias mengulum senyum manisnya kembali,

Wusssss,,,,,

DEG,,,

Suasana yang awalnya telah kembali normal tiba-tiba kembali mencekam saat sebuah energi besar secara mengejutkan mampir di benang-benang sensor para iblis remaja tersebut.

"B-bucho, tekanan energi siapa ini?"Koneko yang memiliki sensor paling peka diantara mereka langsung berlari keara Rias, tak hanya Koneko. Issei,Kiba,Asia dan Xenovia juga ikut menyusul langkah gadis Nekomata tersebut.

"Entahlah, aku sendiri tidak tau" Rias mengedarkan pandanganya kesekeliling untuk memastikan pemilik tekanan energi besar tersebut.'sialll, apa lagi ini?'

"cih,,,KELUAR KAU BRENGSEK!, AKAN KU HABISI KAU DENGAN BOOSTED GEARKU."

"Tahan Issei!"

"Ada apa Xenovia-chan? Kau takut?" dengan arogan Issei melangkah sedikit kedepan, tangan kirinya mulai mengeluarkan pendar-pendar sinar kemerahan sebelum sebuah sarung tangan berwarna merah muncul membungkus tangan kirinya" Kokabiel saja bisa kumusnahkan, apalagi orang ini!"

Meski kuat, pada dasarnya sang Naga Merah mempunyai satu kelemahan yang cukup fatal, ia tidak begitu bisa atau bisa dibilang sangat tidak bisa menentukan batas kemampuan seseorang dengan sensornya, jadi ia tak tau tekanan energi sebesar apa yang bisa dirasakan Nekomata imut tadi.

"Jangan bodoh mesum! Tekanan energi ini, lebih kuat tiga kali lipat dari milik Kokabiel." Melihat tingkah senpai mesumnya, Koneko kembali memperingatkan Issei yang telah maju beberapa langkah kedepan.

Mendengar peringatan bernada menusuk dari Koneko, Issei yang awalnya sangat percaya diri, perlahan lahan menghentikan langkahnya dan mengambil langkah mundur kebelakang, kembali ketempat semula.

"J-jangan bercanda Koneko-chan"

"Hn"

"Dia tidak bercanda Issei-kun. Siapapun pemilik energi ini, ia pastilah sangatlah kuat. Dan kuharap ia bukan musuh!" mendengar penjelasan Akeno membuat Issei semakin merapatkan badanya pada kelompoknya' Hey,, kemana sifat kePD an mu tadi?'

"Ternyata Kokabiel sudah kalahya?"

Suara yang terdengar sedikit berat itu sukses membuat semua iblis muda disana mendongrakkan kepala mereka untuk melihat asal suara tersebut.

Diatas mereka, tampak sebuah tubuh manusia terbalut armor putih dengan sayap mekanik seperti sayap Naga tengah melayang dengan santai. Tekanan yang dihasilkan sosok itu bukan main-main, terbukti dari tubuh iblis muda di bawahnya yang sedikit bergetar dan keringat yang mulai mengalir dari kening mereka.

"S-siapa kau?" sebagai king dari kelompoknya, Rias melontarkan pertanyaan yang membuat fokus sosok tadi berganti pada tim Rias. Sosok itu menurunkan ketingian terbangnya sebelum akhirnya benar-benar mendarat ditanah. Sayap dipungungnya secara otomatis menutup layaknya seperti sayap yang dimiliki robot tempur gundam yang sering mereka lihat disalah satu stasiun tv di daerah mereka.

"Sekiryuutei eh,!"

Mendengar julukanya di ucapkan oleh sosok didepanya, membuat Issei langsung panas dingin, tubuhnya semaki bergetar, dan keringat dingin semakin banyak mengalir keluar dari pori-pori kulitnya"Y-ya"

"Siapa kau? Dan apa maumu?" Rias dengan berani langsung berdiri didepan Issei' Aku adalah raja dari tim ini, tak akan kubiarkan mahluk apapun menyakiti keluargaku' dengan tekat yang kuat ia memandang mata kuning tajam dibalik armor yang dikenakan sosok didepanya.

"Aku?"

"Yah"

"Baiklah, namaku Vali, wakil dari gubernur tertinggi Malaikat Jatuh" pengakuan itu kontan saja membuat tim Rias dan Sona membelalakan matanya. Jika yang ia katakan benar maka kemungkinan besar ia adalah musuh. Dengan keadaan yang belum 100% fit mereka pasti akan tewas jika berhadapan dengan sosok itu.

"K-kau!" hilang sudah kepercayaan diri yang dibangun dengan susah payah oleh Rias, saat secara tiba-tiba sosok didepanya kembali melepaskan tekanan energi yang sangat besar. Jangankan bergerak, bahkan hanya untuk bicara saja ia harus bersusah payah seakan-akan ada sebongkah batu bara menyumpal ditengorokanya, membuat ia kesulitan untuk bernafas. Jika Rias merasa mati syaraf, maka sebagian anggota timnya telah terlebih dulu jatuh berlutut karena tak mampu menahan tekanan energi dari sosok yang masih berdiri dengan sangat santai itu.

"Oh iya, dan aku juga pemilik dari Sacred Gear Divine Dividing" ia menatap sosok Issei yang berlutut dibalik tubuh Rias"Dan kau Sekiryuutei, kau adalah rivalku"

"k-kau Hakuryuuko?"

"Hn"

"Apa yang kau inginkan disini? Jika ingin menantang Issei bertarung, aku tak akan membiarkannya" entah dari mana datangnya keberanian itu, Rias dengan tegas menatang Vali yang jelas-jelas jauh lebih ungul dari mereka semua.

"Hah,,kau tau Gremory? Aku memang sangat ingin bertarung dengan Sekiryuutei sekarang, namun melihat kekuatanya saat ini,,,aku tak tertarik"

"Kau meremehkanku? Hah!" Isei yang tidak terima mendengar nada meremehkan dari rivalnya, secara sepontan langsung berdiri dan maju. Ia memandang benci sosok Vali didepanya. Ia adalah Sekiryuutei, ia memiliki Boosted Gear yang merupakan salah satu perwujudan dari Naga surgawi terkuat. Dan harga dirinya menolak mentah mentah penghinaan tersebut.

"Jika iya, kau mau apa?" Valimaju mendekat kearah Issei dengan sayap mekaniknya yang kembali muncul.

"Aku bisa mencapai Balance Breaker-"

"Hanya dalam waktu 30 detik!" Vali mendengus saat mendengar bagaimana sombongnya sosok rival didepanya ini menjujung kekuatanya"Kau, lihat aku sekarang!"

Tanpa proses otaknya, Iseei mengikuti perintah Vali begitu saja, ia memperhatikan setiap inci dari armor yang dikenakan Vali' Armornya hampir sama dengan Balance Breaker ku hanya saja berwarna putih' otak lemot Issei memprogram beberapa data yang disuplai dari matanya cukup lama hinga secara tiba-tiba matanya melotot kaget setelah mengetahu fakta yang telah ia peroleh'S-sudah berapa lama ia memakai mode ini?'

"Kau telah sadar rupanya! Aku bisa mengunakan Balance Breaker ku sesuka hati, sedangkan kau? Cih mengelikan!" menghiraukan sang rival yang masih shok atas kenyataan tentang perbedaan kekuatanya, sosok Vali segera berbalik bersiap untuk pergi.

"Saat pertemuan selanjutnya, kuharap kekuatanmu sudah setingkat denganku. Aku tak mau melawan mahluk lemah sepertimu!"

"Tunggu!" suara dari Rias menghentikan sosok Vali yang hampir lepas landas."Apa sebenarnya tujuanmu kemari, tidak mungkin kau hanya datang untuk menyapa Issei kan?"

"Ah,, kau benar, aku hampir lupa" Vali kembali membalikkan badanya menghadap tim Rias yang telah kembali bangkit"Sebenarnya aku disini hanya untuk mengawasi Kokabiel atas perintah Azazel"

"Kau mengenal Azazel?"

"Tentu saja, bukankah aku sudah bilang bahwa aku adalah wakil dari gubernur Malaikat Jatuh? Dimana telinga kalian!"

Menghiraukan hinaat dari sosok Vali, Rias pun melanjutkan sesi wawancaranya"Maaf, tapi Azazel tak pernah memberitau kami tentang keberadaanmu"

"Dasar kakek mesum itu" gumaman lirih Vali tak terdengar oleh para iblis didepanya"Apa hanya itu yang ingin kau tanyakan, karena aku harus segera melapor pada Aazel! Dan kau membuang banyak waktuku."

"Tunggu sebentar, apa Azazel yang memberi perintah pada Kokabiel untuk melakukan penyeranggan ini?" dengan sorot mata yang tajam Rias memandang Vali didepanya. Azazel adalah Falen Angel satu-satunya yang ia kenal, menurutnya ia cukup baik pada mereka, ia bahkan mau melatih Iseei dalam meningkatkan kemampuanya dalam pengunaan Sacread Gear-nya. Namun mendengar perkataan Vali tadi , agaknya sedikit mengoyahkan pendirianya.

"Kalau tentang itu, kau tak perlu khawatir Nona Gremory. Kokabiel melakukan penyerangan ini murni dari keinginanya sendiri, dan aku sebagai perwakilan dari kaum Falen Angel meminta maaf atas kelakuan kelompok ku yang satu itu" ia membungkukan badanya didepan Rias dan timnya" Dia juga memberiku perintah untuk membawa Kokabiel padanya jika ia sampai melewati batas, tapi ternyata aku tak perlu campur tangan karena kalian telah mampu mengatasinya sendiri"

"Apa kata-katamu dapat kami percayai?"

"Terserah kau mau percaya atau tidak, namun yang pasti aku telah menyampaikan kebenaranya pada kalian. Azazel sama sekali tak terlibat dalam hal ini, ia menginginkan kedamaian antara tiga Fraksi. Jadi tak mungkin ia melakukanya, karena jika ia melakukanya Gret War kedua pasti akan terjadi, dan itu adalah sesuatu yang sangat ia hindari." Setelah mengatakan itu Vali melesat dengan cepat mengudara, bertanda ia akan benar-benar pergi." Dan Sekiryuutei, suatu saat nanti kita akan beraruang hingga salah satu diantara kita mati. Persiapkanlah dirimu!"

Setelah kepergian Vali suasana diarea tersebut kembali seperti semula, namun keheningan mewarnai area tersebut, tak ada celotehan dari Issei, ataupu tawa aneh Akeno. Rias yang menyadari aura suram dari para budaknya memutuskan untuk mengajak mereka meningalkan tempat itu. Dari semua wajah-wajah lelah para budaknya Rias dapat melihat ekspresi tertekan dari Issei yang sangat nampak' kedatangan Vali pasti menambah beban untuknya'

"GLORIA"

Midscaple Naruto.

Disebuah ruangan yang terkesan gelap dan lembab, terdengar beberapa suara tawa feminim dan geraman yang terdengan mengerikan bagi siapapaun yang tak mengenal mahluk penghasil suara tersebut. Disela-sela dua suara itu juga terdengar pula umpatan atau pun decikan jengkel dari penghuni lain di dunia hitam itu. Menelusuri kegelapan itu semakin dalam, maka kau akan melihat bagaimana dua orang berbeda gender dan sesosok mahluk seukuran kuda yang tengah duduk bersila. Di tangan ketiga penghuni kegelapan itu masing-masing dari mereka memegang sebuah kartu yang sering digunakan oleh manusia untuk berjudi.

"Hahaha,,, kau kalah Naru-kun!"

plakkk,,,

"Wadoh,," Naruto yang tidak sempat menghindar dari sabetan ekor Ringo, harus menerima rasa panas di pipi kananya. Ia memandang tajam gadis liar didepanya yang tanpa rasa bersalah menempeleng wajahnya entah untuk yang keberapa kalinya itu. Sedang yang bersangkutan hanya nyengir polos membuat Naruto harus menghembuskan nafasnya dengan berat.

"Juubi?"

"hem,,kau kalah!"

"A-apa? Jangn bilang kau ak-"

Pletakkk

"i-ittai, i-ittai" setelah pipinya kini kedua tanganya harus bergiliran mengelus-elus batok kepalanya yang menjadi tempat bersarangnya bogem mentah Juubi."Apa kau sadar jitakkan mu bisa memecahkan kepalaku"

"Tidak" jawaban simpel dari pelaku penganiayaan itu langsung membuat sang Uzumaki naik darah, wajahnya memerah, hidungnya kembang kembis bak banteng melihat warna merah dan jangan lupakan ubun-ubunya yang berasap.

"Waow,,kepalamu berasap Naru-kun hihihi" bukanya meredakan amarah dari pemilik kepala, Ringo malah dengan kurang ajarnya menoel-noel telinga Naruto dengan gemas disertai dengan iris ruby-nya yang menatap kagum kepala sipirang yang secara ajaib mengeluarkan asap tipis layaknya kereta uap.

"ARGGGGGGGGG,, AKU TAK MAU BERMAIN LAGI!,"dengan emosi yang telah mencapai batas hight itu, Naruto langsung membanting kartu di tanganya dengan kencang, dan dilanjutkan dengan melompat-lompat diatas sang kartu dengan enerjik."Kartu keparat, brengsek, jangkrek...!"

"ne Naru-kun kenapa kaulakukan itu?" Ringo dengan wajah sedihnya berusaha menghentikan keganasan Naruto menghabisi kartu-kartu keramatnya.

"Nee, Ringo, kau bilang kenapa?" suara yang dimanis-maniskan itu keluar dari mulut sok suci Naruto, Ringo yang memang tidak peka hanya menganguk dengan polosnya, tanpa tahu emosi membeludak yang terkandung dari nada manis Naruto."Bukankah harusnya kau tau, karna kartu zetan ini, wajah tampanku penuh dengan setempel ekor dan tanganmu, dan jika itu belum cukup, lihat ini!" ia menundukan kepalanya menghadap langsung kewajah Ringo, kepala pirang yang harusnya normal itu kini terlihat dipenuhi tonjolan tonjolan sebesar bola pingpong dengan warna agak kemerahan" Kepelaku juga penuh oleh gunung-gunung kecil dari Mbah Juubi itu!" ia menunjuk sosok Jubi dalam mode mininya dengan mata yang memercikan api dendam. Sementara Juubi hanya mendengus sombong.

"Itu terjadi karena kau goblok"

"Aku tidak goblok"

"lantas?"

"Aku hanya kurang beruntung!"

"Itu sama"

"Jelas itu beda"

"Sama!"

Beda!"

"Sama!"

"Beda!"

Melihat pertengkaran konyol didepanya Ringo hanya bisa cekikikan sendiri, ia tak memisahkan keduanya karena menurutnya ini sebuah tontonan live yang seru. Bagaimana sosok seterhormat Juubi bisa bertengkar layaknya anak kecil dengan pemuda penerus Ashura tersebut.

"Nee,, Naru-kun, sepertinya kau harus secepat mungkin memasang fuin:Hakke no Fuin Shiki, agar kejadian seperti kehabisan chakra tak terjadi lagi." Melihat Ringo yang sudah memasang wajah seriusnya membuat Naruto mengambil tempat duduk di depan gadis itu. Menghiraukan Juubi yang memandangnya dengan aura hitam pekat.

"Kenapa harus fuin itu? Kenapa tidak Rikudo fuin?"

"Hah,,dengan kemampuanmu yang seperti sekarang aku yakin kau tak akan mau melakukan itu" Ringo mengosok dagunya dengan jari telunjuknya sebelum melirik jail kemata safir dan hitam Naruto" kalau kau mau pakai itu sih tak apa, asal,,,?"

"Asal?"

"Kau mau melawan nya, one to one!" ia mengidikkan kepalanya kearah Juubi yang sepertinya sibuk mengigiti kutu di balik jubah bulunya{mg juubi punya kutu?} setelah melihat siapa yang dimagsud Ringo, Naruto langsung mengalihkan kembali pandangan ya kearah Ringo dengan wajah sehorror mungkin'kau gila' itulah mungkin magsud dari wajah horror Naruto.

"Aku pilih cara pertama!,,aku tak mau melawanya, bisa mati muda aku!" melihat ekspresi ngeri Naruto memuat Ringo mengeluarkan senyum gelinya.

"kau, takut Naru-kun?" tangan lentik itu menusuk-nusuk pipi dengan tiga garis itu dengan pelan tanpa mendapat protes dari sang pemilik.

"m-mungkin" bukanya merendah. Namun Naruto sadar, jika saat ini ia bertarung dengan Juubi sama seperti dulu ia bertarung dengan sosok Rubah raksasa Ringo di Pulau Kura-Kura, dapat di pastikan, dia pasti akan langsung deat dengan sekali kibasan ekor dari mahluk Teen Tail tersebut

"Baiklah, sekarang keluarkan formula jutsu itu, biar aku yang memandumu!"

Tanpa disuruh dua kali Naruto menyincingkan lengan baju nya, disana terlihat ukiran-ukuran Fuin rumit yang berfungsi sebagai tempat penyegel barang. Selama didunia ini bohong bila Naruto tak mempelajari apapun, ia cukup piawai dalam membentuk kolaborasi huruf-huruf aneh tersebut sehingga bisa berfungsi sesuai dengan kegunaanya. Jadi bisa disebut, saat ini ia sebagai seorang penguna Fuinjutsu dengan level sedang yang masih tersisa. Berkat darah Uzumaki yang mengalir di nadinya, Naruto semakin mudah mempelajari fuin-fuin tersebut.

Meski pada awalnya sangat susah, namun dengan darah istimewahnya ia bisa menyerap semua info dari fuin tersebut ke dalam otaknya dengan cepat dan tepat. Sebenarnya metode itu ia temukan tanpa kesengajaan, dan itu terjadi saat ia masih belum mendapatkan penglihatanya. Lebih tepatnya saat ia menginjak umur 9 tahun.

Saat itu tanpa sengaja ia mengores jarinya sendiri dengan kunai saat tengah berlati melempar benda tajam itu, alhasil darah menyembur dari luka yang lumayan dalam tersebut. Saat ingin membalut jari-nya dengan perban, tanpa sengaja darah yang masih mengalir itu menciprat kesebuah fuin penyimpanan yang saat itu masih terbuka disampingnya. Walhasil kejadian diluar nalar itu terjadi, fuin itu bersinar,darah yang ada diatas perkamen perlahan terhisap, dan sebuah gambar bergerak tiba-tiba memenuhi memorinya. Naruto yang tak tau menau dengan apa yang sedang terjadi mulai memejamkan matanya untuk mereda kejadian ganjil tersebut.

Tapi tetap saja gambaran itu terus berkelebat di otaknya. Secara perlahan, ia mulai menyadari arti dari gambaran-gambaran itu saat melihat dengan jelas bagaimana sosok bayangan hitam dipikiran nya mulai membentuk sebuah huruf yang ia yakini pernah ia lihat di tangan kiri Sasuke saat mereka bertarung diatas jembatan(setelah Sasuke membunuh Danzo). Mulai dari situlah ia mengetahui keistimewaan darah legendaris seorang Uzumaki.

"Baiklah kita mulai!"

Real Work.

Akademi Kuoh yang kemarin hancur lebur, pagi itu terlihat sehat-sehat saja. Tak ada sedikitpun keganjilan di area tersebut, taman yang indah,gedung yang kokoh semua normal-normal saja. Para siswa yang pagi itu datang kesekolah pun tak menemukan keganjilan apapun diarea sekolah tersebut, mereka tetap bisa melakukan kegiatan mereka seperti sediakala. Tujuh jempol untuk angota OSIS yang telah bekerja keras untuk mencapai kesempurnaan itu. Tanpa mereka,, apa jadinya?.

"Kalian bekerja dengan sangat baik!" pujian itu terlontar dari mulut seorang Sona Sitri yang ia tujukan pada anggotanya yang dengan setia mengikuti setiap langkagnya di koridor sekolah.

"Arigato Kaicho"

"Kaicho, bagaimana keadaan Naruto-san?" pertanyaan Saji sukses menghentikan langkah mereka semua. Mendapat pertanyaan yang sudah pasti ia duga, Sona secara perlahan membalik badanya disertai bling-bling hitam sebagai backgroudnya, lensa kacamatanya berkilat tajam saat tekena sinar matahari pagi yang memancar. Melihat wajah angker kingnya, Saji mundur perlahan, sepertinya untuk iblis setingkat Saji ekspresi Sona yang satu ini bisa membuat ia menciutkan nyalinya hingga kedasar.

"Ia masih belum sadar, namun kalian tenang saja, keadaanya sudah lebih baik daripada kemarin" seulas senyum terlihat diwajah para angota OSIS tersebut saat Sona memberikan kabar positif mengenai keadaan Naruto" Aku akan mentransferkan energi iblisku setiap malam agar ia bisa cepat kembali berkumpul dengan kita"

Mereka kembali melanjutkan perjalananya ke ruang khusus OSIS tanpa memberitahukan pada Sona, kebohongan Rias. Saat ini yang menjadi beban bagi mereka adalah keadaan Naruto, hanya itu tidak ada yang lain. meski ia baru beberapa hari menjadi anggota, namun dengan sikap riang dan anehnya itu, Naruto dengan cepat mendapatkan tempat dihati mereka.

TBC

A\N: HOE BRO,,,,,,

Maaf lo chapter ini lebih pendek dari kemarin, masalah nya gw ngetiknya di warnet jadi, yahhh kaya di uber-uber zetan.

Sedikit jawaban untuk kalian, masalah harem tergantung mood gw,, gw ni agak plin-plan jdi gak pasti.

Naru terlalu lemah?; baca chapter 4 agar lebih megerti.

Godlike? No, gw benci godlike,,,kekutan naru disini gak akan ia dapat secara instan.

Senjata? Mungkin ada{gw lagi kepikiran pedang Yamato{devil my cry}

Updt kilat ? NO

Untuk yang bikin solusi gw untuk buat akun baru,, jawab gw No!{kan dah gw bilang gak bisa buka ffn, mana bisa bikin akun baru!.

Elemen naru: ada 4, namun ia belum bisa menguasai kelima2nya sekaligus...hanya beberapa jutsu level D-B yang baru ia bisa(khusus untuk elemen fuuton akan berbeda) Ini akan terus meningkat selama fic ni masi lanjut.

Soal mata, ini sama seperti jutsu, akan terus berkembang selama fick ini lanjut.

Ada yang belum tau warna mata naru, karena selama ni matanya tertutup rambutnya{warna mata, biru hitam sekarang}

Ok segitu dulu yang bisa gw jawab, maaf bila singkat, gw nulis ini di warnet, maaf kalau banyak typo dan kesalahan lainya..

Oh ny,, untuk para budak sona yang lainya, gw banyak gak tau sifatnya kaya gimana di animenya, jadi maaf lo ada yang sifatnya agak melenceng dari siat aslinya.

Dan sekali lagi untuk semua yang baca ni fick, jika diantara kalian ada yang tau kemampun-kemampuan budak sona yang lain, gw mohon kalian mau berbagi. Karena gw butuh banget untuk kelangsungan fick ini.,ok{kagak usah pelit deh)

Pendapat kalian tentg chp ni?

Ohya, trims buat yang udah jdi teman fb gw ya,,lo mau tanya kelangsungan semua fick gw, di fb jga boleh kok,,,,bagaimana pendapat kalian, gw tampan gak{pasti tampan#plak narsis)? Hahahaha{ lupakan!}

Seperti biasa gw butuh review dan saran dari kalian, gw suka komen kalian yang panjang dari pda yang pendek, klo yang pendek gak bisa namba inspirasi gw...

Ok dah,,KARASUMARU.666 mohon undur diri,

JAA neee,,,,,,,,...