Chap 8.
Author POV.
Jatuh cinta. Satu kalimat yang sering membuat manusia lupa segalanya. Tidak, cinta tidak hanya untuk manusia. Tuhan menciptakan cinta untuk siapa saja yang memiliki perasaan. Dan mahluk berperasaan yang hidup diantara dunia manusia dan dunia fantasi juga berhak merasakan jatuh cinta. Hanya saja sebagian kecil dari mereka memiliki kisah cinta yang rumit, dan sering berakhir dengan kisah tragis. Manusia selalu berpikir bahwa mahluk berbeda tidak akan pernah bisa disatukan, lalu mengapa tuhan menciptakan cinta untuk mereka?
"Sehun.." Kai membelai lembut surai hitam Sehun. Ia duduk menyandar kepala ranjang di kamarnya.
"Hmm.." Sehun merebahkan dirinya di antara kedua kaki Kai sambil berbantal pada paha kiri atas pria itu. Ia menarik tangan Kai yang memainkan rambutnya dalam pelukannya.
"Apa pernyataanmu tentang tiga pertanyaan dalam sehari masih berlaku? Rasanya sudah lama sekali aku tidak bertanya." Sehun memejamkan matanya. Ia kembali mengingat siapa dirinya sebenarnya dan aura hitam ketakutan tiba-tiba merasuki pikirannya.
"Masih, tanyakan saja apa yang ingin kau tanyakan." Sehun membuka matanya saat Kai menarik tubuhnya keatas.
"Pertanyaan pertama. Bisakah kau memberi contoh tentang mahluk-mahluk mitos yang hidup di duniamu? Selain mermaid tentu saja." Kai mengecup lembut bahu kanan Sehun.
"Selain mermaid, ada bangsa Vodyanoy mereka adalah roh air yang tinggal dan hidup di lautan dalam. Jangan tanya mereka pria atau wanita karena aku tak mengetahuinya. Tubuh mereka berlemak dan menjijikkan. Aku tak menyukai mereka. Ada juga Hippokampos, mereka adalah jenis kuda air. Mereka sangat bersahabat dengan mermaid. Dan mahluk terakhir yang akan kujelaskan adalah Oceanides. Mereka hidup menyendiri, sosoknya menyerupai wanita tetapi bisa berubah menjadi mahluk menyeramkan. Mereka tidak terlalu berbahaya." Kai mendengarkan Sehun dengan baik. Ia merasa Sehun sedang mendongenginya karena mahluk-mahluk itu sangat terdengar tidak nyata.
"Lalu mengapa kalian tidak pernah tertangkap oleh manusia?"
"Karena dunia kami berbeda. Jika manusia memiliki alat pengukur kedalaman laut terdalam, mereka hanya akan menemukan dataran berpasir dengan ikan-ikan aneh. Dunia manusia bagaikan tempat bermain untuk kami, saat kami lelah bermain maka kami akan pulang ke tempat asal kami." Sekarang semuanya terdengar lebih masuk akal untuk Kai.
"Lalu mahluk apa kau sebenarnya Sehun? Maksudku, kau bukan roh kan?" Sehun terkekeh karena pertanyaan Kai.
"Ada banyak mahluk laut yang berbentuk roh, tetapi ada juga yang menyerupai manusia. Dan itu kami bangsa mermaid. Mermaid adalah mahluk air yang paling mirip dengan manusia, dan itulah mengapa mahluk-mahluk lain sering iri pada kami, karena kami adalah permata laut. Mereka cantik dan berharga." Kai tersenyum.
"Aku beruntung karena salah satu permata laut itu berada dalam pelukanku sekarang." Kai mempererat pelukannya saat ia merasa suhu tubuh Sehun meninggi.
"Ya, kau sangat beruntung." Sehun memberikan lehernya untuk Kai. Ia bisa merasakan permukaan lidah basah Kai menyapu kulitnya. Hangat dan geli. Kecupan-kecupan pelan itu Kai sematkan seiring ia menyusuri leher dan telinga Sehun. Sehun memejamkan matanya menikmati permainan Kai.
"Kaihh.."
Sehun membawa tangan kirinya menangkup rahang Kai. Ia melihat pantulan dirinya pada mata gelap pria itu. Pandangan tajam itu selalu melembut tiap kali ia menatap Sehun. Dan Sehun selalu menyadarinya. Sehun bahkan merasa ia tenggelam dalam pandangan Kai. Aura Kai seolah menarik tubuh Sehun mendekat dan menggodanya untuk mencicipi Kai lebih dalam.
Sehun memajukan wajahnya. Ia menyapukan bibirnya di atas bibir Kai. Kai menanggapinya dengan baik. Ia membuka mulutnya dan menyambut sapuan lidah Sehun pada bibir bawahnya dengan hisapan pelan pada bibir atas Sehun. Nafas keduanya bertubrukan, Kai membawa tangannya membelai perut datar Sehun.
Sehun merangkul lengan Kai erat dan menenggelamkan tubuhnya dalam pelukan Kai. Hangat dan nyaman. Mereka masih saling mencumbu bibir satu sama lain hingga Kai melepaskan ciumannya dan beralih ke leher Sehun. Sehun tersenyum karena nafas Kai menggelitiki lehernya. Ia menahan mati-matian agar ia tak tertawa. Entah karena sugesti atau apa, Sehun merasa lehernya sangat geli saat nafas Kai berpadu dengan belaian lidah.
Kai mendengar kikikan pelan Sehun. Ia membuka matanya dan melirik pada bibir Sehun yang tersenyum lebar menahan rasa geli. Dengan jail Kai menghembuskan nafasnya semakin kencang dan menyapukan lidahnya semakin pelan.
"Kaihhhh.." Sehun terkikik dan menjauh dari Kai. Ia tak dapat menahannya lebih lama.
"Kenapa? Kau sudah bosan dengan ciumanku?" Kai ikut tertawa kecil mendengar rengekan Sehun.
"Tidak, hanya saja geli." Sehun menutup kulit lehernya dengan tangan.
"Geli? Bagaimana dengan ini?" Kai menarik tubuh Sehun kembali dalam pelukannya dan menggelitiki pinggang Sehun.
"Kaihhh berhenti kumohonnn.. hahahaha.." Sehun menggeliat dalam pelukan Kai.
"Aawww.." Kai berteriak karena merasakan gigi tajam Sehun menusuk lengannya.
"Ahh sakit sekali." Kai memegangi lengannya sambil mendongak ke atas karena kesakitan.
"Jangan main-main denganku." Sehun menyundul dagu Kai pelan.
"Ya tuhan taringmu lancip sekali Sehun." Kai melihat bekas gigitan Sehun. Ada dua bekas gigi taring Sehun di kulitnya.
"Apa yang barusan sangat menyakitkan?" Sehun mengerutkan alisnya, ia kelihatan menyesal. Kai sedikit terhibur karena perubahan wajah Sehun. Sebagai jawaban Kai hanya mengangguk dua kali, ia ingin melihat ekspresi Sehun selanjutnya.
"Maaf, aku tidak bermaksud menyakitimu." Sehun menarik tangan Kai dan menciumi bekas gigitannya. Kai mengusap rambut Sehun dengan tangan lainnya.
"Nona ini manis sekali." Kai tersenyum.
"Kau kesakitan dan aku tak menyukainya." Kai terenyuh dengan kalimat Sehun. singkat tetapi penuh makna. Ia tak menyangka wanita yang sangat membencinya berubah menjadi wanita yang sangat memperhatikannya.
"Sudah tidak sakit Sehun." Kai menarik tangannya lalu ia mengecupi bibir Sehun. Ia bahkan membuka bibir Sehun agar dapat meraih taring panjang Sehun dengan lidahnya.
"Taring ini yang selalu menggigitiku akhir-akhir ini." Kai terkekeh rendah. Sungguh ini terdengar sangat seksi bagi Sehun. Kai menarik tubuh Sehun untuk berbaring di sampingnya.
"Kau adalah mahluk terindah yang pernah aku temui Sehun." Kai membelai pipi Sehun. Ia kembali bergerak dan menempatkan tubuhnya mengukung Sehun di bawahnya.
"Dan kau adalah hal terberharga yang aku miliki saat ini. Ingat ini Sehun, kau milikku." Kai mengecup dahi Sehun.
"Aku ingin mengatakan sesuatu yang terdengar romantis juga, tapi aku takut kau akan besar kepala." Sehun mengerutkan hidungnya.
"Memangnya mengapa? Kau ingin memujiku? Aku tau aku tampan Sehun, kau tidak perlu malu mengatakannya." Dan Sehunpun mengalihkan pandangannya karena tak percaya akan apa yang barusan ia dengar.
"Aku ingin mengatakan bahwa aku salut akan kepercayadirianmu Kai Kim." Sehun menggigit bibir bawahnya.
"Apa kau sedang menggodaku?" Kai menaikkan satu alisnya.
"Jika ia bagaimana?" Kai menyeringai. Kai memajukan dirinya dan kembali menciumi Sehun.
.
.
.
.
.
.
Sehun POV.
Aku terbangun beberapa menit yang lalu karena mimpi buruk. Kulihat jam digital di atas nakas, masih pukul 03.33 pagi. Langit masih gelap. Yang kudengar hanya suara deburan ombak. Aku tau yang kulakukan saat ini terbilang buruk. Aku lari dari garis alam. Dan aku rasa semesta sedang murka kepadaku. Ia seolah mengancamku tiap kali aku sendiri dalam pikiranku.
Bahkan ia mulai merasukiku lewat mimpi. Dalam mimpiku, aku berdiri di pinggir pantai. Cahaya merah rembulan dan kobaran api yang membakar pepohonan di belakangku menjadi satu-satunya sumber cahaya saat itu. Aku mengedarkan pandanganku. Disana, di bagian lain pantai aku melihat seseorang berdiri menghadap lautan lepas.
Aku berlari mendekatinya. Semakin dekat aku merasa siluet wajah pria itu adalah wajah pria yang sangat aku kenal. Aku memanggilnya dan memeluknya erat. Ia memelukku juga. Hanya saja aku tak dapat menggambarkan ekspersi wajahnya. Ia terlihat sedang bimbang dan selalu menghindari pandanganku. Aku takut sangat takut.
Api yang membakar hutan di belakang kami menyebar dengan cepat seolah hutan itu telah disiram bensin. Panas suhunya terasa dikulitku. Aku merasa keringatku turun dari pelipis ke leher dan merembas ke bajuku. Pikiranku kacau dan perasaanku gelisah. Aku masih memeluk Kai erat. Karena terlalu gelisah aku baru menyadari bahwa ada sebuah perahu tunggal di bibir pantai, tidak jauh dari tempat kami berdiri.
Aku mengatakan pada Kai untuk menggunakan perahu itu dan aku akan berenang menemaninya. Tetapi jawaban Kai membuatku membatu dan kacau. Ia mengetakan 'Jika aku yang menggunakan perahu itu. Kau akan terbakar disini Sehun. Tidak ada dari kita yang bisa berenang.'. Setelah Kai selesai dengan kalimatnya, aku menyadari sesuatu. Kaki kanan dan kiri kami tak ada. Entah kemana, yang jelas aku tak menemukan kakiku disana begitu juga dengan Kai. Kami berdiri diatas pasir pantai dengan pinggang kami.
Setelah menyadari hal itu, aku terbangun dengan nafas yang menderu dan keringat yang merembas pada pakaianku. Aku memperhatikan Kai yang masih tertidur pulas di sampingku. Mimpi yang sangat mengerikan. Suhu ruangan berubah menjadi sangat pengap. Aku mendudukkan tubuhku dan meraih segelas air putih di atas nakas. Aku kembali menyamankan posisiku di samping Kai. Di bawah sinar remang lampu nakas, aku memperhatikan paras tampan Kai.
Aku berharap ia tak mempermainkanku. Nafasnya teratur. Dada telanjang itu selalu menjadi tempat kesukaanku. Jika aku pergi nanti, aku pasti akan sangat merindukannya. Tak terasa air mata turun membasahi pipiku. Kepalaku pusing. Aku memeluk Kai erat. Aku tak pernah merasa setakut ini dalam hidupku. Tubuhku memanas. Aku tak ingin Kai terbangun karena panas tubuhku.
Aku menarik diri dan memberi jarak antara tubuhku dan tubuh Kai. Aku bergerak gelisah karena seluruh permukaan tubuhku serasa terbakar. Setelah sekian lama tak merasakan sakit, akhirnya rasa itu datang lagi. Aku tidak dalam kondisi terbaikku untuk mengabaikan kesakitan ini. Butiran-butiran keringat kembali muncul ke permukaan kulitku. Aku menahan tubuhku agar tidak bergerak terlalu banyak.
Aku bahkan membekap mulutku agar tidak mengeluarkan suara rintihan. Ini sungguh menyakitkan. Kutarik nafas dalam dan kuhembuskan pelan. 'Kai Kai Kai Kai Kai Kai Kai..' aku merapalkan namanya dalam hati. Entah sejak kapan aku selalu menyebut nama Kai saat aku merasa ketakutan dan gelisah. Air mata kembali keluar begitu saja. Bukan hanya tubuhku saja yang sakit, tapi hatiku juga. Aku membawa tubuhku ke kamar mandi. Paling tidak di sana aku bisa lebih leluasa bergerak. Aku tak memerlukan tongkat, sungguh aku tak peduli dengan benda itu saat ini.
Sesekali aku melihat kebelakang memastikan tidur Kai tidak terganggu. Kunyalakan lampu kamar mandi dan aku menempatkan diriku dalam shower glass. Paling tidak suhu disini lebih rendah dari pada dalam kamar.
"Hikss.."
Air mata sialan ini tak mau berhenti. Kenyataan tentang masa depan hubungan kami selalu menjadi alasan utama. Aku menyalakan shower, aku tak peduli jika gipsku basah yang terpenting suhu tubuhku merendah. Air mengalir membasahi rambut dan badanku. Kubasuh wajahku beberapa kali agar rasa terbakarnya menghilang.
Kurasa aku telah berada di bawah guyuran shower sekitar setengah jam. Aku memeluk kaki kiriku dan menyembunyikan wajahku disana. Sakit yang kurasakan telah berkurang. Hanya tinggal sakit kepala yang membuatku sangat malas bergerak. Kai mungkin akan panik saat ia menemukanku di dalam sini.
"Sehun.." See? Baru saja aku memikirkannya.
"Sehun kau di kamar mandi?" aku mendengar langkah kakinya memasuki kamar mandi.
"Ya tuhan Sehun!" Kai menggoyangkan tubuhku pelan dan mengangkat wajahku. Aku melihat raut wajah paniknya.
"Mengapa kau basah kuyup? Alright, aku akan mengurusmu terlebih dahulu. Setelah itu kau harus bercerita." Ia menggendongku ke closset-nya dan mendudukkanku di dressing chair di ruangan itu. Ia melepas pakaian basahku hingga aku telanjang saat ini. Tidak, aku tidak malu telanjang di depannya.
"Sehun kau membuatku sangat khawatir." Kai mengeringkan seluruh tubuh basahku dengan handuk kering. Ia mengambil pakaian baru dan mengenakannya untukku. Aku memandang raut paniknya, keningnya berkerut dan pancaran matanya memancarkan kekhawatiran.
"Aku akan mengeringkan rambutmu." Ia menyalakan sebuah hair dryer dan mengarahkannya ke kepalaku. Ia bahkan masih mengenakan celana piama tanpa atasan.
"Sekarang aku akan menggangtikan gipsmu." Kai melepas gipsku dan menggantinya dengan yang baru. Aku tak bicara banyak, memperhatikan Kai yang bergerak kesana-kemari untukku sedikit membuat hatiku menghangat. Aku merasakan perhatiannya, dan rasa gelisahku beberapa waktu yang lalu seolah tak berarti.
"Kau melakukan hal yang sangat membuatku ketakutan Sehun. Apa yang terjadi?" Kai menarik kursi yang kududuki dan ia berjongkok di depanku. Tangannya menggenggam tanganku, aku merasa sangat berharga.
"Aku mimpi buruk. Dan tubuhku memanas-"
"Tubuhmu memanas dan kau tidak membangunkanku?" Kai menaikkan suaranya, tidak terdengar seperti bentakan. Hanya seperti suatu nada protes.
"Aku tak ingin mengganggu tidurmu Kai. Kau jelas butuh istirahat setelah seharian bekerja."
"Itu adalah alasan terbodoh yang pernah aku dengar. Listen, Sehun kau adalah orang yang sangat penting dalam hidupku. Jika kau merasa kesakitan jangan pernah sungkan memanggilku meskipun aku sedang tidur, atau sedang di kantor sekalipun. Aku lebih baik mendapatimu dalam pelukanku saat kau merasa sakit ketimbang mendapatimu tergeletak dalam kamar mandi dalam keadaan basah kuyup. Kau membuatku panik Sehun. Dan aku tak menyukainya. Kau paham?" Pandangan mata Kai menajam. Aku tau ia melakukan ini untukku, tapi sungguh ia sedikit membuatku takut.
"Baiklah, maafkan aku." Aku menyentuh pipinya. Aku tak suka melihatnya seperti ini.
"Ya tuhan sayang, maaf aku berbicara terlalu keras. Aku sangat takut jika terjadi sesuatu kepadamu. kumohon jangan melakukannya lagi." Kai meraih leherku dan mengecup keningku.
"Aku sangat mencintaimu." Kai menatap mataku.
"Aku juga mencintaimu Kai." Ia mengecup bibirku lembut selama beberapa detik.
"I need my cuddle time." Setelah suasana menegangkan, cuddle time selalu menjadi pilihan paling sempurna.
"Alright baby girl." Kai menggendongku dan kami kembali ke atas ranjang untuk saling berpelukan dan saling menghangatkan. Untuk sementara aku melupakan hal yang membuatku ketakutan. Aku hanya ingin menikmati waktuku bersama orang yang aku cintai.
.
.
.
.
.
.
Seperti rencana sebelumnya, Kai akan mengajakku berlibur. Kai telah menyiapkan segalanya. Semua pakaian kami dan barang-barang kami telah tersimpan ke koper. Hari ini kami akan memulai liburan musim panas ini dengan mengunjungi New Orleans. Kai memutuskan mengunjungi New Orleans karena beberapa minggu yang lalu saat Kai menjelaskan tentang tempat ini kepaadaku, aku terlihat sangat tertarik. Kai selalu tau apa yang aku inginkan, bahkan jika aku hanya mengatakannya dalam hati. Tidak memakan waktu lama karena kali ini Kai menggunakan pesawat jet pribadinya. Aku heran, mengapa ia bisa sekaya ini.
Bohong sekali jika aku tidak bersemangat. Saat ini kami berada dalam hotel. Kami akan menginap disini untuk tiga hari kedepan. Aku duduk membaringkan tubuhku berbantalkan paha Kai. Tiap kali aku melihatnya aku selalu ingin menyentuhnya. Aku tak pernah membayangkan bahwa jatuh cinta bisa semenyenangkan ini.
"Apa kau masih lelah?"
"Aku sangat bersemangat. Apa rencana kita hari ini?" Jawabku dengan nada antusias. Kai memainkan pipiku.
"Yah aku bisa merasakan semangatmu Sehun." Kai terkekeh.
"Sekarang masih pukul dua siang. Satu jam yang lalu parade musim panas telah dimulai. Aku mendapat informasi bahwa parade itu akan melewati hotel ini sekitar setengah jam lagi. Dan kita bisa menikmatinya dari balkon hotel. Berhubung kita di lantai dua, kurasa ini adalah lokasi yang tepat."
"Parade? Sepertinya menarik. Lalu apa yang harus kita lakukan selama setengah jam kedepan?" aku tau aku terdengar tidak sabar.
"Kau tidak mau mandi? Setelah parade ini lewat, aku akan mengajakmu kontrol setelah itu berkeliling lalu kita akan makan malam."
"Ahh baiklah. Kau ingin mandi duluan atau aku duluan?" Aku duduk dan menhadap Kai.
"Apa kau memiliki pilihan mandi bersama?" Kai tersenyum miring. Goshh.. raut wajah itu selalu menggodaku.
"Tapi jangan melakukannya." Aku memasang wajah memelasku.
"Aku pikir kau menyukainya Sehun." Bagaimana bisa ia mengatakan itu dengan mudah? Kalimatnya terlalu memalukan untukku.
"Memang, hanya saja setelah melakukannya aku akan lelah dan ingin tidur. Aku tidak mau kehabisan tenaga." Penjelasanku terlalu jelas sepertinya. Dan aku rasa urat maluku juga hampir putus karena mengatakan hal seperti itu. Mati saja kau Sehun.
"Tunggu, kau ini berbicara apa? Memangnya apa yang akan kita lakukan?" see? Dia kembali mengerjaiku.
"Ah entahlah. Aku tidak peduli." Aku berjalan ke kamar mandi teratih karena aku tak ingin menggunakan tongkat bodoh itu.
"Baby tunggu aku." Kai bodohhh.. aku masuk ke kamar mandi dan mulai melepasi kalung dan antingku. Kai memelukku dari belakang sambil mengendus-endus bagian belakang telingaku.
"Kai kita hanya punya waktu setengah jam sampai parade itu datang." Bukannya aku risih, hanya saja jika begini kita akan berakhir melakukan hal lain.
"Aku hanya ingin menciumimu. Kau wangi sekali." Aku menghela nafasku kencang. Kai selalu menemukan cara agar aku terpancing.
"Sebaiknya kita segera mandi." Aku menarik gaunku keatas dan melepaskannya sempurna. Aku mendengar Kai bersiul di belakangku. Dasar pria mesum.
"Aku akan membantumu melepaskan ini." Kai melepaskan pengait bra-ku. Sungguh, aku berani bertaruh ia sengaja melakukannya dengan lambat.
"Kai cepatlah."
"Kau ini buru-buru sekali." Kai menurunkan tali bra-ku dan melepasnya, tetapi tak lama kemudian aku merasa ada dua tangan besar yang menangkup dua dadaku. Siapa lagi jika bukan Kai?
"Kau ini benar-benar. Aku janji nanti malam kita akan melakukannya. Sekarang aku ingin mandi dengan tenang." Aku menarik tangannya menjauh, saat aku memabikkan badan aku kembali harus berhadapan dengan senyuman miring Kai. Sial, untung saja dia tampan.
"Aku akan menagih janjimu." Aku mengangguk dan mengecup bibirnya.
"Pegang janjiku." Dan hal selanjutnya adalah mandi. Aku melepas celana dalam dan gipsku agar bisa berendam air hangat dengan nyaman. Kai berdiri di depan wastafel dengan tangan terlipat di depan dada. Pakaiannya masih lengkap dan rapi. Ia mengamati tiap pergerakanku.
"Kau bilang ingin mandi bersama?"
"Memang, aku hanya ingin memperhatikanmu dulu." Setelah ia selesai berbicara dalam hitungan detik, ia melepas seluruh pakaiannya dan masuk dalam jaccuzi bersamaku. Ia duduk di belakangku sambil memijat pelan bahuku. Sungguh tak terduga pria sepertinya bisa memijat.
"Ahh.. nyaman sekali." Dia berhenti. Aku membalikkan tubuhku.
"Aku akan memberimu lebih nanti malam. Oke." Apa dia baru saja mengedipkan matanya? Dasar gila. Setelah berendam beberapa menit akhirnya aku memutuskan untuk segera bersiap diri. Sedikit sulit menahan Kai. Ia selalu menggodaku, entah dengan kalimat-kalimat fulgar atau dengan pergerakan tangannya.
"Kai cepatlah pakai pakaianmu. Aku sudah bisa mendengar musik-musik parade dari kejauhan." Aku berteriak sambil kembali memasang gipsku. Tiba-tiba kepalaku nyeri lagi. Ini sudah yang ketiga kalinya hari ini. akhir-akhir ini kepalaku sering sakit. Aku memijat pelan kepalaku hingga beberapa menit kemudian sakit itu hilang.
"Kau mau aku bantu mengenakan gaunmu?" Kai muncul dari kamar mandi tanpa pakaian apapun, bahkan handuknya ia sampirkan di bahunya. Aku tau ia memiliki tubuh yang bagus tapi tak perlu memamerkannya seperti itu juga kan.
"Tidak terima kasih."
"Kau ini, aku hanya berniat membantu." Kai berjalan melaluiku dan mengenakan pakaiannya. Dia perayu yang handal. Aku selesai dengan pakaian dan aksesorisku. Tinggal membubuhkan bedak dan lipstik natural. Alunan musik itu semakin dekat, dengan hati-hati aku berjalan ke belkon.
Orang-orang berkumpul di pinggir jalan. Mereka mulai mengeluarkan ponsel mereka untuk mengambil foto atau vidio. Di ujung jalan sana aku melihat awal dari parade musim panas ini. Mereka berjalan berbaris memanjang. Kostum berwarna-warni itu membuat penampilan mereka mengagumkan.
Di barisan depan aku melihat segerombolan pria mengenakan pakaian bercorak bunga dan topi super lebar yang penuh dengan bulu warna-warni. Mereka menyanyikan sebuah lagu khusus untuk menyambut musim panas, lagu itu terdengar sangat menarik dan mudah dihafal.
Aku juga menemukan barisan wanita dengan kostum super besar dan megah, tidakkah itu berat? Ditambah lagi ia harus berjalan. Semoga saja ia tidak pingsan. Semua orang terlihat menikmati parade ini. Sebagian dari mereka bahkan membagikan bir gratis. Kata Kai, bir adalah salah satu ciri khas New Orleans.
Aku merasakan ada seseorang yang memelukku dari belakang. Ia menciumi telingaku. Aku mengeratkan peganggannya dipingganggku dan menyandarkan kepalaku di bahunya.
"Jadi bagaimana pendapatmu tentang parade ini?"
"Menarik. Semoga saja mereka tidak dehidrasi."
"Mereka memiliki asisten yang menyediakan minuman. Lagi pula mereka adalah orang-orang yang terlatih."
"Syukurlah kalau begitu."
Kami berdiri di balkon selama kurang lebih setengah jam, sebenarnya parade ini masih panjang tetapi Kai telah membuat janji dengan dokter pukul empat sore nanti. Dan kami terpaksa harus pergi. Saat sampai di tempat parkir, seperti biasa Kai duduk di sampingku. Hanya saja kali ini yang mengemudi mobil orang lain. mungkin Andrew masih sibuk dengan liburannya.
"Apa ada kemungkinan kita akan berpapasan dengan parade itu?" jujur saja aku masih ingin menonton orang-orang berkostum aneh itu.
"Kita akan mengambil jalan tol agar lebih cepat, lagi pula jalur parade itu berbeda dengan jalur mobil. Sepertinya kau sangat tertarik dengan parade ini. apa kau tak pernah melihat parade sebelumnya?" Kai menarik hidungku. Aku memberi gerakan agar Kai lebih hati-hati dengan kalimatnya karena si supir bisa saja mendengarkan kami.
"Dia mengenakan headset Sehun. Ia tak akan mendengarkan kita."
"Begitu ya, aku tidak pernah melihat yang seperti ini." Aku menganggukkan kepalaku. Perhitungan Kai benar, dalam waktu 25 menit kami sampai di rumah sakit tempatku kontrol. Jujur saja aku merasa kakiku jauh lebih kuat dari beberapa bula yang lalu. Aku bahkan sudah berani berjalan tanpa tongkat, meskipun sedikit tertatih.
"Sehun, aku akan mengatakan kita adalah pasangan yang sedang berlibur di New Orleans dan tidak tinggal disini terlalu lama. Kita hanya perlu mengetahui perkembangan tulangmu." Aku mengangguk. Kai membantuku membuka pintu dan mengambilkan tongkatku. Kami berjalan beriringan hingga memasuki ruang praktik dokter.
Setelah berbasa-basi dan menjelaskan tujuan kami, akhirnya dokter mengambil foto ronsen kakiku. Dan aku kembali kagum dengan alat-alat ciptaan manusia. bagaimana bisa sebuah kamera mengambil foto tulang yang tertutupi daging? Untung saja aku dapat menguasai raut wajahku agar tidak terlihat aneh di depan si dokter muda ini.
"Jika saya lihat perkembangan tulang nona Sehun terlihat sangat sempurna, sempurna maksud saya adalah tubuh anda dapat menyesuaikan keberadaan pen yang menyambung tulang anda dengan baik. Apa anda mengkonsumsi vitamin?" tanya dokter itu sambil menunjuk bagian tulangku yang patah.
"Ya, dan aku rasa itu juga faktor genetik. Aku memang memiliki ketahanan tubuh yang baik." jawabku ngasal.
"Anda sangat beruntung. Apa anda pernah mengalami gangguan seperti nyeri di tulang anda? Atau kaki anda yang tiba-tiba bengkak?"
"Aku pikir tidak pernah."
"beberapa hari yang lalu kau mengeluh kepalamu sakit Sehun. Tapi aku pikir itu tidak ada hubungannya dengan tulangmu. Mungkin saja tekanan darahmu rendah." Kai menyentuh tanganku di atas meja. Ia selalu melakukan itu saat ada pria lain yang memperhatikanku. Tapi ayolah, dia seorang dokter yang harus memeriksa pasiennya.
"Anda boleh mengkonsumsi vitamin, dan juga suplemen penambah tekanan darah. Saya pikir itu akan sangat membantu."
"Kita akan membilnya setelah ini. anyway dokter, kira-kira berapa lama lagi hingga Sehun bisa kembali berjalan normal?"
"Saya pikir nona Sehun bisa melepas gipsnya sekarang. Dan bisa mulai berlatih berjalan." Aku sangat menantikan hari ini. Aku sungguh tersiksa dengan gips ini, saat kakiku gatal, aku tak bisa menggaruknya. Saat cuaca sedang panas, aku merasa kakiku berada di dunia lain yang suhunya jauh lebih tinggi.
"Akhirnya aku bebas." Aku mendengar Kai dan si dokter muda terkekeh kecil. Mereke mengerti bahwa menggunakan gips sangat mengganggu.
"Alright baby, aku akan melepasnya." Kai menaikkan kakiku ke pangkuannya dan melepas pengikat gipsku. Aku bahkan bisa melihat perbedaan warna dari kaki kanan dan kiriku. Sangat menjijikkan.
"Aku pikir aku harus membersihkan kakiku dengan body scrub setelah ini." Kai terkekeh.
"Aku akan membantumu." Dan si mesum ini menyeringai sambil mengedipkan satu matanya lagi. Dia benar-benar tak tau kondisi.
"Jadi tuan anda bisa membantu nona Sehun berjalan. Anda berdiri saja di sebelah nona Sehun untuk menangkapnya jika ia akan jatuh." Dokter itu berdiri dan mengamati pergerakanku. Jujur saja rasanya sedikit aneh, karena akuterbiasa dengan beban di kakiku. Saat aku memberanikan diri untuk berjalan pelan, kakiku terasa ringan.
"Aku sedikit takut untuk menumpukan beban tubuhku pada kakiku."
"Jangan khawatir nona, anda bisa mulai berdiri dengan kaki kanan pelan-pelan saja. Jika anda merasa mulai nyeri di tulang anda, anda bisa langsung memapakkan kaki kiri anda sebagai bantuan penyangga." Aku mengangguk. Aku harus berani melakukannya. Dengan pelan aku mulai melakukan apa yang disuruh si dokter. Aku menyangga beban tubuhku hanya dengan kaki kanan, Kai perlahan melepaskan peganggannya dari tanganku. Aku berhasil melakukannya, dan aku tak merasakan sakit sama sekali.
"Sekarang coba berjalan pelan nona." Aku berjalan pelan menuju Kai, ia berdiri pada jarak lima meter dengan senyuman tampannya.
"Kau bisa Sehun." aku berjalan pelan, aku masih merasa aneh dengan kakiku. Ini tidak terasa normal, tetapi terasa lebih baik dari pada saat patah beberapa waktu lalu.
"Sedikit lagi Sehun." Aku berjalan menuju Kai dan aku memeluknya saat ia berada tepat di depanku.
"You did it. Im really glad." Kai mengecup ujung kepalaku.
"Seperti yang kita semua lihat. Nona Sehun sudah bisa berjalan. Saya menyarankan tiga minggu dari sekarang anda kontrol lagi. Ada beberapa catatan yang harus anda ingat, anda tidak boleh terlalu lama berjalan atau terlalu lelah. Dan kedua jangan mencoba berlari." Aku tersenyum.
"Saya akan mengingat saran anda dengan baik dokter terima kasih." "Terima kasih dok." Aku dan Kai menjabat tangan dokter itu bergantian. Aku sungguh bersemangat. Kami keluar dari ruangan dokter itu tanpa tongkat jalan dan tanpa gips. Kami sengaja meninggalkannya disana, toh aku tak membutuhkan itu lagi.
"Aku sangat senang." Aku melompat-lompat kecil. Aku hanya mengenakan satu sisi sepatu flat ngomong-ngomong.
"Sehun Sehun berhenti melompat." Aku memeluk lengan Kai dan berjalan normal.
"Pelan-pelan saja Sehun." Aku tersenyum dan mengecup pipinya.
"Aku senang dengan kecupan tiba-tibamu. Lakukan lebih sering lagi." Sebenarnya ini hanya efek karena aku terlalu senang. Aku mengangguk pelan.
"Cium aku lagi. Di bibir." Kai membungkukkan badannya. Aku dengan tak tau malu mengecup bibirnya sekilas. Orang-orang memperhatikan kami, dan secara tak langsung mereka ikut tersenyum. Aku mendengar mereka berbisik-bisik tentang hamil. Yang benar saja, aku bukan ikan paus yang bisa hamil dengan mudah.
"Good girl." Kami berjalan menuju mobil. Saat aku duduk di dalam mobil. Tiba-tiba kepalaku pusing lagi. Aku tak ingin membuat Kai khawatir jadi aku memutuskan diam saja. Rasanya semua berputar dan pandanganku berkunang-kunang. Kai mengambil pasangan sepatu flatku dan memakaikannya.
"Kai aku mengantuk." Alibiku.
"Baiklah tidurlah. Aku akan membangunkanmu jika kita sampai di tujuan kita." Aku memejamkan mataku karena sungguh aku rasa ini yang terparah. Aku bahkan merasa sedikit mual. Telapak tangan dan kakiku berkeringat dingin. Aku merasa Kai mengusap pinggangku pelan. Apa lagi yang terjadi sebenarnya?
.
.
.
.
.
.
Author POV.
Kai telah berjanji pada Sehun untuk mengajaknya jalan-jalan setelah kontrol ke dokter. Tadinya Sehun hanya berpura-pura tidur karena rasa sakitnya tetapi ia malah berakhir dengan benar-benar tertidur. Kai dan Sehun tiba di sebuah pusat perbelanjaan. Ini adalah waktu yang tepat untuk memanjakan Sehun.
"Babe wake up." Kai menciumi pipi dan rahang Sehun.
"Eungg..." Sehun menggoyangkan badannya sebagai protes bahwa ia tak mau diganggu. Kai tertawa kecil. Sehun sangat menggemaskan. Kai meminhdahkan tubuh Sehun ke pangkuannya dan mulai menciumi dada Sehun.
"Kaiihh kau menganggu tidurku." Rengek Sehun, ia terpaksa membuka matanya karena perlakuan Kai.
"Kau tidak mau bangun sih."
"Baiklah aku bangun." Sehun memajukan bibirnya dan turun dari pangkuan Kai. Ia membuka pintu dan langsung keluar tanpa menunggu Kai.
"Hei apa kau marah?" Kai meraih tangan Sehun. Sehun menggeleng, ia malah bergelendot manja dalam gandengan mereka.
"Tidak aku hanya jengkel saja, kau melakukan itu dalam mobil. Jika kita berdua saja tidak apa, tapi tadi di dalam ada si supir."
"Baiklah aku minta maaf nona." Sehun mengangguk.
"Mengapa kita kesini?"
"Aku ingin mengajakmu berbelanja. Kita jarang melakukannya." Tujuan mereka kali ini adalah pusat perbelanjaan.
"Aku memiliki banyak short dress. Aku pikir aku tak perlu beli lagi." Sehun benar. Seluruh pakaian Sehun hanya terdiri dari gaun-gaun pendek.
"Kalau begitu kita akan membeli celana untukmu. Kau membutuhkannya." Sehun mengangguk-angguk tanda setuju. Tujuan pertama mereka adalah sebuah outlet YSL. Kai membawa Sehun pada bagian celana. Seperti halnya wanita lain, Sehun juga menikmati waktu belanja. Ia berjalan memilih-milih celana yang cocok untuknya.
"Kai apa menurutmu aku cocok dengan ini?" Kai yang duduk di sofa outlet itu melihat celana yang dipilih Sehun. Sebuah skiny jeans hitam dan sebuah hotpants biru tua dengan beberapa sobekan di ujungnya. Ia juga membawa beberapa potong atasan untuk memasangkan kedua celana itu.
"Kau coba dulu saja." Kai menuntun Sehun memasuki sebuah ruang ganti.
"Mengapa kau ikut masuk?" Kai hanya menjawab pertanyaan Sehun dengan pandangan –memangnya untuk apa lagi- nya. Ia duduk di sebuah kursi dalam ruangan itu.
"Dasar pria mesum." Sehun memicingkan matanya. Kai hanya menyeringai mendengar panggilan Sehun. Sehun melepas gaunnya hingga tersisa pakaian dalamnya.
"Apa kakimu masih sakit Sehun?" tidak juga. Tapi aku masih belum berani berjalan terlalu cepat. Kai mengangguk. Sehun mencoba hotpants itu dan sebuah tight shirt hitam.
"Bagaimana?"
"Aku menyukainya." Kai menarik tubuh Sehun mendekat dan mencium perutnya.
"Kai berhenti." Sehun menjauhkan tubuhnya dari tubuh Kai. Ia segera melepas pakaiannya dan mencoba pakaian selanjutnya, sebuah celana panjang dengan crop shirt.
"Aku juga menyukainya." Sehun berputar-putar memperhatikan tubuhnya.
"Kainnya juga nyaman." Kai setuju. Sehun memutuskan untuk membeli pakaian-pakaian itu tadi. Kini mereka berjalan menuju outlet lain.
"Kai aku ingin kau membeli sesuatu juga untukmu."
"Kau mau membantuku memilih?" Sehun mengangguk dengan semangat. Mereka memutuskan memasuki outlet lain.
"Aku tak ingin kau membeli pakaian formal lagi."
"Baiklah, aku akan menurutimu." Seperti yang Kai katakan, Sehun membantu Kai memilih dengan baik. hingga setelah satu jam berputar-putar dalam outlet yang sama. Akhirnya Sehun menemukan pakaian yang cocok untuk Kai. Celana jeans hitam polos, t-shirt biru muda, dan sebuah jaket jeans biru tua.
"Kau akan terlihat tampan dengan ini."
"Apa aku tidak tampan sekarang?" dan suara tawa pegawai wanita yang membantu Sehun memilih baju terdengar.
"Koreksi, kau akan lebih tampan. Sekarang masuk ke ruang ganti." Sehun mendorong Kai memasuki ruang ganti. Sehun menunggu Kai di luar, hingga Kai membuka pintu ruang ganti itu dan menunjukkan dada telanjangnya.
"Baby kau tidak ingin ikut masuk?" Sehun memelototkan matanya, karena si pegawai wanita itu masih disana dengan Sehun. Ditambah lagi ada sekelompok wanita yang memusatkan perhatiannya pada mereka berdua dari tadi.
"Apa yang kau lakukan itu milikku!" Sehun melotot dengan reflek ia mengambil tas belanjaannya dan menutup dada telanjang Kai dengan tas itu lalu mendorong Kai kembali masuk ke ruang ganti. Ia menutup pintu ruang ganti itu dengan bantingan keras. Kai terkekeh mendengar kalimat posesif Sehun.
"Aku tidak menyukainya." Sehun menunjukkan wajah cemberutnya. Kai tersenyum lebar.
"Kau tidak menyukai apa Sehun?" Kai menarik wajah Sehun agar menghadapnya.
"Aku tau kau seorang pria, tapi aku tak suka jika kau menunjukkan tubuhmu saat kita di tempat seperti ini. Kau tidak lihat wanita-wanita itu dari tadi selalu memperhatikanmu. Aku bahkan mendengar percakapan mereka tentang imajinasi mereka tentang badanmu. Dan karena tingkah bodohmu barusan, imajinasi itu menjadi nyata. Semoga tuhan memberkati mereka." Kai kembali tersenyum.
"Apa kau sedang cemburu Sehun?"
"Heum? Apa itu?"
"Jika orang yang kau cintai sedang diperhatikan oleh orang lain, dan kau merasa tidak senang, itu berarti kau cemburu baby." Kai membingkai wajah kecil Sehun dengan dua tangan lebarnya.
"Aku pikir iya. Aku tidak suka kesukaanku diperhatikan orang lain."
"Kesukaanmu? Bicara yang jelas baby." Kai mengecup bibir Sehun sekilas.
"Kau milikku." Kai terkekeh senang. Ia tak menyangka Sehun bisa semenggemaskan ini.
"Aku tau." Dan Kai melumat bibir Sehun dalam. "Nahh, sekarang apa kau bisa membantuku?" Kai memutuskan ciuman mereka.
"Apa yang harus aku bantu tuan muda?" Sehun bersendekap.
"Aku ingin kau disini." Kai tersenyum. Ia melepas pakaiannya dan dengan cepat memakai pakaian yang Sehun pilihkan.
"Aku menyukai gaya ini. Kau terlihat berbeda." Sehun memutar-mutarkan badan Kai.
"Baiklah aku akan ambil ini." Kai dan Sehun menyelesaikan acara belanja mereka hari ini. Ia senang bisa menghabiskan waktu dengan Sehun. Waktu berjalan dengan cepat jika mereka menikmatinya bukan. Tujuan mereka selanjutnya adalah restoran bintang lima. Sehun terlihat lebih nyaman tanpa gips yang membebani kakinya. Meskipun ia masih tak berani bergerak sembarangan, tapi paling tidak ia mesara lebih leluasa.
Makan malam berjalan dengan sangat romantis dengan lilin-lilin tinggi yang mengiasi meja serta alunan piano dan biola yang indah. Menurut Sehun ini adalah restoran ter indah yang pernah Sehun kunjungi dengan makanan yang super lezat dan disajikan dengan super mewah.
Sehun dan Kai memutuskan kembali ke hotel setelah menyelesaikan acara makan malam mereka. hari ini terlalu padat untuk keduanya. Masih ada lain hari untuk menikmati keindahan New Orleans.
"Baby?" Kai menoleh ke balkon saat ia tak menemukan Sehun dalam kamar. "Baby kau dimana?" Sehun keluar dari kamar mandi dengan jubah mandinya. "Kau mandi tanpaku?" Kai menarik Sehun mendekat. "Kau terlalu lama. Dan aku sendirian."
"Aku sedang mengurus beberapa hal baby. Maafkan aku." Kai duduk di pinggir ranjang dengan Sehun di atas pangkuannya."Kita tidak akan melakukannya. Kau terlalu lelah." Kai mengecup bahu Sehun. "Sekarang tidur Sehun." Sehun menggelengkan kepalanya. "No."
"Stop massing around. Kau lelah Sehun." Kai memindahkan tubuh Sehun ke atas ranjang, lalu ia melangkah pergi mengambil piama Sehun. "Ini masih pukul 10, dan aku tidak mengantuk." Sehun membela dirinya. "Kemari!" Kai kembali ke sisi kanan ranjang, tapi Sehun menghindari Kai dan berpindah ke sisi kiri ranjang. "Jangan memancingku Sehun."
"Satu.." Kai merendahkan suaranya, ia menarik nafasnya dalam. "Dua.." Sehun masih diam di sisi lain ranjang sambil tersenyum, ia hanya ingin memancing Kai. Kai dengan gerakan mantap ia menarik kaki kiri Sehun dan menindih tubuh ramping itu. "Mengapa kau susah sekali diatur akhir-akhir ini?" Kai memandang lurus ke mata Sehun. "Bukankah aku selalu susah diatur?" Sehun tersenyum menggoda. Ia menjilat ujung hidung Kai cepat.
"Kau menginginkannya?" Kai mendesis di depan wajah Sehun. Sehun mengangguk. "Kau tidak akan mendapatkannya malam ini." Kai melepas paksa jubah mandi Sehun, dan memakaikan piyama atasan berlengan panjang. "Kalau begitu bisakah kita melakukan hal lain? aku benar-benar tak bisa tidur Kai." Sehun mempoutkan bibirnya. Ia berusaha menggoda Kai agar Kai luluh dengannya.
Kai hanya tersenyum miring dan menarik tubuh Sehun dalam selimut lalu memeluknya. Ia mengelus rambut Sehun agar Sehun merasa lebih nyaman. "Aku hanya ingin mengamatimu." Jarak wajah sangat dekat, Sehun bisa merasakan hembusan nafas Kai pada wajahnya. "Baiklah kalau begitu aku akan memejamkan mata. Aku tak ingin melihatmu, kau menyebalkan." Sehun memejamkan matanya. Kai terkekeh pelan, karena meskipun Sehun mengatakan hal itu toh dia tetap merangkulkan tangannya memeluk Kai. Beberapa menit berlalu.
"Sehun apa kau ingin late night snack?" Kai tak mendengar jawaban apapun dari Sehun. Ia hanya mendengar dengkuran halus. "Sleep tight baby."
.
.
.
.
.
.
Sehun kembali mendapat mimpi buruk yang sama. Dan pada waktu yang sama, 3.33 am. Hanya saja kali ini ia tak merasakan sakit. Keringat dingin membasahi leher, punggung, dan telapak kaki tangannya. Nafasnya menderu mengais udara sebanyak yang ia bisa. Ia melihat ke belakangnya, Kai tertidur pulas. Sehun tersenyum, ia mendekat dan mengecup pelan dahi Kai. Perlahan ia turun dari ranjang dan berjalan ke bar kecil di sudut lain kamar hotel mewah ini. Ia menyalakan lampu kecil di sebelah meja counter dan mengeluarkan sekardus susu cair dari dalam kulkas. Kardus susu itu terlalu besar untuk dihabiskan sendiri, Sehun naik ke meja counter di samping kulkas untuk meraih sebuah gelas susu di laci atas.
"Baby no!" Kai berteriak dari arah ranjang dan langsung menuju Sehun dengan langkah besarnya. "Aku hany-", "Jika sesuatu terlalu tinggi untuk diraih, siapa yang harus kau temui?" Kai menarik tubuh Sehun turun dari meja counter dan memerangkapnya antara lengannya dan pinggiran meja counter. "Kai." Kai memandang Sehun dengan wajah jengkelnya, Sehun tau ia yang salah. "Kau tau kau bisa jatuh karena memanjat ini, dan itu berbahaya. Apa kau akan mengulanginya lagi?" Kai menunjukkan tatapan elangnya pada Sehun, dan Sehun hanya bisa mengigit bibirnya. "Tidak. maafkan aku." Kai mengusap kepala Sehun. "Good girl." Ia mengecup dahinya. "Now baby girl, cangkir yang mana yang kau inginkan?"
"Cangkir susu di laci atas." Sehun menunjuk laci atas. Kai meraihnya untuk Sehun. Ia juga menuangkan susu itu ke dalam cangkir. "Minumlah Sehun." Kai memberikannya pada Sehun. Ia menunggu hingga Sehun menghabiskan susunya sambil bersendekap. Sehun selesai dengan susunya, gelas itu ia letakkan di atas meja, lalu ia memeluk Kai yang masih memperhatikannya dengan mata elang.
"Apa kau masih marah?" Sehun memindahkan pelukannya ke leher Kai. "Tidak." Kai mengangkat tubuh Sehun dalam gendongannya dan berjalan menuju ranjang. Sehun mengecupi pipi dan rahang Kai pelan. Kai menyalakan lampu di atas nakas, lalu meletakkan tubuh Sehun di ranjang dan ia menempatkan diri di atas Sehun dengan lengan di samping kedua bahu Sehun.
"Apa kau akan kembali tidur?" Tanya Kai dengan suara rendah. Sehun menggeleng. Ia tak melepaskan pandangannya dari mata Kai sama sekali. "Bagus, karena aku tak akan membiarkanmu." Dengan gerakan cepat Kai nemarik celana dalam Sehun. Ia duduk bersandar ke kepala ranjang dan mengangkat Sehun agar duduk di sela-sela kakinya. Kai menarik kepala Sehun agar menghadapnya dan melumat bibir Sehun lembut, Sehun menikmatinya. Ia menarik Kai semakin dalam dan ikut membelai lidah Kai dalam mulutnya. Tangan Sehun mengusap satu sisi wajah Kai. Dengan sengaja Kai menggigit pelan bibir Sehun hingga ciuman mereka terputus.
"Hhmm.." Sehun mendesah rendah saat Kai meremas dadanya sambil menjilati lehernya. Kai mennghisap kulit Sehun hingga tercipta noda kemerahan disana. Sehun menyukainya, ia menengadahkan kepalanya kebelakang. Jantungnya berdetak kencang, dan pikirannya terpusat oleh Kai. Kai menarik baju Sehun hingga terlepas sempurna.
Kai menggerakkan tangan kanannya menuju bagian privat Sehun dan tangan kirinya memainkan puting Sehu. Sehun memelengkungkan tubuhnya saat tangan besar Kai membelai klitorisnya. Licin, hangat, dan basah. Kai menggerakkan jari tengahnya memasuki lubang Sehun pelan. "Eunghh.." Sehun mendesah. Gerakan tangan Kai membuat tubuh Sehun semakin sensitif.
Sehun menarik wajah Kai mendekat dan kembali melumat bibir Kai. Kai meraba klitoris Sehun berulang kali dan meningkatkan kecepatannya. Nafas Sehun tercekat, Kai menemukan titik nikmatnya. Sehun memejamkan matanya dan menegangkan tubuhnya. "Eemmhh thereehh.." dalam hitungan detik Sehun mencapai orgasmenya. Kai berhenti, nafas Sehun menderu. Kai mengubah posisi keduanya. Sehun berbaring diranjang dengan Kai di atasnya.
"Kau sangat cantik Sehun." Mereka kembali berciuman. Keduanya terbakar nafsu, ciuman lembut mereka berubah semakin liar. Kai mencengkram rahang Sehun dan melumat bibir merah itu semakin dalam. Ciuman Kai turun menuju leher dan dada Sehun. ia menciumi tiap tanda yang terlukis di lehernya. "Kaihh.."
Ia menjilat dan memasukkan puting kiri Sehun dalam mulutnya. Sedangkan tangan kanannya memainkan puting kanan Sehun. Sehun merendahkan pandangannya, ia melihat Kai yang sedang menikmati tubuhnya. Belaian-belaian pada putingnya membuat hormon Sehun meningkat. Kai berpindah ke puting kanan Sehun. sehun kembali merasakan ada cairan licin yang keluar dari dalam tubuhnya.
Kai merosot turun ke sela-sela kaki Sehun. Ketika ia berada tepat di depan bagian privat wanita itu, ia mendongak menatap Sehun. Sungguh Sehun merasa canggung, ia menutup wajahnya dengan telapak tangannya. "Lihat aku Sehun!" Kai membuka suaranya lagi. Sehun menuruti Kai. Kai menyeringai dan mulai menjilat klitoris Sehun. Sehun meleguh pelan. belaian lidah Kai membuatnya tak terkontrol.
"Aahh.." Sehun kembali mengeluarkan desahannya. Kai memainkan lidahnya dengan baik. Kai membuka mulutnya dan menghisap bagian Sehun lembut. Suara decakan tedengar jelas oleh Sehun. Ia menyukai hal baru yang dilakukan Kai. Pemandangan punggung berotot Kai yang berada di sela-sela kaki Sehun membuat hormon Sehun terbakar. Kai menelusuri lipatan-lipatan bagian privat Sehun dengan lidahnya. Dan berakhir pada klitoris yang kembali mengembang. "Eungghh Kaaiihhh.." Kai menggerakkan lidahnya cepat pada bagian itu hingga Sehun kembali merasa dekat dengan titik itu. Kai menarik diri, dan kenikmatan Sehun tertunda. "Kumohon lakukan lagi." Sehun merengek pada Kai yang kini sedang memandanginya dengan menyeringai.
"Lakukan apa Sehun?" Kai membawa jari telunjuknya ke bagian ujung atas belahan kewanitaan Sehun dan menggerakkannya mengikuti belahan itu ke bawah. "Jangan menggodaku tolong." Sehun mengerutkan dahinya, dan Kai semakin tertarik. "Katakan apa yang kau inginkan Sehun." Kai meraba lubang Sehun. "Aahh.." Sehun menggeliat. "Fuck meh.." kata Sehun pelan. "As you wish baby girl."
Kai melepas celana piyama serta dalamannya. Milik Kai sudah tegang sempurna. Kai mengurutnya pelan keatas dan kebawah. Sehun menelan ludahnya, pasti akan sakit. "Sehun lihat aku." Kai menggesekkan ujungnya pada lubang Sehun. Ia bergerak pelan memasukinya, "Aahh.." Sehun mendesah kesakitan. "Sshh tenang baby girl, setelah ini tidak akan sakit." Kai membelai pinggang Sehun. Sehun memperhatikan apa yang Kai lakukan hingga milik Kai tertanam sempurna.
Kai menempatkan tubuhnya di atas Sehun dan melumat bibir merah muda itu. Ia mulai bergerak pelan. Sehun mengerutkan dahinya karena ukuran Kai. Air mata mengalir dari sudut matanya. "Kau ingin aku berhenti?" Kai berhenti bergerak, ia menghapus air mata Sehun. "Tidak, tetap bergerak." Sehun menggelengkan kepalanya. Kai bergerak semakin cepat. Tubuh Sehun tersentak. Ia memeluk tubuh Kai untuk melampiaskan kenikmatannya.
"Eunghh.. Kaaihh.." Sehun mendesah tepat di samping telinga Kai. Desahan-desahan halus milik Sehun membuat nafsu Kai meningkat, ia bergerak makin cepat. "Babyhh.." Kai mendesis rendah saat Sehun mengetatkan lubangnya. Sehun menghisap kulit leher Kai, rasanya ia bisa meledak kapan saja.
"Kaihh aku.. aahh.. disanahh.." Sehun tak dapat menyusun kalimatnya. Ia terlalu menikmati kegiatan mereka. Milik Kai membengkak. Kulit keduanya berkilau diterpa cahaya lampu. Tubuh Sehun menegang, ia sudah sangat dekat dengan puncaknya. Hingga beberapa detik kemudian "Ahh Kaihh!" Sehun meneriakkan nama Kai saat ia mencapai puncaknya, tapi kenikmatan seolah mengambil alih tubuhnya. Kai terus bergerak, ia tak memberi Sehun jeda hingga Sehun selesai dengan puncaknya. Milik Sehun masih sensitif hingga Sehun tak sadar ia mencakar punggung Kai. Tubuhnya bergetar dan nafasnya memburu. "Aahh Kaiihh, berhentiihh.." Ia butuh waktu karena nikmat yang tak berkesudahan.
"No!" Kai masih bergerak, ia juga mencari titik nikmat miliknya. Sehun menggeliat, gerakan Sehun membuat seolah ia memberikan pijatan pada kejantanan Kai. "Ahh Sehunn.." Kai mengeram rendah. Sehun meremang mendengar nada seksi Kai. "Yes baby.." Tusukan Kai mengencang. Sehun kembali mengeratkan dindingnya. "Aarrrghh.." Kai meledak dalam Sehun. Ia berhenti. Nafas keduanya bersahut-sahutan.
Kai memandang Sehun dari atas. Sehun memejamkan matanya. Anak rambutnya menempel di kulit wajah Sehun karena keringat. Kai tersenyum. "You're so beautiful." Ia mengecup dahi Sehun. Sehun tersenyum dan membuka kedua matanya. Ia menarik Kai mendekat dan memeluknya. "You're amazing." Balas Sehun. "Kai, mengapa kau masih keras?" Kai mendongak menghadap Sehun. "Aku hanya keluar satu kali Sehun." Sehun mengusap punggung Kai. "Aku mengerti, bergeraklah lagi." Dan mereka kembali mengulang kegiatan mereka.
.
.
.
TBC
Halo para readers, long time no see..
Author nggak baca ulang jadi maklum kalo banyak typo.
Clue untuk masalah selanjutnya setelah kaki Sehun 75% sembuh udah author kasih bocoran dikit kan di chapter ini. Mari kita main tebak-tebakan. btw ini ngebosenin gak sih?
Sebenernya author udah ada nyiapin alur cerita ini sampe end, tapi nggk tau kenapa akhir-akhir ini author agak nggak mood nulis. keknya When the love is loved bakal hiatus untuk sementara deh. Author pngen fokus ke satu ff aja, biar cepet end-nya. Tapi kembali lagi pada masalah mood atau nggak.
Mohon reviewnya temen-temen. Mari kita menghargai satu sama lain. kritik dan saran selalu author terima. Dengan review kalian author jd tau harus nerusin ff ini atau nggak. makasih yang selalu dukung author, yang selalu review. sebagai author baru, author ngerasa seneng banget tiap lihat nama-nama yang sama di kolom review. rasanya kek oh ni anak seneng sm cerita gw.. apa lagi kalo ada nama-nama baru yang muncul di review. langsng semangat nulis. semoga kalian nggak kecewa sama ff ini. thank you.. XOXO
Third story of redaddict.
