Tok tok tok

Suara ketukan menggema, membuyarkan sepi yang menyelimuti kamar Akashi yang sunyi. Mata yang baru beberapa detik yang lalu tertutup kembali ia buka, Akashi melirik sekilas ke arah pintu sebelum berkata, "Masuklah." memberikan tanda untuk orang di luar sana tanpa perlu bertanya siapa.

Cek—klek

Bunyi knop pintu yang diputar terdengar patah-patah sebelum akhirnya pintu terbuka perlahan menandakan orang yang ada di balik pintu diselimuti keraguan untuk membukanya disertai kebimbangan untuk memasuki ruangan. Akashi memejamkan matanya sejenak, dia sudah memperkirakan apa yang akan Kuroko lakukan, dan dia juga tau apa yang tengah Kuroko rasakan.

"Kau belum tidur Akashi-kun?" tanya Kuroko basa-basi saat ia sudah berdiri di dekat ranjang Akashi.

"Belum, apa yang kau lakukan di sini?" tanya Akashi lembut.

Kuroko melangkahkan kakinya menuju sisi ranjang yang tidak Akashi tiduri, ia lalu merebahkan tubuhnya di samping Akashi.

"Jadi kau akan tidur di sini?" tanya Akashi lagi begitu tidak ada jawaban dari Kuroko yang hanya menghela nafas pertanda dia bimbang akan mengatakan sesuatu atau tidak.

"Ya, aku hanya ingin memastikan Akashi-kun baik-baik saja." Pada akhirnya hanya itulah yang Kuroko katakan— tidak seperti apa yang dia pikirkan.

"Aku baik-baik saja Kuroko, hanya mati lampu tidak akan berpengaruh besar padaku." Akashi terkekeh pelan, dia menyadari apa yang telah terjadi membuat image absolutenya musnah.

Hening

Tidak ada pembicaraan lagi di antara mereka berdua, baik Akashi maupun Kuroko hanya menatap langit-langit kamar sambil menerawang. Akashi masih menunggu Kuroko untuk menyampaikan apa yang ingin ia katakan, sedangkan Kuroko masih menimbang-nimbang apakah ia sanggup untuk mengatakannya, perasaannya saat ini sangat sulit untuk ia gambarkan. Alih-alih ingin bicara, air mata justru mendesak keluar mengalir di pipinya.

Kuroko segera merubah posisi tidurnya, Ia memiringkan tubuhnya membelakangi Akashi, tidak ingin Akashi tau ia menangis saat ini. Mata terpejam erat, bibir ia gigit kuat-kuat guna mencegah isakan yang mungkin akan meluncur tak tertahan. tangan kanannya ia gunakan untuk mencengkram bagian dadanya yang terasa sesak entah karena apa, yang jelas dia hanya ingin Akashi selalu bersamanya.

Akashi tak bergeming, dia masih tetap memfokuskan matanya pada langit-langit kamarnya, berpura-pura tak mengerti atas apa yang sedang terjadi, sungguh Akashi ingin memeluk Kurokonya untuk sekedar menenangkannya tapi dia mengerti Kuroko tidak menghendaki.

"Kuroko," ujar Akashi tiba-tiba membuat Kuroko terkejut dan segera menghapus air matanya.

"Ya Akashi-kun." Suara Kuroko terdengar bergetar, ia kemudian menggerakan tubuhnya tak nyaman. Setelah berhasil menguasai diri, Kuroko kembali merubah posisi menjadi terlentang di samping Akashi.

Bertepatan saat Akashi menatapnya, Kuroko juga menatap Akashi guna meyakinkan diri untuk mengatakan apa yang ingin ia katakan.

Kuroko merubah posisinya lagi, ia bangkit dan duduk bersandar di ranjang Akashi. "Jadi, hukuman Akashi-kun sudah berakhir ya?" tanyanya setelah menghela nafas panjang. Sebisa mungkin bersikap biasa disertai wajah datarnya.

"Ya," jawab Akashi singkat tanpa melihat ke arah Kuroko.

"Akashi-kun berubah." Entah mengapa kata itulah yang ia ucapkan selanjutnya tanpa memperdulikan apakah pembicaraannya nyambung atau tidak, Kuroko hanya menuruti isi hatinya.

"Tidak ada yang berubah Kuroko, aku tetaplah Akashi Seijuurou."

Lagi, Kuroko mencengkram dadanya lagi dengan tangan kanannya "Akashi-kun akan pergi?" lirihnya pelan. Ia mulai terisak, tak dapat lagi menyembunyikan perasaannya. Air mata mengalir deras membasahi pipinya, bayangan perpisahan yang melambai-lambai di depan matanya membuatnya tak bisa lagi membendung rasa sesak di dadanya.

"Ya—" Akashi bangkit dari ranjangnya, ia melirik Kuroko sejenak untuk melihat reaksinya. Kuroko tampak menutup mulutnya dengan tangan kirinya sedangkan tangan kanannya masih mencengkram erat bagian dadanya, kepalanya menunduk dalam dan isakannya terdengar semakin keras.

"—tapi bukan sekarang," lanjut Akashi kemudian. Akashi memposisikan dirinya di samping Kuroko, ia tau bagaimana rasanya karna dia juga merasakannya. Rasanya memang menyakitkan saat bayang-bayang perpisahan tampak jelas di depan mata.

"Benarkah?" Kuroko mendongakan wajahnya, secercah harapan terpancar di kedua bola matanya.

"Hmm, aku akan pergi besok." Kuroko terasenyum tipis, mungkin jika suasana sedang tidak melan kolis seperti ini, apa yang Akashi katakan dapat menjadi hiburan tersendiri, dan Kuroko akan memukulnya sambil berkata. 'Itu sama saja Akashi-kun akan pergi.' Sambil berteriak jenaka. Tapi ia tau Akashi bukan tipe orang yang suka bercanda seperti itu, dia juga tau Akashi tak bermaksud memberi harapan palsu, dan meskipun begitu Akashi sukses merubah sedikit suasana hati Kuroko.

"Semuanya tidak seburuk yang kau pikirkan Kuroko." Dengan lembut Akashi menggapai kedua tangan Kuroko, menggenggamnya sebentar sebelum akhirnya ia menangkup pipi Kuroko dengan kedua tangannya.

"Semuanya akan baik-baik saja," bisik Akashi di telinga Kuroko, seraya menghapus air mata yang membasahi wajah Kuroko.

"Kau percaya padaku kan?"

Kuroko hanya diam mendengar apa yang Akashi katakan, dia kembali menundukkan wajahnya dalam-dalam, rasanya seperti de javu. Situasi ini pernah terjadi sebelumnya hanya saja posisinya yang berbeda. Mendapati tak ada respon dari Kuroko, Akashi kembali menyandarkan punggungnya, ia mendongakan kepala untuk menatap langit-langit kamarnya dan menghela nafas lelah.

"Aku memang tidak berbakat ya?" ujarnya tiba-tiba.

"Sepertinya kau lebih pantas disebut malaikat Kuroko. Sedangkan aku? Aku ini malaikat atau iblis sebenarnya."

Cara bicara Akashi yang terdengar seperti seseorang yang menyudutkan kekasihnya sukses membuat Kuroko mengangkat kepalanya dan menatap Akashi tak percaya. "Apa maksud Akashi-kun?" tanya Kuroko, dahinya berkerut tanda tak suka.

"Bukankah hal ini pernah terjadi sebelumnya? Dengan mudahnya kau membuatku tenang dan kau meyakinkanku bahwa semuanya akan baik-baik saja. Tidakkah kau yakin padaku Kuroko?"

Kuroko tersenyum mendengarnya, sekarang Akashi benar-benar berkata seolah-olah kekasihnya meragukan kesetiaannya. Dan seandainya mereka benar-benar sepasang kekasih yang tengah dilanda masalah, mungkin Kuroko akan mengatakan, 'Selama ini aku selalu yakin padamu, justru sekarang kau yang meragukanku' dan bukannya menyelesaikan masalah, semuanya justru berakhir dengan kata 'kita putus saja'.

Tapi sayangnya ini bukan drama sepasang kekasih, dan Kuroko cukup mengerti. caranya memang berbeda, tapi maksud Akashi sama –yaitu ingin menenangkannya.

"Aku percaya pada Akashi-kun," ujar Kuroko pada Akhirnya.

Kuroko menyenderkan kepalanya di bahu Akashi, ia lalu mencoba mendongakkan wajahnya saat dirasa sebuah tangan melingkar di pinggangnya. Manik babybluenya sukses bertabrakan dengan manik ruby yang juga tengah menatapnya. Memang ada yang berbeda disana. Tapi Akashi benar, tidak ada yang berubah. Rasanya tetap sama, Kuroko tetap -merasa bahagia.

"Aku percaya pada Akashi-kun," lirih Kuroko lagi seraya mendekap Akashi dan menenggelamkan wajahnya di dada bidang Akashi, membuat Akashi tersenyum lembut karenanya.

"Sekarang tidurlah, hari esok sudah menunggu kita."

Dan mereka pun terlelap tanpa menyadari posisi mereka saat ini. Kuroko yang tidur dalam pelukan Akashi, dan Akashi yang menyandarkan dagunya di kepala Kuroko tanpa membebaninya tentu saja. Akashi tidak membutuhkan tidur, dia akan selalu terjaga, ia hanya ingin menikmati aroma vanilla yang menguar dari pemuda bersurai babyblue dipelukannya.

Jika memang hari esok mereka akan terpisah, biarlah semua berjalan apa adanya. Baik Kuroko maupun Akashi tidak ingin terlarut dalam kesedihan hanya karna terpaku pada masa depan yang menggambarkan perpisahan yang belum terjadi. Biarlah mereka menikmati saat ini, saat mereka masih bersama dalam kehangatan yang tercipta.

-TBC-

.

.

Big Thanks To :

Saphire always for onyx, Choi Chinatsu, Guest

Terima kasih atas review, saran dan dukungannya.

Ma'af ya FF ini updatenya terlalu lama, semoga masih ada yang mengingatnya :3 selain banyak pekerjaan yang datang tiba-tiba, saya juga sempat down karna sepertinya FF ini sudah jarang peminatnya ya? padahal ide awal masih panjang ceritanya, jadi mungkin akan saya persingkat saja chapternya, saya tidak ingin menjadi Author yang menelantarkan karyanya dan mem-PHP kan readers setelah sepi pembaca hihi.

Ma'af Authornya jadi curhat haha xD

Sekali lagi Terima kasih untuk semua yang sudah membaca, khususnya memfavorite, memfollow, dan menyempatkan waktunya untuk mereview, memberikan saran, masukan, sekagilus penyemangat Author untuk tetap melanjutkan.

ma'afkan Author yang labil ini :V sampai jumpa lagi di chapter berikutnya ^^