Naruto © Kishimoto Masashi.

This is a work of fanfiction. No material profit is taken.


soba ni iru kara

A Naruto fanfiction

.

[bagian 8]

.

"Nee, Sasuke. Siapa Suigetsu dan Juugo?"

Sasuke hanya menoleh sekilas pada Sakura yang berjalan di sampingnya sepanjang koridor sekolah yang sepi. Mereka terus berjalan melewati kelas-kelas yang sebagian sudah terkunci.

"Sudah pernah bertemu mereka?"

Sakura mengangguk bersemangat. "Ya. Juugo-san yang menggendongku pulang waktu itu."

Tiba-tiba Sasuke berhenti. Sakura yang menyadari Sasuke tak mengikutinya, ikut berhenti dan berbalik. Ditatapnya Sasuke dengan pandangan heran.

"Ke-"

Sasuke memicingkan matanya. "Apa maksudmu?" desisnya sembari berjalan mendekati Sakura perlahan.

Sakura terkesiap dan menelan ludah kemudian memilih menundukkan kepala dalam-dalam. "Hanya mengantarku pulang kok."

Sasuke diam dan merapatkan diri pada Sakura hingga Sakura bisa merasakan hembusan napas hangat Sasuke di pipinya. 'Oh tidak! Jangan bilang aku sudah salah bicara!' Sakura menggigit bibir bawahnya.

"Jangan buat aku kesal lain kali," Sebuah kecupan singkat di pipi Sakura mengakhiri kekhawatirannya. "Ayo."

Sakura mengulum senyum lega dan menyambut tangan Sasuke yang sudah terulur terlebih dahulu. Kemudian kembali berjalan menuju pintu keluar koridor sekolah menuju parkiran di mana Sasuke memarkirkan motornya.

"Are? Juugo-san?" Mata Sakura melebar saat melihat sosok yang tadi ditanyakannya tengah berdiri dengan gunting besar di tangan. Sakura melihat ke sekeliling. "Apa yang kau lakukan di sini?"

Juugo tersenyum singkat. "Aku tinggal di sini, Nona."

Sakura merapatkan keningnya. "Apa yang kau lakukan?"

"Menggunting tanaman."

"Kau pakai apa gunting itu?"

Sakura dan Juugo kompak menoleh ke samping dan melihat Sasuke dengan tangan dimasukkan ke kedua saku samping celananya. Sasuke terlihat menaikkan alis dengan pandangan heran dan risih.

"Sudah kubilang berkali-kali…"

"Kau tidak cerita Juugo-san tinggal di sini juga, Sasuke."

"Ah, aku hanya pela-"

"Kau tidak tanya kan? Sudah, ayo masuk. Kau juga, Juugo! Aku tak mau lihat kau memegang gunting lagi. Tugasmu hanya bersamaku!" potong Sasuke cepat.

"Ya, Tuan Muda."

"Hentikan panggilan menggelikan itu!"

"Etto, chotto!"

Sasuke dan Sakura menghilang di balik pintu dapur yang menghubungkan rumah mewah Uchiha dengan halaman belakangnya. Juugo tersenyum tipis kemudian melanjutkan pekerjaannya.

"Sudah tanggung nih."

"Nani?"

"Uh?"

"Apa-apaan ini?"

"Apanya?"

Sakura menatap sosok yang sedang terhenyak menatapnya dengan setangkup roti di mulutnya yang penuh.

"Eh?"

Sakura merucutkan bibirnya. "Dia juga tinggal di sini, Sasuke?"

Sasuke mengangguk malas. "Seperti yang kau lihat. Dari mana kau, Suigetsu?"

"Baru pulang menemani Ayame belanja."

Sakura mendengus. "Aku tahu kalian berdua, tapi aku tidak kenal kalian."

Suigetsu, yang kembali melanjutkan makannya, mengangkat alis. "Apa bedanya?"

"Jelas beda!"

Sasuke menghela napas. "Sudah, lanjutkan saja obrolan kalian."

Sakura dan Suigetsu hanya diam memandang Sasuke yang menghilang di balik sekat pembatas dapur dan ruang makan.

"Jadi… Sebaiknya kau susul Sasuke."

"Aku belum kenalan denganmu tuh."

Suigetsu memutar bola matanya. "Yah, aku Suigetsu."

"Aku Juugo, Nona." Tiba-tiba Juugo sudah berdiri di ambang pintu dapur dengan gunting besar yang penuh lumpur di tangannya. "Senang bertemu Anda."

"Sakura. Senang berkenalan dengan kalian juga." Sakura tersenyum manis. "Lalu sejak kapan kalian tinggal di sini?"

Suigetsu dan Juugo saling pandang. Dengan cepat, Juugo berlalu dari dapur dan masuk ke kamar mandi yang ada di dekat ruang makan hendak membersihkan diri.

"Hei hei! Jangan lari seenaknya!"

"Ah sudah sudah. Jadi, sejak kapan kalian tinggal di sini?"

Suigetsu tersenyum masam, tiba-tiba keringat dingin menetes dari pelipisnya. "Itu… Cerita lama."

"Ekh! Jadi kalian berdua sudah tinggal di sini sejak kecil?" Sakura terbelalak menatap dua sosok yang tengah berdiri di hadapannya. "Sasuke tak pernah cerita."

"Untuk apa dia cerita? Tak banyak yang tahu. Kebanyakan dari orang-orang hanya tahu kami ini anak yang suka main dan berandalan. Heh!"

"Kenyataannya tidak seperti itu kan?"

"Kalau masalah berandalan, memang iya bagi Suigetsu," Juugo yang hanya berdiri bersandar pada tembok angkat bicara. "Suigetsu memang ditugaskan untuk menjaga, tepatnya mengawal, Sasuke."

"Hah?"

"Tutup mulutmu, Juugo! Kau sendiri, sejak bertemu Sakura, sudah jadi pengasuhnya kan?"

"Hei! Apa maksud kalian?"

"Hm, biar kuceritakan semuanya dari awal, Nona."

"Oke."

"Jadi… kami pertama kali bertemu dengan Sasuke saat aku berusia sepuluh tahun dan Suigetsu delapan tahun. Saat itu Sasuke masih tujuh tahun. Sebelumnya, kami tinggal di sebuah panti asuhan. Hingga saat panti asuhan kami terbakar dan kami menjadi anak gelandangan. Anda kenal kakek Sasuke, Nona?"

"Hm, ya, kurasa. Aku tak pernah bertemu atau melihat wajahnya."

"Sou ka… Jadi kakek Sasuke menemukan kami dan membawa kami ke rumah ini. Rumah yang sangat megah, tapi hanya ditinggali dua orang. Beliau dan Sasuke."

"Jadi, saat itu orang tua Sasuke sudah di Korea?"

"Anda tahu tentang itu?" Sakura mengangguk. "Nah, semuanya lebih mudah kalau begitu. Kami tinggal di rumah ini dan diperintahkan untuk menjaga Sasuke. Tapi sepertinya, Suigetsu punya ketertarikan khusus pada Sasuke," Juugo tertawa mendengus sedangkan Suigetsu melotot padanya. "Entah kenapa Suigetsu sangat senang saat diperintahkan untuk menjaganya. Walaupun saat itu aku tidak protes, tapi ada sedikit banyak perasaan ingin menolak. Kami sama-sama anak kecil, tapi kenapa kami harus menjaganya? Begitu kira-kira pikiranku saat itu. Dan kami hidup sepuluh tahun bersama Sasuke dan melihat ia berubah sedrastis itu dalam kurun waktu lima tahun."

"Sedrastis itu?"

"Ya, dulu saat aku pertama kali bertemu dengannya, ia seorang anak yang penyendiri. Depresi tepatnya. Mungkin karena ditinggal pergi oleh orang tuanya. Hidupnya sehari-hari hanya berkutat pada belajar, belajar dan belajar. Waktu mainnya hanya dua jam sehari dan itu pun dia tidak diijinkan keluar rumah. Dia tumbuh jadi anak yang keras, dingin dan tak berperasaan. Tapi di sisi lain, dia berjiwa pemberontak dan sedikit berandalan," ganti Suigetsu yang angkat bicara.

"Ah iya, kalau marah dia selalu menjadikan Suigetsu sansaknya. Hahaha…"

"Eh? Maksudnya?"

"Daripada Sasuke menyakiti dirinya sendiri dengan menghajar tembok, lebih baik menghajar sesuatu yang tidak membuatnya kesakitan. Jadi, kalau dia marah-marah dan memukul tembok, aku balas memukulnya. Lalu kemarahannya akan berbalik padaku dan menghajarku sampai lelah."

Sakura hanya diam dan menatap Suigetsu. Heran, bingung, kagum dan ngeri.

"Ah, aku harus mengganti bunga. Aku permisi dulu. Sampai jumpa, Nona."

Sakura mengangguk. "Sama-sama. Terima kasih, Juugo-san."

Mereka yang tersisa, Sakura dan Suigetsu, hanya diam untuk beberapa menit selanjutnya. Hingga Sakura kembali memecah keheningan.

"Ceritamu sudah selesai?"

Suigetsu mengangkat bahu. "Kalau kau tidak punya pertanyaan, ceritaku selesai."

"Aa… Kenapa kau senang saat diperintahkan untuk menjaga Sasuke?"

Suigetsu tersenyum tipis sebelum menjawab. "Entahlah, perasaan konyol begitu aku melihat sosoknya untuk pertama kali."

"Perasaan konyol?"

Suigetsu menatap langit-langit dapur kemudian menghela napas. "Aku merasa sangat mengenalnya, padahal kami baru bertemu saat itu. Dan entah kenapa saat itu juga aku bisa bersumpah bahwa aku… tak akan mengkhianatinya, lagi…"

"Lagi?"

Tiba-tiba Suigetsu tersentak dan berdiri dengan wajah tegang. Kakinya melangkah cepat keluar dari dapur menuju ruang tamu. Sakura mengikutinya dengan langkah terburu.

"Chotto, ada apa?"

Suigetsu berhenti mendadak, membuat Sakura yang tidak memperhatikan jalan depannya menabrak punggung Suigetsu.

"Itai… Ada apa sih?" tanya Sakura sambil menggosok hidungnya yang memerah.

Suigetsu berdiri mematung melihat sosok-sosok di hadapannya. Kakek tua yang masih terlihat gagah dengan jas hitam dan koper kecil di tangan kanan, serta Sasuke yang berdiri memunggungi mereka.

"Oh, lama tak jumpa, Suigetsu."

Suigetsu menunduk dalam-dalam, membuat wajahnya tertutup rambut peraknya yang memanjang di bagian depan.

"Wajah yang tak asing. Kau tumbuh jadi gadis yang cantik, Nona."

Sakura mendongak dan menatap pria itu heran. Begitu juga dengan Suigetsu yang tadinya menunduk dan Sasuke yang berwajah dingin.

"Apa maksud…"

Suigetsu menarik Sakura tiba-tiba dan membawanya ke Sasuke yang ternyata sudah mengulurkan tangan ke belakang. Sakura berlindung di balik punggung lebar Sasuke dan menyembunyikan wajahnya di sana. Sedangkan Suigetsu berdiri di depan Sasuke.

"Wah wah, ada apa ini? Aku tidak menyuruhmu berdiri di situ, Suigetsu."

Suigetsu mendengus dan tersenyum menghina. "Sayangnya, seingatku dulu aku tumbuh menjadi tameng baginya. Dan tidak lagi menerima perintahmu, Tuan Madara Uchiha."

Pria tua berambut panjang itu tersenyum datar. "Sambutan yang hangat sekali. Ah, kalau tidak salah, namamu Sakura kan? Kau ingat aku, anak manis?"

Sakura yang berdiri di balik punggung Sasuke mencengkram erat kemeja yang dipakai Sasuke. "Tidak sama sekali."

"Sou ka… Lalu, kenapa rumah ini sepi sekali? Mana Fugaku dan Mikoto?"

"Mereka sudah berangkat ke Korea tadi pagi."

"Sou ka? Padahal aku rindu sekali pada mereka. Baiklah, aku akan mengunjungi kalian lagi besok. Sampai jumpa."

Suigetsu dan Sasuke menghela napas lega melihat sosok Madara menghilang keluar.

"Mau apa lagi tua bangka itu?"

Suigetsu hanya diam tak menanggapi kemudian pergi memastikan kalau Madara benar-benar sudah pergi. Sakura masih berdiri tegang di balik punggung Sasuke.

"Kau kenapa, Sakura?" bisik Sasuke di telinga Sakura. "Kau kenal dia?"

Sakura menggeleng. Matanya menatap mata gelap Sasuke dalam-dalam. "Aaaa…" Tanpa disadarinya, air mata Sakura tiba-tiba menetes jatuh.

"Sakura… Kau kenapa?"

Sakura menggeleng. Ia tak tahu, sungguh tak tahu. Perasaan aneh yang campur aduk dalam benaknya saat melihat sosok asing baginya itu, Madara Uchiha. Ia merasa tak pernah mengenal pria itu. Tapi ia mengenal ketakutan yang melanda dirinya saat harus menatap mata onyx milik Madara. Ketakutan yang menguasai dirinya saat itu…

"Sakura…" Sasuke menunduk dan mengecup sudut mata Sakura yang basah, mengecap rasa asin dari air mata Sakura. "Sudah…"

Sakura memejamkan matanya dan berusaha menenangkan diri. Disembunyikannya wajahnya di leher Sasuke. Sedangkan Sasuke terus menenangkannya dengan mengelus punggungnya.

'Kenapa tua bangka itu kenal dengan Sakura? Apa hubungan Sakura dengan dia?' Tanpa sadar, Sasuke menggenggam jari-jarinya kuat-kuat, membuat buku-bukunya memutih dan akhirnya melukai telapak tangannya sendiri. Sungguh, ia tak akan biarkan kakek tua itu mendekati Sakura. Tak akan!

Sakura yang sedang berbaring di ranjang pinknya dengan buku tebal di tangan mengernyit saat merasakan getaran heboh di bawahnya. Buru-buru ia bangkit dan merogoh ponselnya yang ternyata sedang bergetar menandakan adanya telpon masuk.

"Moshi-moshi?" ucapnya begitu mengangkat telpon.

"Konbanwa…"

Suara ini…

"Ka-kakek?"

"Apa kabar, Sakura?"

Sakura menelan ludah pahit. "A-apa… Bagaimana Kakek tahu nomor ponselku?"

Dari seberang sana, lawan bicara Sakura terdengar mendengus meremehkan. "Jangan ajukan pertanyaan bodoh seperti itu Sakura. Aku tahu sejauh mana otak jeniusmu mampu menganalisa."

'Ya, mudah saja bagi orang seperti Madara Uchiha mendapatkan segala macam informasi', pikir Sakura sarkatik.

"Jadi, apa mau Kakek?"

"Wah, galak sekali…"

Jujur, Sakura ingin cepat-cepat memutus komunikasi. Ia takut, sungguh. Perasaan takut yang mengacaukan pikirannya tiap kali mengingat pekatnya mata Madara. Ia benci harus mengakuinya.

"Aku hanya ingin menyapa calon cucu menantuku, bukan begitu Sakura?"

"Hah?"

"Ahahaha… Kau terdengar konyol sekali, gadis manis. Kau tahu? Aku senang sekali saat tahu kau dan Sasuke dekat."

Entah kenapa Sakura merasa sangat sangat lega mendengarnya. Orang seperti Madara, sepertinya pria itu merestui hubungannya dengan Sasuke. Padahal, sejak mendengar cerita Sasuke tentang betapa kejamnya Madara, Sakura sedikit banyak khawatir apakah Madara akan menyetujui hubungan mereka. Tapi syu-

"… Kau pasti akan banyak berguna bagi cucuku!"

Bagaikan dicambuk, Sakura mencelos mendengarnya. Ia kira…

"Perhitungan sekali ya, Kek…" ucap Sakura sarkatik.

Beginilah Sakura. Ia berubah menjadi sosok yang sinis dan berkata-kata tajam saat ia dikuasai emosi. Benar-benar jauh dari image Sakura selama ini yang polos, manis dan sekaligus naif.

"Hahaha… Kau pasti berpikiran buruk tentangku."

"Mendengar cara bicara Kakek saja, sudah membuat lawan bicara Kakek berpikiran negatif kok."

"Wah wah… Aku kebagian peran penjahat sepertinya."

"Sepertinya sih begitu."

"Kau juga pasti sudah tahu tentang masa lalu Sasuke kan?"

"Kira-kira begitu."

"Apa pendapatmu?"

"Kakek adalah sosok kakek yang sangat menyebalkan."

"Hanya itu?"

"Terlalu banyak sampai aku bingung harus mengucapkan yang mana dulu."

"Mau dengar alasanku?"

"Sepertinya tak akan mengubah banyak."

"Sou ka… Kurasa memang jatahku hanya peran antagonis ya. seperti apapun aku berusaha menjelaskan, tak akan ada yang percaya dengan perkataan penjahat sepertiku," Tiba-tiba nada suara Madara yang tadinya cuek dan ceria berubah sendu.

Sakura mengernyitkan kening. "Kakek bisa menebak apa yang ada dalam pikiranku?"

"Aku ini aktor hebat?"

"Tidak."

"Lalu?"

"Usaha yang patut diapresiasi. Hmm…"

"Menyenangkan sekali bicara denganmu, Sakura. Minus nada bicaramu yang sinis itu."

"Kakek mau ngobrol dengan Sakura yang bicara terbata karena takut pada Kakek?"

"Ah tidak tidak. Begini lebih baik. Kurasa aku jadi penasaran, seperti apa ekspresimu saat bicara denganku."

Sakura mengerutkan kening dan menoleh ke samping, di mana cermin besarnya tergantung. Dari pantulannya, Sakura bisa melihat sosok berambut merah jambu acak-acakan dengan ekspresi wajah yang… sangat jarang dilihatnya. Hei, dia marah? Keningnya berkerut rapat dengan mata memicing aneh, membuat wajah kekanakannya berubah lebih tua.

"Lucu sekali melihat pantulan diriku sendiri di cermin, Kek. Kurasa Kakek akan tertawa."

"Benarkah? Hm, kutunggu, Sakura."

"Ya…"

"Kalau begitu selamat malam."

"Ya, sama-sama."

KLIK. Sambungan dua arah itu terputus. Sakura menghempaskan diri ke ranjangnya kemudian menghela napas.

"Aku… takut padanya? Jangan bercanda, Sakura."

"Kenapa belakangan ini Sasuke tidak pernah masuk sekolah?"

Seperti pada jam-jam istirahat biasanya, Sakura, Tenten, Hinata, Ino, Sasori, Naruto dan Shikamaru, minus Sasuke berkumpul di meja yang ada di pojok kantin.

"Entahlah, kalau tidak salah Sasuke bilang akan ada banyak pekerjaan," jawab Naruto cuek sambil terus menyedot jusnya.

"Pekerjaan?" Sakura menggigit-gigit ujung sedotan plastiknya sambil berpikir, mengingat kejadian beberapa hari lalu di rumah Sasuke, dan malam saat ia berbincang dengan kakek Sasuke.

"Ah, itu Suigetsu. Tanya saja dia. Oi! Suigetsu!" seru Naruto saat melihat sosok berambut perak dengan jas merah acak-acakan memasuki kantin yang lumayan lenggang itu.

Sang pemilik nama menoleh ke arah pemanggilnya. Langkahnya perlahan berbelok ke meja Naruto dan kawan-kawan saat Naruto melambai dan mengajaknya bergabung.

"Aku tidak memberi tahu informasi penting di sini," tandas Suigetsu bahkan sebelum Naruto membuka mulutnya yang penuh. Dihempaskannya pantatnya di kursi kosong, di mana Sasuke biasa duduk.

"Astaga, aku hanya ingin menanyakan tentang Sasuke. Kemana dia?"

Suigetsu menaikkan alis. "Ada banyak pekerjaan di perusahaan."

"Tidak biasanya dia yang menangani. Mana wakil kakeknya memang?" Ganti Shikamaru angkat bicara, masih dengan gaya khasnya, malas-malasan.

Suigetsu mendengus sebelum menjawab. "Jangan tanya aku dong! Tanyakan saja kakek bangka itu!"

"Nani? Kakeknya pulang?" Naruto menggebrak meja kantin dengan tiba-tiba. "Kapan?"

Suigetsu memandang langit-langit tinggi kantin sekolah. "Sepuluh hari yang lalu."

Naruto kembali terduduk di kursinya lemas dengan mata membelalak dan mulut terbuka lebar.

"Temui saja. Sasuke sedang berlagak bos sekarang."

Naruto tiba-tiba menyeringai lebar. "Kita lihat saja sejauh mana dia berkembang menjadi bos."

PLAAK

"Itai…!"

Tenten yang duduk di samping Naruto menggeram jengkel dengan tangan mengepal. Wajahnya tercetak menyeramkan.

"Harusnya Sasuke yang bilang begitu padamu, BAKAA!"

Mereka larut dalam pertengkaran Tenten dan Naruto, tanpa menyadari Sakura dan Suigetsu sudah menghilang dari perkumpulan kecil mereka siang itu.

"Ada apa lagi?"

"Pulang sekolah, bawa aku ke tempat Sasuke."

"Itu permintaan atau perintah?"

"Pe-"

"Kalau itu perintah, aku tak akan melaksanakannya. Minta saja pada Juugo."

Sakura mendengus kesal. "Kalau itu permintaan?"

"Aku menolak. Sasuke memerintahkanku untuk tidak membawamu padanya untuk beberapa hari ke depan," jawab Suigetsu cuek sambil berbalik dan berjalan meninggalkan Sakura.

"Aku minta Juugo-san saja kalau begitu!"

Suigetsu berhenti sejenak kemudian berbalik. Keningnya mengerut. "Ide bagus. Kurasa Juugo akan lebih memilih mengabulkan permintaanmu daripada menuruti Sasuke."

Kemudian Suigetsu melanjutkan kembali jalannya dan meninggalkan Sakura yang sedang mematung sendiri.

"Tapi… bagaimana dia bisa menemui Juugo?" gumam Suigetsu lirih.

Sasuke mengerutkan keningnya rapat-rapat dari balik meja kerjanya yang dipenuhi tumpukan berkas-berkas dan file dalam folder beraneka warna. Tuxedo hitamnya tersampir di bahu kursi kerjanya, menyisakan kemeja putih bergaris hitam yang sudah kusut dengan dasi hitam yang sudah ditarik longgar.

"Jadi… Bagaimana kau bisa ke sini, tepatnya bagaimana bisa tahu tempat ini?" Sasuke memijit keningnya yang tiba-tiba terasa pening pelan-pelan.

"Hmm… Kau ingat kan aku kenal dengan Juugo-san? Hehehe…" Sosok merah jambu di depannya kini malah terkekeh geli, membuat rambut panjangnya yang digerai bergerak mengikuti gerakan kepalanya.

"Juugo…?"

"Ya?"

"Aku menyuruhmu membawa Sakura kemari?"

Juugo yang berdiri di belakang Sakura tersenyum simpul. "Anda tidak melarangku membawa Sakura kemari, Tuan Muda."

Sasuke semakin kencang memijit keningnya. "Oh, aku lupa mengatakannya," ucapnya kesal.

Suigetsu yang sedari tadi duduk di sofa kantor Sasuke, masih dengan seragam sekolahnya yang awut-awutan sambil membaca-baca majalah, kini menoleh menatap Sasuke yang terlihat berantakan.

"Kalian berdua boleh pulang," perintah Sasuke pada Suigetsu dan Juugo.

"Aku di sini saja."

"Baik, Tuan Muda."

"Dan berhenti memanggilku seperti itu. Menggelikan!"

Juugo segera berlalu keluar dari ruang kerja Sasuke dan Suigetsu melanjutkan kegiatan membacanya yang tertunda. Sedangkan sang tokoh utama dengan seenaknya mempersilahkan diri sendiri duduk di sofa yang juga ditempati Suigetsu.

Sasuke memijit keningnya sambil mendesah. "Bisa kau pulang?"

"Itu perintah atau permintaan?" tanya Sakura balik, tak begitu memperhatikan karena sudah asyik mengobrak-abrik tumpukan majalah yang ada di lemari kaca.

"Mana saja yang bisa membuatmu pergi."

"Tidak dua-duanya."

Sasuke membantingkan diri ke sandaran kursi kerjanya yang empuk. Ditutupkannya lembaran berkas yang sedari tadi dipegangnya ke wajahnya. Terdengar helaan napas berat Sasuke. Sakura yang sejak tadi tidak peduli, akhirnya menatap sosok Sasuke. Pandangannya berubah sedih dan merasa bersalah.

"Maaf, aku akan pergi kalau begitu," ucap Sakura lirih.

Tak ada respon. Sasuke belum beranjak dari posisinya tadi. Helaan napasnya berubah teratur, tidak lagi berat.

"Suigetsu, antarkan aku keluar," bisiknya lirih pada Suigetsu.

Saat Suigetsu dan Sakura sudah hendak mencapai pintu, Sasuke mendongak tiba-tiba.

"Tidak, bukan begitu maksudku."

Sakura berbalik dan menatap Sasuke yang tengah menatapnya ganjil, sedih. "Aku menganggumu kan? Maaf, aku pergi saja. Sampai jumpa."

Sasuke mengacak rambutnya frustasi. "Suigetsu, kau keluar."

"Ya ya…"

Suigetsu keluar dan menutup pintu, menimbulkan bunyi bedebam pelan. Tinggal Sakura dan Sasuke di ruang kerja kantor pusat cabang Jepang perusahan Uchiha Corp itu. Sasuke kemudian beranjak bangkit dan berjalan mendekati Sakura yang masih terdiam.

"Maaf, bukan begitu maksudku," Sasuke meraih tangan Sakura kemudian menariknya lembut ke sofa.

Sakura menundukkan kepalanya. "Aku yang harusnya minta maaf. Aku pasti sudah menganggu pekerjaanmu. Padahal Suigetsu sudah bilang kau sibuk. Tapi-" Suara Sakura terdengar serak. Matanya sudah tergenang cairan bening.

"Kau cengeng sekali sih…" ucap Sasuke geli sambil mengusap titik air mata di sudut mata Sakura dengan tangan kanannya. Sedangkan tangan kirinya menggenggam tangan kanan mungil Sakura. Perlahan, tangan kiri Sasuke bergerak menarik tangan Sakura sehingga melingkari lehernya.

"Biar saja… Uuuh…" Sasuke terkekeh geli mendengar rengekan Sakura. "Kau tahu, aku rindu sekali padamu. Makanya aku memaksa Juugo untuk mengantarku ke sini. Hiks…" Dengan tangannya yang bebas, Sakura mengelap air matanya asal.

Sasuke terhenyak sejenak, kemudian tersenyum lembut. "Kau tahu satu hal? Aku pernah harus bekerja tiga hari tiga malam tanpa tidur dan makan, tapi aku tak pernah merasa sefrustasi seperti sekarang. Kau tahu kenapa, hn?" Sasuke menundukkan kepala menyejajarkan wajahnya dengan wajah Sakura yang sudah bersemu merah. "Kurasa itu karena kau."

"Begitukah?"

"Ya. Kurasa begitu."

"Kalau begitu, kau beruntung sekali."

"Kenapa begitu?"

"Karena aku juga merasakannya."

"Begitukah?"

"Ya, tentu saja. Jangan meragukanku."

"Tidak, aku hanya mengujimu."

"Hm…"

Dan mereka pun larut dalam kehangatan yang menyelimuti mereka berdua. Rasa manis yang dirasakan oleh keduanya saat bibir mereka bertemu dan saling mengecup, saling mengobati kerinduan mereka.