Disclaimer : I do not own Naruto

.

.

.

Ya. Hanare mencoba mencium Kakashi.

Dan Kakashi segera menyadarinya, dengan memundurkan tubuhnya jauh-jauh, kemudian disandarkan-lah tubuhnya itu ke kursi yang sedari tadi ia duduki. Wanita berambut coklat itu sedikit terkejut saat ciumannya tergagalkan karena ulah sang pria. Dan hatinya sangat kecewa saat itu. Dengan canggung, ia memundurkan tubuhnya, kemudian menyingkirkan rambut yang menutupi matanya.

Kakashi berdehem kecil. "Maaf, Hanare. Sepertinya aku melupakan sesuatu. Lain kali kita makan malam bersama lagi. Jaa." Kakashi langsung berdiri dari kursinya, kemudian memasukkan kedua tangannya kedalam saku celananya. Ketika ia membalikkan tubuhnya, ia menghela nafas lega. Sementara Hanare membulatkan matanya dengan ekspresi kecewa.

"Ka….-"

Dan Kakashi pun menghilang. Meninggalkan Hanare sendirian di kedai makan itu dengan makanan dan minuman yang belum sempat ia habiskan. Hanare menunduk. Dengan perasaan kecewa dan kesal, Hanare mencengkram sumpit yang ia genggam.

Dia harus mendapatkan Kakashi.

~oOo~

Kakashi berjalan menelusuri lorong penginapannya. Rasanya kamar yang ia singgahi sekarang sangat jauh dari posisinya sekarang. Matanya menerawang kosong. Fisiknya mungkin sedang berjalan pelan dengan kedua tangan yang dimasukkan ke saku celananya. Namun, fikirannya sudah melayang kemana-mana.

Ia bisa mundur dengan cepat jika ia mau. Tapi, saat Hanare mendekatinya seperti itu, refleksi wajah Sakura hadir dihadapannya. Seakan-akan memori sebulan lalu menghantuinya. Dan rasanya, ia ingin mencicipi lagi bibir merah yang mungil milik Sakura, walaupun hanya angan-angannya saja. Bahkan ia tidak tau mengapa ia berfikiran seperti itu. Dan kenapa Sakura tiba-tiba muncul di fikirannya saat itu. Jika kesadarannya tidak kembali, mungkin saat itu juga Hanare telah menciumnya.

Kakashi kembali bertanya-tanya di dalam fikirannya. Bagaimana kondisi Sakura saat ini? Apa yang sedang ia lakukan? Apakah ia makan teratur?

Kakashi tertawa kecil atas pertanyaannya sendiri.

Ketika ia hampir sampai ke kamarnya, ia melihat Shikamaru dan Temari masih berada di depan kamar Shikamaru. Kakashi menaikkan alisnya, mengingat Temari sudah berada disana sejak sebelum ia pergi bersama Hanare. Kemudian, dengan tertawa kecil, Temari memukul pelan lengan Shikamaru. Shikamaru hanya membalasnya dengan senyum. Kemudian, Shikamaru mencium kening Temari lembut. Dan pada akhirnya, Temari berjalan menjauh.

Shikamaru baru menyadari akan kehadiran Kakashi setelah ia memutar tubuhnya untuk masuk kedalam kamarnya. Wajahnya yang semula tersenyum datar, tiba-tiba membelalakkan matanya ketika pandangannya tertuju kearah Kakashi. Kakashi hanya tersenyum polos. Sementara Shikamaru, menoleh ke belakang, kemudian kearah Kakashi lagi.

"Aku bisa jelaskan." Ujar Shikamaru datar. Kakashi tertawa kecil, kemudian berjalan perlahan mendekati Shikamaru. Ia menepuk bahu Shikamaru pelan.

"Aku mengerti."

"Berjanjilah sensei tidak membocorkannya pada Naruto."

"Tentu saja. Asal kau tidak menciumnya didepan Naruto."

"Tentu saja tidak, sensei." Shikamaru menghela nafas. Kakashi hanya menganggukan kepalanya. Ketika ia mengangkat kakinya untuk berjalan kearah kamarnya, Shikamaru menghentikannya.

"Bagaimana kencanmu dengan Hanare-san, sensei?"

Kakashi menghentikan langkahnya. Suara Shikamaru terdengar lembut, namun tersirat dingin dan sinis. Ia tetap pada posisinya semula, tanpa menatap Shikamaru. Sementara Shikamaru masih memegang gagang pintunya dengan pandangan datar kearah Kakashi. Perlahan, Kakashi menolehkan kepalanya kearah Shikamaru.

"Aku tidak berkencan dengannya." Jawabnya datar. Shikamaru mengangguk. Ia membuka pintunya sedikit, menampakkan tempat tidurnya yang sudah siap menantinya.

"Semoga berhasil dengan Sakura, sensei." Ujarnya lagi. Kakashi menyadari maksud tersembunyi dari kata-kata Shikamaru. Sebelum Shikamaru masuk kedalam kamarnya, kini giliran Kakashi menghentikannya.

"Aku tidak tertarik pada Hanare, Shikamaru-kun. Dan aku masih menghargai Sakura sebagai istriku, terimakasih." Ujarnya formal. Lagi, Shikamaru menolehkan kepalanya kearah Kakashi, tersenyum. Ia pun menepuk bahu Kakashi dengan lembut.

"Aku tahu."

Dan akhirnya, Shikamaru kembali masuk kedalam kamarnya, sementara Kakashi meninggalkan posisinya semula dan berjalan kearah kamarnya yang berjarak beberapa langkah dari sana. Kakashi membuka pintunya perlahan. Membuka sepatu ninjanya, dan melepas hitai ate plus maskernya. Dengan penuh rasa lelah, ia menghempaskan tubuhnya ke kasur.

Mungkin saat ini, Shikamaru percaya bahwa ia tidak akan mengecewakan Sakura.

Tapi, ketika anak itu lahir….mungkin banyak orang yang akan membencinya.

Bahkan ia tidak tahu harus berbuat apa. Sakura terlalu baik untuknya. Tapi, jika Sakura terus bersamanya, ia takut jikalau suatu hari nanti ia akan melukainya.

Kakashi takut untuk jatuh cinta.

Karena setiap orang yang dekat dan dicintainya, mereka menghilang satu persatu.

Dan kali ini, Kakashi memiliki perasaan cinta yang tak bisa ia kontrol.

Perasaan untuk Sakura.

~oOo~

Sakura membuka matanya perlahan. Sinar matahari membuat pandangannya silau. Ia menutupi cahaya tersebut dengan tangan kanannya yang semula terbaring bebas diatas tempat tidur.

Tubuhnya terasa lemas sekali. Sakura masih bisa merasakan sakit yang timbul di sekujur tubuhnya semalam. Rasanya, oksigen disekitarnya enggan masuk kedalam paru-parunya. Dan kepalanya pusing bukan main. Setiap benda yang dipandangnya terlihat kabur dan berbayang. Dan terakhir yang ia ingat, seorang laki-laki mengangkatnya sambil menyerukan namanya dan kalimat-kalimat tidak terdengar.

Sakura berharap pria itu adalah Kakashi.

Namun, itu tidak mungkin terjadi. Kakashi baru akan pulang 3 bulan lagi, bahkan surat-surat darinya tidak dibalas samasekali olehnya. Kini Sakura merasa ditinggalkan setelah kejadian itu.

Samar-samar terdengar suara laki-laki memanggil namanya. Kemudian, cahaya itu perlahan pudar, dan membiarkan matanya dapat melihat dan menerawang bebas ke sekitar ruangan itu. Ya, dia berada di Rumah Sakit Konoha.

Sakura menolehkan pandangannya kearah sumber suara. Dan ternyata disampingnya sudah berdiri Naruto, Sasuke, Yamato, dan Shizune. Naruto dan Shizune memandangnya dengan cemas. Wajah mereka terlihat sedikit pucat. Sementara Sasuke dan Yamato memandangnya dengan pandangan datar, namun terdapat kecemasan disana. Terutama Yamato, yang memasang wajah kelelahan.

"Naruto…?"

"Haa! Sakura-chan! Akhirnya kau sadar juga!" Naruto berteriak histeris. Sasuke memukul kepalanya sedikit keras, membuat Naruto merintih kesakitan sambil memegang kepalanya itu.

"Ini rumah sakit, dobe. Jangan berteriak seperti orang bodoh." Desis Sasuke dingin. Naruto mendelik kesal kearah Sasuke, kemudian memutuskan untuk mengabaikannya dan focus pada Sakura yang kini menatap Yamato.

"Taichou….kau kah yang membawaku kesini?" tanya Sakura dengan suara lemah. Yamato tersenyum, kemudian mengangguk.

"Aku sangat panik saat itu. Jadi kuputuskan untuk membawamu kemari." Jawab Yamato. Sakura tersenyum lemah.

"ArigatouTaichou." Ucap Sakura lirih. Yamato hanya mengangguk kearah Sakura.

"Bagaimana keadaanmu sekarang, Sakura?" Shizune langsung bertanya dengan nada khawatir. Sakura mengalihkan pandangannya kearah Shizune, kemudian tersenyum.

"Tubuhku masih terasa lemas. Tapi, aku sudah merasa lebih baik. Dadaku juga tidak sesak lagi. Kau kah yang mengobatiku, Shizune-senpai?"

Shizune mengedipkan matanya, kemudian menggeleng. "Aku hanya melihat Yamato-san membawamu yang jatuh pingsan di tangannya, kemudian aku langsung memanggil Tsunade-sama. Tsunade-sama bilang bahwa ia akan mengatasimu sendirian. Dan ia melakukan pengecekkan terhadap kondisimu, Sakura-chan." Jelas Shizune. Sakura hanya mengangkat alisnya. Kemudian menghela nafas.

"Aku harus berterimakasih padanya nanti." Ujarnya pelan, membuat Shizune, Naruto, dan Yamato tersenyum. Sementara Sasuke hanya memandangnya datar.

Dan dengan tepat waktu, Tsunade masuk kedalam ruangan itu. Sakura dan yang lainnya langsung menatap kearahnya yang dengan wajah pucat berjalan masuk. Ia tampak lelah. Sakura langsung mengubah posisinya yang semula berbaring, menjadi duduk. Ia menatap Tsunade lekat-lekat.

"Tsunade-shishou, terimakasih sudah…."

"Sakura." Potong Tsunade dengan nada serius. Sakura langsung terdiam. Ia menutup mulutnya dan menatap Tsunade lama.

"Ya, shishou?"

Tsunade menghela nafas. Ia berjalan mendekati Sakura, yang diikuti oleh pandangan mata Sakura. Kemudian, Tsunade duduk disampingnya, sambil memegang selembar kertas. Ia menutupnya sehingga Sakura tidak bisa melihatnya. Kemudian Tsunade tersenyum lemah.

"Kau telah melakukan kerja yang baik, Sakura."

Sakura menatap Tsunade bingung. Begitupun Naruto, Sasuke, Yamato, dan Shizune. Sakura tertawa kecil.

"Kerja bagus? Aku melakukan apa, shishou?" tanya Sakura bingung. Tsunade mengelus bahu Sakura pelan. Mata Tsunade menyiratkan kekhawatiran, namun terdapat kelegaan dan kebahagiaan disana. Disisi lain, matanya terlihat takut, cemas, dan semua emosi tercampur di mata madu milik Tsunade.

Tsunade berkali-kali membuka mulutnya untuk berbicara, namun ia menutupnya kembali terus menerus. Tampaknya ia sedang mencari-cari kata yang tepat. Namun Sakura tetap menunggunya. Ia merasa bahwa Tsunade ingin memberitahukan sesuatu yang serius. Sesuatu yang menyangkut kondisi kesehatannya saat ini.

"Shishou…."

"Selamat, Sakura. Kau mengandung anak laki-laki dari Kakashi."

Dan Sakura bisa merasakan jantungnya melompat saat itu.

Seketika, aura di ruangan itu berubah. Dan seluruh mata terbelalak dan menatap tajam Sakura.

~oOo~

Sakura membuka pintu apartemen flat-nya. Sudah sebulan ini ia tidak mengunjungi flat-nya. Rasanya ia merindukan suasana di tempat tersebut. Walau begitu, ini bukan saat yang tepat bagi Sakura untuk bernostalgia. Didalam rahim-nya telah hidup seorang janin. Buah hatinya dan Kakashi.

Sakura berjalan perlahan kearah wastafel di kamar mandinya. Ia menyalakan keran hingga airnya mengalir dengan deras. Kemudian, ia menatap wajahnya di cermin. Wajah pucat pasi dengan mata yang memerah. Sakura mengambil air mengalir tersebut, kemudian dibasuhkannya ke wajahnya. Ia melakukannya berkali-kali sampai wajahnya bertambah pucat karena kedinginan.

Dan tiba-tiba, butir air mata menetes dari pelupuk mata Sakura.

Ia terjatuh duduk didepan wastafel, dengan air yang masih mengalir deras. Tubuhnya sangat lemas. Bahkan untuk pulang ke flatnya, ia butuh bantuan Naruto dan Sasuke untuk membantunya berjalan.

Fikirannya pun melayang kearah perkataan Tsunade, yang sedari tadi menghantuinya.

Flashback

Naruto dan lainnya telah diperintahkan untuk meninggalkan ruangan itu oleh Tsunade. Tsunade hanya ingin memberitahukan kondisinya dengan dirinya saja yang mengetahui.

"Tampaknya kondisi kandunganmu tidak normal, Sakura. Maksudku…janin-nya sehat. Tapi kondisimu lah yang tidak memungkinkan." Tsunade menatap dalam-dalam mata Sakura yang menerawang kosong.

"….anakmu memiliki chakra yang luar biasa. Tapi sepertinya ada sesuatu di bagian tubuhnya yang membuat ia….menghisap chakramu. Maka dari itu…untuk 8 bulan ini, kau belum bisa menggunakan chakramu. Dan kondisimu akan drop untuk 8 bulan ini. Jadi kuminta, jangan terlalu lelah, dan perbanyak istirahat. Kau mengerti, Sakura?"

"Shishou….ada apa dengan anak ini? Kenapa..kenapa ia menyakitiku? Aku tidak pernah seperti ini sebelumnya. Aku…aku juga tidak ingin berhenti menjadi ninja. Shishou….apa anak ini tidak normal? Atau membahayakan Konoha? Shishou, aku…."

"Ssssh. Tidak ada yang salah dengan anakmu, Sakura. Ia sehat, dan tidak membahayakan Konoha. Chakranya sangat luar biasa, Sakura. Konoha pasti bangga padanya. Dan….aku tahu kau tidak ingin berhenti menjadi ninja, Sakura. Tapi sebelum aku memberimu misi ini…aku tidak mengira kalau anak kalian akan memiliki chakra sekuat ini."

Sakura terdiam. Ia menahan sekuat-kuatnya air mata yang hendak menetes itu.

"…Sakura….kau akan menjaganya bukan?" tanya Tsunade dengan nada selembut mungkin. Sakura meneguk ludahnya. Tatapannya masih kosong.

"Bagaimana dengan….Kakashi?"

Tsunade terdiam sejenak. Ia mengelus pelan rambut Sakura. "Aku ingin sekali memberitahunya lewat surat. Tapi Sunagakure tidak menerima surat untuk beberapa bulan ini, Sakura. Maafkan aku."

"Bagaimana kalau ia belum siap dengan semua ini? Bagaimana kalau ia tidak menginginkan anak ini? Bagaimana kalau…." Air mata Sakura menetes ke pipinya. Sakura menyekanya dengan kasar. "Bagaimana kalau malam itu….memang benar-benar adalah suatu kesalahan karena aku yang memulainya?"

Tsunade memeluk Sakura yang terus meneteskan air mata itu. Ia terus menenangkan Sakura sambil menepuk punggungnya pelan.

"Kakashi akan meninggalkanku, shishou….."

"Tidak, Sakura. Tidak akan."

"Kakashi memintanya…"

"Sakura. Aku akan menyuruh Izumo dan Kotetsu menyusul Kakashi beberapa hari lagi, ya? Kau merindukannya 'kan? Kau berfikiran seperti itu karena kau mengkhawatirkan Kakashi disana. Kakashi tidak akan meninggalkanmu, Sakura. Sekarang, tenangkan dirimu…." Tsunade mempererat pelukannya pada Sakura. Sakura menyeka air matanya yang mengalir terus menerus.

Kemudian, tangan Sakura menyentuh perutnya. Ia mengelusnya pelan.

Sakura terbaring lemas dengan badan yang tersandar di tembok kamar mandinya. Ia terus menyentuh perutnya. Ia sudah mulai merasakan sakit disana. Sepertinya anak ini terus mengambil chakra dan energinya. Kemudian, Sakura memutuskan untuk bangkit. Air matanya sudah tidak mengalir lagi, namun terdapat air mata yang mengering di pipinya.

Sakura berjalan pelan kearah lemarinya, kemudian membuka lemarinya cukup keras.

Lalu, ia menarik pakaian-pakaiannya dari lemari tersebut.

~oOo~

Kakashi melihat Sakura yang terbaring lesu diatas tempat tidur. Darah bercucuran disekitar kaki dan tangannya. Wajahnya pucat, dan bibirnya biru. Tubuhnya terbujur kaku. Sementara disampingnya, terdapat bayi laki-laki yang menangis menjerit-jerit. Tubuhnya berlumuran darah. Kakinya menendang-nendang seperti menginginkan sesuatu.

Kakashi mendekati tubuh Sakura perlahan, kemudian menyentuh tangan yang penuh darah tersebut. Kakashi memasang tampang terkejut ketika dirasakannya dingin ditangan istrinya itu. Kakashi memanggil nama Sakura, mencoba membangunkannya. Namun, hasilnya nihil. Hanya suara tangisan bayi yang memecah keheningan itu.

Kakashi mendekatkan wajahnya ke dada sebelah kiri Sakura.

Matanya terbelalak. Ia mengangkat wajahnya, dan meletakkan kedua jarinya di leher Sakura. Kini, tubuhnya bergemetar.

Sakura….sudah mati.

Dan tiba-tiba, tangisan bayi itu berhenti. Kakashi menatap kearah dimana bayi itu berbaring. Namun, ia sudah tidak ada. Kakashi menoleh ke kanan dan ke kiri mencari dimana bayi itu. Tiba-tiba, suara langkah kaki terdengar. Kakashi menoleh kearah sumber suara.

Dan didepan pintu ruangan itu, berdirilah seorang anak laki-laki yang tampan dengan rambut silver, sama sepertinya. Matanya berwarna hijau emerald, sama seperti Sakura. Kakashi membelalakkan matanya. 'Apa dia…..'

"Apa yang kau lakukan disini?" anak itu bertanya dengan nafas memburu. Matanya menyiratkan kebencian saat menatap Kakashi dengan mata emerald indahnya itu. Kakashi membuka mulutnya untuk menjawab, namun suaranya tidak dapat menjangkau udara. Anak itu mendekati dirinya kearah Kakashi dengan berjalan perlahan-lahan. Kakashi tetap pada posisi semula. Ia meneguk ludahnya.

"Apa yang kau lakukan pada ibuku?" Anak itu semakin menatap tajam Kakashi. Kakashi menolehkan pandangannya kearah Sakura. Ia masih pada posisi awal. Berlumuran darah.

"Kau menyakiti ibuku?"

Langkahnya semakin mendekati Kakashi. Tangannya mengepal keras. Rambutnya yang pendek namun menantang gravitasi itu tampak berantakan. Kakashi mundur satu langkah.

"Siapa kau?" akhirnya, Kakashi dapat berbicara. Namun, anak itu merespon dengan wajah marah.

"Kau melupakanku, ayah?" desisnya dingin. Ia semakin mendekati Kakashi.

'Ayah…?' Kakashi memasang ekspresi shock, dan bingung secara bersamaan.

"Kau meninggalkanku dan ibu. Kau datang sekali pada saat aku berulangtahun yang ke 7. Dan kau pergi jauh lagi. Kau menyakiti ibuku. Dan kau membunuhnya…dan kau melupakanku semudah itu, Kakashi?"

Kakashi menatap anak itu dengan pandangan tidak percaya. Anak laki-laki ini adalah…putranya.

Bocah itu menghentikan langkahnya. Namun, pandangannya masih melekat tajam kearah Kakashi. Kakashi menunduk, menatap kedua mata indah itu, yang mengingatkannya pada Sakura.

Tiba-tiba, sebuah tangan yang putih mulus menyentuh bahu anak itu. Kakashi mengangkat wajahnya. Dan ternyata, pemilik tangan tersebut adalah Haruno Sakura yang kini mengggunakan blouse putih yang tampak bersinar.

"Sakura?"

Sakura, hanya menatap dingin Kakashi. Ia menundukkan kepalanya dan mensejajarkan bibirnya dengan telinga kanan anak itu. Perlahan, ia membisikkan sesuatu.

"Bunuh dia."

Dan sinar merah terpancar dari kedua bola mata anak tersebut.

Kakashi terbangun dengan keringat yang bercucur di sekitar tubuhnya.

Mimpi buruk.

Kakashi menghela nafas. Kemudian, ia segera bangun dari tempat tidurnya. Hari ini dia mendapat shift menjaga. Ia pun langsung bergegas mandi, dan membersihkan fikirannya dari mimpi buruknya semalam. Perasaannya ikut campur-aduk ketika mendapat mimpi seperti itu. Semua itu tampak nyata. Terutama ketika Sakura terbaring diatas tempat tidur, dan ia tidak bisa merasakan denyut nadinya. Ia memang sudah bermimpi buruk seperti ini sejak 3 hari yang lalu.

Setelah ia selesai membersihkan dirinya, ia bergegas berpakaian rapih seperti biasa, kemudian keluar dari penginapannya. Awalnya, Kakashi hanya ingin berjalan-jalan Sunagakure, sambil menunggu shiftnya beberapa jam lagi. Sampai akhirnya, ia melihat seseorang yang mencurigakan tiba-tiba masuk kedalam…penginapan Hanare.

Dengan rasa penasaran, Kakashi masuk kedalam penginapan tersebut, meski fikirannya masih terganggu dengan kejadian malam itu, saat Hanare hampir menciumnya….

Kakashi mengikuti langkah pria bertopi itu. Kakashi memasukkan tangannya kedalam sakunya, seakan-akan ia tidak bermaksud untuk melakukan apapun selain berjalan-jalan disekitar penginapan. Kemudian, dilihatnyalah pria itu naik keatas tangga. Kakashi mengikutinya. Pria bertopi itu menoleh kearah kanan dan kiri, sementara Kakashi bersembunyi dibalik tembok tanpa suara. Dan dengan keras, pria itu mendobrak pintu sebuah kamar di penginapan itu, dan terdengar suara jeritan wanita. Kakashi dengan segera berlari kearah kamar itu dan mengeluarkan kunai-nya.

Dan saat ia berdiri didepan pintu dengan kunai yang mencondongkan kearah pria itu…ia baru menyadari bahwa ini adalah kamar Hanare.

Dan pria itu kini meletakkan pisau di leher Hanare, tampaknya ia hendak menyandera Hanare sebagai tawanan. Dan untungnya, Kakashi berada disitu. Walaupun Kakashi sedikit terpaksa dan kebetulan untuk datang kesini.

"Ah, Hatake Kakashi. Sebuah kebetulan."

"Lepaskan dia." Ujar Kakashi dingin. Hanare menatapnya penuh harap. Pria itu tersenyum sinis.

"Oh ya? Bagaimana jika aku tidak mau? Kau akan membunuhku? Heh. Silahkan saja. Tapi pisau ini akan menggorok lehernya."

POOF.

Tiba-tiba bunshin Kakashi muncul dibelakang pria itu, dan langsung melucutkan pisau dari tangannya. Pria itu membelalakkan matanya. Dengan cepat, ia keluar lewat jendela kamar Hanare yang terbuka bebas. Bunshin Kakashi menghilang bersama asap tebal, sementara Kakashi asli langsung keluar untuk mengejar pria yang diduga adalah anggota kelompok missing nin. Hanare yang sedari tadi tidak melakukan apa-apa, langsung turun kebawah tangga dan menyusul Kakashi.

Dan sekarang, Kakashi berada didepan gerbang Suna, berdiri didepan pria tersebut dengan kunai yang masih ada ditangannya. Pria itu berdecak kesal. Ia pun mengeluarkan pedang yang berada di punggungnya. Kemudian, dengan sigap, ia menebasnya kearah Kakashi. Namun Kakashi, sebagai salah satu ninja terkuat di Konoha, dengan mudah menghindarinya, kemudian ia menebas kunai kearah lengannya, namun pria itu berhasil menangkis dengan pedangnya.

Kakashi langsung mundur beberapa langkah, begitupun pria itu. Pria itu tampak panic ketika ia berhadapan dengan Kakashi. Tampaknya, ia hanya ditugaskan untuk menculik Hanare, tapi tidak bertarung dengan ninja seperti Kakashi.

Pria itu diam ditempat. Ia tampak memikirkan cara untuk melumpuhkan Kakashi.

Sementara Kakashi, kini tersenyum polos kearah pria itu, yang dibalas tatapan bingung darinya.

Tiba-tiba, sebuah tangan muncul dan meraih kaki pria itu. Tentu saja, pria bertopi itu terkejut. Ia hendak menebaskan pedangnya ke tangan Kakashi, namun dengan cepat, Kakashi menariknya masuk kedalam tanah, sehingga hanya kepalanya yang terlihat dan tubuhnya terjepit erat ditanah tersebut.

Kakashi berjongkok disamping pria itu, dan langsung memukul leher belakangnya, membuat pria itu pingsan.

Dengan santai, Kakashi memasukkan kedua tangannya kedalam sakunya. Pria ini lebih mudah diatasi daripada Sakura….tentu saja.

Dan tanpa sadar, Hanare sedari tadi memperhatikan Kakashi yang membuat pria itu pingsan. Kakashi menoleh kearah Hanare yang berdiri dengan pandangan datar, menatapnya tajam.

Kemudian, Kakashi menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Ia hanya pingsan." Ujarnya polos.

Dan tiba-tiba, Hanare berlari kearahnya, dan memeluk Kakashi erat. Tentu saja, Kakashi terkejut dengan aksi Hanare yang tiba-tiba ini.

"Kakashi-kun….kau belum menjawabku kemarin. Kau menyukaiku bukan?"

"Hanare…aku…."

"Kumohon, jangan berbohong padaku."

Kakashi meronta sedikit untuk melepaskan pelukannya. Namun, Hanare malah mempererat pelukannya sehingga Kakashi tidak bisa bergerak.

"Kakashi-kun…?"

"Hanare…maaf…aku…"

"Kakashi-sensei….."

Suara wanita yang familiar bergema di telinga Kakashi. Suara itu bukan milik Hanare. Suara itu lebih lembut, namun kali ini terdengar pecah. Jantung Kakashi langsung berdetak dengan cepat. Perlahan, ia menolehkan kepalanya kearah sumber suara. Begitupun Hanare yang masih berada dalam pelukannya.

Dan disanalah Sakura. Berdiri dengan pandangan tidak percaya, juga shock. Wajahnya terlihat pucat. Dan tubuhnya tampak lebih kurus dari sebelumnya. Sakura memundurkan langkahnya. Kemudian berbalik arah, dan bergegas kembali menuju Konoha.

"Sakura!"

Kakashi melepaskan pelukannya dari Hanare yang lengah saat itu. Ia bergegas mengejar Sakura yang makin lama makin menjauhinya. Sakura mengetahui bahwa Kakashi mengejarnya. Ia pun mempercepat langkahnya, dan kemudian melompat kearah hutan. Kakashi tahu arah tujuan Sakura, dan ia pun langsung mengejar istrinya itu.

Dengan cepat, Sakura melompati dahan-dahan pohon satu demi satu. Dan tidak terasa air mata hangat mengalir di pipinya. Yang diinginkannya saat ia sampai di Suna adalah memeluk Kakashi erat, dan melampiaskan seluruh kerinduannya pada suaminya tersebut. Tapi, yang ia lihat adalah wanita lain yang memeluk Kakashi. Dan wanita itu adalah Hanare, yang sejak awal Ino sudah menyinggungnya.

Sakura mulai terbatuk-batuk lagi. Ia meletakkan tangannya di mulutnya, namun tidak menghentikan langkahnya menelusuri pohon-pohon tersebut.

Tiba-tiba, Kakashi berada didepannya, dan menangkap Sakura yang lengah saat itu. Sakura terkejut akan kemunculan Kakashi yang tiba-tiba berada didepannya, dan menangkapnya dengan mencengkram erat kedua bahunya.

"Sakura, aku bisa jelaskan….."

"Apa, sensei? Kau sudah menemukan wanita idamanmu bukan? Maka dari itu kau tidak membalas suratku? Dan apa yang ingin kau jelaskan? Bahwa kau tidak ingin meninggalkanku sebagai tanggung jawabmu sebagai suamiku, tapi kau sudah mencintai wanita lain, begitu? Kau tidak tahu bagaimana penderitaanku beberapa hari ini….bahkan sebulan penuh ini…tanpamu. Dan kau….kau…."

"Sakura, bukan aku yang –"

"LALU APA! Kau bisa melepaskan diri darinya jika…" Sakura langsung terjatuh pingsan sebelum menyelesaikan kata-katanya. Dengan sigap, Kakashi menangkapnya dan membawanya ke dekapannya.

"Sakura? Sakura!"

Wajah Sakura tampak sangat pucat. Ia tidak merespon kata-kata Kakashi. Sekejap, Kakashi langsung teringat akan mimpi buruk itu.

Dengan ekspresi cemas, Kakashi menggendong Sakura dengan bridal style, kemudian kembali ke desa Suna dengan cepat.

TBC

.

.

.

A/N : HAPPY BIRTHDAY ENENG HARUNO SAKURAAAA! Cie ulangtahun. Kiw kiw *plak*. Heee fic yang di publish malem malem ini special buat ulangtahun Sakura. Dan yang buat nunggu update-an, ini diaaaa. Kayaknya kejutannya di chapter ini ya?-_-" Oh ya. Chapter depan, ada adegan Romance KakaSaku. Pokoknya besok mereka lebih sering berdua. Mau tau gimana? Review dulu yaa baru di update *krik krik* *lempar bakiak*