Chapter 5 is coming up! Apakah kasus yang author sajikan kemarin cukup bisa diterima readers sekalian? Hehe. Maafkan author kalau kasusnya kurang berkenan, ga jelas atau sebagainya yaa. Ini kali pertama author bikin kasus soalnya. Terus, apa scene ShinShi cukup memuaskan? Apa menurut kalian Shinichi udah mulai menyadari perasaannya ke Shiho? Atau malah orang-orang di sekitarnya yang lebih peka seperti biasa? Hahahaha. Semoga mereka ga OOC ya di sini.
Setelah kemarin ShinShi harus menangani kasus, kini mereka harus menghadapi hal lain secara bersama-sama. Kalau menurut readers mulai ada ketegangan, maka memang seperti itu karena untuk selanjutnya author emang lagi berusaha membangun konflik-konflik yang harus dilalui ShinShi bersama hahahaha. Apa author jahat? Sepertinya tidak karena tujuannya kan agar mereka bisa saling mendukung dan menyadari satu sama lain HAHAHA
Chapter ini diberi judul Who is The Irene Adler? karena di chapter ini ingin dipertanyakan siapa Irene Adler bagi Shinichi jika dia seandainya adalah Holmes? Shiho kah atau Ran? Tapi memang tidak akan ada scene yang mempertanyakan itu secara langsung, itu hanya akan dibawakan secara tersirat.
Di chapter ini juga ada sedikit soal ShinRan berupa flashback singkat saat mereka study tour di Kyoto (kejadiannya barengan pas Shiho nyerahin diri ke MPD – bisa diliat di ending S1 dan awal S2), jadi para fans ShinShi harap sedikit bersabar ya. Tapi, bagian tentang ShinRan ini justru jadi semacam clue soal siapa sebenarnya yang diinginkan oleh Shinichi sebagai pasangannya. Penasaran? Oke, langsung aja ke ceritanya. Enjoy the fic and please review!
I don't own Detective Conan
All characters belong to © Gosho, Aoyama
CaseClosed/Detective Conan (Fanfiction) Series
AKHIR PENANTIAN(?) S2
CHAPTER 5
Who is The Irene Adler?
To Sherlock Holmes, she is always the woman. I have seldom heard him mention her under any other name.
Sir Arthur Conan Doyle
Ran baru saja tiba di rumah saat melihat sebuah channel berita yang menyajikan konferensi pers gabungan dari Kepolisian Jepang.
"Pada hari ini, telah terjadi ancaman bom untuk beberapa universitas di Jepang yang masuk ke kepolisian. Masyarakat tidak diberitahu untuk tidak menimbulkan kepanikan. Dan syukurlah, pada sore hari ini pelaku sudah berhasil diamankan dan semua bentuk ancaman telah berhasil diatasi. Dalam kesempatan ini, Kepolisian Jepang ingin mengucapkan terima kasih kepada pihak universitas yang sudah membantu kami dalam penyelidikan dan juga kepada sepasang detektif kami yang berjasa besar dalam menangani kasus ini, Asisten Inspektur Shinichi Kudo dan Sersan Shiho Miyano," kata Inspektur Megure di TV. Kamera TV kini menyorot ke arah Shinichi dan Shiho yang berdiri berdampingan di sisi ruangan.
"Jadi itu alasan Shinichi ada di kampus tadi? Tapi, kenapa dia tidak memberitahuku?" pikir Ran, "Dan wanita itu lagi."
"Itukah gadis yang kau maksud?" tanya Sonoko yang ada di samping Ran. "Ya, begitulah, dia sepertinya pintar," jawab Ran tidak tertarik. Sonoko menyadari keanehan pada sahabatnya itu. "Tenanglah, Ran, bagaimanapun Shinichi kan sudah jadi milikmu," kata Sonoko berusaha menenangkan.
"Kau hanya tidak tahu saja, Sonoko," batin Ran.
Flashback,
"Kudo-kun!"
Aku tersentak saat suara anak misterius itu meneriakkan nama satu-satunya orang yang kutunggu. Apa dia ada di sini? Aku mencari-cari dengan mataku, tapi yang kudapat hanya sosok anak berambut pirang stroberi itu yang dengan lincahnya berlari menerobos Yumi-san serta rekan-rekannya bahkan sempat merebut pistol salah satu petugas. Ia terus berlari, mengejar Conan.
Tu-tunggu, Conan? Bukankah tadi dia meneriakkan nama Shinichi? Lalu kenapa wajah cemasnya yang kulihat sebelum berteriak dan berlari tadi terus menuju ke Conan? A-apakah...?
xxx
"Ke mana saja kau selama ini Shinichi?" tanya Ran. "Aku sedang mengurus kasus sulit seperti yang kau tahu," jawab Shinichi.
"Benarkah?" tanya Ran lagi, Shinichi hanya memberi anggukan. "Kau tahu, aku selalu mengkhawatirkanmu. Aku hanya bisa berharap selama ini kau bisa secepatnya kembali. Aku khawatir terjadi sesuatu padamu dan aku rasa aku tidak akan sanggup mendengarnya jika itu benar-benar terjadi," kata Ran lirih.
Shinichi memandang Ran yang kini bersandar pada salah satu tembok kuil itu. Ya, Kyoto memang sebuah kota yang memiliki banyak kuil sebagai objek wisatanya, cukup romantis bagi sepasang muda-mudi yang sedang dimabuk cinta. Ran memandang Shinichi lirih, kalau waktunya sudah tiba, dan mungkin inilah saat yang paling tepat untuk mengungkapkannya.
"Berjanjilah padaku, Shinichi," kata Ran. "Bukankah aku sudah pernah berjanji?" tanya Shinichi. "Bukan seperti itu," jawab Ran. Ia mengumpulkan keberaniannya untuk mengungkapkan isi hatinya, "Berjanjilah bahwa kita akan selalu memiliki sekalipun seandainya kau menghilang lagi."
Shinichi tertegun. "A-a-aku tidak bisa berjanji," jawabnya. "Kenapa aku harus berjanji seperti itu? Apa kau mengharapkan aku menghilang lagi?" jawabnya ketus. Ran hanya tertawa, "Tentu saja tidak."
"Jadi, apa maksudmu seperti ini?" tanya Shinichi. "Kau menginginkan kita menjadi sepasang kekasih?" Shinichi memperjelas. Ran tersipu malu mendengar itu, ia memandang Shinichi sambil tersenyum penuh arti. "Menurutmu apa lagi yang kuinginkan?"
"Baiklah, kalau kau menginginkannya dan itu membuatmu senang," kata Shinichi lagi, "Aku akan berusaha memenuhinya–" Shinichi memenuhinya, tetapi ada yang sesuatu yang rasanya mengganjal, "–sesuai kemampuanku."
End of flashback
Ran merasakan sesuatu yang berbeda sejak kembalinya Shinichi. Itu memang wujud Shinichi yang sejak dulu ia tunggu, tapi bukan Shinichi yang sama. Keraguannya akan permintaan Ran untuk menjadi sepasang kekasih menjadi pemicu kecurigaan Ran. Bukankah itu impian mereka sejak dulu? Bukankah Shinichi pernah membuat pengakuan di London bahwa ia menyukai Ran? Lalu kenapa kini Shinichi ragu memenuhi permintaan dirinya?
Shinichi yang kini, berbeda... Bahkan Ran merasa lebih dekat dengan Shinichi yang dulu, saat ia masih hilang entah ke mana. Shinichi yang ini, dekat tetapi jauh. Ran merasa tidak bisa menggapai secara utuh Shinichi yang sekarang.
"Ran?" panggil Sonoko bingung. "Ah, ya?" jawab Ran. "Aku pulang dulu, jangan lupa rencana kita nonton film besok berempat. Jaaa," pamit Sonoko.
xxx
"Mulai bosan dengan kasus, tantei-kun?" ledek Shiho melihat Shinichi yang menguap dengan sangat tidak elitnya. "Sepertinya seseorang menularkan virus menguapnya padaku," balas Shinichi. Tentu saja itu sukses mengundang deathglare dari Shiho.
"Jadi, apa yang kita punya?" tanya Shinichi. "Seorang pria paruh baya yang tewas gantung diri, tidak ada tanda-tanda perlawanan atau apapun pada tubuh korban," jawab Shiho membaca catatannya. "Kurasa kau tidak perlu menguras otak eh?" katanya lagi.
"Kau duluan," katanya mempersilakan Shinichi masuk TKP. Shiho kemudian mengambil handphonenya yang berdering. "Moshi-moshi," sahutnya. Berita dari lawan bicaranya di telepon seketika mengacaukan seluruh pikirannya. Kepanikan segera menyelubungi Shiho. "Ng, ada apa?" tanya Shinichi yang melihat perubahan sikap Shiho. "Hakase...," jawab Shiho lirih.
Shinichi's POV
"Huh, lagu itu lagi," kataku saat mendengar handphone Haibara berbunyi. Entah sudah berapa tahun ia menggunakan lagu Dandy Lion sebagai ringtonenya. Lagu itu memang lagu favorit Higo, pemain bola favoritnya, yang dinyanyikan oleh Yoko. Tapi berhubung ia terlalu sering memutar lagu itu dan rasanya ia tidak pernah sedikitpun terlihat bosan, lama-lama ia jadi terlihat seperti Paman Mouri yang selalu menyetel lagu Yoko.
Aku mulai berjalan duluan saat ia menjawab telepon itu, tapi kemudian aku melihat perubahan sikapnya. Aku memutuskan untuk berbalik menghampirinya, "Ng, ada apa?" Ia menatapku dengan shock dan panik, tidak biasanya ia sepanik itu. "Hakase–", jawabnya. "Hakase terkena serangan jantung, sekarang di RS Beika," lanjutnya lirih. Sontak kepanikan juga melandaku, tetapi kucoba menguasai diri. "Pergilah, Haibara-san. Dampingi Hakase di RS, aku akan menyusulmu setelah menyelesaikan kasus ini," kataku. Ia mengangguk pelan dan aku memanggil salah seorang petugas untuk mengantarkannya ke RS. "Hakase pasti akan baik-baik saja, Haibara-san. Ia orang yang kuat," kataku.
xxx
Siang itu aku membatalkan rencanaku menonton saat jam makan siang bersama Ran, Sonoko dan Makoto-san. Aku dan Ran memutuskan untuk menjenguk Hakase di RS. "Bagaimana, Miyano-san?" tanyaku kepada Haibara yang duduk di samping ranjang Hakase. Berbagai selang dan alat bantu pernafasan terpasang ke tubuh pria yang selama ini setia membantuku dan Haibara tersebut.
"Dia belum sadar sejak dibawa ke sini," jawab Haibara lirih. "Apa yang terjadi sebenarnya Miyano-san?" tanya Ran kini. "Ia ditemukan terjatuh di depan gerbang, sepertinya ia pulang belanja bahan makanan. Menurut dokter, ada ganggguan di jantung Hakase," jawab Shiho. "Ini kesalahanku, sudah dua hari aku pulang larut dan tidak sempat berbelanja," lanjutnya lagi. "Sudahlah, Miyano-san, jangan menyalahkan dirimu seperti itu," kataku sedikit kesal. Ia selalu menyalahkan dirinya atas segala sesuatu yang terjadi di sekitarnya. Padahal tidak semuanya terjadi karena kesalahannya kan? Tidakkah ia percaya bahwa semua yang terjadi itu memang sudah ditakdirkan?
"Aku sudah bilang pada Sato-san, ia membebastugaskanmu sampai Hakase benar-benar sembuh," kataku. Ia tidak memandangku dan hanya memberi anggukan kecil. "Kau sudah makan, Miyano-san?" tanyaku. "Benar, kami mau makan siang setelah ini. Apa kau mau menitip sesuatu?" tanya Ran sependapat denganku. Kali ini dia hanya menggelengkan kepalanya. "Baiklah, kami tinggal dulu. Kabari kami jika terjadi sesuatu," jawabku lalu membawa Ran keluar.
xxx
"Dia benar-benar mengkhawatirkan Hakase ya?" kata Ran saat kami sedang makan siang. "Ya, apa boleh buat, Hakase satu-satunya keluarga yang ia punya," jawabku sambil terus mengunyah makanan yang bahkan sepertinya hambar itu. "Aneh, apa ada yang salah dengan lidahku? Semua makanan ini terasa hambar," pikirku.
"Ke mana kedua orangtuanya?" tanya Ran penasaran. "Kedua orangtuanya sudah meninggal, begitupun kakaknya. Sepertinya ia sudah menganggap Hakase seperti ayahnya sendiri, demikian sebaliknya," jawabku lagi. Entah sejak kapan Ran menaruh perhatian pada Shiho, tapi bukankah itu memang sikap Ran yang peduli pada orang lain. "Sungguh berkebalikan dengan gadis menyeramkan itu," pikirku. "Eh, tapi sepertinya dia bisa peduli dan bersikap manis saat bersama–" Pikirku lagi, "–kucing." Aku teringat dulu bagaimana ia bersikeras menurunkan kucing yang terjebak di atas pohon dengan berpijak di bahuku saat masih berwujud Conan.
"Apa yang sedang kau pikirkan, Shinichi?" tanya Ran membuyarkan lamunanku. "Eh, tidak," kilahku menyibukkan kembali dengan makanan di depanku. "Bagaimana dia menurutmu?" tanya Ran tiba-tiba. Sungguh, saat itu kudengar nada bicara Ran bukan nada peduli seperti biasanya. Ada sesuatu yang aneh saat ia bertanya tadi. "Ng, dia siapa? Miyano-san?" tanyaku balik. Ran hanya mengangguk sambil memasukkan makanan ke mulutnya.
Aku hanya terdiam. Aku tidak tahu harus menjawab apa. Membayangkan kembali bagaimana aku membencinya saat pertama kali bertemu dan mengetahui bahwa ialah pembuat APTX4869 sialan itu. Mengingat tangisannya saat itu dan menyadari betapa bodohnya aku yang terlambat menyelamatkan Akemi, kakaknya. Ya, sejak saat itu aku bersumpah untuk menghabisi organisasi lebih dari keinginan untuk mengembalikan wujudku ke semula.
Aku mengingat semua kenangan kami bersama dalam wujud Conan dan Ai. Semua yang kami lalui bersama shonen-meitantei. Bagaimana aku memutuskan untuk melindunginya apapun yang terjadi, bagaimana aku panik saat ia tiba-tiba menghilang dari pandanganku. Haibara telah mengubah banyak hal dalam kehidupanku. Haibara dan kehidupanku yang disebabkan oleh obat yang ia buat telah memberikan banyak pelajaran berharga yang mungkin tidak akan kudapat jika ia tidak ada di sana. Dan kini Ran bertanya bagaimana Haibara menurutku?
Ran masih memasang tampang penasarannya. "Dia cukup lihai untuk ukuran seorang ahli forensik dan biokimia yang kini menjadi detektif polisi," jawabku tidak nyambung dengan apa yang ada di benakku. "Benarkah? Tapi kenapa dia tiba-tiba menjadi detektif polisi?" tanya Ran lagi. "Entahlah, mungkin kapan-kapan aku akan menanyakannya," jawabku.
Kemudian aku memanggil pelayan. "Kau mau memesan lagi? Padahal yang ada saja belum kau habiskan," tanya Ran bingung. "Tidak," jawabku. "Aku hendak membawakan untuk Miyano-san," sambungku lagi. Kali ini wajah Ran bertambah bingung. "Yah, aku tahu rasa makanannya tidak begitu enak. Tapi setidaknya ini masih layak untuk ia konsumsi kan," kataku lagi. Ekspresi bingung itu hilang dari wajahnya, kini ia menyantap makanannya tapi dengan ekspresi yang tidak bisa aku tebak. "Sepertinya Ran benar-benar aneh hari ini," pikirku.
- End of Shinichi's POV
Malam itu usai bertugas, Shinichi mampir menjenguk Hakase di RS. Ia membawakan sekantung makanan siap saji untuk Shiho. "Hakase sedang sakit jantung dan kau membawakanku junk food untuk makan malam, kau mau membunuhku juga?" tanya Shiho ketus. Shinichi memandang ke makanan yang ia beli di restoran tadi. "Bodoh sekali aku, kenapa aku tidak memikirkan itu?" pikirnya sambil menggaruk-garuk kepalanya. "Aku..., aku buru-buru ke sini sehabis tugas tadi. Setelah di jalan aku baru terpikir untuk membelikan makanan untukmu, jadi..." Belum selesai Shinichi memberikan alasan, Shiho berdiri dan mengambil bungkusan itu, "Duduklah, temani Hakase."
Shiho meletakkan bungkusan makanan itu di meja dan mengambil minumannya saja. "Kau tidak memakannya?" tanya Shinichi. "RS memberikan makanan untuk pasien. Aku mencicipinya karena Hakase belum sadar dan tidak mungkin makan kan?" jawab Shiho sambil menyeruput minumannya. Shinichi melihat ke arah pojok tempat baki makanan itu tersisa. "Tapi terima kasih, aku akan menyimpannya untuk sarapan besok. Yah, walaupun makanan seperti itu tidak baik untuk sarapan," katanya lagi.
Lalu keheningan menyeruak di kamar rawat Hakase. Shiho hanya memandang keluar dari jendela di sisi yang berseberangan dengan Shinichi. "Kudo-kun," kata Shiho memecah kesunyian. Shinichi yang daritadi memandangi Hakase kini beralih melihat ke arah Shiho yang masih memunggunginya. "Apakah Hakase juga akan meninggalkanku?" tanya Shiho dengan nada yang menyiratkan kesedihan. Ia berusaha menyembunyikannya, tapi tidak berhasil kali ini.
"Kau bicara apa? Hakase pasti akan baik-baik saja," jawab Shinichi. "Tidak, Kudo-kun, ia tidak akan baik-baik saja," kali ini suara Shiho bergetar. "Dokter mengatakan bahwa kondisinya memburuk dari tadi siang. Dokter memberikan pilihan yang bisa kupikirkan untuk beberapa hari," katanya lagi.
"Apa saja?" tanya Shinichi. "Menurut dokter, kondisinya akan terus seperti ini jika tidak dilakukan operasi. Akan tetapi, operasi juga tidak menjamin Hakase akan pulih," jawabnya.
xxx
Shinichi tertidur di kursi depan ruang rawat Hakase sementara teleponnya terus berdering. Shiho yang baru saja keluar dari ruangan Hakase mencoba membangunkannya. "Kudo-kun, ada telepon," panggilnya. Tidak ada respon dari Shinichi yang sepertinya tertidur lelap. "Kudo-kun, bangunlah, ada telepon," panggil Shiho lagi kali ini sambil mengguncangnya. Telepon itu terus berdering. Shiho memutuskan untuk mengangkat telepon itu. Inspektur Megure rupanya, ada kasus yang menunggu.
Shiho mencoba kembali membangunkan Shinichi. "Rupanya maniak kasus ini sangat sulit untuk dibangunkan, seperti Kogoro tidur saja," pikirnya. "Kudo-kun, bangunlah!" kali ini Shiho sedikit berteriak. Shinichi hanya bergerak sedikit mengubah posisi tidurnya. Shiho kembali mengambil tindakan, "Kudo-kun, bangun! ADA KASUS!" teriak Shiho sambil mengguncang Shinichi.
Shinichi meloncat dari kursinya, "Apa? Di mana? Ada apa?" Shiho hanya menggelengkan kepala melihat tingkahnya. "Inspektur menelepon. Pergilah dan hubungi ia lagi untuk detailnya, tapi sebelumnya lebih baik kau cuci muka dulu. Kau benar-benar terlihat kacau," Shiho mengembalikan handphone Shinichi. "Baiklah, terus kabari aku kondisi Hakase–" kata Shinichi. "–dan kau juga, jangan terlalu lelah. Kau bisa menghubungi Ran untuk membantu menjaga Hakase," lanjutnya yang kini sudah berlari ke parkiran.
xxx
Malam itu Shinichi bergegas kembali ke RS bersama Ran. Shiho menelepon bahwa kondisinya memburuk. Mereka menemukan Shiho yang hanya berdiri mematung di depan ICU. "Bagaimana kondisinya?" tanya Shinichi sedikit panik. Shiho hanya menggelengkan kepala. "Kemungkinannya hanya 50:50," jawab Shiho pelan. Mata Ran mulai berkaca-kaca mendengar jawaban Shiho.
Lama mereka hanya diam di depan ruang ICU. Shiho terus menerus memandang Hakase di dalam sementara Ran dan Shinichi duduk di bangku di dekatnya. "Ini sudah malam, aku akan mengantar kalian pulang," kata Shinichi. Shiho menoleh tidak setuju ke arah Shinichi. "Aku tidak mungkin pulang, Kudo-kun," kata Shiho kesal. "Tapi kau perlu istirahat, Miyano-san. Aku yang akan menjaganya," bujuk Shinichi. Shiho kembali menggelengkan kepalanya. "Baiklah, aku akan menemanimu. Aku akan kembali setelah mengantar Ran pulang," kata Shinichi lagi.
Ran terkejut. "Kalau begitu aku juga akan menemani!" kata Ran. "Tidak, Ran, kau harus istirahat. Bukankah besok kau mulai kerja praktek?" kata Shinichi.
"Tidak apa-apa, jadwalnya tidak terlalu pagi," Ran berkilah. "Pokoknya tidak, kau pulang saja malam ini," bantah Shinichi. Kali ini Ran menurut walaupun ia sedikit kesal. Ia sebenarnya hanya tidak mau kalau mereka berdua lagi malam ini, tapi ia juga tidak tega kalau Hakase hanya dijaga oleh Shiho sendirian.
Setelah mengantarkan Ran pulang, Shinichi kembali menghampiri Shiho yang masih pada posisinya di depan jendela ICU. "Hakase pasti akan baik-baik saja, Haibara-san," kata Shinichi yang kini berdiri di sebelah Shiho. "Aku akan melakukan apapun agar ia bisa sembuh kembali," kata Shiho pelan. "Aku juga, Haibara-san, ia sangat membantu kita. Kalau dia tidak ada, belum tentu kita sudah kembali seperti saat ini," kata Shinichi.
"Bagaimana menurutmu? Perlukah kita mengizinkan operasi itu?" tanya Shiho melihat ke arah Shinichi. "Kalau itu yang terbaik," Shinichi mengangkat kedua bahunya tanpa melepas tatapannya ke Hakase yang masih terbaring tak sadarkan diri. "Tidak ada pilihan terbaik, Kudo-kun. Semua punya resikonya masing-masing," jawab Shiho.
"Kau yang paham tentang segala resiko itu, aku mengikuti keputusanmu," kata Shinichi lagi. "Bagaimana kalau keputusanku salah?" tanya Shiho. Saat ini ia merasa benar-benar lelah hingga menumpukan kepalanya pada kaca ruang ICU. Ia tidak ingin ada lagi korban dari tiap keputusan bodoh yang ia buat. Ia sudah lelah dengan semua beban yang harus ditanggungnya, kehilangan orang-orang yang dicintai karena kebodohannya.
"Kau tidak akan menanggungnya seorang diri," jawab Shinichi. "Apapun keputusanmu, itu akan menjadi keputusan kita bersama. Aku akan ikut menanggung segala resikonya," lanjut Shinichi kali ini sambil merangkul Shiho. Mata Shiho tetap memandang lurus ke arah Hakase, tapi kali ini sambil menyandarkan kepalanya ke bahu Shinichi. Mereka kemudian duduk di bangku depan ruangan itu dengan Shinichi yang tetap merangkulnya hingga mereka tertidur.
Keesokan paginya Shinichi terbangun karena getaran dari handphonenya. Sebuah pesan dari Sato bahwa terjadi kasus dan membutuhkan bantuannya seperti biasa. Ia membangunkan Shiho yang juga tertidur di sebelahnya, "Haibara-san." Shiho membuka mata dan berusaha mengumpulkan nyawanya. "Pukul berapa ini?" tanya Shiho sambil mengucek kedua matanya. "06.54," jawab Shinichi. "Kasus sepagi ini?" tanya Shiho lagi. Shinichi memandang bingung Shiho. Bagaimana ia bisa tahu ada kasus, pikir Shinichi. "Ayolah, hanya kasus dan jeritan yang bisa membangunkanmu, tantei-kun," jawab Shiho mengerti kebingungan Shinichi.
to be continued...
